JURNAL KARAT # 93, 4 November 2011, PABARU SUNDA DAN RENCANA KOLABORASI PETERPAN

Posted: November 18, 2011 in Uncategorized
Tags:

JURNAL KARAT # 93, 4 November 2011, PABARU SUNDA DAN RENCANA KOLABORASI PETERPAN

Oleh Jon 666

31 Oktober, Senin, Paperback with Bill

Paperback menggarap lagu psikedelik, “Jimina.” Di tengah penggarapan lagu, Bill, mahasiswa dari Dtroit dan bergabung memainkan kobor denga tipe suara Hammond. Mantaps! Lengkapnya akan dirilis di http://www.paperback666.tumblr.com.

1 November, Selasa, wawancara Lusi Kompas dan Utami Jurnal Nasional dan Jurnal Karat

Ini cuplikan jurnal perjalanan Kimung hari ini,

“…kembali ke habitat intelektual sekaligus habitat buas saya : Jatinangor. Ada banyak  orang yang ingin saya temui. Yang pertama Anton batu Api. Ini senior saya, Sejarah ’88,mengelola perpustakaan legendaries di Jatinangor, Batu Api. Saya berjanji akan meyimpan buku Scumbag untuk perpustakaan Batu Api, namun hingga kini saya masih belum bisa mendapatkan buku ini. Scumbag memang sudah habis berbulan-bulan yang lalu dan saya masih belum punya waktu untuk merilisnya ulang. Dan tujuan pertama saya memang Batu Api. Saya singgah dulu ke bang Anton mengantarkan Jurnal karat untuk disimpan di Batu Api. Band Anton tak banyak berubah setelah sekitar 13 tahun kami tak berjumpa. Ia tetap baik dan rendah hati. Respect bang!

Sehabis mengunjungi bang Anton, saya langsung ke Sastra. Di sini saya ingin menemui mentor saya, pak Reiza. Sejak rilis Memoar Melawan Lupa, saya belum lagi sempat menemui beliau dan memberikan karya tulis saya setelah Scumbag. Kini setelah Jurnal Karat rilis saya harus menyisihkan waktu untuk menemuinya dan memberikan karya-karya saya ini sebagai penghormatan untuk beliau. Namun sebelum menemui Pak Reiza, saya ingin menemui Timmy dulu karena bersamanya saya akan meluangkan waktu hari ini. Saya kontak-kontak Timmy dan kita bertemu di Pakilun. Tepat, hari ini anak-anak Sastra Sunda ’96 ternyata sedang berkumpul di Pakilun. Ada Herry, Dirja, dan Bob Marno.

Sehabis Mie Ayam yang disantap kawan-kawan seangkatan, saya dan Timmy segera menuju Dekanat untuk menemui Pak Reiza. Sempat bertemu juga dengan dosen-dosen Prancis, mas Anto, dan mentor saya Bu Rina di pelataran Dekanat, saya segera menuju ke lantai dua. Sayang, Pak Reiza sibuk menerima tamu siang itu sehingga saya tak berkesempatan menemuinya. Buku Memoar Melawan Lupa dan Jurnal Karat untuk Pak Reiza saya titipkan di sekretarisnya.

Karena hari menjelang sore, saya mengajak Timmy untuk segera berangkat menuju Parakan Muncang, ke sanggar Bah Olot. Sehari sebelumnya, saya memang sudah kontak-kontakan sama Timmy jika hari ini saya akan mengantar Nick dan Bill menemui Bah Olot untuk melakukan syuting film dokumenter mereka. Sebelum ke Parakan Muncang, saya akan singgah di Jatinangor untuk menemui Bang Anton dan pak Reiza. Saya ajak Timmy untuk ikut serta ke Bah Olot jika Timmy sedang tidak sibuk. Ia ternyata menyambut baik, ingin ikut ke Bah Olot. Dan ke sanalah kami berdua sekarang. Melewati Jalan Sayang—Love Street by Jim Morrison—menuju Parakan Muncang. Sempat diguyur hujan besar, akhirnya sampai juga kami di sana jam tiga. Tampak Bah Olot sedang mengerjakan rautan bambu di meja kerjanya. Tampak juga anak-anak kecil binaan Abah bermain di lantai dua sanggar. Mereka kini bermain bersama Abah Olot di Giri Kerenceng. Kami segera bersalaman dan saya ceritakan mengenai rencana Nick dan Bill yang sekarang sedang di jalan menuju sanggar bersama Ayi.

Tak lama menunggu, Nick, Bill, dan Ayi akhirnya tiba. Setelah berkenalan dengan Bah Olot, syuting pun dimulai. Diawali dengan syut penampilan Giri Kerenceng fituring Timmy Laras, Bah Olotmenyanyikan lima buah lagu Giri Kerencang yang menasmpilkan permainan apik anak-anak didiknya. Kini Giri Kerencang memang terdiri dari anak-anak kecil saja. Paling muda duduk di kelas empat sekolah dasar dan paling tua di kelas tujuh sekolah menengah pertama. Kini dengan fituring Timmy, Giri Kerenceng bertambah jadi ada gadis kuliahannya hahaha…

Syuting beralih ke proses pembuatan karinding dari awalnya sepotong bambu, hingga kahirnya diraut dan jadilah karinding. Proses pengerjaannya cepat sekali untuk ukuran alat music buatan tangan. Hanya sekitar dua puluh menit dan semua didokumetasikan dengan lengkap oleh Nick dan Bill. Timmy dengan takjub mengamati proses pembuatan karinding. ia tak meyangka begitu cepat ternyata karinding dibuat oleh sang maestro.

Senang sekali melihat Timmy begitu antusias. Saya tahu bagaimana ia melalui masa rentan ABGnya dengan baik dan saya senang masih terus bisa melihatnya terus berada di jalur yang baik. Ia memiliki bakat yang sangat besar di bidang musik dan fotografi, saya kira ia bisa sukses jika ia terus konsisten dengan apa yang ia lakukan. Timmy memperdengarkan lagu ciptaannya yang terbaru kepada saya sore itu. “If Someday”, sebuah lagu yang manis untuk Laras. Saya tahu lagu ini akan semakin membentuk karakter music Laras—dan tentu saja karakter Timmy sendiri.

Usai proses pembuatan karinding, syuting masuk ke sesi terakhir, yaitu wawancara Bah Olot. Namun karena waktu menunjukkan pukul lima sore, sementara saya harus siap-siap berlatih dengan Karat, plus ada jadwal wawancara dengan Jurnal Nasional dan Kompas malam nanti, saya dan Timmy akhirnya berpamitan. Syuting wawancara Bah Olot oleh Nick dan Bill lalu dilakukan dengan bantuan Ayi.

Saya mengantar Timmy pulang ke kawasan Antapani dan menghabiskan sisa senja itu sendirian pulang dulu ke rumah.

Jam delapan malam saya sudah berada di Common Room. Rencananya kami akan berlatih malam itu, namun entah mengapa sepertinya tak ada yang tergerak untuk sekedar mengeset alat persiapan latihan. Menjelang jam setengah sepuluh malam wartawan Lusi dari Kompas—ia pernah meliput Ujungberung Rebels dalam satu liputan panjang di Kompas Minggu, liputannya ini bisa dibaca di buku Memoar Melawan Lupa—dan Utami dari Jurnal Nasional yang berencana meliput kembali Ujungberung Rebels. Wawancara dilakukan di ruangtengah Common Room. Kisah bergulir dari sejarah awal terbentuknya Ujungberung Rebels hingga berkembanganya karinding Ujungberungan yang membangkitkan hasrat seni karinding secara keseluruhan di Kota bandung dan Priangan. Saya kira liputan ini akan jadi jembatan yang bagus bagi masyarakat menuju rilisnya buku Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels. Semoga buku ini bisa rilis tepat waktunya, Desember 2011, amiin…”

2 November, Rabu, Latihan dan Sesi Foto Karat oleh Kompas

Karena tak jadi latihan malam sebelumnya, Karat akhirnya berlatih Rabu siang. Latihan ini juga difoto oleh Lusi Kompas dan Utami Jurnal Nasional. Karat menggeber hampir semua lagu di sesi ini. Usai latihan, Lusi dan Utami meneruskan wawancara.

Ucok siap menggarap tata perwajahan da artistik buku Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels. Mantaps!!!

4 November, Jumat, Karat di Jatinangor dan Pabaru Sunda 1948

Hari yang cerah di Jatinangor. Panggung yang lumayan besar sudah berdiri di kawasan taman sebelah Gor pakuan, sekitar kompleks student center Unpad Jatinangor, samping kolam Unpad—kolam yang di tahun 1997, 1998, 1999, sampai 2000an sering dijadikan tempat guying dan berenang Kimung dan kawan-kawan. Sore itu Karat dijadwalkan tampil di panggung tersebut, hingga sedari siang mereka sudah diap melakukan cek tata suara di sana.

Sehabis cek tata suara karat tak lantas pulang. Mereka memilih diam di Jatinangor sambil napak tilas kenangan kawan-kawan mengenai Jatinangor. Okid dan Jimbot terutama yang sangat erat terkait dengan Unpad Jatinangor—selain Kimung yang absen di cek tata suara siang itu.

Menjelang sore, Kimung akhirnya datang bersama Papay. Karat dan kru tampak sedang ngaso menunggu jadwal tampil. Tampak Manda dan Timmy Laras sebagai warga sastra juga hadir di arena. Jam setengah lima, akhirnya Karat tampil. Seperti biasa penampilan sore itu tuntas dihajar dengan lepas. Usai tampil, Karat segera siap-siap berangkat untuk tampil di acara Pabaru Sunda.

Sementara yang lain langsung ke arena pergelaran perinagtan tahun baru Sunda, Kimung yang berangkat boncengan dengan Timmy, singgah dulu di Common Room. Ternyata di sana Ayi dan David sudah bersiap-siap berangkat. Yang menjadi kejutan, ternyata sudah ada Asep Nata—sang maestro karinding bernada atau karinding towel—sedang mengobrol bersama Gustaff. Setelah mengobrol ngalor ngidul kahirnya rombongan berangkat ke Cikapundung. Asep Nata ikut serta berboncengan dengan David.

Ini liputan dari portal Indonesia Kreratif mengenai Pabaru Sunda 1948,

PABARU SUNDA, BENTUK PELESTARIAN NILAI KEARIFAN LOKAL

06 November 2011 | Views (411)

Teks dan Foto: Heru Muthahari

“Seharusnya pemerintah Lebih tergugah untuk melindungi warisan budaya Sunda yang keberadaanya terlantar. Banyak nilai-nilai budaya yang luput dari Dispemprov, dan jangan sampai ada berita lagi alat kesenian ini punah, alat musik ini hilang. Pemerintah seharusnya bisa memberikan bantuan dalam bentuk fasilitas dan aturan agar nilai-nilai budaya tidak hanya sekedar menjadi tontonan melainkan menjadi tuntunan dalam keseharian masyarakat Jawa Barat”.

Kalimat itu datang  langsung dari pecinta sekaligus perwakilan kabuyutan Sunda, Utun, yang merasa resah dengan kondisi budaya Sunda saat ini. Dalam gelaran keenam kali ini, rasanya antusias masyarakat Bandung  terhadap kegiatan bertemakan budaya lokal masih terasa minim.  Ini terbukti dari apresiasi warga yang hadir dalam acara peringatan tahun baru Sunda tersebut. Hanya beberapa komunitas tertentu saja yang menghadiri acara ini.

Malam itu, Jumat (4/11) di kawasan Cikapundung, beberapa komunitas budaya Sunda hadir merayakan hari Tahun baru Sunda ke 1948. Mereka berbaur dan bergotong royong mengadakan acara pengenalan kepada masyarakat luas mengenai nilai budaya Sunda, khususnya kebanggaan akan penggunaan kalender Sunda di tatar Parahyangan.

Bila dilihat dalam perhitungan Kalender Sunda, saat ini Masyarakat Sunda tengah merayakan tahun barunya ke 1948 yang jatuh pada Jumat atau bertepatan dengan Sukra 1, Kartika 1948 Caka. Beberapa budayawan memberikan refleksi terhadap lingkungan dan kondisi sosial masyarakat Sunda Saat ini. Untuk memberikan kehidupan yang lebih baik di tahun barunya, budayawan asal Sumedang melakukan ritual ‘Ngalarung’ di kawasan Sungai Cikapundung. Nyanyian dan doa pun terlantun sepanjang upacara simbolis tersebut. Ritual tersebut dilakukan untuk mengikis kotoran yang mengendap dalam jiwa dan lingkungan masyarakat Bandung.

Sesuai dengan tema perayaan tahun baru Sunda, berbagai komunitas budaya Sunda lain pun turut hadir memeriahkan acara ini. Diantaranya, pentas seni Tarawangsa, Kelompok musik Karinding Attack, Papperback, dan Gembyung asal Subang.

“Hitungan dalam menentukan tahun 1 Sunda memang cukup sulit. Namun sekarang sudah tersosialisasikan dengan perhitungan Astrologi yang disesuaikan dengan kondisi alam di sekitar tatar Sunda,” ucap Budi Dalton selaku penggagas kegiatan Pabaru Sunda.

Menurut Utun, keberadaan kalender Sunda saat ini sudah mendapatkan pengakuan dari negara lain, salah satunya dari Malaysia. Pengakuan keberadaan kalender Sunda tersebut disampaikan keturunan ketujuh dari Sri Ratu Putri Sadong, Raja Kelantan Malaysia, yakni Raja Tengku Putri Anis Raja Sazali, pada pertemuan Raja dan Sultan se-Nusantara.

“Saya sungguh menyayangkan pengakuan tersebut justru berasal jauh dari negeri sebrang, bukannya timbul dari lingkup masyarakat terdekat, khususnya warga Jawa Barat,” lanjut Utun

Bila dilihat dari komposisi penempatan jumlah hari, minggu dan bulan, perhitungan kalender Sunda hampir mirip dengan kalender Masehi, yang membedakannya hanya penamaan hari, minggu, dan bulan. Penghitungan jumlah hari dalam satu bulannya pun ternyata mirip dengan perhitungan kalender Masehi, ada yang berjumlah 29 hari dan 30 hari.

Nama lengkap 12 bulan dalam kalender Sunda yaitu, Kartika, Margasira, Posya, Maga, Palguna, Setra, Wesaka, Yesta, Asada, Srawana, Badra, dan Asuji. Sedangkan nama hari-hari dalam kalender sunda adalah Soma (Senin), Anggara (Selasa), Buda (Rabu), Respati (Kamis), Sukra (Jumat), Tumpek (Sabtu), dan Radite (Minggu).

http://www.indonesiakreatif.net/index.php/id/news/read/1126

Mugia rahayu salawasna, sawelas cahaya di salira!!!

Malam itu, usai penampilan Paperback, Kindi dari manajemen Peterpan menghubungi Kimung dan memberikan kabar jika Peterpan tertarik bekerja sama dengan Karinding Attack. Untuk itu Karat ditunggu di Studio Masterplan hari Sabtu besok untuk bertemu Kang Noey sang produser, membicarakan berbagai hal teknis berkaitan dengan proses kreatif dan proses produksi.

Bismillah…

10 Playlist Jon 666 : Tarawangsa, The Beatles, Peterpan, Burgerkill, Carcass, Napalm Death, Fear Factory, Imaplled nazarenne,  nailbomb, The Exploited

Books : Al Qur’an al Karim

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s