JURNAL KARAT # 96, 25 November 2011, BERKARAT DI BELAKANGKU : RECORDING SESSION : KARTA & KARTO

Posted: December 4, 2011 in Uncategorized
Tags:

JURNAL KARAT # 96, 25 November 2011, BERKARAT DI BELAKANGKU : RECORDING SESSION : KARTA & KARTO

JURNAL KARAT # 96, 25 November 2011, BERKARAT DI BELAKANGKU : RECORDING SESSION : KARTA & KARTO

Oleh Jon 666

19 November, Sabtu, Karat di Ulang Tahun Sasaka

Sore ini Karat tampil di ulang tahun Sasaka di Lembang. Betul-betul sebuah acara yang luar biasa dengan uma karinding yang sangat banyak menyambut Karat disana. Rahayu Lembang! Rahayu sasaka! SELAMAT ULANG TAHUN SASAKA SEMOGA RAHAYU SELALU SELAMANYA, amiin!!!

21 November, Senin, Berkarat Di Belakangku Part 3 : Common Room Rehearsal Session with Kang Noey Java Jive

Agenda latihan hari ini adalah sesi sharing aransemen musik Karat untuk “Di Belakangku.” Untuk itu, Karat mengundang produser Peterpan, Kang Noey, untuk hadir dan memberikan wwasan atas aransemen yang telah dibangun. Maka Karat berlatih sedari jam tiga sore. Aransemen yang mengalami kemajuan pesat adalah karinding. Luar biasa sekali kerja sama Ki Amenk dan Mang Wisnu dalam memnagun aransemen karinding untuk lagu ini. Duet penggunaan karinding tabeuh (kita panggil saja si karta) dengan karinding towel (kita panggil saja si karto) benar-benar berhasil menampilkan dialog yang apik dengan pola yang sama sekali aneh, unik, tak terduga, dan tentunya keren banget! Belum ada aransemen karta & karto seperti ini, dan untuk itu Karat dan Ki Amenk, secara pribadi, sangat berterima kasih kepada Asep Nata yang memperkenalkan karto kepada Karat di waktu yang sangat tepat. Aransemen dialog karta & karto “Di Belakangku” disusun dalam pola yang sederhana dan ditempatkan di beberapa tempat yang terpilih dianggap bisa menonjolkan suara karinding sekaligus mengejar nuansa emosi lagu. Salut lagi untuk Ki Amenk vs. Wisnu yang telah megaransemen dialog keren ini!

Sementara itu, di sesi celempung dan suling, pirigan dan pola jugs sebenarnya sudah terbentuk, namun masih gamang akan dibawa ke mana suasana lagu dalam amsing-masing waditra. Namun demikian, aransemen aman sesi tiup dan pukul Karat sudah lumayan mantap saat itu. Asep Nata yang hadir juga di sesi latihan ini memberikan masukan kepada Hendra untuk lebih mengeksplorasi tepakan dan gong celempung yang menjadi khas celempung itu sendiri. Kimung juga meinta Hendra lebih mengeksplorasi tabuhan senar celempung karena ia akan bermain di sesi gong celempung.

Jam limasore, Kang Noey datang di Common Room. Segera ia bergabung di sesi latihn ini. Kita semua saling berbincang dalam satu lingkaran, saling mendengar apa pandangan tiap individu mengenai lagu yang digarap. Karat sendiri mengutarakan memiliki dua opsi aransemen, yang pertama mengisi nuansa lagu, dan lainnya memainkan aransemen Peterpan dan mangubah beberapa instrument yang dimainkan Peterpan di demo dengan waditra-waditra Karat. Kang Noey sendiri membebaskan Karat membangun “Di Belakangku” sesuai dengan kehendak Karat. Namun ia memita agar Karat merekam aransmennya agar bisa didengarkan bersama-sama Ariel dan memeinta pandangannya. Ariel memang berperan penting dalam proses kolaborasi ini dan ia harus terus dikabari mengenai kemajuan proyek ini.

Maka jadwal rekaman pun ditentukan. Karat sepakat merekam demo Karat-Peterpan “Di Belakangku” esoknya, hari Selasa, di studio Common Room. Untuk itu Karat memnita bantuan Gigi – Indra merekam untuk demo. Gigi menyediakan alat perekam portablenya untuk digunakan Karat. indra menyanggupi bertindak sebagai engineer.

Hajar!

22 November, Selasa, Berkarat Di Belakangku Part 4 : Common Room Recording Session

Rekaman hari ini dijadwalkan mulai jam sebelas siang, namun baru mulai jam setengah satu. Papay yang mendapat giliran pertama take celempung renteng karena ia harus segera pergi menemui ibu dan calon mertuanya. Papay memang sedang deg-degan deg-degannya karena dua mingguan lagi ia menikah dan segalanya harus terus dipersiapkan dari sekarang. Semangat Mang Papay!!! Papay dengan cepat menyelesaikan bagian celempungnya. Aransemen celempung papay terbilang irit. Ia hanya mengikuti pola bedug taiko dan membangun permainan celempung renteng hanya di bagian tengah dan akhir saja. Kimung menilai Papay masih kurang memberikan nuansa permainan celempung rentengnya untuk mengisi lagu ini. Papay berjanji akan kembali malamnya dan mengisi pola yang terasa kurang.

Bagian Hendra kemudian yang mengisi lagu. Ia memainkan aransemen tepak dan gong serta kombinasi senar celempungnya. Hendra menyelesaikan rekamannya dengan cepat dan giliran Kimung kini yang merekam celempungnya. Berbeda dengan Hendra, Kimung mengisi sesi ini dengan latar blocking gong celempung besarnya, Molly. Kimung juga dengan cepat bisa menyelesaikan sesi rekamnnya. Namun demikian, ketika direview, hasilnya ternyata kurang maksimal. Pola celempung Kimung dan hendra cenderung menumpuk, banyak jatuhnya tabuhan di saat yang sama. Biasanya aransemen celempungan Kimung& Hendra selalu jatuh di tempat yang berbeda sehingga sangat rapat dan saling mengisi. Untuk itu Kimung meminta Hendra mengaransemen ulang pola celempungnya agar tidak menumpuk di wilayah latar yang dibangun celempung indung. Hendra said, okay.

Giliran karinding kini yang direkam. Ki Amenk dan Jawis masing-masing menyelesaikan sesi mereka dengan cepat. Salut kembali disampaikan kepada mereka yang telah begitu solid membangun aransmenen ini. Suling juga direkam dengan cepat. Jimbot memiliki banyak sekali pola permainan perpaduan antara Sunda danPadang, antara suling kecil, suling besar, saluang, dan serunai. Ia sempat merekam beberapa komposisi yang kemudian dipilih dua versi permainan alat tiup. Yuki juga mengisi saluang untuk melatari permaianan suling Sunda Jimbot.

Demo segera digarap oleh Indra di rumahnya agar besok pagi bisa selesai dan dibawa ke Ariel untuk didiskusikan. Rekaman Karat sendiri dijadwalkan hari Jumat shift 1 dan 2 di Studio Masterplan, Golf Timur, Ujungberung, dengan operator Uki dan Byan. Hajar terus!

23 November, Rabu, Berkarat Di Belakangku Part 5 : Ariel dan “Bintang di Surga”, Karat di Maja House

Siang itu, Ariel tampak cerah. Dengan bersemangat ia menyambut Karat yang diwakili oleh Kimung, Wisnu, Man, dan Ardi dari Atap Promotion. Berkaos kerah biru pudar dan celama jins ia mempersilahkan Karat untuk duduk di sekitar ‘meja kerjanya.’ Dengan bersemangat pula ia menyapa kabar dan kemajuan penggarapan aransemen Karat “Di Belakangku.” Ia juga terutama menyapa Wisnu yang ternyata adalah tema sekelasnya dulu di SMA 23Bandung. Segera saja terjadi perbincangan yang hangat dan akhirnya semua mendengarkan demo yang direkam Karat sehari sebelumnya. Demo ini sangat sederhana tentu saja, namun cukup untuk sekedar pegangan atau bahan evaluasi perancangan tata aransemen yang lebih solid.

Dua sampai tiga kali Ariel memutar ulang demo itu dan ia menandai beberapa hal. Ia sangat tertarik kepada aransemen karinding Ki Amenk dan Wisnu dan ingin menonjokan aransemen karinding ini lebih banyak di lagu. Ia menilai aransemen karinding di lagu ini terlalu irit dan ia ingin karinding juga dimainkan di bagian-bagian awal lagu. Karinding memang hanya ditata di intro, tengah, dan bagian akhir lagu saja. Wisnu hadir mengungkapkan kepada Ariel bahwa aransemen awal memang memainkan karinding terus sepanjang lagu, namun ia dan Ki Amenk khawatir karindingnya terlalu ramai. Ariel kemudian memutar beberapa bagian dan lagu dan mengungkapkan tata permainan karinding di bagian-bagain itu bisa sedikit-sedikit saja tapi bisa memberikan efek khas karinding yang memang unik kepada pendengarnya. Ariel juga menilai bahwa permainan suling, saluang, dan serunai di lagu ini masih terkesan ragu-ragu dan meminta agar aransemennya digarap lebih lepas dan bebas.

Selanjutnya Ariel juga menilai jika lagu yang lebih pas untuk digarap Karat menurutnya adalah “Bintang di Surga.” Ia menilai aransemen “Bintang di Surga” yang atraktif sangat cocok dengan Karat yang memang bermain di aura itu. “Bintang di Surga” juga menyediakan ruang-ruang yang luas bagi eksplorasi permaianan Karat, baik di sesi alat tiup, alat tabuh, mau pun karinding. Ia terlihat sangat antusias ketika Karat juga ternyata memiliki perasaan yang sama. Segera saja mereka memutar “Bintang di Surga” sambil memainkan karinding mengisi lagu ini. Dengan cepat, ternyata aransemen dasar karinding bisa diselesaikan oleh Karat saat itu juga. Ariel lalu memberikan demo “Bintang di Surga” kepada Karat dan meminta Karat,jika tidak keberatan, untuk membuat aransemen juga di lagu itu. Karat tentu saja menyambut baik permintaan Ariel. Di tengah perbincangan, datang Kang Ridwan kamil—atau Mang Emil—yang juga datang menjenguk Ariel. Suasana akrab semakin trasa mengingat Mang Emil tentu saja bukan orang lain bagi Karat. Sayang, jam setengah tiga Kimung harus kembali ke sekolahnya untuk melatih anak-anak Axis SMP Cendekia Muda bermain karinding untuk tampil esok harinya di pembukaan Green Fest 2011.

Tak lama, Uki dan Capung Java Jive datang. Ariel sgera mengutarakan keinginannya kepada Uki agar lagu yang digarat Karat dirobah menjadi “Bintang di Surga.” Namun Uki mengungkapkan jika lagu ini sudah diproses dan perkusi sudah jalan merekam bagian mereka di “Bintang di Surga.” Akhirnya Ariel sepakat agar Karat mencoba untuk mengisi “Di Belakangku” dulu.

Karat sendiri memang lebih cenderung memilih “Bintang di Surga” karena memang lebih cocok dengan karakter Karat. Namun, Karat menilai materi “Di Belakangku” tak kalah kuat. Dengan komposisi yang pas, lagu ini juga akan memiliki daya dobrak yang sama dengan “Bintang di Surga.” Namun, Karat juga berjanji kepada Ariel untuk terus mencoba menggarap “Bintang di Surga.”

24 November, Kamis, Welcome Cekas!

Papay tampil bersama Cekas, di pembukaan Green Fest 2011. Cekas adalah band binaan Kimugn karena terdiri dari anak-anak kelas Axis SMP Cendekia Muda di mana Kimung dan rekannnya Fifi menjadi wali kelas. Awalnya Papay yang  membawa celempung dan karinding untuk proyek portofolio SMP Cendekia Muda. Waditra-waditra ini segera dieksplorasi anak-anak SMP Cendekia  Muda dan entah bagaimana, gairah bermain karinding tiba-tiba membuncah, terutama di anak-anak Axis. Mereka sepakat bergabung dalam sebuah kelompok musik karinding dan tampil di acara Minggon Sunda Cendekia Muda hari umat nanti. Tiba-tiba, Pak Yogi sang kepala sekolah mengabari anak-anak ini kemungkinan jika mereka bisa tampil membuka acara Green Fest di Monumen PerjuanganBandung. Anak-anak ini langsung saja mengiyakan.

Dan kini di sanalah Papay bermaian celempung renteng bersama mereka : Rifky dan Adi pada celempung, Fajar dan Wali pada karinding, Hani pada dogdog, Imel pada kecrek dan keparak, Jung pada gitar, serta Sultahn dan Salma yang bernyanyi. Tampil di hadapan sekitar dua ratusan audiens siang itu, Cekas berhasil membuka pergelaran Green Fes dengan lagu “Dina Amparan Sajadah” dan “Bubuy Bulan.”

25 November, Jumat, Berkarat Di Belakangku Part 4 : Master Plan Recording Session

Hari ini Karat dijadwalkan rekaman bagian-bagian lagu “Di Belakangku” di Studio Masterplan, Ujungberung. Studio ini sedikit banyak memiliki keterkaitan dengan beberapa pionir Ujungberung Rebels, terutama di band Forgotten. Sekitar tahun 2005 atau 2006 hingga 2008, Addy Gembel bekerja untuk Masterplan dan hingga kini Toteng tetap menjadi engineer tetap di Masterplan, khusus untuk menggarap musik-musik metal.

Dari jadwal jam 10 pagi, rekaman akhirnya dimulai jam satu setelah shalat Jumat. Untuk sesi rekaman kali ini Uki dan Byan akan ada di belakang meja mikser dan memandu Karat dalam mengisi lagu. Tiga mikrofon yang digunakan adalah satu buah Neumann Type U87A dan dua buah kondensor AKG C451.

Rekaman dimulai oleh Papay mengisi renteng sawelasnya, pas jam satu siang. Konsep yang disusun Papay sangat sederhana. Ia mengikuti track taiko—bedug Jepang—di lagu ini dan di beberapa bagian mengisi alunan lagu. Konsep ini lumayan berwarna dibandingkan konsep sebelumnya yang hanya mengikuti taiko saja. Bagian yang cukup menonjol adalah di sesi tengah lagu ketika nuansa berubah ke warna Arabic. Papay dengan cepat menyelesaikan rekamannya.

Jam dua siang, giliran Kimung yang merekam celempung indung. Konsepnya, ia hanya memainkan gong indung untuk melatari permainan Papay dan Hendra. jadi Kimung hanya menabuh gongnya mengikuti alur snare dram yang sudah diaransemen Peterpan. Ia pun dengan cepat menyelesaikan sesi rekamannya.

Giliran Hendra kemudian yang mengisi sesi celempung anak. Di sesi rekaman sebelumnya di Common Room bersama Indra, konsep celempung anak Hendra menumpuk dengan pola latar Kimung. kimung sudah meminta Hendra untuk mengaransemen ulang pirigan celempungnya dan memang di sesi rekaman kali ini ia sudah merubah beberapa bagian agar tidak menumpuk dengan gong Kimung.hendra mengisi seluruh lagu utuh denganpirigan-pirigan yang atraktif, walau tetap saja ada yang mengganjal. Pola menumpuk di beberapbagian masih kentara, walau tak kental seperti sesi sebelumnya. Hendra merekam celempung anak dengan cepat, hanya dua puluh menit saja, mulai jam tiga.

Seharusnya yang masuk setelah ini adalah karinding, namun karena JImbot janjian dengan Nick dan Bill di STSI, maka ia meminta lebih dulu masuk studio. Maka jam setengah empat sore, ia mulai merekam sulingnya.Adatiga aransemen suling yang akan diisi Jimbot. Yang pertama adalah aransemen suling besar atau saluang, yang ke dua suling Sunda kecil, dan yang ke tiga serunai. Di sesi pertama ini Jimbot mengisi saluang terlebih dulu. Sesi pertama ini berjalan dengan mulus. Menginjak ke sesi aransemen ke dua—suling Sunda kecil—Jimbot mulai mengalami kesulitan. Akhirnya jamlimasore, Jimbot memutuskan untuk rehat.

Okid segera masuk studio merekam gong tiup. Ia tak banyak mengalami kesulitan karena sudah sangat siap dengan pola gong tiupnya. Beberapa bagian memang dirobah , terutama di bagian sampling choir. Awalnya Okid bermain melatari choir, atas permintaan Uki ia merobahnya jadi ikut serta bersama hentakan choir. Lebih mantap terasa memang! Hanya setengah jam Okid merekam sesi gong tiup “Di Belakangku.”.

Giliran karinding kini yang masuk bilik rekaman. Sejak di war, Ariel terus menerus berkata jika ia ngin menonjolkan aransemen karinding di lagu ini. Ia menilai aransemen karindng yang telah dibuat masih kurang dan untuk itu Wisnu – Ki Amenk sudah menyusun aransemen baru yang lebih mantap. Ki Amenk yang pertama masuk bilik didampingi Wisnu, jam 18.55. Ia memainkan karinding towel Asep Nata—atau karto—dan memainkannya dengan sangat baik. Beberapa bagain yang kosong sudah ia isi dengan aransemen baru yang melatari nada-nada “Di Belakangku.” Aransemen Ki Amenk ini sangat aneh dan belum pernah ada pola permainan karinding seperti ini sebelumnya. Namun demikian, karena disusun bersama-sama, aransemen Ki Amenk penuh dengan toleransi, dalam arti ia memberikan banyak ruang untuk berdialog dengan permainan karinding Wisnu.

Di sisi lain, Wisnu menggunakan karinding tabeuh—atau karta—Giri Kerenceng juga mengisi bagian-bagian yang disusun Ki Amenk dengan sangat apik. Berbagai teknik dipamerkan di sini dalam porsi yang pas—tidak terlalu banyak, juga tak terlalu sedikit. Dari teknik wahwah hingga teknik depth disusun Wisnu dengan apik bersandingan dengan pirigan karinding yang biasa dimainkan. Sungguh ini adalah aransemen duel karinding yang sangat keren! Ia mulai merekam jam 19.30 dan selesai jam 20.45.

Setelah karinding selesai direkam, giliran Jimbot kini yang kembali masuk merekam suling dan serunainya. Karena susah sekali mendapatkan pola yang baik, Jimbot akhirnya meminta kepada Uki agar ia diizinkan untuk  melakukan semacam jam session silung saja beberapa kali dan nanti tinggal dipilih, dipilah, yang paling baik dimasukkan ke dalam rekaman. Uki mempersilahkan Jimbot main sebebas-bebasnya. Empat kali take, Jimbot akhirnya merampungkan permainan sulingnya dan segera beralih ke serunai. Bagian serunai relatif sedikit. Toleat Padang ini hanya disimpan di verse vokal ke tiga dan di bagian coda Arabic. Jam setengah sepuluh lewat lima Jimbot akhirnya usai merekam sesi alat tiupnya.

Adabeberapa hal yang belum selesai di sesi ini. Yang pertama adalah Yuki yang belum mengisi saluang—padahal wadita ini yang awalnya paling Ariel inginkan. Yuki sendiri sudah menyusun pola saluang, atau menggantikan pola suling Sunda besar yang sudah dimainakan Jimbot di awal sesi rekaman. Yang ke dua adalah sesi rekaman karinding Man belum dilakukan. Man sore tadi memang pamit berangkat ke Common Room untuk rapat persiapan Bandung Death Fest V.

Byan sendiri begitu usai merekam waditra-waditra Karat, segera membereskan dan menyeimbangkan hasil rekamannya dan langsung dibounce ke format wav agar bisa didengarkan bersama-sama. Ia pribadi menilai waditra-waditra yang dimainkan sudah cukup penuh, namun jika masih ada beberapa tambahan atau perubahan, sesi rekaman selanjutnya akan dilakukan hari Rabu, 30 November 2011.

Hmmm semoga semua lancar! Hajar!

10 Playlist Jon 666 : Tarawangsa, The Beatles, Peterpan

Books : Al Qur’an al Karim, Transporter

Movies : The Adventure of Tintin

Quotes :

“Sungguh, Kami telah mendatangkan Kitab (Al Qur’an) kepada mereka, yang kami jelaskan atas dasar pengetahuan, sebagai petunjuk dan rahmat bagiorang-orang yang beriman. Tidakkah mereka menanti-nanti bukti kebenaran (Al Qur’an) itu. pada  hari bukti kebenaran itu tiba, orang-orang yang sebelum itu mengabaikannya berkata, “Sungguh rasul-rasul Tuhan kami telah datang membawa kebenaran. Maka, adakah pemberi syafaat bagi kami yang akan memberikan pertolongan kepada kami atau agar kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami akan beramal tidak seperti perbuatan yang pernah kami lakukan dahulu?” Mereka sebenarnya  telah merugikan dirinya sendiri dan  apa yang telah mereka ada-adakan dahulu telah hilang lenyap dari mereka. Sungguh Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siajng yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan, dan bintang-bintang tunfuk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Maha suci Allah Tuhan seluruh alam.” (Q.S Al A’raf, 7 : 52 – 54)

 

 

Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s