JURNAL KARAT # 40, 29 OKTOBER 2010, ROAD TO JAZZY KARAT WITH SONY AKBAR # 2 : “SIA SIA ASA AING” ON JAZZ

Posted: November 1, 2010 in Uncategorized
Tags:

JURNAL KARAT # 40, 29 OKTOBER 2010, ROAD TO JAZZY KARAT WITH SONY AKBAR # 2 : “SIA SIA ASA AING” ON JAZZ

 

Oleh Jon 666

 

24 Okt, Minggu

Latihan dengan Sony Akbar gagal karena Sony sakit.

 

25 Okt, Senin

Wawancara Kimung dengan Donor Darah tentang sejarah Donor Darah untuk buku Panceg Dina Galur dan Jurnal Karat. Wawancara dilakukan di Commonroom jam setengah empat sore. Ada rilly, Jeje, Tepu, dan Tama. Fahri berhalangan hadir dalam wawancara itu, namun bisa diwawancara terpisah nanti. Mungkin lebih baik kimung aja yg publish hasil wawancaranya ntar di waktu dan gelombang yang sama atau di bukunya ntar. Kita tunggu sajah tanda-tanda darinya.

Beres wawancara mereka menonton film kolaborasi Kelas Ajag – LSS ITB – Donor Darah – Karat dilaptop Jeje. Sayang ga bisa dikopi, filenya 8 giga hahaha. Ntar udah dikompres ngopi ah hehehe…

 

Oww yaa mereka juga sangat menyambut baik jika “Sia Sia Asa Aing format kolaborasi direkam distudio. Hmmm semoga semua lancer oks csku!!

 

Thx for evrythins!!

 

26 Okt, Selasa

Karat ngumpul di Commonroom. Mang Okid memperdengarkan hasil eksplorasinya dengan tarawangsa dan emngutarakan keinginannya untuk merekam tarawangsa bareng Karat untuk “Rajah Bubuka” yang juga akan diisi oleh Mang Budi Dalton. Great job Mang Okids!!! Mari kita garaps!!!

 

27 Okt, Rabu

Latihan dengan Sony Akbar gagal karena pemain bassnya ga bisa.

 

28 Okt, Kamis, Sia Sia Asa Aing On Jazz feat. Sony Akbar

Latihan dengan Sony Akbar akhirnya bisa dilakukan, ini pun awalnya Sony akan menggagalkan lagi jadwal latihan karena bassnya kembali bermasalah, namun segera ditolak Man karena semua Karat sudah dikasi tau dan akan datang. Sony akhirnya mengiyakan untuk berlatih dan segera datang ke Rumah Musik Harry Roesli (RMHR). Namun demikian, jadwal latihan yang direncanakan jam 6 sampai jam 8, molor jadi dimulai jam 8 sampai jam 9 malam hehehe. Tak apa. Latihan ini sangat diperlukan untuk saling mengenal dulu mengenai karakter permainan masing-masing, minimal bagi Karat yang ingin tahu bagaimana tipikal permainan Sony Akbar. Banyak yang bilang ke Karat jika Sony adalah seorang pianis yang tangguh dan memiliki komitmen music yang baik. Tapi Karat belum kenal secara dekat dengan Sony dan latihan ini dibutuhkan untuk saling mendekatkan emosi.

 

Dan seperti yang sudah disepakati, Sony dan Karat akan membawakan dua lagu Karat, yaitu “Bubuka” dan “Burial Buncelik” atau “Maap kami Tidak Tertarik Pada Politik Kekuasaan”. Untuk itulah, latihan dimulai dengan kawih “Bubuka”. Sony mengajak Karat untuk latihan di sebuah ruangan kecil tempat disimpan sebuah baby piano yang asik banget suaranya. Karat satu demi satu datang dan bergabung, kecuali Mang Iwan yang berhalangan hadir malam itu dan Mang Utun yang hanya setengah putaran ikut latihan karena harus mengerjakan sesuatu.

 

Latihan dimulai dengan “Bubuka” yang ternaya dimainkan di nada C atau jika dimainkan nadanya bisa sampai ke nada Cis. Dan di snaa Sony memainkan pianonya. Nadanya murung dan minor namun mengalun merdu. Sempat beberapa putaran dimainkan, lagu ini semakin lancar dari satu putaran ke putaran lainnya. namun demikian, Kimung sempat menyebutkan sedikit ganjalan. Nada-nada yang dimainkan bersama terlalu biasa. Terlalu umum dan aman dimainkan. Karat sebetulnya mendambakan sesuatu ayng lebih liar dan nakal dari fill piano Sony. Namun demikian ini bisa dipahami karena Sony sendiri belum begitu mengenal Karat sehingga ia belum bisa mengeksplorasi lebih jauh nada-nada berkaitan dengan lagu-lagu Karat. Dan benar saja, Sony mulai berani eksplorasi di putaran-putaran di depan hehehe… Di tengah latihan “Bubuka” pemain bass Sony segera bergabung.

 

 

Karena kesal dengan nada-nada standar, Kimung akhirnya nyeletuk agar “Bubuka” segera saja disambung dengan lagu “Sia Sia Asa Aing” karena secara tempo dan pirigan, “Bubuka” sangat mirip “Sia Sia Asa Aing”. Salah satu alas an Kimung selain nada yang standar, permainan emosi dalam “Bubuka” masih sangat flat dan standar. Ini berbeda sangat jauh dengan lagu “Sia Sia Asa Aing” yang memiliki setridaknya tiga tingkat permainan emosi dan ruang yang sangat tidak terbatas bagi instrument apapun untuk memperkosa riff-riff karinding “Sia Sia Asa Aing”.

 

Maka demikianlah “Sia Sia Asa Aing” digeber. Putaran pertama mulai terasa emosi dari lagu ini. Ditambah dengan sekelebatan suling Jimbot yang bahayiks, lagu ini memang bahaya!! Putaran kedua, Sony semkain berani mengeksplorasi pianonya. Ia mulai merambah nada-nada sinkup yang miring dan minor khas jazz. Dan begitulah “Sia Sia Asa Aing” jadi begitu jazzy hehehe… Setidaknya tiga putaran “Sia Sia Asa Aing” dimainkan di sana dan semakin baik setiap putarannya. Pengelolaan emosi di lagu ini sangat penting dan memang itulah yang dicari di sesi latihan pertama ini.

 

Karena jam sembilan Man harus berangkat ke Tasik bersama Jasad, latihan akhirnya dicukupkan dan akan diteruskan hari Selasa. Sebelumnya lagu berikutnya yang akan dimainkan ditabeuh dulu agar Sony bisa mengenal sebelum dilatihankan. “Burial Buncelik” dan “Maap Kami Tidak Tertarik Pada Politik Kekuasaan” pun digeber. Belum ditentukan Sony akan memilih lagu yang mana, namun ia meminta lagu yang rancak karena di “Sia Sia Asa Aing” permainan emosi murung—bahkan cenderung marah—sudah dilakukan. Ki Amenk ingin “Burial Buncelik” sebagai  lagu favoritnya, sementara Kimung ingin “Maap Kami Tidak Tertarik Pada Politik Kekuasaan” karena lagu ini memiliki beat yang rapat dan sangat akurat hingga menantang untuk dieksplorasi kerapatannya. Sony sendiri rencananya akan memainkan lagu ciptaannya pada sesi latihan hari Selasa ntar.

 

Markitungs—mari kita tunggu!!!

 

Bersambungs…

 

NEXT : Panggung Karat di silaturahmi musisi karinding di Kampung Adat Cireundeu, panggung Karat di sukuran Headcore, Road to Jazzy Karat with Sony Akbar & Band

 

10 PLAYLISTS : Tarawangsa, Giri Kerenceng, The Beatles, The Doors, Burgerkill, Carcass, Godflesh, Pearl Jam, Stone Temple Pilots, The Melvins

BOOKS : The Winner Stands Alobe by Paulo Cuelho

MOVIES : Journey of the Heaviest band on Earth, Burgerkill

QUOTES :

Better worlds around you, you silly girl, “Martha My Dear”, The Beatles

Conversation Kills, “Big Empty”, Stone Temple Pilots

Aku memilih jalan yang dilalui orang. Dan pilihanku sudah membuat perbedaan besar. Jasmine dalam “The Winner Stands Alone”, Paulo Cuelho

 

 



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s