JURNAL KARAT # 94, 11.11.11, HARI INI SEHARUSNYA KONSER TUNGGAL KARAT DIGELAR : MIND GAME

Posted: November 26, 2011 in Uncategorized
Tags:

JURNAL KARAT # 94, 11.11.11, HARI INI SEHARUSNYA KONSER TUNGGAL KARAT DIGELAR : MIND GAME

Oleh Jon 666

5 November, Sabtu, Mind Games

Sabtu sore, Karat, diwakili Kimung, Wisnu, dan Yuki, menemui Kang Noey sebagai produser Peterpan untuk membicarakan berbagai hal teknis yang berkaitan dengan rencana musik Karat di salah satu lagu di album Peterpan. Yang pertama adalah perkenalan Karat dan musik karinding karena Kang Noey sendiri ternyata tak tahu apa itu karinding. namun degan cepat Kang Noey bisa menangkap pola dan kecenderungan permainan karinding serta beberapa poin penting dalam musikalitas karinding. Kang Noey juga kembali menyampaikan bahwa lagu yang mungkin akan diisi oleh Karat adalah “BIntang Di Surga” atau “Di Belakangku” sesuai dengan keinginan Ariel. Pembicaraan kemudian bergulir ke masalah bajet. Namun karena Viki terlambat datang, maka kang Noey permisi ke dalam studio dulu untuk menggarap rekaman dram Reza untuk album terbaru ini.

Sambil menunggu Viki, Wisnu bercerita banyak tentang gejolak di Karat saat itu. ada kecemasan menyelip diam-diam di para personil Karat akibat PERASAAN perhatian berlebih publik kepada Karat yang dikhawatirkan semakin menggeserkan Karat dari tujuan murninya bermusik : hasrat. Penokohan publik yang begitu tiba-tiba kepada Karat memang disikapi berbeda-beda dan sebenarnya ini sah-sah saja jika memang bisa membangun kesadaran kualitas musikalitas dan bakti Karat kepada musik. Namun demikian, beberapa personil Karat menilai over expossure Karat—minimal untuk saat ini—berpotensi membahayakan jika tidak disikapi sama. Potensi orientasi Karat yang menjadi melenceng ke arena patronasi, penokohan,  selebritas, atau sosialita, atau yang jauh lebih kotor : uang dan komersialitas sedikit demi sedikit bisa menjadi racun dan sedikit demi sedikit akan menjelma menjadi kanker yang mematikan hasrat Karat pelan-pelan.

Untuk itu, Wisnu menilai harus ada komitmen yang sama dari pihak Karat mengenai kecemasan dari para personil ini. Beragam hal yang terlanjur dijadikan kebijakan Karat akan dievaluasi, mulai dari masalah keuangan, riders, juga masalah terminologi, ruang, dan waktu yang layak bagi para personil Karat jika akan diekspos atau mengekspos diri di publik.

Kimung yang selama ini melepaskan perhatiannya dari Karat dan masih konsentrasi  ke buku, tentu sangat terhenyak dengan penuturan Wisnu. Ia memang melihat benih-benih ini sudah ada dan sudah sering dibicarakan para personil Karat jauh sebelum hari ini, namun ia kira hal ini harus disikapi sesegera mungkin. Kimung menilai Karat harus bertemu dan saling mengungkapkan unek-unek yang selama ini tertahankan—demi kesehatan Karat sendiri. Di tengah curhat Viki tiba. Darinya, Kimung juga akhirnya menggali informasi mengenai manajerial dan rider teknis Karat.

Evaluasi sendiri akhirnya dilakukan saat itu juga. Berkaitan dengan rencana kerja sama dengan Peterpan, man memang sudah menentukan bajetnya sendiri. Namun bajet yang ia buat jauh dari logika dan akal sehat. Karenanya, Wisnu melihat ini harus segera dibenarkan. Ia meminta Kimung untuk bertanya kepada kawan-kawan yang selama ini berhubungan dengan musisi industri besar mengenai sistem dan teknis kerja sama yang sudah dilakukan. Pengajuan jumlah yang sangat besar tentu akan mempermalukan diri sendiri. Kimung segera menghubungi Eben, Syauqi, dan Ucok. Namun ketiganya tak diangkat. Kimung lalu menelpon Ketu yang memberikan satu harga yang ternyata jauh di bawah bajet yang ditentukan Man. Namun, Ketu berjanji akan mencari tahu kepada para musisi yang pernah melakukan hal yang sama dan segera mengabari Kimung. Kimung kemudian mengontak Otong yang lumayan memberikan wawasan mengenai kerja sama dengan artis industri besar.

Setelah rapat kilat di halaman depan Studio Masterplan, Kimung, Wisnu, Yuki, dan Viki kembali masuk menemui Kang Noey untuk melanjutkan pembicaraan masalah bajet. Pembicaraan berlangsung hangat. Kang Noey juga memberikan wawasan kepada karat mengenai kebiasaan kerja sama antara artis dengan musisi-musisi yang mengisi aransemen musik. Ada musisi yang mengonsep musiknya di studio dan bisa berubah kapan pun juga,. Namun ada pula musisi yang menuliskan karyanya dalam tablatur sehingga tak mungkin berubah walau siapa pun yang memainkannya. Ada perbedaan besar antata musisi ang menuliskan karyanya dengan musisi yang meraba-raba aransemen di studio. Masalah profesionalitas Karat yang masih begitu minus juga sangat terasa oleh Kimung ketika ia menyerahkan demo Karat yang masih di flasdisc (biasanya sih musisi prof mah membuat CD khusus untuk demo kalee), banyaknya waditra tiup yang sudah tidak bisa dimainkan ketika dilakukan demo di depan Kang Noey, hingga bahasa tubuh Viki sang manajer yang masih sangat kaku dan poksang, sehingga rentan menimbulkan salah persepsi dari orang yang berhubungan dengan Karat.

Sikap congkak memang dibutuhkan, namun sebatas pada hasrat mencapai kualitas terbaik—bukan dalam sikap tubuh dan hubungan social. Di terminologi pergaulan ini sepertinya sikap rendah hati yang harus diperlihatkan manajemen Karat.

Karat memang sangat butuh evaluasi : duduk bersama dan saling bicara.

6 November, Minggu

Selamat Hari Raha Idul Qurban! Semoga kita senantiasa menjadi mahluk yang iklas karena Allah SWT, amiin.

7 November, Senin, Paperback Session with Bapak Karto Asep Nata

Siang itu Paperback berkumpul di Common Room. Yang special hari itu, Asep Nata sang maestro karinding towel—kita singkat saja karto—hadir bersama atas undangan Paperback di Pabaru Sunda 1948 kemarin. Asep nata banyak memberikan wawasan permainan karinding yang memiliki skala tangga nada. Ini menjadi wawasan yang sangat baik untuk Paperback mengingat band ini bermain music dalam skala tangga nada tertentu dan ada dinamika perubahan nada-nada di dalamnya. Asep Nata bergabung dalam sesi latihan Paperback sepanjang sore hingga malam itu. Lengkapnya bisa dibaca di blog Paperback.

8 November, Selasa

Jam delapan malam Karat minus Man yang masih di Garut berkumpul. Agenda malam ini adalah evaluasi dan latihan. Ada tiga bahan pembicaraan malam itu, yang pertama mengenai kerja sama dengan Peterpan, yang ke dua mengenai fee Karat, dan yang ketiga mengenai konser tunggal.

Di pembahasan kerja sama dengan Karat, Kimugn menceritakan apa ayng terjadi hari Sabtu ketika pembicaraan dengan Kang Noey sudah bergulir.  Namun yang lalu jadi fokus kritik Kimung adalah profesionalitas Karat dalam mengemas satu sistem kerja sama yang eksklusif. Kimung menilai sistem ini masih tak tersentuh oleh Karat. Pembuatan demo pun masih mandeg padahal inilah senjata paling penting dalam menunjukkan profesionalitas—menuju eksklusivitas. Sistem komunikasi manajerial Karat yang masih serampangan juga masih jauh ke refleksi profesionalisme Karat. Jika sistem kerja Karat masih seperti ini maka akan sulit bagi Karat untuk maju.

Di sisi lain, pengalaman kerja sama Karat dengan Peterpan dinilai menjadi nilai plus bagi Karat dan juga ranah seni karinding secara umum. Patut diakui jika Peterpan hari ini masih merupakan band pop rock terdepan di tanah air. Karya-karyanya yang memang brilyan patut pula diakui sebagai pencapaian yang plus bagi kesehatan kualitas musik Indonesia. Dengan hadirnya karinding di salah satu lagu Peterpan tentu akan membantu penyebaran syiar karinding jauh hingga ke tahap nasional. Lagi pula dua lagu yang disorkan Ariel, antara “Bintang Di Surga” atau “Di Belakangku”, keduanya memiliki satu struktur musik yang sederhana namun sangat kuat dan memberikan ruang yang luas untuk eksplorasi karinding di dalamnya. Kerja sama ini patut dijajaki dan disukseskan dengan maksimal. Itulah keputusan dari Karat.

Pembahasan selanjutnya adalah maslaah fee Karat yang ditentukan Man. Saat ini fee Karat dinilai terlalu tinggi. Hanya Kimung yang menilai ini wajar, ditambah Kimung juga sudah mendengar apa yang dicurhatkan Man mengenai dinamika “kerendahdirian” para musisi yang menjebak mereka di satu tatanan berpikir yang kerdil. Kimung sendiri sangat setuju dengan Man dan cenderung sependapat dengannya. namun jika dilihat dari ketidaksiapan infrastruktur Karat, Kimung juga setuju jika hal ini harus dievaluasi—atau perbaikan kualitas Karat harus dilakukan. Rutinitas latihan harus kembali digeber, juga pengemasan Karat yang harus semakin menggemaskan harus dibuat.

Adalah hal yang sangat wajar memang jika Karat memasang tarif yang eksplusif karena band ini memang eksklusif. Tak ada band mana pun yang sepetrti Karat, baik di ranah music punk-metal mau pun di ranah musik karinding. Karat satu-satunya yang berdiri sendiri dengan konsep musiknya yang akurat, dinamis, dan eksploratif. Namun, jika masalah tarif ini jadi tak maslahat baik kepada Karat mau pun ranah music karinding secara umum, maka lebih baik memang dievaluasi lagi. Kimung secara pribadi menegaskan, kepada manajemen bahwa Karat harus punya daya tawar hingga jika ditawar oleh panitia, Karat menyetujui main dengan syarat bisa membawa dua sampai tiga band karinding manggung bersama Karat.

Politik ini secara turun temurun dilakukan Ujungberung Rebels dan berhasil mengangkat ranah music ini bertahan dua puluh tahun lebih bahkan menjadi komunitas metal terkuat di Indonesia hari ini. Tak musitahil, Karat akan mempelopori hal yang sama jika bisa menerapkan pola yang sama dalam hasratnya memajukan ranah music karinding.Masalah pola komunikasi manajerial dengan pihak luar juga disoroti sebagai hal yang harus dirobah. Karat berpesan kepada manajemen untuk menampilkan wajah yang “rendah hati” bukan wajah yang “congkak.”

Pembahasan selanjutnya adalah mengenai konser tunggal. Hingga hari ini, konser tunggal tak menunjukkan perkembangan yang berarti. Karenanya, Karat akan menangani produksi dan penetapan jadwal kerja konser sehingga semua bisa berdisiplin. “Rek nepi ka iraha ge diundur-undur, ari teu digawean mah angger weh teu siap,” cetus Okid. Untuk itu, Kimung sudah mempersiapkan time line jadwal kerja Karat. Untuk itu, ia membutuhkan jadwal dan tempat yang sudah tentu ditetapkan oleh event organizer. Pembahasan mengenai konser tunggal akan digelar Jumat Kramats.

Usai perbincangan, Karat lalu latihan lagu baru mereka, “Disko Pemberontakan.” Bagi musisi, kadang duduk dan bicara dengan pikiran terbuka jauh lebih bermakna dari puluhan teriakan yang digaungkan di panggung-panggung terbesar mereka…

9 November, Rabu,

Latihan Trah. Latihan Laras. Laras punya lagu baru, “If Someday” judulnya, ciptaan Timmy. Lagu yang sangat indah Timmy ^^ Tak sabar mendengarkan kalian memanikannya di panggung…

10 November, Kamis,

Latihan Flava Madrim. Kimung memberikan pirigan baru, untuk lagu “Koruptor” atau “Si Olo-olo”, namun sepertinya “Koruptor” yang lebih pas dimainkan di pirigan ini.

11 November, Jumat, HARI INI SEHARUSNYA KONSER TUNGGAL KARAT DIGELAR

Jumat yang sangat sibuk di Common Room. Karat harusnya berlatih mulai jam delapan malam itu, namun karena ruangan dipakai oleh intensif Bandung Death Fest V, pun Man dan Ki Amenk harus ikut rapat, maka Karat akhirnya duduk-duduk saja di pelataran Common Room, sambil menuggu rapat usai. Jam setengah sepuluh akhirnya rapat usai dan segera disusul rapat Karat. Agenda malam ini memang rapat evaluasi konser tunggal disambung latihan rutin.

Rapat malam ini menyepakati bahwa yang akan menjadi sutradara pertunjukan ini adalah Gustaff. Ia akan bekerja sama dengan Gustavo yang akan menggarap tata artistik bersama Yuki. Uwok juga memberikan beberapa masukan berkaitan dengan panggung dan tata suara. Dokumentasi akan ditangani Kimo di foto dan Kapten Jek Under Pic. di video. Ide menggelar pertunjukan di outdoor juga digulirkan.

Untuk melancarkan pekerjaan masing-masing, semua sepakat akan survey tempat pergelaran hari Selasa. Semoga lancar semua, amiin. Hajar!

 

10 Playlist Jon 666 : Tarawangsa, The Beatles, Peterpan, Janis Joplin, Maxim, Fear Factory, Sepultura, Burgerkill, Sacred Reich

Books : Al Qur’an al Karim

Quotes :

“Barang siapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.” (Q.S. An-Nisaa, 4 : 11)

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s