JURNAL KARAT # 46, DESEMBER 2010, WITH SARASVATI IN NO BOUNDARIES, DRUM’S DAY WITH BURGERKILL, NORVAN PECANDUPAGI R.I.P, PAPERBACK READER

Posted: December 12, 2010 in Uncategorized
Tags:

JURNAL KARAT # 46,  DESEMBER 2010, WITH SARASVATI IN NO BOUNDARIES, DRUM’S DAY WITH BURGERKILL, NORVAN PECANDUPAGI R.I.P, PAPERBACK READER

 

Jon 666

 

4 Des, Sabtu, kembali Bersekutu dengan Sarasvati di No Boundaries!!!

No Boundaries merupakan sebuah pertunjukan serta ekshibisi seni yang di gelar dalam dua hari oleh kalangan masyarakat biasa yang mempunyai cita rasa seni. Acara ini digelar mulai tanggal 3 Desember hingga 4 Desember 2010 bertempat di New Majestic, Jalan Braga No 1, Bandung. No Boundaries terdiri dari pameran karya seni rupa dan pertunjukan musik. Karya rupa akan dipajang di dalan Kafe New Majestic—dulu kita menyebutnya Gedung AACC—memajang karya para artis Arya Verdiantoro, Helvi Sjarifudin, Dendy Darman, Syagini Ratna Wulan, Arkiv Vilmansa, Zanun Nurangga, Eric Wirjanata, Marin Ramdhani, Ardo Ardhana, Anto Arief, Egga Pratama, dan Aulia Naratama. Karya rupa yang dipajang terdiri dari karya lukis, foto, patung, video, dan media lainnya.

 

Sementara itu, pertunjukan musik digelar di palataran New Majestic, dimeriahkan oleh Foot Step, MAJIC & FAR/ FAB FAMILY, White Shoes and The Couples Company, Efek Rumah Kaca, THE MILO, MUNTHE, Olive Tree, Sarasvati, serta para DJs : DXXXT, DASA, HENDRA, DMZ, ADIT, EGG, Marah Laut, dan LUKS. Pergelaran seni ini juga didukung seniman visual Hammer and Mace. Sarasvati kembali mengajak Karat di panggung ini. Mereka dijadwalkan manggung terakhir jam sembilan malam.

 

Sejak jam delapan semua personil Karat dan sarasvati sudah ebrkumpul di venue sambil menikmati suguhan musik White Shoes and Couples Company. Masuk pukul setegah sembilan, semua berumpul di ruangan artis di dalam Gedung AACC—sekarang New Majestic—dan bersiap-siap. Akhirnya ketika waktunya hampir tiba Sarasvati dan Karat kembali berdoa bersama dipimpin oleh Syauqi sang manajer. Semuameriakkan semangat, “Rahayu!!” tanda mereka siap menghajar panggung malam itu. Ketika akhirnya MC memanggil Sarasvati, mereka sudah siap tempur seratus persen!

 

Delapan lagu digeber malam itu dari “Kala Surya Tenggelam”, “Fighting Club”, “Perjalanan”, “Question”, “Cut and Paste”, “Bilur”, “Oh I Never Know”, hingga akhirnya ditutup oleh “Story of Peter”. Karat kembali memainkan pola yang sama ketika main di Lou Belle dengan beberapa penyesuaian karena Mang Fery urung hadir di panggung ini. Untuk mengisi renteng Mang Fery, Hendra lalu memainkan celempung rentang gambang, sementara Kimung tetap memainkan celempung renteng kacapi. Secara global, permainan Karat di panggung ini lebih tertata daripada sebelumnya. Pun dalam hal keseimbangan tata suara, Mang Tahu sudah semakin mumpuni mengatur semua dan suara yang keluar semakin imbang. Penonton memberikan aplus panjang untuk penampilan malam hari itu.

 

Sekali lagi, terima kasih Sarasvati untuk kesempatan ini ^^

 

5 Des, Minggu, Silaturahmi Komunitas Karinding Iwoeng

Dari Karat, hanya Hendra yang datang ke silaturahmi Komunitas Iwoeng jadi yang digelar di Tugu Pahlawan sekitar Sungai Citarum. Hendra cerita jika Komunitas Iwoeng semakin hari berkembang semain pesat dan berhasil merangkul semakin banyak anak muda, termasuk kaum wanita. Hendra menggambarkan, “Istri-istrina garaya, diariket, maraen karinding, maraen celempung. Pol pisan pokona!”

 

Maju terus Komunitas Iwoeng!!! Maapkan kami tak selalu hadir dalam riungan, namun percayalah kami selalu berdoa agar Iwoeng selalu jaya dan berkembang semakin pesat ke depannya, amiin!!!

 

6 Des, Senin, Darah Hitam Kebencian Session #3

Sesi drum sudah semakin solid, konsepnya juga sudah tertata semakin baik. Ada beberapa hal yang patut diperhatikan dalam permainan celempung di tengah lagu. Perbedaan frekwensi dan kekuatan power instrumen antara celempung dan drum tetap menjadi masalah tersendiri dan karenanya ketika celempung dan karinding bermain Papay ditugasi khusus untuk mengawalnya dengan permainan perkusi. Celempung dan karinding sendiri akhirnya fiks bermain hanya dibagian ketika para drummer saling bersolo dan menjadi jembatan antara solo skill drum dengan solo intensitas komposisi  drum yang dibangun para drummer sebagai drum. Namun demikian, Kimung tetap mempertahankan beberapa bagian celempung renteng yang dimainkan di tengah lagu terutama ketika beat drum dan riff gitar dimainkan dalam komposisi yang tidak rapat.

 

Hingga saat itu renteng belum bisa hadir di studio Burgerkill karena tak sempat dibawa dari Commonroom setelah panggung sehari sebelumnya. Pirigan-pirigan celempung hanya dimainkan melalui celempung indung dan anak yang dimainkan Kimung dan Hendra. Kimung juga lalu meminta Jawis untuk bermain karinding untuk member nuansa Karat di pirigan celempung yang dimainkan. Awalnya Jawis juga memang memainkan celempung, namun demikian karena setelah dicoba ternyata nuansa yang dihasilkan tanpa karinding menjadi kurang ‘attack’ dan ‘nyeureud’, Jawis beralih ke posisi karinding.

 

Setelah puteran ke dua latihan dan break magrib para musisi sedikit melakukan evaluasi latihan. Dalam evaluasi ini Abah Andris meminta semua untuk fiks instrumen yang akan dimainkan. kepada Karat ia meminta agar instrumen yang akan dimainkan semua sudah lengkap di hari besok agar komposisi bisa dimantapkan sesegera mungkin. Karat juga mengungkapkan kepada Andris bahwa sebenarnya komposisi pirigan celempung yang dimainkan di tengah solo drum ada liriknya, yaitu teriakan, “Maap kami tidak tertarik pada politik kekuasaan!!!” Andris yang excited sepertinya terinspirasi dengan lirik tersebut dan meminta dibuatkan bagian yang sama dengan lirik namun dengan kata-kata yang beda, lebih mengacu pada tema drummer’s day mereka. Berbagai frase lirik dicoba dimainkan namun sampai hari itu belum juga ditemukan kata yang tepat.

 

Awalnya Andris meminta lirik yang bobodoran, namun belakangan Kimung memberikan wawasan agar lirik yang diteriakan para drummer nanti adalah kata-kata penggugah atau setidaknya kata-kata khusus dedicated to para drummer sejagad. Ia berjanji akan membuatkan liriknya malam itu. Sementara itu Jawis dan Kimung juga janjian besok pagi untuk mebawa celempung renteng bersama-sama ke Commonroom agar bisa dipersiapkan untuk latihan esok harinya.

 

Sehabis latihan, Hendra singgah di rumah Kimung untuk kembali menggarap beberapa komposisi lagu baru. Namun ternyata mood tak mengijinkan mereka berdua menggarap lagu sehingga sampai larut malam mereka hanya ngawangkong saja mengadu bako di pelataran rumah Kimung. Saat itulah ide lirik tiba-tiba muncul dan segera ditulis dalam sms di hp kimung. Inilah lirik tersebut : HIDUP DRUMMER INDONESIA – TERUS BERKARYA – DO THE GREAT WITH THE BEATS – HIT THE SKIN TILL IT BLEED!

 

Sms segera dikirim ke Andirs and he said oks hahaha…

Rahayu!!!

 

7 Des, Selasa, Darah Hitam Kebencian Session #4

Sejak pagi Jawis sudah di Commonroom janjian dengan Kimung untuk membawa celempung renteng dan celempung indung ke Studio Burgerkill. Namun demikian ketika hari semakin naik Kimung tak muncul-muncul juga akhirnya ia berinisiatif mengangkut renteng dan indung bersama Zemo dalam satu motor dan ternyata bisa dilakukan. Uhh mantap Mang Jawis dan Mang Zemo!

 

Maka demikian, sejak siang hari itu, Andris, Jene, Papay, Hendra, dan Jawis mulai berlatih bersama memantapkan pirigan-pirigan yang mereka mainkan bersama-sama. Para drummer sebetulnya masih terus mengeksplorasi skill masing-masing untuk menampilkan permainan terbaik mereka jadi sebenarnya komposisi yang sudah terpola saat itu belum sepenuhnya utuh bagi para drummer. Pun bagi Karat, komposisi tetabuhan yang dimainkan juga belum sepenuhnya fiks karena kini celempung renteng semakin focus dimainkan juga. Beberapa puteran dimainkan para musisi tersebut sampai tak terasa waktu menunjukkan magrib dan mereka memutuskan untuk break.

 

Sehabis break magrib, memasuki sesi latihan malam hari Kimung dan Agung datang bergabung. Hingga saat itu Kimung masih menggunakan celempung indung karena belum juga menemukan aransemen yang kuat untuk celempung renteng. Beberapa pirigan ia mainkan namun tetap tak ada nada yang cocok untuk mengimbangi komposisi drum. Hal ini terutama terkendala masalah perbedaan frekwensi dan power instrumen sehingga sulit bagi Kimung mengukur akurasi pirigan dan nada yang disusun dalam struktur permainan drum. Karenanya Kimung memutuskan utnuk memainkan celempung indung saja.

 

Baru setelah diiringi gitar Agung dan Eben hadir melihat latihan, ia memberikan saran kepada Kimung untuk memainkan celempung renteng pola tradisional saja. Pola aransemen progresif celempung akan kalah dengan drum mengingat begitu terbatasnya nada dalam celempung dan kekuatan suara yang dihasilkannya. Untuk menyusul drum, celempung membutuhkan banyak alat pendukung lainnya dan lagi pula aransemen progresif sudah terwakili dengan drum dan dimasukkannya celempung serta karinding adalah untuk memberikan warna lain, yaitu warna etnik dan itu hanya ada dalam pirigan tradisional.

 

Saran ini diperkuat oleh Andris yang meminta Kimung mengaplikasikan pirigan-pirigan celempung indung “Maap kami Tidak Tertarik pada Politik Kekuasaan” dan “Yaro Tahes” ke dalam celempung renteng. Kimung lalu mencoba memainkan beberapa pirigan dua lagu Karat tersebut dalam renteng dan hasilnya memang luar biasa. Komposisi “Yaro” memang jadi dirobah namun itu tak masalah karena beberapa pirigan disambut baik juga oleh para drummer, terutama Papay yang bermain perkusi.

 

Malam itu akhirnya disepakati jika renteng jadi dimainkan sebagai salah satu instrumen pendukung Andris Burgerkill di drummer’s day nanti.

 

Andris mulai enyebarkan informasi mengenai Drummer’s Day,

 

BANDUNG DRUMS DAY,

The Biggest Drum Event in Indonesia

Featuring drum performance by Gilang Ramadhan, Hendy GIGI, Sandy & Richard PAS band, Demas Narawangsa, Andris Burgerkill, Punk vs Metal battle, Ervin eks-Cokelat, Ozom RocketRockers, Andri Rudal eks-Puppen/JollyJumper, Adhisty She Band, Ari Aru 4Peniti, Agus Sahara eks-Sahara/Wachdach, Sani Jeruji, Rifky Forgotten, Bagas (10thn), Akbar (12thn) many more…

Drumset artists exhibition by Pepep ST12, Reza Peterpan, Eric Changchuters, Tomtom The TITANS, Aria Five Minutes, Maggi /Rif, Didit Ari Lasso Band, Indra Mocca, Abx 9Ball, Ikki Marry Jane, Wox Matta, Acil The SIGIT, Boyan Laluna, Q-we Kapten, Ekky The Face, Dickie Play, Marching Band Gita Pakuan and many more…

Collectors & Distributor Expo

Sabuga

Tuesday, 14 december 2010

10 am – 10 pm

Ticket: IDR 15.000

Let’s beat the world!

 

8 Des, Rabu, Darah Hitam Kebencian Session #5

Sesi latihan hari ini aransemen yang dimainkan sudah semakin mantap. Karinding mang Jawis yang kemarin sempat tersendat-sendat hari ini menunjukkan kemajuan yang sangat signifikan. Pun celempung renteng Kimung yang semakin menampakkan kemajuan dalam hal pirigan dan juga aransemen.

 

Setelah satu putaran latihan antara Andris, Jene, Papay di sesi drum dan Kimung, Hendra, serta jawis di sesi karinding dan celempung, Andirs meminta Kimung memainkan baseline dasar “Yaro” yang diaplikasikan di celempung renteng, sementara pola melodik celempung akan dimainkan oleh Papay melalui instrumen tam-tam yang ada di drumnya. Jene juga setuju denga Andris, mengingat ada satu nuansa yang hilang ketika permainan Kimung berubah dari intro yang melodic ke tengah lagu yang ritmik dalam renteng. Beberapa kali dicoba memainkan pirigan tradisional bersahutan dengan tamtam Papay akhirnya samar-sama para karat dan Papay mendapat gambaran untuk dialog perkusi dan celempung. Satu putaran lagi dan semua lancar!

 

Sore itu juga semua kedatangann tamu mahasiswa-mahasiswa jurnalistik fikom yang datang untuk membuat liputan mengenai karinding. Mereka mewawancarai Kimung di sela-sela break dan juga kemudian mewawancarai Eben dari Burgerkill untuk membangun testimoni dari musisi luar karinding mengenai karinding.

Sehabis break, semua kembali bersiap untuk sesi selanjutnya sebelum magrib tiba. Jam lima tepat Burgerkill bersama Karat, Jene, dan Papay memulai latihan “Darah Hitam Kebencian” format Drummer’s Day. Ini adalah latihan pertama Drummer’s day session diiringi oleh Burgerkill secara utuh. Bahkan Viki yang tidak nyanyipun hadir mengikuti seluruh sesi latihan sore itu. Pun para mahasiswa fikom Unpad yang ada bergabung untuk mendokumentasikan sesi altihan ini di dalam studio.

 

Latihan beres 90 % dalam sekali putaran dan Burgerkill mengungkapkan sangat menyukai format aransemen yang telah dibuat. Oww god thx a lot ^^

 

Besoknya direncanakan latihan bersama lagi karena ternyata keberangkatan Burgerkill untuk tur jawa diundur jadi hari jumat. Jadi masih ada satu hari latihan terakhir bersama-sama. Namun demikian latihan akan dilakukan malam hari karena siangnya Papay harus mengajar drum dulu di Purwacaraka.

 

9 Des, Kamis, Darah Hitam Kebencian Session #6, Norvan Hardian Pecandupagi R.I.P, wawancara Kimung dengan Risa Saraswati

Latihan hari ini diset dilakukan dari siang hingga malam. Di sesi siang, yang latihan hanya Andris, Jene, Hendra, Kimung, dan Jawis karena Papay berhalangan hadir. Ia baru bisa hadir di sesi latihan malam karena harus mengajar drum terlebih dahulu di Purwacaraka. Namun demikian hingga sore latihan belum juga dimulai hingga akhirnya datanglah kabar itu : Norvan Pecandupagi—sahabat karib kimung kondisinya semakin kritis karena pecahnya pembuluh darah akibat kanker pancreas yang dideritanya. Kimung memutuskan untuk berpamitan dan bergegas menjenguk Norvan.

Norvan meninggal dengan tenang bada magrib. Rest in peace brother… Work on!

 

Malamnya Kimung hadir di Commonroom untuk sesi wawancara dengan Risa Saraswati, vokalis Sarasvati yang sudah satu bulan ini menjadi rekam kolaborasi Karat. Wawancara yang sangat menyenangkan mengenai kabar-kabar terbaru Sarasvati, latar belakang dan sejarah musikalitas Risa, tentang Sarasvati, tentang persinggungan Risa dengan Ujungberung Rebels dan Karat, tentang penulisan sejarah Ujungberung Rebels dan juga tentang karinding. Mungkin nanti Kimung sendiri yang akan merilis hasil wawancaranya dengan Risa. Yang jelas wawancara ini dilakukan untuk buku Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels.

 

Dalam jurnalnya Kimung menulis, “Betapa saya selalu berdoa kepada kawan-kawan yang selalu mendukung Karinding Attack agar mereka senantisa berada dalam kesehatan, kebahagiaan, kesuksesan, dan kerahayuan. Risa adalah musisi yang sangat berbakat, semoga bakatnya ini bisa memberikan warna bagi musik pop di manapun di dunia ini dan ia akan sukses selalu atas kerendahan hatinya kepada siapa saja, amiin.”

 

10 Des, Jumat Kramats, Commonroom, Berdirinya Paperback Reader

Jumat Kramat, biasanya Karat latihan setiap malam ini tapi karena Karat sedang sibuk masing-masing jadi tak semua Karat muncul malam itu. Commonroom sendiri ramai malam ini oleh Karinding Militan—berikutnya Karmila saja—yang berlatih untuk acara esok harinya yaitu launching video klip “Manunggaling Kawula Gusti”. Bersama dengan Karmila ikut juga berlatih band Tiga Pagi dan Kick It Out yang rencananya akan melakukan kolaborasi dengan Karmila. Mereka tampak asyik bersama latihan komposisi lagu-lagu aransemen mereka bersama.

 

Karat seharusnya manggung di acara ini, namun karena Mang Man harus manggung di Makassar bersama Jasad, maka karat terpaksa batal main. Namun, Kimung dan beberapa Karat lainnya sepakat untuk manggung di acara ini. Awalnya akan dengan format Karat tanpa vokal, namun terasa hambar manggung tanpa komando. Akhirnya untuk mendukung acara ini Kimung memutuskan untuk membentuk band dadakan. Band ini terinspirasi dari sosok kru Karat, Zemo, yang merupakan penggemar berat The Beatles. Ia dan Kimung sering gigitaran bareng lagu-lagu The Betales dan Kimung sangat amaze ketika tahu Zemo begitu hapal banyak lagu-lagu The Beatles. Oleh karena itulah ia kemudian memutuskan untuk mebaut sebuah band yang memainkan instrumen karinding dan celempung yang memainkan lagu-lagu The Beatles. Band ini hanya akan ditambah instrumen gitar saja. Pilihan pemain gitar jatuh secara spontan kepada David, gitaris Waterbroke yang dulunya suka bawainThe Beatles bareng band lamanya, Da Blep. Ia menamakan band ini Paperbak Reader, terinspirasi dari lagu favoritnya “Paperback Writer”.

 

Sebenarnya rencana pendirian Paperback sudah ia lakukan seminggu ini dan sudah ia utarakan juga kepada hendra dan Jawis di sela-sela latihan bersama Andris, Jene, dan Papay. Jawis dan Hendra menyambut baik keinginan Kimung ini karena sejak awal Kimung menegaskan untuk lagu-lagu Karat berikutnya ia ingin lebih membuat lagu yang di dalamnya terdapat harmonisasi vokal dan untuk itu Karat perlu belajar bernyanyi. Untuk latihan bernyanyi dalam harmonisasi inilah terpilih The Beatles yang memang memiliki komposisi harmonisasi vokal satu, dua, dan tiga yang sangat baik. The Beatles juga memiliki begitu banyak teknik backing vokal yang jika dapat dipelajari akan snagat berguna bagi Karat.

 

Selain untuk belajar bernyanyi dalam harmonisasi, proyekan The Beatles ini juga diharapkan akan melatih Kimung dan Hendra dalam memainkan celempung renteng. Renteng—terutama celempung renteng Karat yang terdiri dari sembilan nada—memiliki nada-nada tak biasa yang jika bisa dimainkan dengan nuansa The Beatles akan membawa warna lain bagi permainan celempung. Dalam proyek ini Hendra yang lalu memainkan renteng sementara Kimung mencoba memainkan kohkol. Ke depannya, Kimung juga berharap semua personil bisa bereksperimen dengan alat musik apapun dalam memainkan lagu-lagu di Paperback.

 

Dan demikianlah, sementara Karmila dan kawan-kawan latihan di dalam Commonroom, Paperback berlatih di pelataran Commonroom memainkan lagu-lagu The Beatles. Ketika akhirnya Karmila selesai berlatih, paperback lalu pindah ke dalam dan kembali berlatih. ada lima lagu yang dilatihkan malam itu dan rencananya akan dimainkan esok : “Nowhere Man”, “The Ballad of John and Yoko”, “And I Love Her”, “Across The Universe”, dan “Get Back”.

 

Bersambung…

 

NEXT : Drummer’s Day All Out!!!

 

10 PLAYLISTS JON 666 : Tarawangsa, Burgerkill, Sarasvati, Godflesh, The Beatles, Bob Marley, Jimi Hendrix, Sepultura, Metallica, Karinding Attack

BOOKS : The Zahir by Paulo Cuelho

QUOTES :

“Anda benar. Kalau kau bukan siapa-siapa, kalau hasil karyamu tidak berpengaruh, maka itu patut dipuji. Tapi kalau kau memanjat melewati tingkat sedang-sedang saja dank au sukses, maka kau menentang hokum itu da patut dihukum.” sang wartawan dalam The Zahir, Paulo Cuelho

 

 

 



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s