JURNAL KARAT # 41, 5 NOVEMBER, SILATURAHMI MUSISI KARINDING DI CIREUNDEU, KARAT LIVE IN HEADCORE & UNITE 4 HUMANITY, ROAD TO JAZZY KARAT WITH SONY AKBAR BAND # 3

Posted: November 5, 2010 in Uncategorized
Tags:

JURNAL KARAT # 41, 5 NOVEMBER, SILATURAHMI MUSISI KARINDING DI CIREUNDEU, KARAT LIVE IN HEADCORE &  UNITE 4 HUMANITY, ROAD TO JAZZY KARAT WITH SONY AKBAR BAND # 3

 

Oleh Jon 666

 

31 Okt, Minggu, Karat di Silaturahmi Musisi Karinding, Kampung Adat Cireundeu

Cireundeu adalah sebuah kampung adat yang terdapat di Leuwi Gajah, Cimahi, dekat bekas pembuangan sampah yang longsor pada tahun 2005. Dapat dikatakan, Cireundeu adalah salah satu kampung yang masih memegang teguh adat leluhur mereka. Sebagai kampung adat, Cireundeu tentu saja juga meiliki komitmen yang baik dalam pelestarian dan pengembangan musik tradisional.

 

Cireundeu terletak di lembah Gunung Kunci, Gunung Cimenteng dan Gunung Gajahlangu. Secara administratif, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi. Tak jauh dari kampung adalah bekas lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah, yang pernah longsor dan memangsa lebih dari seratus jiwa. Kampung adat ini diapit dua kawasan kota yang sedang bekembang, yaitu Cimahi dan Batujajar. Sebagai kawasan di tengah dua kota, tipikal masyarakat Cireundeu relatif lebih terbuka terhadap masukan budaya dari luar.Secara fisik, Kampung Cireundeu tak beda dengan kampung kebanyakan, terutama bentuk fisik bangunan rumahnya. Kampung ini ditetapkan sebagai kampUng adat karena tetap memgang teguh adat mengonsumsi singkong sebagai makanan pokok. Selain itu, mayoritas masyarakat Cireunde masih menjalankan ajaran Pangeran Madrais dari Cigugur, Kuningan. Serta, menggelar upacara Saka 1 Sura secara rutin. Saya dan kawan-kawan Karat makan nasi singkong ketika disuguhi makan siang di Cireundeu.

 

Tahun baru Saka 1 Sura yang diperingati warga Cireundeu, bertepatan dengan tahun baru Islam 1 Muharam. Dalam tradisi Jawa, 1 Muharam dinamakan 1 Sura. Atau bahasa lisannya 1 Suro. Jika Islam menggunakan Hijriyah, maka tradisi Jawa menggunakan Saka sebagai tahun. Persamaan antara tahun Hijriyah dan Saka adalah sama-sama penanggalan lunar atau memakai patokan peredaran bulan. Selain itu, patokan lainnya adalah 1 Muharam dalam Hijriyah. Tahun Saka Jawa resmi dipakai sejak zaman Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Mataram, menggantikan Saka Hindu.

 

1 Sura bagi warga Cireundeu, ibarat Lebaran. Sebelum tahun 2000, mereka selalu mengenakan pakaian baru. Namun beberapa tahun terakhir ini, adat mereka dilembagakan. Saat upacara adat, kaum lelaki mengenakan pakaian pangsi warna hitam, sementara kaum perempuan mengenakan kebaya atau pakaian warna putih. Gunungan sesajen, berupa buah-buahan dan nasi singkong, tersaji di tengah ririungan (kumpulan) warga di Balai Adat. Warga terpekur mendengarkan wejangan dari sesepuh Kampung Cireundeu, Abah Emen Sunarya. Abah Emen melanjutkan, ritual 1 Sura memiliki makna yang dalam, bahwa manusia itu harus memahami bila ia hidup berdampingan dengan mahluk hidup lainnya. Baik dengan lingkungan, tumbuhan, hewan, angin, laut, gunung, tanah, air, api, kayu, dan langit. “Karena itulah manusia harus mengenal dirinya sendiri, tahu apa yang dia rasakan untuk kemudian belajar merasakan apa yang orang lain dan mahluk hidup lain rasakan,” katanya.

 

Sementara itu, ajaran Madrais—dikenal juga dengan sebutan Agama Djawa Sunda (ADS), atau Cara Karuhun Urang (tradisi nenek moyang), atau agama Sunda Wiwitan, atau agama Cigugur—adalah kepercayaan sejumlah masyarakat yang tersebar di daerah Cigugur, Kabupaten Kuningan, masyarakat Baduy di Kabupaten Lebak, di daerah Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, dan daerah lainnya.

 

Agama Djawa Sunda atau agama Sunda Wiwitan ini dikembangkan oleh Pangeran Madrais dari Cigugur, Kuningan. Dahulu, oleh pemerintah Belanda, Madrais pernah ditangkap dan dibuang ke Ternate. Ia baru kembali sekitar tahun 1920 untuk melanjutkan ajarannya. Menurut Abah Emen, muawal ajaran Madrais dikembangkan di Cireundeu ini setelah pertemuan kakeknya, H Ali dengan Pangeran Madrais tahun 1930-an. Dan pada tahun 1938, Pangeran Madrais berkunjung ke Cireundeu dan sempat lama menetap di sana.

 

Madrais — yang biasa juga dipanggil Kiai Madrais — adalah keturunan dari Kasultanan Gebang, sebuah kesultanan di wilayah Cirebon Timur. Ketika pemerintah Hindia Belanda menyerang kesultanan ini, Madrais diungsikan ke daerah Cigugur. Sang pangeran yang juga dikenal sebagai Pangeran Sadewa Alibasa, dibesarkan dalam tradisi Islam dan tumbuh sebagai seorang spiritualis. Ia mendirikan pesantren sebagai pusat pengajaran agama Islam. Namun ia kemudian mengembangkan pemahaman yang digalinya dari tradisi pra-Islam masyarakat Sunda yang agraris. Ia mengajarkan pentingnya menghargai cara dan ciri kebangsaan sendiri, yaitu Jawa-Sunda.

 

Kampung Adat Cireundeu memiliki tanah yang relatif subur sehing baik dijadikan lahan peternakan dan pertanian, terutama ternak sapi dan ubi kayu. Cireundeu bahkan memiliki komunitas peternak yang dinamai Kelompok Ternak Makmur Cireundeu, terdiri dari 31 peternak dengan jumlah total 391 ekor ternak. Selain itu ada juga komunitas petani bernama Kelompok Tani Ubi Kayu Cireundeu yangtersebar di dua blok penanaman, yaitu Blok Cimenteng dan Blok Puncak, selain juga di lahan-lahan perseorangan. Total semua yang tergabung di komunitas ini ada 28 petani ubi kayu.

Begitu dekatnya mata pencaharian penduduk dengan pertanian dan peternakan membuat secara emosional dan cultural, Cireundeu sangat dekat dengan alam. Apapun hajat hidup mereka tentu akan disambungkan dengan kearifan alam. Dan ini pula yang melatari acara silaturahmi komunitas musisi karinding yang dgelar oleh Komunitas Cilawung—singkatan dari Cireundeu – Laken – Iwoeng. Dalam memperingati hari Sumpah Pemuda 2010, merekalar ruwatan bumi dengan menggelar acara penanaman pohon di Gunung Kunci, gunung di Cireundeu, dan mengelar acara silaturahmi tadi. Hampir semua komunitas karinding yang selama ini sudah terhubung dengan poros Cireundeu, Iwoeng Batujajar, dan Laken Cimindi diundang dan hampir semua datang ke acara ini.

 

Silaturahmi sendiri diawali siang hari setelah penanaman pohon usai. Tampak bebeapa wajah yang tak asing bagi saya seperti Viki dari Bandung Oral History dan Icha sang aktivis berperan besar membantu kelangsungan acara ini. Wanci dhuhur para musisi dai beragam komunitas karinding mulai berdatangan ke balai desa Cireundeu berkumul bersama. Setelah makan siang sangu sampeu, daging aam, sayur dan sambel yang luar biasa lezatnya, semua berkumpul santai di balaidesa menungu acara dimulai. Karat sendiri yang pertama datang adalah Mang Utun, Hendra, dan Kimung. Tak lama kemudian Man, Ki Amenk, Jawis, dan Okid datang bersama Kapten Jek, Ghera, dan Zemo.

 

Acara silaturahmi dibuka dengan pembukaan menabuh karinding oleh dewa karinding swasta yang diangap sagat berjasa dalam menyebarkan karinding di Ciawu; siapa lagi kalau bukan Mang Engkus sang dewa karinding swasta. Mang Engkus memulai dengan menabuh karinding sendirian lalu ia mngundang kamerad-kamread bekas bandnya dulu di Karat, Mang Utun, Kimung, dan Hendra. Ia juga lalu mengundang setiap perwakilan komunitas karinding yang hadir.

 

Setelah pembukaan oleh Sang Dewa Karinding Swasta, MC segera meminta komunitas-komunitas yang hadir untuk berkumpul dan bersiap memperkenalkan diri dan nabeuh. Masing-masing diberi waktu 10 menit. Tak menyia-nyiakan waktu, MC segera memanggil kelompok musisi karinding pertama, tuan rumah Karinding Cireundeu. Kelompok ini naik panggung, memperkenalkan diri dan akhirnya menabuh permainan karinding ala Karinding Cireundeu. Tipe permainannya masih cenderung tipe permainan karinding meditatif dengan waditra karinding dan celempung.

 

Setelah Karinding Cireundeu, MC segera memanggil Karinding Iweong dari Komunitas Iwoeng Jadi Batujajar untuk naik panggung, memperkenalkan diri, dan nabeuh karinding ala Iwoeng. Maka Mang Boeteng dkk segera saja naik panggung. Setelah memperkenalkan diri mereka segera saja memainkan musik karinding khas Iwoeng. Pola permainannya masih bercorak meditatif dengan waditra yang lebih variatif, dilengkap oleh suling, saluang, dan gong tiup. Pembawa nuansa dalam Iwoeng adalah permainan waditra tiup, selain itu Iwoeng juga sudah memiliki nyanyian dengan lirik. Temanya tentang perjalanan hidup mahluk, pemujaan kepada alam dan Tuhan, serta berbagai kaidah nilai norma dan konsekuansi mahluk jika melangar norma dan nilai tersebut.

 

Beres Karinding Iwoeng, giliran Karinding Laken kini diundang naik panggung. Seperti halnya Iwoeng, Laken juga memiliki ciri permainan yang sama. Tak heran karena dua komunitas ini memang bermuara sama. Mang Boeteng adalah sosok yang sentral dalam dua, bahkan komunitas karinding lain yang berada di sekitar Cimahi, Cimindi, Batujajar, bahkan Cililin.

Setelah Karinding Iwoeng, giliran Karinding Sampurasun kini yang tampil. Kelompok ini masih bercirikan Iwoeng karena masih berasal dari satu komunitas yang sama. Namun demikian, Sampurasun lebih istimewa karena terdiri dari tiga personil celempung yang semuanya perempuan. Hmmm betapa jarang memang para pemain celempung perempuan dan keberadaan mereka patut mendapatkan apresiasi.

 

Selepas Karinding Sampurasun, giliran Karinding Kudeta kini yang naik. Permainannya masih setipe dengan kelompok-kelompok sebelumnya, namun Kudeta punya kelebihan lebih bisa mengaransemen lagu yang bisa membawa nuansa, walau dengan tipe lirik yang masih snada denan lirik lagu karinding pada umumnya. Berbeda degan Iwoeng, Laken, dan Sampurasun, Kudeta berhasil membangun nuansa lagu melalui waditra dua bambu yang dipukul-pukul ke lantai dan menghasilkan nada-nada mistis yang ngebass dan reverb, namun tetap rancak.

 

Sasaka kini naik ke panggung. Kelompok dari Lembang ini berbeda dengan kelompok seni karinding lainnya, teruama yang berasal dari Batujajar. Sasaka lebih memiliki pirigan yang variatif dengan tema lirik yang juga variatif. Tak melulu meditatif, pirigan di empat lagu yang dimainkan Sasaka memiliki ragam nuansa, dari tempo cepat hingga lambat. Liriknya juga tak melulu pemujaan terhadap alam, tuhan, dan norma-norma namun juga sudah membahas reaksi tehadap kondisi sosial dengan pengemasan yang baik dan menggelitik.

 

Setelah itu, Karat didaulat naik panggung. Sejak awal Karat sudah diminta hanya menampilkan lagu dalam waktu 10 menit saja. Karena itu Karat hanya mempersiapkan dua lagu saja, plus ”Bubuka”. Lagu yang akan dimainkan adalah ”Burial Buncelik” dan ”Maap Kami Tidak Tertarik Pada Politik Kekuasaan”. Maka di sanalah mereka kini. Berjajar dari kanan ke kiri : Kimung – Hendra – Man – Amenk – Jawis – Mang Utun – Okid menghajar panggung balaidesa Cireundeu. Sambutan sangat luar biasa dari audiens. Mereka berkumpul disekujur balaidesa, serius menyimak Karat. Audiens bahkan bernyanyi bersama di repertoar  anthem ”Maap” menerbitkan rasa respek yang sangat dalam di diri Karat.

 

Musik yang dimainkan Karat sangat berbeda dengan musik yang dimainkan kelompok-kelompok musik karinding yang hadir di silaturahmi itu. Dapa dikatakan Karat adalah kelompok karinding yang paling keras musiknya, paling variatif, sekaligus paling memperhatikan akurasi dalam pengemasan riff-riff dan bar-bar, serta permainan tempo, dan penyajian partisipasi audiens dalam lagunya. Hmmm semoga mereka bisa terus mempertahankan dan mengembangkan keunikan mereka ini.

Setelah Karat, tampil Karmila—Karinding Militan. Mereka tampil dengan atraktif menampilkan lima lagu mereka. Sementara Karat turun ke pinggir panggung berbaur dengan audiens. Silaturahmi itu sediri kemudian kembali ditutup oleh Mang Engkus yang meminta audies yang membawa karinding dan celempung sore itu untuk bersama-sama menabuh waditra yang mereka bawa.

 

Sambil beramah tamah degan semua audiens, para pemuda-pemudi Cireundeu menampilkan kesenian Gondang untuk menghibur semua. Karat dan kawan-kawan dari kelompok karinding kawasan batujajar, Cireundeu, dan Cimindi/Cimahi saling bercanda di pelataran balaidesa Cireundeu. Salut buat Mang Didin dengan tatarucingannya hahaha… mang man dan mang Okid bahkan kemudian meneruskan silaturahmi dengan mengunjungi amrkas Karinding Iwoeng di Batujajar.

 

Terima kasih untuk komunitas Cilawung!!

 

Semoga silaturahmi ini bisa terus dilakukan, semoga sukses dan sehat selalu semua!!

Ahung, rahayu!!!

 

1 Nov, Senin, Karat Live in Headcore Grand Launching

Sore yang cerah di kawasan Dago Bandung. Dago Plaza terlihat lebih ramai dibanding biasanya. Ya sore itu di pelataran Dago Plaza memang digelar grand launching salon Headcore. Acara ini menampilkan berbagai band yang lagi in di Bandung saat itu. Banyak band yang tampil, banyak juga kawan-kawan lama yang dating ke acara ini, dan tentu saja banyak sekali wajah-wajah baru yang dengan bersemangat menghadiri acara ini.

 

Personil karat sudah berkumpul jam tujuh malam di Dapla. Harusnya Karat maen jam tujuh sebelum Rosemary, namun karena Kimung bilang ia akan telat maka Karat dipswitch dengan Rosemary. Mereka akhirnya naik panggung pukul setengah delapan. Penonton yang sempat dipanaskan oleh Rosemary sontak didinginkan oleh Karat, semua yang hadir diminta duduk hingga memenuhi venue depan panggung. Di belakang, audiens juga terlihat semakin padat.

Karat membuka gig dengan Bubuka. Dibuka dengan gong tiup Mang Okid, semua mulai menabuh karinding pelan namun pasti dan ditimpal oleh growling Man yang bersahutan dengan goong tiup Okid serta suling Jimbot. Semua mengalun lamban membuka gig Karat malam itu.

 

Tak betah berlama-lama, Karat segera menghajar atmosfer dengan “Wasit Kehed” yang seperti biasa langsung menyengat Dan langsung dilanjut “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol” yang tak kalah menghajar. Karat lalu menurunkan tempo dengan alunan “Burial Buncelik”. Di gig ini growling Kimung semakin terasah dengan permainan tinggi rendah nada growlingnya yang meniru gong tiup Mang Okid. Karat lalu kembali menaikkan tempo dengan lagu dinamis “Maap Kami Tidak Tertarik engan Politik Kekuasaan”. Di jeda repertoar yang diisi nyanyi bersama, audiens kembali berbaynyi bersama karat meneriakkan yel-yel “…map kami tidak tertarik pada polirtik kekuasaan…” sampaiakhirnya Karat menututp lagu ini dengan teriakan refrain.

 

Karat kembali menghajar venue dengan “Lagu Perang” yang kemudian dimedley dengan “Kawih Pati”. Terlihat permainan improvisasi “Kawih Pati” semakin matang. Ini dapat diikuti dari susunan pirigan celempung Kimugn dan Mang Hendra, jug ass section Mang JImbot dan Mang Okid yang semakin eksperimental saja. Setelah tujuh menit menghajar venue dengan “Kawih Pati”, Karat memutuskan untuk menyudahi penampilan malam itu. Uhhh what a great gig with great audiences!!! Thx y’all!!

 

Habis manggung, Karat sempat diwawacara Ziggy Wiggie dan kemudian berbaur bergabung dengan kawan-kawan yang lain di pelaaran Dago Plaza sementara The Paps meneruskan panggung malam itu. Karat berecana akan karokean malam itu untuk merayakan pesta bujang Ki Amenk yang rencananya akan nikah tanggal 28 November mendatang.

Pesta bujangnya sangat rahasia. Saya ga akan menuliskannya di sini hihihi… yang jelas all Karat and crew and friends join the mic hahaha

 

2 Nov, Selasa

Malam yang dingin. Kota Bandung lembab dan basah habis diguyur hujan sore itu. Di kawasan jalan Supratman, mobil-mobil maju pelan di jalanan yang lengang sehabis hujan, sinarnya membias rintik, mengusir dingin ciptakan hangat yang baru. Hangat juga terpancar di Rumah Musik Harry Roesli (RMHR) yang malam itu diam-diam ramai. Di kafe depan RMHR suasana hangat begitu terasa. Para oengunjung yang makan malam dihibur oleh sajian musik yang dimainkan oleh anak-anak kecil sekitar umur enam hingga sembilan tahun binaan RMHR. Walau masih kecil, tapi musikalitas mereka berani ngadu! Band kecil ini terdiri dari dua perempuan cilik pemain biola, dua gitaris clik, dan satu pemain jimbe.

 

Di pelataran RMHR, bersama para pengunjung yang lain terlihat Kimung, Jawis, dan Sony asyik menikmati musik sajian anak-anak kecil itu. Ketiganya memang baru saja sampai di RMHR dan langsung tenggelam dalam lagu “Nikmatnya Bercinta” ciptaan Chrisye yang dimainkan dengan sangat apik oleh kelompok musisi kecil itu. Tak lama kemudian Karat yang lain datang : Man, Okid, Jimbot, Hendra, bersama kru Ghera, Zemo, dan kekasih Jimbot. Setelah kongkow sebentar bersama dua gelas the manis panas dan segelas kopi, Sony dan Karat segera masuk studio untuk menggodok lagu yang akan dimainkan nanti. Sebelum masuk studio, Kimung mengusulkan agar penyambung “Bubuka” diganti oleh “Burial Buncelik”, sehingga lagu “Maap Kami Tidak Tertarik Pada Politik Kekuasaan” bisa dimainkan. “Sia Sia Asa Aing” diputuskan untuk tidak dimainkan. Cukup sudah lagu ini sudah sangat ngawin dengan formasi musik metal, walau dalam aransemen jazz pun lagu ini bisa teraransemen dengan baik.

 

Sesi latihan dimulai dengan “Bubuka” yang kini disambungkan dengan intro suling lagu “Burial Buncelik”. Mantap Mang Jimbot! Dengan jenius ia berhasil menangkap alunan nada yang sama dengan yang dimainkan Sony lewat pianonya. Sony juga semakin berani bereksplorasi dan semakin mengukuhkan diri sebagai pianis yang tangguh sekaligus kolaborator yang sangat terbuka melalui bridging note masuk lagu dan fill-fill yang ia aransemen untuk mengisi “Burial Buncelik” secara spontan. Secara peka, Sony juga berhasil membangun nada-nada yang pas untuk memperkuat karakter lirik “Burial Buncelik”, terutama di bagian refrain di mana vocal “Sarua ngarasa… Sarua ngarasa…” terasa semakin menonjol dengan kuat. Di tengah latihan Mang Utun dating sembari minta map karena telat. Kahujanan cuuu hehehehe mangga linggih mangs!!

 

Konsep “Bubuka – Burial Buncelik” selesai dalam setengah sesi pertama dan kini lanjut ke “Maap Kami Tidak Tertarik Pada Politik Kekuasaan”. Lagu ini kahirnya diputuskan untu dimainkan dalam kolaborasi mengingat lagu ini memiliki kadar dinamika pirigan celempung new metal yang kental dan jika bisa digabungkan dengan ketukan bass dan drum jazzy serta piano swing, maka karakter lagu ini akan lebih menonjol. “Maap” juga memiliki bagian vocal anthem yang kuat di tengah lagu.

Sudah dua—atau setidaknya tiga—panggung menggambarkan betapa para audiens berhasrat bernyanyi bersama Karat dalam lagu ini ketika Man memulai anthem dengan lirik provokatif sekaligus penuh perenungan. Di sesi ini, Kimung sudah memiliki gagasan bagaimana baiknya pola nyanyian dengan pola piano – bass – drum yang jazzy bisa berpadu. Ia membayangkan pola permainan Sony Akbar Band yang total jazzy, mungkin bossass, mungkin swing, atau bahkan mungkin jazz roots yang kental blues dan sinkupasi sekalian. Namun ketika sudah dimainkan, sepertinya jazz swing yang ringan akan sangat tepat untuk mengisi pola vocal anthem ini. Bayangan Kimung seperti pola jazzy dalam “Englishman In New York” nya Sting akan asyik mengiringi anthem “Maap”. Dan Sony bisa menangkap bola panas liar ini dengan sangat brilian.

 

Sekali lagi ketangguhan Sony diperlihatkan. Dengan skill yang tinggi ia berhasil membangun ”Maap” dalam permainan piano swing yang apik dan mantap. Belakangan, untuk smakin memperkuat pola piano yang dibangun Sony, ia juga meminta Karat untuk memanjangkan anthem dari enam hitungan menjadi dua belas atau bahkan dua puluh empat kali anthem. Well, no problemo. Dan dengan semakin panajng anthem, Sony Akbar Band akan memiliki waktu membangun nuansa lagu semakin baik dan kuat. Dan ini memang terbukti melalui eksplorasi piano Sony yang semakin liar di sesi ini. Salute!

 

Setelah seputaran lagu  “Bubuka – Burial Buncelik” dan “Maap Kami Tidak Tertatik Pada Politik Kekuasaan”, jam menunjukkan pukul 21.30 dan mereka mulai beralih ke lagu ciptaan Sony. Lagu yang sangat manis Mang Sony ^^ ia meminta Karat mengisi clempung untuk lagu itu dengan pirigan standar roots celempungan yang disesuaikan dengan aura dan beat lagu Sony. Tak mengikuti beat dan melodi piano,namun Sony mengharapkan Karat bisa membangun aura tradisional melalui celempung untuk lagunya ini. Ada dua pola pirigan celempung yang dimainkan. Yang pertama pola tradisional standar yang sedikit dimodifikasi agar lebih berciri Karat. Di pola ini Hendra membangun beat dengan pukulan bass celempung, sementara Kimung lebih cenderun ke tepukan celempung khas mang Maman. Di pola ke dua, Hendra memainkan pola yang sama dengan kombinasi ketukan triplet di snar, sementara Kimung berdialog dengan beat drum dan pirigan celempung Hndra sekaligus. Hingga saat tu masih belum terbayang pola yang pas, namun pola dasar celempung sudah terumuskan, tinggal bagaimana celempung bisa dengan asyik dan efektif bisa berdialog dengan drum & bass.

Karat & Sony sepakat berlatih hari kamis dan Jumat. Man mencari studio yang bisa dipakai oleh dua belas orang dan memiliki channel setidaknya dua puluh untuk mendukung kolaborasi ini.

 

Hmmm tak sabar menanti hari Kamis dan Jumat ^^

 

4 Nov, Kamis

Latihan Karat dengan Sony nggak jadi hehehe…

 

5 Nov, Jumat, Karat Live in Unite 4 Humanity dan Road to Jazzy Karat : “Burial Buncelik” and “Maap Kami Tidak Tertarik Pada Politik Kekuasaan” on Jazz

Sore yang abu-abu. Bandung mulai diselimuti abu Merapi. Beberapa bagian kota ini mulai terkena imbas letusan dahsyat Gunung Merapi. Udara pengap menyergap, namun ini tak menyurutkan semangat Karat untuk menghajar panggung kecil di Unisba, di mana sekelompok pemuda meminta bantuan Karat untuk ikut berpartisipasi dalam acara kampanye HIV/AIDS dengan tajuk Unite 4 Humanity. Pukul setengah empat sore pelataran Unisba tampak ramai oleh para mahasiswa. Tampak pula boots Rumah Cemara yang ikut ambil bagian dalam acara ini. Karat sebenarnya dijadwalkan main jam tiga sore dan sudah tampak para personil Karat di sana, kecuali para penabuh karinding : Okid, Jawis, dan Ki Amnek. Mang Utun sudah ijin hari ini tak akan nabeuh bareng karena aktivitasnya. Dan karena para penabuh karinding belum juga datang maka Karat belum bisa main saat itu. tampak anak-anak BOH juga ikut hadir, juga Mang Yuki, Wilda, dan Vini. Di sels-sela obrolan, man menyebutkan jika Karat disediakan waktu soundcheck di acara bandung World Jazz malam itu pukul 21.30.

 

Karena ditunggu-tunggu sampai hampir jam empat para pemain karinding beum juga datang, maka ketika akhirnya Mang Okid datang, Karat memutuskan untuk naik panggung saja tanpa Jawis dan Ki Amenk. Mereka lalu meminta bantuan Yuki untuk bermain karinding. Untunglah Mang Yuki langsung mengiyakan. Thx mangs hehehe…

 

Ketika akhirnya MC memanggil Karat, tampillah mereka di sana : Okid, Jimbot, Yuki, Man, Kimung, dan Hendra. Setelah mengucapkan slam dan sepatah dua kata yang memancing partisipasi penonton, karat segera menghajar venue dengan “Bubuka” yang disambung oleh “Wasit Kehed” dan “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol”. Dua lagu yang sangat menyita energy karena sepanjang lagu, teriakan back vocal terus menerus digeber habis. Tanpa beristirahat, Karat segera menggeber panggung dengan lagu provokatif “Maap Kami Tidak Tertarik Dengan Politik Kekuasaan”. Lagu anthem ini hampir saja memancing penonton untuk kembali ikut bernyanyi bersama, namun aura yang berbeda membuat Karat memutuskan untuk meneruskan lagu ini sendirian saja, tanpa parisipasi penonton.

 

Setelah “Maap”, Karat menurunkan tempo dengan memainkan “Burial Buncelik”, salah satu lagu yang sedang dipersiapkan untuk dibawakan dalam kolaborasi totally jazz di Bandung World Jazz bersama lagu “Maap”. Karat lalu kembali menggeber venue dengan “Dadangos Bagong”. Lagu ini diulang dua kali karena tak di sesi pertama terjadi kesalahan tehnis hehehe… Mang Man juga sempat mengundang siapapu yang punya karinding untuk maju ke panggung dan bermain bersama Karat, tapi sepertinya audiensnya pada malu-malu hahaha… Tanpa buang waktu Karat segera menyambung gig dengan “Lagu Perang” dan ditutup “Kawih Pati”. Mantaps! Yang hadir sore itu terbilang sedikit, namun antusias dan apresiasi mereka sangat luar biasa! Salut mangs, nengs!! Rahayu!!

 

Beres manggung, Karat segera menuju Commonroom untuk menunggu waktu latihan bersama Sony Akbar Band jam tujuh malam di Studio Bima, Jalan Bima, Pajajaran. Kawan-kawan Karat, terutama BOH berkumpul bersama di Commonrom menghabiskan sore itu dengan berbagai percakapan akrab. Sempat juga ada kunjungan dari kawan-kawan Komunitas Karinding Galengan, namun sayang tak bisa bercakap lama karena waktu menunjukkan hampir pukul tujuh dan Karat harus segera pergi berlatih. and so, off they go…

 

Setelah beres setting mikrofon di studio, Karat dan Sony Akbar Band akhirnya berlatih. ini adalah kesempatan pertama dan mungkin satu-satunya latihan dalam formasi lengkap, Edo sang drummer Sony ikut hadir berlatih. Dan ternyata penyesuaian latihan tak memakan waktu lama. Kentara sekali juga baik pemain basss maupun drum di Sony Akbar Band sudah demikian kental dengan jamming session sehingga dengan cepat mereka bisa mengikuti alur lagu-lagu yang dimainkan Karat dan Sony.

 

“Bubuka” dan “Burial Buncelik” medley digeber pertama dan dengan dua kai putaran, lagu ini dibungkus dengan sangat memuaskan! Gliran “Maap” yang kemduian dihajar. Lagu ini membutuhkan empat kali putaran sebelum kahirnya fiks dan dibungkus juga. Edo sempat terlihat ragu mengisi parti drum berdialog bersama dua celempung Kimung dan hendra, namun akhirnya ia mengisi drum setelah diminta Kimung untuk mengisi kekosongan beat dengan perkusif logam dan setelah dua putaran ia bisa merumuskan semuanya dengan brilyan!

 

Giliran lagu Sony yang emudian dimainkan. Lagu Sony penuh dengan perasaan. Lagunya sangat manis, sangat mengambang dan butuh kehalusan perasaan untuk mengisi lagu ini dengan ketukan yang tepat. Pukulan yang dibutuhkan juga harus benar-benar pas, bermain power dengan efektif dan efisian. Singkatnya rasa benar-benar digunakan untuk mengisi lagu ini. Karat juga dengan cepat bisa menyesuaikan dengan permaianan lagu ini. Di putaran pertama, Karat masih mengack fill-fill lagu, namun diputaran kedua, segalanya semakin baik dan pas. Uhh mantaps mangs!!!

 

Dan inlah lagu yang ditunggu-tunggu. Lagu yang benar-benar session dan diciptakan saat itu juga di studio. Sony – sang basis – dan Edo yang secara spontan menciptakan beat dan kord saat itu, diikuti oleh Karat. Karat sendiri agak bingungpada awalnya, kecuali Kimung yang langsung saja mengisi beat Sony Akbar band dengan pirigan lagu “Yaro” namun total dirobah disesuaikan dengan tempo dan riff-riff lagu yang tercipta. Hendra yang awalnya bingung kemduian diminta Kimung untuk bermain gong karena kimung total bermain snar celempung untuk lagu ini. Setelah beberapa eksperimen dan penyesuaian, hendra sedikit-sedikit menemukan bentuk permainan celempung untuk lagu ini. Cuma sekitar tiga putaran dengan banyak pengulangan di berbagai part lagu sebelum akhirnya semua sepakat untuk selesai latihan dan segera menuju Sabuga untuk soundcheck.

 

Maka ke sanalah mereka akhirnya berangkat, kecuali Kimung, Edo, dan sang basis karena mereka semua mesti benar-benar pulang malam itu. Mang Man menyebutkan pula jika dalam soundcheck ini juga dijajal kemungkinan untuk merekam Karat live versus Sony Akbar Band. Untuk itu casper diminta secara khusus untuk mengoperatori rekaman ini. Hmmm kita tunggu apakah akan lancars..???

 

Bersambungs…

 

NEXT : Karat Live in Bandung World Jazz 2010 dan berbagai rencana charity for Mentawai & Merapi

 

10 PLAYLISTS : Tarawangsa, Giri Kerenceng, The Beatles, The Doors, Burgerkill, Pearl Jam, The Corrs, Alanis Morisette, Sting, Richard Clayderman

 

BOOKS : The Way You Live Forever by Sally Nichols, Pergilah Ke mana Hati Membawamu by Susan Tamarro, The Devil and Miss Prym by Paulo Cuelho, The Fifth Mountain by Paulo Cuelho, The Wirch of Potrbello by Paulo Cuelho

 

MOVIES : Journey of the Heaviest band on Earth, Burgerkill

 

QUOTES :

Sekali setahun semua penduduk mengunci diri di rumah, membuat dua macam daftar, membalikkan badan kea rah gunung yang paling tinggi dan mengangkat daftar pertama ke langit. ‘Tuhan, inilah daftar semua dosa yang telah kuperbuat terhadap-Mu’, mereka berkata sambil membacakan daftar semua dosa yang mereka lakukan. Penipuan bisnis, perzinahan, ketidakadilan, hal-hal seperti itu. ‘Aku telah berdosa dan memohon pengampunan karena telah membuat-Mu sangat murka. ‘Lalu—dan di sinilah leorisinilan Ahab—penduduk mengeluarkan daftar ke dua dari saku lain dan, masih sambil menghadap ke gunung yang sama, mengangkat daftar itu ke langit. Dan mereka mengatakan seperti, ‘Dan ini Tuhan, adalah daftar semua dosa-Mu terhadapku: Engkau membuatku bekerja lebih keras daripada seharusnya, putriku jatuh sakit meskipun aku telah berdosa, aku dirampok padahal aku berusaha bersikap jujur, aku menderita lebih daripada yang pantas kuterima.’ Setelah membacakan daftar yang kedua itu, mereka menutup ritual itu dengan: ’Aku telah bersikap tidak adil terhadap Engkau, dan Engkau telah bersikap tidak adil kepadaku. Tapi karena ini Hari raya Pendamaian, Engkau akan melupakan kesalahan-kesalahanku dan aku akan melupakan kesalahan-kesalahanmu, dan kita akan melanjutkan kebersamaan kita satu tahun lagi’”. Si Orang Asing dalam “The Devil and Miss Prym”, Paulo Cuelho

Tangan mengulangi gerakan yang sama, tapi saat semakin mendekati batangan besi, dia memahami bahwa dia harus menyentuhnya dengan tenaga lebih atau kurang. Begitu pula dengan repetisi : meski terlihat sama, tapi selalu berbeda. Akan tiba saatnya kau tidak perlu lagi berpikir tentang apa yang kau lakukan. Kau menjadi hurufnya, tintanya, kertasnya, kata-katanya.” Nabil Alaihi dalam “The Witch of Portbello”, Paulo Cuelho

 

Saat aku mati, kuburkan aku tegak lurus, karena aku sudah menghabiskan hidupku dengan berlutut!” Athena dalam “The Witch of Portbello”, Paulo Cuelho

 

Dan apakah ada yang lain yang ingin keu pertahankan? Suatu hari nanti, semua yang kau miliki akan harus keu berikan. Pepohonan member supaya mereka bisa hidup, karena mempertahankan berarti musnah. Dan di manakah ada kehormatan yang lebih besar daripada yang terdapat dalam keberanian dan keyakinan diri, bukan kemurahan hati, untuk menerima? Hanya sedikit yang bisa kau berikan ketika memberi apa yang kau miliki. Ketika kau memberikan dirimulah kau benar-benar memberi.” Athena dalam “The Witch of Portbello”, Paulo Cuelho

 

 

 

 



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s