JURNAL KARAT # 73, 17 JUNI 2011, KARAT MENGGUGAT DI BANDUNG BERISIK V PART END & BUKU JURNALKARAT

Posted: August 17, 2011 in Uncategorized
Tags:

JURNAL KARAT # 73, 17 JUNI 2011, KARAT MENGGUGAT DI BANDUNG BERISIK V PART END & BUKU JURNALKARAT

Oleh Jon 666

11 Juni, Sabtu, Karat Menggugat di Bandung Berisik V : End

Pagi itu para personil Karat dan Gugat sudah berkumpul di tenda artis Bandung Berisik. Semua terlihat sangat bergairah dan siap menghajar panggung Bandung Berisik V. Adalah sebuah kehormatan besar bisa manggung di acara metal terbesar di Asia ini. Acara yang bagaikan membangunkan raksasa yang telah tertidur selama delapan tahun, acara yang dalam segala sisi penggarapannya memiliki begitu banyak nilai plus untuk sama-sama dipelajari sebagai gerbang persinggungan konstelasi ranah komunitas degan industri. Setelah dua band pembuka, Gugat akhirnya naik memulai Bandung Berisik V, disertai oleh Karat dan pelukis, Tami, yang melukis sepanjang konser Gugat.

Walau hari cenderung masih pagi—Gugat dan Karat naik pukul sebelas—namun penonton tampak sudah mulai mengisi dua moshpit yang disediakan penyelenggara. Semua begitu bergairah setelah sebelumnya dipanaskan oleh band After Coma. Semua merayakan bersama lagu-lagu yang digeber Gugat dan Karat siang itu. Dibuka dengan “Bubuka” yang menampilkan permainan rebab, Jimbot dan alunan karinding Karat, Gugat segera menghajar massa dengan dua lagu mereka. Masuk lagu ke tiga, Gugat mengundang Lord Butchex untuk bergabung di panggung menyanyikan “Beat the Bastards”. Tampilnya Lord Butchex disambut riuh oleh para audiens.

Karat membuka kolaborasi “Beat the Bastard” ini dengan intro panjang lagu “Yaro”. Pada format biasa, lagu ini semakin rancak dengan hadirnya raungan-raungan gitar dan permainan hihat Komeng. Awalnya, Komeng mengisi rampak celempung “Yaro” dengan aransemen dram yang variatif antara snare dan tambur. Namun karena terasa menumpuk dan menyamarkan suara waditra bambu, akhirnya Komeng hanya memberikan nuansa dalam aransemen permainan kick, simbal, dan hi-hatnya saja. Setelah jeda solo celempung Jimbot yang sangat atraktif dan ekspresif di akhir “Yaro”, Gugat dan Karat segera saja merasuki “Beat the Bastard.”

“Beat the Bastard” adalah lagu sederhana seperti lagu punk pada umumnya. Ia hanya memiliki tiga variasi pola dengan raungan-raungan nada yang relatif mudah dicerna. Karena demikian sederhana, Karat dituntut untuk bisa membuat aksen-aksen yang kental warna bambunya. untuk membangun warna itu, Karat memasukan aransemen “Maap Kami Tidak Tertarik pada Politik Kekuasaan” dengan berbagai penyesuaian sesuai dengan bagan “Beat the Bastard.” Kehadiran Lord Butchex mendampingi Achie di panggung itu juga memberikan energi tersendiri bagi semua yang menyaksikan momen itu.

Audiens di bawah sana memberikan apresiasi yang baik. Hornsign diacungkan mereka di sana ketika Okid menyebutkan nama Karinding Attack sebagai kolaborator Gugat di panggung legendaris Bandung Berisik V ini. Gugat masih terus menghajar panggung dengan lagu pamungkas mereka “Hitam” sebelum akhirnya bersama memberikan penghormatan kepada penonton dan berlalu.

Usai manggung, Karat segera menuju booth kesenian tradisional yang disediakan panitia untuk karinding celempungan. Alat-alat disimpan di sana agar bisa ditabuh bersama dan dinikmati para audiens yang datang. Benar-benar sebuah acara luar biasa di panggung yang juga luar biasa! Sampai jumpa di Bandung Berisik VI 2012!!!

12 Juni, Minggu, Dummy Buku Foto Karat Karya Igor Cavalera Selesai

Kimung mendapat kabar dari Igor bahwa buku foto Karatnya sudah selesai di tahap awal. Igor menyebutkan, dari 3192 foto dokumentasi Karat yang berhasil ia kumpulkan, ia berhasil menyisihkan 50 foto yang ia masukkan sebagai isi buku fotonya. Igor janji bertemu dengan Kimung hari Senin jam dua siang di Common Room.

13 Juni, Senin, Naskah Buku Jurnal Karat Mulai Ditata cetak – Flava dan “Perjalanan”

Jam sebelas siang Kimung sudah hadir di kantor Balatin Pratama, sebuah kantor jasa percetakan dan penerbitan yang dikelola Dani Popup, karib Kimung, pendiri Minor Books juga. Hari itu Kimung menyerahkan naskahbuku Jurnal Karat kepada  Popup untuk ditata cetak, setelah tertunda selama satu minggu karena kesibukan Kimung menggarap Bandung Berisik V. Popup menyambut hangat naskah ini dan ia berjanji akan menata buku ini agar efektif dan enak dibaca. Ia juga menambahkan akan mencoba melakukan cetak di MQ Publishing karena kualitas lebih baik dengan harga relatif bersahabat.

Ada beberapa opsi diajukan Popup berkaitan format buku. Awalnya ia mengajukan ingin bereksperimen dengan ukuran novel teenlit. Ini tentu sebuah eksperimen yang ngepop, murah meriah, dan kernanya sangat mungkin untuk dilakukan. Namun ketika dilihat lagi dari segi penataan foto dan gambar, format ini dirasakan kurang menyediakan pola yang baik, Popup lalu mengusulkan untuk bereksperimen di buku ukuran 27 x 21 cm, relatif kecil dari A5. Kimung cenderung lebih setuju dengan format ini.

Kimung juga memberikan berkas foto-foto yang rencananya dimuat di buku. Namun, karena foto-foto masih mentah, maka Kimung hanya meminta Popup menyediakan ruang kosong untuk foto di dalam penataan yang ia lakukan. Ada beberapa format penataan foto, di antaranya, foto yang diberi pigura dan tidak, essay foto-foto dalam satu pigura, foto seperempat halaman, setengah halaman, satu halaman penuh, hingga foto-foto yang memotong halaman, dirumuskan siang itu. Untuk foto-foto, ia meminta bantuan Igor dan Mang Tahu dalam proses artistik.

Sorenya Flava latihan di Common Room. Tak semua personil hadir. Hanya Karina, Widya, Selvi, Teh Yanti, dan Syifa yang hadir. Beberapa hal diperbincangkan sebelum membahas lagu yang akan dimainkan di konser mereka di Itenas tanggal 9 Juli nanti. Satu lagu yang ingin dibawakan Flava adalah “Perjalanan”, lagu Franky and Jane yang kini tenar dibawakan oleh Sarasvati. Untuk membawakan lagu ini, Flava butuh instrumen lain selain karinding celempungan yang biasa mereka mainkan. Gitar atau kibor akan sangat membantu penyusunan nada-nada lagu “Perjalanan”. Untuk itu dibutuhkan satu musisi tamu yang bisa menyertai Flava.

Kebetulan, Ayi Sonic Torment sudah tiba sore itu di Common Room untuk berlatih bersamaPaperback dan asyik mengobrol bersama Addy Gembel. Karena Ayi dirasa sudah terbiasa menggarap musik bersama karinding celempungan, maka segeralah Ayi diminta untuk membantu Flava. Ayi bersedia membantu Flava.

Maka berlatihlah mereka di sana sore itu. Aransemen tergolong cepat diselesaikan oleh Flava dan Ayi. Hanya denga dua kali putaran, lagu “Perjalanan” sudah terumuskan dengan baik. tinggal memantapkan saja aransemen semua lini.

Gudd jowb Flava!! Gudd jowb Mang Ays!!

14 Juni, Selasa, Karat di Belia dan Berbagai Obrolan

Karat dimuat di Suplemen Belia Pikiran Rakyat. Ini tentu sebuah terobosan ke arah khalayak muda untuk mereka semakin mengenal karinding. Belia sendiri lebih membahas apa itu karinding, filosofi di belakangnya, cara memainkan, fungsi dan kegunaan karinding, kisah-kisah di balik karinding, hingga mengenai pengembangan yang dilakukan oleh karat sendiri. Ketika Kimung SMSan dengan Syauqi Luqman, editor Belia, ia menyebutkan jika pemuatan artikel tersebut adalah, “Baktos abdi kangge Tatar Sunda.” Rahayu selalu Mang Oki!

Sore itu Kimung bertemu Yayat dan Gio, melepas kangen setelah sukses Bandung Berisik V. Berbagai obrolan bergulir, ngadu bako dari siang sampai Isya menjelang, mengenai refleksi penyelenggaraan Bandung Berisik V dan bagaimana penggarapan Bandung Berisik selanjutnya agar semakin baik. Secara umum Bandung Berisik V sukses besar terutama dalam membuktikan bahwa stereotip metal sebagai music yang rawan kerusuhan adalah salah. Metal sudah berkembang sekian lama, dan kini ia juga adalah ikon pop lain bagi kebanyakan anak muda Kota bandung. 40.000 massa yang hadir di BB V—0,01 % masyarakat Kota Bandung yang 90% adalah anak muda—adalah asset utama kota ini di masa mendatang. Generasi yang dididik oleh BB V bagaimana kita memiliki sikap dan kebanggaan bersama berdiri di ranah musik ini. Bandung Berisik memang adalah sebuah inspirasi.

Pada kelanjutannya, BB Vmembukakan jaringan ranah musik metal dengan sponsor yang sepertinya bisa bekerja sama dalam atmosfer kerja yang baik. BB V juga mendorong pihak Pemerintah Kota untuk semakin cepat menyediakan ruang berkesenian yang layak bagi masyakat Bandung. Di media, bola panas wacana Bandung Berisik menjadi acata tahunan dan tujuan wisata Kota Bandung terus bergulir.

Yayat mengemukakan berbagai gagasannya kepada Kimung mengenai Karat dan karinding secara umum. Begitu banyak hal yang  bisa digarap bersama-sama yang sepertinya akan semakin menunjang penyebaran syiar karinding secara lebih luas lagi. Beberapa hal yang aktual terus dibincangkan selama ini adalah mengenai konser tunggal Karat, tur kecamatan, hingga penyebaran dan promosi berbagai rilisan yang menyertai Karat, seperti buku, album, dan film dokumenter. Secara pribadi Kimung juga meminta Yayat untuk membantu menggarap rekaman Karat terutama di tahap miksing dan mastering. Yayat bilang, itu semua bisa dilakukan sambil jalan. Yayat bahkan mencetuskan ide permainan karinding paling banyak yang pernah dibuat dalam sejarah karinding hahaha…

Semoga semua akan berjalan dengan lancar. Amiin!

15 Juni, Rabu, Foto Editing Jurnal Karat by Mang Tahu dan Igor Cavalera

Sore yang cerah di Common Room. Data-data foto dokumentasi Karat dari Kimung untuk dimuat di buku sudah masuk keMang Tahu untuk proses retouch. Mang Tahu dan Kimung juga menyimpan data-data foto dokumentasi Yuki.  Ada tujuh gigabyte dan salah satu data paling berharga adalah koleksi foto-foto poster Karat yang dikumpulkan Yuki.

Malamnya, Kimung dan Hendra berkumpul di pekarangan rumah Kimung untuk sebako dua bako. Sambil berbagi cerita mengenai dinamika Karat hari ini, berbagai rencana-rencana yang menghampiri, serta konstelasi posisi Karat di ranah music independen Bandung, Kimung dan Hendra mulai bermain karinding celempung bersama-sama. Dua lagu berhasil mereka rumuskan malam itu, yang pertama “Disko Pemberontakan” yang secara pola variasi pirigan masih meraba-raba, namun dalam pola aransemen lagu sudah semakin menemukan bentuknya sendiri. Yang ke dua adalah lagu reggae yang diberi judul “Woyoy Mari Merapats.” Semoga menjadi lagu-lagu yang menginspirasi

17 Juni, Jumat, Flava & Sarasvati New Session

Sepanjang pagi hingga siang, Flava fokus berlatih lagu “Perjalanan” yang akan mereka pentaskan di Itenas tanggal 9 Juli nanti. Man dan Ayi terus membimbing gadis-gadis berbakat ini dengan sabar. Malamnya, Karat berlatih bersama Sarasvati untuk panggung mereka esok harinya di Universitas Marantha, Bandung. Ini adalah panggung pertama Karat kembali bersatu dengan Sarasvati pasca konser Mancawarna Sarasvati. Benar-benar sebuah perjumpaan kembali. Semua bermain dengan antusias dan  lepas. Kangen sekali berjamming bersama Sarasvati.

Menjelang pukul sepuluh malam, semua berangkat ke arena untuk melakukan cek tata suara. Panggung kali ini digelar di aula Maranatha dengan judul acara Yosimfonesia. Karat dan Sarasvati tampil sebagai bintang utama malam itu. Mereka juga tampil bersama 100%, dan lain-lain.

Cek tata suara dilakukan dengan santai namun efektif. Mari hajar esok hari!

The bow is drawn.

10 PLAYLISTS JON 666 : Tarawangsa, Burgerkill, Nicfit, Queen, Pearl Jam, Nine Inch Nails, Carcass, Entombed, Sonic Youth, Bob Marley

BOOKS : Kumpulan Dongeng Dunia Binatang 1 oleh Anne-Marie Dalmais

MOVIES : Bob Marley : Catch A Fire!

Comments
  1. feby says:

    halo🙂, tertarik banget nih aku sama karinding attack, sygnya kmarin ga kebagian nonton waktu d bdg berisik. kapan-kapan, mungkin saya mau wawancara sama karinding attack u/ skripsi saya. kmrn saya disuruh dosen pembimbing saya (Kang Gilang) utk menghubungi kang Jimbot perihal literatur musik sunda dsb. mudah2an bs ketemu ya, sukses terus ya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s