JURNAL KARAT # 87, 23 September 2011, G 30 S/KARAT

Posted: October 12, 2011 in Uncategorized

JURNAL KARAT # 87, 23 September 2011, G 30 S/KARAT

17 September, Sabtu, Cek Tata Letak Buku Jurnal Karat sampai Halaman 85

Sabtu ini sejak pagi secara geilya Kimung melakukan cek penataan letak buku Jurnal Karat setelah sehari sebelumnya data Page Maker ia dpatkan dari Popup. Beberapa catatan koreksi pagi itu ada di halaman 13 (foto Karat degan Budi Dalton), halaman 22 (foto atau poster Karat di CCF), halaman 23 (caption), halaman 32 (foto re-retouch Karat di Bandung Death Fest III), halaman 33 (foto Karat di Kendang Penca on the Street), dan halaman 35 (foto Karat di Bandung World Jazz 2009). Setelah, cek tata letak kembali dilakukan Kimung malam harinya dengan koreksi halaman 40 (foto kolase Karat), halaman 60 (caption), halaman 66 (caption), dan halaman85, 85 (caption). Kimung juga mencatat jenis fonetik yang hilang dan harus segera menyalin dari data komputer Popup, yaitu 74, Megadeth, Periodmu, Rakrta, Humanst 531 BT, Humnst 777 Lt.BT, dan Jaguar Jc.

http://www.harleyradioshow.com/category/berita/feed/podcast

18 September, Minggu, Cek Tata Letak Buku Jurnal Karat sampai Halaman 259 dan Disain Sampul Fiks

Cek tata letak kembali dilakukan Kimung sejak jam enam pagi dengan koreksi halaman 82 dan 83 (blank pages), halaman 87 (caption), halaman 89 (foto Mang Engkus), halaman 92 (foto Karat di Sekolah Cendekia Muda), halaman 77 (foto Karat di MTV), halaman 107 (re-retouch foto), halaman 132 (foto Ilva), halaman 134 (foto Andra), halaman 147 (foto Cicalengka Crew), halaman 151 (re-retouch Karat di Nu Substance), halaman 161 (foto Karat di FSRD), halaman 167 (foto Karat dengan Angklung Smansa), halaman 197 (format 10 Playlists), halaman 205 (foto Karat di tvOne), halaman 209 (foto Karat dan Giri Kerenceng), halaman 212 (caption), halaman 220 (re-retouch Karat di Pasar Seni ITB), halaman 237 (caption Karat di Cireundeu), halaman 254 (artwork Karat with Illuminators).

Rehat koreksi, Kimung segera menuju rumah Gustav di kawasan Antapani untuk melihat hasil disain sampul buku Jurnal Karat. sungguh sebuah kerja disain yang menakjubkan dari Gustav! Salut Mangs! hanya saja di bagian sampul belakang, Kimung sudah kadung jatuh cinta pada disain milik Man sehingga ia meminta Gustav menata ulang disain belakang sesuai dengan hasil awal Man. Gustav menyanggupi dan mereka berjanji bertemu esok harinya. Malamnya, Kimung segera mempublikasikan disain sampul depan buatan Gustav di Facebook, Tumblr, dan Twitter. Kimung juga smsan dengan Viki untuk meminjam notebook Viki selama di Common Room dan Studio Massive selama pengerjaan koreksi tata letak naskah buku Jurnal Karat. Viki dan Kimung mulai propaganda #G30S KARAT di Twitter.

19 September, Senin, Paperback Session in Common Room

Paperback latihan persiapan penampilan mereka di Blue Sky Meeting Rumah Cemara tanggal 21 September dan Bragafes tanggal 24 September. Hari ini karena berbagai kesibukan, Kimung urung melakukan koreksi tata letak naskah, padahal Viki sudah menyiapkan notebooknya di Common Room untuk digunakan Kimung.

Sementara itu, untuk persiapan besoknya rekaman live, Karat sepakat untuk latihan di Comon Room malam ini. Namun karena beberapa personil tak hadir, maka Karat hanya berbicang saja di Common Room. Malam ini Karat juga didatangi kawan-kawan dari Cililin yang memproduksi celana loreng Karat. mereka meminta izin produksi seraya meberikan lima contoh celana yang akan diproduksi. Semua yang hadir kebagian celana baru Karat malam itu.

20 September, Selasa, Selasa, Live Massive Recording Session

Cek tata letak kembali dilakukan Kimung sejak jam enam pagi hingga jam 10.30, dengan koreksi halaman 284 (foto Bandung Drums Day), halaman 292 (foto Sakarat), halaman 307 (foto Sakarat di Sabuga), halaman 321 (foto para pelukis cantik kolaborator Karat), halaman 325 (foto Karat dan Bah Oyon), halaman 327 (foto lukisan kolaborasi Karat dengan para pelukis cantik), halaman 331 (foto Flava Madrim bersama Man), halaman 365 dan 367 (foto kolase rekaman Karat), halaman 373 (disain Playlist), halaman 370 (foto Karat dan Gugat di Bandung Berisik V). Sampai sini koreksian tata letak naskah bisa dikatakan selesai, tinggal melengkapi berbagai foto yang belum lengkap. Hari ini Karat merekam live ”Lagu Perang” dan ”Kawih Pati” di Studio Massive. Karena itu, Kimung meminjam notebook Viki untuk digunakan koreksi foto di sela-sela rekaman Karat.

Rekaman hari ini Karat banyak yang terlambat datang. Yang datang sesuai jadwal adalah Viki, Ghera, dan Yuki. Kimung menyusul datang jam sebelas siang, disusul lagi oleh Ki Amenk, Wisnu, Man, Papay, dan kemudian Jimbot. Setelah semua lengkap, rekaman dimulai. Sistemnya adalah rekaman semi live di mana, sesi pertama celemoung, gong tiup, suling, dan vokal direkam. Sesi ke dua baru karinding Ki Amenk dan Wisnu yang direkam. Di sela-sela persiapan, Karat sempat menggarap dasar-dasar hentakan musik untuk jingle iklan. Dalam waktu singkat celempungan dan karindingan lagu singkat ini terumuskan dan jika ada waktu akan direkam usai ”Kawih Pati.”

Waktu rekaman molor parah dari jadwal semestinya : baru jam 14.30 Karat mulai merekam lagu pertama : ”Lagu Perang” atau sering disingkat ”Laper”. Tak banyak kendala di lagu pertama yang diciptakan Karat ini. Hanya dua putaran rekaman Karat merasa sudah selesai dengan ”Laper”. Namun Innu menyarankan untuk mengulang lagu ini karena ada beberapa bagian yang turun naik secara emosi dan juga kurang kompak. Maka Karat kembali memainkan ”Laper” dan di take ke lima barulah terpilih dasar celempung, gong tiup, suling, dan vokal yang nanti melatari karinding.

Jam 15.26 rekaman celempungan ”Kawih Pati” dimulai.  Sesi pertama tiga kali take lagu ini masih belum terasa cocok di pola cemempung. Lagu terasa terlalu panjang—delapan menit!—dan ini dirasa kepanjangan untuk dimasukkan ke dalam album. Ada wacana untuk menyingkat ”Kawih Pati” hanya sampai setengah bagian lagu. Namun para pemain celempung dan juga Okid tak bergeming. Mereka ngotot bermain sesuai versi karena memang berbeda emosi hentakan bagian awal lagu dengan bagian ke dua. Setelah tiga kali rekam, Karat sepakat untuk rehat.

Sementara celempung rekaman, duet maut karinding ki Amenk dan Wisnu terus berlatih di gazebo Studio Massive membangun pola-pola karinding untuk dua lagu hari ini. Wisnu masih terus fokus di pola permainan yang panjang-panjang dan bergulung, sementara Ki Amenk mengeksplorasi pola permainan karinding patah-patahnya Hendra. Namun di mulut Ki Amenk, pola permainan ini tiba-tiba berkembang semakin eksploratif. Mantaps!

Sesi ke dua mulai jam 17.28, kini celempung semakin solid polanya dan karena tak kompak-kompak diakhir tiap sesi, Kimung memutuskan untuk memberikan aba-aba di satu ketukan terkahir. Di take ke empat akhirnya terumuskanlah pola celempungan ”Kawih Pati”. Namun kini yang bermasalah adalah suling. Entah kenapa suling Jimbot tak kena ruh nya. Karena itu maka Jimbot memutuskan untuk tidak ikut ke sesi rekaman celempung. Ia akan merekam di sesi khusus usai take celempung. Sekali lagi take celempung, dalam sekali proses Karat selesai merekam pola celempung dan gong tiup.

Sesi ke tiga dimulai jam 19.33, merekam suling Jimbot berbarengan dengan guludug dan awi cai yang dimainkan Yuki. Prosesnya lumayan cepat hingga akhirnya sesi berikutnya, rekaman karinding Ki Amenk dimulai 20.00. Lagu pertama yang direkam adalah ”Kawih Pati”. Tak banyak kendala berarti di lagu ini, terutama karena para pemain karinding memang sidah sangat siap merekam permaian mereka. Lagu berikutnya yang direkam adalah ”Laper”, pukul 20.45, dan selesai hanya sekali rekam saja. luar biasa Ki Amenk! Untuk cadangan, Ki Amenk merekam ulang pola karinding ”Laper”. Pukul 21.00 giliran Wisnu masuk studio. Seperti ki Amenk, tak banyak kendala dihadapi Wisnu dalam merekam ”Kawih Pati”. Setelah masuk lagi jam 21.30 untuk merekam ”Laper”, proses rekaman karinding usailah sudah.

Masuk jam sebelas malam, rekaman vokal latar dan instrumen lain dimulai. Jam satu dini hari semua pross rekaman hari ini usai sudah. Alhamdulillah.

Sementara itu catatan koreksi buku Kimung sepanjang hari ini adalah halaman 136 (foto kolase tarian ”Hampura Ma II”), halaman 161 (foto kolase Karat dan FSRD), halaman 307 (foto Sakarat), halaman (foto Achie Gugat  dengan Sakarat), halaman 325 (foto Karat dan Bah Oyon), halaman 327 (foto lukisan klaborasi Karat dengan para pelukis cantik), halaman 365 (kolase foto rekaman), halaman 373 (disain playlist), dan halaman 370 (foto Karat dan Gugat di Bandung Berisik V). Semangat, hajar terus!

21 September, Rabu, Karat dan Jurnal Karat berkolaborasi degan Djarum!, Paperback di Rumah Cemara & Koreksi Naskah Jurnal Karat

Akhirnya setelah beberapa kali tertunda Karat yang diwakili Man dan Kimung, dengan didampingi Gio dari pihak Atap Promotion, bisa menemui Pak Herman, direktur Djarum Jawa Barat. Pertemuan ini untuk memperkenalkan diri secara lebih khusus dan membicarakan konsep konser tunggal Karat yang rencananya digelar November 2011. Pak Herman memang sudah mengenal Karat melalaui beberapa acara yang ia garap dan berkaitan dengan Karat dan Ujungberung Rebels seperti konser Mancawarna Sarasvati, Bandung Berisik V, Art of Motion, dan yang sedang ia garap sekarang adalah konser tunggal Burgerkill Venomous Alive. Namun secara pribadi Karat belum berkenalan dengan Pak Herman.

Pak Herman adalah sosok yang sangat bersemangat ia banyak bercerita pengalaman-pengalamannya dalam atmosfir perbincangan yang akrab. Khusus untuk konser tungal Karat ia menekankan beberapa hal yaitu konser harus diadakan di tempat yang eksklusif. Maksudnya ingin menunjukkan jika karinding juga bisa masuk ke ranah seni pertunjukan yang jetset dan terkemas. Beberapa tempat yang ia sarankan adalah Hotel Hilton, Hotel Panghegar, dan Hotel Preanger. Selain tempat, panggung juga harus ditata seluar biasa mungkin sehngga ketika orang masuk ke dalamnya bisa langsung terpana dengan penataan yang dibuat.

Mengenai artis kolaborator, Pak Herman juga meminta menambah satu artis nasional yang bisa mendukung penampilan Karat selain para artis kolaborator yang diajukan. Ini penting untuk Karat bisa keluar dari kotak komunitas dan masuk ke ranah pergaulan yang lebih luas lagi. Satu hal terakhir adalah pesan Pak Herman bahwa konser ini harus didokumentasikan. Ia lalu bercerita mengenai begitu penting arti dokumentasi bagi perjalanan hidup manusia karena ini akan sangat berguna di kemudian hari. berkaitan dengan dokumentasi Man lalu nyeletuk bahwa Karat memang sedang mendokumentasikan perjalanannya dalam bentuk buku dan film.

Mendengar ini Pak Herman tambah bersemangat. Serta merta ia meminta Kimung dan Man untuk menceritakan hal ini lebih jauh. Mendengar pemaparan Kimung mengenai rencana penerbitan buku, Pak Herman menyambutnya dengan mendukung upaya penerbitan dan perilisan buku Jurnal Karat. Ini tentu saja dinamika yang sangat tidak disangka-sangka dan tentunya sangat menggembirakan. Mendukung perbincangan mengenai buku dan dokumentasi, Pak Herman memberikan sebuah buku yang sangat berharga berjudul “Kretek” kepada Kimung. Untuk proyek peluncuran buku, Pak Herman langsung menunjuk Gio membantu segala hal yang berkaitan dengan perilisan buku Jurnal Karat. Untuk waktu, Pak Herman meminta Kimung mengundurkan waktu perilisan karena tanggal 30 September akan terlalu mepet. Kimung menyatakan bisa diundur hanya jangan terlalu lama karena sepanjang buku belum selesai, bobot halaman dalam naskah akan terus bertambah dan ini tentu akan membuat buku semakin tebal. Akhirnya disepakatilah acara akan digelar tanggal 7 atau 8 Oktober 2011.

Perbincangan lalu diteruskan ke suasana yang lebih cair, terutama berkaitan dengan pentingnya dokumentasi, tentang Bang Faiz, tentang nasionalisme dalam rokok dan berbagai hal yang tentunya sangat menggugah. Sayang waktu semakin menggelincir menuju sore dan Karat serta Gio harus pamitan. Pak Herman juga memberikan CD pengemasan pertunjukan yang pernah ia garap kepada Man dan mengantar semua hingga ke pintu depan. Beanr-benar sebuah pertemuan yang akrab.

Usai dari Man, Kimung, dan Gio melanjutkan berbincang rencana perilisan buku Jurnal Karat di Rumah Makan Cikawao 9 Stasiun Bandung. Beberapa hal yang disepakati adalah jadwal peluncuran buku sekitar tanggal 7 atau 8 Oktober 2011, di STSI Bandung atau Unpas Setiabudi. Disepakati harus ada gimmick yang baik dalam perilisan buku ini. Berbagai rencana digulirkan, namun akhirnya rencana mengerucut ke ide Gio. Ia membayangkan akan membuat buku-bukuan besar di mana nanti diakhir acara Kimung akan keluar dari “buku” tersebut dan mempersembahkan buku kepada ibu dan istrinya.

Alur acara dirumuskan terdiri dari dua sesi. Sesi pertama akan dibuka dengan penampilan Karat (diusahakan tanpa Kimung), talkshow antara Mang Budi Dalton dari kelompok kasundaan dan Addy Gembel atau Eben atau  Yulli dari Ujungberung Rebels, dengan moderator Ilva atau Gustaff, ditutup dengan pemutaran film dokumenter Jurnal Karat durasi lima menit karya Kapten Jek dan Kimung. Sesi kedua akan menampilkan pidato kenegaraan dari Presiden Republik Gaban Man Jasad dan Imam Besar Republik Panas Dalam Pidi Baiq. Sehabis itu ke dua kepala Negara akan menarik “buku” yang diset menggantung di atas dan dari dalam “buku” itu keluar Kimung mempersembahkan buku Jurnal Karat betulan kepada berbagai pihak. Ini sekaligus menutup acara perilisan buku Jurnal Karat tersebut.

Jam lima sore, pertemuan usai dengan rencana ke depan pembuatan dummy buku Jurnal Karat dan pengajuan anggaran buku untuk 250 eksemplar pertama yang akan dirilis nanti. Ini akan diusahakan hari Jumat sehingga setelah konser tungal Burgerkill Venomous Alive usai, rencana perilisan buku bisa langsung masuk ke meja Pak Herman melalui perantara Gio

Malam harinya, Paperback manggung di acara Blue Sky Meeting. Acara ini digelar oleh Rumah Cemara bekerja sama dengan lembaga pendonor Allience Asian and Eastern Europe. Blue Sky Meeting diikuti oleh 28 partisipan yang berasal dari sembilan negara yaitu Indonesia, Ukraina, India, Cambodia, Bangladesh, Inggris, Filipina, Thailand, Mongolia. Indonesia diwakili oleh Rumah Cemara. Acara dimulai dari tanggal 19 September 2011 membicarakan fokus masalah HIV AIDS. Cerita-ceritanya klik di http://paperback666.tumblr.com/post/10629234748/paperback-di-blue-sky-meeting

Di Common Room Kimung langsung menemui Viki dan Okid yang tengah menonton klip dan video konser band Seattle Malaikat dan Serigala yang rencananya akan manggung di Common Room tanggal 10 Oktober 2011. Hahaha benar-beanr sebuah band yang penuh impresi. Band ini semua orang Amerika, namun mereka bernyanyi dalam bahasa Indonesia. Seketika itu juga Okid dan Kimung jatuh cinta pada band grunge ini. Malaikat dan Serigala juga meminta Karat untuk tampil bersama mereka di Common Room, sementara Okid berkeinginan mengajak jam session malaikat dan Serigala bersama Karat di panggung nanti. Hmmm semoga bisa terlaksana, amiin!

Habis menonton Malaikat dan Serigala, sementara Paperback melakukan evaluasi, Kimung, Okid, dan kru Karat berkumpul di meja kotak dan kursi raja pelataran Common Room mengenai dinamika yang terjadi di dalam tubuh Karat hari ini. Dimulai dari kabar gembira mengenai dukungan Djarum untuk buku Jurnal Karat dan konser tunggal Karat, segala hal yang diobrolkan tadi siang antara Man, Kimung, Gio, dan Pa Herman yang disambut antusias oleh semua yang hadir. Perbincangan bergulir ke beberapa panggung potensial yang Karat tak jadi tampil di sana karena beberapa maslah teknis, padahal Karat dan juga panitia penyelenggara menghendakinya. Dalam hal ini Okid menyarankan agar Karat mulai berpikir untuk mencari manager atau setidaknya agen yang sungguh mengupayakan panggung-panggung yang berkualitas dan bervitamin untuk Karat secara keseluruhan.

Okid juga mengabarkan beberapa panggung potensial lain seperti panggungbersama Abah Iwan dan Ayu Laksmi tanggal 23 Oktober 2011 di mana Karat juga dijadwalkan sepanggung dengan mereka, serta panggung ajakan Sarasvati di konser Guruh Soekarnoputra dan Keenan Nasution. Panggung-panggung ini semua akan menambah khazanah cara berpikir Karat dan menjadi bekal di kemudian hari. Harapannya tak ada cela dari internal Karat sehingga pondasi yang dibangun Karat akan semakin solid dan kokoh. Perbincangan itu juga menghimbau Karat untuk terus menjaga hubungan setiap personil di jaringan sosial agar selalu mawas diri dalam membagun tata kehidupan yang lebih baik dan menjaga setiap jiwa dalam diri Karat untuk tidak takabur dan menjadi besar kepala.

Usai perbincangan, jam setengah satu dini hari, dengan ditemani alunan gitar David, karinding Wisnu, dan nyanyian Zemo, Kimung meulai lagi koreksi naskah Jurnal Karat. Bekerja di laptop yang dipinjamkan Viki, ia bekerja dari jam setengah satu dini hari hingga jam setengah enam pagi. Koreksi mencakup halaman 136 (foto kolase tarian ”Hampura Ma II”), halaman 161 (foto kolase Karat di FSRD ITB), halaman 307 (foto Sakarat), halaman 309 (foto Achie bersama Sakarat), halaman 325 (foto bah Oyon), halaman 327 (foto lukisan kolaborasi Karat dan para pelukis cantik), halaman 365 (kolase foto rekaman Karat), halaman373 (edit disain Playlist), dan halaman 370 (foto Karat dan Gugat di Bandung Berisik V). Kimung langsung pergi ke sekolah tanpa tidur lagi pagi itu.

22 September, Kamis, Latihan Flava

Flava semakin menunjukkan kualitasnya! Latihan empat lagu kali ini semakin lancar. ”Just Dance” dimainkan lebih baik dengan menghilangkan sesi ”Chaiyya Chaiyya”. Sesi ini awalnya mau menggarap karinding yang lebih detil, namun karena persiapan panggung Bragafes 2011, Flava lebih fokus dulu ke persiapan panggung. Minggu depan agendanya penggarapan lagu ”Koruptor” dan”Si Olo-olo”.

23 September, Jumat,

Kimung menemui Mang Dedi untuk menyelesaikan pesanan karinding bernadanya. Pagi itu sambil ngalor ngidul ngadu bako bersama Kimung, Mang Dedi, dan Mang Ibenk, karinding bernada selesai di nada A, B, D, G, dan E. Tinggal nada C dan F yang belum tergarap. Cumming up baby!!!

Malamnya, Karat berkumpul di Common Room, namun lagi-lagi personil tak lengkap. Penegasan program kerja buat konser tunggal harus segera dilakukan!

10 PLAYLISTS JON 666 : Tarawangsa, The Beatles, Eddie Vedder, Gita Gutawa, Carcass, Motley Crue, Guns n’ Roses, Sting, Velvet Underground, Karat

BOOKS : Naskah My Stupid Thinking by Zamilah Madrim, Kretek pengantar oleh Pramoedya Ananta Toer

MOVIES : The Beatles Antology 1 – 8

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s