JURNAL KARAT # 43, 19 NOVEMBER, SENIMAN BAGUN PAGI WITH TISNA SANJAYA, KARAT IN COLLABORATION WITH THE ILLUMINATOR’S ARTWORKERS & ROAD OF JOY TO SARASVATI

Posted: November 21, 2010 in Uncategorized
Tags:

JURNAL KARAT # 43, 19 NOVEMBER, SENIMAN BAGUN PAGI WITH TISNA SANJAYA, KARAT IN COLLABORATION WITH THE ILLUMINATOR’S ARTWORKERS & ROAD OF JOY TO SARASVATI

Oleh Jon 666

13 Nov, Sabtu, Road of Joy to Sarasvati Pt. 1 : Kimung’s Celempung Pattern in Sarasvati

Kimung mengirim saya ini :

CELEMPUNG ON SARASVATI

Track#1

Celempung Renteng, Roots

Celempung Indung, Roots snar exploring

Track#2

Celempung Indung, goong & ½ hit

Celempung Renteng, 2 note

Track#3

Celempung Indung, experimental jetset!

Track#4

Celempung Indung

4/4 goong

¼ goong, snap

Track#5

Celempung Indung, goong 4/4

Celempung Renteng, experimental jetset : rampak bumpy, play note

Track#6

Celempung Renteng, experimental jetset

Track#7

Celempung Indung, gong ¾

uncuing

14 Nov, Minggu, Karat in Collaboration with Tisna Sanjaya for Merapi, Panggung Seniman Bangun Pagi, Car Free day, Dago

Car Free Day, minggu pagi di kawasan Dago. Suasana ramai sekali, berbagai aktivitas warga Kota Bandung tumplek blek di situ, termasuk panggung Seniman Bangun Pagi, panggung di mana Karat dijadwalkan manggung berkolaborasi dengan Tisna Sanjaya yang akan melukis untuk dilelang dan disumbangkan kepada korban Merapi. Karat sendiri sudah ada di Commonroom sejak pukul tujuh pagi. Minus Mang Man—manggung bareng Jasad di Malang—Ki Amenk, dan mang Utun, Karat siap menghajar pagi itu. sehabis sarapan, Jimbot, Hendra, Okid, Kimung, dan Jawis serta Addy gembel,Zemo, Butchex, dan Ghera berombongan ke lokasi panggung, tepat di seberang Smansa Dago, di kawasan toko Teh Walini Dago. Sampai di lokasi Karat segera disambut oleh Mang Atay yang merancang kolaborasi Karat dan Tisna Sanjaya ini.

Terlihat salah satu band sedang bermain membawakan lagu reggae dan Kimung sempat amaze banget ketika band ini bawain lagu favoritnya, “Good Times Bad Times” dari Eddie Brickell. Penyair Isa Perkasa tampak asyik berjoget dengan gaya teatrikelnya ayng khas. Tak lama, Mang Tisna datang bersama Rahmat Jabaril. Sementara itu orang-orang tampak lalu lalang. Suara band membawakan musik rock bertimpah-timpah suaranya dengan obivan salah satu radio gaul di Bandung yang memasang lagu-lagu dugem. Namun musik di panggung kami tetap juara! Karat sempat berbincang dengan mang isna mengenai format kolaborasi ini. Karat akan memainkan lagu-lagu tanpa vokal, dan jika ada yang akan emngisi dengan puisi atau apapun sangat dipersilahkan. Mang Tisna bilang paling Isa dan Rahmat Jabaril akan berpuisi atau performance art. Mang Tisna kemudian berpamitan membawa kancas dulu ke kampus Ganesha.

Akhirnya, setelah penampilan putra Harry Roesli, giliran Karat yang tampil. Satu-satu personil Karat masuk arena, Jimbot bermain aneka alat tiup, Okid dalam karinding dan gong tiup, Jawis konsentrasi bermain karinding, serta Hendra dan Kimung bermain celempung. Penampilan Karat dibuka dengan “Bubuka” yang karena Isa tiba-tiba masuk arena untuk melakukan performance art, maka kemudian disambung dengan pirigan “Hampura Ma II” untuk memberikan ruang lebih dalam eksplorasi teatrikal Isa. Namun, ketika lagu ini akan mencapai klimaks, sang MC cantik tiba-tiba mengambil mikrofon Mang Hendra dan mengumumkan bahwa saat itu wakil wali kota Ayi Vivananda hadir dan didaulat memberikan sambutan. Incidental ini membuat Karat yang akan mencapai klimaks harus kembali menurunkan tempo dan berhenti membiarkan sang wakil wali kota memberikan sepatah dua kata. Intinya adalah ia senang dengan anak muda yang menjaga kesenian buhun Sunda dan mengajak warga Kota bandung untum bersama-sama melakukan hal yang sama. Ia juga menyebutkan senang dengan acar penggalangan dana ini dan juga menyebutkan bahwa dirinya juga akan berangkat sebagai relawan ke Yogyakarta beberapa hari dari sekarang.

Ilfil? Uhh tentu saja!! Lagu “Bubuka” ini sudah hamper klimaks dan tiba-tiba harus dipotong! Bagaikan kamu lagi having sex with Angelina Jolie tba-tiba Pak RT menerobos masuk untuk meminta kapur barus. Fukk!! Hmmm tapi tak apa. tanpa kata, Kaat langsung menghajar panggung dengan “Yaro”. Sementara itu, panggung yang adalnya adem ayem sepi-sepi saja dengan band-band sebelumnya, tiba-tiba semakin dipenuhi penonton. Mereka yang berjalan lalu lalang di jalanan Dago seperti tersedot dengan penampilan Karat dan berkumpul memenuhi venue. Uhhh terima kasih semua…

“Yaro” yang atraktif segera disambung oleh “Kawih pati” yang mengalun. Isa sekain menemukan ruang di lau ini untuk mengeksplorasi gerakan teaternya. Ia bahkans empat berteriak-teriak mengisi part vokal dengan bait-bait puisi yang secara spontan ia bacakan saat itu juga. Beres “kawih pati” penonton semakin banyak memneuhi arena. Terlihat ekspresi takjub keheranan dari para penonton yang akhirnya Karat memutuskan untuk memainkan satu buah lagu lagi. Merasa kesal dengan insiden wakil wlikota tadi, Kimung segera saja menyambar mikrofon celempungnya dan bicara,”Lagu terakhir, ‘Maap Kami Tidak Tertarik Pada Politik Kekuasaan’!!!”

Maka demikianlah. “Maap Kami Tidak Tertarik Pada Politik Kekuasaan” dimainkan penuh gairah pagi itu menjawab kegamangan Karat akibat penampakan tiba-tiba sang politikus di panggungnya. Panggung kolaborasi pula dengan Tisna Sanjaya yang dipersembahkan untuk kemanusiaan. Ini adalah jawaban tegas Karat akan keberadaan sang politisi, sang penguasa. Karya memang selalu pas menjawab gejolak sebiah ketidakpastian atau bahkan kesan yang awalnya keliru. Karena tak ada dusta dalam sebuah karya. Terutama karya Karat. Dan penonton tau betul itu. dib again anthem, Kimung megajak semua penonton untukm bernyanyi bersama sambil menepukkan tangan mereka. Semua penonton yang hadir melakukannya. Semua menepukkan tangan mereka, bernyanyi bersama, “Maap Kami Tidak Tertarik Pada Politik Kekuasaan…” Karat menyudahi panggungnya dengan tepukan tangan dari penonton siang itu.

Karat melakukan sesi wawancara bersama Si Kabayan—yang juga adalah mang Tisna juga—untuk program televisi Si Kabayan Nyintreuk. Di program yang sama Si Kabayan emminta karat untuk membawakan kembali “Maap Kami Tidak Tertarik Pada Politik Kekuasaan”. Sekali lagi Karat berteriak bersama-sama, “Maap Kami Tidak Tertarik Pada Politik Kekuasaan…!!!!!”

Well, panggung yang sangat sukses dengan hasil karya lukisan Mang Tisna yang akan dilelang dan disumbangkan bagi korban Merapi. Karat tentu sangat bangga. Satu hal, yang Kimung bisikkan, “…aneh rasanya maen tanpa Mang Man…” : (

Sehabis maen, Karat berkumpul di Commonroom sambil ngulik bersama pola waditra-waditra yang akan dimainkan dalam kolaborasi dengan Sarasvati. Pola abstrak celempung indung dan celempung renteng Kimung, karinding Mang Jawis, beberapa bagian suling, toleat, saluang, dan gong tiup sudah terumuskan. Semoga bisa segera dimanualkan ke dalam waditra yang nyata.

Sorenya Kimung, Zemo, Addy gembel, dan Hana datang ke Galeri Padi untuk ikut persiapan pameran artwork The Illuminators. Dalam kesempatan itu Karat dipastikan maen membuka pameran. Hmmm terpikir bagaimana kalau Karat maen berkolaborasi dengan salah satu seniman The Illuminators? Ketika Kimung membawa ide ini di status Facebooknya, Dinan yang pertama kali menyanggupi. Dinan bilang hasil sket atau lukisan akan diberikan kepada Norvan Pecandupagi sebagai penyemangat.Hellyeah bradder!! Hajar!!!

15 Nov, Senin, Road of Joy to Sarasvati Pt. 2 : Renteng on Sarasvati

Senin pagi, Kimung sudah hadir di markas Giri Kerenceng. Hari itu ia berencana belajar celempung renteng untuk aransemen lagu Sarasvati. Rencananya Okid, Jimbot, dan Rissa juga akan jalan-jalan ke Bah Olot, kemudian ke Kawe, ke Rumah Pohon dan mengunjungi Ma Nyai di Cimulu. Maka mereka janjian ketemu di Bah Olot sebelum rombongan melanjutkan ke Kawe. Kabarnya rombongan akan berangkat pagi-pagi sekali, dan karenanya Kimung sudah ada di Bah Olot sejak jam sembilan pagi. Kimung disambut Bah Olot dan Mang Dedi langsung ikut nimbrung di sela kesibukan awal Bah Olot. Tak lama Mang Fery, penabuh celempung Giri Kerenceng, datang.

Kedatangannya tentu sangat menyenangkan Kimung. Jarang-jarang ia bertemu Mang Fery di sanggar karinding. Ia segera saja terlibat percakapan seputar celempung dan Mang Fery cerita ia juga sedang membantu adknya memainkan reggae dengan waditra celempung renteng. Kimung pun segera meminta Mang Fery mengajarinya celempung renteng. Maka berjam session lah mereka berdua. Diiringi lagu-lagu Sarasvati, Mang Fery bermain celempung renteng, ditingkahi Kimung yang bermian celempung indung. Cociks mangs!!

Mang Fery adalah pemain celempung yang istimewa. Ia seorang otodidak dengan pengalaman bermain drum dan kendang yang juga otodidak. Berbekal pengalaman dan jam terbang ia dengan cepat menguasai celempung renteng. Di Giri Kerenceng, Mang Fery sempat memainkan celempung renteng 18 gong dengan pola permainan kacapi, celempung rentang 11, 8, dan kemudian kini 6 gong saja dengan perubahan pola permainan menjadi lebih ke pirigan kedang. Mang Fery juga perkusionis yang sangat terbuka. Ia tak alergi berbagai hasrat musik, berbagai pola tetabuhan bari berbagai musik ia pelajari dan kembangkan. Selain memainkan pola pirigan karinding, ia juga secara konstan memainkan pirigan-pirigan reggae, keroncong, dangdut, hingga calung. Keterbukaan ini sangat kentara ketika ia memainkan pola-pola renteng untuk sarasvati. Masih kental denga nuansa tradisional, namun perlahan Mang Fery mulai melepaskan diri dan bermain dengan eksplorasi pirigan yang lebih bebas. Lebih membaur bersama lagu dan musik yang sudah terkonstruksi dalam kolaborasi ini. Sahutan goong Kimung sangat kentara berdialog dengan nada-nada renteng.

Kimung langsung berpikir ia akan mengajak Mang Fery dalam konser Sarasvati tanggal 26 ntar, biar ia focus ingindungan, sementara Mang Hednra ngaanakan babalicetan bareng sama Mang Fery. Hmmm celempung rentengnya pun sepertinya harus pinjam punya Abah. Renteng si Karat suaranya tidak sebulat rentang Giri Kerenceng. Renteng Karat juga nadanya kacau. Tak enak dimainan pokonya. Dan ternyata Mang Fery juga menyambut baik ajakan Kimung. Seakan menguatkan ia berkata, “Nambut celempung reteng ieu mah kedah sakantenan sareng nu nakolna hehehe…” Latihan dan obrolan-obrolan uplek  dilanjutkan, sementara Okid, Jimbot, Rissa, Abah Olot, dan Mang Dedi berangkat ke Rumah Pohon dan Cimulu. Dari bgadu bako siang hari itu, lahirlah inspirasi lagu “KUma Dinya Welah” yang laluKimung singkat jadi “KDWL”. Haturnuhuns Mang Fery, Mang  Wawan, Mang Ogi hahaha…

Jam dua siang Kika datang membawa oleh-oleh bakso Ceu Uju untuk semua. Hummm trims cucuku ^^ Mari makan semuaaaa… Habis tandas Ceu Uju latihan sempat digelar lagi seputeran sebelum akhirnya dilanjutkan dengan latihan Mang Fery, Abah Iwan, dan Mang Ogi aransemen lagu dangdut “Tembok Derita” hahahaha…

Malamnya Kimung dan Hendra berkumpul di pekarangan  rumah Kimung. Rencananya mereka akan menggarap aransemen celempung untuk Sarasvati. Setelah sempat terpotong oleh wawancara Irvan dari Fikom kepada Kimung. Latihan akhirnya dimulai. Kimung segera menceritakan lagu baru “KWDL” yang ia buat sepanjang perjalanan Cimanggung – M. Toha sore harinya. Konsepnya adalah lagu dengan aksi teatrikel paling purba : bahasa tubuh. Seperti biasa lirik dieliminasi sesingkat mungkin, atau bahkan lirik nyanyiannya hanya berupa lenguhan-lenguhan atau jeritan-jeritan kecil yang lazim disuarakan orang-orang yang menjadi pengantar pesan yang jelas yang diteriakkan dalam nada-nada  yang anthemik. Ini konsep detilnya :

Scene 1 : College Dude Activisme Pose Muttafukka

Scene 2 : Demonstrant Pose Muttafukka

Scene 3 : Partyman Pose Muttafukka

Scene 4 : Precident Pose Muttafukka

Scene 5 : Anyone Pose Muttafukka

Mang Hendra  juga menydorkan pirigan baru yang kental nuansa punk rock. Lagu ini sempat dimainkan bersama tapi Kimung belum bisa mengejar pola pirigan celempung indung yang pas untuk mengawal dan melatari pirigan. Semoga semuanya lancar.

Kimung, “Siang tadi Eben juga kembali mengajak Karat untuk merekam secara serius lagu ‘Tiga Titik HItam’, tinggal kondisikan studio, fadly mah sepertinya akan sangat siap.”

17 Nov, Rabu

SLAMAT KURBAAAAANNN ^^

19, Nov, Jumat, Road of Joy to Sarasvati Pt. 3 & Karat in Collaboration with The Illuminator Artworkers: Good Bye Mang Utun : (

Jumat siang, sehabis menengok Norvan PecanduPagi yang tergolek sakit, Kimung, Sundea, dan Addy Gembel meneruskan perjalanan ke villa karinding Bah Olot Parakan Muncang untuk bertemu Mang Fery Giri Kerenceng dan memberikan flashdisc lagu-lagu Sarasvati untuk diulik aransemen renteng olehnya. Sempat juga mengobrol panjang lebar dengan mang Fery dan alangkah senangnya ketika tahu jika ada darah Ujungberung dalam tubuh Mang Fery dan yang lebih mengejutkan, ternyata Mang Fery masih kerabat dekat Dani Jasad, Ayi Sacrilegious, dan Mang Budi Bey. Mang Fery menyebutkan kalau neneknya adalah adik nenek Mang Bey brothers. Uhh senengnya nyukcruk galur mangs hehehehe…  Setelah Kimung brenang-renang di bendungan Cimanggung dan makan liwet Mang Dedi di pelataran sanggar, Kimung, Sundea, dan Addy Gembel segera bertolak ke Galeri Padi untuk panggung pembukaan pameran di mana Karat dijadwalkan berkolaborasi dengan Dinan Art, vokalis Sonic Torment, sekaligus penggagas berdirinya The Illuminator.

Galeri Padi sore itu ramai sekali. Para personil Karat sudah berkumpul, minus Ki Amenk yang sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan pernikahannya Minggu depan di Tasikmalaya. Sejak awal sebelum acara dibuka, Dinan berkata jika kolaborasi karat jadinya bukan hanya dengan dirinya tapi juga dengan para artworker lain dalam The Illuminator. Dan bagitulah. Acara kemudian dibuka jam enam sore oleh Addy Gembel sebagai curator. Setelah memperkenalkan para artis gambar yang berpameran—minus Yudo karena anaknya ulang tahun di saat bersamaan sementara ia sendiri terserang diare—Karmila segera didaulat untuk tampil pertama di panggung. Dengan sangat fit Karmila menghajar panggung dengan lagu-lagunya yang semakin matang saja. Mereka juga berkolaborasi dengan gitaris Kick It Out memperlihatkan permianan yang sangat apik.

Dan inilah penampilan Karat. Penonton yang menyemut ketika Karmila maen sudah mulai meninggalkan arena dan menyisakan ruang oksigen kepada Karat untuk bermain. Para artworker juga sudah bersiap di tempatnya untuk menggambar diiringi permainan si Karat. Maka permainan dimulai.

Karat membuka panggung dengan “Bubuka”, dilanjut dengan “Wasit Kehed”, “Sia Sia Asa Aing” (hadir juga dua personil Donor Darah, Rilly dan Tepu, band yang berkolaborasi dengan Karat memainkan “Sia Sia” di Pasar Seni ITB 2010 sekaligus panggung pertama “Sia Sia”), “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol” (dedikasi untuk anak-anak muda yang hadir di kesempatan itu), “Burial Buncelik” (untuk menurunkan tempo permainan), “Maap Kami Tidak Tertarik Pada Politik Kekuasaan” (semua yang hadir kembali diajak bernyanyi bersama-sama),  “Lagu Perang”, hingga akhirnya “Kawih Pati”. Selama Karat manggung para artworker bergantian menggambar performa Karat dan hasilnya mangs… uhhhhh REAL KICK FUKKIN ASS!!!! Okid bilang arwork ini akan dijadikan cover album Karat nanti hehehe…

Beres manggung Karat hangout di luar untuk mencari angin segar, terlibat berbagai perbincangan dengan audiens sekaligus mereka yang datang untuk melihat pameran ini. Salah satu perbincangan yang paling di luar dugaan adalah perbincangan dengan Mang Jali Narchos, salah satu artworker The Illuminator, yang di luar dugaan memberikan salah satu artworknya yang berjudul “Kujang Karuhun” untuk Karat. Sejak awal sebelum pameran ini dibuka, Karat memang sudah melihat-lihat gambar yang dipajang dan ngeceng gambar ini : berwarna dominan hijau gambar ini menggambarkan kujang dalam bentuknya yang paling purba disertai dengan tangan-tangan karuhun serta energi berbinar-binar yang ikut membangun bentuk serta energi positif simbol dan pegangan rakyat Sunda ini. Mantap skali mang Jali!!! Dan alangkah senangnya ketika tahu ternyata Mang Jali memberikan gambar ini sebagai hadiah untuk si Karat. Huge thanks mangs!!!

Perbincangan lainya adalah hal menohok dari Mang Utun. Sehabis ikut berbincang denga Mang Jali, tanpa diduga ia menyatakan diri mundur dari Karat. Uhh mangs uuyy… : (

Alasan pertama mang Utun adalah karena ia sulit mengejar itngkat-tingkat teknik permainan karat yang semakin berkembang. Tentang hal ini, Kimung juga sudah menegaskan jika pasca sesi rekaman live Karat – Giri Kerenceng di Kawe, banyak hal yang harus dievaluasi, termasuk salah satunya adalah permainan karinding Mang Utun. Namun demikian, masalah skill tentu adalah masalah proses latihan personal dan hal ini masih bisa diperbaiki.

Alas an utamalah yang membuat Karat angkat tangan : masalah kesibukan. Baru-baru ini Mang Utun mendapatkan banyak proyek pekerjaan sehingga semakin sulit membagi waktu antara bermian karinding di karat dengan pekerjaan. Pasca Bandung World Jazz 2010, Mang Utun sama sekali tak datang dalam berbagai sesi latihan maupun panggung Karat karena kesibukan-kesibukannya tadi. Karena itulah ia memutuskan untuk cabut dari Karat. Sebuah keputusan berat mengingat Karat akhirnya harus mengiyakan hal ini. Namun Kimung kemudian meminta Karat untuk mengadakan hajat papisah sebelum mang Utun benar-benar resmi keluar dari Karat. Hajat ini sebagai upaya penyegaran kembali Karat di sesi yang lebih baik ke depannya.

Karat, minus Kimung, latihan dengan Sony Akbar malam itu, fituring Yuki Karmila karena sepertinya Jimbot akan berhalangan tak bisa manggung. Dan malam semakin larut…

Bersambungs…

NEXT : REDEMPTION SHOW BANDUNG WORLD JAZZ 2010 AND ROAD OF JOY TO SARASVATI

10 PLAYLISTS : Tarawangsa, Giri Kerenceng, Karinding Attack, The Beatles, Burgerkill, Pearl Jam, Sarasvati, Dinosaur Jr., Geri Halliwell, Fugazi

BOOKS : Jejak Darah by Rusnani Anwar

MOVIES : Skyline

QUOTES :

Tuhan adalah kambing hitam setiap kesalahan sistem di dunia manusia. Ia menjadi pelampiasan kekesalan ketika sesuatu berjalan tidak semestinya. Karenanya, manusia begitu gemar mempercayainya,” Sloan dalam “Jejak Darah” by Rusnani Anwar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s