JURNAL KARAT # 80, 5 Agustus 2011, GET TOGETHER ONE MORE TIME! DISKO PEMBERONTAKAN TI ISUK JEDUR NEPI KA SORE JEDER!

Posted: August 17, 2011 in Uncategorized
Tags:

JURNAL KARAT # 80, 5 Agustus 2011, GET TOGETHER ONE MORE TIME! DISKO PEMBERONTAKAN TI ISUK JEDUR NEPI KA SORE JEDER!

Oleh Jon 666

1 Agustus, Terbitkan Jurnal Karat!

Kimung semakin memantapkan untuk menerbitkan buku Jurnal Karat dengan sistem print on demand. Dalam jurnal pribadinya, Kimung menulis,

“Sepertinya ini akan menjadi ironi. Buku dengan tema yang sangat ngetop hari ini ternyata harus diterbitkan dengan sistem gerilya yang tentunya terbatas. Tak apa, walau sebetulnya saya merasa tidak memberikan hal yang selayaknya kepada Karinding Attack, Ujungberung Rebels, juga kepada buku ini sebagai seri kedua sejarah Ujungberung Rebels. Namun, proses penulisan buku ini sendiri sudah menjadi hal yang sangat melelahkan walau tentu saja juga menyenangkan saya. Hanya saja saya sudah tidak sanggup untuk meneruskan proses lain selain menulis. Apa pun itu saya masih tetap berterima kasih kepada mereka penggarapan buku ini. Buku ini tak bisa lagi menanti. Harus segera menghajar jalanan dan ini bukan masalah kesabaran. September ini harusnya buku Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels, seri terakhir sejarah komunitas metal tertua dan terbesar di Indonesia ini rilis. Saya sudah muak hidup dalam keterlambatan dan gerakan lambat yang sia-sia. Saya tak ingin mati sebelum selesai semua yang ingin saya selesaikan. Tetaplah bergerak dan teruslah bergerak cepat karena ketika kita sudah bergerak lambat maka tanda-tanda kematian akan segera datang menghampiri.”

2 Agustus, Selasa, Pekik Flava Part 2 dan Paperback’s “Balada Istri Ke Dua” dan “High”

Kabar mengenai Flva dan Paperback kini dipisahkan di dalam jurnal khusus. Silahkan cek di link http://paperback666.tumblr.com/ Untuk aktivitas tanggal 2 Agustus 2011 bisa dibaca di link http://paperback666.tumblr.com/post/8456750493/menggarap-balada-istri-ke-dua-dan-high-selasa-2.

Kimung mulai mempublikasi rencana penerbitan buku Jurnal Karat Ujungberung Rebels secara print on demand di internet.

4 Agustus, Kamis,

Sore ini rencananya akan digelar pertemuan antar kelompok-kelompok kreatif yang berkegiatan di Common Room. Karena itu, tampak wajah-wajah kawan-kawan yang sehari-hari keraktivitas di Common Room hadir menjelang sore hari itu. dari jadwal jam tiga sore, ternyata sudah jam empat acara belum juga dimulai. Untuk mengisi waktu, Kimung dan Wisnu akhirnya berjalan-jalan dulu ke Omuniuum kawasan Ciumbuleuit, sekedar mengisi waktu luang.

Sampai di Omuniuum, Kimung dan Wisnu langsung menuju lantai atas Omuniuum, melihat ruang pameran yang baru saja disewa Omuniuum. Tampak ruang putih dengan jejeran lukisan karya kawan-kawan di dinding-dindingnya. Latar belakang ruangan adalah jendela yang menghadirkan latar belakang suasana kampur Unpar beserta pohon rindangnya. Tata suara di kiri kanan pojok ruangan serta dua lampu untuk syuting di pinggiran ruangan. Di seberang tata suara terletak meja tempat mixer dan jejeran CD serta komputer kerja Mas Tri. Nyaman sekali berada di sini ^^

Awalnya Kimung mengemukakan keinginannya kepada Mas Tri untuk menggelar konser kecil-kecilan di ruangan itu. yang manggung Paperback membawakan lagu-lagu sendiri serta The Beatles. Bagai gayung bersambut, Mas Tri bahkan mengemukakan jika ia malah ingin bereksperimen melakukan eksperimen syuting mengunakan berbagai media yang sekiranya bisa digunakan untuk memaksimalkan yang minimal. Ini tentu saja ajakan yang menarik! Kimung tentu saja mengiyakan ajakan Mas Tri sambil berjanji akan segera memberi kabar. Ia juga mengemukakan keinginannya untuk syuting joget Jimbot di Omuniuum untuk dijadikan klip Karat.

Karena hari semakin sore, Kimung dan Wisnu akhirnya kembali ke Common Room dan acara pun dimulai. awalnya Gustaff menceritakan dinamika Common Roomyang terus menunjukkan grafik naik di dalam aktivitasnya. Setelah Gustaff, kimung juga mengungkapkan jika dengan fasilitas yang disediakan Common Room, Kelas Karinding yang digelar dalam satu tahun ini juga menunjukkan grafik naik dan menggembirakan. Setidaknya kini ada delapan band jebolan Kekar, yaitu Karat, Paperback, Kramat, Karinding Merinding, Karinding Riot, Flava Madrim, Laras, dan satu lagi tidak diketahui namanya yang masing-masing menunjukkan karakter serta kulaitas sendiri-sendiri. Delapan band ini juga secara konsisten terus memberikan kontribusi yang signifikan dalam pengembangan seni karinding di Kota Bandung dan pada gilirannya semoga akan terus menginspirasi kaum muda untuk melakukan hal yang sama demi pelestarian dan pengembangan seni karinding di mana pun berada. Yang lebih menggembirakan lagi, peminta Kelas Karinding hari demi hari semakin bertambah sehingga sepertinya diperlukan penangan yang lebih intensif lagi kini.

Kabar ini juga ditanggapi oleh Mang Andar Manik dalam refleksi penutup pertemuan tersebut. Beliau menandaskan jika sepertinya pola yang dilakukan Karat dan Kekar dalam mengembangkan komunitas setidaknya bisa menjadi model bagi komunitas lain dalam upaya yang sama bagi hasrat komunitasnya. Hmmm senang sekali memang bisa memberikan hal yang baik bagi banyak orang. Semoga hal-hal seperti ini bisa terus terjaga melalui semangat kekeluargaan yang terus dibangun oleh komunitas karinding Kekar.

5 Agustus, Jumat, GET TOGETHER ONE MORE TIME! “Disko Pemberontakan Ti Isuk Jedur Nepi Ka Sore Jeder!!”

Setelah mengalami hibernasi sekitar tiga bulan,akhirnya Karat kembali berkumpul. Malam itu di beranda depan rumah Kimung, Hendra, Wisnu, Papay dan Kimung bersatu menggarap dua lagu Karat yang paling fiks yaitu “Disko Pemberontakan” dan “Ti IsukJedur Nepi Ka Sore Jeder”. Hingga saat itu,Kimung sendiri sudah punya tujuh lirik untuk Karat, termasuk dua lagu barusan, juga satu lagu yang dipakai Paperback,yaitu “Kelas Rakyat” dan Nicfit, yaitu “Aku, Molly, dan Joni”.

Sesi awal, Karat menggarap “Ti Isuk Jedur Nepi Ka Sore Jeder”. Judul lagu ini terinspirasi dari ungkapan yang sehari-hari sering diucapkan oleh mama Kimung untuk menggambarkan kerja keras tanpa keluhan, walau sering luput dihargai. Musiknya sudah Kimung pola dalam dua pirigan. Yang pertama mengingatkan pada hentakan-hentakan dram Pearl Jam album Versus atau No Code, rancak, kental dengan suasana etnik. Pirigan ke dua mengingatkan pada pola-pola dram yang biasa dipakai Fugazi, Helmet,atau Faith No More. Ke dua pirigan ini dipadu saling padan besama karinding yang dimainkan dengan pola ritmik yang tegas. Kombinasi ini membungkus pola vokal yang dinyanyikan ala rock 1970an, ala Led Zeppelin, Motorhead, atau Black Sabbath. Hanya ada tiga sesi vokal, dua refrain, serta satu interlude. Di tengah ada satu pola vokal yang dimainkan hanya dengan iringan karinding saja. Karat memainkan lagu ini hingga semua hapal polanya. Papay mengaransemen sebuah pola celempung yang unik dan asyik di akhir lagu, berduet dengan permainan karinding patah-patahnya Hendra.

Setelah sesi permainan duet celempung Papay dan Jawis, giliran “Disko Pemberontakan” kini dimainkan. Lagu ini sangat kental terinspirasi Nine Inch Nails walau Viki Rascal sempat nyeletuk jika lagu ini juga mirip lagunya Koil. “Disko Pemberontakan” adalah ajakan untuk terus berekspresi walau ada di satu kondisi yang sangat mengungkung, tak kalah dengan suasana hati, tak kalah juga oleh libasan zaman. Lagunya sangat menghentak seperti irama disko. Lagu ini juga hanya memiliki tiga pola vokal, dua refrain yang memiliki limab aris setiap baitnya, serta memberikan ruang bagi karinding, celempung renteng, serta kendang penca untuk berbattle di tengah lagu. Permainan karinding juga semakin berkembang dengan mulai dimasukkannya teknik karinding patah-patah ke dalam sebuah lagu. Teknik karinding ini sepertinya pertama kali diperkenalkan secara luas oleh Mang Engkus ketika acara silaturahmi komunitas-komunitas karinding di Kasepuhan Cireundeu, Leuwi Gajah,tahun 2010. Namun, hingga kini yang terus mengembangkan teknik ini ke dalam sebauh lagu sepertinya baru Hendra dan Wisnu saja. Papay juga kembali mengaransemen sebuah pola tetabuhan yang unik dan asyikdi akhir lagu.

Setelah semua merasa oke dengan lagu-lagu tersebut, Kimung lalu merekam sesi dua lagu tersebut melalui Mp3 tuanya.

And the night always young for all the youngsters…

 

10 PLAYLISTS JON 666 : Tarawangsa, Burgerkill, Pearl Jam, The Beatles, The Who, Bob Dylan, Bob Marley, Janis Joplin, The Doors, Faith No More

BOOKS : Naskah buku Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels by Kimung

MOVIES : Harry Potter The Deathly Hallow Part 2, Magical Mystery Tour, Bad Girls

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s