About

A SHORT STORY OF BAMBOO GONE WILDEST : KARINDING ATTACK!!!

Kim666

Karinding Attack—kita singkat saja Karat—berdiri Maret 2009. Awalnya adala perkenalan sebuah sindikat kerja Bandoong Sindekeit yang merupakan sayap kerja komunitas metal Ujungberung Rebels yang menggarap produksi dan distribusi rokok Morbid Nixcotine. 13 Desember 2008 dalam peluncuran rokok Morbid Nixcotine digelar sebuah acara bernama Karinding Attack menampilkan kelompok master karinding, Bah Olot. Setelah masa itu, Bandoong Sindekeit dan anak-anak Ujungberung Rebels mulai secara intens mempelajari karinding dalam forum Jumat malam di Common Room yang diberi nama Jumat Kramat. Forum ini awalnya adalah forum evaluasi konter opini media pasca Insiden AACC 9 Februari 2008, namun pada perkembangannya lalu dijadikan tempat berkumpul para pemain karinding untuk belajar bermain karinding bersama-sama.

Di awal-awal penggarapannya, kelompok ini terdiri dari Mang Engkus, Mang Utun, Ki Amenk, Man Jasad, Kimung, Okid, Wisnu, Hendra, Iman Zimbot, Gustaff, Ranti, Gustavo, Kimo, Ari, Kiki, Diki, dan lain-lain. Namun personil yang memutuskan untuk bersama dalam sebuah band bernama Karat adalah Mang Engkus, Mang Utun, Ki Amenk, Man Jasad, Kimung, Okid, Wisnu, Hendra, dan Iman Zimbot. Awalnya, kelompok ini banyak bermain papalidan atau bermain karinding hingga mencapai titik trans di antara persoilnya. Sesi ini di kemudian hari banyak membantu antara personil untuk saling memahami rasa yang diciptakan satu sama lainnya. Sesi ini juga membantu pemahaman Karat akan pakem-pakem permainan karinding tradisional karena permaianan ini banyak dimainkan dalam pakem-pakem lama yang sudah ada. Pada kelanjutannya, Karat mulai memcoba untuk menciptakan irama dan ketukan baru dalam permainan karinding. Karena memiliki latar belakang kultur metal yang kuat, lagu-lagu yang kemudian diciptakan Karat lebih kental dengan nuansa punk dan metal.

Di sesi awal penciptaan lagu, Karat menciptakan beberapa lagu dalam waktu yang bersamaan. Gelombang pertama penciptaan lagu, mereka menciptakan “Hampura Ma”, “Lagu Perang”, “Kawih Pati”, “New York New York”, “Wasit Kehed”, “Blues Kinanti”, dan “Hampura Ma II”. Di gelombang ke dua, mereka menciptakan “Sia Sia Asa Aing”, “Maap kami Tidak Tertarik Pada Politik Kekuasaan”, “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol”, “Burial Buncelik”, “Ririwa di Mana-mana”, dan “Dadangos Bagong”. Di gelombang ke tiga, mereka menciptakan “Gerbang Kerajaan Serigala”, Lapar Ma!”. Semua lagu digarap bersama-sama dengan penulisan lirik oleh Kimung dan Man Jasad. Kebanyakan menyikapi kenyataan dalam kehidupan sehari-hari, perasaan terinjak dan ketidakadilan, serta upaya mendokumentasikan idiom-idiom atau bahkan kata-kata lama yang mulai jarang digunakan hari-hari belakangan ini.

Satu hal yang benar-benar dipahami Karat dalam mengembangkan music adalah bahwa music sejak awal diciptakan adalah satu dan hanya ekspresi musikalitas saja yang berbeda-beda sehingga menghasilkan berbagai hasrat music yang oleh industry disebut sebagai genre. Oleh karena itu, Karat lantas memandang karinding sebagai satu music yang bisa bersatu degan music lainnya. Karat melihat salah satu sebab mengapa karinding sempat digosipkan punah adalah karena kurang luwesnya musisi karinding masa lalu dalam mengembagkan seni ini seiring dengan perkembangan zaman. Ini adaah tipikal permasalahan musisi tradisional pada umumnya yang selalu merasa inferior jika berhadapan dengan sesuatu hal yang dikesankan sebagai ‘modern’.

Maka Karat berusaha mendobrak itu. Mereka manggung di mana saja dan kapan saja, dari panggung-panggung di hadapan mentri, gubernur, walikota, bupati, pejabat-pejabat tinggi dan teras atau ecek-ecek negara dan kepolisian serta tentara, hingga tampil di sekolah, panggung RT/RW, Karang taruna, himpunan mahasiswa, pensi sekolah menengah, hingga ulang tahun preman dan nikahan dijajal semua.

Dalam rasa musikalitas, mereka juga berkolaborasi dengan siapa saja dari hasrat music yang mana saja. Karat sudah berkolaborasi degan musisi blues, metal (Burgerkill dan Donor Darah), punk (Kelas Ajag), jazz (Sony Akbar), Diki (beatbox), hiphop (Eye  Feel Sick), music elektronik (Europe in de Troppen), pop (Sarasvati), atau dengan music tradisonal lain (Anglung Smansa dan LSS ITB), serta sederet rencana kolaborasi dengan berbagai ranah dan hasat music yang ada di dunia.Karat kini bahkan mulai bereksperiman memainkan karinding degan menggunakan aksesoris gitar berupa efek, mulai dari efek-efek bata yang klasik semacam  Digital Delay, Phaser, Metal Zone, Big Muff, Bass Equializer, hingga efek-efek canggih semacam software dan efek digital lainnya.

Berbagai revitalisasi serta upaya pelestarian juga dilakukan oleh Karat dan kawan-kawan lain di komunitas Ujungberng Rebels degan cara pendokumentasian data-data sejarah karinding, baik secara lisan, tulisan, visual, maupun audio visual. Upaya perekaman music karinding buhun yang masih ada terus dilakukan seiring degan uaya mendorong kaum muda pemain karinding baru yang lahir bagai jamur di musim hujan pasca berdirinya Karat juga terus dilakukan. Kepada mereka yang terlibat degan upaya ini dihimbau agar hasil pendokumentasian bisa diakses masyarakat luas sehingga informasi tentang karinding bisa diakses degan mudah. Iklim yang kondusif akan semakin merangsang gairah bermusik kaum muda sehingga seni ini akan terus dikenal rakyatnya sendiri.

Hal lain yang terus dilakukan adalah dengan mengupayakan karinding menjadi alat music pendidikan yang diajarkan di sekolah-seklah karena sebagaimana halnya angklung, karinding juga memiliki nilai pendidikan yang baik seperti rasa musikalitas, rasa kebersamaan, kerja sama, tahu posisi, sensitivitas dalam berkarya serta sensitivitas dalam merasakan apa yang dirasakan masyarakat secara umum.

Atas segala konsistensi dan komitmen Karat dalam melestarikan serta mengembangkan music karinding, kelompok metal Ujungberung Rebels di mana Karat lahir selalu disebut-sebut sebagai kelompok yang memicu perhatian dan kepedulian masyarakat luas terhadap keberadaan seni ini. Dan ini memang kenyataan. Karinding hari ini banyak diteukan dimainkan di kalnagan anak-anak muda dari ranah msuik punk atau metal. Untunglah ranah music ini merupakan ranah music yang paling perhatian terhadap regenasi serta peningkatan kualitas pemahaman generasi muda akan sejarah serta kehidupan social budayanya.

Karat sempat merekam lagu-lagu mereka secara live di Rumah Pohon Kawe Kareumbi dan Masigit Oktober 2010. Namun pasca rekaman dan partisipasi mereka mendukung Andris Burgerill dan Blast n’ Beats dalam ajang Drums Day Bandung Indonesian Drummer 2010, terjadi dinamika pergantian personil dengan keluarnya Mang Utun serta masuk personil baru yang menambah kaidah rancak permainan Karat. Dia adalah Papay, salah satu pengajar drum di Blast n Beat dan Purwacaraka. Bersama Papay, Karat berencana kembali merekam lagu-lagu mereka dalam nuansa baru. Produser metal legendaris Yayat Ahdiat dan Innu Regawa rencananya akan menangani rekaman album pertama kelompok karinding paling berbahaya di dunia ini!

Ikuti juga perjalanan Karat di blog http://www.kimun666.tumblr.com, http://www.jurnalkarat.tmblr.com, dan http://www.paperback666.tumblr.com

Kisah perjalanan Karat juga akan diterbitkan akhir 2011 dalam buku berjudul Jurnal Karat Karinding Attacks Ujungberung Rebels yang ditulis oleh Kimung.

Comments
  1. Eric says:

    Hai, bagaimana cara untuk mengkontak komunitas Karat untuk tampil di acara?

  2. Salam

    Sebelumnya saya ingin perkenalkan diri, nama saya Eka dari Majalah Intisari, Jakarta. Kami berencana ingin membuat liputan tentang Esensi Indonesia, yaitu tentang bagaimana kebudayaan Indonesia bisa bertahan hingga kini. Dan kali ini kami ingin mengangkat tentang Karinding Attack.
    Dapatkah saya diberikan waktu untuk melakukan wawancara perihal Karinding Attack beserta no kontak yang bisa saya hubungi?

    terima kasi
    eka_aa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s