JURNAL KARAT # 92, 28 OKTOBER 2011, SARASVATI, KEENAN NASUTION, AYU LAKSMI, ARIEL PETERPAN, IDEOLOGI MUSIK, THE GREAT BEAST, DAN DISKO PEMBERONTAKAN!

Posted: November 12, 2011 in Uncategorized
Tags:

JURNAL KARAT # 92, 28 OKTOBER 2011, SARASVATI, KEENAN NASUTION, AYU LAKSMI, ARIEL PETERPAN, IDEOLOGI MUSIK, THE GREAT BEAST, DAN DISKO PEMBERONTAKAN!

Oleh Jon 666

22 Oktober, Sabtu, Karat di Kolaborasi Sarasvati dan Keenan Nasution, Djakarta Artmosphere

Pagi yang cerah di hari Sabtu. Jam setengah enam, awak sarasvati dan karat tampak sudah bersiap-siap di Common Room. Pun bus biru yang akan mengantar rombongan ke Jakarta sudah siap tersedia di halaman Common Room. Semua tampak bersemangat sekali pagi itu, termasuk Jimbot yang masih hangover akibat malamnya makan gelas dan keran air hehehe… Jam tujuh pagi, rombongan berangkat dari Common Room menuju Jakarta. Syananana…

Sampai di Jakarta jam sepuluh pagi, bus langsung parker di halaman belakang Gedung Tennis Indoor Senayan.crew dan personil bahu membahu langsng mengankut alat-alat music dan segera memersiapkannya untuk cek tata suara. Jadwalnya jam sepuluh, namun ternyata masih ada The Brandals yang melakukan cek tata suara di atas panggung. Sambil menunggu, beberapa sarapan dulu di kios sekitar Tennis Indoor. Jimbot sudah bangun dan dengan malas ia minum susu dan makan Pop Mie.

Akhirnya, jam setengah dua belas siang, cek tata suara dimulai. dengan cekatan Adun dan Innu bekerja menata suara, menyusun bukaan-bukaan monitor dan suara yang keluar di audiens. Kendala utama tetap berada di penataan sistem suara untuk karinding. penggunaan mikrofon sensitif menjadi serba salah. Di satu sisi, mikrofon sensitif tentu sangat membantu menangkap frekwensi karinding dan celempung yang rendah. Namun di sisi lain, penggunaan mikrofon sensitif, sangat rentan menciptakan feedback, terutama jika berdekatan dengan monitor. Karena itu Innu sedapat mungkin benar-benar membatasi bukaan monitor di sesi Karat agar suaranya tidak masuk mikrofon dan mengganggu dengan suara bising yang dihasilkan kemudian.

Namun demikian kecekatan Innu dan Adun terbukti selama cek tata suara dan semua bisa dilakukan dengan lancar. Cek tata suara akhirnya selsai jam dua siang. Rombongan laki-laki lalu beristirahat di salah satu ruangan di Tennis Indoor, sementara yang perempuan beristirahat dan bersiap di apartemen salah satu kawan mereka.

Sementara itu, di Bandung, Karat yang lain melakukan cek tata suara di Bumi Sangkuriang untuk penampilan esok harinya di acara terima kasih The Kotak kepada Bumi, sebuah acara yang penuh dengan edukasi. Karat sendiri akan tampil di Stage Bumi, salah satu dari enam panggung yang disediakan panitia di sekitar lapangan Bumi Sangkuriang. Walau tanpa alat-alat yang lengkap, cek tata suara dan channel yang dilakukan Karat di Bumi sangkuriang berlangsung dengan lancar. Selesai cek tata suara, Karats empat bertemu Ayu laksmi dan segera saja berkenalan dan saling bercerita mengenai musik masing-masing. Ayu bahkan berjanji akan melihat penampilan Karat nanti.

Kembali lagi ke Jakarta, jam empat sore, setelah puas beristirahat, Kimung, Okid, Wisnu, Papay, dan kapten Jek akhirnya ke luar ruang artis dan ternyata di panggung luar suasana sudah meriah. Salah stau band yang memainkan rock ‘n roll sedang tampil di sana ditonton sekitar seratusan audiens yang hadir sore itu. Nuansa psychedelic terpapar di panggung walau ternyata tak melulu nyambung dengan band-band yang tampil kebanyakan membawakan rock atau pop. Hmm harusnya Paperback dengan lagu “Jimina”nya yang tampil di panggung psychedelic itu ckckck… Di arena ini, Karat bertemu dengan kru Common Room yang menyempatkan hadir : Gustaff, Reina, Bine, Ghera; dan juga kru Omuniuum yang mengisi booth buku dan pernak-pernik di acara ini. Karat juga bertemu kawan-kawan yang biasa hadir di tiap acara musik di Bandung seperti Ui, Dian AQ, dan beberapa kawan lainnya. meriah sangat memang ini panggung. Favorit saya pada maen di sini. Ada White Shoes and Couples Company, Teenage Death Star juga. Walau tak psychedelic, lumayan lah.

Seturun Magrib, Karat segera kembali ke ruang istirahat untuk bersiap-siap. Jam setengah delapan, semua sudah rapi jail, dengan pakaian hitam-hitam semua, kontras dengan seragam para perempuan ayng semua mengenakan dress merah marun. Mantaps! Semua siap bertarung malam ini! Om Keenan pun ternyata sudah hadir malam itu dan juga siap bertarung bersama Sarasvati dan Karat.

Akhirnya, setelah penampilan yang sangat atraktif dari Endah n’ Rhesa yang berkolaborasi dengan Mario Segers dan Marcie Segers, giliran Sarasvati yang didaulat tampil di atas panggung. Semua lagu dihajar malam itu. Satu kendala yang sangat terasa dalam penampilan itu adalah tak terdengarnya monitor kibor Mang Gembong dan dram Papay yang selama menjadi pedoman permainan karindingan dan celempungan. Ini tentu sangat berpengaruh pada permaianan Karat. walau bisa dibilang pas, namun tabuhan-tabuhan yang dimainkan Karat menjadi kurang maksimal, kurang telak, dan terkesan gamang karena tak ada panduan suara apa-apa yang bisa membuat mereka bermain lepas. Namun demikian, semua lagu : “Fighting Club”, “Cut and Paste”, “Perjalanan”, dan “Bilur” bisa dimainkan dengan baik.

Masuk sesi ke dua, ketika Risa memanggil Om Keenan untuktampil bersam di panggung membawakan lagu-lagu “Chopin Larung”, “Zamrud Khatulistiwa”, “Sendu”, “Oh I Never Know”, dan “Story of Peter”, kendala monitor tak juga terselesaikan. Namun tak ada pilihan lain, show must go on. Walau kembali tampil dengan segala kegamangan dan tanpa panduan musik yang memadai, Karat kini bermain lebih lepas. Dan itu sebetulnya yang benar0benar diperlukan ketika tampil di atas sebuah panggung.

Kolaborasi ini memang kurang maksimal. Baik dalam aransemen lagu yang menurut saya terlalu ngepop dan terlalu nyaman main di ranah aman untuk ukuran musik Keenan Nasution, Guruh, atau Band Gypsy yang memang berbahaya dan sangat liar dalam bereksplorasi; mau pun dalam penataan sistem suara. Namun demikian, semua sudah melakukannya semaksimal mungkin dan itu patut diapresiasi. Lagi pula, walau kurang maksimal, kolaborasi ini bisa dinilai sebagai kolaborasi yang sukses dan paling berimbang jika dibandingkan dengan para artis lain yang tampil di panggung kolaborasi malam itu. Kimung mencatat, “Endah n’ Rhesa terlalu jam session dengan Mario, Pure Saturday terlalu mengikuti Yockie, dan The Brandals terlalu sendiri-sendiri bersama Koes Plus.” PR Sarasvati hanya satu jika mendapat kesempatanberkolaborasi lagi : mempersiapkan sesi jam session dengan kolaborator.

Usai konser, semua terlihat sangat lepas dan bahagia. Apalagi ketika Om Keenan datang ke ruang Sarasvati, keceriaan segera merebak. Semua foto-foto bersama Om Keenan, pun Kimung tak ketinggalan memberikan buku Jurnal Karat dan bercerita jika di sana ada kisah Om Keenan bersama Sarasvati dan Karat. Semua lalu menonton kolaborasi yang benar-benar spektakuler antara Pure Saturday dengan Yockie Suryoprayogo. Ketika The Brandals tampil, Sarasvati dan Karat memutuskan untuk pulang ke Bandung.

Ahh, there’s no place like home ^^

I luv you Sarasvati!!!

23 Oktober, Minggu, Karat di Bumi Sangkuriang

Alam selalu memberikan berbagai manfaat untuk kemaslahatan kehidupan manusia, dengan berbagai unsurnya. Alam mengatur diri sesuai dengan kodrat dan kehendak-Nya, udara yang kita hirup, air yang kita minum, hasil dari tanah, hutan dan laut, mereka berjalan pada rel-nya. Namun saat ini ‘rel’ itu terlalu banyak penyumbatannya atau dengan kata lain: rusak. Sudah selayaknya manusia ‘bekerjasama’ dengan alam untuk mengembalikan atau memperbaiki ‘rel’ alam agar bergerak dengan lancar. Berbagai program pengembalian fungsi alam oleh berbagai kalangan telah dilakukan. Salah satunya adalah program Thanks To Nature yang diinisiasi oleh Teh Kotak yang digelar di Bumi Sangkuriang Bandung tanggal 23 Oktober 2011.

Acara Thanks to Nature ini dimulai pada pukul 09.00 wib. Di sini sangat terlihat nuansa yang sangat berbeda dengan konsep gelaran lain yang serupa. Unik, edukatif, kreatif dan entertaining. Tidak seperti acara ditempat lainnya yang hanya mementingkan unsur hiburan dan bisnisnya saja. Disini kita dihibur dengan cara yang unik, edukatif dan kreatif. Dari hal yang kecil; seperti tidak membuang sampah sembarangan dan tidak merokok di lokasi acara, itu semua terlaksana dengan baik. Sehingga semua pengunjung, peserta dan panitia bisa bekerjasama untuk menjaga kedua hal tersebut sampai akhir acara. Ini sebuah prestasi tersendiri untuk sebuah gelaran besar.

Berbagai gelaran acara pun membuat para pengunjung mendapat pencerah hati dan pengalaman baru. Dengan konsep empat panggung: Main Stage, Stage Angin dan Air, Stage Bumi dan Stage Api, serta Cinema Alam, pengunjung mendapatkan berbagai variasi tontonan yang edukatif. Di Stage Bumi Karat hadir, tampil menghibur audiens yang menyemut seketika MC mengumumkan penampilan Karat siang itu. Tujuh lagu Karat, “Bubuka” bersama Abah Gopal, “Dadangos Bagong”, “Burial Buncelik” (versi yang sangat panjang karena Abah Gopal dan beberapa penonton ikut tampil menari di lagu ini), “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol”, “Lapar Ma!”, dan Maap Kami Tidak Tertarik Pada Politik Kekuasaan” digeber habis mengundang antusiasme audiens. Usai tampil, Karat bertemu Chris, reporter National Geographic yang juga sedang melakukan pemetaan komunitas kreatif di Bandung.

Karena Ayu Laksmi serta Abah Iwan Abdurrahman, dua musisi yang sangat ingin dilihat Karat tampil malam, maka Karat sepakat ke Common Room dulu dan akan kembali jam tujuhan ke arena. Berkumpul mengobrol bersama dan saling canda mewarnai sore itu, sebelum akhirnya maam itu rombongan kembali ke Bumi Sangkuriang.

Bertemu dengan Ayu Laksmi, ia segera menodong man untuk ikut tampil bersamanya di panggung bermain karinding mengiringi salah satu lagu Ayu. Ini tentu saja pengalaman yang tak akan terlupakan ketika seorang maestro yang sangat kita kagumi tiba-tiba meminta kita untuk tampil bersamanya. Ayu bahkan kembali mengundang Man bermain karinding sekali lagi di lagu Ayu yang lain. Usai tampil, Ayu mengajak Karat kembali tampil di acara Bandung World Jazz 2011 tanggal 20 November nanti di Sabuga.  Sebuah ajakan yang sangat menantang dan tentu saja diiyakan Karat.

Ayu Laksmi pertama kali merilis album rock Istana Yang Hilang, tahun 1991. Namun setelah itu ia kembali ke Bali dan justru semakin dekat dengan seni-seni tradisi yang begitu kental. Selama beberapa tahun, Ayu memilih berkarya di ruang-ruang yang sunyi. Baru tahun 2006, Ayu ambil bagian tampil di acara Bali for the World. Dari sini, babak baru Ayu mulai hadir. Beragam komposisi tercipta. Tak cuma menjelah pangung-panggung musik bersama Tropical Transit Band, tapi juga membuat ilustrasi musik untuk film, dan menghasilkan Svara Semesta, album keduanya. “Dulu waktu jadi penyanyi rock, saya pakai celana bergambar tengkorak. Sekarang saya memilih untuk tampil sebagai perempuan Indonesia. Kalau sekang banyak perempuan yang ingin tampil sebagai model, saya justru kebalikannya. Saya memilih untuk kembali ke tradisi,” ujar Ayu. Cok Savitri, seniman asal Bali yang juga mentornya, mengibaratkan musik Ayu adalah healing music (musik yang menyembuhkan).  “Hampir semua gerakan napas adalah sebuah meditasi yang menuju satu titik,” katanya.

Musik-musik  Ayu juga  syarat dengan spiritualisme.  Svara Semesta berisi 11 lagu.  Sembilan di antaranya diciptakannya sendiri. Ia membagi karyanya dalam dua ruang yang berbeda, yakni ruang Budaya-Teknologi, serta Manusia.  Empat karya tersaji lewat konsep Budaya-Teknologi, yakni “Tri Karya Parisudha” (Thinking Good, Saying Good, Doing Good), “Wirama Totaka”, “Duh Hyang Ratih” (The Moon), dan “Tat Twam Asi” (I Am You). Dalam karya-karya ini, Ayu mencoba berusaha mengutarakan tentang keagungan Tuhan. Lirik pun disajikan lewat tembang yang kontemporer dalam bahasa sansekerta, Jawa kuno dan Bali.  Sementara lewat ruang Manusia, Ayu menghadirkan siklus kehidupan manusia dari lahir hingga mati lewat “Brothers & Sisters”, “Maha Asa” (Big Dream), “Here, Now, and Forever More” (Om Mani Padme Hum), “Ibu”, “Reinkarnasi”, “Breathing”, dan “I Am Talking to Myself.”

Pada akhirnya, lewat lagu-lagu itu, Ayu mencoba merefleksikan hidup dan kehidupan dengan muara akhir menyerahkan diri kepada Tuhan. Dibantu musisi-musisi kawakan, seperti Eko Wicaksono, Balawan, Dewa Budjana, Bang Saat, Riwin, serta dua arajer asing, Peter Brambi dan Robert Webber juga mencoba memindahkan nilai spiritualitas ke ruang panggung pertunjukan.

http://oase.kompas.com/read/2010/11/26/0852026/Svara.Semesta..Penjelajahan.Ayu.Laksmi

24 Oktober, Senin

Psychedelic “Jimina” usai terumuskan Paperback dalam tiga susun aransemen berbeda.

25 Oktiber, Selasa

Kabar dari Feby kepada Kimung bahwa Ariel ingin menjajaki kemungkinan karinding bermain di salah satu lagu di album Peterpan terbaru. Malamnya, Kimung bertemu dengan The Illuminators untuk merumuskan konsep artwork untuk buku Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels. Setidaknya dibutuhkan minimal 31 artwork untuk menunjang 800 halaman buku Panceg, 6 Babad, dan 25 Bab buku sejarah komunitas metal tertua dan terkuat di Indonesia ini.

26 Oktober, Rabu, Ariel dan Celempung, The Great Beast

Kimung, Okid, Bine, dan Feby mengunjungi Ariel di Kebon Waru. Setelah pertemuan pertama Kimung dan Ariel, ini adlaah pertemuan ke dua mereka. Di pertemuan ini Kimung memberikan buku Jurnal Karat, Karinding Attacks Ujungberung Rebels dan celempung Giri Kerenceng yang dibawakan Okid khusus unutk Ariel. Ariel tampak sangat sehat. berada di ruang kerjanya di salah satu sudut kantor administrasi Rutan Kebon Waru, ia menyambut rombongan dan segera menceritakan rencana-rencananya.

Peterpan berencana merilis album instrumental bulan November itu. awalnya, Peterpan berencana hanya akan merilis Peterpan on Piano saja, di mana Peterpan mengaransemen music dan sesi vokalnya akan diisi lima pianis Indonesia. Namun Ariel mengisahkan, ide dengan liar berkembang. Peterpan mulai menambahkan sesi orchestra, sesi alat musik tiup, dan gesek. Ariel menilai ini merupakan komposisi yang sangat kuat, Cuma ia merasa aransemen-aransemen lagu ini terlalu Eropa dan ia ingin menambahkan rasa etnik ke dalam salah satu lagunya. Untuk itulah ia berkonsultasi dengan Feby yang kemudian merekomendasikan karinding. ariel sendiri merespon dengan baik dan meita bantuan Feby untuk segera mengontak musisi karinding yang bisa diajak bekerja sama—dalam hal ini Karat.

Ariel juga memperdengarkan tiga belas lagu terbaru Peterpan—menurutnya, lagu yang akan dimasukkan ke dalam album mungkin hanya sepuluh lagu saja. Dalam bayangan Ariel, awalnya, alat musik etnik yang dimainkan adalah saluang saja. Namun ketika ia mendengar demo Karat, ia menilai bahwa semua alat yang dimainakn di msuik Karat adalah satu kesatuan utuh ayng jika dipisahkan salah satunya maka akan mempengaruhi kekuatan sesi musik yang lain. karena itu, ia membayangkan semua waditra itu akan dimainkan namun dalam tatanan aransemen yang apik. Ariel membayangkan kalau tak di lagu “Di Belakangku”, di lagu “Bintang di Surga” Karat dan Peterpan akan berkolaborasi.

Tak lama, Ariel segera mengontak kawan-kawannya di Peterpan melalui handphone Kindi dan meminta mereka segera datang untuk mempertimbangkan garapan musik bersama Karat. ariel bilang siang itu Reza Peterpan memang berencana datang ke Kebon waru untuk membicarakan penggarapan musik mereka.

Obrolan lalu mulai mencair dan membahas berbagai hal hingga kahirnya tibalah jam 12, waktu di mana jam besuk sudah berakhir. Oks Mang Ariel, be good inside, kami akan berjuang di sini semampunya. Hajar!!!

Malamnya, Kimung menulis lirik lagu “The Great Beast” untuk Karat.

27 Oktober, Kamis, Diskusi Musik dan Ideologi

Sore ini digelar “Diskusi Musik dan Ideologi” dengan pembivara Kimung, Acep Iwan Saidi, dan Marine Ramdhani. Sebuah diskusi yang sangat mencerahkan di mana Karat dan fenomena karinding ini dibahas sebagai sebuah gejala yang positif bagi pendidikan musik dan ideologi anak muda Bandung. Uraiannya secara khusus akan dimuat di buku Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels. Malamnya, Kimun diwawancara oleh Mega Tribun Jabar mengenai Ujungberung Rebels, termasuk di dalamnya membahas geliat karinding.

Ini SMS-SMS dari Popup yang keberatan dengan ahrga jual buku Jurnal Karat yang cuma Rp. 75.000,-

Teras dinu 500 buku tea jigana mah rada over budget, eta harga 75rb mah mirah pisan lur, can diskon toko. Sekedar masukan 500 eks mah menurut pandangan gramedia masih print on demand,  batasanna 700 buku. MINIMAL 90rb, nuhun 07.41.45

Belum royalty penulis, artwork, desain, eta produksi tiasa ajeg 30 rb, mizan, gramedia, biasana jarang 4x tina hpp, biasana dugi ka 5x harga hpp, komo ngan 500eks, rahayu minor rahayu harga mayor, hehe apeu urs nya, tp da minor mah geus ngangkat budaya baca dgn fakta nyata, hellyeah! 07.50.05

Sip slam,at P’Kims mudah2an kelehan anda dalam menulis terbayar secara nyata di depan oks.08.08.46

28 Oktober, Jumat, DISKO PEMBERONTAKAN!

Hari ini rencananya Nick dan Bill akan pergi ke Bah Olot dan melakukan pengambilan gambar sang maestro karinding. Namun semalam sebelumnya Nick mengabarkan jika Bill merasa tidak sehat dan karenanya masih belum jelas apakah pengambilan gambar akan jadi atau tidak. Namun demikian, karena sudah janjian, Kimung dan Zia berangkat berdua ke Parakan Muncang. Berikut cuplikan jurnal perjalanan Kimung,

“…Kami berangkat dari Cilengkrang II. Tempat ini sangat bersejarah buat saya. Beberapa ingatan masa kecil sempat berkelebatan dalam pikiran saya selama menunggu Zia, ingatan-ingatan indah ketika saya masih bocah jarambah yang senangnya ngarit, bermain perang-perangan, bermain air di selokan besar seberang warung besar Haji Otong, melakukan hal-hal konyol lazimnya anak-anak kecil beribu imaji. Ingatan-ingatan ini terus menari-nari dan seketika menjelma ketika Zia tiba. Berjaket biru, putriku tampak segar hari ini. Dan here we go!

Persinggahan pertama adalah kampus Sastra Unpad. Ke sini saya berencana mengunjungi mentor saya, Pak Reiza untuk memberikan buku Jurnal Karat. Namun sayang, Pak Reiza tak ada di tempat, jadi kami memutuskan untuk meneruskan perjalanan. Sempat menemui Atep Market, Blue Hikers, Negeri Di Awan, dan kawan-kawan Pakilun, kami segera menuju Parakan Muncang. lewat Jalan Sayang—Love Street di mana kenangan-kenangan kembali membayang—kami sempat bertemu Kang Alan dan bapak.

Akhirnya, jam sebelas, kami sampai di sanggang Mang Dedi, di mana Zia mereparasi karindingnya yang rusak. Untunglah Mang Dedi bisa memperbaiki karindingnya dan bisa dimainkan lagi. Di sanggar, kami juga dibikin takjub dengan renteng sebelas nada plus dua kohkol buatan Mang Dedi. Papay tentu saja akan sangat senang dengan waditra ini karena akan menyedikan ruang eksplorasi baru yang lebih luas untuk ia jelajahi. Ketakjuban tak berhenti di situ. Dua gong tiup bengkok pesanan Okid ternyata sudah jadi juga dengan dua figur menghiasi bagian kepala gong tiup. Figur pertama Okid banget dengan pewajahan yang digambarkan sebagai buta ijo, sementara figur ke dua menggambarkan monster landak yang tak kalah garang. Mantaps! Tiga waditra ini tentu akan melengkapi Karat di termin ke dua penggarapan lagu-lagu barunya.

Tak lama di Mang Dedi, kami segera menuju sanggar Bah Olot. Wah, sudah lama sekali tak bertemu Bah Olot, kami dibuat takjub juga dengan sanggar Bah Olot. Ia kini sedang melakukan membangun saung-saung baru yang melengkapi sanggarnya, juga merancang panggung kecil di belakang sanggar di mana pettunjukan-pertunjukan kecil bisa digelar di sana. Saya memberikan buku Jurnal Karat kepada Bah Olot dan disambut hangat olehnya. Di tengah percakapan yang menghangat datang kabar dari Kang Acep Iwan Saidi bahwa perbincangan kami di diskusi “Musik dan Ideologi” ia tuliskan dan dimuat di Koran Kompas hari ini. Menjelang siang, kami pamit dulu ke Bah Olot karena saya ingin menunjukkan Rumah Pohon kepada Zia. Kami berjanji, pulangnya akan kembali lagi ke Bah Olot untuk menikmati liwet abah yang legendaris.

Tiba di Kawe, hijau serta merta menyambut kami dan membebaskan semua penat. Selamat datang di Gerbang Kerajaan Serigala…

Kami segera berjalan menuju Rumah Pohon. Tak banyak yang berubah di sepanjang jalan setapak ini. Yang berubah adalah Rumah Pohon yang kini dibangun satu panggung pergelaran dan satu tribun menonton. Rumahnya pun yang asalnya ada enam jadi hanya lima saja. Rumah yang sempat dijadikan tempat bernaung mikser Pa Andry selama live recording Karat di Rumah Pohon sudah tak ada. Senang sekali melihat Zia menikmati tempat ini. Ia bilang sangat suka sinar matahari yang turun dari sela-sela pepohonan sehabis hujan. Saya bilang saya suka bau tanahnya. Kami mengobrol banyak, saling bertukar cerita.

Jam setengah tiga, kami memutuskan kembali ke Parakan Muncang karena takut kesorean dan kehujanan. Dan benar saja, sepanjang perjalanan menuju sanggar Bah Olot kami diguyur hujan yang deras. Basah kuyup pakaian kami berdua. Sampai sanggar saya minta Zia menukar pakaiannya yang kuyup dengan kemeja saya, sementara saya menukar celana pendek yang basah dengan celana panjang. Saya lalu menukar kaos basah dengan kaos baru Bah Olot yang diproduksi anak-anak karinding Rancaekek. Saya belikan juga Zia satu biar seragam ayah dan putri. Saya juga memesan sebuah karinding ke Abah. Beberapa karinding saya pilih dan jatuhke satu karnding berraut kujang yang vibranya sangat panjang. Di tengah persiapan liwet, Okid menelpon dan mengabari jika ia sedang ada di Mang Dedi.

Sehabis bersantap bersama liwet Abah yang sangat menghangatkan, jam lima sore kami pamit ke Abah karena malamnya, Laras dan Karat harus latihan. Kami singgah dulu ke sanggar Mang Dedi untuk menemui Okid dan pamit ke Mang Dedi. Jam setengah enam kami sudah ada di jalanan, kembali berkendara menuju Common Room.

Ini refreshing saya yang pertama semenjak begitu kuat tekanan buku Jurnal Karat serta kolaborasi bersama Sarasvati dan Keenan Nasution sebulan yang lalu. Saya senang merefresh diri saya dengan meluangkan waktu dengan putri saya—biasanya saya selalu sendiri melakukan ini. Semoga alam terus berpihak kepada kita semua. Ahung…”

Malam ini Laras lebih dulu latihan walau Neng, Shifra, Mitha, dan Manda tak hadir. Namun Laras juga sepertinya tak fokus latihan malam ini. Kabar dari Zia, Laras sedang berencana melakukan perombakan perombakan personil bertukar posisi, dan mencari-cari posisi yang pas untuk masing-masing permainan waditra. Posisi pertama yang akan ditentukan adalah vokalis, dan karenanya malam itu semua sepakat karokean, mencari vokal siapa yang paling pas bernyanyi untuk Laras.

Karat pun tak banyak yang hadir malam itu, hanya Okid, Kimung, Hendra, Yuki, dan Papay yang ada. Man kabarnya sedang di Soreang berpidato di acara partai atau apa, Ki Amenk dan Jawis sedang menyambut tamu dari Pontianak yang akan manggung di Gor Gedebage esok hari. Jadi, yang awalnya Karat akan berlatih lagu-lagu persiapan konser bersama Ayu Laksmi dan konser tunggal, akhirnya sepakat menggarap lagu baru. Ditambah dengan renteng sebelas nada waditra baru yang harus dijajal oleh Papay malam itu. sementara itu Nick dan Bill yang sedari sore menanti-nanti, sudah siap dengan kamera rekamnya.

“Disko Pemberontakan” akhirnya digarap bersama malam itu. Lagu ini kental sekali diwarnai hentakan-hentakan disko, sesuai dengan judul lagunya. Ada sedikit kesulitan menentukan hitungan roffle celempung ketika masuk vokal. Kesulitan yang sama juga terjadi ketika masuk sesi refrain yang berubah menjadi lima hitungan. Namun, intensitas sharing Papay dan Hendra selama penggarapan lagu membuat bagan lagu ini untuk sementara bisa terumuskan.

Di tengah latihan Man datang. Laras juga kembali setelah karokean dan katanya belum juga terumuskan siapa vokalis utama Laras. Bersama Man, Karat meneruskan menggodok bagan yang sudah terumuskan dan kahirnya menjelang jam sebelas malam, usai sudah aransemen awal “Disko Pemberontakan” tersusun, termasuk battle renteng sebelas nada versus kendang penca, karki versus karjaw, suling vs maracas vs toleat, yang ditutup dengan verse vokal ke tiga dan dua kali refrain sebelum akhirnya lagu berakhir, semua selesai terumuskan untuk sementara.

Ini akan menjadi lagu yang sangat kuat!

In my life, I love you more…

10 Playlist Jon 666 : Tarawangsa, The Beatles, Peterpan, Iwan Fals, Koil, Ayu Laksmi, Nine Inch Nails,

Books : Al Qur’an al Karim, Umar bin Ibn Khatab The Conqueror, naskah Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels

Movies : Race the Sun,

Quotes :

“(Ingatlah), ketika engkau (Muhammad) mengatakan kepada orang-orang beriman,’Apakah tidak cukup bagimu bahwa Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)? ‘Ya’ (cukup). Jika kamu bersabar dan bertakwa katika mereka datang menyerang kamu dengan tiba-tiba, niscaya Allah menolongmu dengan  lima ribu malaikat yang memakai tanda.” (Q.S. Ali Imran, 3 : 124-125)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s