JURNAL KARAT # 62, 25 Maret 2011, Karat Orgy with Ratna, Tami, Maya, Tisna Sanjaya, Papap, Amel

Posted: August 17, 2011 in Uncategorized
Tags:

JURNAL KARAT # 62, 25 Maret 2011, Karat Orgy with Ratna, Tami, Maya, Tisna Sanjaya, Papap, Amel

Sabtu, 26 Maret, Karat Orgy with Ratna, Tami & Maya

Malam Minggu yang penuh gairah di Common Room. Kawan-kawan Karat dari berbagai daerah datang berkumpul untuk menyaksikan konser kolaborasi Karat dengan tiga perupa, Ratna, Tami, dan Maya. Kekar tampil pertama membuka acara dengan suguhan lagu-lagu sendiri mereka yang sangat bagus. Dibuka dengan kawih “Sampurasun”, disusul oleh lagu-lagu yang mantap berjudul “Nu Gelo”, “Persib Nu Aing”,  dan satu nomor dari The Panas Dalam yang mereka aransemen ulang dengan apik. Hendra patut bangga dengan pencapaian anak-anak didiknya di Kekar ini.

Usai Kekar, tampillah Karat bersama tiga pelukis yang sudah bersiap, Ratna, Tami, dan Maya. Seharusnya kolaborasi ini bersama Uswa juga, namun Uswa harus pulang ke Indramayu sehingga tidak bisa ikut serta dalam proses kolaborasi. Para pelukis segera menggoreskan alat-alat lukis mereka di kanvas sejak “Bubuka” dilantunkan oleh Karat. Berurutan kemudian lagu-lagu “Dadagos Bagong”, “Burial Buncelik”, “Hampura Ma”, “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol”, “Maap Kami Tidak Tertarik Pada Politik Kekuasaan”, “Sia Sia Asa Aing”, “Wasit Kehed”, “Lapar Ma”, “Gerbang Kerajaan Serigala”, “Tai Kotok”, “Ririwa Di Mana-mana”, “Lagu Perang”, dan ditutup “Kawih Pati”, sementara para pelukis terus menggarap lukisan mereka. Suasana sedikit canggung karena konsentrasi Man terpecah antara membawa suasana pertunjukan dengan melukis juga. Namun, Karat menghajar konser ini tanpa kendala yang berarti.

Foto kolaborasi Karat dengan Ratna, Tami, dan Maya

Akhirnya, ketika konser berakhir, berakhir pula lukisan yang digarap para pelukis. Man melukis abstrak dengan judul “Sunyaruri”, sementara Ratna, Tami, dan Maya menjuduli karya mereka sesuai judul lagu Karat, “Gerbang Kerajaan Serigala”. Lukisan-lukisan yang sayang sekali untuk dilepaskan.

Acara ini juga menandai kontak pertama Karat dengan band karinding cilik, Flava, dengan hadirnya dua personil Flava, Sasa dan Teh Yanti.

Minggu, 27 Maret, Karat di Pusat Kebudayaan Cigondewah dan Sukuran Nikahan Papap & Amel

Menjelang siang yang panas, Karat sudah tiba di Pusat Kebudayaan Cigondewah untuk menunaikan panggungnya di acara rutin gelaran Pusat Kebudayaan Cigondewah, milik seniman Tisna Sanjaya. Acara yang digelar oleh Pusat Kebudayaan Cigondewah, bekerja sama dengan PRUNGconcept, Harax, Klab Isi, PabrikIde, dan masyarakat Cigondewah ini diskusi buku Politweet, Menjepret Politik Indonesia dalam Komik, karya Salman Aristo,serta gelaran musiik yang menampilkan Karinding Attack, Silentium, Kelas Ajag, Sundanis Rude, Moist, Samantha School, pencak silat, nasyid, performance art Alin – Anggawedhaswara – David Thomas, dan lain-lain.

Karat tampil garang setelah pencak silat karena siang itu harus segera menuju nikahan Dani Jasad dan Amel. Di nikahan sahabat ini, Karat juga dijadwalkan untuk manggung.

Jam tiga sore Karat menghajar panggung nikahan Papap – Amel membuat tercengang para tamu dan kawan-kawan seujungberungan dengan lagu-lagunya yang semakin progresif. Lagu-lagunya sama dengan yang mereka mainkan di Cigondewah.

Selamat menempuh hidup baru Papap – Amel, semoga bahagia selamanya!

Senin, 28 Maret,

Okid, Man, Wisnu mengunjungi Bah Olot, menengok Abah setelah meninggalnya Bah Entang. Tapi ternyata Bah Olotnya tidak ada di tempat, sedang pergi ke Tasikmalaya bersama Mang Engkus. Rombongan kembali lagi ke Bandung.

 Selasa, 29 Maret,

Kimung dan Okid ke Bah Olot. Kimung tiba jam sebelas siang, Okid tiba satu jam kemudian. Ada Iwan cabul, Ema, serta kawan-kawan personil Giri Kerenceng yang baru. Bah Olot sedang latihan ketika Kimung datang. Setelah bercerita mengenai meninggalnya Bah Entang, mereka semua mengenang Bah Entang. Di kesempatan itu, Kimung mendapat celempung kidal dan bangkong reang dari Bah Olot.

Sore harinya, Karat—diwakili Man dan Wisnu—dan Sarasvati menyatukan kembali visi aransemen lagu-lagu Sarasvati yang dimainkan bersama Karat. Ada beberapa pola yang harus dirubah dan diaransemen ulang, ada beberapa pola yang harus ditambah ahungnya.

Hajar terus!

Jumat, 1 April

Common Room sangat ramai malam ini. Ada salah satu kelompok pionir karinding Bandung, Galengan, yang manggung di sana malam ini dalam rangkaian Kiwari Artweek. Karat sempat melihat sebentar Galengan sebelum berangkat ke Unpar dan melakukan cek tata suara.

Cek tata suara pergelaran Light Metaforindustrial di Plaza Unpar. Bertemu dengan kawan-kawan Pure Saturday beserta kru dan kawan-kawan Ujungberung Rebels yang lain. Cek tata suara dilakukan dengan lancar. Ada masalah dengan monitor namun semua bisa diatasi. Man juga berencana memakai kursi wasit sebagai instalasi penunjang pergelarannya kali ini. Semoga besok lancar!

Pipes and papers…

10 PLAYLISTS : Tarawangsa, Burgerkill, Karinding Attack , The Beatles, Faith No More, Nine Inch Nails, Pearl Jam, The Cure, Divine Heresy, Cavalera Conspiracy

BOOK : Harapan Untukmu by Adele Geras dan Cliff Wright

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s