JURNAL KARAT # 126, 22 Juni 2012, GITAR GAMBUS BAMBU PAK ENDO SUANDA DAN INDIFFERENCE THINGS

Posted: August 14, 2012 in Uncategorized
Tags:

 

Oleh Jon 666

17 Juni, Minggu, Gitar Gambus Bambu Pak Endo Suanda dan Indifference Things

Berbincang bersama Robi, Gembul, dan Alfred, kawan-kawan Navicula dari Bali. Mereka memiliki wawasan musik tradisional yang luas dan mutakhir. Saya tertarik bekerja sama menggarap satu komposisi musik kecak untuk Nicfit dan musik Baleganjur untuk Karinding Attack. Gembul dan Robi berjanji membantu saya dalam proses ini.

Di saat yang bersamaan, saya juga bertemu dengan Pak Endo Suanda yang saat itu kebetulan sedang di Common Room, mengadakan pertemuan mengenai aktivasi taman budaya seluruh nusantara bersama Gustaff dan kru Common Room. Senang sekali berkenalan dengan Pak Endo yang selama ini sangat terkenal kiprahnya dalam pengembangan instrumen bambu. Apa lagi ketika pak Endo kemudian mengajak mengajak Karinding Attack untuk berkolaborasi dengan Slamet Gundono akhir Juni 2012. Beberapa masalah teknis seperti akomodasi sempat dibahas sekilas dan akan dibahas lebih lanjut kemudian. Berikut adalah profil Pak Endo Suanda dicuplik dari website Taman Ismail Marzuki,

Lahir di Majalengka, Jawa Barat, 14 Juli 1947. Sejak usia 10 tahun, adalah seorang nayaga dan penari tradisi. Belajar membuat topeng, tari dan karawitan Cirebon sejak tahun 1969. Masuk ASTI (kini STSI) Bandung tahun 1968 dan menyelesaikan Sarjana Mudanya ditahun 1973. Melanjutkan studinya di Akademi Seni Tari Indonesia (kini ISI), Yogyakarta (1973-1976). Selama belajar di Bandung dan Yogyakarta, ia meluangkan diri untuk menjadi pelatih musik dan tari (1969-1973). Mendapat beasiswa untuk program MA di Wesleyan University, Middletown, Connecticut, Amerika Serikat (1979-1983). Meraih gelar Ph.D. etnomusikologi dari Washington University, Amerika Serikat (1987-1991).

 Sepulang belajar di Wesleyan University, ia menjadi pelatih seni tradisional dan eksperimental pada ASTI (kini STSI) Bandung dan Institut Kesenian Jakarta (1983-1984). Sempat menjadi konsultan pada Departemen Etnomusikologi, Universitas Sumatera Utara (1984-1987). Menjadi asisten untuk musik gamelan di University of Washington, saat ia berkuliah di Washington University, Amerika Serikat.

Tahun 1977, menjadi penata tari Topeng Babakan untuk pertunjukan di TIM. Selanjutnya selama 5 bulan bergabung sebagai pelaku dan penyusunan iringan Teater Loh-nya Julie Taymor di Bali. Mengikuti Festival PTM I/1978 dengan menampilkan tari Klana Tunjung Seta. Ditahun yang sama, ia membantu membuat iringan musik, topeng dan kostum untuk film ‘November 1828’ arahan sutradara Teguh Karya. Kemudian menggarap topeng Kupu Tarung untuk Festival Jakarta tahun 1978.

 Seniman yang menjadi pengajar tetap di ASTI (STSI) Bandung ini, pernah menjadi artist in residence di Cornell University, Ithaca, New York, Amerika Serikat, mengajar musik gamelan dan tari topeng (1981-1982). Sempat ikut serta dalam workshop tentang teater di University of Sydney, Australia. Sering mengadakan pertunjukan, baik sebagai penari maupun sebagai koreografer, antara lain dalam Festival Ramayana (1970, 1971) sebagai anggota kontingen Jawa Barat. Memimpin pertunjukan Topeng Babakan di Hongkong (1979), Pertunjukan Tari Prabu Siliwangi bersama dengan Iravati Durban di Bandung dan Jakarta (1984). Pertunjukan Kesenian Sunda di berbagai kota di Amerika Serikat (1989). Tahun 1992, ia mengadakan pertunjukan Kesenian Sunda dan Cirebonan di Adelaide, Australia. Pertunjukan Tari Topeng dan Wayang Cepak Cirebon dalam Festival Boneka Internasional di Hiroshima dan kota lain di Jepang (1993).

 Endo juga banyak menulis, baik untuk dimuat dalam majalah atau surat kabar maupun sebagai makalah untuk berbagai pertemuan, baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa Inggris, umumnya tentang kesenian tradisional, khususnya tentang kesenian Cirebon seperti tari topeng dan wayang kulit Cirebon. Tulisan-tulisannya dimuat dalam majalah Budaya Jaya, Kalam, Asian Music, surat kabar Pikiran Rakyat dan Jakarta Post.

Endo merasa resah, karena pemerintah mandaftarkan produk seni dan budaya Indonesia sebagai warisan dunia, tetapi disisi lain pemerintah tidak memberikan akses yang baik bagi warga negara yang ingin mendapatkan pengetahuan soal produk budaya dan seni tersebut. “Banyak orang bicara bagaimana membangun karakter bangsa yang berpijak pada khazanah budaya dan seni lokal. Kita bicara pengembangan kecerdasan yang berbasis kearifan local. Namun, pengetahuan riil soal kehidupan kebudayaan kita tak terdata dengan baik. Padahal data yang membentuk ilmu pengetahuan,” katanya.

 Akses publik terhadap pengetahuan budaya dan seni nusantara itu yang digugat Endo sejak tahun 2007 saat dia melakukan pendokumentasian secara digital produk seni dan budaya seluruh nusantara. Ia mendirikan lembaga Tikar Media Budaya Nusantara, yang bakal menjadi cikal bakal ensiklopedia produk seni dan budaya Indonesia. Bersama Tikar Media Budaya Nusantara sejak tahun 2007 mendokumentasikan dan mengarsipkan secara digital 13 kategori produk budaya dan seni nusantara, seperti tarian, musik, teater, senirupa, topeng, wayang, arsitektur, pemukiman, tekstil, kuliner, permainan dan keterampilan.   

 Dalam mengkoleksi dan mengarsip semua data produk budaya dan seni nusantara, Endo dibantu para relawan mantan mahasiswanya di STSI Bandung dan ISI Yogyakarta. Selain itu, pada tahun 2004, ia mendirikan Lembaga Pendidikan Seni Nusantara (LPPSN). Kegiatan di LPPSN antara lain membuat bahan jar berupa buku dan audiovisual yang kemudian ditawarkan kepada semua sekolah yang ada di Indonesia. Datanya antara lain dari pendokumentasian dan pengarsipan yang telah ia lakukan. Kegiatan ini awalnya merupakan keprihatinan Endo melihat pendidikan seni yang tak memberikan pencerahan kapada anak didik.

 Apa yang dikerjakan olehnya dengan Tikar Media Nusantara dan Lembaga Pendidikan Seni Nusantara sedikut banyak mengubah pengajaran seni dan budaya di sekolah. Sudah ribuan sekolah di 12 provinsi yang menerima bahan ajar dari Lembaga Pendidikan Seni Nusantara.

http://www.tamanismailmarzuki.com/tokoh/ensu.html

Malamnya, Indfference Things II digelar di Swarga Café bersama Nicfit, Neowax, WaterBroke, 2Sisi, Dadi Yeehaw, Balian, dan Navicula. Acara ini juga merupakan acara bersejarah bagi Ujungberung Rebels. Indifference Things I tahun 2006 yang juga digarap oleh Doni Nicfit dan kawan-kawan di Purnawarman, merupakan panggung terakhir Ivan Scumbag. Indifference Things kali ini terasa bagi emosional buat saya. Saya yakin, perasaan ini juga dirasakan oleh mereka yang mengetahui ini. Luv you Scumbag!

Karinding Attack tampil setelah band Kimung, Nicfit. Di panggung yang akrab ini Karinding Attack menghajar arena dengan lima nomor “Bubuka Gayatri”, “Burial Buncelik”, “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol”, “Lapar Ma!” dan “Maap!”

Setelah Karinding Attack tampil Navicula. Saya pribadi menaruh penghargaan yang tinggi terhadap band muda ini. Mereka mengusung banyak sekali tema dalam lagu-lagunya dan bukan cuma itu, juga mempraktekkanya di kehidupan sehari-hari di Bali. Mereka berkampanye untuk menyelamatkan orang utan, juga membantu ibu manajer mereka, Lakota, untuk menyosialisasikan keutamaan ASI eksklusif. Ini hanya sekelumit kecil hal-hal sosial yang mereka lakukan. Saya kira, tak salah kami mengundang kawan-kawan untuk tampil di bansung karena mereka membawa aura positif di sini. Semoga semua tetap panceg dina galur, kita semua!

19 Juni, Selasa,

Bertemu Egi dari komunitas karinding Mekar Galih menjajaki kemungkinan Karat tampil di acara peresmian komunitas.

21 Juni, Kamis,

Bertemu Egi dari komunitas karinding Mekar Galih memastikan Paperback tampil di acara peresmian komunitas.

22 Juni, Jumat

20:47:51

Sms dari Eben,

Malem brad J

Sehubungan dgn project CD kompilasi band2 Indo yg rencananya akan dirilis oleh Metal Hammer mag UK pd edisi bulan depan, saya diberi amanat oleh mereka untuk menyampaikan bbrp informasi kpd teman2 yg Bandnya terpilih untuk masuk dlm CD kompilasi tersebut. Oleh karena itu sy mengundang teman2 untuk kumpul di Chronic Rock Jl. Sawah Kurung No. 19 Lantai 2 (dkt Ciateul) besok hari Sabtu jam 3 sore, untuk membicarakan bbrp hal mengenai project ini. Mohon konfirmasinya dr teman2 yg akan hadir J Hatur Tengkyu! \m/

Ketika SMS ini dating, Kimung sedang mengedit, mempersingkat, dan merumuskan lirik-lirik Karat yang akan dimainkan di Festivan gamelan Yogyakarta tak lama lagi. Berikut adalah rumusan tersebut, simaklah,

GAYATRI MANTRAM

Mantra Gayatri adalah doa universal yang tercantum dan diabadikan dalam Weda, kitab suci paling purwakala. Mantra Gayatri adalah doa yang dapat diucapkan dengan penuh kerinduan oleh pria dan wanita dari segala bangsa sepanjang masa. Pengulang-ngulangan mantra ini akan mengembangkan (kemampuan) akal budi.

OM BHUUR BHUVAH SVAH

TAT SAVITUR VARENYAM

BHARGO DEVASYA DHIIMAHI

DHIYO YO NAH PRACODAYAAT

Mantra Gayatri ditemukan oleh Rsi Wiswamitra. Rsi Wiswamitra lah menginisiasi Sri Rama dalam misteri pemujaan Surya melalui mantra Aditya Hrdayam. Mantra ini mempunyai potensi yang tidak terbatas dan merupakan formula yang penuh vibrasi. Mantra Gayatri mempunyai kekuatan yang luar biasa dan tidak terhingga, kekuatan yang sungguh menakjubkan karena Surya merupakan dewa penguasanya.

Mantra Gayatri terdapat di dalam Weda suci paling kuno yang dimiliki manusia. Gayatri adalah ibu Weda. “Gayatri Chandsaam Maathaa” Gayatri menyelamatkan orang yang mengucapkannya. Gaayantham thraayathe iti Gayatri.

BURIAL BUNCELIK

Ditulis oleh Kimung, “Burial Buncelik” adalah ungkapan yang sering dilontarkan ibunya untuk merujuk pada ekspresi kesakitan yang luar biasa yang ditujukan oleh mata yang melotot diserta ekspresi wajah yang tegang, rahang mengatup saling  menekan, dan gigi geligi yang saling bergemeletuk menandakan sakit luar biasa. Tak ada jeritan yang bisa keluar, hanya mata yang bagai memaksa keluar dari rongganya. Tokoh utama di lagu ini adalah ‘saya’, aing.

“Burial Buncelik” memotret pemandangan para pengemis di jalanan, orang-orang yang mengais sampah untuk makan, yang marah karena lapak dagangnya digusur, yang menangis karena tempat mencari makan mereka di pasar tradisional terbakar—entah sengaja atau tidak. “Burial Buncelik”juga keluhan kawan-kawan saya yang di sekitar rumahnya dibangun mall. akan ketiadaan air bersih dan fenomena maraknya air sebagai hak asasi manusia yang kini lazim dikemas dan diperdagangkan,  negara yang dengan jelas mendzalimi rakyatnya, air gratis di negara kapitalis .

“Burial Buncelik” juga adalah potret anak-anak muda yang tidak menjadi diri mereka sendiri. Mereka memilih menjadi hantu, berseliweran di jalanan sebagai idol—bukan sebagai manusia. Sebagai sesuatu yang kosong, bukan sesuatu yang isi. Mengekspresikan sesuatu yang lain, bukan sesuatu dari dalam dirinya.kecenderungan ini akan mendidik kaum muda untuk menjadi bangsa pengikut yang miskin inisiatif dan inovasi. Mereka hidup ditakar, bukan menakar. Menjadi seperti ini, menjadi seperti itu, bukan menjadi ini, atau menjadi itu. Tak terbayang begitu melelahkan cara hidup seperti itu. tak terbayang bagaimana pola pikir dan idealism anak-anak muda yang harus memikirkan penampakan citra untuk dilihat dari luar, bukan membangun karakter dari dalam diri sendiri.

“Burial Buncelik” adalah keprihatinan mendalam atas hilangnya empati orang per orang dalam kehiduapn sehari-hari. Semua orang punya kehiduan sendiri-sendiri dan jarang sekali mereka mau menyisakan ruang, bahkan waktu untuk orang lain—bahkan untuk orang tua dan keluarga. Sifat dasar bangsa ini yang awalnya kekeluargaan dan kebersamaan mengalami degradasi ke tebing-tebing sulit individualisme. Lagu ini juga sekaligus ajakan untuk sama-sama merasa, sarua ngarasa.

“Burial Buncelik” adalah penegasan akan kesakitan, akan manusia yang semakin sulit untuk hidup dan bernapas, tingkat stress yang semakin tinggi sehingga meningkatkan penyakit jantung dan gangguan otak. Lagu ini juga potret dari kepalsuan, iri, dengki, angkara atas segala kepalsuan yang terbentuk dari kegagalan manusia untuk sama-sama merasa.

SIA SIA ASA AING

 “Sia Sia Asa Aing”, terinspirasi dari semangat anarki dan kebebasan punk rock, mengedepankan harmonisasi vokal geram dan jerit, dengan konsep arsansemen karinidng yang jauh keluar dari pakem permainan karinding. Lagu ini menceritakan kumalnya intelektualitas orang-orang yang terlalu sibuk bicara omong kosong hingga mulutnya dipenuhi oleh busa-busa ludah yang menjijikkan, penangkapan dan pemberangusan, dan absurditas konsep kebenaran-kejahatan, serta kebaikan versus kebaikan yang melahirkan kejahatan total.

“Sia Sia Asa Aing” juga memotret sikap tubuh pembohong yang sombong, maling-maling amatir dan profesional yang banyak mengatur orang seenak perut buncit mereka serasa kuasa, sehingga tak jarang mereka berperilaku amoral, melakukan perkosaan, semena-mena menjamah privasi orang lain, tak tahu batas, dan dengan busuk mengobrak-abrik bahkan hal paling individu yang menjadi keramat manusia-manusia lain. Lagu ini memotret bentuk paling menjijikkan dari manusia-manusia ini

Akhirnya, “Sia Sia Asa Aing” adalah gugatan bagi mereka yang tidak punya jati diri sehingga terus menerus merongrong orang-orang dengan karakteristik palsu yang terus menerus mereka dengungkan bagai lalat-lalat di pasar.

Rumusan lima lagu lagi bersambung di edisi depan ^^

10 Playlist Jon 666 : Tarawangsa, The Beatles, Eddie Vedder, Alice in Chain, Soundgarden, Carcass, Decapitated, Dying Fetus, Eddie Brickell, Alanis Morisette

Books : Al Qur’an al Karim

Movies : Psycho

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s