JURNAL KARAT # 107, 10 Februari 2012, REVIEW OVERVIEW OVER VIEW OF ALL!

Posted: June 25, 2012 in Uncategorized
Tags:

JURNAL KARAT # 107, 10 Februari 2012, REVIEW OVERVIEW OVER VIEW OF ALL!

Oleh Jon 666

4 Februari, Sabtu, REBEL NATION DAY 2

Great days with street family spirit! Rebel Nation sukses digelar! Lebih jauh tentang Rebels Nation bisa dibaca di buku Ujungberung Rebels, Panceg Dina Galur!

6 Februari, Senin, Review 1 Hasil Miksing

Hasil miksing awal Karat oleh Biyan sudah selesai! Hasilnya semakin baik dengan penataan suara yang sudah semakin pas. Ada beberapa koreksi yang harus terus dilakukan dan semua sudah dicatat untuk kembali digarap Biyan.

Usai evaluasi hasil miksing, Man secara pribadi curhat kepada saya membahas tulisan Ucok berjudul “Catatan Terbuka untuk Kawan-kawan Ujungberung Rebels.” Tulisan ini dengan tajam menyoroti fenomena kedekatan Ujungberung Rebels dengan PT Djarum serta wakil wali kota Ayi Vivananda. Namun titik kritik yang paling vokal adalah kedekatan dengan Ayi. Ucok menilai kehadiran Ayi di berbagai panggung-panggung yang digarap Ujungberung Rebels bersama Atap dan PT Djarum telah menciptakan blunder yang terus menerus dan ini sangat disayangkan Ucok. Ia melihat bahwa Ujungberung Rebels adalah satu-satunya komunitas yang terus solid selama 20 tahun lebih dan bahkan mengalamai perkembangan yang pesat. Akan sangat disayangkan jika semua yang sudah dibangun selama 20 tahun ini tiba-tiba seakan tergadai pada satu sosok politik yang sudah digadang-gadang akan maju ke pemilihan umum tahun depan. Dengan gaya bahasa yang khas rapper dengan tradisi battle dan konfron, sebenarnya ini adalah bentuk perhatian Ucok kepada Ujungberung Rebels yang untungnya disikapi secara arif dan bijak oleh semua unsur Ujungberung Rebels.

Akibat pemuatan essay Ucok yang frontal itu, segera beredar kabar di jalanan jika saya dan terutama Man, adalah anak buah Ayi Vivananda dan merupakan broker suara untuk Ayi maju di pemilihan umum tahun 2013 hahaha…

Saya cuma bisa tertawa dan istigfar. Benarkan saya dan Man seburuk itu? Saya kira kini waktunya kita menarik diri dan berintrospeksi.

 

7 Februari, Selasa,

Perbincangan yang sangat bervitamin bersama Gustaff mengenai fenomena politik di Ujungberung Rebels. Dari berbagai sisi, visi, dan dimensi, Gustaff memiliki pandangan yang jauh lebih bijak dan kekeluargaan dari berbagai aksi reaktif yang beredar di jalanan yang berkesan terus memojokkan Ujungberung Rebels pasca terbitnya essay “Catatan Terbuka untuk Kawan-kawan Ujungberung Rebels.”

Namun lalu timbul satu kesadaran : saya kira jika kita membicarakan Ujungberung Rebels, maka kita membiacarakan satu entitas komunitas anak muda metal yang sangat besar di Kota Bandung. Jumlahnya sekitar 40.000, ini adalah 2% dari warga Kota Bandung, jumlah yang sangat signifikan jika kita berniat mengaitkannya dengan kekuasaan dan kondisi sosial politik di Kota Bandung. Kita ambil asumsi 40.000 anak muda ini semuanya anak-anak SMP dan SMA yang belum punya hak pilih hari ini. Tapi kita harus ingat jika dunia berputar dan waktu terus berlalu. Dalam waktu lima atau sepuluh tahun ke depan, ketika usia mereka sudah mencapai delapan belas atau lebih dan mereka sudah memiliki kekuasaan untuk memilih, mereka akan menjadi kekuatan yang patut diperhitungkan. Plus, selain massa anak muda metal yang berjumlah 40.000 tadi, saya kira akan lahir generasi selanjutnya yang membuat jumlah anak muda metal di Kota Bandung semakin bertambah. Dan jika kita memang secara sadar mengakui jika kita adalah negara yang demokratis, sudah sangat sewajarnya kita mempersiapkan para pemimpin dari kalangan kita sendiri untuk bisa bertarung di ranah politik praktis yang lebih luas. Tak hanya diskusi sumir di internet, angkot, bis kota, atau di warung remang pinggiran jalan, kita harus mulai berani battle di ranah keculasan politik yang sebenarnya—tanpa harus menjadi culas. Minimal, kita harus memiliki terminologi pengelolaan komunitas agar bisa berpikir kritis secara politis agar tak mudah dibodoh-bodohi para politikus dan terjebak di kelicikan gerapan mereka.

Membina adik-adik yang jumlahnya 40.000 atau bahkan bisa lebih nanti lima sampai sepuluh tahun kemudian, tentu saja bukan sebuah perkara yang mudah. Kita perlu banyak belajar karena ini tentu saja ranah yang benar-benar baru bagi kita. Yang paling penting kita lakukan sekarang adalah melepaskan kepraktisan dalam mengeksplorasi citra diri dalam orbit politik. Saya kira untuk waktu sekarang, keberadaan tokoh-tokoh politik di pangung-panggung Ujungberung Rebels harus ditiadakan dan digantikan oleh kehadiran para guru. Satu hal yang pasti harus disadari adalah fakta bahwa para pionir Ujungberung Rebels, secara langsung atau pun tidak langsung adalah para guru. Tingkah laku, kualitas musikal, dan cara berpikir dan berideologi, semuanya dituruti oleh adik-adik. Semua perkataannya pun dituruti. Sampai titik ini, para pionir Ujungberung Rebels kini sampai di tahap sebagai guru, digugu dan ditiru. Dan kewajiban utama sebagai seorang guru adalah belajar terus menerus, senantiasa mengembangkan ilmu dan pengetahuannya.

Untuk itulah kini saatnya para pionir mulai menarik diri dan mencari guru-guru masing-masing yang bisa semakin menggali kedalaman ilmu dan cara berpikir. Akses menuju para cendekiawan, budayawan, dan akademisi yang bisa diajak berpikir kritis oleh para pionir Ujungberung Rebels hari ini sudah terbuka sedemikian lebar. Saya kira waktunya kita mulai meninggalkan berbagai aktivitas intrik politik dan mulai menjalin dialog bersama para cerdik cendekia ini demi hari esok yang lebih baik. Keberadaan para guru di panggung-panggung Ujungberung Rebels juga akan semakin memotivasi adik-adik di ranah yang lebih luas untuk senantiasa belajar dan mengembangkan diri serta kondisi social di lingkungan mereka.

                                                                                                       

8 Februari, Rabu,

Karat latihan bersama Paperback membawakan “Because”, “Kelas Rakyat” dan “We Are The World” untuk panggung konser tunggal Karat.

 

10 Februari, Jumat,

Jadwal evaluasi Karat, namun tak jadi karena saya dan Man datang terlambat. Kembali mengobrol bersama Gustaff—kini bersama Wisnu juga—di kantor Common Room mengenai peta pergerakan Ujungberung Rebels dan Kota Bandung dilihat dari berbagai potensi individu, para aktor dan perannya, yang mereka yang muncul belakangan ini, serta bagaimana mengelola pemetaan ini menjadi sesuatu yang kondusif. Tak ada yang benar-benar menyebalkan, yang ada adalah bagaimana cara kita melihat satu subjek dan perannya dari persepsi dan perspektif yang proporsional dan positif.

 

10 Playlist Jon 666 : Tarawangsa, The Beatles, The Doors, Rolling Stones, Jasad, Forgotten, Disinfected, Burgerkill, kompilasi Independen Rebel, Girlzeroth

Books : Al Qur’an al Karim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s