JURNAL KARAT # 52, 21 JANUARI 2011, Sakarat di Bazaar SMA 2 Bandung, Karat di Babakan Asih, dan Penciptaan “Lapar Ma!”

Posted: January 23, 2011 in Uncategorized
Tags:

JURNAL KARAT # 52, 21 JANUARI 2011, Sakarat di Bazaar SMA 2 Bandung, Karat di Babakan Asih, dan Penciptaan “Lapar Ma!”

Oleh Jon 666

15 Jan, Sabtu, Karat vs Sarasvati di Bazaar SMA 2 Bandung, Sabuga, dan Man Jasad Vs Ausie Noise

Jam setengah lima Karat dan Sarasvati sudah berkumpul di ruangan artis Sabuga yang telah disediakan oleh panitia bazaar SMA 2 Bandung. Karat dan sarasvati dijadwalkan manggung jam lima sore, dan jam segitulah mereka akan naik panggung menututp sesi pertunjukan sebelum break adzan magrib. Mantaps! Berkali-kali saya kagum dengan profesionalitas adik-adik di SMA 2. Mereka begitu sigap dan juga sangat berdisiplin dalam mengatur acara. Semuanya tepat waktu dan berjalan dengan baik. Saya selalau kagum dengan hasil kerja anak-anak SMA. Kalian semua pol!!

Kru juga bekerja dengan sigap mengeset panggung ketika panitia sudah meminta Sarasvati dan karat untuk bersiap-siap. Dan ketika MC sudah emmanggil Sarasvati dan Karat, semua sudah benar-benar siap, sampai akhirnya Risa naik ke panggung dan memulai pertunjukan. This is the show time baby!!!

Risa membuka pertunjukan dengan “Perjalanan” dari Franky and Jane. Semua tampak santai mengiringi nyanyian Risa diiringi lantunan merdu Dian dan Sella. Tata lampu yang pas dan penonton yang menunjukkan antusiasme  tinggi melengkapi atmosfer nyaman sore itu. Karat banyak melakukan improvisasi spontan mengiringi lagu ini di panggung, di samping pola utama yang sudah fiks dilatih di studio. Tepuk tangan panang menutup “Pejalanan” malam itu.

“Fighting Club” langsung dilantunkan kemudian. Intro duet kibordis Fery-Yura bersahutan dengan renteng Kimung-Papay dan indung Hendra, membangun suasana “Fighting Club”, diombang-ambing dengan suling Jimbot yang bahayiks. Nada semakin naik, semakin naik bersahutan dengan drum hingga akhirnya Risa masuk, “We are happy family…” Yea, we are happy family brother and sister. There’s a lot goin’ on and still we are happy family ^^ Semakin mengalun mencair antara Karat dan Sarasvati setelah empat panggung dihajar bersama-sama selama ini, dan ini adalah awal yang baik di 2011 untuk membuat segalanya semakin baik. “Fighting Club” tuntas dengan tepuk tangan panjang dari audiens di sana.

Sehabis itu, Risa mengundang Tulus naik panggung untuk berduet di “Oh I Never Know”. Satu nomor juara yang seakan mempersatukan semua gairah yang ada di gedung saat itu. karat bermain semakin sederhana, terutama di sesi celempung. Kini mereka sudah semakin ada di dalam lagu itu dan hanya perlu member sentuhan-sentuhan untuk memperkokohnya saja. Uhh how I always love “Oh I Never Know” ^^

“Bilur” segera dimainkan. Risa bernyanyi sambil duduk di panggung. Alunan suling JImbot kembali menghanyutkan suasana di antara musik yang dibagun Sarasvati dan Karat. Seperti halnya “Oh I Never Know”, “Bilur” juga dimainkan semakin sederhana namun ada di baian yang semakin pas dengan lagu sehingga semua menjadi semakin menonjol. Kibordis Yura kembali menggantikan Ambu Ida yang berhalangan hadir saat itu. Kembali lantunan merdu sinden Yura membawa kami mencapai klimaks lagu saat itu sebelum kahirnya Risa menyudahinya dengan satu koor panjang di sepanjang sisa lagu.

Karena waktu, dua lagu “Story of Peter” dan “Maap Kami Tidak Tertarik Pada Politik Kekuasaan” urung untuk dimainkan. “Tiga Titik Hitam” lah yang akhirnya menjadi lagu penutup malam itu. Risa membuka lagu dengan memanggil kolaboratornya, “Teteh yang satu ini dulu sering saya baca beritanya di berbagai media indie di bandung. Dia adalah seorang wanita, berjilbab, namun bernyanyi untuk satu band metal… Achie Gugat, dulu kita kenal sebagai Achie Dinning Out!” disambut dengan teriakan riuh audiens. Achie berdiri di sana bersama Risa, Sarasvati dan Karat malam itu. Lagu terakhir dari kami, Tiga Titik Hitam, dari Burgerkill!” seru Risa disambut teriakan audiens dari sana.

Ada satu perasaan hening yang aneh sejak Achie naik panggung sampai intro dimainkan. Satu hening yang tak bisa didefinisikan. Hening yang semua bisa merasakannya ketika Karat dan Sarasvati memainkan. Hening yang terutama dirasakan para personil Karat. Alunan karinding juga semakin membuat hening itu menusuk. Ada satu desir aneh yang dirasakan Karat ketika memainkan lagu ini bersama Sarasvati. Entahlah, serasa Scumbag hadir malam itu…

Dan ini adalah satu panggung yang apik. Semua bermian dengan intens, penuh dengan penghayatan dan perasaan. Yaaa, mungkin karena Scumbag benar-benar hadir malam itu…

Kolaborasi antara Risa dan Achie juga sangat unik. Risa yang tampil serba hitam mengesankan gloomy melantunkan nada-nada yang tenang dan merdu, sementara Achie yang tampil begitu muslimah justru bernyanyi dengan berteriak dan gundah. Sebuah titik balik dari hal yang tak terdefinisikan, seperti juga lagunya, “. . . “

Ini adalah panggung pertama “Tiga Titik Hitam” dimainkan oleh Karat dan Sarasvati, and it’s a gudd start really!! Semua tampak sangat bahagia ketika pertunjukan usai. Berkumpul di ruang artis sambil toast bersama, saling tawa dengan lepas. Sarasvati dan Karat diwawancara bersama oleh beberapa media kabar acara ini.

Seusai pertunjukan, semua berkumpul di Commonroom. Kebetulan, Commonroom menggelar acara noise exhibition berupa pertunjukan musik noise yang dimainkan beberapa kawan musisi noise musik bandung. Saya lihat salah satunya ada favorit saya Aneka Digital Safari sedang bermain efek dan kabarnya ada juga musisi noise dari Australia yang bermian noise sambil makan kaca. Wah kuda renggong nih, pikir saya sambil berhehehe…

Dan benar saja, sampai di Commonroom, suasana sangat ramai. Dari dalam terdengar dengung-dengung noise dimainkan para musisi. Betul-betul impresif. Saya ingat di era tahun 90an ada band Nicfit dari ranah musik Purnawarman yang memainkan beragam noise seperti itu. sekarang Nicfit bermain lebih simpel, namun regenerasi musik noise ternyata terus berlangsung. Salut kepada adik-adik yang memainkan musik ini. Hajar terus!!!

Dan akhirnya tibalah saatnya penampilan musisi Australia. Tampak jauh sekali perbedaan musisi ini dengan musisi-musisi dari Indonesia. Ia mempu mengemas musik noise dalam satu konsep pertunjukan yang asik untuk dilihat. Ia menyusun pola musik noise yang baik disertai seni peran yang provokatif : ia menggunakan media kaca sebagai model instrumen noise yang dimainkannya. Dan kaca tak sekedar diperagakan sebagai alat yang bersangkutan, kaca ini ia gigit, ia benturkan ke kepala hingga pecah berantakan, dan pelingnya ang berserakan ia ianjak-injak disertai alunan musik noise yang terus berlanjut sesuai dengan segala gerakan yang ia lakukan. Mantaps!

Man Jasad yang terbengong-bengong dengan pertunjukan itu seakan tersengat. Ia tak mau kalah dan mengajak sang musisi Australia untuk berkolaborasi. Tadinya man mau menggunakan golok atau samurai untuk melengkapi aksi pertunjukannya. Karena tajk juga menemukan golok, Kimung dengan iseng nyeletuk, “Geus weh make motor tah bawa asup ka jero, gerung-gerung weh ku maneh di jero hahaha…” Tak dinyana, Man seakan terinspirasi. Ia segera saja menggotong motor Addy gembel masuk ke dalam dan menjadi media untuk berkolaborasi. Sambil menggerung-gerung motor, ia melakukan vokal sedot atau guttural panjaaaaaaaaannngg banget di mulut knalpot motor yang dengan kencang mengeluarkan asap.

Uhhhh fukkk!!!

Dan Man melakukan ini terus menerus selama mungkin lima sampai sepuluh menit disertai alunan npoise dan sayatan-sayatan kaca di mulut dan tubuh  musisi Australia ini. Damn, sick Man Jasad!

Akhirnya pertunjukan usai ketika kaca yang dimainkan sang musisi habis. Man Jasad rawkk!! “You sick! Insane Man to do that shit! Next time, I’ll drive the truck and he’s going to do the guttural on the knalpot. And after the show, he’ll dead man hahaha!” canda sang musisi ketika bergabung dengan Karat, sarasvati, dan anak-anak lainnya dipelataran Commonroom malam itu.

Uhh happy Saturday night ^^

16 Jan, Minggu, Karat di Pasanggiri Pencak Silat Babakan Asih

Siang yang cerah di Babakan Asih. Suara kendang, goong, dan trompet menyemarakkan suasana siang itu karena di Babakan Asih sedang digelar Pasanggiri Pencak Silat yang diikuti oleh anak-anak di sekitar Babakan Asih. Karat diundang manggung di acara itu oleh Karang Taruna Babakan Asih. Babakan Asih adalah sebuah kawasan binaan kawan Reggi Kayong Munggaran dalam hal pemberdayaan masyarakat. Higga kini babakan Asih menjadi salah satu kawasan yang paling aktif di kota bandung dalam menyelenggarakan berbagai kegiatan positif untuk pembnagunan. Kiprahnya bisa diklik di…

Karat diundang untuk tampil mengisi acara di pasanggiri tersebut dan ini tentu saja sebuah kehormatan. Lewat tengah hari semua sudah berkumpul di aula lapang Babakan Asih bersiap untuk manggung. Seusai sekotak dua kotak konsumsi masing-masing personil—minus Ki Amenk dan Okid yang berhalangan hadir karena sakit, semua segera bersiap manggung. Ketika semua sudah siap, Karat segera menghajar panggung.

Tak banyak bicara, Man segera membuka pertunjukan Karat dengan “Bubuka” yang disambung dengan “Burial Buncelik”, “Dadangos Bagong”, “Wasit Kehed”, “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol”, dan akhirnya lagu provokatif “Maap Kami Tidak Tertarik Pada Politik Kekuasaan”. Di sela break, man menceritakan apa itu musik karinding, kondisi karinding jaman sekarang, seraya mengajak anak muda semua untuk peduli kepada pengembang seni budaya lokal, dalam hal ini seni budaya Sunda dan seni budaya di daerah masing-masing di seluruh dunia.

Pertunjukan diteruskan dengan lagu terakhir, medley “Lagu Perang” dan “Kawih Pati” yang semakin matang diaransemen. Mantap! Suasana kekeluargaan sangat terasa di panggung ini, seperti kata man jasad menutup pertunjukan, “Andaikan semua masyarakat di seluruh dunia hidup rukun dan damai seperti di Babakan Asih, niscaya seluruh dunia akan aman dan sejahtera.”

Amiin Ahung Mangs…

Sehabis acara Karat diundang untuk menghadiri tiga acara sore itu : rapat Bandung Berisik V di Studio Burgerkill di Gumuruh, press conference album terbaru Jeruji, Warlock, dan pernikahan Irman dan Anggi malam itu. slamat kepada semuanya!!! We luv you all!!!

18 Jan, Selasa Scriaw, Lagu “Lapar Ma!” Diciptakan!

Seharusnya malam ini Karat latihan di studi Kawaluyaan, namun karena tak ada mobil untuk mengangkut alat-alat, maka Karat berlatih di Commonroom. Sepi selasa mala mini. Karat yang hadir Cuma Man, kimung, hendra, jawis, dan Yuki. Jam sembilan malam mereka mulai berlatih. karena kurang personil maka mereka lebih focus berlatih skill tatabeuhan yang baru, mencari pirigan-pirigan yang oke buat lagu-lagu baru.

Kimung memulai dengan pirigan massif yang sudah sejak lama ia ciptakan namun tak kunjung menciptakan chemistry yang baik di antara ia dan Hendra. Mungkin karena baik Kimung maupun Hendra masih bingung mau dibawa ke mana lagu ini nantinya. Sebetulnya simple saja, untuk kordline lagu ini yang dibutuhkan adalah satu bar panjang pola pirigan celempung yang variatif dan dinamis, diisi oleh renteng yang fungsinya membangun nuansa. Hingga akhirnya Man datang dan mencoba memasukkan lirik yang baru ia tulis berjudul “Lapar Ma”.

Namun demikian, setelah trial and error beberapa kali, Kimung menegaskan jika nyawa lagu yang ia garap tidak nyurup dengan jiwa lirik yang ditulis man. Maka kemudian, ia mencoba lirik tersebut dimainkan di dalam pirigan cepat yang diciptakan Kimung dan Hendra ketika mereka manggung di acara pameran Illuminators. Dan ternyata masuk mangs!! Pas!!

Beberapa aransemen tengah-tengah lagu ditambah dan dikurangi sehingga akhirnya malam itu “Lapar ma” selesai digarap! Lagu yang mantap, powerfull dan begitu serius, namun ditutup oleh lirik yang mengalir ke canda. Agak kurang ngawin memang, namun semua masih bingung dengan konsep yang fiks. Untuk sementara, aransemen ini adalah aransemen yang terbaik yang diciptakan untuk “Lapar Ma!”

Kimung bercerita, ada kecenderungan baru dalam proses eksplorasi penciptaan lagu-lagu Karat. Ia melihat Hendra semakin eksploratif dalam membentuk aransemen lagu. Saking eksploratifnya bahkan ia cenderung ngacak dan potong temple di mana saja, sesuka hati. Ini tentu oke-oke saja, namun jika kemudian aransemen utuh yang dihasilkan malah jadi ngga ngawin antara soul satu pola pirigan dengan pola pirigan lain, tentu saja akan mendegradasi jiwa lagu. Beberapa kali Kimung dan hendra menggarap lagu, permainan pola pirigan selalu ditabuh Hendra, dari pola pirigan cepat, tiba-tiba berubah jadi pirigan lambat, tiba-tiba robah lagi jadi pirigan baru. Ini tentu saja jadi hal yang bagus dan unik—sekali lagi—jika ngawin. Selama ini roh itu masih belum terasakan dalam lagu-lagu Karat yang baru. Namun demikian, keterbukaan hendra terhadap masukan dan kritik akan menjadi modal yang kuat baginya untuk lebih matang dan dewasa dalam mengaransemen lagu, tidak secara emosional asal tempel di mana-mana. Hmmm jd inget lagu Sarasvati, “Cut and Paste”… syalalalalalala…

Di lini vocal juga sama. Man yang juga semakin eksploratif cenderung menabrak-nabrakan warna vocal sehingga dalam satu lagu ada dua, tiga, hingga empat warna lagu yang satu sama lain tidak ngawin sehingga membuat arah lagu semakin blur. Kimung mengeluhkan ini karena dengan begitu banyak warna yang dipulas, justru membuat lagu jadi abstrak dan tidak jelas. Sementara itu, audiens di Indonesia adalah audiens kongkrit. Bukan audiens cerdas yang bisa menangkap abstraksi seni dalam satu karya seni. Pemahaman mereka belum sampai ke sana. Lagi pula sangat menyulitkan merumuskan lagu dengan beragam rasa. Jadi inget permen nano-nano, manis asem asin hebat rasanya hahaha…

Tapi tetap, personil Karat semua adalah pribadi yang terbuka. Semua bisa merasa dan semua bisa menerima kritik dan saran. Ini adalah satu fase yang mau tidak mau harus dilalui Karat untuk naik ke level aransemen lagu selanjutnya yang lebih eksploratif dan berwarna-warni. Semoga! Semangatt!!

21 Jan, Jumat,

Ini edisi ke-52 Jurnalkarat. Saya kira saya akan bertapa…

Sampai jumpa di edisi setahun dari sekarang ^^

Cheer ups!

NEXT : Apabila si miskin ingin rekaman…

10 PLAYLISTS : Tarawangsa, The Beatles, Burgerkill, Divine Heresy, Anthrax, Slayer, Gorguts, Carcass, Godflesh, Tika and the Dissidents

LITERACYS : Poems Freedom by K666, Narkomika by Norvan Pecandupagi

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s