JURNAL KARAT # 79, 29 Juli 2011, Paperback Recording Session, Flava New Songs, Laras di Donor Darah AMS

Posted: August 17, 2011 in Uncategorized
Tags:

JURNAL KARAT # 79, 29 Juli 2011, Paperback Recording Session, Flava New Songs, Laras di Donor Darah AMS

Oleh Jon 666

24 Juli, Minggu, Paperback di Gasibu

Sebetulnya, Paperback dijadwalkan manggung jam setengah delapan malam, namun acara ternyata dipersingkat dan Paperback jadi manggung jam setengah tujuh malam. Secara umum, penampilan Paperback bagus malam itu walau manggung minus David karena ia datang terlambat—baru bergabung di panggung bersama Paperback di dua lagu terakhir. Empat lagu sendiri, “Piquette”, “Kelas Rakyat”, “Klab Dangdut Ciromed”, dan “3 Days”, serta lagu-lagu The Beatles dimainkan dengan pas untuk ukuran satu gitar. Pulangnya, Paperback berkumpul di Common Room membicarakan berbagai hal, yaitu rencana rekaman tembak hari Selasa tanggal 26 Juli oleh DJ Ate—tokoh yang sedari awal juga mendokumentasikan rekaman-rekaman Karat, bahkan juga termasuk salah satu kolaborator pertama Karat di tahun 2009. Paperback juga mulai menganggap penting jendela komunikasi mereka di internet, dan untuk itu mereka sepakat untuk membuat akun Facebook, Twitter, dan Tumblr. Akun lainnya seperti You Tube dan  For Share akan segera dibuat ketika dokumentasi Paperback sudah semakin baik. Hal lain yang dibicarakan adalah rencana penggarapan pernak-pernik Paperback. Untuk ini Zemo yang rencananya akan diberi mandat untuk mengelolanya.

26 Juli, Selasa, Flava session for new song & Paperback recording session

Siang yang bersemangat! Hari ini Flava latihan bersama man dan Kimung. Ada satu pirigan karinding yang bisa diisi oleh Flava sebagai lagu baru mereka. Namun sepertinya pirigan ini masih susah dicerna oleh Flava sehingga mereka tak juga selesai menggarap lagu ini. Kimung melihat kesulitan penggarapan lagu ini karena Flava sama sekali belum memiliki bayangan melodi yang menuntun pirigan karinding tersebut. Kasus yang sama terjadi ketika Karat menggarap “Dying Fetus” dan “New York” yang juga hamper dari satu tahun tak jadi-jadi karena kebingungan mengisi melodi vocal. “Dying Fetus” akhirnya menjadi lagu yang utuh ketika pola dan melodi vokal tertata oleh Kimung, Hendra, dan Wisnu dan menjelma menjadi lagu fenomenal “Gerbang Kerajaan Serigala”, sementara “New York” akhirnya bertransformasi menjadi “Yaro tahes” ketika semua sepakat tak akan memasukkan vokal yang signifikan di lagu ini—bahkan lagu ini dijadikan lagu instrumental rampak celempung.

Kimung lalu mengarahkan Flava untuk mencari melodi vokal, atau setidaknya memiliki lirik yang bisa menuntun pirigan-pirigan karindingan dalam sebuah pola lagu yang utuh. Ia juga menekankan jika karinding adalah alat musik ritmik. Jika musisinya belum mencapai taraf kepekaan yang tinggi dalam mengolah ritmik, akan sulit sekali membentuk hentakan-hentakan irama perkusi menjadi sebuah lagu, tanpa adanya melodi yang mengikat pola-pola perkusif tersebut menjadi sebuah lagu. Di saat yang sama, Man juga meminta Flava untuk mulai belajar menulis lirik sendiri agar lebih kena dinyanyikan sendiri oleh Flava. Sebetulnya, saat itu rencananya memang akan menggarap lagu “Pekik” yang liriknya ditulis Kimung. Namun karena eksperimen pirigan, “Pekik” akhirnya belum tergarap dan rencananya akan digarap belakangan saja.

Sementara Flava berkutat dengan pirigan karinding untuk lagu baru mereka di studio Common Room di lantai dua, di bawah Paperback bersiap melatih lagu-lagu mereka. Berbagai alat musik disiapkan untuk dieksplorasi. Gong tiup, kecrek, dan angklung dibawa serta untuk dijadikan waditra Paperback. Hingga saat itu, penggunan gong tiup masih belum bisa dimaksimalkan paperback karena masuh belum ada yang bisa memainkan gong tiup dengan baik. Angklunglah yang justru bisa tereksplorasi dengan baik. Angklung dimainkan di berbagai lagu The Beatles, dan terdengar sangat pas ketika dimainkan di lagu “I Want You” dan beberapa lagu lainnya.

Ketika akhirnya sudah semakin siap, menjelang magrib, Paperback mulai merekam lagu-lagu mereka. Proses rekaman tersebut bisa dicek di link jurnal Paperback Di http://paperback666.tumblr.com/post/8458910374/selasa-26-agustus-2011-merekam-piquette-klab

Enjoy!

28 Juli, Kamis, Munggahan Kekar dan Pekik Flava

Kamis sore yang ramai. Menjelang pukul tiga sore, Kelas Karinding yang diwakili oleh Flava, Riot, dan Laras berkumpul di Common Room untuk makan bersama, munggahan, saling bermaap-maapan. Untuk acara makan-makan ini, Kimung berkordinasi dengan Hendra dan sasa, sepakat untuk memasak sendiri, liliwetan di Common Room, dibantu Mang Ismet Hellkitchen Homeless Dawg. Untuk itulah semua sepakat untuk membawa beras masing-masing secangkir dari rumah serta patungan lima ribu perak seorang untuk belanja berbagai bahan makanan lainnya. Asyiknya, Sasa dan Zahra ternyata mebawa serta bekal bahan makanan ikan dan lalap-lalapan dari rumahnya. Hummm yummie ^^

Sambil menunggu memasak, Kimung mengajak Selvi, Widya, Syifa, Z, dan Bella untuk menggarap lagu “Pekik”. Metode penggarapan lagu ala Kimung memang dimulai dari waditra inti di mana lagu tersebut dimainkan, dalam hal ini celempung indung yangakan dimainkan Selvi, serta pola karinding. karena lirik sudah jadi, juga melodi vokal sudah fiks, “Pekik” dengan cepat tergarap. Kini tinggal penyesuaian Selvi saja yang bertindak memberikan pagar bagi musik “Pekik”. Karinding sendiri saat itu sudah mulai memiliki pola pirigan fiks untuk “Pekik”. Dibantu Wisnu, trio Syifa, Bella, dan Z mampu mengeksplorasi karinding walau masih belum terpola secara sempurna. Pun dengan vocal. Nana yang dengan cepat bisa menguasai pola vocal dengan cepat pula bisa mengikuti alur lagu. Tinggal celempung anak, celempung renteng, suling, dan gong tiup yang harus eksplorasi. Di kesempatan selanjutnya, ketika bagan lagu semua sudah selesai, empat waitra ini harus sduahbisa dieksplorasi.

Usai “Pekik”, Flava ternyata punya lagu sendiri. Liriknya ditulis Teh Yanti dan Nana, walau masih belumusai. Melodi vokalnya terinspirasi dari lagu-lagu Skamigo, band favorit mereka berdua. Temanya tentang pengalaman bereka dengan angkot. Ini satu tema yang segar dan begitu dekat dengan keseharian. Jika tergarap dengan baik, lagu ini akan menjadilagu yang bagus. Terinspirasi dari Skamigo pula, pirigan celempung insung mulai digarap dan sudah terbangun kerangka utamanya.

Pukul setengah lima, liliwetan akhirnya matang dan semua berkumpulmembentuk lingkaran di tikar di ruangan biasa mereka berlatih. setelah dibuka oleh Kimung, semua segera menyantap makanan dengan lahap. Yummieeee ^^

Sehabis makan, semua kembali membentuk lingkaran untuk saling bersalaman, melepaskan segala penat agar bersih hati menyambut bulan suci Ramadhan serta menunaikan ibadah puasa. Flava, Riot, Laras, Paperback, dan Karat saling bersalaman bermaap-maapan, semoga nuansa kekeluargaan ini bisa selalu kita pertahankan, amiin!

Semua berfoto bersama sebelum pulang ke rumah masing-masing. Cheers!!!

29 Juli, Jumat, Laras di AMS Braga

Sore yang macet dan panas. Laras dijadwalkan manggung jam empat sore di acara bakti sosial donor darah yang diselenggrapan organisasi Angkatan Muda Siliwangi (AMS) di kawasan Braga. Tampak keramaian di depan markas AMS. Panitia menutup trotoar dan membuat panggung kecil dengan tata suara seadanya sevagai panggung hiburan acara donor darah tersebut. Pukul setengah lima Laras, saat itu Shifra, Mitha, Zia, Wija, Trica, Asti, Manda, dan  Neng yang baru datang segera menata alat-alat dan tata suara. Kru Uwox, Mang Tahu, dan Zemo ikut membantu Laras mempersiapkan panggung mereka. Tampak juga Kimung dan Bey ikut membantu Laras.

Persiapan termasuk lama karena penataan sistem suara yang sangat seadanya. Penempatan kontrol suara, amplifier, serta kualitas mikrofon yang seadanya membuat Laras sore itu manggung tidak maksimal. Sebenarnya mereka bermain dengan baik. Tata musik mereka semakin berpadu walau masih memainkan lagu-lagu orang lain. Dari “Linger”, “With or Withour You”, “Bitter Sweet Symphony”, hingga “Dreams” dimainkan dengan baik, namun tanpa ditunjang dengan tata suara yang baik, kualitas mereka dengan sangat terpaksa akhirnya terendam tata suara yang buruk suaranya.

Tetap semangat Laras!!!

10 PLAYLISTS JON 666 : Tarawangsa, The Beatles, The Doors, The Who, Pearl Jam, Nine Inch nails, Faith No More, jewel, Eddie Brickell, The Cranberries

BOOKS : Naskah buku Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels by Kimung, Making Music Your Business by David Ellefson

MOVIES : Let It Be, Help!

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s