JURNAL KARAT # 64, 15 April 2011, MANCAWARNA SARASVATI

Posted: August 17, 2011 in Uncategorized
Tags:

JURNAL KARAT # 64, 15 April 2011, MANCAWARNA SARASVATI

 Minggu, 10 April, LATIHAN TERAKHIR KONSER MANCAWARNA SARASVATI

Cuplikan jurnal pribadi Kimung,

Well ini latihan terkahir. Kami kira, kami sudah sangat siap secara mental walau masih ada aransemen masing-masing instrumen yang masih mengganjal. But show must go on, man! Dan kami sudah siap dengan konser nanti. Sekarang ini aransemen sudah selesai digubah dan satu hal yang paling penting adalah bagaimana cara kita memainkan aransemen ini senyaman mungkin.

 Senin, 11 April, FLAVA dan PAPERBACK SESSION “Stay dan Jalur Kiri Pasar baru”

Kelas Karinding Flava yang selanjutnya. Masih menggarap lagu sendiri bertema sekolah. Salah satu cuplikan liriknya, “Sakola, lain tempat keur pamer huntu!” Hahaha kalian mantaps Flava ^^Flava juga bersiap untuk menggarap aransemen lagu pop yang akan mereka mainkan nanti di suatu lomba kesenian di SMA 4 Bandung.

Setelah Flava, Paperback melakukan sesi latihan. Kimung, David, Zemo, Hendra, dan Wisnu berlatih lagu sendiri , “Jalur Kiri Pasar Baru” dan “Stay”. Latihan kembali bergulir ke aransemen lagu-lagu The Beatles ketika Ayi tiba.

 Selasa, 12 April, Karat Session

Libuuuuurrr Buuuuuu….!!!

Obo ach…

 Rabu, 13 April, Gladi Resik Mancawarna, Flava, dan Paperback’s flute on “Fool on The Hill”

Gladi resik dimulai jam sebelas siang. Namun baru jam satu siang personil semua pihak bersiap. Siang itu semua pihak yang terlibat dalam konser Mancawarna Sarasvati berkumpul membantuk lingkaran mengelilingi tumpeng berdoa bersama untuk semua kelancaran konser. Doa ditutup oleh makan bersama tumpeng yang disebutkan manajemen Sarasvati untuk semua yang hadir.

Cek jalur tata suara terus dilakukan hingga akhirnya menjelang magrib, barulah Karat bisa cek tata suara mereka. Gladi resik akhirnya dimulai pukul setengah delapan dan berakhir pukul sepuluh lebih. Ada kendala sedikit di dua lagu terakhir menjelang konser : mikser overheat dan harus direstart. Setelah lima menit jeda diisi oleh evaluasi singkat dari manager panggung, gladi dilanjutkan.

Bismillah, semoga semua akan lancar besok pagi, amiin…

 Kamis, 14 April, MANCAWARNA SARASVATI

Personil-personil Mancawarna Sarasvati  dan kru serta panitia sudah terlihat di Dago Tea House sejak jam dua siang. Semua sibuk mempersiapkan segala hal untuk kelancaran konser ancawarna Sarasvati.Penonton sudah mulai berjubel dan masuk ruangan sejak tam tujuh malam. Di belakang panggung Karat tampak sudah sangat siap dan tampil habis-habisan. Okid hadir dengan rambut mohawk tiga, sementara Wisnu tampil dengan isolasi hitam membungkus wajahnya.

Konser dimulai pukul setengah delapan tepat, diawali rajah, doa yang dilantunkan Man Jasad untuk kesejahteraan dan keselamatan bersama serta kelancaran semua urusan umat manusia, diiringi petikan kacapi Jimbot. Layar masih tertutup dan semua hening, nuansa semakin terbangun ketika akhirnya gemericik awi cai yang dimainkan Yuki menutup rajah dan langsung disambung oleh dentingan gitar akustik Akew mengawali lagu pertama konser Mancawarna malam itu. “Detik Hidup” dimainkan dengan sangat hidup oleh Akew yang mengiringi lantunan kawih suara Risa yang begitu bening. Walau lagu ini hanya akustik belaka, namun ini tak mengurangi kekuatan yang terpancar dari lagu.

Selepas “Detik Hidup”, Jimbot segera menyambung dengan lantunan suling intro lagu Karat, “Burial Buncelik” sebagai tanda jembatan menuju lagu selanjutnya, “Fighting Club”. Ketika akhirnya celempung Kimung masuk mengawal lagu, layar panggung segera terbuka lebar disambut tepukan audiens yang membahana di seantero gedung. Pergantian intro “Burial Buncelik” menuju “Fighting Club” berjalan dengan mulus dan kini lagu ini pelan namun pasti mulai menyergap relung-relung para audiens di sana. Yess, we are happy family ^^

Di jeda, Risa sempat menyapa audiens sebelum akhirnya masuk ke lagu favorit saya, “Cut and Paste”. Di lagu ini Sarasvati main sendiri tanpa iringan Karat atau pun Bohemian, dan mereka membawakannya dengan sangat baik. Aplause! Habis “Cut and Paste”, Sarasvati langsung menyambung konser dengan “Question”. Karat kini kembali bermain mengiringi Sarasvati dengan fokus utama permainan di karinding. Man, Wisnu, dan Amenk bermain karinding dalam pirigan yang renggang sementara Kimung melatari nuansa karinding dengan pola pirigan yang rapat dan melodis, mengikuti nuansa vokal Risa serta emosi yang terbangun dalam musik. Okid terus mengiringi dengan goong tiup sementara Yuki bermain awi cai dan alat tiup, Jimbot di sesi alat tiup, serta Hendra dan Papay  setia pada sesi celempung. Patut diakui jika nuansa karinding berhasil membangun lagu ini menjadi lebih tragis dan misterius, hingga akhirnya lagu ini usai.

Tak banyak kata-kata, Risa segera masuk ke lagu selanjutnya, “Oh I Never Know” dan di perempat awal lagu, Muhammad Tulus segera bergabung untuk berduet dengan Risa di panggung. Ah penampilan yang spektakuler, kalian berdua! Sarasvati kembali bermain sendiri di lagu ini, pun ketika masuk ke lagu berikutnya, lagu cantik ciptaan Abah Iwan Abdurahman yang kebetulan hadir di konser malam ini, “Melati Suci”. Jika saya punya jempol yang sangat banyak, saya akan mengacungkan semua jempol saya untuk Risa yang telah dengan sangat baik menyanyikan lagu ini. Aplus luar biasa juga buat Bohemian yang mengiringi Sarasvati dengan alunan orchestra mereka di lagu ini.

Masuk ke lagu selanjutnya tentang Bu Mae almarhumah, Karat kembali bersiap. “Bilur” dimainkan kembali dengan iringan  pola karinding lambat yang kini dibangun dengan nuansa gong celempung indung Kimung yang bersahut-sahutan dengan gong celempung anak Hendra, serta waditra pembangun nuansa lain yang dimainkan dengan sangat apik dan pas oleh Papay, Jimbot, Okid, dan Yuki. Nuansa karinding meruyak semakin dalam ketika Ambu Ida hadir di panggung untuk menjeritkan melodi misterius yang diciptakan Bu Mae untuk “Bilur” secara misterius pula. Aplus penonton semakin membahana ketika pergantian nuansa pentatonis kembali ke nuansa diatonis, pun ketika Ambu Ida memberi penghormatan kepada audiens dan kembali ke belakang panggung. Ambu, baktos salamina ti Karinding Attack ^^

Bohemian kembali bersiap ketika judul lagu “Melati Putih” disebutkan Risa. Ini adalah lagu terbaru Sarasvati dan lagu ini kini menjadi bonus track di Story of Peter rilisan terbaru. Lagu yang sangat indah dan saya jatuh cinta pada pendengaran pertama ketika Risa memberikan lagu ini kepada saya di Common Room di era Karat dan Sarasvati berkolaborasi untuk panggung SMA 2 di Sabuga.

“Saya langsung jatuh cinta ketika pertama kali melihat mereka tampil dan mendengar suara alat musik ini!” Risa bercerita kepada audiens sebelum ia mengundang kelompuk musik ini untuk hadir di panggung bermain bersamanya. “Teman-teman semua, kita sambut, Taisogotho!”

Dengan seragam kimono putih-putih Taisogotho dari Himpunan Mahasiswa Bahasa Jepang UPI hadir membawakan intro yang sangat membius melalui sengatan suara taisogotho bersahutan dengan dentuman dram Sherry. Setelah satu aransemen yang dibangun dengan kompleksitas tinggi, Shery membawa audiens masuk ke “Kala Sang Surya Tenggelam” bersahutan dengan celempung renteng Kimung, gong tiup Okid, dan kohkol Papay. Dalam satu aransemen yang apik, taisogotho tampil meninggalkan kesan yang dalam dan sangat personal dalam hati siapa pun yang menikmatinya.

Mancawarna Sarasvati jeda tiga menit yang diisi oleh hentakan karinding ceria oleh Karat. Suasana rancak, ramai, hiruk, dan pikuk dibangun di panggung dengan penampilan aktraktif Karat. Semua bermain karinding, kecuali Jimbot yang tetap di suling, Okid di goong tiup, Hendra di celempung anak, dan Papay di celempung renteng. Teriakan-teriakan sengak dan huray-huray serta tepuk tangan penonton mengiringi permainan Karat. Risa menghilang sejenak di panggung  untuk berganti kostum, sebelum akhirnya aba-aba rancak irama karinding ditutup dan dibalikkan ke nuansa muram melalui permainan kohkol Papay di nada minor—intro dari lagu selanjutnya, “Tiga Titik Hitam”.

Foto Karat di Mancawarna Sarasvati

Risa yang kini tiba di panggung dengan kostum marun dan hitam memanggil Viki Burgerkill untuk tampil di panggung bersamanya. “Tiga Titik Hitam” adalah lagu fenomenal Burgerkill sejak pertama diciptakan dan dinikmati publik. Sarasvati dan karat membawakan lagu ini bersama dalam konser mereka di bazaar SMA 2 Bandung di Sabuga, dibantu oleh Achie Gugat menggantikan Viki yang tidak sempat dihubungi. Sebuah kolaborasi luar biasa yang kembali diulang di konser Mancawarna. Sarasvati. “Tiga Titik Hitam” yang dibawakan Sarasvati, Karat, dan Viki—tentu juga Achie, sebelumnya—semakin menegaskan bahwa tak ada batasan dalam musik, apakah itu tradisional, modern, pop, atau metal. Musik adalah satu dan akan selalu satu, hadir sebagai pemersatu. Mantap!

Habis “Tiga Titik Hitam”, “Perjalanan” kini mulai dimainkan. Balada yang diciptakan Franky Sahilatua dan dinyanyikan oleh Jane ini sangat klasik. Sarasvati memainkannya bersama Bohemian, sementara Okid memberikan nuansa untuk lagu ini dengan tiupan-tiupan sirit uncuing melalui peluit Jatiwanginya.

Masih dalam kolaborasi bersama Bohemian, Sarasvati segera masuk ke lagu selanjutnya, “Gloomy Sunday”. Lagu ini judul aslinya “Szomorú Vasárnap”, diciptakan oleh komposer dan pemain piano autodidak dari Budapest, Hungaria, bernama Rezső Seress dengan lirik gubahan penyair Lazlo Javor tahun 1933. Lagu ini terkenal sebagai lagu pengiring kematian karena banyak yang telah menjadi korban bunuh diri karena seolah-olah terhipnotis setelah mendengar lagu tersebut. Rezső Seress sang penciptanya sendiri juga meninggal akibat bunuh diri pada tahun 1968 dengan meloncati jendela apartemen dari tempat tinggalnya karena menyadari bahwa setelah “Gloomy Sunday” meledak jadi hit pertamanya di berbagai negara, dia berpikir bahwa dia tidak akan pernah lagi bisa menciptakan hit seperti itu untuk yang kedua kalinya.

Lagu ini telah diterjemahkan kedalam beberapa bahasa seperti Bahasa Inggris, Perancis, Finlandia, dan Spanyol, dan telah dirilis dalam tujuh versi oleh lima puluh enam penyanyi yang berbeda termasuk di antaranya versi Heather Nova, Bjork, Ray Charles, Sarah Brightman dan Sinead O’Connor, versi Billie Holliday-lah yang membuat lagu ini sangat terkenal dan pada akhirnya menjadi versi standard. Sarasvati menjadi musisi ke lima puluh tujuh yang membawakan lagu ini. Patut dicatat bagaimana kolaborasi string dan brass section Bohemian dengan dramer Shery dan programmer Tengku dari Sarasvati. Pun permainan Yura, Riana, dan Ferry. Kalian semua bermain sangat mantap!

Lagu selanjutnya dipersembahkan oleh orang yang dianggap pahlawan oleh Risa, yaitu Kang Ibing. Setelah pemutaran cuplikan film Kang Ibing, Sarasvati dan Bohemian mempersembahkan lagu “Gugur Bunga” yang kemudian disambung oleh lagu “Syukur”. Risa mengundang Cholil Efek Rumah Kaca untuk bernyanyi bersamanya di panggung.

Risa kemudian masuk ke lagu selanjutnya, lagu baru Sarasvati yang baru saat itu dimainkan di panggung. “Aku dan Buih” diawali oleh nyanyi bersama seluruh personil Sarasvati, sementara itu Risa memperkenalkan satu demi satu personil Sarasvati kepada audiens, sebelum akhirnya Bohemian masuk bersama dengan Sarasvati. Beautiful song!

Dalam jembatan ke lagu terakhir “Story of Peter”, audiens dibawa ke alam Peter melalui suguhan film pendek mengenai Peter dan salam khas Risa untuk Peter yang hadir pula malam itu. ini adalah lagu terakhir dan Sarasvati bermain total bersama Karat dan Bohemian di lagu ini dalam porsi yang sangat pas! Dengan aransemen baru, lagu ini benar-benar luar biasa.

Terima kasih kepada Yayat Boyat, Inu, Andri, Viki, Ghera, Mang Tahu, Mang Jek.

Terima kasih kepada para musisi : Sarasvati—Angkuy, Diantra Irawan, Dimas Ario, Egi Anggara, Ferry Nurhayat, Hin Hin Akew, Marshella Safira, Muhammad Tulus, Riana Rizki, Sheryta Arsalina, Tengku Irfansyah, dan Yunita Rachman; Boehmian—Andan Adrian, Dafiq maulana, Dedy, Dian Bjo, Dorry, Erwin Setiawan, Fadliansyah, Henrik Ndik, Kiki, Oki Dirgualam, Tommy Ilham, Raga Dipa, Widya Febriyanti, dan Yoyo; serta Taisogotho—Ajeng Novianti, Dea ratnawulan, Fujiasti Asterita, Irma Masfutah, Tantri Wasliati, Tiffany Widiatami, Tio Hirda, Yahuar Lutfi, dan Yunisa.

Karat Respect!

Jumat, 15 April, Jumits Kramits

Ngumpul di Common Room, Jumit Kramits. Ada dua agenda yang dibincangkan, yaitu evaluasi permainan Karat di konser Mancawarna Sarasvati yang dinilai sukses dan pembenahan berbagai performa lain yang bisa semakin menguatkan Karat, serta rencana manggung di Tasik Death Fest.

Ini ada kisah unik tentang fakta Karat di Tasik Death Fest (disingkat TDF) : Karat baru tahu jika biaya produksi yang sudah disepakati Ki Amenk adalah transport dua ratus ribu, padahal sebenarnya, Karat butuh biaya operasional jauh lebih banyak untuk konser TDF. Sebenarnya ini bukan masalah nominal juga. Hanya saja jika Karat tahu tentang ini sejak awal—dari Karatnya sendiri ada yang saling berkomunikasi—maka Karat bisa bersiap menanggung sisa biaya produksi yang tak tertanggung panitia. Namun karena ini serba mendadak, maka perlu improvisasi dan imajinasi menyikapi fenomena ini.

Maka Karat mengontak kawan Karat di Tasikmalaya yang sekiranya bisa membantu. Yang dikontal adalah Meyti atau Amey, sang pemilik Rumah Makan Gentong di sekitar Malangbong. Ia bilang akan mendukung Karat menutupi biaya produksi yang kurang. Ia juga menawarkan Karat untuk nabeuh di RM Gentong malam Minggu jam sembilan malam dan menyediakan tempat menginap di villanya buat Karat. Waw, tawaran menggiurkan yang disambut Karat dengan hangat!

Bagaikan dimudahkan pula, ketika mobil Kudung ternyata sedang dipakai, tiba-tiba Risa mempersilahkan Karat memakai mobilnya karna ia sendiri akan manggung di Yogyakarta saat itu. tak kalah, Ghera juga bersedia ikut dan menyediakan mobilnya untuk transportasi.

 Nanana, mari besok kita berpetualang ke Tasikmalayasss ^^

10 PLAYLISTS : Tarawangsa, Burgerkill, Karinding Attack , The Beatles, Ministry, Einsturzende Neubauten, Exploited, Sex Pistols, The Clash, Carcass

BOOK : Seratus tahun Kesunyian by Gabriel Garcia Marquez

 MOVIES : Ben by Aisyah Amirah, Social Network by David Fincher

QUOTE :

One two three four six seven, All good people go to heaven, “You Never Give Me The Money”, The Beatles

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s