DESKRIPSI LAGU KARAT PART 1

Posted: June 22, 2012 in Uncategorized
Tags:

GAYATRI MANTRAM

Mantra Gayatri adalah doa universal yang tercantum dan diabadikan dalam Weda, kitab suci paling purwakala. Mantra Gayatri adalah doa yang dapat diucapkan dengan penuh kerinduan oleh pria dan wanita dari segala bangsa sepanjang masa. Pengulang-ngulangan mantra ini akan mengembangkan (kemampuan) akal budi.

OM BHUUR BHUVAH SVAH

TAT SAVITUR VARENYAM

BHARGO DEVASYA DHIIMAHI

DHIYO YO NAH PRACODAYAAT

Mantra Gayatri ditemukan oleh Rsi Wiswamitra. Rsi Wiswamitra lah menginisiasi Sri Rama dalam misteri pemujaan Surya melalui mantra Aditya Hrdayam. Mantra ini mempunyai potensi yang tidak terbatas dan merupakan formula yang penuh vibrasi. Mantra Gayatri mempunyai kekuatan yang luar biasa dan tidak terhingga, kekuatan yang sungguh menakjubkan karena Surya merupakan dewa penguasanya.

Mantra Gayatri terdapat di dalam Weda suci paling kuno yang dimiliki manusia. Gayatri adalah ibu Weda. “Gayatri Chandsaam Maathaa” Gayatri menyelamatkan orang yang mengucapkannya. Gaayantham thraayathe iti Gayatri.

BURIAL BUNCELIK

Ditulis oleh Kimung, “Burial Buncelik” adalah ungkapan yang sering dilontarkan ibunya untuk merujuk pada ekspresi kesakitan yang luar biasa yang ditujukan oleh mata yang melotot diserta ekspresi wajah yang tegang, rahang mengatup saling  menekan, dan gigi geligi yang saling bergemeletuk menandakan sakit luar biasa. Tak ada jeritan yang bisa keluar, hanya mata yang bagai memaksa keluar dari rongganya. Tokoh utama di lagu ini adalah ‘saya’, aing.

“Burial Buncelik” memotret pemandangan para pengemis di jalanan, orang-orang yang mengais sampah untuk makan, yang marah karena lapak dagangnya digusur, yang menangis karena tempat mencari makan mereka di pasar tradisional terbakar—entah sengaja atau tidak. “Burial Buncelik”juga keluhan kawan-kawan saya yang di sekitar rumahnya dibangun mall. akan ketiadaan air bersih dan fenomena maraknya air sebagai hak asasi manusia yang kini lazim dikemas dan diperdagangkan,  negara yang dengan jelas mendzalimi rakyatnya, air gratis di negara kapitalis .

“Burial Buncelik” juga adalah potret anak-anak muda yang tidak menjadi diri mereka sendiri. Mereka memilih menjadi hantu, berseliweran di jalanan sebagai idol—bukan sebagai manusia. Sebagai sesuatu yang kosong, bukan sesuatu yang isi. Mengekspresikan sesuatu yang lain, bukan sesuatu dari dalam dirinya.kecenderungan ini akan mendidik kaum muda untuk menjadi bangsa pengikut yang miskin inisiatif dan inovasi. Mereka hidup ditakar, bukan menakar. Menjadi seperti ini, menjadi seperti itu, bukan menjadi ini, atau menjadi itu. Tak terbayang begitu melelahkan cara hidup seperti itu. tak terbayang bagaimana pola pikir dan idealism anak-anak muda yang harus memikirkan penampakan citra untuk dilihat dari luar, bukan membangun karakter dari dalam diri sendiri.

“Burial Buncelik” adalah keprihatinan mendalam atas hilangnya empati orang per orang dalam kehiduapn sehari-hari. Semua orang punya kehiduan sendiri-sendiri dan jarang sekali mereka mau menyisakan ruang, bahkan waktu untuk orang lain—bahkan untuk orang tua dan keluarga. Sifat dasar bangsa ini yang awalnya kekeluargaan dan kebersamaan mengalami degradasi ke tebing-tebing sulit individualisme. Lagu ini juga sekaligus ajakan untuk sama-sama merasa, sarua ngarasa.

“Burial Buncelik” adalah penegasan akan kesakitan, akan manusia yang semakin sulit untuk hidup dan bernapas, tingkat stress yang semakin tinggi sehingga meningkatkan penyakit jantung dan gangguan otak. Lagu ini juga potret dari kepalsuan, iri, dengki, angkara atas segala kepalsuan yang terbentuk dari kegagalan manusia untuk sama-sama merasa.

SIA SIA ASA AING

 “Sia Sia Asa Aing”, terinspirasi dari semangat anarki dan kebebasan punk rock, mengedepankan harmonisasi vokal geram dan jerit, dengan konsep arsansemen karinidng yang jauh keluar dari pakem permainan karinding. Lagu ini menceritakan kumalnya intelektualitas orang-orang yang terlalu sibuk bicara omong kosong hingga mulutnya dipenuhi oleh busa-busa ludah yang menjijikkan, penangkapan dan pemberangusan, dan absurditas konsep kebenaran-kejahatan, serta kebaikan versus kebaikan yang melahirkan kejahatan total.

“Sia Sia Asa Aing” juga memotret sikap tubuh pembohong yang sombong, maling-maling amatir dan profesional yang banyak mengatur orang seenak perut buncit mereka serasa kuasa, sehingga tak jarang mereka berperilaku amoral, melakukan perkosaan, semena-mena menjamah privasi orang lain, tak tahu batas, dan dengan busuk mengobrak-abrik bahkan hal paling individu yang menjadi keramat manusia-manusia lain. Lagu ini memotret bentuk paling menjijikkan dari manusia-manusia ini

Akhirnya, “Sia Sia Asa Aing” adalah gugatan bagi mereka yang tidak punya jati diri sehingga terus menerus merongrong orang-orang dengan karakteristik palsu yang terus menerus mereka dengungkan bagai lalat-lalat di pasar.

GERBANG KERAJAAN SERIGALA

“Gerbang Kerajaan Serigala” adalah salah satu lagu yang pertama kali diciptakan Karat namun menjadi lagu yang terkahir selesai digarap. Musiknya diciptakan Man, liriknya ditulis Kimung. Secara musical, lagu ini mempresentasikan sebuah komposisi karinding yang solid dan brpotensi menjadi pakem baru di ranah music karinding. Duet permainan Wisnu dan Ki Amenk sangat pas dan membuat lagu ini begitu berwarna dalam aura kelamnya.

Lirik lagu ini ditulis Kimung dalam waktu sepuluh menit dengan begitu banyak pengaruh. Yang paling nyata adalah pengaruh grup music metal Swedia, Entombed, yang juga memiliki lagu bertema serigala, “Wolverine Blues” dan sejak rilis tahun 1993 segera menjadi influens utama para pionir Ujungberung Rebels.

Ini lagu yang penuh dengan absurdits. Tentang kerajaan serigala dengan langit sekelam tembaga dan darah yang membusuk di ufuk barat, wadam-wadam telanjang yang melolong-lolong memuja kabut , anjing dan setan yang menghirup nanah dalam ritual yang mengorbankan kita yang terikat dengan lidah terjulur, kaki dan tangan terpasak di tanah basah, pemujaan terhadap raja serigala, tumbuhnya rasa liar melalui taring, liur, wajah masai berjumbai, belati tajam, tombak, dan parang yang hitam meradang, khusus dipersembahkan bagi raja serigala.

Di panggung, lagu ini sering dikonotasikan ganda. Kadang merujuk pada kondisi kacau negeri ini karena ulah aparat dan pemimpinya yang gila puja dan penuh syahwat. Kadang merujuk pada kondisi semangat yang ditunjukkan oleh komunitas karinidng dan Karinding Attack sendiri dalam membangun lagu. Imej serigala—binatang favorit Kimung—lalu dijadikan imej album Karinidng Attack.

LAPAR MA!

Lagu ini liriknya ditulis Man dan musiknya tercatat di jurnal diselesai di Common Room tanggal 21 Januari 2010. Mengisahkan mengenai rakyat kecil yang terbiasa hidup susah, bisa makan pagi, tak bisa makan sorenya, bisa makan malam, baru bisa makan siang hari keesokan harinya. Ini adalah rintihan rakyat kecil yang terbiasa dalam kemiskinan namun terus berdendang menghibur diri karena hidup bagi mereka adalah bekerja dan berkarya.

Melalui “Lapar Ma!” Karat kembali menegaskan penghormatan paling tingi kepada sosok Ibu karena mereka lah yang semenjak awal memberikan hidup dan kehdupan bagi seluruh manusia di muka bumi ini. Ibu lah yang kita tuju ketika kita sedang lapar dan haus akan makanan, perhatian, kasih saying; dan sampai kapan pun oleh kapan pun ia tak akan tergantikan. Karenanya Karat terus menghimbau kepada para audiens untuk senantiasa menghormati ibu—dan tentu saja juga ayah—sepanjang hayat, sejauh tarikan napas.

Yang menarik, diakhir lagu, man memotret berbagai makanan jajanan khas rakyat kecil yang sering mereka nikmati sehari-hari. Beberapa makanan yang disebutkan adalah nasi timbel, gepuk, emping, sambel tomat, tahu, goreng asin, colenak, kiripik lada, gehu, combro, misro, cilok, cireng , dan di akhir lagu Karat sengaja seperti menampar pendengar : bahwa bagi mereka yang tak punya uang itu semua Cuma hayalan dan yang bisa dilakukan hanyalah cingogo sambil berak buang kotoran—yang tak ada karena memang tidak makan apa-apa.

YARO – MAAF !

Lagu ini ditulis Kimung ketika dinamika karinding semakin menunjukkan grafik naik dan komunitas ini mulai diperhitungkan oleh beberapa kelompok masyarakat, termasuk yang berasal dari ranah politik. Sebetulnya, tahun 2009 atau 2010, secara jumlah massa, ranah music karinidng bisa dibilang masih jauh sekali dari angka yang signifikan. Mungkin bisa dikatakan hanya berjumlah 500an orang saja yang bergelut secara serius mengembangkan music karinding. Namun citra karinding sebagai seni buhun yang hampir punah—sebuah citra yang terus dibangun aktivis budaya Bandung mengenai karinding—berhasil menggiring perhatian orang untuk melirik ranah sosial karinding. tentu akan menjadi sebuah kabar yang seksi jika kemudian kelompok-kelompok masyarakat itu terkesan ikut serta ‘peduli’ melestarikan seni Sunda buhun yang hampir punah, mendukung berbagai upaya yang dilakukan para aktivis karinding betulan dalam melestarikan dan mengembangkan seni karinidng. Ini akan menambah citra yang bagus bagi mereka—para kelompok itu—yang pada gilirannya akan berimbas baik untuk mereka. Mereka akan dianggaps ebagai pahlawan. Mereka akan mendapat banyak pujian dari masyarakat. Mereka akan mudah mendapat uang dari pemeritah atau LSM asing. Mereka akan mudah menggalang simpati massa—khususnya untuk kelompok politik—yang pada gilirannya memuluskan jalan mereka meraih kekuasaan.

Lagu ini menceritakan hubungan Karat dengan beberapa kelompok masyarakat di ranah politik yang merapat ke markas Karat. Mereka menghitung kekuatan, menimbang, memilah, dan memilih, meriset dan memetakan jaringan kekuatan di ranah seni karinding, dan menyimpulkan jika simpul terkuat dan terdepan jika kita bicara mengenai pelestarian dan pengembangan seni karinding tahun 2009 dan 2010 tentu saja adalah Karat. Agresivitas Karat dalam mengembangkan teknik permainan dan musikalitas seni karinding, latar belakang para personil Karat yang mayoritas sudah berkecimpung di ranah musik independen lebih dari 20 tahun, serta massa yang berada di belakang mereka—baik massa death metal, hardcore, punk, sampai massa kelompok kampung adat dan kasundaan, tentu saja menjadi perhitungan mereka.

Lagu ini diciptakan sebagai pagar untuk para personil Karat agar senantiasa terjaga dan tidak tergoda dengan bujuk rayu para politisi itu. Personil Karat—terutama mereka yang kental dengan nuansa penokohan oleh massa yang selama ini selalu mendukung aktivitasnya atau yang memiliki banyak penggemar—memang patut diakui sempat gamang dan tergoda. Dan untuk itulah lagu ini diciptakan. Agar semua sadar diri, kembali ke khitah musisi sebagai pencipta musik, bukan aktivis atau penggerak massa. Tujuan utama musisi adalah menciptakan music sebagus mungkin karena jika kita sudah menciptakan music yang bagus, di sanalah nila pergerakan sosial yang sebenarnya. Apresiasi, inspirasi, hingga komitmen menyelamtkan wajah insdustri musik yang buruk di tanah air harus menjadi proorotas utama. Masyarakat sudah sedemikian lama dininabobokan oleh musik-musik yang buruk, stereotip, dan iti-itu saja di televisi. Masyarakat dibodohi industry dan diberikan kesan, ‘ini loh musik yang bagus’, ‘ini loh musik yang kamu banget’ ketika mereka sudah kehilangan jati diri sendiri—sudah hidup sebagai idol—bukan sebagai individu. Tentu saja mengisi botol yang kosong lebih mudah dari pada mengisi botol yang isi. Dan yang terpenting di sini adlaah apa lalu yang akan kita isikan ke dalam ‘botol kosong’ adik-adik kita? Apakah racun, sirup, wiski, tahi, kencing kuda, air kopi, atau apa? Mari musisi membuat karya yang sebagus mungkin karena ketika kita memberikan yang terbaik untuk adik-adik, saat itulah kita secara aktif sedang membangun suatu generasi yang lebih bermutu dan berkepribadian.

Karat tidak membenci aktivisme dan justru melebur di dalamnya. Mayoritas kawan-kawan kami, baik di kampus mau pun di jalanan, adalah aktivis, bahkan tahun 1998 saya terpaksa terseret ikut ke dalam pusaran aktivisme ketika melihat kawan perempuan saya babak belur bedarah-darah digebuki polisi di jalan Jatinangor dalam demo penggulingan kekuasaan Orde Baru. Kami juga kenal beberapa aktivis top 1998 yang kini setelah menjadi anggota dewan, tanggal semua cakar dan taringnya menjadi sebentuk macan yang ompong. Mereka yang dulu beringas, tak kenal ampun, dan tak kenal kompromi, melembek dan menahi ketika berhadapan dengan segelintir sistem politik nyata yang kotor dan kental dengan nuansa permainan uang, kuasa, dan berahi. Sekali lagi kami tak benci aktivisme. Kami hanya benci musisi yang lupa akan tugasnya menciptakan musik yang bagus hanya karena mereka terlalu aktif mengurusi hal di luar musik. Lagi pua, berbeda dengan pemandangan pergaulan anggota dewan dan politisi yang mirip badut koplo di Indonesia, kami melihat pergaulan musisi yang menjaga kualitas musiknya, sebanding dan sejalan dengan komitmen massanya untuk terus bergerak dan melakukan perubahan.

Dengan begitu banyak hal yang ingin saya sampaikan di lagu ini, kami sebetulnya hanya menekankan satu baris lirik yang lugas dan jelas : MAAP KAMI TIDAK TERTARIK PADA POLITIK KEKUASAAN!

NU NGORA NU NYEKEL KONTROL

Lagu ini saya dedikasikan kepada Bandung Death Metal Syndicate, salah satu sayap pergerakan Ujungberung Rebels yang paling baru. Berdiri tahun 2005, sindikat ini sudah sukses menggelar empat kali festival musik death metal paling bergengsi, Bandung Death Fest, dan kini menaungi dan menghubungkan lebih dari 160 band death metal yang tersebar di Bandung dan sekitarnya. Bandung Death Metal Syndicate juga yang pertama kali menyebarkan kesadaran akan lokalitas Kasundaan dan salah satunya mengkristal pada berdirinya Karinding Attack. Yang paling penting, walau tetap digawangi para senior seperti Man, Ki Amenk, dan Okid, Bandung Death Metal Syndicate diwarnai sekaligus mewarnai wajah-wajah muda ranah musik death metal. Kepada wajah-wajah inilah “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol” dipersembahkan.

Lagu ini saya singkat jadi N4C, atau sering dilafalkan menjadi Enforce—kekuatan. Sejak awal dibuat, seperti wajah judul, lagu ini harus memiliki totalitas dan kekuatan. Tak ada pilihan bagi saya selain membuat aransemen musik yang geber buat lagu ini. Ini lagu anak muda dan sejauh ingatan saya, anak muda memainkan musik sekencang dan sebising mungkin.

Lirik lagu ini sengaja saya mulai dari refrain untuk menghimpun energi bersama yang seterusnya akan melatari semangat lagu. Teriakan, “Nu ngora nu nyekel, kontrol!” merupakan penggugah kepada semua anak muda di seluruh dunia untuk bangun dan sadar jika kini waktunya sudah dekat untuk berada di depan membuat karya bagi orang banyak. Ini kemudian diperkuat dengan dua baris verse pertama, “Hayu maju dulur-dulur, nu ngora nu nyekel kontrol!” Ini mengacu pada ajakan kepada anak-anak muda ayng berderap ini untuk terus di depan. Dunia, Indonesia, dan Bandung hari ini sedang krisis figur manusia yang berhasrat dan berkehendak untuk kuasa. Kuasa atas diri mereka sendiri, kuasa untuk kemajuan bersama.

Figur-figur pemimpin yang ada ketika lagu ini saya tulis adalah figur para penguasa yang korup, pemimpin yang tidak gamang dan tegas, para aktivis yang setengah-setengah, penegak hukum yang mandul, politikus dan wakil rakyat yang moralitasnya rendah, terlibat skandal seks, korupsi, permainan  hukum, pemimpin yang mengijinkan penghancuran tempat-tempat bersejarah di kota, pengusaha yang membabat ribuan hektar hutan; sementara para budayawannya asyik sendiri dalam kebagawanannya, para sejarawan gagal menentukan siapa itu pahlawan, siapa itu penjilat, para pemikirnya hanya menghasilkan retorika di atas kerta, tak pernah nyata di lapangan.

tulah kenapa saya menulis, “Nu lila beuki paciweuh, tuur paketrok ngomong balelol!” Awalnya saya mau menuliskan “Nu kolot” tapi sejauh pergaulan saya, ‘kolot-kolot- yang berada di antara saya bukanlah kolot-kolot yang saya maksud di baris terakhir verse awal lagu ini. Mereka adalah kolot-kolot yang tetap berani, mangprang, dan terus secara cepat dan simultan melakukan berbagai inovasi dalam hidup mereka yang juga merubah wajah masyarakat. Saya sangat menghormati mereka, sehingga akhirnya kata ‘kolot’ saya ganti menjadi ‘lila’. Yang saya benci memang bukan umurnya, tapi daya juang mereka yang mengendor. Saya kira orang tua yang tetap memiliki semangat juang kencang, ribuan kali lebih baik dari pada anak muda yang ngoyo dan ngowo.ini saya perkuat lagi dengan refrain, “Nu ngora nu nyekel
kontrol!”

Lirik “Pageuh panceg jadi paseuk, keupeul rapet tujuk ka langit” adalah bahasa simbolis harapan saya kepada anak-anak muda. Sebagai mahluk-mahluk berhati baja dengan daging-daging yang meliat, sudah sewajarnya jika anak muda juga kuat secara intelektualitas, matang secara pikiran, perkataan, dan perbuatan sehingga bisa menguatkan segenap keyakinan ketika semua ada di jalanan. Frasa “pageuh panceg jadi paseuk” terinspirasi dari salah satu peribahasa, ‘hidup bagaikan roda. Ada kalanya di atas, ada kalanya di bawah.’ Tentu saya juga menghargai peribahasa ini. Namun saya kira adalah hal yang bodoh jika kita lagi dan lagi ada di bawah. Seharusnya kita bisa belajar sesuatu ketika kita sedang ada di bawah sehingga kita tak akan kembali mengulang sesuatu yang kan menyebabkan kita kembali ke bawah. Hanya keledai yang mengulangi kesalahan yang sama dua kali dan pengibaratan ‘hidup adalah roda’ tentu saja menegaskan keluguan manusia. Manusia yang berhasrat tak akan mau terus menerus mengulang hal yang sama, apa lagi ratusan, ribuan kali. Ia akan belajar untuk lepas dari lingkaran setan dan mengambil alih peran menjadi porosnya. Poros akan diam stabil di tempatnya. Dengan memahami posisi poros, kita akan yakin bahwa yang penting di sini bukanlah di mana posisi kita berada, tapi sejauh apa hal terbaik yang kita lakukan untuk berada di posisi tersebut. Bagaimanakah membangun keyakinan  terbaik kita agar yakin dan sadar untuk melepaskan diri dari peran sebagai roda dan beralih menjadi poros sebuah roda : adalah dengan mengepalkan tangan dan mengangkatnya ke langit. Lalu hajarlah jalanan!

Frasa lirik “Wani raheut hajar jalanan” adalah karya nyata yang dibagun dari semangat di atas. Saya dan kawan-kawan Ujungberung Rebels lahir dan tumbuh di jalanan. Semangat inilah yang terus membuat kita hidup dan memiliki hasrat hidup yang terus menggebu. Di jalanan, nothing to lose. Ini membuka visi dan persepsi kita ke dimensi yang luas dalam memandang hidup : “Dada lapang, ucap lantang” Dalam keluasan, kejernihan pikiran akan tercipta. Dari kerja yang iklas, akan membangun suara yakin yang akan membangunkan para anak muda : “Nu ngora nu nyekel kontrol!”

Di refrain ke dua ini saya kembali ingin menegaskan bahwa selama ini, yang memperngaruhi perjalanan kehidupan masyarakat Kota Bandung dan Indonesia adalah para anak mudanya. Di Bandung, misalnya, industri kreatif yang kini berkembang dan semakin bersinergi digawangi oleh anak muda. Tokoh-tokoh muda muncul dan wajah-wajah baru mendominasi di hampir semua lini intelektualitas dan lingkar pragmatis kota, dari seniman, budayawan, pemerintah, politikus, polisi dan tentara, sosialita, awak media, hingga rakyat kebanyakan yang terserak : semua wajah-wajah muda. Wajah dunia kini semakin segar.

Repertoar melodi untuk lagu ini saya kira butuh sesuatu yang bising dan bertenaga. Toleat dengan cara tiup terompet di nada-nada provokatif berpola pendek dan yang repetitif saya kira merupakan aransemen yang pas untuk mendukung chaos semangat muda yang telah terbangun. Empat kali putaran lead toleat, saya kita bisa bernyanyi bersama dalam frasa yang mudah diikuti audiens, “Hidup budak ngora!!!”

 

Comments
  1. feby says:

    hebat, salut🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s