JURNAL KARAT # 48, 24 DESEMBER 2010, KONSER SAKARAT, SELAMAT MENIKAH NITHA-IRMAN & GO RECORD THE BEST!!!

Posted: December 30, 2010 in Uncategorized
Tags:

JURNAL KARAT # 48, 24 DESEMBER 2010, KONSER SAKARAT, SELAMAT MENIKAH NITHA-IRMAN & GO RECORD THE BEST!!!

Oleh Jon 666

18 Des, Sabtu

Simpang siur mengenai jadi atau tidaknya konser Sakarat di Commonroom tanggal 23 Desember 2010 karena berbagai miskomunikasi antara Karat – Sarasvati – Commonroom.

Kumaha atuuuuhh kumeheee…

Percakapan telepon Kimung dengan Man mengenai kemungkinan menggarap merchandise Karat agar bisa muterin duit demi rekaman.

19 Des, Minggu, Karat di Nikahan Nitha – Irman

Nitha, lengkapnya Theresia Nitha atau sering dipanggil Nyitnyit juga oleh Kimung, adalah adik sepupu Kimung, adik langsung dari Angelick salah satu scenester cewe Ujungberung Rebels di masa-masa awal, dulu bermain bass di Sonic Torment dan bernaynyi di Democracy Neighborhood. Tanggal 19 Nitha melangsungkan pernikahannya dengan Irman, kekasihnya yang tinggal di Jepang. Irman sering cerita kepada Nitha bahwa karinding sangat diminat oleh orang Jepang, bahkan di Jepang ada juga satu kelompok musik orang Jepang yang bermain menggunakan karinding. Kabar tentang Karat juga ternyata sudah sampai di Jepang sehingga orang-orang Jepang ini snagat excited ketika tahun Irman akan menikah di Bandung degan NItha, adik salah satu pemain karinding. Dari jauh-jauh hari Nitha mengontak Kimung, menagih hadiah pernikahan kepada Kimung dan kawan-kawan di Karat : Karat nabeuh di nikahan Nitha – Irman.

Permintaan pengantin tentu saja harus dipenuhi. Ketika Kimung mengabari ini kepada Man dan kemudian Man mengabari permintaan Nitha kepada Karat, semua langsug setuju akan nabeuh di nikahan NItha tanggal 19. Namun apa lacur, mendekati tanggal 19 Man mengabari tiba-tiba ia harus manggung bareng Jasad, Okid harus mengantar keluarganya ke undangan juga, Hendra mendadak sakit tak bisa bangun, Ki Amenk malah tak menerima kabar apapun tentang panggung ini, pun Mang Cabul. Yang tinggal hanya bertiga : Kimung, Jawis, dan Jimbot. Inipun awalnya Jimbot tak akan ikut. Sudah jauh-jauh hari ia mengabarkan jika tgl 19 ia ada panggung di Karawang. Namun karena Jimbot sakit maka ia tinggal di Bandung. Untuk manggung di Gedung Keuangan Negara yang jaraknya dekat dari Commonroom tentu saja ia bisa menyempatkan. Maka jadilah mereka bertiga di sana.

Setelah Ambu Otih, Karat tampil di panggung. Dengan percaya diri, Kimung membekal dua celempung, jawis karinding, danjimbot di alat tiup dan kacapi mulai nabeuh. Tamu yang asalnya tercerai berai sontak mendekati panggung kecil di mana trio Karat manggung. Seketika itu juga bibir panggung menjadi penuh audiens.

Karat memainkan Hampura Ma 1 di lagu pertama yang dibesut degan mulus oeh trio ini. Selanjutnya Karat emmainkan “Maap Kami Tidak Tertarik pada Politik Kekuasaan” dalam format instrumental, dan yang terakhir paalidan beneran mengambil beberapa pirigan dari “Kawih Pati” namun tanpa klimaks karena tak niat bermain “Kawih Pati”. Penampilan mereka diabadikan oleh seorang seniman visual asal Jepang, Michiko yang rencananya akan berkolaborasi dalam penampiolan Karat tanggal 23 Desember di Commonroom.

Secara keseuruhan, penamilan Karat lumayan untuk panggung format trio. Hanya butuh beberapa pirigan tradisional hingga lagu-lagu ini semakin layak mentas di nikahan. Namun ini adalah persembahanutnuk kedua memeplai. Semoga rahayu selamanya, bahagia lahir batin, dan menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah, amiin!!!

Selamat menikah Nyitnyit ^^

Pulang dari nikahan, Karat ngumpul bersama Hana, Ranti dan Gustaff. Mereka membicarakan berbagai kemungkinan jadi atau tidaknya Karat manggung di Commonroom hari Kamis, tanggal 23 desember. Simpang siur kabar mengenai jadi atau tidaknya Karat berkolaborasi bersama Sarasvati dalam gig bertajuk Sakarat, sampai ide-ide mengenai perubahan format kolaborasi menjadi bersama Sony Akbar benar-benar membuat semua menjadi begitu absurd.

Hmmmm…

21 Des, Selasa, Massive Studio, Sharing Rekaman Karat dengan Yayat dan Inu & Sesi # 1 Sakarat (Sarasvati & Karat)

Sejak pembicaraan mengenai rekaman ulang Karat hari Jumat minggu lalu, Kimung segera bergerilya melakukan berbagai pendekatan kepada para calon engineer yang akan ia ajak kerja sama. Dari tiga engineer yang dihubungi, Yayat dan Inu yang paling cepat memberikan respond an mereka sepakat janjian di Massive hari ini. Tak lupa Kimung juga mengabari Karat yang lain jikalau mereka akan gabung dalam sharing rencana recording Karat selanjutnya.

Jam empat sore, Kimung sudah muncul di Studio Massive dan segera saja disambut Inu yang menunggu sedari siang. Mereka berdua langsung naik ke dalam ruang studio di mana Yayat sedang asyik mengedit Venomous, album terbaru Burgerkill. Di sofa dalam studio Massive yang nyaman mereka bercakap.

Inu dan Yayat sebetulnya sudah membahas mengenai abstrak awal rekaman Karat.  Ada beberapa hal yang mereka sampaikan berkaitan dengan proses rekaman. Inu menyampaikan, pada hematnya sepertinya rekaman Karat harus dilakukan secara live mengingat Karat memainkan semangat tradisional.  Memang dalam struktur lagu Karat memainkan pola-pola modern, namun tetap permainan yang digeber Karat adalah semangat tradisional. Untuk itu Inu menyampaikan sepertinya metronome tak terlalu urgen dalam proses rekaman nanti, namun diharapkan Karat harus sudah benar-benar siap sehingga jiwa lagu bisa muncul menggantikan konstanitas yang lazim berada dalam bentuk musik modern. Dengan kesiapan, selain jiwa lagu yang muncul dengan kuat, skill dan kekompakan tentu saja akan terjaga.

Inu juga bertanya mengenai alat musik apa saja yang dimainkan oleh Karat yang dijawab Kimung, secara umum terbagi empat, yaitu sesi celempung, sesi karinding, sesi alat tiup, dan sesi vokal serta instrument lain. Inu juga ingin tahu instrument mana yang menciptakan melodi dan setelah dibahas justru vokallah yang melodi, selain tentu saja sesi tiup. Untuk itulah vokal akan sangat diperhatikan dalam proses rekaman nanti. Mengenai masalah reverb, Inu malah menyampaikan bahwa ia justru lebih tertarik untuk mengeksplorasi reverb dari room dan sedapat mungkin menghindari permainan reverb modul. Untuk itu maka factor peralatan terutama mikrofon menjadi sangat krusial. Yayat menyebutkan beberapa jenis mikrofon yang sepertinya akan sangat cocok digunakan dalam proses rekaman nanti. Inu sendiri mengungkapkan bahwa ia sering mendengar dan bahkan merekam musisi-musisi tradisional prgresif dan kebanyakan dari mereka justru lebih memilih bermain reverb room yang dihasilkan oleh tata miking yang tepat.

Untuk itu, Inu dan Yayat mengungkapkan jika mereka butuh melakukan workshop bersama berkaitan dengan permainan karinding, khususnya Karat. Workshop di sini mungkin bentuknya adalah latihan bersama di mana Inu dan yayat akan hadir dan melakukan eksperimen merekam dan berbincang mengenai berbagai pola permainan Karat. Proses awal ini dirasakan sangat penting bagi Inu dan Yayat untuk melakukan pendekatan secara personal agar mereka tahu bayangan tata suara seperti apa yang akan diset untuk Karat berdasarkan keinginan personil. Kimung sendiri mengungkapkan ia sudah mengumpulkan beberapa contoh tata suara dari berbagai band seperti Pantera, Nine Inch Nails, Godflesh, Portishead, dan Tools yang bisa ia rekomendasikan kepada para engineer.

Secara umum perbincangan persiapan mengenai sesi rekaman Karat di Studio Massive sudah fiks. Inu mengungkapkan Januari dan Februari Studio Massive kosong, mungkin hanya digunakan oleh Yayat untuk proses miksing dan mastering album Burgerkill.

Semoga semua berjalan lancar. Amiin!

Malamnya, Karat dan Sarasvati kembali bersama di Commonroom. Mereka berlatih bersama untuk pertunjukan bertajuk Sakarat, singkatan dari Sarasvati dan Karat. Di konser ini banyak hal yang dieliminasi. Drum dan programming sepertinya tak akan dipakai, jadi hanya mengandalkan dua kibor, gitar, dan bass di Sarasvati, sementara Karat tetap bermain full. Papay di sini didaulat untuk bermain bersama Karat menggantikan Mang Fery sekaligus menjadi latihan awal ia mengisi lagu-lagu Karat.

Ada yang hampa ketika drum dan programming tak dimainkan, dan ini menjadi tugas Karat untuk memberikan nuansa atas ke dalam kekosongan tersebut. Keduanya belum lepas latihan malam itu. Namun secara umum semua baik J semoga lancar selalu!!

Lagu Karat :Burial Buncelik” sempat dimainkan di sesi ini. Namun karena sudah malam dan semua semakin lelah maka semua sepakat dilanjut di latihan esok malamnya.

22 Des, Rabu, Sesi # 2 Sakarat

Malam ini Karat dan Sarasvati  kembali latihan bersama. Berbeda dengan malam sebelumnya, kini mereka semakin berpadu. Kimung dan Papay sudah tidak malu-mau lagi menghajar peranti celempung menggantikan beat drum untuk Sarasvati. Sesi untuk karinding juga semakin diperhatikan. Yang istimewa adalah jejeran mikrofon baru yang dibeli oleh Man dan Okid untuk mencukupi equipment Karat. Jejeran mikrofon baru ini tentu saja sangat membantu proses latihan kali ini.

Lagu-lagu Sarasvati dengan sukses dihajar. Hanya masalah mood yang membuat semua seakan tak lepas bermain. Namun tak lama mood mulai terbentuk, semua mengalir seperti semestinya. Giliran lagu Karat yang dimainkan. Ada tiga lagu yang diajukan, “Maap kami Tidak Tertarik pada Politik Kekuasaan”, “Burial Buncelik”, dan “Sia-sia Asa Aing”. Di kesempatan itu hanya “Maap” dan “Burial Buncelik” yang kemudian sempat dilatihankan. Sesi pertama lagu “Maap” Risa mengisi suara-suara perempuan di lagu ini dan yang paling utama, di bagian tengah lagu di mana biasa audiens bernyanyi bersama, Man dan Risa rencananya akan battle vokal, sebelum akhirnya masuk ke sesi vokal “…maap kami tidak tertatik pada politik kekuasaan…” hehehe cool concept. Lagu yang serius jadi lagu yang nyeleneh, namun tetap saja memiliki pesan dan muatan serius. “Burial Buncelik” lebih terpola. Risa bisa mendapati posisinya dengan mudah di lagu ini. Hanya harus lebih dikompakkan saja sehingga Risa akan bisa masuk dengan lebih pas lagi di lagu ini.

Awalnya “Sia-sia Asa Aing” yang akan dibawakan. Hanya saja, Hendra merasa kesulitan ketika ia akan masuk intro. Dan ketika intro sudah pas dimainkan tempo menjadi lebih lambat sehingga lagu ini seakan ngayayay. Hal ini ditambah dengan Man yang mengisi vokalnya kurang pas sehingga tambah kacaulah lagu ini dan disepakati tak akan dimainkan. Namun ketika cek suara besok, lagu ini akan dicoba dimainkan kembali.

Sementara itu, aksesoris tata panggung mulai diturun-turunkan dari mobil Okid. Aksesoris ini berupa patung-patung kepala setengah jadi yang diambil dari UPI atas rekomendasi Yuki Karmila. Kebetulan sehari sebelumnya ada acara teater di mana Man ikut juga hadir dan tampil di sana. Sisa setting panggung teater inilah yang kemudian diambil Karat untuk dijadikan setting panggungnya. Ada sekitar 30 patung yang diturunkan seukuran kepalan tangan anak-anak hingga dewasa. Yang lainnya adalah orang-orangan sawah dan lilin-lilin.

Malam itu beberapa Karat dan kru serta Risa begadang di Commonroom.

Hmmmm smoga lancar buat besok…

23 Des, Kamis, SAKARAT The Best Performance

Sore menjelang malam Commonroom sudah selesai ditata untuk keperluan konser Sakarat. Patung-patung yang kemarin masih bersih sudah diwarnai berdarah-darah, ebebrapa ditancapi paku-paku panjang dan dirusak lagi bagian wajahnya bagaikan penggalan kepala-kepala yang telah rusak karena empunya kempala mati terpenggal dan kepala-kepala itu tersia-siakan begitu saja. Ini terinspirasi dari cerita Risa bahwa materi-materi halus yang selama ini berkomunikasi dengannya, hampir semua mati karena terpenggal, termasuk Peter. Di taman penyiangan depan perpus di tata satu area khusus—lilin yang dijajarkan berbentuk cinta dengan lagi-lagi kepala berdarah-darah berada di tengahnya.

Acara ini seharusnya mulai pukul delapan, namun karna tata suara dari barland telat datang—baru datang jam delapan—maka konser baru bisa dilakukan jam setengah sepuluh. Namun salut buat para audiens yang setia menunggu di pelataran Commonroom.

Tepat jam setengah sepuluh, semua bersiap di posisi masing-masing dan setelah berdoa dipimpin oleh JImbot, pertunjukan dimulai. Dibuka oleh rajah bubuka—sejenis doa pembuka—dan kacapi suling yang dimainkan duet Man dan Jimbot, suasana konser ini dibuat mencekam sedari awal. Alunan kacapi dan rajah bubuka yang meditatif langsung disambung dengan pertunjukan wayang kulit bubuka di balik layar yang juga dimainkan Man dan Jimbot. Ketika gugunungan mulai tampil di layar, musik masuk ke intro “Fighting Club” yang segera disambut oleh tetaluan celempung Kimung, Papay, dan Hendra. ada sedikit suasana janggal terutama di sesi tetabuhan karena tak adanya skin—atau drum—dan segala jenis perkusi logam. Suasana terlalu low dan kurang terbangun. Suara simbal dalam hal ini adalah salah satu instrument yang tak kalah mistsis sebetulnya dalam membangun bebunyian. Hmmm nanti lagi sepertinya drum—walau tak diset sempurna dan diset khusus untuk memperkuat aura mistis yang dibangun bambu—harus disertakan pula. Namun “Fighting Club” dapat diselesaikan dengan baik.

Lagu selanjutnya “Perjalanan” juga dimainkan dengan baik, masih dengan suasana yang kurang simbal hehehe. Namun demikian permainan celempung di panggung ini semakin baik dibandingkan dengan permainan celempung di dua panggung Sarasvati & Karat sebelumnya. Kimung—kini berduet dengan Papay sudah semakin menguasai alat musik ini, berdialog dengan celempug Hendra yang setia memberi nuansa dan jembatan. Kimung berganti celempung menjadi celempung renteng, sementara Man dan Jimbot tetap bertahan di belakang layar

Lagu selanjutnya, Sarasvati mendaulat Tulus untuk naik panggung dan bernyanyi bersama di “Oh I Never Know”. Tulus berduet dengan Risa tetap dengan segala keistimewaanya. Suaranya yang sederhana namun fresh mampu mengimbangi suara Risa yang indah. Mantaps you both! Tak buang waktu, Risa segera masuk ke “Kala Sang Surya Tenggelam” yang di sesi ini diiringi karat. Khusus untuk lagu ini, suasana lebih terbangun dengan iringan waditra bambu. Sebelum masuk ke lagu berikutnya, wayang kembali tampil. Kini dialog tak lagi menyeramkan namun dibuat humor, berisi perkenalan Peter kepada semua yang hadir. Dialog wayang ini juga merupakan pengantar menuju lagu berikutnya, “Story of Peter”. Pun lagu ini, lagu track pertama yang juga pertama dikuasai Karat dimainkan dengan baik. Ada kendala-kendala di pergantian pola ritme lagu, namun semua bisa dilalui dengan baik. Pol poll!!

Akhirnya Sarasvati masuk ke lagu terakhir, “Bilur”, lagu kedua yang benar-benar di kuasai Karat di awal-awal kolaborasi mereka. “Bilur” yang nyunda banget ini sangat pas dengan suara waditra yang dibangun Karat. Satu kejutan diberikan kibordis Yura Yunita yang mengisi sesi nyinden di tengah”Bilung” menggantikan Ambu Ida yang berhalangan hadir di konser ini. Well, “Bilur” memang mantaps!

Setelah jeda sebentar—harusnya langsung nyambung!!!—Karat langsung masuk ke lagu “Kawih Pati” suasana kembali muram ketika Man akhirnya keluar dari panggung dan menyanyikan kawih ini. Berduet dengan Risa yang hanya melakukan humming saja, “Kawih pati” menggedor panggung ini lebih kompleks. Inlah lagu pertama Karat yang dimainkan bersama Sarasvati, hingg akhirnya masuklah ke lagu penutup malam itu, “Maap Kami Tidak Tertarik Pada Politik Kekuasaan” yang diset secara provokatif dan meruntuhkan semua suasana yang sudah dibangun sejak awal.

Bagaimana tidak ditengah tetabuhan sangat lagu “map” di sesi jeda di mana koor seharusnya diteriakkan bersama, Man dan Risa memutuskan berduet battle menyanyikan lirik-lirik humor seperti, “map saya tidak tertarik utnuk menjadi pegawai negeri…” dijawab oleh Risa, “map saya tidak tertarik untuk menjadi istri PNS”, dan diserang lagi oleh Man, “map saya tidak tertarik untuk menjadi tukang bao..” dan kembali dijawab oleh Risa, dll dll hahahahaaa sebuah konsep humor yang memang sudah dipersiapkan sejak hari sebelumnya. Suasana yang sejak awal mencekam tiba-tiba berubah cair menjadi tertawa-tawa.

Man dan Risa masih terus battle hingg akhirnya mereka berdua masuk ke verse lagu sebenarnya “Maap kami tidak tertarik pada politik kekuasaan”. Koor sontak mengikuti vocal yang dikomandani Man dan Risa. “Maap” menutup konser malam itu dengan sukses. Alhamdulillah ^^

24 Des, Jumat Kramits,

Hendra, Kimung, David berkumpul di pekarangan Kimung, latihan The Beatles dan menemukan beerapa pirigan baru untuk lagu-lagu baru Karat. Semua masih absurd, tapi kaleums. Fokus rekaman, hellyeah!!!

BERSAMBUNG

NEXT : NEW YEAR FUKKIN GIG!

10 PLAYLISTS : Tarawangsa, The Beatles, Burgerkill, Forgotten, Nine Inch Nails, Godflesh, Karinding Attack, Nicfit, Reverb and Revolver, Portishead

BOOKS : The Beatles Ways by Larry Lange,

MOVIES : Anna and the King

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s