JURNAL KARAT # 61, 25 Maret 2011, CINEAM MAGICAL MYSTERY TOUR MENGUNJUNGI MAESTRO KARINDING BAH OYON

Posted: August 17, 2011 in Uncategorized
Tags:

JURNAL KARAT # 61, 25 Maret 2011, CINEAM MAGICAL MYSTERY TOUR MENGUNJUNGI MAESTRO KARINDING BAH OYON

Selasa, 22 Mar, Karat Live in UIN Sunan Gunung Djati

Panggung yang sangat bergairah! Seperti halnya acara-acara kampus yang senantiasa minim audiens, pun dengan acara ini. Namun antusiasme ditunjukkan dengan jelas dari wajah-wajah audiens yang datang menantang hujan di sore hari itu. Karat sudah hadir di UIN Sunan Gunung Djati sejak pukul setengah empat untuk menghajar panggung pukul empat sore. Acara ini adalah rangkaian program acara mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati yang tahun ini bertema Gebyar KBM Sunan Gunung Djati, “Quovadis UIN Sunan Gunung Djati Bandung”, dimulai dari tanggal ceramah Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, oleh K.H. Didi Darul Fadli, Selasa, 22 Febuari 2011, di Masjid Iqomah, pukul 19.30 WIB, dilanjut Gerak Jalan UIN -Manglayang, Sabtu, 05 Maret 2011, dilanjut Bedah Buku “Artis Pun Bertuhan” oleh Bambang Saputra bersama Dr. Bambang Irawan (UIN Jakarta), Dr. Sayidu Rahman (IAIN Sumut), Drs. Suaiban M.Hum (IAIN Sumut), Dr. Bambang Q Anes (UIN Bandung), Anwar Fuadi, dan Dedi Dores, Sabtu, 12 Maret 2011, Lokakarya Sistem Keorganisasian Mahasiswa, Bersama Team Amandemen dan Pakar Hukum, Senin, 21 Maret 2011, Seminar Kemahasiswaan & Kepemudaan bersama Dr. Andi Mallarangeng M.Si dan dilanjut Talkshow Debat Calon Kandidat Rektor UIN SGD, Senin, 21 Maret 2011, ditutup esok harinya tanggal 22 Maret 2011 oleh rangkaian seminar kurikulum, citizen Jurnalism, Lomba Karya Tulis ilmiah, Lomba Foto Berita, Lomba Layout Buletin, Lomba Liputan Video Berita (Citizen Jurnalism). Di acara penutupan inilah Karinding Attack tampil prima bersama Edcoustic, Nahawan Voice, Melancholiz, Elektrik Rance, God Holly Name, Last Redemtion, Concrete, Overload, dan lain-lain.

Antusiasme yang begitu besar ditunjukkan audiens ketika akhirnya Karat dipanggil sebagai band penutup acara ini, semua audiens yang awalnya diam-diam di pinggir menikmati sajian musik, serentak maju ketika Man mengajak semua agar mendekat dan merapat.

Karat menghajar panggung dengan “Bubuka”, “Dadangos Bagong”, “Burial Buncelik”, “Maap Kami Tidak Tertarik Pada Politik Kekuasaan”, “Gerbang Kerajaan Serigala”, “Lapar Ma!”, “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol”, dan ditutup “Kawih Pati”.

Great gig!

Ada perbincangan dengan Ibn Buleud mengenai risetnya tentang Ujungberung Rebels dan pola keagamaan yang terjadi di dalamnya. Kimung dan Capt. Jek berencana ke Cineam menemui Bah Oyon. Mereka mengajak Yuki dan Wisnu untuk turut serta.

Rabu, 23 Mar, Cineam Magical Mystery Tour

Ini jurnal perjalanan Kimung mengenai kunjungannya bersama Wisnu dan kapten Jek ke Cineam mengunjungi maestro karinding Cineam, Bah Oyon. Simaklah,

 Cineam Magical Mystery Tour

 Oleh Kimun666

Jam empat subuh, Yuki menelpon saya dan mengabarkan jika kakeknya meninggal sehingga ia tak bisa ikut serta ke Tasikmalaya bersama rombongan. Maka setelah singgah di Cibiru menemui Bejo yang ternyata sedang di kosan Daniel di Cihampelas, saya, Wisnu, dan Capt. Jek segera meluncur ke Cineam, Tasikmalaya. Perjalanan pergi terasa cepat. Jam delapan mereka sempat singgah di lapak penjual bonsai di Malangbong sambil ke toilet dan sarapan sebelum akhirnya lanjut menuju Tasik. Sempat terjadi insiden Wisnu yang ditantang gelut setiba di Tasikmalaya jam sembilan pagi. Padahal ga salah apa-apa kita mah, cuma berhenti di belakang seorang premix Tasik kali yah yang segera ngalieuk dan ujug-ujug nantang gelut. Edun lah si aa mah premik abeess, hebat lah, sarapanna ge gelut. Enya salut a, modar we sia gancang-gancang trus asup naraka![1]

Setelah tanya sini, tanya situ perjalanan menuju jalan Cisarua, Cineam segera dilanjutkan. Sekitar 30 km masih harus ditempuh menuju arah Banjar. Setelah kembali melewati persawahan, perkebunan, hutan, dan akhirnya dua tanjakan yang satu bagus, yang satu jelek dengan perkebunan salak serta pepohonan kawung/aren, akhirnya kami sampai sekitar pukul setengah sebelas di tempat tinggal Bah Oyon.

Kami disambut oleh Bah Oyon serta Ibu yang memang sudah menanti-nanti kami. Kami segera diajak masuk oleh Bah Oyon dan sambil beristirahat sejenak, rokok dan kopi, kami segera disuguhi kisah-kisah seru mengenai Cineam dan karinding.

Hmmm cerita selengkapnya ntar aja di film dokumenter yang sedang saya dan Capt. Jek garap yah hehehe…

Yang jelas, kami mewawancara Bah Oyon untuk penulisan buku dan film dokumeter Jurnal Karat. Bah Oyon sendiri dengan sangat kooperatif dan terbuka bercerita kepada kami mengenai sejarah dan kisah-kisah karinding di Cineam, hingga pengalaman hidupnya sebagai seorang pedagang, guru, serta abdi negara yang setia mengabdi negri ini memajukan pendidikan di sekolah-sekolah yang sulit maju. Kisah yang miris mengingat sejak mengajukan pensiun dini tahun 1992 hingga sekarang, Bah Oyon sama sekali tidak mendapat hak tunjangan pensiunnya dari pemerintah. Berbagai janji diobral, namun begitulah pemerintah. Berbagai janji juga diobral para politikus termasuk Dede Yusup, tak satu pun ditepati. Alhamdulillah, batin Bah Oyon, senantiasa. “Nu jelas mah, Abah tos ngabdi ka negri ieu. Eta nu paling penting. Nu sanesna mah iklaskeun we ayeuna mah,”[2] ujarnya lirih.

Kisah karinding di Cineam tak lepas dari area pemberontakan seorang cucu raja kerajaan Tengah dalam mendobrak tradisi pingit di masyarakat Tatar Sunda bernama Kalamanda. Ia jatuh hati dan berupaya memikat hati kembang desa Cineam bernama Sekarwangi. Setelah dianjurkan untuk bertapa oleh sang kakek, ia mendapat ilham untuk menciptakan alat musik untuk memikat Sekarwati. Dalam ilham itu ia harus membuat alat musik dari bagian bawah pelepah aren yang tumbuh di lereng-lereng gunung, sudah berumur cukup, dan harus di potong ketika hujan di puncak gunung namun tak sampai ke lereng di mana pohon aren tersebut tumbuh. Kalamanda lalu memainkan alat musiknya di bawah jendela kamar Sekarwati dan mampu mengundang sang dara untuk mendatanginya. Kawih yang ia mainkan ia juduli “Nanyaan” dan kawih inilah yang diyakini masyarakat Cineam sebagai kawih karinding yang pertama kali diciptakan. Ketika akhirnya Kalamanda mampu memikat Sekarwati dengan alat musik tersebut, maka mulailah dua muda-mudi itu bermain karinding bersama-sama sehingga ikatan hati di antara keduanya semakin pagut. Mereka akhirnya menikah dan hidup berbahagia.

Para pemuda yang penasaran dengan cara Kalamanda memikat Sekarwati lalu meminta rahasia Kalamanda. Ia menceritakan bahwa Sekarwati terpikat dengan alat musik yang ia ciptakan. Maka sejak itu, para pemuda Cineam beramai-ramai meminta dibuatkan alat musik tersebut kepada Kalamanda dan mempelajarinya. Karena mirip dengan hewan pesawahan yang disukai masyarakat Cineam saat itu yang bernama kakarindingan, maka alat musik tersebut lalu dinamakan “karinding” oleh Kalamanda. Karinding terus dilestarikan di Cineam hingga hari ini, bisa disebutkan Bah Oyonlah yang memangku amanat pewarisan karinding kepada generasi muda Cineam.

Sejak mendirikan kelompok musik karinding Sekar Komara Sunda pada tahun 1964 bersama lima kawannya, hingga kini sudah tiga generasi anak muda Cineam yang ia ajarkan membuat dan memainkan karinding. Berbagai panggung ia jajal, juga berbagai olaborasi dengan musik lain ia mainkan. Hingga hari ini sudah 46 tahun ia berkecimpung di dunia seni karinding. Sudah banyak karya yang ia hasilkan yang harus menjadi pemahaman bahwa karya-karya ini adalah warisan ayng tak ternilai harganya bagi sejarah karinding di Tatar Sunda. Untuk itu Karat bersama Gigi Trah Project berencana akan kembali ke Cineam dan merekam karinding Sekar Komara Sunda yang kini beranggotakan anak-anak usia sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Karat sempat mengabadikan Sekar Komara Sunda kini menyanyikan tiga kawihnya yang mantap.

Usai wawancara, saya, Jek, dan Wisnu disuguhi makan siang tempe, sambal, dan pete. Mantap hahaha… Obrolan diteruskan sambil menunggu hujan gerimis yang tiba diam-diam. Tak terasa, waktu menunjukkan pukul empat sore dan kami harus pulang.

Terima kasih Bah Oyon! Semoga sehat-sehat selalu! Kami akan segera kembali!

Foto Karat dan Bah Oyon

 Kamis, 24 Mar, Karat Live in Politeknik Bandung

Panggung yang juga bergairah! Senang sekali melihat antusiasme mahasiswa-mahasiswa Politeknik Bandung—selanjutnya Polban saja—dalam mengeksplorasi seni dan Sunda. Acara bertajuk Annual Fest Mahasiswa Bahasa Inggris Politeknik Bandung “Marvelous Sunda” ini adalah acara pergelaran musik yang diisi oleh Karinding Attack, Tarawangsa, dan Tiga Pagi, selain juga berisi perlombaan pidato dalam bahasa Sunda dan Inggris, dan bazaar yang meriah di plaza Polban walau di luar hujan mengguyur dengan deras. Katika Karat akhirnya naik panggung sebagai penutup acara, audiens yang awalnya terberai di sekeliling plaza, semua merapat mendekati panggung.

Karat menghajar panggung ini penuh gairah!

 Jumat, 25 Mar, “Ratna, Tami, Maya, Uswa Talks” dan latihan ketiga Threesome Karat Sarasvati Bohemian

Latihan semakin menunjukkan bentuk aransemen baru dari Karat.

Top of the slide where I see you again…

10 PLAYLISTS : Tarawangsa, Burgerkill, Karinding Attack , The Beatles, Sarasvati, Nine Inch Nails, Pearl Jam, Nirvana, Fear Factory, Carcass

 BOOK : V for Vendetta by Alan Moore dan David LLoyd

 MOVIE : Starship Troopers

 


[1] Hebat lah si aa preman banget, sarapannya juga berantem. Mati saja kamu dan cepat-cepat mausk neraka.

[2] Yang jelas, abah sudah mengabdi pada negri ini. Yang lainnya diiklaskan saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s