JURNAL KARAT # 75, 24 JUNI 2011, FLAVA BERSAMA RAKYAT PARA SULTAN, KOSEAK AWI BATUJAJAR, PENGGALANGAN DANA BUKU JURNAL KARAT, DAN KARINDING WANITA

Posted: August 17, 2011 in Uncategorized
Tags:

JURNAL KARAT # 75, 24 JUNI 2011, FLAVA BERSAMA RAKYAT PARA SULTAN, KOSEAK AWI BATUJAJAR, PENGGALANGAN DANA BUKU JURNAL KARAT, DAN KARINDING WANITA

Oleh Jon 666

25 Juni, Sabtu, Flava di Silaturahmi Para Sultan Nusantara, Okid & Jimbot bersama Sarasvati

Malam minggu yang cerah di jalanan Braga. Di kawasan sekitar Gedung Merdeka dan New Majestic keramaian begitu terasa karena malam ini digelar acara kesenian untuk menghibur silaturahmi para sultan seluruh Nusantara. Flava tampil di acara ini bersama Ayi Paperback, membawakan lagu “Perjalanan”. Ada dua panggung kesenian untuk acara silaturahmi ini. Panggung di dalam dan di luar gedung New Majestic. Flava kebagian panggung luar, sementara kesenian karinding yang tampil di dalam diwakili oleh Galengan.

Dari jadwal tampil jam tujuh, Flava jadinya tampil jam setengah Sembilan malam. Tiga lagu dihajar dengan sukses malam itu, “Sakola”, “Bulan Tok”, dan yang terakhir “Perjalanan”. Penampilan yang apik! Selamat Flava, kalian yang terbaik!

Di saat yang sama, Okid dan Jimbot tampil bersama Sarasvati di restoran Maja. Masih dalam konsep yang serupa dengan panggung-panggung sebelumnya, Okid dan Jimbot cenderung mendukung nuansa muram Sarasvati yang kini semakin gokil dengan aksi teatrikal hantu Juju.

26 Juni, Minggu, Karat di Koseak Sora Awi Batujajar

Acara dimulai pukul Sembilan pagi dengan pembukaan, terdiri dari rajah, kidung, dan angklung buncis, yang kemudian disambung dengan sambutan-sambutan dari ketua pelaksana, kepala desa, dan Pembina yang diwakili oleh seorang angota dewan. Pertunjukannya sendiri dimulai jam setengah sebelas, dibuka oleh Jawara, yang kemudian berturut-turut disambung oleh Sada Rampak, Getreng, Kacapi Suling, Kudeta, Bah Dayat, Sadisadana, Markipat, L.T.S., Barat, Markipat Angels, Brenyit Bonlap, sasaka, Laken Boys, Bah Toyo, Djarugala, Iwoeng Djadi, Kawangi, Sada Awi, dan ditutup oleh Karat. Sebenarnya, Karat dijadwalkan tampil jam setengah delapan malam, kedua terakhir sebelum Iwoeng Djadi, namun karena berbagai hal maka Karat akhirnya manggung terakhir menutup acara.

Pukul setengah delapan malam Karat sudah tiba di Gor batujajar, tempat di mana acara tersebut digelar. Kimung, Yuki, Okid, serta Teddy yang bermotor tiba duluan. Mereka berangkat dari rumah Kimung di Cijerah setelah menunggu Okid yang sebelumnya manggung bersama Gugat di Kopo. Rombongan kedua datang tak lama kemudian, terdiri dari dua mobil, Ghera dan Papay, berangkat dari Common Room. Kebanyakan di rombongan ini sudah bersama-sama sejak pagi karena menghadiri ritual ruwatan bumi Tangkuban Parahu terlebih dahulu. Rombongan ini sempat nyasar beberapa kali hingga akhirnya tiba di Jalan Desa tempat Gor Batujajar berada.

Setelah disambut LO Ocha, Karat segera bersiap di lantai atas Gor Batujajar,bersama Apih Sada Awi Cicalengka. Setelah penampilan yang palid dan teatrikal dari Sada Awi, Karat akhirnya naik panggung. Karat membuka pertunjukan dengan “Yaro” yang sepertinya tak pas dipasang sebagai pembuka. Lagu ini memang bernuansa intro yang kental, tapi untuk pembukaan sepertinya sangat disayangkan. Entah jika dalam sebuah pertunjukan sendiri yang memiliki dua sesi, “Yaro” bisa dipasang sebagai pembukaan sesi dua. Setelah “Yaro”, Karat menggeber panggung dengan “Burial Buncelik”, “Dadangos Bagong”, “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol”,  “Maap Kami Tidak Tertarik Pada Politik Kekuasaan”, dan “Lapar Ma!”. Semua bernyanyi bersama ketika lagu “Maap Kami Tidak Tertarik Pada Politik Kekuasaan” dimainkan. Ternyata lagu ini sudah dikenal di Batujajar. Sepertinya sejak panggung Karat di Cireundeu, lagu ini membekas di kawan-kawan Batujajar. Dan ketika Karat akan berpamitan setelah lagu “Lapar Ma!”, audiens meinta encore. Karat pun memainkan “Wasit Kehed” sebagai penutup panggung ini.

Semua totalitas dikeluarkan karat di panggung ini disambut oleh energi positif semua kawan-kawan komunitas karinding Batujajar yang hadir. Hendra bercerita jika penampilan grup-grup karinding di acara ini semakin menampilkan konsep lagu yang baik, tidak sekedar papalidan tak jelas tanpa patron yang baik. Ini tentu sebuah perkembangan kualitas musik yang menggembirakan dari para musisi karinding Batujajar. Yang menggembirakan juga adalah begitu banyak para wanita yang hadir dan juga bermain di acara ini. Tentu saja ini adalah hal positif, di mana kaum wanita juga sudah semakin aktif terlibat dalam pengembangan musik karinding.

Terima kasih buat Komunitas Iwoeng Djadi Batujajar yang telah menggelar acara ini. Semoga rahayu selalu!

27 Juni, Senin, Pelbagai Rencana Edisi Kesekian…

Foto-foto panggung Karat di acara Koseak Awi Batujajar diserahkan kepada Kimung oleh Yuki untuk bahan buku Jurnal Karat. Malamnya, Kimung menghubungi Inu untuk memesan Studio Massive, melanjutkan rekaman sesi suling, gong tiup, dan live, hari Kamis, 30 Juni 2011. Namun ternyata waktu itu Inu sedang sibuk tur ke Bali dan Tangerang. Karenanya rekaman digeser menjadi hari Senin tanggal 4 Juli 2011. Kimung juga SMS Gio mengenai rencana Karat untuk promo tur kecamatan dan konsep konser tunggal. Mereka janjian hari Senin juga di Studio Massive.

28 Juni, Selasa

Proposal Buku Jurnal Karat usai dirumuskan dan mulai bersiap untuk penggalangan dana. Masih tetap bingung siapa ayng akan menjalankan program ini. Untuk sementara waktu Kimung mempercayakan semua kepada Reggie dan Mang Utun, serta Zia yang memegang masalah keuangan. Ke dua orang ini memiliki jaringan yang lumayan kuat di Bandung dan bersedia membantu. Awalnya segan meminta bantuan Reggie dan Mang Utun. Inginya anak muda yang jalan. Namun pemikiran mereka masih tetap klotingan dan klotingan ketika akan mengajukan proposal kerja sama. Mereka memang selalu mendukung memberikan kontribusi, namun hanya sepersekian persen. Dari total anggaran yang diajukan, klotingan biasanya  hanya member bantuan 0,001 % saja, belum ada secara signifikan memberikan bantuan yang layak. Apa lagi ini adalah buku, bukan acara keramaian. Jarang ada pihak-pihak di ranah independen yang tertarik bekerja sama menerbitkan buku bersama-sama.

Sebenarnya sangat memalukan meminta-minta dengan cara terselubung mengedarkan proposal seperti ini, apa lagi ini untuk sebuah buku, walau tetap saja keuntungannya akan dikelola untuk berbagai program pengembangan komunitas yang memang memerlukan dana banyak. Mengutip dari sebaris frase Jim Morrison, Kimung menandaskan, “Lets just say I was just curious with what woud happen. And that’s all it was : curiousity.” Penasaran siapa yang akan membantu, penasaran sejauh mana posisi tawar buku karindng ini di masyarakat, penasaran juga seberapa besar posisi tawar Karat di masyarakat. Karena itu Kimung meminta kepada para pewenang yang membantu menjalankan program ini untuk tidak hanya mengajukan penggalangan dana ini kepada kawan-kawan belaka, namun kepada masyarakat yang lebih luas.

Lalu muncul juga pertanyaan, mengapa tidak ke diterbitkan oleh penerbitan saja? Kimung menjawab dengan jawaban yang sama, ““Lets just say I was just curious with what woud happen. And that’s all it was : curiousity.

30 Juni, Kamis,

Kimung bertemu Mang Utun untuk melakukan konsultasi seputar penggalangan dana buku. Beberapa nama yang sekiranya bisa membantu dilontarkan Mang Utun, mereka adalah Pak Rony, Pak Romli, Bank BJB, Pemkot Bandung, dan Pemprov Jawa Barat. Dua nama terakhir masih terlalu ngawang. Tiga nama yang awal yang akan dibuatkan surat ajuan bantuan dana.

1 Juli, Jumat, Audisi Vokal Flava, Penggalangan Dana Buku Jurnal Karat, dan Karinding Wanita

Jumat pagi para personil Flava sudah berkumpul. Hari ini mereka tak latihan, hanya melakukan audisi vokal saja, lalu bubar jalan. Semenjak Nessa memutuskan cabut dari Flava, untuk sementara posisi vokal memang dipegang oleh Nana dan Selvi. Kini setelah audisi vocal, secara resmi, vokal Flava dipegang oleh Nana, Selvi, dan Sasa.

Sorenya, Paperback berlatih. Tak komplit hari itu, hanya ada Kimung, Ayi, Hendra, dan Wisnu saja. Di tengah latihan, Shifra, Mitha, dan Adhinda datang dan segera naik ke studio bersama Zia dan Lana untuk belajar karinding dan mendukung grup Karinding Wanita—disingkat Kawat. Di saat yang sama, Reggie juga mengontak Kimung bahwa ia menunggu Kimung di tempat rahasia. Kimung segera mendatangi Reggie dan memberikan satu berkas proposal buku Jurnal Karat untuk Ridwan Kamil dan Urbane Community. Reggie mengabari Ridwan Kamil masih di Jerman. Ia juga memberikan masukan agar proposal juga diajukan kepada Fiki Kick dan Bandung Creative City Forum (BCCF).

Hingga sore Paperback dan Kawat berlatih. Zia berkata, dari setahun yang lalu Kawat mulai berkumpul, baru hari ini yang benar-benar terasa sebagai latihan. Semoga terus seperti ini bahkan semakin baik!

Smallest ocean still gets big, big waves!

10 PLAYLISTS JON 666 : Tarawangsa, The Beatles, Pearl Jam, Bob Marley, Janis Joplin, Eddie Brickell, The Doors, Faith No More, Nine Inch Nails, Burgerkill

BOOKS : Naskah buku Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels by Kimung

MOVIES : Pyrates of Carrebean 1, 2, 3

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s