JURNAL KARAT # 123, 1 Juni 2012, KONSER TANPA NAMA dan SUARA LAINNYA

Posted: August 14, 2012 in Uncategorized
Tags:

 

Oleh Jon 666

27 Mei, Minggu, Latihan Gabungan dan Gladi Kotor “Konser Tanpa Nama”

Karat mulai latihan untuk panggung peluncuran album “Suara Lainnya” Peterpan. Latihan digelar di Studio Rossi, milik salah satu personil band Kelelawar Malam. Latihan juga sekaligus gladi kotor pertunjukan. Kami berkenalan dengan sosok-sosok yang bekerja untuk “Konser Tanpa Nama” ini. Dimas Leimena, Oleg Sancha, serta kru dari Berlian dan Studio Rossi semua menampilkan performa kerja yang patut diapresiasi positif. Mereka sangat professional tapi juga mampu membangun iklim yang nyaman bagi artis yang mereka garap. Karat berlatih secara maraton bersama New Peterpan serta artis-artis pendukung lain seperti Idris Sardi, Mas Ino, Momo, Henry Lamiri, perkusi, dan orkestra dari jam dua belas siang hingga jam sepuluh malam. Karat diplot tampil di tiga lagu Peterpan, “Di Belakangku”, “Sahabat” yang juga dibuka oleh “Bubuka” versi Karat, serta tinggal sepanjang permainan saksofon Mas Ino di lagu “Tak Ada yang Abadi”. Ketika Momo Geisha masuk di lagu “Cobalah Mengerti”, Karat meninggalkan panggung.

Menyenangkan sekali berada di sana bersama para personil New Peterpan yang memang sangat hangat da bersahabat.

Usai latihan, personil semua kembali ke Bandung, sementara kru dan manajemen menginap di Hotel FX Jakarta. Mereka adalah Meyti, Vicki, Ismet, Haris, dan Kimo.

 

29 Mei, Selasa, “Konser Tanpa Nama” dan Suara Lainnya

Jam dua pagi semua berkumpul di Common Room untuk siap-siap berangkat ke Jakarta, melakukan gladi resik konser “Suara Lainnya” Peterpan. Jam setengah enam pagi Karat sudah berkumpul di Senayan City. Kami melakukan gladi resik dari jam sebelas siang hingga jam setengah enam sore. Jam delapan malam konser dimulai…

Bagi saya pribadi yang besar di jalanan dengan segenap pergulatan antara idealisme musik metal dan eksplorasi musik tradisional, ini adalah sebuah pengalaman yang sangat berharga bermain bersama Peterpan, salah satu band pop terbesar di Indonesia yang juga tetangga kami di Ujungberung. Sebuah pengalaman yang sangat besar bisa bermain celempung tepat di depan Titik Puspa, Guruh Soekarnoputra, Hetty Koes Endang, Camelia Malik, musisi-musisi senior Indonesia yang selalu saya banggakan, Bu Acin, serta para penggiat industri musik Indonesia.

Tak pernah terbayangkan sama sekali kami bisa sampai di titik sejauh ini walau kami sadar titik ini bukan sepenuhnya milik kami. Tapi sudah berada di sini mendukung sahabat dalam bermusik adalah sebuah pengalaman dengan luapan emosi yang luar biasa. Kami banyak belajar mengenai bagaimana keterbukaan terhadap sebuah ide bisa dikembangkan dalam sebuah industri. Dan tak ada hal yang lebih berharga selain belajar : )

Konsernya sendiri berjalan sangat mulus walau terganggu oleh gangguan teknis hilangnya metronom yang mengakibatkan Karat tak bisa bermain dan berhenti bersamaan dengan Peterpan. Namun ini bukan kesalahan dari Karat, lebih ke masalah teknis yang lagi-lagi harus lebih dipersiapkan dalam konser besar yang melibatkan alat musik bambu. Intro sebelum masuk “Sahabat” yang terlalu panjang dan bertele-tele juga terasa mengganggu, juga Ki Amenk yang lupa dan tiba-tiba pergi meninggalkan panggung di luar skenario. Namun secara keseluruhan, penampian Karat berhasil memberikan impresi yang luar biasa bagi seluruh audiens yang dating di koser ini.

Usai konser, Karat sempat foto-foto disekitar arena dan mendapatkan CD Suara Lainnya, langsung diberikan oleh Bu Acin ayng ramah. Karat bahkan sempat berfoto-foto dan berbincang dengan Bu Acin tentang musik tradisional.

Usai membereskan berbagai hal, rombongan segera kembali ke Bandung dan hang out dengan stong taste di Common Room sampai subuh.

Selamat ulang tahun Meyti dan Viki!!!!

30 Mei, Rabu,

Berikut adalah beberapa cuplikan mengenai Konser Tanpa Nama Ariel, Uki, Lukman, Reza, dan David yang berkaitan dengan Karinding Attack,

…Atmosfer mistis terasa begitu pemain Karinidng Attack mulai memainkan isntrumen tradisional Sunda seperti karinding, celempung, gong tiup, toleat, saluang, serunai, dan suling yang kemudian diikuti rapalan berbahasa Sunda yang terkesan seperti mantra. Bersama band tradisional yang bercorak metal ini, David, Reza, Uki, dan Lukman memainkan tembang “Di Belakangku” dan “Sahabat”…” Bintang Edisi 1097 Tahun XXII Minggu Pertama Juni 2012

…Sejak awal hingga kahir, konser ini dimainkan secara instrumentalia. Termasuk kolaborasi apik yang menghadirkan kelompok Karinding Attack dengan mantan band bernama Peterpan ini. Penonton seakan terbawa suasana mistik saat bunyi-bunyian yang dimainkan dengan alat tetabuhan, seruling, karinding, dan alat pukul dan bambu khas Sunda. Seorang berpakaian khas Sunda warna putih gading membawa dupa dan menabur bunga melati muncul dari belakang penonton. Bau kemenyan bakar menusuk hidung. “Sampurasun ka sadayana,” ujar salah seorang dasri mereka menyapa penonton. Selanjutnya mengawal lagu “Di Belakangku” dan “Sahabat” dengan tempo sedang, sarat balutan bebunyian tradisi khas Karinding Attack. Sebuah gagasan jempolan sesuai yang terdapat dalam album “Suara lainnya” versi mantan Peterpan tanpa Ariel dalam persembahan instrumentalia…” Ratna Djuwita, Pikiran Rakyat, Jumat 1 Juni 2012

Sementara, ini adalah ulasan mengenai album Suara Lainnya yang berkaitan dengan Karinding Attack di Harian Kompas, Minggu 27 Mei 2012,

…Pada album instrumental Suara Lainnya, kawan-kawan Ariel itu melepas rasa lama. Mereka mengemas karya lama dengan pendekatan yang dirancang untuk suguhan instrumental, bukan garapan musik yang berorientasi pada vokal. Dengan pendekatan seperti itu, mereka bisa leluasa menggagas bentuk dan rasa baru dari lagu-lagu Peterpan. Keleluasaan gagasan itu termasuk dalam urusan melibatkan seniman lain untuk memainkan lagu Peterpan. Untuk lagu “Sahabat”, misalnya, awak eks Peterpan menggagas untuk menampilkan kelompiok Karinding Attack sebagai penafsir. Hasilnya adalah lagu “Sabahat” dan “Di Belakangku” dengan sentuhan etnis, bernuansa kesunda-sundaan khas Karinding Attack. Mereka adalah kelompok music modern dengan basis tradisi. Mereka antara lain memainkan instrumen karinding serta suling Sunda…”

 

1 Juni

Imey dari Karinding Attack rapat dengan Gio Atap Promotion membahas rencana tur “Karinding Attack Serigala Jalanan”.

 

10 Playlist Jon 666 : Tarawangsa, The Beatles, Eddie Vedder, Pearl Jam, Peterpan, Pink Floyd, Nine Inch Nails, The S.I.G.I.T, Padi, Slank

Books : Al Qur’an al Karim, Seratus Tokoh yang Berpengaruh dalam Sejarah, Jurnal Karat

Movies : Blitz, Possession

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s