JURNAL KARAT # 129, 13 Juli 2012, KABAYAN KARINDING ATTACK JADI PRESIDEN

Posted: August 14, 2012 in Uncategorized
Tags:

 

Oleh Jon 666

9 Juli, Senin

Latihan Karinding Attack dan para seniman pendukung lainnya opera Kabayan Jadi Presiden. Latihan digelar dari sore hingga menjelang malam di Gedung Indonesia Menggugat.

10 Juli, Selasa

Latihan kedua Karinding Attack dan para seniman pendukung lainnya opera Kabayan Jadi Presiden. Kali ini latihan digelar sejak siang hingga menjelang malam di Gedung Indonesia Menggugat.

11 Juli, Rabu

Rombongan Karat bertolak ke Jakarta.

12 Juli, Kamis

Berikut adalah pengantar dari Butet Kertaredjasa selaku produser opera Kabayan Jadi Presiden. Narasi ini termuat di bulletin “Kabayan Jadi Presiden”, simaklah,

MERAWAT KABAYAN, MERAWAT KEWARASAN

Kabayan adalah keluguan, kearifan, kecerdasan, dan kejenakaan. Inilah local genius. Kita menemukan sifat dan watak seperti itu bukan hanya sebagai milik masyarakat budaya Sunda tapi juga pada tokoh-tokoh local di Jawa Matraman melalui peran abdi dalam ketoprak, ata punakawan di jagat pewayangan. Peran jongos dalam ludruk, wilayah-wilayah lain bisa menderetkan tokoh-tokohnyam siapa  pun namanya.

Agaknya tokoh laksana Kabayan memang representasi sifat dasar wong cilik Indonesia. Solusi pemikirannya kadang penuh kejutan dan serba tak terduga, tapi—setelah direnungkan—di sana kita menemukan kebenaran. Yang mendengar dan malihat hanya bisa manggut-manggut. Menyetujui. Membenarkan. Kita akur dengan segenap tingkah dan solusi yang ditawarkan manusia (ala) Kabayan, karena kita akhirnya menyadari bahwa hanya KEJUJURAN yang menjadi kebermulaan dari semuanya itu. Sebuah sikap yang snagat bernilai, terutama di antara gemuruh kebohongan para pemimpin dan politisi yang saban hari meneror kita. Sikap ala Kabayan tak ubahnya sebuah jeda di mana kita bisa menghirup kesegaran udara.

Berkaca pada Kabayan, yang mengartikulasikan sikap dan pikiran secara lugas dan sederhana, seharusnya kita melihat bagaimana sebuah kejujuran mampu menggerakkan nyali. Nyali wong cilik yang selalu terusik untuk bertanya, mempertanyakan setiap keganjilan yang menyergap hidup mereka. Berani karena benar. Terlebih jika kaum Kabayan sedang dipaksa sebagai korban Lapindo Sidoarjo. Ketika kelemahan dibinasakan oleh keserakahan, kelemahan itupun akan menjelma menjadi kekuatan, betapa pun sekedar untuk bertanya : di mana keadilan hendak memihak? Siapa sih yang rela terusir dari rumah tinggalnya lalu dipaksa berspekulasi menjalani hidup di tengah genangan lumpur panas? Anda mau? Maka sangatlah mengherankan jika ada oknum yang secara terselubung punya andil menyengsarakan rakyat Sidoarjo dengan menciptakan danau lumpur itu, kok berani-beraninya mencalonkandiri sebagai calon pemimpin masa depan. Edan yang bener-bener kelewatan!

Saya memahami keberanian yang bergelora di sana, bukanlah sebuah militansi lantaran provokasi. Bukan tindak politik jangka pendek. Melainkan sebuah keniscayaan ayng memang seharusnya terjadi. Dengan begitu, logika ala Kabayan hendaklah terus dirawat. Juga dijaga kewarasannya. Supaya orang tidak tergelincir dan terseret ke dalam kegilaan yang dari hari ke hari semakin menjauhkan diri dari budaya malu.

Hanya dengan begitu orang tetap mempunya stamina, minimal agar kuat bertahan dalam ketabahan yang menyengsarakan. Jika sikap-sikap ala Kabayan ambyar dan terkalahkan oleh keganasan naluri-naluri purba bernama kerakusan dan keserakahan itu, maka ambyar pula lah impian kita tentang sebuah Indonesia yang berkeadilan, menghormati kemajemkan, dan Indonesia yang menyejahterakan.  Sebab tanpa manusia cerdas nan kritis ala Kabayan, demokrasi pelan-pelan akan mati karena kehilangan bandul perimbangannya. Hidup pun bakalan jomplang.

Genosida Kebudayaan

Kabayan memang bukan monopolinya masyarakat budaya Sunda. Hari-hari terakhir ini, nun di kawasan pegunungan Kendeng, Pati Selatan, Jawa Tengah, kita bisa menjumpai bagaimana logika Kabayan ngebet ingin berjumpa dengan keadilan.

Mereka adalam manusia Samin, menyebut dirinya sebagai “Sedulur Sikep”. Leluhur mereka adalah petani, maka anak cucu mereka pun kelak akan meneruskan tradisi dan budaya pertanian. Hanya dengan menjadi petani mereka bisa menemukan kebahagiaannya. Cara pikirnya sederhana. Juga keinginannya. Yaitu hanya ingin sejahtera sebagai petani dan, karena itulah mereka hanya ingin menjaga dan merawat sumber-sumber air. Karena itulah ketika keserakahan manusia modern mengaratikan kebahagiaan dan kesejahteraan adalah menaguk uang sebanyak-banyaknya dengan mendirikan pabrik semen yang kelak mengganyang perbukitan Kendeng—dan itu berarti hilangnya ratusan mata air yang mengurat di tubuh perbukitan—manusia Samin lalu bertanya, “Apakah kami tidak boleh berbahagia dengan cara kami sendiri?”

Sedulur Sikep mengartikan bukit itu laksana spon berisi air. Gumpalan tanah beku yang di dalamnya penuh urat-urat sungai dan menyembulkan ratusan mata air. Seumpama bukit Kendeng digerus mesin-mesin modern dari waktu ke waktu—konon pabrik semen punya kontrak kerja seabad lamanya—maka bentangan bukit Kendeng akan terpangkas rata menjadi dataran. Musnahlah sumber air dan usnah pula tradisi dan kebudayaan mereka. Sebuah genosida kebudayaan berlangsung telanjang di depan mata. Maka jika samapi hari ini Sedulur Sikep tetap gigih dan berjanji mempertahankan air sampai titik air mata terkahir, hendaklah dipahami sebagai ikhtiar manusia ala Kabayan menjaga ranah kebudayaannya. Apakah kita yang selalu mengaku manusia budaya, manusia kerkeadaban, akan membiarkan Sedulur Sikep dan kebudayaannya sirna berkeping-keping dicacah mesin pabrik semen?

Keganasan sebuah pabrik, juga keganasan politik yang kerap mengakali manusia wong cilik, akan selalu bertemu dengan kearifan dan kecerdasan ala Kabayan. Dan keganasan itu—alhamdulillah—akan menemui jalan buntu ketikayang hendak diterkam adalah sepotong KEJUJURAN, yang belakangan lebih sering ngumpet di kedalaman hati manusia-manusia Kabayan : di Sunda, Pati, Bima, Mesuji, Pontinak, Kutai, Sulawesi, Papua, dan wilayah-wilayah lain yang tengah dijarah secara tidak beradab. Oaaassssem tenan!!!

13, 14 Juli

Panggung hari pertama dan ke dua Karinding Attack di opera “Kabayan Jadi Presiden”. Sambutan audiens sangat antusias!

 

 

10 Playlist Jon 666 : Tarawangsa, The Beatles, Eddie Vedder,

Books : Al Qur’an al Karim,

Movies :

Quotes :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s