JURNAL KARAT # 112, 16 Maret 2012, SELAMAT ULANG TAHUN KARAT! KONSER TUNGGAL KARINDING ATTACK GERBANG KERAJAAN SERIGALA

Posted: June 30, 2012 in Uncategorized
Tags:

JURNAL KARAT # 112, 16 Maret 2012, SELAMAT ULANG TAHUN KARAT! KONSER TUNGGAL KARINDING ATTACK GERBANG KERAJAAN SERIGALA

Oleh Jon 666

12 Maret,

Selamat ulang tahun Karat! Semoga semua yang terbaik selalu bisa diraih serta berkah buat semua orang! Amin, ahung, rahayu!

Hari ini sepanjang siang Karat menghabiskan waktu di Dago Tea House utuk cek tata suara dan mempersiapkan hal-hal lain yang berkaitan dengan Konser Gerbang Kerajaan Serigala. Kesibukan juga terlihat di kru Atap Promotion sebagai pihak promotor acara yang mempersiapkan berbagai hal berkaitan dengan konser. Di luar gedung sudah dipasang berbagai gimmick berupa gerbang bersar bergambar serigala Karat dan juga sampul album Karat “Gerbang Kerajaan Serigala”, masuk lorong suasana merchandising ditata sedemikian rupa agar orang bisa berbelanja sebelum menikmati konser. Masuk ruang aula gedung interior berbau Karat dan serigala juga terus ditata. Patung serigala besar terpajang di ruang masuk aula dan di dalam aula bersama dengan artwork sampul album dan foto sembilan orang personil Karat jepretan Kimo.

Cek tata suara berlangsung sepanjg siang, sore hingga malam. Karat memang dijadwalkan menginap di penginapan Dago Tea House. Hari itu, bergabung dengan Karat adalah Bah Olot dan Iwan Cabul. Awalnya duet maun Mang Engkus dan Mang Maman dijadwalkan akan bergabung di Dago Tea House, tapi mereka ternyata lebih memilih bergabung dengan Trie Utami di hotel.

Cek tata suara akhirnya selesai jam satu malam dan semua sangat lelah seharian ini. Waktunya beristirahat untuk menghajar keesokan harinya!

13 Maret,

Jam delapan pagi semua bangun dan cfek tata suara kembali dilakukan. Sepanjang siang cek tata suara dan gladi kotor digelar, sebagian dipijit sama Mang Iwan agar segar nanti malam. Jam dua atau jam tigaan akhirnya semua usai dan Karat beristirahat di kamar masing-masing sambil mempersiapkan segala hal yang berkaitan dengan konser.

Jam lima sore, kawan-kawan yang diundang mulai berdatangan. Masuk magrib, Karat mulai dikarantina. Semua sudah siap dengan seragam pangsi dan iket putih. Cei I’I, Mang Budi Dalton, Ncie Trah, dan Paperback, Eye Feel Six, juga sudah datang dan kita berkumpul bersama di ruang artis teater tertutup Dago Tea House.

Jam tujuh malam…

Bismillah…

Mari hajar konser Gerbang Kerajaan Serigala!

Berikut adalah beberapa review media internet mengenai konser tunggal Karat tanggal 13 Maret 2012, simaklah,

1

finfin (not verified) – Rabu, 14/03/2012 – 16:54,

Warisan Jenius

Karinding Attack, ibu sekaligus ayah yang menelurkan anak budaya tradisional-kontemporer untuk warisan generasi yang akan datang… karya jenius dari orang-orang jenius… Rahayu.. \m/

 

Jethro Tull (not verified) – Rabu, 14/03/2012 – 07:23

Karinding Attack

Spirit yang tercerahkan dari sebuah kesadaran berbudaya GAYA BARU…back to our own culture, kemasan-nya MENGGETARKAN…

http://www.pikiran-rakyat.com/node/180593#comment-72158

2

Konser Tunggal Karinding Attack, Gerbang Kerajaan Serigala

Published March 22, 2012 | By houtskools

Sebuah hajatan besar diadakan di Gerbang Kerajaan Serigalap ada Selasa malam (13/3) lalu. Acara dibuka oleh Budi Dalton dan Trie Utami bersama 9 pemuda berpakaian serba putih layaknya seorang wali. Mereka menyanyikan Rajah bubukadan Gayatri Mantram. Nyanyian Trie Utami dan Budi Dalton, alunan pirigan karinding dan waditra-waditra lain bercampur dengan aroma kemenyan berhasil membuat suasana merinding.

Yak, kolaborasi Karinding Attack (Karat) dengan Trie Utami dan Budi Dalton (menurut saya ) berhasil membuka konser tunggal Karinding Attack yang malam itu juga merilis album mereka yang berjudul “Gerbang Kerajaan Serigala” Kolaborasi Karat dengan musisi Bandung tak berhenti disitu saja. Pianis Sony Akbar diajak bermain-main bersama Karat. Kali ini alat music karinding akan dibawakan dalam nuansa Jazz! Lagu Burial Buncelik mampu dihajar habis dengan nuansa music sunda dan jazz yang kental. Selanjutnya lagu-lagu Hampura Ma 2, Dadangos Bagong, hingga Wasit Kehed dibawakan pada sesi pertama pertunjukan itu. Karat berhasil mengeksplorasi musik pirigan-pirigan pakem karinding yang dikembangkan dengan menambahkan komposisi musik punk, hardcore, metal, serta unsur-unsur musik lainya. Sang vokalis Man “Jasad” berkali-kali berkata “Kami memang memainkan karinding tapi kami tidak memainkan music tradisional dan kami pun juga tidak memainkanmusik modern. Terserah kalian mau menyebut music kita apa”. Man “Jasad” malam itu memang sering berinteraksi dengan penonton melalui banyolan-banyolan nya maupun komentar nyinyir nya dalam bahasa sunda.

Pada sesi ke-2 konser Karat masih membawakan lagu-lagu mereka mulai dari: Hampura Ma 1, Sia Sia Asa Aing, Lapar Ma, Maaf, hingga Lagu Perang. Pada lagu Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol, Karat dibantu oleh anak-anak dari kelas karinding mereka. Selain itu karat juga berkolaborasi dengan Paperback, Gabungan Aki–Aki Sunda, serta dengan sinden Sri Rejeki yang malam itu menyanyikan kawih “Kembang Tanjung Panineungan”. Di tengah-tengah pertunjukan Karat juga memberikan penghargaan kepada tokoh-tokoh yang sangat berharga bagi perkembangan musik Karat dari awal berdiri. Karat juga sempat merayakan hari ulang tahun nya yang ke-3 dengan mengajak audiens untuk bermain karinding bersama-sama. Meskipun tidak banyak yang membawa karinding, partisipasi audiens dalam permainan karinding bersama-sama ini memperlihatkan eksistensi karinding sebagai music rakyat yang mampu dimiliki dan dimain kan oleh semua orang.

Pertunjukan malam itu ditutup oleh encore yang dimainkan oleh Karat dengan Risa Saraswati beserta seluruh pengisi acara. Mereka memainkan lagu “We Are The World” Saya merasa pertunjukan malam itu berjalan sangat cepat sekali. Entah, mungkin karena merasa terbius oleh komposisi music karinding yang menurut saya terdengar seksi. Semoga saja tidak hanya Karat yang berhasil membuka kemungkinan dan kesempatan baru perkembangan seni musik tradisional. Salut untuk Karinding Attack.

Photo & Text by Gilang Arenza

http://houtskools.com/?p=1349

3

Film repirtase konser Karinding Attack Gerbang Kerajaan Serigala bisa dilihat di

http://gigsplay.com/new/Video-detail/gigsplaytv-konser-tunggal-karinding-attack-gerbang-kerajaan-serigala/

4

Eksplorasi Eksotisme Karinding Di Konser Tunggal Karinding Attack

Posted 16/03/2012 by Rahmat Arham in Concert

Overview

Type : Concert

 Venue : Dago Tea House

 City : Bandung

 Date : 13 Maret 2012

 Where: Jl. Dago Pojok 89 AF

 Start From: 19.00 – 23.00

 Guest Star: Karinding Attack, Trie Utami, Budi Dalton, Risa Saraswati

 Our Review

Venue : Bintang 4

Performance : Bintang 4

Crowd : Bintang 4

Sound : Bintang 4

Siapa kini yang tak tahu karinding? Waditra karuhun Sunda itu semakin berkembang terutama setelah dikawal oleh Abah Olot dari Parakan Muncang pada pertengan tahun 2000-an. Banyak kekayaan intelektualitas di balik kesederhanaan bentuknya. Terbagi menjadi tiga bagian (Pancepengan, Cecet Ucing, dan, Paneunggeulan), karinding merefleksikan nilai dan ajaran tentang yakin, sadar, dan sabar. Tahun 2008 pun seolah menjadi momen kebangkitan karinding. Adalah Karinding Attack (Karat) yang mengembangkannya secara progresif. Karat memperlakukan karinding dengan menyatukannya bersama instrumen lainnya. Terbukti, langkah ini memperlihatkan bahwa karinding ternyata punya keluwesan untuk bersanding bersama musik lain.

Sebagai pembuktian Karat terhadap pengembangan musik karinding, konser tunggal bertajuk “Gerbang Kerajaan Serigala” pun digelar pada Selasa (13/3) malam di Teater Tertutup Dago Tea House, Jalan Bukit Dago Selatan, Bandung. Sederet musisi juga turut memeriahkan acara yang dibanderol seharga Rp. 25000,- /tiket tersebut.

Digawangi oleh Man (karinding, vokal), Ki Amenk (karinding, vokal), Wisnu (karinding, vokal), Kimung (celempung, vokal), Hendra (celempung, vokal), Papay (celempung, kohkol), Okid (gong tiup, toleat, vokal), Jimbot (toleat, suling, serunai, vokal), dan Yuki (suling, saluang, serunai, dan vokal), Karat memecah sepanjang malam itu dengan pirigan-pirigan pakem karinding yang dibaurkan bersama komposisi punk, hardcore, dan metal.

Opening acara terasa syahdu saat mereka berkolaborasi dengan Trie Utami dan Budi Dalton dalam “Rajah Bubuka” dan “Gayatri Mantram”. Lengkingannya yang berpadu bersama liukan beragam musik bambu lainnya membuat penonton hening malam itu. Selepas memainkan “Dadangos Bagong”, Karat kemudian menyambungnya dengan “Wasit Kehed”

Man menyapa penonton secara interaktif melalui celetukan bodoran khasnya. Tak ada jarak berarti antara penonton dengan Karat dalam konser ini. “Karinding juga bisa disatukan dengan jazz,” ujar Man sesaat sebelum Karat berkolaborasi dengan pianis Sony Akbar. Permainan tata lampu yang mendukung pun memukau ratusan penonton yang hadir.

Selain melucurkan album pertamanya, konser tunggal ini juga sekaligus merupakan perayaan hari jadi ketiga bagi Karat yang terbentuk sejak 12 Maret 2009. Sempat diadakan acara potong kue berukuran besar yang dikomandoi MC Edi Brokoli, kemudian acara dilanjutkan kembali dengan pertunjukan musik bersama Gabungan Aki-Aki Sunda.

“Alhamdulillah semoga Karat bisa jadi artefak budaya untuk masa depan. Tentang album ‘Gerbang Kerajaan Serigala’ ini, kita mah cukup sampai di gerbangnya aja. Cukup melihat para serigala yang rebutan makan, kursi, dan kekuasaan!” teriak Man yang disambut applause penonton.

Nomor-nomor lain seperti “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol”, “Sia Sia Asa Aing”, “Hampura Ma 1, “Hampura Ma 2″, dan “Lagu Perang” tak luput dibawakan. Karat juga mengajak para anak muda dari Kelas Karinding untuk turut bergabung.

Tak hanya sampai disitu, alunan instumen kecapi menyeruak ketika Karat berduet dengan sinden Sri Rejeki. Kawih “Kembang Tanjung Panineungan” seolah menghipnotis semua yang hadir. Sontak tepuk tangan pun membahana, apalagi ketika Risa Saraswati masuk dan berbagi panggung bersama. “We Are The World” milik mendiang Michael Jackson pun menjadi penutup perhelatan malam itu.

Melalui pertunjukan tersebut, karinding diperlihatkan bahwa ia tidak sekadar alat pengusir hama di sawah, penghibur waktu senggang, atau pelengkap ritual kesenian semata. Karinding juga ikut menjelma jadi suatu bagian yang turut memeriahkan ekspresi musikalitas.

Tulisan: Hanifa Paramitha Siswanti

Foto: Muhammad Billy Bernaldy

http://gigsplay.com/new/GigReview-detail/eksplorasi-eksotisme-karinding-di-konser-tunggal-karinding-attack/

5

Konser Tunggal Karinidng Attack

Posted on March 13th, 2012 in Event, Music, Review

Gerbang Kerajaan Serigala tampak sudah bersiap untuk menyambut kedatangan kita, menghisap sari jiwa, membuat kita tenggelam dengan alunan berbagai rasa yang dihasilkan sekumpulan orang luar biasa, setengah sinting, setengah iseng.

Jangan kaget bila aura ruang Teater Tertutup Dago Tea House Bandung nanti menggoda melalui aroma berbeda, wewangian khas akan menyelimuti jalannya Konser Tunggal Karinding Attack. Saya harap bisa menikmati keseluruhan acara dan kemudian berkata, “Wow.”

Kota Bandung dan Indonesia perlu membangunkan kembali dunia musik yang belakangan mulai menjenuhkan. Siapa tau dengan dibukanya Gerbang Kerajaan Serigala dapat sedikit menggerakkan rasa musisi-musisi lainnya.

http://meityfitriani.com/2012/03/13/konser-tunggal-karinding-attack/

6

Konser Karinding Attack di Gerbang Kerajaan Serigala

Home » Konser Karinding Attack di Gerbang Kerajaan Serigala

16 Mar Posted by Redaksi in For Event | Comments

Konser Karinding Attack di Gerbang Kerajaan Serigala

 Oleh : Rizki Rahadiyan

“karinding bukan alat musik tradisional ataupun modern”

Tidak seperti biasanya Selasa malam  gedung pertunjukan Dago Tea House ramai oleh pemuda pemudi baik  yang berasal dari kota Bandung maupun daerah lainnya. Memang beralasan gedung pertunjukan yang biasanya hanya ramai setiap libur akhir pekan saja itu kali ini penuh, karena tanggal 13 Maret kemarin bertepatan dengan konser tunggal karinding Attack, sebuah acara konser yang dibuat sebagai rasa syukur atas hari jadi mereka yang ketiga, serta sebagai launching album pertama Karinding Attack.

Memang terasa spesial malam itu, bila biasanya pertunjukan musik selalu diiringi alat-alat musik seperti gitar, drum, keyboard, dan lainnya. Kini pertujukan musik itu diiringi alat-alat musik dari bambu.

Acara di mulai sekitar pukul 19.30, dibuka dengan tembang Rajah Bubuka dan Gayatri mantram dibawakan oleh Trie Utami dan Budi Dalton. Kemudian diteruskan dengan Dadangos Bagong, Wasit Kehe, Hampura Ma, Maaf, Yaro, Kawih Pati, Gerbang Kerajaan Serigala,  Selain nama-nama diatas, Karinding Attack juga melakukan kolaborasi dengan beberapa musisi diantaranya Trio Sony Akbar membawakan Burial Bunceklik dalam suasana Jazz, dengan anak-anak dari Kekar (Kelas karinding) membawakan Nu Ngora Nu Nyekel Kontro dan Maaf, serta bareng Paperback membawakan Because-kelas Rakyat, bersama Sri rejeki membawakan kawih Tembang Tanjung Panineungan, juga dengan Gabungan Aki-aki Sunda membawakan Ririwa di Mana-mana.

Selain berkolaborasi,  Karinding Attack juga sempat mengajak para penonton untuk bersama-sama memainkan-mainkan Karinding di tengah pertunjukan.

Acara pertunjukan musik ini semakin menarik dengan di dukung oleh video art dan lighting yang cukup menarik, juga ada pertunjukan tari di Hampura Ma Part 2. Di tambah dengan Man yang begitu interaktif dengan penonton. Konser pun di tutup dengan penaampilan karinding attack berkolaborasi bareng Paperback, Eye Feel Six, Trio Sony Akbar, dan sang ratu Risa Saraswati membawakan We Are the World.

Cukup banyaknya musisi yang berkolaborasi dalam konser ini seperti membuat pernyataan bahwa Karinding bisa dinikmati dengan cara apapun, dengan campuran musik apapun dan tidak terjebak dengan dikotomi alat musik tradisional ataupun modern. Terserah anda bagaimana mengembangkan karinding sebagai warisan budaya agar bisa terus dinikmati generasi selanjutnya.

http://formagz.com/for-event/konser-karinding-attack-di-gerbang-kerajaan-serigala

7

Konser Musik Bambu Karinding Attack

21 Maret 2012

 

Oleh Idhar Resmadi

Bandung – Alunan suara yang keluar dari pelepah kawung atau bambu itu mampu membius ratusan penonton yang memadati Gedung Teater Tertutup Dago Tea House. Alat musik bambu bernama Karinding yang dulunya merupakan alat untuk pengusir hama, kini di tangan Karinding Attack menjadi alat musik yang kaya dengan berbagai macam eksplorasi genre musik.  Seperti yang terlihat dalam konser tunggal mereka, “Gerbang Kerajaan Serigala” pada Selasa, (13/3) yang mencampurkan musik tradisi karinding menjadi lebih lebar dan berwarna dengan kolaborasi musik pop, folk, hingga jazz.

Konser “Gerbang Kerajaan Serigala” diselenggarakan sebagai pembuktian komitmen Karinding Attack untuk mengembangkan musik karinding dan menyebarkannya ke khayalak luas. Terlihat beberapa remaja dan anak muda kini tak risih lagi untuk mempelajari karinding, seperti yang terlihat dari konser malam itu yang banyak dihadiri oleh remaja dan anak muda. Beberapa malah membawa karinding sendiri.

Karinding Attack tumbuh besar dan berkembang dari komunitas metal Ujungberung. Sebagian besar personilnya pun terdiri dari beberapa musisi metal seperti Man, vokalis band death metal Jasad, Amenk yang merupakan vokalis band deathmetal Disinfected, dan Kimung, mantan pemain bass Burgerkill. Secara musikalitas, musik Karinding Attack memang penuh dengan nuansa yang tak hanya terpaku pada nuansa eksotisme musik tradisi semata. Pengaruh musik metal sangat terasa kuat dalam musik-musik Karinding Attack yang bersemangat, enerjik, dan penuh dengan tempo cepat.

Sebagai sebuah band yang tumbuh besar di lingkungan musik metal dan punk, terselip mayoritas lirik-lirik dan pesan dari Karinding Attack banyak memiliki pesan menyoal kritik sosial dan politik, terutama dilihat dari perspektif lokalitas.

Konser yang juga merupakan hajatan ulang tahun ketiga Karinding Attack ini dibuka dengan “Bubuka” yang dilantunkan oleh penyanyi Trie Utami bersama budayawan Budi Dalton. Kemudian dilanjutkan dengan “Mantram Gayatri” dan “Hampura Ma bagian 1”. Karinding Attack pun malam itu tak melupakan menyisipkan pesan-pesan kritik sosial dan politiknya seperti pada lagu “Dadangos Bagong”, dan “Wasit Kehed”.

Pada lagu “Burial Buncelik”, Karinding Attack memperlihatkan warna musik yang berbeda ketika berkolaborasi bersama musisi jazz Sony Akbar Trio. Musik-musik dari bambu itu bersanding mengalun dengan alunan piano dan gitar yang disambut riuh penonton.

“ Musik Karinding Attack itu bukan musik tradisional juga bukan musik modern. Kami membuat musik dan bereksplorasi dengan apa yang kami inginkan,” ujar sang vokalis Man yang malam itu tampil begitu komunikatif dan seringkali melemparkan bobodoran (candaan) atau sentilan.

Kekayaan eksplorasi itu pula yang ditampilkan oleh band yang terdiri dari Man (vokal), Ki Amenk (karinding), Wisnu (karinding), Kimung (celempung), Hendra (celempung), Papay (celempung, kohkol), Okid (gong tiup, toleat), Jimbot (toleat, suling, serunai), dan Yuki (suling, saluang, dan serunai). Pada lagu “Because- Kelas Rakyat” mereka berkolaborasi dengan band folk Paper Back. Meski berbeda genre musik, toh, Karinding Attack maupun Paper Back tak sama sekali canggung. Malah harmonisasi nada terlihat dari musisi yang berbeda warna musik ini.

Salah satu komitmen Karinding Attack dalam melestarikan seni karinding pada anak muda adalah ketika mereka mengajak remaja yang menggeluti Kelas Karinding (Kekar) dalam konser malam itu untuk melantunkan lagu “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol”. Tak lupa pula, Karinding Attack malam itu menghadirkan para seniman-seniman yang berjasa dalam melestarikan seni karinding seperti Abah Olot, Mang Engkus, dan Mang Utun. Kolaborasi anatara seniman karinding muda dan para tetua karinding ini pun terjadi ketika melantunkan lagu “Ririwa”.

Konser sepanjang hampir dua jam itu pun ditutup oleh tiga lagu yaitu “Yaro”, “Gerbang”, dan “Maaf Kami Tidak Tertarik Pada Politik Kekuasaan”. Tak lama kemudian encore berkumandang, tak lama setelah itu lantunan sinden pun lantang bersuara ketika lagu “Kembang Tanjung” dinyanyikan.

Momen spesial malam itu justru pada akhir acara. Karinding mengundang vokalis Risa Saraswati untuk bersama-sama menyanyikan “We Are The World” karya Michael Jackson. Momen emosionil itu pun dilanjutkan dengan kolaborasi dengan musisi jazz Sony Akbar Trio, band folk Paperback, dan band hiphop Eye Feel Sick. Konser ini pun membuktikan komitmen dan hasrat dari Karinding Attack bahwa tidak ada satu pun kerangka maupun genre musik yang sanggup mengekang mereka. 

http://www.indonesiakreatif.net/index.php/id/tulisananda/read/konser-musik-bambu-karinding-attack

8

Konser Karinding Attack Tanpa Kolaborasi Dengan Musik Metal

Grup musik bambu asal Bandung, Karinding Attack (Karat) selama ini dikenal publik lekat dengan musik metal, namun dalam konser tunggalnya “Gerbang Kerajaan Serigala” Selasa (13/3) esok, Karat tidak akan berkolaborasi dengan genre metal. Hal tersebut diungkapkan oleh Man, salah satu punggawa dari Karat dalam konferensi pers konser “Gerbang Kerajaan Serigala”, Senin (12/3) siang di Commonroom, Bandung, ia menyebutkan bahwa Karinding Attack sendiri sudah metal, jadi tidak perlu lagi berkolaborasi dengan genre tersebut dalam konser ini.

Seperti yang telah diketahui sebelumnya bahwa Karinding Attack sendiri lahir dari komunitas Ujung Berung Rebel, komunitas yang sangat kental dengan genre metal. Man sendiri merupakan vokalis dari band deathmetal, Jasad.

Dalam konser tersebut, Karat akan berkolaborasi dengan sejumlah musisi, menampilkan komposisi musik karinding buhun bersama gabungan Aki-Aki Sunda, Trie Utami, dan Budi Dalton. Mengeksplorasi corak musik jazz bersama pianis Sony Akbar, musik folk dengan Paperback, permainan instrumen kecapi bersama sinder Sri Rejeki, serta memainkan komposisi musik pop bersama Risa Saraswati.

Sempat beredar anggapan miring yang menganggap bahwa Karinding Attack memainkan musik karinding tidak sebagaimana mestinya musik tradisional karinding. Dalam konfrensi pers tersebut, Kimung yang juga salah satu punggawa dari Karat, menegaskan bahwa karat bukanlah grup musik tradisional, Karat adalah produk budaya sekarang yang terinspirasi musik tradisional, Karinding Attack bermain musik dengan media Karinding. Dalam mengembangkan musiknya, Karat menganggap bahwa musik sejak awal diciptakan adalah satu dan hanya ekspresi musikalitas saja yang berbeda-beda, sehingga menghasilkan berbagai hasrat musik yang oleh industri disebut sebagai genre. Oleh karena itu, Karat lantas memandang Karinding sebagai satu musik yang bisa bersatu dengan musik lainnya. Dinamika semacam itu Kimung anggap sebagai pelecut semangat dalam berkarya bersama Karinding Attack.

Man juga menambahkan ketika pentas banyak yang terkecoh dengan musik  Karinding Attack “Kok tradisional teh begini.. ya gimana saya aja.. pokoknya kami tulus berkarya untuk kesenian, kalo di Amerika ada musik heavy metal, kalo di kita itu heavy bamboo,” ujarnya seraya bercanda.

Konser “Gerbang Kerajaan Serigala” akan diselenggarakan di Teater Tertutup Dago Tea House, mulai pukul 17.00-22.00 WIB. Karinding Attack sendiri terdiri dari Man (karinding, vokal), Ki Amenk (karinding, vokal), Wisnu (karinding, vokal), Kimung, (celempung, vokal), Hendra (celempung, vokal), Papay (celempung, kohkol), Okid (gong tiup,toleat,vokal), Jimbot (toleat, suling, serunai, whistles, bird voices, vokal), Yuki (suling, saluang, serunai, whistles, bird voices, vokal).

Text & Photo : Rangga FN

http://www.gigsplay.com

http://infobandung.in/konser-karinding-attack-tanpa-kolaborasi-dengan-musik-metal.dixx

9

Gerbang Kerajaan Serigala: KARAT

(this post is taken from Meity Fitriani)

I received an invitation to attend the launching of ‘Gerbang Kerajaan Serigala’, an album released by Karinding Attack which is also known as KARAT. The event took place on March 13, 2012; at Dago Tea House, Bandung. One thing that attracted me the most was the fact that this album might be the first Karinding album ever recorded in a form of music album and publicly released in the whole world, and hopefully it won’t be the last. Not only that, this concert also is considered as the first Karinding concert ever held. For this concert, Karat collaborated with other artists and/or musicians such as Trie Utami, Budi Dalton, Sony Akbar Trio, Paperback, Risa Sarasvati, Shofia Khanza, Sofia Azzahra, Siti Herdianti, Karina Putri, Handriansyah Nugraha, Mochammad Dwivo Rahayu, Mochammad Latief Prabowo, Avatar Marvel, Ma Awas, Abah Olot, Mang Engkus, Mang Maman, Mang Utun, Mang Dedi, and Iwan Cabul.

The concert itself is a representation of Karat’s personnel commitment and dedication for karinding music development; it’s an official introduction of the music to those who aren’t familiar with the instrument. It is a reminder for Indonesian, especially the young generation, that a traditional music isn’t lame; that traditional music is adaptable to current trends; that traditional music is precious and it is important for us to prevent it from vanishing. This concert is a result of deep and thorough exploration; a concrete re-discovery proof of the-almost-forgotten traditional music inheritance by great, crazy, nice, funny, weird, scary, determined artists who refuse to give up in reaching their objectives and spread their unlimited verve in doing so.

Karinding is a small shaped bamboo (20 x 1 cm) separated into three main parts; there are different shapes of the instrument depending on age difference, place of origin, and gender of the player. The instrument is also recognized in other countries such as Nepal, China, and even some countries in Europe. Aside from bamboo, there’s also Karinding made from metal or steel; it has been said that the material used to make the instrument could determined its origin.

Karat itself is a group with a dominant influence of metal culture which could be heard from its punk and metal sounds’ nuance on the songs, both musically and lyrically. Hampura Ema (Forgive me, Mother), Wasit Kehed (Unfair Referee), Sia Sia Asa Aing (Snob), Maap Kami Tidak Tertarik Pada Politik Kekuasaan (Sorry, We Are Not Interested in the Politic Reign), Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol (The Youth Who Holds The Control), Ririwa Di Mana-Mana (Ghosts Everywhere), Lapar Ma (Mother, I’m Hungry), and other songs inspired by daily routine and/or experiences of Karat’s personnel were on the set list that night.

please do forgive me for the weird translation of the song title, I tried my best, really.

Powered by Atap Promotions and supported by Djarum Super, Karat has proven its three years of existence and influence its caused through hundreds of audience which half of them wearing Iket Sunda and brought karinding to the venue. There is a gate with a big writing of the concert title and couple of backdrops available around the venue, a lounge prepared by the sponsor with small coffee bar and merchandise stall placed just before the main door. To be honest, I thought I am going to see a complete black decorated hall but instead the only thing that covered in black was the stage. Crossing my finger, I did expect for one unforgettable concert.

Gerbang Kerajaan Serigala – literally translated as the Gate of Wolves Kingdom – was opened by Trie Utami’s beautiful chanting. I was intrigued by Trie Utami’s participation in the concert, her voice totally hypnotized the audience into silence; a strong thrill of goosebumps, I must say. Karat then continued to entertain the audience with its performance; Man (Vocal, Karinding) was quite interactive with the audience, although the jokes were real fun to hear, it was confusing on which direction the group would like to take the audience to. It could be a good way to break the ice between KARAT and its audience but I wouldn’t mind if there’s more “punch” from the performance.

One thing that I have to brag to you is how the visualization on the screen surprised me. Ever since I came home and attended various concerts, Gerbang Kerajaan Serigala is the first concert with more than just the average visual. There’s this one image of how zygote turns into human inside the uterus; I am not sure why but the images were so strong I could not get it out of my mind up until now. I think I have to say my sincere appreciation for the men who are responsible for the artistic and the video art for what they have produced.

Before Karat started with its song “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol”, a young girl (who was with 5 others as backing vocal) screamed “Rek kieu-kieu wae hirup teh?” – a strong question asked which although made audiences laughed, it actually throw a bit of slap on the face for me us who live without any willpower to make a change in my our live; to set a goal; to become a better individual; to define objective in living our life and not wasting more time for something useless.

In between sessions, intermezzo through “Wayang Orang” projected on screen consoled us while the personnel changed their outfit and took a short break. Man (Karinding, Vocal) who was accompanied by Edi Brokoli as master of ceremony also humor the audiences with hilarious statements and comments. As I said before, on the contrary of what I have expected before the concert, I was more likely being entertained by the jokes thrown from the stage rather than just the music itself.

As this concert was also a celebration for the third anniversary of Karat, it could have been better if the concert is focusing more on the music itself rather than a parody presented. Nothing wrong with intimate interaction between the group and the audience, it was great and all – but when it comes with a bigger resonance of the music, the concert would be perfect if the closing is as great as the opening act. I understand fully the meaning of collaboration of all artists involved covering the song ‘We are the World’ but somehow I feel like I expect something…more. But again, it’s my (humble) personal opinion.

However, we could see how powerful Karat influences young generation, especially who’s residing in Bandung. It’s now common to see music enthusiast (especially those who come from the underground scene) wearing Iket Sunda. Karat consistently exploring its limit and found (also proved) that there is no such thing as limit in music. Traditional musicians should get rid of their low self-esteem when being faced with modernization. Standing applause for Karat and every one who’s behind it.

This concert may be the first concert of Karinding in the world but without any regeneration and proper revitalization, another beautiful inheritance from our ancestor would be gone without we even realizing it. Why should wait until other countries claim out our culture to care about it? Why don’t we study and show the world how culture rich our country is?

Why don’t we re-introduce Indonesia to the world by giving them wide variety of beautiful traditional music harmonization? Why don’t we let them know that Indonesia is not only about corruption, a singing president, a racial/religious war, and a stampede with our neighbor? Why don’t we let them know that there are other traditional treasure aside from angklung, gamelan, batik and such? Why don’t we let them know that Indonesia has so much more than just that?

or should I say, “Rek kieu-kieu wae hirup teh?”

If you are interested in learning Karinding, you could drop by at Common Room or Gedung Indonesia Menggugat where a class is being held for public. Information related to karinding attack could be read at Jurnal Karat.

The men behind Karinding Attack are; Man (Karinding, Vocal), Ki Amenk (Karinding, Vocal), Wisnu (Karinding, Vocal), Kimung (Celempung, Vocal), Hendra (Celempung, Vocal), Papay (Celempung, Vocal), Okid (Gong tiup, Toleat, Vocal), Jimbot (Toleat, Suling, Serunai, Whistles, Bird voices, Vocal), and Yuki (Suling, Saluang, Serunai, Whistles, Bird voices, Vocal).

Karinding Attack crew are; Viki, Ghera, Mang Tahu, Zemo Cabalero, and Uwok.

Bandung, 17th March 2012

written by Meity Fitriani

 

photographs used in this post is a private property of the writer

personal video documentation is available here

http://blackboxrecorder.tumblr.com/

Terima kasih sebesar-besarnya kepada Pak Herman dan PT Djarum, serta Giovitano, Ardi, dan Atap Promotion yang sudah sangat membantu terselenggaranya pergelaran “Konser Tunggal Karinding Attack Gerbang Kerajaan Serigala”. Semoga apa yang kita lakukan akan menjadi berkah bagi diri kita pribadi dan juga kepada orang lain. Amin, ahung, rahayu!

Hajar terus jalanan!

10 Playlist Jon 666 : Tarawangsa, The Beatles, Eddie Vedder, Tools, Sepultura, Soulfly, The S.I.G.I.T,  Fear Factory, Komunal, Rajasinga

Books : Al Qur’an al Karim,

Movies : Bismarck

 

 

                                                          

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s