JURNAL KARAT # 83, 26 Agustus 2011, MAN JASAD BERSAMA PASUKAN KARINDING RAWK ART OF MOTION DAN BERBAGAI RENCANA KONSER TUNGGAL KARAT

Posted: August 28, 2011 in Uncategorized
Tags:

JURNAL KARAT # 83, 26 Agustus 2011, MAN JASAD BERSAMA PASUKAN KARINDING RAWK ART OF MOTION DAN BERBAGAI RENCANA KONSER TUNGGAL KARAT

Oleh Jon 666

20 Agustus, Sabtu, Buka Bersama Giri Kerenceng dan Pembukaan Sanggar Bah Olot

Karat menghadiri acara buka bersama di sanggar baru Bah Olot di pemakaman Cimanggung. Tampak Jimbot yang datang bersama Sarie Laras semenjak sore, Kimung, Hendra, dan Man. Tampak wajah-wajah lama Karat—Mang Engkus, Mang Maman, dan Mang Utun—juga hadir. Selian itu puluhan rakyat karinding datang untuk ikut serta berbahagia dalam syukuran ini.

Menjelang Magrib, Kimung dan Bombom Riots berjalan ke bawah, mengunjungi Mang Dedi di saung Giri Kerenceng yang lama. Ternyata Mang Dedi kini juga sudah memproduksi waditra-waditra bambu sendiri lepas dari Giri Kerenceng. Sanggarnya tertata dengan rapi dan indah. Tampak dua celempung renteng di bale-bale sanggar sedang dimainkan oleh Jimbot—yang ternyata sudah duluan pergi ke sana. Mang Dedi bilang ia masih mencari nama untuk sanggarnya ini, namun ia sudah memiliki lambang berupa sebilah potongan bambu tiga ruas kecil diukir dengan apik di setiap waditra buatannya.

Dalam banyak hal, bentuk celempung buatan Mang Dedi sama dengan Bah Olot, namun dalam pengaturan nada Mang Dedi cenderung memiliki akurasi yang lebih baik dari Bah Olot. Nada-nada celempungnya pas, pun dengan kacapi awi yang ia buat secara langsung memiliki tangga nada yang juga sangat pas—sebuah kualitas yang selama ini dikeluhkan Bah Olot dalam pembuatan kacapi awi, ternyata bisa diatasi oleh Mang Dedi.

Setelah melakukan sesi bermain renteng bersama Jimbot, Kimung segera memesan tujuh karinding dengan tangga nada C, D, E, F, G, A, dan B untuk Karat dan Paperback. Ini juga sudah sangat lama ia pesan ke Bah Olot dan tetap tidak dikerjakan oleh Bah Olot. Mang Dedi serta merta mengiyakan akan segera mengerjakannya asalkan ia sudah mendapatkan penentu nada yang pas yang bisa memandunya menyurup karinding.

22 Agustus, Senin, Paperback Session dan Latihan Ke Dua Man Jasad dan Pasukan Karinding

Senin sore Paperback berkumpul di Common Room. Di sesi ini latihan tak dilakukan seperti biasanya, semua hanya berkumpul di bawah dalam satu meja besar sementara Kimung mengiringi duet gitar Ayi dan David serta Zemo sang vokalis dengan celempung kedenya. Wisnu yang hadir sore itu tak fokus latihan karena tak lama kemudian ia harus pamit mengantar ibunya, sementara Hendra terlambat datang. Banyak sekali lagu The Beatles yang dilatihkan sore itu, untuk lebih lengkap informasi mengenai Paperback hari ini silahkan klik http://paperback666.tumblr.com/post/9402009113/22-agustus-2011-senin-paperback-the-beatles-session

Malamnya, semua yang terlibat dalam konser ngabuburit Art of Motion berkumpul di Common Room untuk berlatih. Tampak waditra sudah ditata sedemikian rupa, dari barat ke timur berjajar sesi celempung, suling, karinding, kibor, vokal, arumba, dan gitar. Tampak semua personil, Man Jasad Bersama Pasukan Karinding yang terdiri dari Man, Hendra, Papay, dan Jimbot; Sarasvati yang terdiri dari Risa, Sella, dan Yura; serta kelompok arumba Sagara; serta trio gitaris AGC, Agung, Akew, dan Gangan.

Malam ini agenda latihan adalah menggodok bagan musik yang sudah dirumuskan dalam latihan Jumat malam kemarin di rumah Agung. Semua lagu, tiga lagu Karat “Dadangos Bagong”, “Lapar Ma!” dan “Cingciripit”; dua lagu Sarasvati “Fighting Club” dan “Story of Peter”; serta satu lagu dari The Beatles “Hard Days Night” digodok penataan aransemennya agar setiap waditra yang dimainkan bisa saling mengisi, saling mendukung. Dalam proyek Man Jasad Bersama Pasukan Karinding ini Man tetap mengisi sesi vokal dan karinding, Hendra di sesi karinding, Jimbot di suling, dan Papay di sesi celempung renteng, selain juga mengisi cajon.

Alur pertunjukan juga kemudian disusun. Yang pertama tampil nanti adalah Karat memainkan tiga lagunya, kemudian rehat diisi talkshow yang menampilkan Man, berbicara mengenai musik tradisional dan proses kolaborasi yang bisa dilakukan olehnya. Setelah itu Risa tampil membawakan “Fighting Club” diiringi Sella, Yura, Akew, dan arumba Sagara; pertunjukan kemudian dilanjut dengan kolaborasi semua musisi di lagu “Story of Peter” dan “Hard Days Night”.

Secara umum latihan malam ini berlangsung kondusif. Semua musisi bisa saling berinteraksi dengan baik. Semua kemudian sepakat untuk semakin memantapkan penguasaan musik mereka esok malam kembali di Common Room. Ye guys rawxxx!

23 Agustus, Selasa, Man Jasad Bersama Pasukan Karinding Live with AGC & Risa Sarasvati

Selasa malam semua yang terlibat dalam konser ngabuburit Art of Motion kembali berkumpul di Common Room. Tampak waditra sudah ditata seperti semalam sebelumnya. Para personil Man Jasad Bersama Pasukan Karinding hadir duluan dan segera mempersiapkan area latihan di ruang dalam Common Room, ditata seperti malam sebelumnya. Tak lama kemudian datang kelompok arumba Sagara, Gangan, Sarasvati, dan kemudian Agung dan Akew.

Sebelum latihan mulai, Man, Okid, dan Kimung sempat merumuskan konsep konser kelas karinding yang akan mengisi salah satu acara di Braga Festival tanggal 24 September 2011. Di kesempatan itu terumuskan tujuh band yang akan mengisi acara, antara lain Karat, Flava, Riot, Karmila, Iwoeng, Celempung Kareumbi. Area waktu talkshow akan diisi oleh Kimung, membiacarakan hal paling mutakhir dalam penulian sejarah karinding dengan ditemukannya karinding dalam naskan Pendakian Sri Ajnyana.

Latihan Art of Motion sendiri malam itu berlangsung dengan lancar. Semua menggodok materi yang dilatih kemarin. Kini bentuknya sudah semakin terlihat dan semua personil tampak semakin nyaman memainkan waditra masing-masing dan siap untuk menghajar arena konser esok harinya.

24 Agustus, Rabu, Man Jasad Bersama Pasukan Karinding di Konser Art of Motion

Akhirnya pertunjukan yang dinanti-nantikan tiba juga. Pelataran Dago Plaza sore itu tampak dipenuhi sekitar dua ratusan anak muda. Tampak juga wajah-wajah lama datang di acara ini hingga mirip dengan konser reunian para pionir musik lama. Sungguh aura kekeluargaan memancar deras menyelimuti Ramadhan sore itu. Para personil Burgerkill, Karat, dan Sarasvati tampak datang juga menikmati sajian  musik sore itu.

Konser dibuka oleh penampilan Karat yang memainkan “Dadangos Bagong”, “Lapar Ma!”, “Cingciripit” . dan disambung oleh talkshow Man mengenai musik tradisional dan proses kolaborasi yang bisa dilakukan dengannya. Setelah itu tampil Risa membawakan “Fighting Club” dengan aransemen minimalis, namun didukung oleh alunan musik manis dari kelompok arumba, Sagara. Sehabis penampilan Risa, semua kembali tampil ke panggung untuk penampilan kolaborasi di lagu “Story of Peter”.

Manakjubkan! Aransemen yang ditata semua musisi sangat pas. Semua mengisi peran masing-masing dengan efektif, proporsional, namun saling tampil dan mengisi. Pergantian nuansa cajon menuju celempung renteng dan kembali ke cajon lagi yang dilakukan Papay patut mendapatkan apresiasi lebih dalam hal menghidupkan irama lagu ini. Permainan karinding sahut menyahut antara Man dan Hendra juga terlantun pas, bersahut dengan suling Jimbot yang semakin menambah aura mistis lagu ini. Gudd jowb cs2ku! Pun di “Hard Days Night” yang diaransemen pelan. Semua mendapatkan ruang sendiri-sendiri untuk bereksplorasi dan saling mendukung eksplorasi masing-masing waditra. Sungguh sebuah kolaborasi tertata apik yang disajikan sore itu. Lejat dan bervitamin ^^

Sehabis konser, semua berkumpul untuk kembali mempersatukan rasa, termasuk Pak Herman dari Djarum sebagai pihak pendukung acara ini. Salute to ya all guyz and grrrls!

25 Agustus, Kamis, Penulisan Sari “Pendakian Sri Ajnyana” oleh Kimung dari Buku Tiga Pesona Sunda Kuna Selesai, Kabar dari Isumi, dan Kabar Konser Tunggal Karat

Penulisan Sari “Pendakian Sri Ajnyana” oleh Kimung dari Buku Tiga Pesona Sunda Kuna Selesai, sementara itu kabar konser sendiri Karat mulai menyebar di lingkungan dalam Karat. Masih jauh dari bayangan akan seperti apa konser ini akan digelar, namun sejauh yang sudah dirumuskan Juli 2011 bersama Gio, Ardi, dan Atap Production, selain format Karat bermain waditra bambu, akan dirancang juga sebuah konser kolaborasi Karat dengan beberapa musisi lintas hasrat musik.

Hari ini, Man juga bertemu dengan seniman patung dari Jepang Isumi yang sangat tertarik dengan Karat. Ihwal pertemuan Man dengan Isumi terjadi sekitar dua minggu sebelumnya. Isumi bahkan sempat menjadi tamu dalam acara siaran radio Kamis Tiris yang dibawakan Man, Ismet, dan Jimbot di Kamis Tiris dua minggu silam. Pada pertemuan kali ini, Isumi kembali menyatakan kekagumannya kepada musik Karat ketika Man memperdengarkan “Hampura Ma I”, “Hampura Ma II”, dan “Ririwa Di Mana-mana”. Man menuturkan, Isumi bahkan sangat ingin mengundang Karat untuk manggung di Jepang yang segera disambut hangat oleh Man. Semoga semua lancar, amiin!

26 Agustus, Jumat Kramats, Penggodokan Konsep Konser Tunggal Karat

Jumat Kramat ini Karat menggodok konsep konser tunggal Karat. Minus Kimung dan Wisnu, Karat membicarakan konsep pergelaran yang sedianya akan digelar tanggal 11 November 2011 di Hotel Homann atau Hotel Panghegar. Konser ini memang sengaja dibuat eksklusif atas permintaan dari sponsor, Pak Herman, yang mewakili Djarum Coklat. Beberapa hal penting dibicarakan malam itu, terdiri dari format dua sesi berbeda dalam konseritu. Sesi pertama terdiri dari konser Karat saja sendiri, sementara di sesi ke dua, Karat akan berkolaborasi dengan berbagai maestro musik. Beberapa nama yang disetujui bersama adalah Abah Iwan Abdurrahman sebagai maestro musik pop, Ambu Idjah Khadijah sebagai maestro sinden yang dikenal sebagai pelantun kidung dan kawih, Sony Akbar, pianis jazz yang sempat berkolaborasi dengan Karat namun belum juga berjodoh di panggung, dan terakhir dengan Diki Beatboxing yang pernah berkolaborasi di awal karir Karat. Ada pun tema yang dipilih untuk merangkum pergelaran adalah “Bamboo Goes Wild” dan dirancang juga sebagai peluncuran album perdana Karat.

Untuk kepentingan konser, Karat juga mulai menyusun tim inti yang akan berperan sebagai penanggung jawab acara. Viki Rascal terpilih menjadi manajer pertunjukan dan Yuki akan diposisikan sebagai tata artistik panggung. Untuk tatanggeran, Man sudah ngeceng anak-anak STSI yang akan membantu tata artistik konser ini. Berkaitan dengan album, Karat akan segera menyelesaikan rekaman mereka di bulan September sehingga konsentrasi ke konser akan semakin fokus.

Setelah penggodokan konsep selesai, Man bersama Viki dan Papay segera menemui Gio dari Atap Production yang akan menjadi penyelenggara konser ini. Beberapa hal berkaitan dengan pembagian kerja sama kemudian disepakati bersama. Karat akan fokus membina kerja sama dengan para musisi kolaborator sementara Atap akan menggarap kelancaran acara ini. Disepakati juga beberapa pihak yang akan diundang di konser ini meliputi para kawan-kawan yang selama ini dengans etia membantu karat, para seniman, para budayawan, diplomat-diplomat asing untuk kepentingan diplomasi karinding ke luar negeri, berbagai tokoh masyarakat yang dianggap memiliki kepedulian dalam pelestarian dan pengembangan seni dan budaya Sunda, pemerintah, serta berbagai pihak terkait lainnya.

Dalam perbincangan itu, Gio menyarankan agar Karat juga melakukan berbagai manuver taktis kerja sama dengan berbagai perusahaan melalui penggarapan berbagai jingle iklan yang dimainkan oleh waditra karinding. Hal ini selain akan memperkenalkan karinding di ranah yang lebih populer dan intens, juga tentu saja akan menjadi penghasilan tambahan bagi para musisi. Beberapa perusahaan yang sekiranya akan pas dengan waditra karinding yang dimainkan melalui musik Karat juga sudah dicatat dan dipelajari pencitraannya. Apa yang diungkapkan Gio juga pernah diungkapkan olehnya dan Yayat beberapa hari setelah Bandung Berisik V kepada Kimung. Tinggal satu lagi lagi cita-cita bersama : bagaimana memecahkan rekor karinding dimainkan oleh 30.000 orang dalam satu waktu. Hmmm…

Semoga semua berjalan lancar, amiin!

10 PLAYLISTS JON 666 : Tarawangsa, The Beatles, Pink Floyd, John Lennon, Burgerkill, Chimaira, Fear Factory, Iwan Fals, Bob Marley, Janis Joplin

BOOKS : Tiga Pesona Sunda Kuna oleh J. Noorduyn dan A. Teeuw

MOVIES : Burgerkill Live in Gor Saparua Tur Underground 11 Kota, Raw Deal, We Will Bleed The Movie

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s