JURNAL KARAT # 89, 7 Oktober 2011, Holiday in the Sun!

Posted: October 12, 2011 in Uncategorized

JURNAL KARAT # 89, 7 Oktober 2011, Holiday in the Sun!

Oleh Jon 666

1 Oktober, Sabtu,

Kimung masih terus konsentrasi penuh kepada buku Jurnal Karat. Koreksi redakasi ia lakukan di dummy Jurnal Karat. Hingga penutupan hari ini, Kimung sudah masuk ke halaman 190. Sambil iseng, ia juga mulai menggarap tata letak buku Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels yang merupakan seri terakhir sejarah komunitas dan ranah musik metal tertua dan terkuat di Indonesia, Ujungberung Rebels. Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels semoga bisa dirilis Desember 2011.

Malam harinya, Okid bergabung dengan jimbot dan Trah, tampil di Festival Bambu Nusantara. Karat juga sebetulnya ditawari tampil di acara ini, namun Karat berhalangan karena Man harus tampil bersama Jasad.

2 Oktober, Minggu,

Kimung menyelesaikan koreksi Jurnal Karat di dummy dan siap editing ulang data lunak di Adobe Pagemaker. Ia juga mengumpulkan beberapa foto untuk melengkapi kisah-kisah di dalam buku Jurnal Karat.  Kimung juga menyelesaikan outline buku Sejarah Karinding Priangan. Bahasan buku ini adalah sejarah karinding di Tatar Priangan, yaitu kawasan Bogor sampai Ciamis. Akan dibahas juga karinding di luar Priangan sebagai pembanding pembahasan. Beberapa daerah yang rencananya akan dieksplorasi adalah Banten (krinding), Yogyakarta (genggong), Kalimantan (karindang), Sulawesi (dunga), Bali (genggong), Nepal (jawharp), dan Cina (chang). Rencananya buku ini adalah kajian ilmiah yang mengasyikkan. Akan didukung oleh berbagai ahli keilmuan seperti filolog dan antropolog. Tebal buku sekitar 400 halaman. Buku ini akan digarap bersamaan dengan penulisan buku seri sejarah musik bawahtanah Bandung 1990 – 2015.

3 Oktober, Senin, Man, Ki Amenk dan Wisnu di syuting Kelas Aksara Kuno di Kick Andy

Ki Amenk dan Wisnu menghadiri syuting kelas Aksara Kuno di Kick Andy. Bisa dikatakan, Kelas Aksara Kuno yang kini dikelola filolog Sinta Ridwan di Gedung Indonesia Menggugat sangat erat hubungan dengan Ujungberung Rebels, Bandung Death Metal Syndicate, dan tentunya Karat. Hubungan ini akan dibahas secara mendalam di buku Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels.

4 Oktober, Selasa, Rapat Buku Jurnal Karat, Karat dan Atap Promotion

Jam empat sore, Yuki dan Kimung di Common Room untuk membicarakan rencana peluncuran buku Jurnal Karat. Setelah berbagai pertimbangan, akhirnya diputuskan peluncuran buku akan digelar di Gedung Ampli. Gedung ini representatif, dengan satu bangunan tambahan yang bisa digunakan sebagai galeri dokumentasi, tempat penjualan pernak-pernik, konferensi pers, dan pembubuhan tanda tangan. Artwork dan berbagai gimmick yang dibuat untuk membangun nuansa “Gerbang Kerajaan Serigala” di jalan sekitar gedung. Awalnya artwork akan menggunakan manekin-manekin berwajah Kimung. Namun Kimung tak setuju. Ia meminta bebegig-bebegig berwajah serigala.

Penggarapan acara peluncuran buku juga bekerja sama dengan mahasiswa, sejauh ini Karat bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Seni Rupa UPI (HIMASRA UPI). Kerja sama ini bisa memanjangkan tali silaturahmi, mengingat akan banyak proyek musik yang bisa digarap bersama-sama.

Sepanjang berbincangan Kimung dengan Yuki, Jimbot mengeksplorasi kacapi dengan suling yang ia mainkan sendiri. What a great experience Man Jims!

Tak lama kemudian Gio, Ardi, dan … bertemu Yuki dan Kimung. Segera saja Yuki dan Kimung membicarkan kemungkinan menggelar peluncuran buku di Gedung Ampli dengan berbagai pertimbangannya. Gedung Ampli menjadi tempat utama yang akan diajukan ke pihak sponsor besok.

Perbincangan bergulir ke artis pendukung acara. Terinspirasi dari permaianan solo kacapi suling Jimbot barusan, Kimung secara spontan mengajukan format tarian teatrikal pembuka acara yang diajukan Jimbot beberapa hari sebelumnya, dalam bentuk solo kacapi suling Jimbot yang mengiringi tarian empat penari yang mengelilinginya. Ini tentu akan menjadi sebuah aksi yang sangat menarik! Jimbot sendiri segera menyanggupi permintaan Kimung. Ia berjanji akan segera mempersiapkan semuanya. Pembahasan lalu bergulir ke anggaran acara. Beberapa difiks hari ini untuk diajukan besok ke sponsor. Bismillah…

Kimung pamit duluan sementara Yuki, Gio, Ardi, …, dan Jimbot meneruskan menggodok format acara peluncuran buku nanti.

5 Oktober, Rabu, Jurnal Karat Book On Yer Face!

Jam setengah empat semua yang terkait rencana penerbitan buku Jurnal Karat, Kimung, Gio, Ardi, …, dan Pak Herman berkumpul di kantor Djarum. Agenda hari ini adalah membicarakan rencana peluncuran buku dan teknis penerbitan buku Jurnal Karat. Gio membuka pertemuan dengan cerita mengenai Gedung Ampli dan format acara yang akan digelar. Gio juga mengemukakan kemungkinan kerja sama dengan mahasiswa dan berbagai hal yang bida digarap bersama para mahasiswa ini di kesemparan ke depannya. UPI juga relatif dekat dengan ranah karinding Lembang, Cimahi, dan Batujajar, walau relatif jauh dari ranah musik karinding Cicalengka. Namun, Kimung dan Yuki yakin, militansi dan perasaan kekeluargaan yang telah terjalin selama ini niscaya akan memupus jarak. Kawan-kawan Cicalengka pasti akan hadir di acara ini. Begitu pula dengan kawan-kawan lain dari seluruh kawasan di mana karinding tumbuh dan berkembang yang akan diundang di acara ini. Kimung bahkan mengabari dan mengajak Eddie Vedder untuk datang, melalui alamatnya di website Pearl jam.

Pak Herman memiliki pandangan lain mengenai hal ini. Ia lebih memilih alternatif tempat peluncuran di ruang terbuka. Ia memberikan beberapa opsi di Plaza UPI, Balaikota Bandung, atau beberapa tempat terbuka lainnya. Ardi malah memberikan opsi di Pendopo Bandung. Beberapa opsi ini akan terus digodok, walau cenderung yang akan dijajaki adalah Plaza UPI. Rangkaian acara sendiri cenderung disetujui, hanya Pak Herman mengajukan Rony Urban sebagai MC nanti. Ia juga kembali menegaskan bahwa Djarum akan mendukung penerbitan buku Jurnal Karat minimal untuk lima ratus eksemplar, selain juga gelaran acara peluncurannya. Man datang tak lama setelah pembahasan peluncuran buku Jurnal Karat.

Perbincangan bergulir ke rencana konser tunggal Karat. dalam hal ini, Pak Herman menegaskan bahwa konser harus digelar bulan Desember sebelum akhir minggu agar tidak bias dengan natal dan tahun baru. Untuk itu, ia mengajukan tanggal 9 atau 16 Desember, namun cenderung akan dikejar di tanggal 9 Desember. Dalam kesempatan itu, Man juga menceritakan hasil rembukan bersama Karat yang mengajukan dua opsi artis kolaborator, antara Mulan Jameela atau Iwan Fals. Ke dua artis ini masih sangat tentatif. Yang jelas, Pak Herman menegaskan bahwa dalam konser ini harus ada narasi yang dibuat sehingga pemilihan kolaborator bisa sesuai dengan kisah Karat. Pilihan menghadirkan Risa Sarasvati dan Agung Burgerkill sepertinya bisa dijadikan alternatif artis kolaborator. Yang jelas Pak Herman juga menghimbau Karat untuk menghadirkan satu narasi cerita tentang Karat di mana Karat bebas mengungkapkan apa yang ingin diungkapkan selama ini.

6 Oktober, Kamis,

Edit naskah buku Jurnal Karat di data lunak Adobe Pagemaker. Koreksi berdasarkan atas pembacaan dummy naskan buku Jurnal Karat.

7 Oktober, Jumat Kramits

Kimung mengoreksi naskah dan melengkapi foto-foto pendukung buku Jurnal Karat. Ada enam belas koreksi lagi, kebanyakan di pelengkapan foto-foto.

Malamnya, Karat latihan di Common Room. Ini adalah latihan pertama sejak terakhir satu bulan lebih Karat tidak latihan. Semua lagu lagu dihajar namun yang menarik, lagu-lagu Karat yang klasik menjadi perhatian utama. “Hampura Ma” dan “Hampura Ma II” secara serius digarap dan diaransemen ulang. Ada banyak penambahan waditra sejak lagu ini ditulis sehingga dibutuhkan aransemen ulang untuk membawakan lagu-lagu ini.

Usai latihan, Karat membicarakan urutan lagu di konser tunggal. Rencananya konser akan digelar dalam tiga sesi. Sesi pertama akan dimainkan lagu “Bubuka”, “Hampura Ma I”, “Dadangos Bagong”, Wasit Kehed”, dan ditutup “Burial Buncelik” yang rencananya akan berkolaborasi dengan Sony Akbar.

Sesi ke dua akan diawali pemutaran film dokumenter atau klip, dilanjut “Hampura Ma II” dan klip, “Ririwa di Mana-mana”, “Sia Sia Asa Aing”, “Gerbang Kerajaan Serigala”, “We Are The World”, dan ditutup kolaborasi dengan Bah Iwan Abdurrahman. Sesi ke tga akan dibuka dengan video dokumenter, penyerahan penghargaan kepada enam tokoh yang sangat berjasa kepada Karat selama ini, dilanjut lagu “Yaro”, “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol”, “Lapar Ma!” disambung dengan “Maap Kami Tidak Tertarik Pada Politik Kekuasaan” yang rencananya akan berkolaborasi dengan Iwan Fals, untuk sementara ini lagu yang dimainkan bersama lagu ini adalah lagu “Surat Buat Wakil Rakyat”. Konser akan ditutup oleh encore “Lagu Perang” dan “Kawih Pati.”

Dibicarakan juga para kolaborator lain, para musisi, tarian-tarian yang mengiringi konser Karat, konsep artwork, hingga bentuk penghargaan yang akan diberikan kepada para tokoh. Obrolan bergulir terus penuh hasrat, hingga tak terasa jam tiga pagi menjelang.

It’s time to take a rest baby…

10 PLAYLISTS JON 666 : Tarawangsa, The Beatles, Iwan Fals, Eddie Vedder, Guns n’ Roses, Black Sabbath, Led Zeppelin, Motorhead, Slayer, Napalm Death

BOOKS : Jurnal Karat, Karinding Attacks Ujungberung Rebels

MOVIES : Shutter Island

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s