JURNAL KARAT # 65, 22 April 2011, FLAVA, PAPERBACK, TASIKMALAYA MAGICAL MISTERY TOUR, KARAT DI REKOR MURI RAMPAK 370 KARINDING, HARI BUMI 2011, DAN KOMITMEN REKAMAN

Posted: August 17, 2011 in Uncategorized
Tags:

JURNAL KARAT # 65, 22 April 2011, FLAVA, PAPERBACK, TASIKMALAYA MAGICAL MISTERY TOUR, KARAT DI REKOR MURI RAMPAK 370 KARINDING, HARI BUMI 2011, DAN KOMITMEN REKAMAN

Sabtu, 16 April,  Tasikmalaya Magical Mistery Tour Part 1, Rumah Makan Gentong

Pukul tiga siang, Karat minus Amenk dan Yuki sudah berkumpul di Commonrom. Dua mobil yang rencananya dipakai untuk tur Tasik sudah tiba dan siap berangkat. Menjelang jam lima, semua sudah di jalanan. Di mobil Risa ada Okid as driver, Man, Jimbot, Kapten Jek, dan Kimo. Sementara di mobil Ghera ada Ghera as driver, Viki, Wisnu, Zemo, Kimung, Hendra, dan Papay. Rombongan tiba di Rumah Makan Gentong sekitar jam setengah sembilan malam, disambut oleh Meyti, atau Amey, sang tuan rumah yang ramah, dan Ervan Dayung, salah satu anggota BOH angkatan pertama yang kebetulan ternyata teman Amey juga. Saya sempat membeli marakas atau shaker di toko oleh-oleh yang ada di Rumah Makan Gentong.

Tanpa banyak babibu lagi, Amey segera saja meminta karyawannya untuk menyiapkan makanan untuk Karat dan mereka pun makan dengan lahap. RM Gentong adalah salah satu rumah makan paling terkenal di kawasan Malangbong dan Tasikmalaya. Letaknya yang strategis di antara belokan dan tanjakan jika dari arah Tasikmalaya membuat tempat ini gampang ditemukan. Pekarangan yang luas dan bangunan yang asri juga membuat RM Gentong terkenal sebagai restoran yang senang memanjakan pelanggannya. Betapa tidak, bangunan yang ditata resik di atas kolam yang penuh dengan teratai dan suara gemerecik air ini dilatari oleh pemandangan bukit yang hijau dengan perkebunan sawit, aren, singkong, kolam, dan tentu saja sawah yang saat itu mulai menguning tanda akan segera panen. Makan pun lahap tak terasa hehehe…

Foto Karat di Gentong

Sehabis makan, Karat bersiap untuk memainkan beberapa lagu menghibur pengunjung rumah makan yang malam itu sedang sepi. Tak apa, yang jelas Karat harus kaul di rumah makan ini dan ini juga merupakan salah satu panggung terpenting Karat untuk ditunaikan. Panggung Karat kali ini hanya panggung papalidan belaka melakukan eksplorasi berbagai pirigan musik berbagai daerah yang dikenal Jimbot sang pembawa melodi. Karat sempat membawakan “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol” versi slower than slow dan hasilnya Jimbot cekakakan terus di atas panggung. Session ini juga menghasilkan sebuah lagu berjudul “Cingciripit” yang khusus dibuat untuk memancing sawer hehe… Lagu ini rencananya akan dimainkan di panggung Walhi besok malam di Hotel Bumi Kitri Bandung.

Habis manggung Karat segera diajak naik ke villa Amey yang ada di lereng bukit untuk beristirahat. Subhanallah, lingkungan ini sangat indah dan asri. Di malam hari, dari pekarangan villa kita bisa melihat lekukan jalanan Malangbong – Tasikmalaya serta gugusan pegunungan yang hijau, serta areal perkebunan dan pesawahan yang hijau mengunging membentang di sana. Kimo, Zemo, Kimung, Dayung, dan Amey sempat melakukan sesi potret memotret kawasan sekitar villa yang ditempati anak-anak Karat sebelum akhirnya mengunjungi villa tempat tinggal Amey yang sangat asri. Villa ini dibangun dua lantai dengan dinding kayu yang menonjolkan ornamen bawaan alamiah kayu.

Desain interior dan eksteriornya ditata sedemikian ruma sehingga sangat nyaman dengan berbagai tanaman besar dan kecil mengelilingi villa ini. Di pekarangan, kursi-kursi kuno yang diperbaiki sehingga semakin artistik membuat siapa pun yang duduk-duduk di sana akan merasa nyaman, sementara di dalam desain interior tak kalah cozy. Lantai atas pun demikian, menawarkan kehangatan bagi siapa pun yang ada di sana untuk tinggal. Mantap Mey, rumah yang benar-benar idaman! Kimo, Zemo, Dayung, Amey, dan Kimung sempat melanjutkan foto-foto di sekitar Rumah Makan Gentong sebelum akhirnya jam dua dini hari kembali ke villa untuk beristirahat.

 Minggu, 17 April, Tasikmalaya Magical Mistery Tour Part 2, Tasikmalaya Death Fest

Esok paginya, setelah melakukan aktivitas kecil menikmati alam yang semakin terlihat indah ketika matahari mulai tampak dan sarapan nasi goreng lezat yang diantarkan karyawan Amey, Karat segera berangkat ke lokasi Tasikmalaya Death Fest (TDF) di Indihiyang. Jadwal main Karat sebetulnya jam dua siang, namun mereka sudah harus ada di lokasi jam sebelas siang karena Man bertugas sebagai MC. Dan benar saja, ketika sampai di lokasi jam setengah sebelas, Paim langsung menyambut rombongan dan memberikan Karat ruang tunggu di belakang panggung. Setelah rehat adzan, TDF menampilkan pertunjukan karinding dari Tasikmalaya bernama Kokar atau Komunitas Karinding Tasikmalaya pimpinan Kang Sule. Seorang kontak Kimung yang menyambungkannya dengan Bah Oyon, Nawy, termasuk ke dalam Kokang juga. Permainan mereka standar seperti kelompok karinding pada umumnya, hanya saja Kokang menggunakan kacapi sebagai pengimbuh melodi. Kokang bermarkas di Terminal Cineam, gerbang masuk sebelum naik sekitar lima km menuju Cisarua, tempat di mana Bah Oyon tinggal.

Setelah sabar menunggu, tepat jam 14.00 sesuai jadwal, Karat menghajar panggung TDF. Tak banyak cakap yang diucap Man mengingat Karat harus segera kembali ke Bandung untuk mengejar panggung pukul tujuh malam ini. Maka lima lagu digeber habis, mulai dari “Dadangos Bagong”, “Burial Buncelik”, “Maap kami Tidak Tertarik Pada Politik Kekuasaan”, “Lapar Ma”, hingga “Gerbang Kerajaan Serigala”. Panggung yang mantap dan membuat audiens terkesima dengan aksi panggung kelompok karinding cepat ini.

Beres manggung Karat langsung kembali berangkat pulang ke Bandung. Setelah mengantarkan Amey, Kimo, dan Dayung kembali ke Gentong dan Kimung kembali membeli maracas agar punya sepasang, rombongan langsung menuju Bandung.

Jam enam sore, Karat sudah tiba di Hotel Bumi Kitri dan segera disambut kawan-kawan dari Walhi yang sudah mengundang Karat. Setelah membersihkan diri, Karat segera bersiap di belakang panggung. Viki, Zemo, dan Ghera segera mempersiapkan alat di panggung sementara kawan-kawan dari STSI yang akan menyambut prosesi penyambutan pejabat bersiap-siap. Rencananya, dalam acara peluncuran http://www.walhi.or.id malam itu pejabat yang hadir adalah Ahmad Heryawan dan Dada Rosada. Namun karena dua pejabat itu pejabat banget, maka yang hadir hanya Edi Siswadi saja sang Sekda Kota Bandung.

Edi Sis disambut dengan upacara adat tradisional dan akhirnya ketika ia tiba di tempat duduknya, Karat langsung menyambut sang pejabat dengan sajian karinding pertama dalam tembang berjudul “Dadangos Bagong”. Tak lupa Man menceritakan bahwa lagu ini adalah tentang mereka yang wajahnya sering tampil di media untuk berkampanye namun ketika menjadi pejabat terbukti sudah jka omonga kampanye mereka ternyata B O H O N G belaka. Setelah itu Karat menghajar arena dengan “Burial Buncelik”, “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol”, “Lapar Ma!”, dan satu lagu pemancing sawer yang terinspirasi ketika manggung di Rumah Makan Gentong sehari sebelumnya, “Cingciripit”. Ternyata yang nyawer banyak juga. Karat dapat empat ratus ribu di panggung itu, termasuk dari ajudan Edi Sis. Usai “Cingciripit” Karat menutup panggung dengan “Maap Kami Tidak Tertarik Pada politik Kekuasaan” sebagai lagu tamparan buat para politisi pembohong yang ada di sana saat itu khususnya dan yang ada di seluruh jagat raya ini pada umumnya.

Lets go home now hunny ^^

Senin, 18 April, FLAVA LADY GAGA

Sesi latihan Flava Madrim. Band karinding ini semakin kompak saja. Karena dikejar tengat untuk manggung di lomba kesenian SMA 4 Bandung Mei nanti, Flava akhirnya latihan lagu “Lets Dance” dari Lady Gaga. Rencananya, mereka akan menyambung lagu ini dengan lagu hit saat ini “Chaiyya Chaiyya” yang dipopulerkan Briptu Norman. Dan lagu ini memang punya daya hentak yang kuat, terutama ketika disambungkan dengan “Lets Dance”nya Lady Gaga, terasa semakin kuat dan dinamis.

Hari ini latihan hanya sampai ke lagunya Lady Gaga. Hari kamis akan dimantapkan lagi dan ditambah dengan “Chaiyya Chaiyya”. Semangat terus!

 Selasa, 19 April, GLADI RESIK RAMPAK KARINDING

Karat tak latihan malam ini karena semenjak sore semua sudah berangkat ke Soreang untuk melakukan gladi resik rampak karinding di lapangan alun-alun gedung Pemerintah Kabupaten Bandung.  Gladi resik berjalan mulus. Di alun-alun tersebut panggung komando dibagi tiga. Di tengah-tengah sang maestro karinding Bah Olot sebagai komandan utama, diapit oleh Man Jasad dan Mang Engkus di sisi kiri dan kanannya ikut mengawal rampak karinding. Aba-aba juga dipanceg oleh alunan celempung dan kendang kecil yang memberikan pola kepada karinding yang dimainkan.

Subhanallah allohuakbar, merinding mendengar alunan karinding dimainkan orang sebanyak itu.

Usai gladi resik, Abah memutuskan untuk mengganti komandan sisi kiri yang awalnya mang Engkus menjadi oleh Iwan Cabul dengan berbagai pertimbangan. Semoga besok lancar…

Rabu, 20 April, KARAT DI RAMPAK KARINDING DI ULTAH KABUPATEN BANDUNG KE-370 dan PAPERBACK SESSION “Piquette”

Ini adalah sebuah tonggak yang patut dicatat dalam perjalanan sejarah karinding. Diupayakan oleh para penggiat budaya dan para seniman karinding bekerja sama dengan manis dan harmonis dengan pemerintah Kabupaten Bandung, rampak karinding ini akhirnya bisa digelar. Salah satu penggiat rampak karinding tersebut, Mang Utun, adalah keluarga besar Karinding Attack juga. Salut selalu untukmu kawan! apa yang kita cita-citakan dulu untuk mengadakan rampak celempung seribu karinding tercipta sudah, walau kini baru sekitar 450 musisi—bahkan menurut Mang Utun, di daftar hadir ada 577 pemain karinding, itu pun masih banyak yang tidak mengisi absen ketika hadir di alun-alun Kabupaten Soreang.

Foto Karat di Rampak Karinding Rekor Muri

Ini berita yang dicuplik dari Galamedia mengenai rampak 370 musisi karinding, simaklah,

Setelah Muri, Karinding Berlanjut ke UNESCO

Kamis, 21 April 2011

SUARA karinding menggema memenuhi Lapangan Upakarti tempat upacara peringatan Hari Jadi ke-370 Kab. Bandung, Rabu (20/4). Sebanyak 470 seniman memainkan karinding secara serempak membawakan lagu “Sabilulungan” yang menjadi ikon Kab. Bandung.

Di bawah arranger Bah Olot dari Parakanmuncang, Kab. Sumedang, suara karinding dengan musik celempung, rebab, dan terompet pencak mengiringi lagu “Sabilulungan” yang menjadi ikon Kab. Bandung. Sekalipun hanya satu lagu, namun penampilan seniman yang berasal dari berbagai komunitas karinding di Jawa Barat ini dicatat di Museum Rekor Indonesia (Muri) dengan nomor 4838.

Ditampilkannya rampak karinding pada HUT ke-370 Kabupaten Bandung bukan tanpa maksud. Selain ingin tercatat di Muri, juga agar lebih dikenal kalangan pejabat dan masyarakat Kab. Bandung.

Menurut pemrakarsa rampak karinding, Tubagus Aditia atau dikenal Idit Sang Manarah, rampak karinding ini untuk menunjukkan bahwa musik karinding tidak mati suri sejak ratusan tahun lalu. Musik karinding sudah mulai dikenal masyarakat sejak diperkenalkan Bah Olot tahun 2006.

Musik karinding bisa dikolaborasikan dengan berbagai musik modern. “Bahkan karinding bisa berkolaborasi dengan musik underground maupun metal,” tambahnya.

Setelah berhasil mencatatkan karinding di Muri, Idit berambisi, karinding bisa didaftarkan ke United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO). Idit percaya, karinding bisa diterima UNESCO sebagai warisan budaya tak benda dunia asal Indonesia. Pasalnya, banyak hasil penelitian dan tulisan mengenai karinding.

Senada dengan Idit, Untun Sundawan dari komunitas karinding underground menyebutkan, para seniman karinding yang berpartisipasi dalam rampak karinding ini berasal dari berbagai daerah, seperti Kab. Sumedang, Garut, Cianjur, Kota Bandung, serta berbagai kecamatan yang ada di Kab. Bandung.

Berhasil mencatatkan diri di Muri, kini musik karinding tidak dianggap lagi sebagai musik penghilang hama atau nyamuk. Musik karinding menjadi bagian dari musik bambu tradisional asal Jawa Barat. Karena itu, Kabupaten Bandung pun berikrar sebagai puseur pengembang seni budaya Sunda.

Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporpar), Akhmad Johara menyebutkan, rampak karinding sengaja dipentaskan di depan pejabat. Pasalnya, banyak pejabat yang belum mengetahui musik karinding termasuk alat musik asli Jawa Barat.

Akhmad pun berharap alat musik karinding dan musik karinding bisa masuk ke lingkungan pendidikan sebagai muatan lokal, agar musik ini dikenal siswa sejak dini. “Jika mereka sudah mengetahui dan mau belajar tentang karinding, saya yakin karinding akan abadi,” tambahnya.

Sementara itu dari pihak Muri, Nardi mengaku sangat terkejut dengan apa yang disaksikannya, karena kesenian karinding yang sudah berumur ratusan tahun mampu memberikan suasana yang magis.

“Baru pertama kali saya mendengar musik karinding ini dan ternyata sungguh luar biasa,” katanya. (kiki/ris imantoro/”GM”)**

Sumber :  http://www.klik-galamedia.com/indexnews.php?wartakode=20110421033230&idkolom=soreang

Ini link foto-foto hasil jepretan Yuki Karat, http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1591970933003&set=a.1357358707844.46122.1647791616&type=1&ref=notif&notif_t=photo_comment_tagged&theater, http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1593690015979&set=a.1357358707844.46122.1647791616&type=1, http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1593694256085&set=a.1357358707844.46122.1647791616&type=1, http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1593690815999&set=a.1357358707844.46122.1647791616&type=1, http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1593693136057&set=a.1357358707844.46122.1647791616&type=1

Dan ini foto-foto jepretan kawan Yoki Purwadi,

http://www.facebook.com/media/set/fbx/?set=a.1985198475272.2118385.1402570399

Kamis, 21 April, FLAVA, Lady Gaga dan “Chaiyya Chaiyya” Fixxx!

Flava latihan dari pagi hari ini. Sekolah libur untuk persiapan Ujian nasional, jadi mereka punya banyak waktu untuk menggarap lagu hari ini. Karina, Nessa, Sasa, Selvi, Zamillah, Widya, Syifa, Bella, Siti, Pricilia, plus Zahra adiknya sasa sudah hadir di Common Room siang itu bersama Man, sang guru. Hadir juga Okid, Kimung, dan kru Common Room pada umumnya.

Hari ini “Lets Dance” selesai digarap, pun “Chaiyya Chaiyya”. Hanya beberapa hal detil yang harus diperhatikan, seperti jembatan yang menyambungkan sekaligus mempertegas pergantian dari “Lets Dance” ke “Chaiyya Chaiyya”, dan juga pola gong tiup serta suling yang belum fiks diaransemen Karina. Pola karinding sudah mantap, tinggal diperhalus saja, celempung juga sudah lumayan saling mengisi antara sasa dan Selvi, tingga Zamilah yang harus memperhalus permainan rentengnya. Sebenarnya Widya lebih tepat bermain renteng, tapi karena Zamillah sangat ingin bermain renteng, maka ia tetap diproyeksikan di renteng. Hanya saja Zamillah harus dobel giat berlatih untuk mengejar bagian-bagian musik yang diinginkan Flava. Sementara Zamillah terus berlatih, Widya yang menggantikan bermain renteng.

Di sesi rehat, Flava belajar bermian renteng dan gong tiup. Beberapa anak yang secara cepat menguasai renteng adalah Selvia, Widya, dan Zahra, adik Sasa. Sementara itu, tanpa disangka, Siti ternyata bisa cepat mengejar permainan gong tiup. Di sesi karinding Bella, Syifa, Karina tetap berada di deretan terdepan, sementara Pricilia dan Siti harus terus mempertegas permainan karinding mereka. Khusus Nessa, ia masih kurang centil nyanyinya hehehe…  Mantap kalian semua!

Jangan cepat menyerah yah! Kita berkumpul untuk belajar dan dengan giat serta pantang menyerah semua bisa kita lalui bersama ^^

Semangat!

 Jumat, 22 April, KARAT DI GASIBU

Karat dijadwalkan manggung jam tiga sore di acara ini. Selain Karat ada Ferry Curtis, Acil Bimbo, Reregean, dan lain-lain, serta berderet aktivis lingkungan hidup, petani, dan buruh menyemarakkan panggung Hari Bumi 2011 ini.

Datang ke panggung depan Gedung Sate, Karat langsung mask ke booth talent dan berbincang dengan Ferry Curtis, dalam kesempatan itu Saya mengajak Ferry untuk berkolaborasi dan disambut antusias oleh Ferry Curtis.

Karat sendiri tampil setelah Ferry Curtis di hadapan ratusan petani dan buruh yang datang. Membawakan dua lagu saja, “Lapar Ma!” dan “Maap Kami Tidak Tertarik Pada Politik Kekuasaan”, Karat tampil maksimal. Kimung mencatat dalam jurnalnya, “Senang berteriak maap kami tidak tertarik pada politik kekuasaan tepat di depan gedung kantor Jabar 1 didampingi Ki Daus yang lucu ikut bernyanyi bersama audiens di bawah sana.” Ki Daus saat itu memang diminta menjadi MC dalam acara tersebut.

Ini secarik kertas yang dibagikan Jaringan hari Bumi kepada Viki Rascall dan kemudian diserahkan kepada Saya, dan lalu diserahkan kembali kepada saya. Avatar mengetikkannya untuk saya, simaklah…

Selamatkan Bumi Pulihkan Jawa Barat

Melalui upaya menyelamatkan bumi dari kehancuran,melalui momentum hari bumi yang telah diperingati sejak tuhan 1970, WALHI menyerukankepada seluruh rakyat Indonesia untuk saling bahu membahu guna memulihkan Jawa Barat dari bencana akibat eksploitasi alam yang tidak memperhatikan daya dukung dan kemampuan bumi. Tindakan nyata diperlukan untuk menghentikan setiap kegiatan yang merusak dan mengancam bumi. Jaringan Hari Bumi 2011 mengharapkan agar tanah kembali subur, air kembali sehat, udara menjadi bersih.

 22 April hanya momen saja, mencintai bumi dan melakukan sesuatu untuk bumi adalah rutinitas karena sebenar-benarnya hari bumi adalah setiap hari.

 Jaringan Hari Bumi

Foto Kimung dan Ki Daus

Selesai manggung Karat kembali ke Common Room dan dalam kesempatan itu Karat rapat untuk menentukan rekaman. Disepakati jika rekaman akan dilakukan bulan Mei dengan engineer Yayat dan Inu. Studio sebenarnya bisa disesuaikan anggaran, tapi studio yang paling dirasa representative untuk ukuran kualitas yang ingin dikejar Karat serta yang pasti direkomendasi yayat dan Inu adalah Massive. Ancang-ancang rekaman akan dilakukan dalam rentang waktu lima shift.

Minggu ini, Kimung juga mulai menggarap naskah untuk buku Jurnal Karat, buku yang diproyeksikan sebagai seri terakhir dari Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels. Proses edit mulai dilakukan, rencananya buku ini diusahakan terbit sebelum Bandung Berisik V. Awalnya yang akan terbit Juni atau Juli 2011 adalah Panceg Dina Glur, Ujungberung Rebels, namun melihat kondisi naskah buku Panceg yang masih jauh dari selesai, maka Kimng memutuskan untuk merilis Jurnal Karat terlebih dahulu.  Lagi pula, dengan dirilisnya Jurnal Karat, maka kesinambungan kisah yang sudah dibangun oleh Memoar Melawan Lupa (terbit 9 Februari 2011, Minor Books) sebagai seri pertama rangkaian buku Panceg, akan smakin terjaga. Buku Panceg sendiri diprogramkan terbit September 2011.

Hajar Hajar Hajar Perang!

10 PLAYLISTS : Tarawangsa, Burgerkill, Karinding Attack , The Beatles, Nine Inch Nails, Red Hot Chili Peppers, Sonic Youth, Nicfit, Superabundance, Neowax

 MOVIES : Rumah Ke Tujuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s