JURNAL KARAT # 45, 3 DESEMBER 2010, SELAMAT MENIKAH KI AMENK, INDONESIAN DRUMMER SESSION, DAN TIGA LAGU BARU KARAT.

Posted: December 9, 2010 in Uncategorized
Tags:

JURNAL KARAT # 45, 3 DESEMBER 2010, SELAMAT MENIKAH KI AMENK, INDONESIAN DRUMMER SESSION, DAN TIGA LAGU BARU KARAT.

Jon 666

27 Nov, Sabtu, Karat kembali Bersekutu dengan Sarasvati!!!

Beredar kabar bahwa Megadeth yang menyambungkan Karat dengan panitia sebuah event di Braga membatalkan kontrak Karat karena panitia menawar Karat—dan juga Mocaa—dengan harga yang memalukan.

Sebenarnya Karat sih tak masalah dengan semua tetek bengek itu, namun Megadeth keburu mengcancel Karat dari list band yang rencana maen. Mang Man kemudian menawarkan lagi kalau Karat jadi manggung tapi bareng Sarasvati yang memang maen di acara tersebut. And Karat said ok, tentu saja. Di panggung Sarasvati Layung Berkarat kemarin masih penasaran hahahahaa…

28 Nov, Minggu, Selamat Menikah Ki Amenk ^^

Karat berkumpul di Tasikmalaya hari Minggu itu untuk menghadiri pernikahan Ki Amenk dengan Bu Anna. Sebagian memang datang sehari sebelumnya—Jawis, Hendra, Kapten Jeks, Ghera, Mang Tahu, dan sebagian lagi hari ini. Sedikit memang anak-anak Ujungberung yang berkumpul siang itu, namun Karat semua ada—kecuali Jimbot dan Mang Iwan yang berhalangan hadir—termasuk Mang Engkus dan Mang Utun yang kini di luar band Karat.

Slamat menikah Ki Amenk, smoga rumah tangganya langgeng dan berkah selamanya, amiin!!!

30 Nov, Selasa, Darah Hitam Kebencian Session # 1

Hari ini adalah sesi pertama latiuhan dengan Andris Burgerkill untuk penampilan Andris di konser Indonesian Drummer atau Drummer’s Day tanggal 14 Desember 2010 di Sabuga, Bandung. konser hajatan para drummer yang dimotori para drummer Bandung ini menampilkan puluhan drummer terkenal Indonesia. Richard dan Sandy Pas band, Gilang Ramadhan, hingga Rifky Forgotten adalah mereka yang berencana tampil. Andris sendiri merupakan drummer yang dijagokan dari bandung dan akan tampil terakhir mewakili Bandung. Awalnya untuk penampilan kali ini Andris akan disatukan dengan Rifky dan lain-lain. Namun, karena Andris sudah memiliki tim sendiri di Blast n Beat–sekolah drumnya–maka Andris memilih untuk mengajukan dua nama drummer yang akan bermain bersamanya. mereka adalah Jene dan Papay. Selain itu, untuk membangun nuansa yang lain dan berbeda dengan para drummer lain yang kebanyakan menampilkan dialog drum, Andris memutuskan untuk menyertakan waditra tradisional dalam penampilannya. Untuk itulah ia kemudian meminta Karinding Attack untuk mengisi sesi tetabuhan tradisional dalam aransemen drumnya.

Latihan sore itu masih belum fiks. Jadwal latihan yang awalnya ditentukan jam sebelas siang, molor berat. Andris dan Jene baru datang jam setengah empat sore dan langsung mengeset drum Jene. Papay sendiri masih belum mendapatkan instrumen perkusi yang akan ia mainkan. Sementara Karat masih bingung memikirkan bagaimana cara mengangkut dua celempung renteng dari Commonroom dan Rottrevore Remains ke Studio Burgerkill. Untunglah Eben lalu meminjamkan mobil equipment Burgerkill dan Mediagraph untuk mengangkut celempung-celempung itu. Jawis dan Opik yang pergi mengemban tugas ini.

Selesai setting drum Jene, celempung renteng dan celempung-celempung lainnya akhirnya tiba dan segera diset untuk latihan. Zemo sang kru Karat bergabung denga yang lain mengangkut celempung dan join di studio mengikuti proses latihan. Namun demikian, karena alat masih belum lengkap, konsep yang sudah dirancang belum bisa direalisasikan hari itu. Andris dan Jene sempat memainkan drum lagu “Darah Hitam Kebencian” yang rencananya akan dibawakan, sementara Karat : Hendra, Jawis, dan Fery Giri Kerenceng menyimak pola permainan sementara yang terbayang. Sementara itu, di studio grafis Kimung dan Eben menonton DVD konser Genesis di mana ada bagian Phil Collin dan rekannya drummer Genesis berduet solo drum. Yang lain segera bergabung melihat film ini dan segera saja solo drum Phil Collin ini menjadi salah satu inspirasi bersama untuk hari itu.

Latihan akan difiks besok. Papay akan manggung dulu dan semoga besok Papay sudah bisa mengangkut beberapa perkusi yang akan ia mainkan.

Malamnya, Hendra, Jawis, dan Zemo ke rumah Kimung utuk berlatih beberapa lagu baru untuk Karat. Ada tiga lagu yang sudah fks dan bisa digarap saat itu : “KDWL”, “We’re Different cos We Play Free”, dan “Aku, Molly, dan Joni”.

“KDWL” singkatan dari “Kuma Dinya We Lah” adalah lagu yang terinspirasi perbincangan Kimung dengan personil Giri Kerenceng di masa awal persiapan kolaborasi dengan Sarasvati. Malam ini pola celempung utnuk lagu ini dirumuskan. Beberapa pirigan dimainkan namun sepertinya belum ada yang cocok. Hendra ngotot untuk membuat aransemen pirigan celempung bernada dangdut karena lagu ini memang lagu mengolok-olok. Memang terdengar enak dan ps, namun masih terasa ada yang kurang. Kimung yang merancang lagu ini masih belum merasa cocok dengan [irigan dangdut bbodoran di “KDWL” karena lagu ini adalah total lagu serius di mana kita harus bisa mengiringi aksi teatrikal Mang Man menjadiaktivis kampus, demonstran, aktivis partai, dan akhirnya presiden. Pirigan dangdut atau pirigan tradisional, wlaauun pas untuk mengiringi vokal olok-olok dari para backing vokal, tidak bisa mewakili secara utuh setiap semangat yang dibagun dalam aksi teatrikal. Dan justru aksi teatrikal inilah yang enjadi inti dari lagu KDWL”. Namun, pirigan dangdut tak dihilangkan begitu saja. Nanti jika mentok baget, pirigan inilah yang menjadi kandidat pengiring lagu “KDWL”.

Setelah pengarapan “KDWL” yang masih belum menemukan titik temu, Karat lalu menggarap prigan celempung baru yang ditemukan Kimung dan Hendra ketika mereka bersiap manggung di persiapan pameran The Illuminator. Setelah beberapa kali puteran memainkan pirigan tersebut, Kimung lalu memasangkan aransemen musik yang terumuskan dengan lirik “We’re Different Cos We Play Free” dan ternyata sedikitnya lagu ini cocok dengan lirik. Beberapa pirigan harus diaransemen namun untuk sementara struktur lagu sudah lumayan terbangun.

Lagu berikutnya yang digarap terinspirasi dari “Hey Pig” Nine Inch Nails. Yang memainkan celempung saat itu adalah Jawis dan diisi oleh Hendra. Di tengah permainan celempung, Kimung memasukkan lirik lagu balada “Aku, Molly, dan Joni” yang ternyata pas benar dengan nyawa lagu yang dibagun celempung Jawis dan Hendra. Aransemen struktur musik sepertinya akan monoton jadi bagian fil yang harus dieksplor lebih liar. Lirik juga masih harus disesuaikan di sana-sini namun secara keseluruhan, lagu “Aku, Molly, dan Joni” sudah terumuskan.

1 Des, Rabu, Darah Hitam Kebencian Session # 2

Hari ini sesi kedua latihan bersama. Sejak pagi, Papay sudah ngedrop perkusi yang akan ia mainkan di studio. Ada tam-tam, overheads, dan jimbe. Siang itu ia manggung dengan bandnya sehingga latihan bersama baru bisa dilakukan setelah beres Papay manggung. Andris, Jene, Hendra, Jawis, dan Kimung sudah berada di studio sejak siang dan kembali melatih beberapa pola yang bisa dimainkan masing-masing. Fery Giri Kerenceng yang direncanakan akan gabung bermain celempung tak bisa hadir karena harus ikut pelatihan pertanian.

Masih juga samar-samar akan seperti apa pirigan yang diaransemen Karat karena aransemen drum secara keseluruhan juga belum menampakkan pola yang jelas. Beberapa pirigan celempung renteng yang sudah diaransemen Kimung mentah lagi karena ternyata suara yang dihasilkan tak terdengar, kalah jauh dengan suara dentuman drum. Hendra dan Jawis juga terus berusaha merancang pola aransemen yang baik melalui celempung mereka masing-masing, namun tetap saja, karena rangka dari para pemain drum belum jadi, maka pirigan-pirigan tersebut masih belum bisa dirangkai dengan baik.

Barulah ketika Papay akhirnya tiba dan latihan aplikasi konsep yang sudah dirancang bisa dikongkritkan—konsep-konsep itu akhirnya mengerucut. Beberapa pirigan yang tak jelas dan terlibas suara drum—dan pastinya juga oleh gitar dan bass nantinya—segera dibuang dan diganti aransemen lain. Andris, Jene, dan Papay yang mengerti perbedaan frekwensi antara drum dan celempung akhirnya memutuskan untuk memberikan ruang khusus bagi permainan celempung di tengah aransemen drum, tepatnya di bagian ketika solo drum dilakukan—bagian antara solo skill dan solo ritmik drum. Untuk itu Hendra mengaransemen penyatuan dua pirigan intro lagu “Maap kami Tidak Tertarik Pada Politik Kekuasaan” dan “Yaro tahes” yang memang paling ngebeat di antara lagu-lagu Karat lain yang sudah ada. Dua aransemen tersebut ternyata begitu pas menjembatani antra bagian solo skill dum dan solo konsistensi drum dalam mengawal pola ritem dalam lagu-lagu metal.

Untuk sementara, dua pola aransemen celempung itu dimainkan dalam format standar celempung indung Kimung, celempung anak Hendra, dan celempung nuansa yang dimainkan Jawis. Namun demikian, beberapa kali Andris mendorong Karat untuk memainkan celempung renteng agar pirigan yang dihasilkan lebih variatif, pun nada-nada yang dimainkan bisa lebih kaya lagi.

Ini adalah hari terakhir di Minggu ini Karat, Jene, dan Papay latihan bersama Andris karena Burgerkill akan berangkat tur Jawa Timur hari Jumat besok. Andris terus berpesan agar semua yang terlibat di proyek ini terus mengeksplorasi kemampuan masing-masing agar mengahsilkan sebuah karya kolaborasi perkusi yang mulus dan mantaps!!!

Jadi bagaimana kelanjutannya?

3 Des, CSR For Indonesia Summit & Awards 2010, Hotel Four Seasons Jakarta

Perhatian perusahaan dan peran aktif perusahaan dalam membangun kehidupan sosial sering juga disebut dengan istilah tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility. Dalam prakteknya, walau dituduh sebagai kedok perusahaan untuk membangun citra—bahkan ada yang menuding sebagai upaya pencucian uang segala—CSR sudah memabntu pemerintah dalam mengatasi berbagai persoalan di Indonesia  seperti pendidikan, kesehatan, UKM, kehutanan, infrastruktur wilayah, dan prestasi olah raga. Untuk lebih mengarap konsep CSR yang baik di Indonesia, pemerintah bekerja sama dengan Metro TV menggelar sebiah pertemuan yang isinya perumusan konsep CSR dalm bentuk sebuah summit dan pemberian penghargaan bagi perusahaan yang berkomitmen tinggi dalam hal pengalokasian program CSR. Acara ini juga merupakan rangkaian lanjutan dari Konferensi Oslo yang digelar satu bulan sebelumnya.

Dalam pertemuan inilah Karinding Attack kembali diundang untuk tampil sebagai hiburan. Pertemuan ini juga dihadiri La Tofi Pemimpin Umum Majalah Bisnis & CSR, Prof Dr Hardiansyah selaku Ketua Umum Asosiasi Profesi CSR Indonesia, Hatta rajasa mentri Koordinator Perekonomian, host Suryopranoto, MS Hidayat menri Perindustrian, Dedi Miing Gumelar anggota DPR RI, Musfata Abubakar mentri BUMN, Parmaningsih Hadinegoro Pemimpin Danone Aqua, dan Wishnu Wardhana Wakil Direktur Utama PT Indika Energy Tbk.

Karat tampil dua kali di acara ini, sebagai kesenian pembuka dan kesenian penutup. Di pembukaan Karat bermain pukul delapan pagi, memainkan lagu papalidan. Di kesenian penutup Karat memainkan lagu papalidan juga dan ditutup oleh aksi spektakuler permainan lagu “Maap kami Tidak Tertarik dengan Politik Kekuasaan” dihadapan para mentri, anggota DPR, dan para politisi yang hadir. Aksi Mang Man yang walau tak berteriak kali ini—tetap saja sangat jelas terdengar apa yang ia nyanyikan—mengundang tepuk tangan yang panjang dari semua yang hadir hehehe…

Okay, sampai jumpa secepatnya Konferensi Oslo!!!

Bersambung Minggu depan!!

NEXT : ROAD TO INDONESIAN DRUMMER!!!

10 PLAYLISTS JON 666 : Tarawangsa, Burgerkill, Sarasvati, Godflesh, Machine Head, Slipknot, Sepultura, Nine Inch Nails, Iron Maiden, Karinding Attack

BOOKS : The Zahir by Paulo Cuelho

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s