JURNAL KARAT # 111, 2 Maret 2012, KEMBANG TANJUNG PANINEUNGAN

Posted: June 30, 2012 in Uncategorized
Tags:

JURNAL KARAT # 111, 2 Maret 2012, KEMBANG TANJUNG PANINEUNGAN

Oleh Jon 666

4 Maret, Minggu,

Hari ini latihan dimulai dari jam lima sore karena akan diikuti oleh Zahra, Sasa, Hadi, Bombom, Latief, dan Ivo, semuanya pelajar yang harus pulang sebelum malam. Latihan diawali dengan lagu “Lapar Ma!”, menghadirkan vokal latar Zahra. Karena vokal Zahra dianggap kurang kuat, maka Hadi ikut melatari Karat di lagu ini. “Lapar Ma!” diulang empat kali sampai akhirnya dianggap mendekati sempurna. Lagu selanjutnya, “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol” menampilkan vokal latar yang ramai juga. Kali ini, selain Hadi dan Zahra, Latief dan Sasa ikut bergabung. Seharusnya ada Ivo, Bombom, dan Arni juga, tapi mereka berhalangan di kesempatan kali ini. Latihan lalu dilanjut ke lagu-lagu Karat, minus “Gerbang Kerajaan Serigala” dan “Maaf!” yang tidak dilatihkan karena waktu yang terbatas, sementara Paperback dan Eye Feel Six sudah bersiap-siap.

Latihan selanjutnya adalah lagu “Because – Kelas Rakyat”. Sesi ini lagu “Because – Kelas Rakyat” semakin mantap saja dimainkan. Kini dengan penambahan instrumen ukulele yang dimainkan Kimung, dua lagu ini semakin rancak saja. Ukulele Kimung ini akhirnya selesai juga dikerjakan Ayi sejak September 2011. Kimung menamai ukulelenya, Aurora, nama yang dibuatkan Zia untuknya. Aurora akan lebih sering dimainkan bersama Paperback dan Dumb Brother. Seperti “Because – Kelas Rakyat”, lagu “We are the World” di sesi ini juga semakin mantap dimainkan. Soul dan karakter tiap musisi yang berkolaborasi semakin mendapatkan ruhnya dan tinggal sedikit polesan, sempurnalah aransemen lagu ini.

“Burial Buncelik” di gelar kemudian. Man yang kini mendapat tata aransemen melalui piano Sony Akbar dengan cepat bisa beradaptasi. Ada sedikit kendala di bagian solo piano dan suling tengah lagu. Hendra masih sulit mempertahankan konstanitas tempo permainan celempungnya, sehingga banyak nada-nada yang kedodoran. Dengan bantuan Papay, sedikit demi sedikit Hendra semakin bisa mempertahankan tempo.

5 Maret, Senin, Wayang atau MC?

Ada dua perdebatan yang dikemukakan hari ini. Yang pertama tentang format MC yang dikemukakan oleh Jimbot. Ia keberatan jika MC wayang akan dilakukan olehnya dan Man karena ia ingin fokus manggung. Jika akan tetap menggunakan wayang, Jimbot memilih untuk menggunakan dalang sungguhan agar lebih serius. Jika pun wayang tak mungkin, ia ingin ada MC yang pilihannya jatuh ke Edi Brokoli.

Perdebatan ke dua adalah keberadaan tarian “Hampura Ma 2” oleh Andra dan Ilva. Tari dikhawatirkan akan bentrok dengan konser video art di LED dan blocking panggung Karat. Namun Kimung akan konfirmasi mengenai blocking panggung dan penataan rundown serta artistik ke Kociw sehingga kemungkinan Andra dan Ilva untuk tampil di “Hampura Ma 2” tetap berlangsung. Akhirnya, ditetapkan tarian akan terus ada. Malam itu, Andra dan Ilva berlatih tari di Common Room.

7 Maret, Rabu, Kembang Tanjung Panineungan

Hari ini latihan dimulai dari jam lima sore. Agendanya adalah menghitung durasi lagu dari awal hingga selesai. Ini adalah pertama kali durasi konser secara live dihitung dengan format latihan yang disesuaikan dengan kondisi panggung nanti. Latihan diawali dengan lagu “Lapar Ma!” yang menghadirkan vokal latar Zahra dan Hadi. Lagu ini lancar dimainkan, tak ada kendala yang berarti. Setelah itu, giliran “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol” yang dimainkan, juga menghadirkan vokal latar Zahra, Hadi, dan Latief. “Lapar Ma!” dan “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol” seharusnya dimainkan di tengah daftar konser, namun karena Zahra harus segera pulang maka digeber di awal latihan.

Selanjutnya, “Bubuka – Gayatri Mantram” dimainkan dengan sentuhan vokal Jimbot – Man yang spektakuler mengisi bagian yang biasa diisi Trie Utami dan Budi Dalton. Ada sedikit perdebatan mengenai bagaimana mengakhiri lagu, namun semua berakhir dengan baik. “Hampura Ma 1” dialunkan kemudian. Lagu ini dimainkan dengan berbagai aransemen yang jauh lebih variatif dari versi asli rekaman yang dilakukan tahun 2008. Tak banyak kendala di lagu ini, Karat hanya mengulang dua kali sekedar meneguhkan kembali ingatan akan lagu ini. “Dadangos Bagong” digeber kemudian. Tak banyak kendala juga di lagu ini selain tempo yang terlalu lambat dan kemudian dipercepat di sesi selanjutnya.

“Wasit Kehed” lalu digeber dengan lancar dengan vokal latar Hendra dan Yuki. Kimung memutuskan untuk tidak berteriak melatari vokal Man di lagu ini untuk menjaga stamina vokal di lagu-lagu berikutnya. Setelah “Wasit Kehed”, seharusnya “Burial Buncelik” digeber namun diskip karena lagu ini akan dilatih bersama Sony Akbar. Dalam rundown, ”Burial Buncelik” adalah lagu terakhir yang menutup sesi pertama konser dengan pemutaran video karinding sebagai jembatan ke sesi berikutnya.

Lagu selanjutnya adalah “Hampura Ma 2”. Tak banyak kendala berarti juga di lagu ini dan Karat hanya mengulang dua kali dengan dobel melodi suling di sesi ke dua. “Sia Sia Asa Aing” kemudian dialunkan. Kimung kini melatari vokal Man dengan ceracau di sepanjang lagu dan vokal berteriak di sesi refrain. “Sia Sia Asa Aing” hanya sekali dilatih karena sudah fiks. Setelah ini seharunya tiga lagu “Lapar Ma!”, “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol”, dan “Because – Kelas Rakyat” dimainkan, tapi karena sudah dilatih di awal lagu, maka dua lagu pertama diskip, sementara “Because – Kelas Rakyat” akan dilatih bersama Paperback. Tiga lagu ini menjadi penutup babak ke dua konser Karat yang kemudian dilanjut dengan pemutaran video footage, penyerahan penghargaan dan uacapan terima kasih kepada lima tokoh pilihan Karat, yaitu Gustaff H. Iskandar, Andar Manik, Abah Olot, Mang Engkus, dan Mang Utun. Penyerahan penghargaan dan ucapan terima kasih ini akan dilanjut dengan bermain karinding bersama seluruh audiens yang hadir di konser nanti.

Sesi bermain karinding ini akan menjadi jembatan menuju lagu pertama babak ke tiga, “Ririwa” yang memang dimainkan hanya karinding saja. Di sesi latihan, Hendra bersama Wisnu yang bermain karinding “Ririwa” sementara Kimung dan Yuki bernyanyi bersama melatari vokal Man. Lagu selanjutnya adalah “Yaro”. Ada beberapa kendala di lagu ini namun bisa diatasi dengan baik.

Lagu selanjutnya adalah “Gerbang Kerajaan Serigala”, lagu yang digadang-gadang menjadi titian baru dalam pemahaman permainan karinding Karat dan kemudian dijadikan titel album perdana mereka, sekaligus dijadikan ikon Karat yang pertama. Kimung kembali bernyanyi melatari Man di lagu ini. “Maaf!” kemudian dimainkan menyusul “Gerbang Kerajaan Serigala” sekaligus menutup rangkaian akhir babak ke tiha konser Karat. Di lagu “Maaf!” Man diharapkan bisa berinteraksi merangsang partisipasi penonton untuk ikut bernyanyi bersama di repertoar tengah, “maap kami tidak tertarik pada politik kekuasaan…”

Di panggung nanti, sesi ini ditata sebagai break encore di mana audiens dikondisikan untuk meminta Karat kembali tampil di panggung. Dan setelah jeda beberapa menit, Karat akan kembali tampil di panggung membawakan tiga lagu medley, “Lagu Perang – Kembang Tanjung Panineungan – Kawih Pati” dan lagu penutup konser “We Are the World”.

Di sesi latihan ini, “Lagu Perang” dengan mulus dimainkan yang kemudian disambung dengan “Kembang Tanjung Panineungan” yang dinyanyikan oleh Nyai Sinden Sri Rejeki, akrab dipanggil Nci. Ada beberapa kendala dalam menyambungkan “Kembang Tanjung Panineungan” dengan “Kawih Pati”. Beberapa opsi ditata Jimbot, dari haleuang Nci, suling besar Jimbot, hingga jembatan di akhir lagu oleh goong tiup Okid. Ini masih harus digodok dan akan difiks hari Jumat nanti. Tak banyak kendala di “Kawih Pati” selain atmosfer ketukan celempung Kimung yang harus ditata lembut dan kencang pukulannya.

Karat akan berlatih hari Jumat siang dan gladi kotor di Common Room hari Sabtu sore.

Bismillah, semoga lancar!

8 Maret, Kamis, Madya Gantang

“Madya Gantang” ciptaan Kimung selesai digarap bersama Jimbot untuk Dumb Brother.

Man mengabari jika hari Minggu, Karat akan syuting Liputan 6 SCTV di Tegallega. Malam ini juga Karat akan diwawancara duet maut Eben – Gebeg di Extreme Mosh Pit, Radio Oz.

9 Maret, Jumat,

Malam ini, Karat kembali berlatih dan kini penggarapan lagu untuk konser fokus ke nomor “Kembang Tanjung Panineungan”, terutama bagamana Karat bisa mengisi waditra yang lazim dipakai Karat ke dalam alunan kacapi JImbot. Kawih ini ciptaan maestro kawih Sunda, Mang Koko dan sudah lantunkan oleh juru kawih, Euis Komariah. “Kembang Tanjung Panineungan” adalah sepenggal drama mengenai DI/TII. Asep Salahudin, Wakil Rektor IAILM Pesantren Suryalaya, pernah menulis tentang lagu ini di Khazanah, Pikiran Rakyat, 30 Mei 2010 dalam artikel berjudul “Sensitivitas Kawih”. Berikut adalah cuplikannya,

Dalam seloroh politik yang sangat menohok diungkapkan bahwa ketika terjadi ketegangan ideologis antara Soekarno dan Kartosuwiryo, yang menjadi korban adalah mang karta dan mang karna. Pilihan geografis Kartosuwiryo untuk menjadikan tanah Pasundan sebagai basis perjuangannya, bergerilya dari hutan ke hutan tentu banyak menimbulkan implikasi termasuk implikasi fisiologis dan psikologis.

Dalam memperjuangkan keinginannya, DI/TII menggunakan beragam cara termasuk menebar ancaman sekaligus menawarkan pemahaman negara dalam kerangka ideologi keagamaan yang dipahami secara harfiah, agama yang diapresiasi secara ideologis bahkan fantasi mistis bukan epistemologis (pengatahuan). Saya kira sang pemimpin Kartosuwiryo tidak pernah terekam sebelumnya sebagai sosok yang akrab dengan jejak-jejak geneologi epistemologi religius.

Tentu untuk memenuhi kebutuhan logistiknya maka tidak ada cara lain kecuali dengan mengoperasikan teror kepada penduduk setempat seperti simpul diksi yang ditahbiskan kepada mereka sebagai gerombolan. Tidak aneh juga apabila DI pun diplesetkan menjadi Duruk Imah. Memang seperti itu kenyataannya.

Lagi-lagi pasukan Siliwangi yang kemudian bahu membahu dapat menghentikan laju DI/TII melalui strategi pagar betis. Kembang Tanjung Panineungan yang ditulis Mang Koko dengan sangat menarik memotret pragmen tragis peristiwa ini.

Mang Koko memotretnya tidak dari optik narasi besar, namun dari dialog batin antara ibu yang sedang hamil dengan calon anaknya di satu sisi, dan bapaknya di sisi lain yang ikut menjadi bagian dari pasukan pagar betis yang akhirnya harus menemui kematian. Justru pilihan optik ini yang membuat apa yang telah ditulis Mang Koko menjadi terasa amat lembut dan mampu mengoyak sensitivitas kasadaran para pembacanya. Kita simak penggalan Kembang Tanjung Paninengan ini:

Anaking jimat awaking//basa ema mulung tanjung rebun-rebun//di pakarangan nu reumis kénéh//harita keur kakandungan ku hidep//geus opat taun katukang//ema nyipta mulung béntang//nu marurag peuting tadi//béntang seungit ditiiran pangangguran.//Anaking jimat awaking//basa ema mulung tanjung rebun-rebun//beut henteu sangka aya nu datang//ti gunung rék ngabéjakeun bapa hidep//nu opat poé teu mulang//ngepung gunung pager bitis//cenah tiwas peuting tadi//layonna keur ka dieukeun, dipulangkeun//Harita waktu//layonna geus datang//ema ceurik ieuh, balilihan//ras ka hidep ieuh na kandungan//utun inji budak yatim deudeuh teuing//harita waktu layon geus digotong//ema inget ieu kana tanjung//dikalungkeun na pasaran//kembang asih panganggeusan ieuh, ti duaan//Anaking jimat awaking//lamun ema mulung tanjung reujeung hideup//kasuat-suat nya pipikiran//tapina kedalna téh ku hariring//hariring éling ku éling kana tanjung//nu dipulung éh, kembang tanjung//nu nyeungitan pakarangan//nu nyeungitan haté urang, panineungan.

Sayang, Kartosuwiryo historis telah lama meninggalkan kita dengan sekian luka yang ditinggalkannya, namun ’Kartosuwiryo simbolis’ masih tetap hidup dan menebar daya pikat bagi sekelompok orang yang selalu berhasrat mendirikan negara di luar arus utama yang telah diikrarkan oleh para pendiri bangsa secara sepakat. Agama dalam balutan jubah ideologis dan mistis masih tetap menebarkan pesonanya walaupun sesungguhnya apologis dan a historis, padahal ke depan justru yang harus dihadirkan adalah format keberagamaan (kenegaraan) dalam warna epistemologis yang pasti dapat menawarkan damai dan mententramkan.

Kemampuan Ncie mambawakan lagu ini sangat layak endapatkan acungan jempol. Saya kira saya—dan siapa pun yang mendengar—akan jatuh cinta kepada Ncie melalui kawih ini hahaha…

10 Playlist Jon 666 : Tarawangsa, The Beatles, Mang Koko, Eddie Vedder, Pearl Jam, Pink Floyd, Peterpan, Michael jackson, Turbonegro, Ratos de Porao

Books : Al Qur’an al Karim,

Movies : Black Swan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s