JURNAL KARAT # 88, 30 September 2011, G30S/KARAT vs KICIMPRING ATTACK!

Posted: October 12, 2011 in Uncategorized

JURNAL KARAT # 88, 30 September 2011, G30S/KARAT vs KICIMPRING ATTACK!

Oleh Jon 666

24 September, Sabtu, Kekar di Braga Fest 2011

Simak penuturan Viki Rascal mengenai panggung Kekar di Braga Festival 2011,

Kali ini tiga band karinding yang selalu berlatih di Common Room kembali beraksi diatas satu panggung yang sama yaitu di Arena Sawah Braga Festival tanggal 24 September. Karinding Riot, Flava Madrim, Laras, Paperback, dan Karinding Attack mulai main jam tiga sore. Selain itu tampil Karinding Militan dan Awi Buhun dari Jatinangor.

 Jam setengah tiga sore Paperback sudah standby di venue yang sudah banyak orang yang tampaknya sudah ramai sejak pagi. Lokasi panggung Sawah ini berada di jalan Braga gedung Sarinah. Suasana yang disiapkan panitia sangat cocok dengan panggung yang dibuat persis saung bambu yang berada di tengah-tengah sawah. Tanaman padi yang ada dalam pot diatur pada sisi kiri dan kanan panggung dan bila kita melihat dari kejauhan maka akan tampak ada saung bambu di tengah sawah. Suasana yang dibangun sangat baik dan penonton duduk diatas kursi yang terbuat dari bambu pula.

Sayang suasana ini kurang ditunjang oleh kesigapan panitia. Namun tak ambil pusing kru Paperback langsung menata alat dan suara.  

Panggung pertama dipanaskan oleh Paperback dengan dibuka oleh intro lalu membawakan “Piquette”, “Till There Was You”, “Kelas Rakyat”, dan ditutup “Klab Dangdut Ciromed”.. Suasana pun panas meriah. Berdasarkan rundown setelah Paperback adalah Laras, namun penampilannya diseling Awi Buhun dari Jatinangor. Kelompok anak muda yang sangat bersemangat!

Seusai Karinding Awi Buhun, penonton semakin ramai. Berikutnya Laras tampil. Setelah sempat berkendala di biola, Laras segera tampil membawakan “Linger”, “With or Without You”, dan lagu sendiri “How Could it Be Girl” dan sukses memukau penonton. Berikutnya tampil adik-adik mereka yaitu Flava Madrim. Band karinding gadis-gadis cilik yang sangat berbakat. Man tampil menjadi MC sebelum penampilan Flava. Keberadaan Man disambut antusias audiens yang semakin ramai. Flava tampil membawakan tiga lagu “Sakola”, “Bulantok”, dan lagu barunya “Pekik”.

Berikutnya tampil Karinding Attackmembawakan “Burial Buncelik”, “Dadangos Bagong”, “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol”, “Lapar Ma!”, dan ditutup oleh “Maap Kami Tidak Tertarik Pada Politik Kekuasaan.” Sayangnya Karinding Attack sore itu tidak diperkuat Kimung karena ia harus hadir diacara konser tunggal Burgerkill di Stadion Siliwangi. Kimung di panggung itu digantikan Hadi Karinding Riot.

Berikutnya tampil Karinding Riot sementara antusiasme penonton terus naik. Karinding Riot berhasil memberi warna baru di acara sore itu dengan karinding punk rock growling itu. “Nu Gelo” adalah lagu yang pertama dibawakan, dilanjut “Nu Gelo Part 2”, “Terroris Generasi”, dan “W.A.N.I.”

Sebagai penampilan terakhir adalah Karinding Militan yang baru saja tampil di  ulang tahun Dahsyat RCTI minggu lalu. Sore ini Karinding Militan mengawali aksinya dengan “Bubukan” yang dilanjut oleh “Manunggaling Kawula Gusti”, “Nyunda Nepi Modar”, “Babatok Batu”, lalu satu lau baru yang ditujukan untuk insiden penghancuran patung-patung beberapa waktu lalu dan ditutup oleh lagu “Persib Militan.”

Sesi karinding di Braga Festival pun berakhir sore itu, terlihat banyak penonton terpuaskan dan banyak penonton yang mendapat pengalaman baru setelah melihat serangkaian pertunjukan karinding dengan konsep dan gaya yang berbeda-beda. Masukan untuk panitia Braga Festival adalah pengisi acara lebih diperhatikan, baik dari segi kenyamanan maupun dari segi konsumsi. Seharusnya panitia memikirkan keadaan pengisis acara dengan memberikan lokasi loading peralatan yang dekat dan mudah menuju venue jangan sampai pengisi acara harus meloading peralatannya jauh dari venue. Secara logis venue yang berada di depan gedung Sarinah lebih mudah dan cepat bila meloading peralatan di sekitar area jalan Naripan namun panitia tidak menyediakan lahan parkir yang khusus bagi pengisi acara sehingga merepotkan pengisi acara. Selain itu keberadaan panitia untuk membantu memenuhi kebutuhan pengisi acara seharusnya diperhatikan juga, ketiadaan LO dan panitia di venue membei kesan ketidak siapan panitia dalam mengolah suatu acara.

Sementara itu, di Stadion Siliwangi, Man berbincang dengan Fadly mengajaknya tampil bersama Karat di konser tunggal. Ajakan ini disambut baik oleh Fadly. Ketika bertemu Kimung di belakang panggung konser Burgerkill sesaat sebelum tampil bersama Burgerkill di “Tiga Titik Hitam”, Fadly juga mengutarakan hal yang sama. Ia bilang, jika ia juga sedang memesan ukulele Ayi, sama sepemesanan dengan Kimung. Ini tentu saja menggembirakan mengingat gairah pada ukulele juga ternyata sedang dirasakan Fadly. Kimung juga bilang jika ia dan Ayi sedang mengerjakan proyek musik bersama Paperback. Fadly menyimak penuh antusias. Ia bahkan menandaskan jika sekali-sekali ingin diajak untuk menggarap musik bersama jika memungkinkan. Ini tentu saja disambut baik oleh Kimung. Merupakan sebuah kebanggaan bisa bermain bersama vokalis terbaik di Indonesia ini. Dan akhirnya Fadly tampil. Benar-benar sebuah penampilan yang membuat bulu kuduk merinding.

Usai tampil, Fadly berkata jika sepanjang penampilan ia yang ia lihat semua hanyalah kelebatan-kelebatan keangangannya bersama Ivan Scumbag selama mereka bersama menggarap lagu “Tiga Titik Hitam”.

25 September, Minggu, Karat Mendukung Sarasvati di Jakarta

Kabar Karat mendukung Sarasvati di konser Jakarta mulai menyebar. Syauqi menelpon Papay meminta tiga atau empat musisi karinding bergabung. Untuk sementara ini Okid, Wisnu, Jimbot, dan Kimung akan mewakili Karat mendukung Sarasvati.

26 September, Senin,

Kimung, Papay, Wisnu, dan Ki Amek berkumpul di rumah Gustav In Suffer untuk menggarap ulang sampul buku Jurnal Karat. Sampul sebelumnya dinilai terlalu ramai. Konsep sampul yang digarap sekarang akan lebih minimalis. Awalnya beberapa alternatif imej yang akan dipasang di depan adalah foto panggung Karat di Plaza Dago, foto panggung Karat di Nu Substance 2011, dan foto panggung Karat di Bandung Death Fest III.

27 September, Karat di Majalaya

Hari ini, Karat diundang tvOne untuk tampil dalam acara kesenian penyambutan Mentri Perindustrian Republik Indonesia, M.S. Hidayat ke Sentra Industri Tekstil Majalaya, sebagai rangkaian kunjungan kerja revitalitasi permesinan bagi industri di Indonesia. Dalam kesempatan itu, Menteri M.S. Hidayat menyoroti kurangnya perhatian stakeholder daerah sampai pusat terhadap infrastruktur jalan di Sentra Industri Tekstil Majalaya, Kabupaten Bandung. Menurutnya, dengan nilai historis sebagai cikal bakal berdirinya industri tekstil di Jabar dan Indonesia, infrastruktur Majalaya harus lebih diperhatikan. Dulu Majalaya penuh dengan pelaku industri kecil dan besar di bidang tekstil yang berkembang ke daerah lain di Jabar dan di Indonesia secara umum. Namun, sekarang kita bisa lihat dukungan infrastruktur kurang diperhatikan dan dibenahi. Untuk itu ia juga menyampaikan dana bantuan subsidi 10% untuk pengusaha besar  untuk mesin impor, 17,5% untuk mesin buatan dalam negeri, dan 30% untuk industri kecil menengah (IKM). Dalam kesempatan itu hadir pula Direktur Jenderal IKM Kemenperin Euis Saedah yang berjanji akan membina IKM Tekstil di Majalaya untuk menjadi basis industri fashion Indonesia.

Segala bahasa retoris yang disampaikan oleh para pejabat itu dijawab dalam bahasa yang sangat realis oleh Karat, yang saat itu diwakili oleh Man, Hendra, Wisnu, dan Jimbot melalui sebuah lagu berjudul ”Kaki Industri.” Simaklah, “Gaji sebulan terasa pengap – Utang diwarung tak juga lenyap – Tidur kamipun tak pernah lelap – Di pabrik ini aku mengabdi – Teteskan keringat demi anak istri – Pasrahkan semua pada Illahi – Ini baktiku untukmu negri – Kami kaki industri!”

Man bilang lirik ini keprihatinannya atas nasib buruh di Indonesia yang sangat dimarjinalkan penguasa. Ia menilai penghargaan pemerintah atas nasib buruh di negeri ini masih jauh dan kepentingan pemerintah dinilai lebih berpihak kepada kaum kapitalis dan pengusaha ketimbang rakyat kecil kebanyakan. Kaum buruh yang hadir di acara itu bersorak ketika Karat memainkan lagu ini.

Sementara itu, sore hari, Kimung betemu Gio di markas Atap Promotion untuk membicarakan rencana peluncuran buku Jurnal Karat. Gio memperlihatkan presentasinya yang akan ia bawa ke pihak sponsor, dalam hal ini Djarum. Gio juga berbagi wawasan dengan Kimung mengenai format-format pengemasan acara peluncuran buku yang menarik melalui album foto di Facebook Pak Herman. Peluncuran buku Fully Booked di Bumi sangkuriang menjadi model pengemasan yang baik sebagai referensi.

28 September, Rabu, Draft Digital Pertama Buku Jurnal Karat Selesai!

Hari ini koreksi total penataan letak buku Jurnal Karat di rumah Popup. Terjadi kendala ketika buku akan dibukletkan. Entah kenapa program menolak perintah dan selau diakhiri dengan error. Popup mengira ini karena ukuran foto yang terlalu besar dan dikompres paksa ke dalam bidang tata letak. Pun dikonversi ke format pdf pun program terus menolak. Akhirnya setelah diperbaiki beberap foto yang keluar bidang tata letak, proses konversi data ke bentuk pdf bisa dilakukan, namun tidak dalam bentuk buklet. Ini tentu saja menyesakkan mengingat untuk mencetak naskah dengan format print seperti ini menghabiskan dana dua kali lipat ckckck…

Namun akhirnya pdf Jurnal karat dibawa ke Tirta Anugerah untuk dicetak. Jam tiga sore, dalam waktu singkat proses cetak naskah selesai, tinggal mengambil data sampul. Kimung lalu bergegas ke Common Room untuk mengajak siapa pun di sana mengatarnya mengambil data sampul di Gustav. Untunglah Yuki hadir di sana. Sebenarnya ia sedang menugngu Presiden Gaban untuk survey hotel. Namun karena tak kunjung tiba kabar dari Pak Presiden akhirnya ia mau mengantar Kimung ke Gustav. Di kediaman Gustav, hadir juga Zemo.

Disain sampul yang ini jauh lebih baik dibandingkan dengan disain sebelumnya. Gustavo menata dengan minimalis namun pas! Agak terlalu gelap, namun ini bisa diperbaiki. Great great artwork bro! Jam setengah lima sore rombongan kembali ke Common Room. Karena Kimung secepatnya harus rapat dengan Common Room, pembuatan dummy lalu dipercayakan kepada Zemo. Zemo bilang dummy akan jadi besok pagi.

29 September, Kamis, Dummy Jurnal Karat Selesai, Survey Hilton / Panghegar, dan Kicimpring Attack!

Akhirnya dummy pertama buku Jurnal Karat jadi! Terima kasih kepada Zemo yang sudah membantu proses pembuatan dummy ini. Saya kira buku setebal 446 halaman ini akan menjadi buku Ujungberung Rebels lainnya yang sangat berharga bagi siapa pun, amiin ^^ Antusiasme yang saya rasakan sepertinya dirasakan juga oleh kawan-kawan yang hadir sore itu di Commmon Room. Semoga ini menajdi awal yang baik bagi Jurnal Karat, amiin.

Hari ini Flava berencana syuting untuk salah satu tivi internet. Sayang Kimung tidak bisa mendampingi Flava karena harus mendampingi Gio dan Ardi dari Atap untuk survey hotel untuk pergelaran konser tunggal Karat.

Sebelum survey, rombongan singgah pertama kali di SMA 9 Bandung di mana terdapat komunitas karinding juga di sana, serta band mereka, Karinding Sembilan. Tentu saja sangat membanggakan bisa berada di sana bersama adik-adik yang sangat bersemangat dalam mengeksplorasi karinding. teknik permainan mereka juga sudah baik. Karinding sudah dimainkan dalam nada dan frekwensi yang bagus. Yang paling menonjol adalah pemain celempung yang bisa memainkan waditra ini dengan sangat baik. Salut untuk adik-adik di SMA 9 Bandung! Terus berkarya!

Perjalanan lalu diteruskan ke hotel pertama : Hilton. Hotel ini memiliki penataan yang sangat baik. Ballroomnya ada tiga dan bisa disewa semua. Disain interiornya yang terbuat dari akrilik dan membentuk figur pohon-pohon sudah sangat pas dengan konsep Karat. beberapa hal teknis juga dibicarakan Gio dengan pihak manajemen Hilton sebagai referensi untuk penggunaan ruang nantinya. Di tengah jalan, ada inspirasi dari tukang kicimpring untuk membuat bisnis makanan berlabel “Kicimpring Attack.” Ide spontan yang dilontarkan Ardi ini disambut antusias Kimung, Man, dan Gio. Sebagai tahap awal,  “Kicimpring Attack” diusahakan akan hadir di peluncuran buku Jurnal Karat.

Setelah mengantar Kimung kembali ke Common Room, rombongan Man, Gio, dan Ardi kembali meneruskan perjalana  ke Hotel Panghegar. Hotel ini memiliki lobby yang sangat bagus, namun untuk ruang, masih kalah tipis dengan Hilton. Namun demikian banyak sekali minus dan plus dari dua hotel ini yang bisa menjadi pegangan.

Usai survey, semua berkumpul di Common Room, kini plus Yuki yang diundang untuk bersama menggarap disain gimmick peluncuran buku Jurnal Karat. Beberapa konsep peluncuran buku dibicarakan, namun intinya ini harus mengerucut ke Kimung dan Jurnal Karat—jangan sampai terjebak di ranah Karinding Attack. Beberapa ide bergulir sambil ngadu bako. salah satunya adalah membuat instalasi manekin berwajah Kimung semua di sekitar tempat peluncuran buku. Untuk menunjang konsep, maka besok Yuki dan Ardi berencana akan survey tempat-tempat untuk peluncuran buku.

30 September, Jumat, Riot on TV & G30S/Karat : Rapat Pergerakan

Sepanjang siang ini, Yuki dan Ardi berkeliling survey tempat untuk peluncuran buku Jurnal Karat. dua tempat yang diproyeksikan di awal : Unpasd an Unpar, tereliminasi. Unpar karena tak bisa ada sponsor rokok masuk, sementara Unpas karena kurang bisa mendukung konsep yang dibuat. Dua tempat yang kemudiandikerucutkan adalah UPI dan STSI.

Common Room hari ini semenjak sore hingga malam terus menerus penuh. Pukul lima sore Karinding Riot dan Kelas Karinding hadir di Common Room untuk syuting salah satu tivi internet. Syuting ini awalnya juga akan dilakukan kemarin dengan artis Flava Madrim. Namun karena reporternya terlambat, makahanya sesi hari ini yang terekam. Lancar semua!

Malamnya, jam tujuh malam Papay—kini menjadi penabuh dram Sarasvati selama Sherry di Jerman—mewakili Karat untuk menggarap aransemen lagu-lagu yang nanti akan dimainkan tanggal 22 Oktober di Istora Senayan. Tiga lagu yang akan dimainkan adalah “Zamrud Khatulistiwa”, “Chopin Larung”, dan “Sendu.” Sayang Karat yang akan tergabung dalam proyek ini masih belum bisa berkumpul bersama. Namun Risa berjanji akan merekamkan tata lagu untuk dipelajari Karat.s emoga sesi berkutnya Karat sodah akan bisa bergabung.

Sementara itu, di Common Room, setidaknya ada tiga gelombang kawanan Ujungberung Rebels yang hadir malam ini. Gelombang yang ke satu adalah kawanan Gugat yang malam itu akan manggung di Rogers Café bersama Godless Symptons. Gelombang ke dua dari Bandung Death Metal Syndicate yang malam itu berkumpul akan melakukan rapat koordinasi acara Bandung Death Fest V, dan yang ke tiga dan paling sedikit adalah para personil Karat, minus Papay yang harus brifing bersama Sarasvati, serta Okid yang harus manggung bersama Gugat. Setelah membuka rapat Bandung Death Fest V di ruang bawah Common Room, Man segera menyusul Karat yang lain ke lantai atas untuk pertemuan internal Karat. Agenda malam ini tiga hal yang dibahas berkaitan dengan perilisan buku Jurnal Karat, penyelesaian album, dan konser tunggal.

Antusiasme kepada buku terlihat sejak pertama kali dummy ini jadi dan diperlihatkan kepada Karat dan kawan-kawan. Antusiasme juga terus dirasakan ketika rapat. Yuki yang menjadi penanggung jawab acara ini memberikan laporan jika dari empat kampus yang rencananya akan menjadi tempat peluncuran buku, dua di antaranya tereliminasi. Unpar dipastikan tak bisa karena sponsor rokok tidak boleh masuk. Unpas tidak memungkinkan karena untuk konsep yang sudah dibuat, kondisinya kurang memadai. Yang paling memungkinkan adalah Gedung Ampli UPI dan Gedung Sunan Ambu STSI.

Waktu juga akan kembali diundur, tidak bisa dilakukan tanggal 8 Oktober karena persiapan yang sangat mepet. Rencananya sekitar tanggal 17 sampai 24 Oktober adalah waktu yang paling mungkin. Sementara itu untuk gimmick, Man memberikan ide untuk membuat Kim’s Dolls 100% ukuran tubuh Kimung dengan berbagai pose sepanjang masuk dari gerbang menuju arena gedung—termasuk juga boneka Kimung yang akan memegang tiga buku pertama Kimung. Jimbot juga memberi ide untuk membuat sebuah prosesi tarian yang merefleksikan buku Jurnal Karat. Tarian ini dikondisikan di pembukaan atau jeda antar sesi.

Pembahasan selanjutnya adalah album. Untuk album Karat menganggarkan proses miksing dan mastering akan kembali dilakukan di Studio Massive oleh engineer Innu Regawa dengan dana sekitar tujuh juta rupiah. Sementara itu, untuk duplicating dank aver, Karat menganggarkan sembilan juta rupiah. Untuk artwork, Karat akan digarap oleh Gustav, sementara layout oleh Man Jasad. Setidaknya, karat butuh dana sekitar 16 juta untuk sampai ke tahap penyelesaian album. Beberapa hal yang diproyeksikan untuk membantu pendanaan penggarapan album adalah penjualan pernak-pernik Karat  dan bantuan dari Common Room. Selain itu sumber dana dari panggung dan rencana jingle iklan juga terus digodok Karat. Untuk rekaman yang tersisa, “Rajah” dan jingle akan dilakukan di Studio Extend. Hmmm…

Pembahasan terakhir adalah mengenai konser tunggal, sepertinya tak akan terealisasi tanggal 11 November 2011 karena persiapan yang belum matang. Namun tempat sudah disepakati untuk diajukan, yaitu Hotel Hilton. Beberapa hal lain yang disoroti malam ini adalah mengenai makanan dan pengemasan ketika konser tunggal, rencana press release di Jakarta, dan mengenai kolaborator. Di sesi ini Karat ternyata mengkristalkan keinginan mereka untuk berkolaborasi dengan Ambu Ida, Waljinah, Sujiwo Tejo, dan Slamet Gundono yang dikerucukan ke dalam satu sosok muda yaitu Dewi Gita. Ini bagi saya keputusan yang membingungkan, mengingat fokus awal kolaborasi hanyalah dengan Ambu Ida saja. Ini pun tujuannya untuk mengangkat lagu-lagu akar musik Sunda kini, atau kidung-kidung Sunda klasik. Namun Dewi Gita akhirnya disetujui. Sementara itu kolaborator Abah Iwan dan Sony Akbar tetap bertahan.

Pembahasan kolaboratos dari artis arus utama juga membingungkan. Tiba-tiba muncul dua nama Syahrini atau Mulan Jameela yang akan menjadi dua kolaborator Karat. saya pribadi sangat tidak setuju dengan dua sosok ini. Syahrini jelas bukan satu sosok yang bagus buat Karat. ia besar karena kontrversi, ia bahkan belum punya album. Sosok ini bukan mencerminkan musisi yang serius dalam berkarya. Sementara itu, saya sangat menggemari Mulan Jameela. Ia mungkin bisa menjadi sosok yang pas dan Man juga bilang jika ia sudah memiliki kontak pribadi dengan manajemen Mulan. Kimung juga dulunya tetanggaan ketia Mulan masih tinggal bersama suami pertamanya di Cijerah. Putri Mulan bahkan sering main bareng di lapangan bersama Atar, putranya Kimung. Mulan adalah penyanyi yang sangat ekspresif dan ia barang kali bisa menjadi sosok yang pas dengan Karat. Namun Mulan belum mencapai taraf sebuah pride yang sama dengan Karat. Masih banyak musisi lain yang memiliki satu pride yang sama atau setidaknya sejalan dengan Karat dalam gelombang musik dan berbagai hasratnya.

Kimung lalu mengusulkan Iwan Fals yang disambut bimbang oleh Karat. Iwan Fals memang musisi yang mahal. Namun pride beliau tentu tak diragukan. Iwan Fals tampil begitu nyata kesederhanaannya dan judtru di sanalah ia membangun kekuatan karakternya yang membumi. Kesederhanaan, kekuatan, dan hal yang membumi ini juga terpancar dari Karat. bedanya hanya maslaah usia saja. Jika dua musisi ini berjodoh, saya sangat yakin mereka akan menghasilkan satu konsep musik yang sangat kuat! Hingga rapat usai, kebimbangan Iwan Fals atau Mulan masih menggantung. Sebuah kesepakatan terjadi di MC. Ketika man mengajukan nama Tina Talisa, Yuki nyeletuk, “Meriam Bellina juara mah hehehe…” Celetukan ini lalu disampaikan oleh Kimung dan segera saja disambut oleh Ki Amenk dan karat yang lain. Karat juga mengusulkan Advent Bangun untuk mendampingi Meriam Bellina.

Pembahasan lalu bergulir ke masalah produksi yang sifatnya teknis, seperti fee, kostum, penari untuk “Kawih Pati” dan pendukung penampil konser tunggal, undangan, cinderamata berupa karinding dan piala penghargaan untuk beberapa pihak yang akan menerimanya, publikasi media massa, dan penggarapan lagu “We Are The World.”

Usai rapat Karat, Kimung dan Yuki berbincang mengenai konsep peluncuran Jurnal Karat. dalam perbincangan itu, sepertinya UPI akan menajdi tempat peluncuran buku. Gedung Ampli yang luas dan dilengkapi berbagai prasarana sepertinya akan bisa menampung konsep Yuki. Dalam perbincangan itu disepakati beberapa poin, yaitu kaos panitia, mengganti Kim’s Dolls dengan bebegig-bebegig raksasa, zine sebagai press release, LCD di luar arena, gerbang bamboo dengana rtwork tengkorak serigala, jajanan lembur untuk konsumsi. Yuki juga memproyeksikan acara di Gedung Ampli, sementara itu ruang sebelah gedung diproyeksikan untuk pameran foto, display buku, spot Ujungberung Rebels, dan spot media.

Bismillah, semoga semua lancar, amiin…

10 PLAYLISTS JON 666 : Tarawangsa, The Beatles, Iwan Fals, Mulan Jameela, Syahrini, Burgerkill, Iwan Abdurrahman, Michael Jackson, Padi, Peterpan

BOOKS : Jurnal Karat, Karinding Attacks Ujungberung Rebels

MOVIES : Resident Evil

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s