JURNAL KARAT # 69, 20 MEI 2011, VOICE OF ISOLA, ARIEL PETERPAN, DAN SESSION 1 KARAT MASSIVE RECORDING

Posted: August 17, 2011 in Uncategorized
Tags:

JURNAL KARAT # 69, 20 MEI 2011, VOICE OF ISOLA, ARIEL PETERPAN, DAN SESSION 1 KARAT MASSIVE RECORDING

Sabtu, 14 Mei, Tangisan Flava

Kegagalan adalah keberhasilan yg tertunda. Bukankah bgtu kang Kimung?

SMS Teh Yanti Madrim kepada Kimung, 14 Mei.

Pagi yang cerah. Flava tampak siap manggung pagi itu walau dengan deg-degan. Para peserta lomba sudah berkumpul di SMA 4 Bandung, tampak siap untuk tampil di lomba kolaborasi musik tradisional dan modern itu. Sementara kru Karat tampak mempersiapkan tata suara, Man, Zemo, Ghera, dan Ega tampak memeras otak mengakali keterbatasan kualitas tata suara yang digunakan SMA 4 Bandung. Kimung yang datang agak terlambat tampak mengawasi di pinggir panggung. Sungguh ini adalah tata suara buruk lainnya yang pernah saya lihat. Setelah begitu bergemanya wacana pergelaran musik tradisional, panitia sepertinya masih juga belum belajar jika yang dibutuhkan dalam permainan seni tradisi di panggung adalah kebutuhan akan banyaknya mikrofon karena waditra tradisional semuanya adalah alat musik akustik yang butuh mikrofon untuk meneluarkan suaranya. Apa lagi karinding yang memiliki desibel rendah, butuh mikrofon bagus dengan tata suara ekstra sensitif untuk mendukung agar suaranya baik.

Channel yang hanya ada sembilan adalah menjadikan konser ini sangat riskan. Akhirnya banyak penyesuaian ulang yang mendadak dilakukan dan ini membuat persiapan manggung Flava jadi lama dan berlarut-larut. Ini tentu membuat personil yang sudah siap di panggung sedikit membuat semangat mereka drop. Dan benar saja, ketika akhirnya Flava main, permainan mereka benar-benar dikacaukan oleh kualitas tata suara yang sangat tidak mendukung. Sebenarnya, penampilan Flava sendiri lumayan apik dan unik, namun sekali lagi, tata suara benar-benar mengacaukan mereka. Belum lagi sampling Ega yang tak pas karena tak jelasnya tata suara yang dihasilkan. Dan Flava sangat menyadari penampilan mereka yang tidak fit in. Turun panggung, Flava tampak sangat kecewa. Sasa, Karina, Bella, Zamilah, dan Nessa bahkan sampai menangis. Duh, putri-putriku …

Ini sekali lagi saya lihat sebagai salah satu kurang tereksplorasinya panggung-panggung kesenian oleh para penyelenggara acara. Kesenian tradisional adalah kesenian akusktik yang membutuhkan banyak mikrofon dalam pertunjukannya agar kualitas suaranya prima. Pertunjukan kesenian tradisional juga membutuhkan channel yang banyak—minimal 36 channel yang siap broadcast—dengan kualitas engineer yang selain menguasai alat secara teknis, juga memiliki visi eksplorasi kualitas atas tata suara yang nantinya akan dihasilkan. Sang engineer juga harus memiliki telinga yang tajam dan juga paham akan instrumen yang hendak ia tonjolkan musikalitasnya.

Ini bukan hanya kecenderungan yang diperlihatkan SMA 4 Bandung—padahal SMA 4 Bandung sudah pernah mengundang Karat dan tahu kebutuhan yang harus dipenuhi sebuah band karinding—tetapi juga masih juga belum diperhatikan oleh masyarakat kebanyakan yang menganggap konser musik tradisional cukup dengan tata suara yang seadanya saja. Itulah juga sebabnya hingga kini, kualitas pertunjukan kesenian tradisional selalu seadanya kualitasnya dan akhirnya selalu dilihat sebelah mata. Namun sangat salut untuk SMA 4 Bandung yang sudah memiliki inisiatif mengadakan lomba seperti ini. Jarang sekali sekolah yang memiliki inisiatif seperti ini. Dengan menata konsep pertunjukan yang lebih baik saya yakin apa yang dilakukan SMA 4 Bandung ini pada gilirannya akan menumbuhkan benih-beinh yang berkualitas demi perkembangan kesenian tradisional. Maju terus SMA 4 Bandung!

Flava segera kembali ke Common Room setelah mereka kembali tenang. Untuk menghibur hati anak-anak yang penuh semangat ini, Man memutuskan untuk langsung melakukan sesi rekaman “Sakola” dan “Lets Dance – Chaiyya Chaiyya” yang dishoot juga oleh Kapten Jek untuk dirilis di Youtube. Flava menghajar sesi ini dengan penuh semangat! Yeah!!!

Malamnya, Kimung dan Yuki mempersiapkan layout untuk penggung Karat dan mulai bereskperimen dengantchnical riders Karat yang baru. Karat butuh enam belas mikrofon kini untuk mendukung penampilan mereka lebih fit lagi!

Minggu, 15 Mei, Karat di Voice of Isola

Sore itu Karat tampil di acara Voice of Isola yang digelar oleh mahasiswa UPI sebagai program tahunan mereka. Ini adalah acara kampanye kesadaran sejarah dan kesadaran untuk melestarikan bangunan-bangunan sejarah yang dimulai dari titik terpenting yang dekat dengan mereka : Villa Isola. Acaranya terdiri dari bazaar, tur Villa Isola, talkshow, serta menampilkan beragam kaulinan budak. Di acara yang baik ini, Karat dan Mocca menjadi band utama, dan manggung bersama band lain Kazavi, Frantif, Simple Minimalis, dan  Answer for Tomorrow. Karat sendiri dijadwalkan manggung jam tiga sore, sebelum Mocca. Jam empat Karat sudah tampil di panggung.

Foto poster Karat di Isola

Sebuah acara yang keren sungguh! Jarang sekali panggung mahasiswa menggelar acara sekeren ini. Karat juga manggung dengan bersemangat. Mereka menggeber lagu-lagu lama “Bubuka”, “Dadangos Bagong”, “Burial Buncelik”, “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol”, “Gerbang Kerajaan Serigala”, “Maap Kami Tidak Tertarik Pada Politik Kekuasaan”, dan ditutup oleh “Lapar Ma!”. Sungguh sebuah penampilan yang fit!

Senin, 16 Mei, Flava “Bulan Tok” & Fixing Songs Paperback

Sesi latihan Flava membawakan lagu ciptaan Iwan, “Bulan Tok”. Lagu yang kental dengan pakem permainan karinding lama. Lagu ni terumuskan dengan baik, tinggal terus dilatih saja. Man merekam pola “Bulan Tok” yang fiks sementara itu.

Sorenya Paperback melakukan sesi rekaman pola-pola lagu yang sudah jadi. “Piquette”, “Stay”, “Three Days”, “Jalur Kiri Pasar Baru” tuntas direkam.

Selasa, 17 Mei, Karat Road to Massive Recording Part 2

Karat latihan siang ini. Semua lagu yang sudah diciptakan Karat digeber di sesi itu,kecuali “Hampura Ma II”, “Ririwa di Mana-mana”, “Sia Sia Asa Aing”, dan “Wasit Kehed”, “Lagu Perang”, dan “Kawih Pati”. Yang paling intens dilatihkan adalah lagu “Yaro” yang sudah mendekati sembilan puluh sembilan persen fiks sore itu. berbeda dengan biasanya, Mang Ismet yang kini ada dibelakang meja operator dan mengeksekusi posisi engineer. Tak dinyana, ternyata hasil tata suara Mang Ismet mantap sekali! Suara yang dihasilkan sangat sangar, mirip tata suara grunge atau black metal—dua hasrat musik yang memang dekat dengan mang Ismet. Sepertinya Karat akan mulai menggunakan Mang Ismet juga. Met Durs bahayiks hahaha…

Sepanjang latihan Karat, pemasangan instalasi untuk pameran “Syair Lisan” karya Deden Sambas. Ismal yang shoot proses pemasangan instalasi “Syair Lisan” juga shoot Karat.

Rabu, 18 Mei, Ariel Peterpan dan Karinding

Kimung mengunjungi Ariel Peterpan di Rutan Kebon Waru. Ia didampingi Feby dan ternyata ada juga tante, ayah, teteh dan suami tetehnya, serta Kindi, manajer Peterpan. Suasana akrab dan Kimung memberikan oleh-olehnya kepada Ariel—buku Myself, Scumbag Beyond Life and Death, serta karinding. Ariel tampak antusias dengan semua, terutama kepada karinding. Ketika Kimung memainkan karindingnya, ia tampak sangat takjub dan sontak berkata, “Wah ieu mah kudu direkam euy ku urang hahaha…” Kimung juga menceritakan celempung, waditra pasangan karinding. Kimung berjanji, lain waktu menengok Ariel, ia akan membawakan celempung untuknya. Sekali lagi, Ariel tampak sangat antusias.

Dalam jurnal pribadinya, Kimung menulis, “Saya adalah pengagum karya-karyanya Ariel. Saya kira ia adalah salah satu musisi terbaik Indonesia yang patut kita akui. Saya merasa harus memperkenalkan karinding kepada Ariel. Saya yakin dia sudah tahu beberapa instrumen sejenis di berbagai belahan dunia, namun Ariel harus mengenal dan memiliki karinding, instrumen yang ada di Bandung, kota di mana ia dibesarkan. Saya yakin musisi seperti Ariel akan memiliki sudut pandang tersendiri kepada karinding—dan saya yakin itu pasti akan menjadi satu sudut pandang yang unik dan menarik.”

Kamis, 19 Mei, Session 1 Karat’s Massive Recording

Pukul sepuluh pagi, karat sudah berkumpul di Studio Massive untuk rekaman. Setelah menata alat-alat serta tata instrumen rekam, menjelang tengah hari, rekaman dimulai. ini catatan Kimung mengenai kronologi rwkaman Karat siang itu,

12.00, pola dasar “Burial Buncelik” selesai direkam secara live. Dengan media partisi, Inu membagi ruang Studio Massive menjadi empat bagian yang masing-masing dihuni Papay, Kimung, Hendra, serta Jimbot dan Okid ada di satu bagian, sementara Ki Amenk bermain karinding di bilik operator, bersama Inu yang sigap merekam.

12.30, celempung indung Kimung direkam. Kimung menggunakan celempung indung Ki Amenk untuk mendapat resonansi suara, vibrasi, suara lebar dan dalam sebagai latar hentakan “Burial Buncelik”. Inu bereksperimen merekam detil suara celempung mengunakan mikrofon MCE 90 Beyer Dynamic buatan Jerman di titik gong, mikrofon AE 3000 buatan Jepang di titik resonansi celempung, dan dua buah mikrofon kondensor Shure SM 81 untuk merekam ambience celempung. Hasilnya? Mantap!

13.47, celempung anak Hendra direkam. Hendra awalnya akan menggunakan celempung yang baru, naun ia lalu menggunakan celempung klasiknya. Inu masih menata instrumen rekam sama dengan yang ia gunakan untuk merekam celempung Kimung.

14.30, celempung renteng Papay direkam. Ppay menggunakan celempung renteng wasiat Bah Olot khusus untuk Karat. inu masih menggunakan instrumen-instrumen yang sama, namun merubah posisi. Dua mikrofon rekam ia tata di kiri dan kanan celempung rentang dengan jarak sekitar 20 cm dari jalan suara instrument. Dua mikrofon kondensor ia tata di tengah celempung renteng dengan jarak lumayan tinggi, sekitar 50 cm dari permukaan jalan suara celempung renteng.

14.50, karinding Ki Amenk direkam. Ia menggunakan mikrofon ATM 25 Audio Technica Germany dan dua buah karinding, karinding bambu serta karinding kawung, keduanya buatan Bah Olot. Ki Amenk memang merekam suara karindingnya dua kali. Sesi pertama adalah untuk karinding suara jernih frekwensi tengah yang ia mainkan dengan waditra karinding bambu Bah Olot. Sesi ke dua, merekam frekwensi suara lebar dan dalam melalui karinding kawung Bah Olot. Ki Amenk merekam karindingnya dengan partisi berbentuk huruf U menaungi ambience karinding yang ia hasilkan.

15.20, karinding Wisnu direkam, masih menggunakan instrumen yang sama, Wisnu memainkan karinding Bah Olot.

15.40, suling Jimbot direkam, , masih menggunakan instrumen yang sama. Jimbot bermain suling dengan perasaan yang penuh. Rahayu Mang Jim!

16.00, gong tiup Okid direkam, masih menggunakan instrumen yang sama.

16,15, vokal Man direkam. Man bernyanyi dalam tiga sesi. Sesi pertama merekam suara vokal konvensional dan cenderung jernih, sesi ke dua merekam suara vokal pecah, dan sesi ke tiga merekam pola vokal geram yang biasa dinyanyikan Kimung.

17.00, rekaman selesai.

Ada beberapa evaluasi di “Burial Buncelik”, yaitu :

  • Rearansemen komposisi celempung indung, terutama mereduksi kuat tepukan ke ruang gong.
  • Rekam ulang pola vokal Kimung
  • Rekam ulang suling

Inu juga menyarankan Karat agar punya headphone distributor minimal 8 channel untuk mempermudah kontrol monitor Karat jika tampil live.

Foto Karat session 1

Sesi rekaman selanjutnya digeber hari Rabu dan Kamis tanggal 25 dan 26 Mei 2011 , shift 1 dan 2. Khusus merekam dasar lagu-lagu Karat yang akan direkam. Harus dipisahkan lagu-lagu dengan ketukan metronome statis dan lagu-lagu dengan ketukan metronome berubah-ubah. Karat juga harus memperhatikan kesiapan waditra-waditra yang akan dimainkan di sesi nanti untuk efektivitas kerja.

Jumat, 20 Mei, Klip “Gerbang Kerajaan Serigala” Karinding Attack untuk Pameran “Syair Lisan” Deden Sambas, Paperback “kelas Rakyat” dan “hate Song” terumuskan!

Masih tenggelam dalam euforia karena hasil rekaman “Burial Buncelik” yang sangat prima, kabar baik untuk Karat kembali datang dari Gustaff yang memperlihatkan video klip karya Ismal Muntaha untuk pameran “Syair Lisan” karya Deden Sambas yang menggunakan soundtrack serta cuplikan penampilan latihan Karat di lagu “Gerbang Kerajaan Serigala”. Benar-benar video klip yang mantap! Kawan-kawan semua bisa lihat di di http://www.youtube.com/watch?v=F8QGfCy42HY

Siang itu, sesi latihan Paperback tanpa David dan hendra. Kimung, Wisnu, Ayi, dan Zemo merumuskan kembali tata vokal “Three Days”, berlatih lagu-lagu The Beatles, serta merumuskan dua lagu baru “kelas ralyat” yang kental akan balada serta “Hate Song” yang rock ‘n roll banget. Gonna be awesome brother!!!

Roll yer hate!

10 PLAYLISTS : Tarawangsa, Burgerkill, The Beatles, Iwan Fals, Nine Inch Nails, Social Distortion, Motor Head, Pearl Jam, Pink Floyd, Primal Scream, Peterpan

BOOK : The Pilgrimage by Paulo Cuelho

MOVIE : New York Hardcore Documentary Movie, Conspiracy

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s