JURNAL KARAT # 44, 19 NOVEMBER, SARASVATI LAYUNG BERKARAT AND ROAD TO INDONESIAN DRUMMER WITH ANDRIS BURGERKILL PT. 1

Posted: November 29, 2010 in Uncategorized
Tags:

JURNAL KARAT # 44, 19 NOVEMBER, SARASVATI LAYUNG BERKARAT AND ROAD TO INDONESIAN DRUMMER WITH ANDRIS BURGERKILL PT. 1

Oleh Jon 666

20 Nov, Sabtu

Artwork gambar Karinding Attack oleh para artworker The Illuminator sudah rampung!!! FUKKIN AWESOME!!! OUTSTANDING!!! NO WORD CAN’T DESCRIBE HOW COOL THE PIC!!! YOU RULE GUYS!!! Bolehkah gambar itu dijadikan kaver album Karat..?? ^^

21 Nov, Minggu, Redemption Show Bandung World Jazz 2010 & Kontak Syaharani

Pagi menjelang siang beredar SMS dan mang Man bahwa Sony tak bisa maen bersama Karat dalam acara ini karena Sony sakit, tak bisa bangun sama sekali. Tak masalah, dengan atau tanpa Sony, Karat akan maju terus. Sayang sih karena sebenarnya Karat sangat ingin mempresentasikan karya kolaborasi bersama Sony Akbar Band, namun apa daya. Get well soon Mang Sony. Mungkin kita memang masih belum berjodoh di panggung. Atau mungkin kita harus mengedepankan rekaman terlebih dahulu Mangs yess hihihi…

Pukul tujuh malam para personil Karat plus kru dan kawan-kawan sudah datang dan berkumpul di Bumi Sangkuriang, Ciumbuleuit untuk memenuhi undangan syukuran Bandung World Jazz dari Mang Andar, Marintan, dan Jae. Rencananya, tiga talent yang urung tampil di Bandung World Jazz kemarin diundang untuk tampil di acara syukuran ini. Mereka adalah Euis Komariah, Karinding Collaborative Project, dan tentu saja Karat. Euis Komariah belakangan diketahui urung tampil karena kolaboratornya sakit. Acaranya sendiri, selain penampilan musik, adalah ramah tamah dan makan malam. Tepat pukul tujuh ternyata acara masih belum dimulai. Baru hampir jam delapan, acara dibuka oleh penampilan Karat.

Karat awalnya akan tampil bersama Sony Akbar Band malam itu. Namun karena Sony sakit parah hingga dikabarkan tak bisa bangun maka ia urung tampil dan Karat pun tampil sendiri. Hmmm saying sekali mengingat ingin sekali rasaya Karat mempresentasikan hasil aransemen jazz bersama Sony Akbar. Mungkin memang belum panggungnya Karat dengan Sony Akbar Band tampil satu panggung. Atau mungkin harus dipush di rekaman dulu hehehe…

Karat tampil full team malam itu dengan bantuan Yuki di posisi karinding. Terima kasih banyak kepada Mang Yuki yang selama ini terus endukung Karat, juga Karmila yang dengan pengertiannya meminjamkan Mang Yuki selama Karat masih krisis personil. Sejak lagu awal Karat begitu bergairah degan panggung ini. Persoalan kesehatan yang juga mendera Mang Man dan Kimung tak serta merta menyurutkan semangat mereka untuk menghajar panggung malam itu. Karat tampil dengan “Bubuka”, “Burial Buncelik”, “Maap Kami Tidak Tertarik Pada Politik Kekuasaan”, “Lagu Perang”, dan ditutup degan “Kawih Pati” yang penuh dengan sinkupasi.

Habis manggung Karat langsung menuju sajian nasi goreng di pojok kiri ruangan dan segera menyantap makan malam yang lezat itu. Di tengah makan malam tampak salah satu tamu yang sudah tidak asing lagi bagi percatran musik jazz Indonesia : Syaharani! Seperti yang lain, Syaharani juga urung tampil di Bandung World Jazz 2010, namun menyempatkan hadir di acara meet ‘n greet ini. Melihat kehadiran Syaharani yang saat itu sedang bercakap-cakap degan Jae, Man langsung berinisiatif untuk menghampiri dan mengajak Syaharani mengonrol yang ujung-ujungnya mengajak menggarap musik bersama-sama.

Di luar dugaan, ternyata Syaharani menyambut baik ajakan Man.  Syaharani mengungkapkan ia selalu bersemangat jika diajak mengeksplorasi komposisi musik atau instrument buhun. Ada dua opsi teknis yang diungkapkan Man kemudian berkaitan degan sambutan Syaharani atas ajakannya berkolaborasi dengan Karat. Yang pertama Karat menciptakan satu komposisi lagu yang khusus akan diisi oleh Syaharani dan yang kedua Karat membawakan lagunya Syaharani. Lagu Syaharani yang digadang Mang Man untuk dibawakan adalah Sunyaruri, sebuah lagu yang sangat kental dengan nuansa etnik dan dinyanyikan dalam bahasa Jawa Kuno. Hmmm apapun itu, jika kemudian porses ini bisa lacar, tentu sangat membanggakan bisa bekerja sama dengan Syaharani.

Di saat yang bersamaan, tampil di panggung Karinding Collaborative Project yang tampil apik dengan lagu-lagu yang semakin matang dan dewasa.  Kehabis Karinding CollaborativeProject, MC Grace kemudian mengundang para musisi yang hadir di Bumi Sangkuriang untuk melakukan jam session bersama. Hadir di atas panggung adalah Man, Kimung, Hendra, Iwan Cabul, dan Jawis dari Karat; Bintang dan penabuh kendang Karinding Collaborative Poject, Deva drummer Continental, seorang pianis jazz kawan Mang Hendi, serta Rissa Sarasvati. Begitu kibor dimainkan segalanya mengalir begitu saja. Man, Hendi, dan Rissa bernyanyi dengan bersemangat sementara Deva memimpin jam session dari balik peranti drumnya. Bergantian setiap instrument saling eksplorasi, saling berdialog, saling mengisi, saling memberikan variasi.

Dan memang inilah inti dari musik : mempersatukan segala keragaman ^^

Terima kasih untuk kru Jendela Ide, Andar Manik, Marintan Sirait, dan Jaelani. Seperti yang selalu Karat bilang : selalu salut buat semua semangat kalian!!!

22 Nov, Road of Joy to Sarasvati Pt. 4 : First Impressive Session

Senin malam ini Karat dan Sarasvati dijadwalkan untuk latihan bersama. Ini merupakan sesi latihan bersama yang pertama antara Karat dan Sarasvati sejak Rissa mengajak Karat untuk berkolaborasi mengiringi konsernya tanggal 26 November nanti. Latihan sendiri dijadwalkan dimulai pukul tujuh malam di Commonroom dan untuk itu Karat sudah mempersiapkan semuanya.

Sejak kemarin malamnya, Okid dan Kimung sudah terus berkoordinasi untuk menghubungi Mang Fery dan meminjam celempung renteng Bah Olot. Mang Fery sendiri menyanggupi untuk hadir dalam latihan. Yang lalu membawa renteng Giri Kerenceng ke Parakan Muncang adalah Okid. Awalnya Kimung berencana ikut serta namun batal. Okid juga membawa renteng Karat dari Remains dan disimpan di Commonroom khusus untuk sesi latihan tersebut.

Pukul tujuh malam Rissa beserta tiga personil Sarasvati lainnya, Ferry Nurhayat pada kibor, Tengku Irfansyah pada programming, dan Diantra di backing vokal sudah siap di Commonroom. Mang Tahu dengan sigap membantu menyiapkan tata suara serta mikrofon yang diperlukan untuk sesi latihan itu. Mang Okid juga sudah pulang dari Parakan Muncang dan segera mengeset renteng untuk dimainkan Mang Fery dan Kimung. Kimung sendiri tiba dengan membawa celempung Cisolok yang akan ia mainkan di beberapa lagu Sarasvati. Sudah ada bayangan beberapa lagu ang akan dimainkan dalam celempung Cisolok namun sepertinya dalam sesi latihan ini akan ada penyesuaian-penyesuaian. Ia juga membawa serta Awi Bongkok yang akan dimainkan khusus di lagu track 2. Di sesi celempung lainnya, hendra juga sudah siap dengan celempungnya serta kohkol yang selama ini disimpan di Wisnu. Yang lainnya tetap dengan formasi sama : Okid menyiapkan berbagai toleat, suling, gong tiup, saluang, dan berbagai waditra tiup lainnya; Jimbot berbagai alat tiup; Man dan Wisnu karinding, plus Yuki yang sepertinya akan diproyeksikan bermain karinding serta alat tiup.

Di luar, Mang Ogi dan Mang Wawan dari Giri Kerenceng juga ternyata hadir karna ternyata seperti Mang Fery, keduanya kebetulan sedang ada di Bandung. Setelah ngobrol-ngobrol mengenai pembangunan Kampung Cigumentong di Kecamatan Cimangung, Parakan Muncang, Sumedang, yang rencananya diproyeksikan menjadi kampong adat sepertti Kampung Naga dan Kampung Toga, semua merasa siap untuk berlatih.

Maka prunglah latihan dimulai!

Lagu pertama yang dimainkan adalah “Bilur” sesuai rikues dari mang Man yang merasa sudah fiks mempersiapkan aransemen karindingnya. “Bilur” dimainkan satu kali dan karena suasana masih belum panas, lagu ini untuk sementara disimpan dulu. Lagu berikutnya adalah intro pembukaan konser Sarasvati feat Karat yang diambil dari pola lagu “Fighting Club”. Intro ini diaransemen megah oleh sang kibordis. Di pola aransemen ini trio celempung KiMung – Hendra – Mang Fery memberikan nuansa yang secara pelan namun pasti menggiring lagu pelan-pelan dari latar menuju tetabuhan yang dominan sebelum akhirnya intro ini mengatarkan vokal Rissa ke lagu “Fighting Club”. Gila! Merinding denger suara Rissa langsung. Bisaa denger di CD atau MP3 sekarang latihan bareng langsung mendengar suaranya daridekat, mantaps mangs!!! Pola musik yang memiliki tempo turun naik menyesuaikan dengan emosi Rissa dalam bernyanyi menjadi kendala kecil bagi Karat yang bisaa bermain cepat. Namun dengan sedikit tenggelam bersama Rissa, pola aransemen “Fighting Club” akhirnya bisa terumuskan.

Lagu selanjutnya yang dimainkan adalah “Cut and Paste”. Lagu ini lagu ceria Sarasvati. Kimung selalu bilang, the best part lagu ini adalah ketika Rissa bernyanyi, “… honey I’m tired to be your maid…”. Sama seperti lagu-lagu di album Story of Peter, lagu ini juga kental dengan pemainan tempo yang didasarkan pada emosi Rissa dalam bernyanyi. Otomatis untuk menyelami emosi itu semua harus tahu lirik lagu atau minimal mengerti apa yag coba diceritakan dalam lagu. “Cut and Paste” dengan cepat bisa dirumuskan aransemennya. Di pla vokal awal Kimung memainkan Awi Bongkok untuk membantu membangun suasana lagu. Di tengah lagu, ketika perubahan tempo terjadi, ia beralih bermaian celempung renteng dan memberikan penekanan-penekanan bagi permainan renteng Mang Fery dan menduung latar bunyi gong middle yang dibangun oleh Mang Hendra, serta rampak karinding Mang Man dan Jawis.

Sama dengan “Cut and Paste” lagu selanjutnya, “Story of Peter” dengan lancar bisa dimainkan Karat. Mungkin karena lagu ini ada di track awal di CD sehingga selalu yang pertama didengarkan ketika memutar Sarasvati. Lagi pula pola awal yang rancak membuat lagu ini bisa dengan mudah diikuti. Terjadi permainan tempo lagi di tengah lagu, dan Karat harus bisa mengerti emosi Rissa dalam mengisahkan Peter van Jolch di lagu ini untuk membangun aransemen yang tepat. Secara keseluruhan, pola utama “Story of Peter” sudah rampes. Terjadi pergantian instrumen yang dilakukan Kimung.

Di pola awal lagu ini ia bermain renteng bersama Fery dan di tengah lagu ketika sesi jeda tiba dan tempo berubah setidaknya dua kali, ia memilih memainkan celempung indung Giri Kerenceng untuk membangun gema gong yang pas bagi sesi ini, sebelum akhirnya kembali ke renteng dengan kombinasi permainan gong celempung indung. Perbuahan pola dan bebunyian celempung ini memang anjlok—namun di sanalah peran Mang Hendra yang memainkan celempungnya untuk menyambungkan perubahan pola celempung yang dilakukan Kimung dan Mang Fery. Karinding juga lebih menonjol di lagu ini karena nuansa lagu yang ceria dan karinding relative lebih mudah dimainkan dalam tempo permainan pola lagu seperti ini.

Lagu selanjutnya yang dimainkan adalah “Perjalanan”. Ini merupakan lagu milik Franky Sahilatua dan yang dinyanyikan dengan sangat apik oleh Jane dan kemudian diaransemen ulang oleh Rissa untuk Sarasvati. “Perjalanan” di mulai dengan nyanyian Rissa yang hanya diiringi oleh kibor saja. Satelah satu pola Rissa menuntaskan nyanyian, barulah Karat masuk. Dimulai dengan tiga celempung yang dimainkan sesuai dengan emosi yang dibangun Rissa dan Ferry dalam lagu ini—dari pirigan celempung sekilas, hingga pukulan tegas dan pirigan yang dimainkan dengan jelas dan keras. Kimung memainkan celempung Cisolok di lagu ini untuk mendapatkan gema goong celempung yang panjang, low, muram, dan gelisah.

Lagu selanjutnya yang dimainkan adalah “Question”. Uhh ini adalah lagu yang paling emosional di antara tujuh lagu sarasvati di album perdananya ini. Question mengemukakan beragam perasaan yang mendesak untuk ditanyakan namun begitu susah untuk diungkapkan dan kemudian hanya bermuara pada satu pertanyaan, “What should I supposed to feel?” Sangat rumit memang jika kita berurusan dengan perasaan karena perasaan begitu abstrak, begitu sulit untuk diterjemahkan. Dan justru di sinilah kekuatan lagu “Question”. Kuatnya bangunan perasaan yang dinyanyikan Rissa—dan ini lagi-lagi berhubungan erat dengan emosi.

Di antara lagu lainnya, lagu ini memang snagat menantang. Selain aransemen yang terus bermain tempo, hal paling sulit dari lagu ini adalah perubahan temponya tak terasa, namun melibatkan perubahan emosi yang sangat kentara dan kerasa dari pola bernyanyi Rissa. Untuk ini 11 jari selalu buat Rissa Saraswati! Mantap nengs! Karat tentu saja bias menangkap ini dan juga menjadikan permaina tempo dan emosi ini menjadi kekuatan yang paling utama. Pola dialog celempung renteng, indung, dan anak disusun sedemikian rupa sehingga bisa membangun nuansa lagu : renteng Mang Feryhanya memberikan konstruksi bangunan, Kimung yang memberikan nuansa, sementara Hendra bermain gong yang menyambungkan permainan keduanya. Karinding pun bermain tanpa pirigan yang jelas, hanya dimainkan mengalir begitu saja engikuti pola emosi lagu membangun bebnyuian mistis yang mendukung nuansa muram, galau, dan gelisah di lagu ini. Hmmm I luv this song so much!!!

Dan akhirnya, “Oh I Never Know” pun dimainkan. Lagu yang aslinya duet Rissa dengan seorang penyanyi pria ini bernuansa klasik yang sangat kental. Seperti lagu-lagu Rissa lainnya, permainan emosi dalam lagu ini begitu kental—dan sekali lagi—tidak terasa perubahannya. Untuk itu diperlukan kecermatan untuk menangkap momen perubahan emosi yang dicerminkan Rissa melalui lirik lagu dan cara ia menyanyikan lagu. Lagu ini tergolong lagu yang easy listening dan mudah diikuti aransemennya. Namun dengan segala kemudahan itu, kadang kita terjebak memnagun sebuah pola musik yang begitu-begitu saja. Nah untuk mengindari hal itu Karat memutuskan untuk refresh dulu memainkan lagu ini besok agar idenya lebih kena lagi. Hmmm satu lagi, dengan lagu “Bilur” sepertinya penggarapan lagu esok hari.

Secara umum latihan mala mini sudah berhasil memberikan gambaran bangunan aransemen yang lumayan kokoh, tinggal diperhalus saja dan penyesuaian pola permainan tempo secara emosi seorang perempuan. Patut dicatat juga jika ini adalah kolaborasi yang pertama Karat dengan penyanyi perempuan, dan memang sangat berbeda bagaimana cara laki-laki bernyanyi dengan cara perempuan bernyanyi. But anyway, di atas segalanya Rissa adalah penyanyi yang pol dan saya kini begitu mengidolakan si neneng ini.

Besok Sarasvati dan Karat latihan di Studio Ariwani di Jalan Kautamaan Istri. Semoga besok lancar!! Amiin!!

23 Nov, Selasa, Road of Joy to Sarasvati Pt. 5 : Studio Impressive Session

Ini adalah sesi latihan studio pertama Sarasvati Berkarat—kita sebutkan saja begitu projek Sarasvati & Karinding Attack ini. Malam itu di Studio Ariwani, kawasan kautamaan Istri, semua personil Sarasvati hadir : Risa bersama para vokalis pendukungnya Dian dan Sella, kibordis Ferry dan Sheline, programmer Tengku, gitaris Egi, pemain bass Dimas, dan drummer Shery. Karat juga hadir semua kecuali Mang Fery yang berhalangan karena ada saudaranya yang meninggal, innalillah.. Untuk sementara, rentang Mang Fery dimainkan dulu oleh Jimbot berduet dengan Kimung.

Jam tujuh malam setelah beres mengeset alat, latihan pun dimulai. Sesi pertama adalah “Surya Tenggelam”, satu lagu ciptaan Chrisye yang diaransemen ulang oleh Sarasvati. Mantapnos mangs! Aransemennya keren dan memang harus diakui jika kekuatan vokal Risa sangat kental membangun nuansa yang dicipta Sarasvati. Gud jowbb! I like it ^^

Lagu selanjutnya adalah lagu awal kolaborasi sama Karat : “Fighting Club”. Dalam format band, sedikit susah menyesuaikan diri antara frekwensi waditra akustik tradidional dengan alat musik elektrik modern. Apa lagi, di sesi ini gitar, bass, dan drum sudah hadir dan mewarnai lagu-lagu yang dimainkan. Namun demikian, Karat hajar terus. Sesi karinding semakin menemukan tempatnya di lagu ini, sementara Kimung menggunakan kesempatan tak hadirnya Mang Fery untuk lebih mempertegas aksesn pirigan rentengnya untuk disesuaikan dengan pola permainan mang Fery yang sudah ia hapal betul. Lagu ini diulang dua kali sebelum lanjut ke “Story of Peter”.

“Story of Peter” adalah lagu yang rancak. Baik karinding, celempung, maupun sesi tiup di Karat sama sekali tak mengalami kesulitan memainkan lagu ini. Banyak sekali pirigan buhun di celempung dan karinding yang bisa dengan mudah dikawinkan dengan pola “Story of Peter”. Baik tonggeret, lempa lempi lempong, iring-iringan, rereogan, tutunggulan, ataupun kombinasi kelimanya bisa dimainkan di lagu ini dan sesi karinding sudah berhasil merumuskan satu pola yang bisa membangun rancaknya lagu ini. Pun celempung. Kimung, hendra, dan Mang Fery sudah semakin paham di mana dan bagaimana mereka bisa saling berdialog, bukan cuma di antara sesi celempung saja, tapi juga dengan drum dan nada-nada instrumen lainnya.

Lagu selanjutnya, “Cut and Paste” juga dapat dimainkan dengan baik. Karinding makin mantap menemukan tempatnya sementara Kimung tetap mempertahankan pola pirigan Awi Bongkok dan celempung renteng yang sejak awal ia susun untuk lagu ini. Pun alat tiup sepertinya sudah menemukan  suasana yang pas sehingga terus mengeksporasi part yang sama dengan penambahan berbagai variasi tiupan. “Perjalanan” dimainkan kemudian dengan mulus. Lagu Franky Sahilatua yang dinyanyika Jane ini bisa diisi di beberapa part oleh karinding. Celempung juga sudah menemukan permainannya: Kimung memainkan celempung Cisolok, hendra bermain goong, dan Mang Fery memberikan aksen nada untuk memperkuat karakter celempung Cisolok, melalui rentengnya.

Lagu “Question” juga semakin terbentuk pola karinding dan celempugnya. Semua sudah semakin nyaman dengan posisi masing-masing, kecuali Kimung yang masih bingung mau ngisi lagu ini dengan celempung indung atau dengan renteng. Kemungkinan besar sih dengan renteng, namun indung juga tak kalah mantap, apalagi dengan permainan goongnya yang panjang dan delay. Pun “Bilur” di hampir semua bagian yang sejak awal dirumuskan akan diisi oleh karat semua tergarap semakin baik hanya butuh lebih banyak session untuk semakin mengikatkan emosi saat lagu ini dimainkan. Kimung juga masih bingung apakan akan menggunakan celempung indung Giri Kerenceng atau renteng. Dua-duanya bagus dan memiliki nilai harmoni tersendiri. Juga “Oh I Never Know”, duet Risa dengan Tulus, ini polanya sudah dimainkan dengan baik. Karinding mengisi lagu ceria ini sementara celempung dimainkan untuk menegaskan nuansa ‘wondering’—istilah Sundea—dan nuansa penekanan keinginan untuk saling dekat antara karakter suara male dan female yang dibangun dalam lagu ini.

Secara umum dalam sesi latihan kali ini Karat sudah semakin mendekati sarasvati. Sepertinya dengan satu kali latihan lagi, emosi setiap lagu akan semakin terselami dan karat bisa lebih eksploratif dalam mengisi lagu per lagu dan menonjolkan setiap emosi yang dibagun sarasvati dalam lagu-lagu tersebut. Hellyeah!!

Dalam kumpul setelah ltihan Jimbot memberitahu Kimung tentang ajakan Andris kepadanya untuk berkolaborasi dengannya dalam lagu “Darah Hitam Kebencian” di konser Indonesian Drummer, 14 Desember mendatang. Untuk ini Jimbot sudah memiliki bayangan : mengisi part-part “Darah Hitam Kebencian” dengan celempung renteng, celempung indung, karinding, goong tiup, dan tarawangsa. Sayang ia sepertinya tak bisa bergabung dalam proyek ini. Jimbot lalu merekomendasikan Kimung ke Andris dan kini ia member tahu Kimung informasi ini. Kimung said okay dengan cepat ^^

24 Nov, Rabu, Karat di Gedung AACC & Road of Joy to Sarasvati Pt. 6 : Studio Impressive Session

Siang itu Karat sudah berkumpul di Gedung AACC untuk konser mereka di acara kejuaraan angklung tingkat SMA se-Bandung serta berbagai perlombaan lain, seperti lomba film iklan layanan masyarakat, lomba yell dan lain-lain. Acara yang digelar kawan karat, the best couple Mang Hanif dan Ilva ini sangat ramai! Teriakan-teriakan khas anak-anak SMA menggema sepanjang acara di dalam gedung hahahaha abege banget dech hihihi…

Karat tampil sebagai satu-satunya tamu di acara itu. so sejak awal Karat sudah bersiap untuk konser tunggal siang hari. Man Man yang sejak awaldiberi tahu bahwa konsep acaranya adalah untuk para remaja usia SMA dan merupakan acara pendidikan sudah bersiap mengganti beberapa lagu Karat dengan lirik-lirik yang mendidik. Namun sayang beribu sayang, lirik-lirik yang sudah ia tik dan siap print lupa tak terbawa hehehe jadi ajah Karat maen dengan format lirik yang biasa. Dan gedung AACC siang itu sudah dipenuhi anak-anak SMA yang kebnayakan meprukan musisi angklung.

So there they are now! Jam satu kurang Karat menghajar crowd dengan nomor-nomor “Bubuka”, “Wasit Kehed”, “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol”, “Burial Buncelik”, “Maap kami Tidak Tertarik Pada Politik Kekuasaan”, “Lagu Perang”, dan akhirnya “Kawih Pati”. Crowd sangat antusias dengan musik Karat terbukti mereka benar-benar menyimak harmonisasi karinding yang disajikan Karat dan terpuk tangan dengan riuh khas anak-anak remaja tanggung jika nonton konser hehehe…

Rahayu! Senang sekali berbagis emnagat muda dengan anak-anak muda. Semoga kalian terus berkomitmen menjaga dan mengembangkan budaya luhur tanah kita. Neng Ilva dan Mang Hanif, rahayu selalu buat kalian berdua!!! Ditunggu undangannya ah hehehe….

Malamnya, Karat kembali berkumpul bersama Sarasvati untuk kembali berlatih di waktu dan tempat yang sama seperti kemarin. Secara umum semua masih sama dengan sesi latihan sebelumnya. Kini Karat hadir utuh dengan datangnya mang Fery dan ini membuat Kimung bisa mengukuhkan pola permainan celempung renteng dan celempung indungnya. Tak banyak perubahan dalam hal teknis permainan instrumen. Hanya sajadi sesi ini penggalian emosi bermain bersama Sarasvati lebih digali oleh karat. Dan saya yakin sarasvati pun lebih melakukan penggalian permainan bersama Karat dalam sesi ini.

Secara umum Sarasvati dan Karat sudah sangat siap bermain di konser hari Jumat ntar. Di internet informasi konser ini sudah tersebar dengan tajuk “Sarasvati Layung Berkarat” dan ternyata sejak dijual malam Minggu, sejak hari senin tiket konser ini sudah sold out hehehe…

Mantapnos!!!

Malamnya Kimng dan Andris saling berteleponan membicarakan rencana jam session Andris di Indonesian Drummer. Andris menceritakan ia sudah mengundang dua perkusionis dan ingin menambahkan nuansa etnik dalam kolaborasinya. Ia melihat hampir semua drum melakukan battle drum vs drum. Andris melihat ini akan sangat membosankan. Maka ia kemudian memilih untuk melakukan session dengan instrumen etnik. Mereka berdua janjian besoknya untuk bertemu di Studio Burgerkill.

25 Nov, Kamis, Andris and Friends in Indonesian Drummer Concept

Akhirnya, sore itu Kimung dan Andris bertemu. Sebelumnya sejak siang Kimung sudah nongkrong di rumah Eben untuk membereskan projek DVD film documenter yang mereka garap. Sambil menggarap bagian bedah buku Scumbag, Kimung bercerita diajak Andris untuk melakukan session dengannya. Eben menyambut baik ide itu dan ia terlihat senang bisa kembali melakukan session dengan Karat walau masih belum jelas apakah full tim atau cuma sesi celempung saja.

Dalam bincang-bincang sore itu Andris kembai menceritakan jika ia sudah memiliki timmdua orang perkusionis yang rencananya akan battle dengannya, namun tetap ingin menghadirkan sentuhan etnis yang dapat menonjolkan sisi drumnya. Ia berharap Karat dan pola celempungnya bisa lebih mewarnai permainannya nanti. Ada dua konsep ayng bisa menjadi opsi. Yang pertama adalah memainkan “darah Hitam Kebencian” sesuai versi asli, hanya di berbagai part akan diaransemen untuk battle drum Andris dengan perkusi dan watra tradisional. Opsi kedua adalah full kolaborasi di mana ada perubahan aransemen dilakukan demi tercapainya harmonisasi tetabuhan dalam “Darah Hitam Kebencian”. Sepertinya, melihat jadwal latihan yang sangat singkat—sekitar lima kali sesi latihan, opsi pertamlah yang akan dipilih. Untuk melakukan proses aransemen ulang sepertinya butuh waktu yang lama, tak bisa dilakukan hanya dalam sesi sekslai dua kali latihan.

Well, yang jelas opsi manapun itu, Karat tentu saja harus segara bersiap. Kimung pribadi sudah memiliki pola khusus untuk “Darah Hitam Kebencian”, “We Will Bleed”, dan “Anjing Tanah”. Namun demikian, ketika bermain bersama celempung lain, apalagi kini juga ia berencana mengajak kembali Mang Fery, ia harus kembali emngubah aransemennya disesuaikan dengan pola dan karakter permianan tiap musisi.

Coba kita lihat bagaimana hasilnya dalam latihan hari selasa nanti…

26 Nov, Jumat, Lou Belle Porch, Setia Budi, “Sarasvati Layung Berkarat”

Inilah konser yang paling ditunggu Karat selama ini : kolaborasi mereka dengan salah satu band atau musisi perempuan paling hebat masa ini : Risa Saraswati dan bandnya Sarasvati. Konser ini diberi tajuk “Layung Sarasvati Berkarat”, di ambil dari kala senja, di mana layung biasa turun dan mewarnai bumi serta pesonanya. Dan memang acara rencananya digelar dari jam empat sore sampai jam enam sore ketika layung bersiap datang, hadir sebentar sebelum kahirnya ditelan gelap yang misterius.

Karat dijadwalkan loading alat sejak jam sepuluh pagi, namun baru bisa dilakukan jam setengah dua belas siang, dan itupun harus tertunda karena hujan turun. Baru jam setengah empat alat-alat Karat bisa diloading dan difiks tata suaranya. Setelah fiks semua dan diseimbangkan dengan instrument elektrik konser akhirnya disiapkan akan dibagi menjadi dua sesi : dimulai jam setengah enam untuk tiga lagu pertama “Surya Tenggelam”, “Fighting Club”, dan “Perjalanan”’ serta sesi berikutnya  jam setengah tujuh untuk lima lagu selanjutnya : “Bilur”, “Question”, “Cut and Paste”, “Oh I Never Know”, dan akhirnya “Story of Peter”. Semua personil Karat, Ambu Ida Widawati, perwakilan dari para penari, dan perwakilan dari karat yang diwakili Kimung dan Jimbot berkumpul di ruang itu untuk berdoa bersama ayng dipimpin oleh manajer sarasvati, Syauqi Lukman. Berdoa dipersilahkan….

Dan prung lah mereka maen!!!

Satu demi satu personil Sarasvati dan Karat hadir di panggung. Sarasvati tampil semua dengan kostum hitam-hitam, pun Karat yang sama tampl hitam-hitam. Setelah menyapa penonton yang datang sore itu memenuhi venue—yang memang sangat kecil—dan memperkenalkan Karinding Attack kepada audiens yang hadir, Risa langsung memulai lagu pertama, “Surya Tenggelam”. Dibawakan dengan penuh penghayatan vokal yang khas Risa, membuat lagu ini menjadi Sarasvati banget. Suasana yang mendung sangat mendukung performa Sarasvati ketika membawakan lagu ini. Seketika para penonton terlarut dalam lagu hingga usai, aplus menyambut awal penampilan Sarasvati sore itu.

Dan kini penampilan Karat yang pertama : “Fighting Club”! Intro kibor “Fighting Club” yang megah beriringan dengan suara programming, renteng bass Mang Fery, renteng middle Kimung, dan indung Mang Hendra. Intro terus mengalun pelan namun pasti semakin kuat, semakin menunjukkan bentuknya, dan ketika drum mulai masuk, intro sudah menyeret perhatian audiens ke gerbang “Fighting Club”. Risa dan para vokal latar : Dian, Sella, dan Sherine segera masuk part vokal, “We are happy family…” Ada beberapa pola permainan karinding dan celempung dalam lagu ini yang masing-masing beda. Mang Fery masih terus bermain di ranah nada-nada low, Kimung di nada middle, sementara Hendra bermain goong menjembatani Kimung dan Mang Ferry. Karinding juga dimainkan freestyle namun Man, Jawis, dan Iwan memainkannya dalam satu laras pirigan yang sama yang membuat mereka terjaga dari impovisasi yang lebay dan berlebihan. Di belakang gong tiup Okid bersahutan dengan suling, saluang, serunai, dan toleat yang dimainkan Jimbot dan Yuki untuk mempertegas aksesn megah yang dibagun Sarasvati dan Karat. Pirigan celempung dan karinding berubah di pola vokal refrain di mana permainan nada yang melodis dan harmonis dimainkan dengan apik. Aplus kembali menutup lagu ini.

Habis “Fighting Club” semua mulai bersiap dengan lagu “Perjalanan”. Pola karinding yang diaransemen tetap dipertahankan dan semakin kuat melatari permainan musik dan vokal di Sarasvati. Celempung sendiri juga semakin tersusun karakternya : Kimung memilih celempung Cisolok untuk menimbulkan efek goong yang panjang, Mang Hendra yang memainkan goong sekilas-sekilas untuk membantu membangun nuansa lagu, pun dengan Mang Fery yang memainkan rentengnya dengan pukulan-pukulan sekilas untuk membangun nuansa melodis yang muram. Suara alat tiup, Yuki, Okid, dan Jimbot terdengar samar-samar bagaikan jauh. Aplus kembali membahana seusai lagu ini.

Sehabis “Perjalanan”, Sarasvati menaikkan tempo dengan musik ceria “Cut and Paste”. Karinding juga sudah menemukan bentuknya dengan bermain di sepanjang lagu untuk lagu ini dan menambahkan pirigan khusus di beragam bagian yang memang harus ditambahkan, sementara di sesi celempung, Kimung memilih memainkan Awi Bongkok untuk memberikan aksen suara etnik yang kuat bersahutan dengan renteng Mang Fery dan dijembatani goong Hendra. Di tengah lagu ketika Sarasvati mengaransemen musik yang berbeda dengan verse awal, Kimung memainkan renteng bersahut-sahutan dengan Mang Fery. Aplus kembali membahana menutup lagu yang memang sangat asyik ini, sekaligus menutup sesi pertama penampilan Sarasvati dan Karat sore itu, sementara adzan magrib mulai berkumandang.

Di tengah break, Kimung, Mang Man, Okid, dan Syauqi, manajer Sarasvati sempat berbincang mengenai acara ini dan keinginan Karat untuk kembali bermain bersama Sarasvati, namun dalam pengemasan acara yang lebih besar, di tempat yang lebih besar juga. Syauqi juga mengutarakan hal yang sama dan semoga Karat dan Sarasvati memang bisa kembali bermain di panggung bersama-sama.

Sehabis magrib, pertunjukan kembali dimulai. Audiens yang sempat meninggalkan venueuntuk melihat-lihat aneka busana yang dipajang di dalam distro Lou Belle kambali menyemut di venue untuk mneikmati sajian Sarasvati yang selanjutnya. Instrument dan tata suara juga kembali dinyalakan dan diset untuk lagu berikutnya. Karat dan para personil Sarasvati segera bersiap di tempatnya masing-masing ketika lagu “Bilur” mulai dipasang di audio panggung tanda pertunjukan segera dimulai.

Dan sesi ke dua mulailah. Para vokalis kembali tampil dan kini Risa membuka panggung dengan intro “Bilur”. Untuk lagu ini ia bahkan sudah mengundang secara khusus Ambu Ida Widawati yang mengisi vokal kacapi suling di tengah lagu “Bilur” untuk tampil bersama di panggung. “BIlur” dimainkan dengan baik. Kimung yang sempat bimbang apakah akan memakai celempung Cisolok, indung Giri Kerenceng, ataukah renteng kahirnya memilih menggunakan renteng untuk memberikan nuansa melodis yang lebih kaya bagi lagu ini. Untuk menjaga harmonisasi Mang Fery bertugas mengawal karinding dan celempung lain agar tetap bersatu dengan musik yang dimainkan Sarasvati. dan “Bilur” memang juara. Patut diacungi jempol bagaimana vokal Risa dan Ambu Ida saling dukung satu sama lain. Karakter vokal Risa yang muda tak lantas terlibas karakter vokal Ambu Ida yang memang kuat dan nyunda banget. Justru dua karakter ini saling mengisi, saling memperkuat, saling meningkahi aransemen yang digarap snagat apik. Karat juga lebih memilih bermian sekilas-sekilas, kecuali di beberapa bagian lagu yang memang harus diberi penekanan melalui variasi pirigan celempung dan karinding atau kekuatan pukulan celempung dan karinding. Aplus panjang mengiringi akhir dari “Bilur” yang mempesona ini.

Di lagu selanjutnya, Risa mendaulat Muhammad Tulus untuk tampil di panggung, tanda lagu “Oh I Never Know” akan dimainkan. Ini adalah lagu Sarasvati yang paling cerah, lagu di mana hati yang bertanya-tanya saling bicara dan itu direfleksikan dalam duet ini. Karat masih setia dengan pola yang sudah ditentukan, tak banyak perubahan yang berarti di lagu ini karena sejak awal lagu ini memang sudah begitu solid.

“Question” dimainkan kemudian. Lagu ini memiliki permainan tempo yang jelas namun tak terasa dan sangat berhubungan dengan emosi yang membangun lagu ini. Dan sekali lagi Risa dan para vokal latar Sarasvati membuktikan bisa membawakan titi nada lagu ini dengan sangat baik. Karat juga tetap memainkan pola yang sudah ditentukan dengan tentu saja kini sudah semakin berpadu dengan lagu. Perubahan mungkin ada di permainan celempung Kimung yang memutuskan untuk bermain goong celempung indung di awal serta akhir lagu dan memainkan renteng di tengah lagu.

Dan akhirnya, “Story of Peter” kini dimainkan sebagai penutup pertunjukan malam itu. Sarasvati mendaulat Steven yang mengisi speech sebagai Peter van Jolch di lagu ini untuk mendampinginya di panggung, juga mendaulat Angkuy Bottle Smoker bermain glockenspiel untuk mengisi bebunyian di lagu ini. Suasana lagu yang ceria ditambah permainan Karat yang rancak karena memang lagu ini yang paling mudah dicerna oleh Karat membuat “Story of Peter” menjadi lagu yang pas menutup pertunjukan. Audiens memberikan aplus yang panjang dan akhirnya membubarkan diri.

Semua sangat bahagia malam itu. Sarasvati berhasil menluarkan semangat dan keindahan mereka kepada semua yang hadir, tak peduli bagaimana mendung menggayuti malam itu.

Dalam ramah tamah setelah akhir pertun jukan, Ambu Ida mengungkapkan kepada Kimung jika ia juga ingin dong diajak bubuhunan bersam Karat seraya bertanya di mana biasanya Karat berkumpul dan berlatih. Ambu Ida akhirnya memberikan nomor kontaknya ke Kimung dan Kimung berjanji untuk segera menghubungi Ambu Ida ketika lagu-lagu yang bisa diisi oleh Ambu Ida sudah siap.

Well, Sarasvati Layung Berkarat adalah salah satu pertunjukan terbaik Karat. Dengan didukung kawan dari luar Karat : Fery Giri Kerenceng dan Yuki Karinding Militan, pertunjukan ini juga didukung oleh tata suara yang sangat baik dan kru yang mantaps!! Untuk itu terima kasih kepada kru Karat : Zemo, Mang Tahu, Viki Rascall, Ghera, dan Kapten Jeks, serta tentu saja awal tata suara yang telah menyediakan instrument yang baik.

Ye guys rule!! !

Bersambungs…

NEXT : ROAD TO INDONESIAN DRUMMER WITH ANDRIS BURGERKILL PT. 2

10 PLAYLISTS : Tarawangsa, Karinding Attack, The Beatles, Burgerkill, Pearl Jam, Sarasvati, Dinosaur Jr., Fugazi, Carcass, Slipknot

BOOKS : The Zahir by Paulo Cuelho

MOVIES : Harry Potter and The Deadly Hollow Pt. 1

QUOTES :

Dalam prakteknya, itu berarti aku memuji-muji bukumu, kau memuji-muji bukuku, dengan begitu kita menciptakan budaya baru, suatu revolusi, dan filosofi baru; kita menderita karena tak seorangpun memahami kita, tapi itulah yang terjadi pada jenius-jenius zaman dulu : tidak dimengerti oleh orang-orang pada zamannya sudah merupakan bagian dan keniscayaan untuk menjadi seniman besar.” Aku dalam The Zahir, Paulo Cuelho

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s