JURNAL KARAT # 39, 22 OKTOBER 2010, ROAD TO JAZZY KARAT WITH SONY AKBAR, SHOOTING “AYO MENYANYI” TRANS 7 & SI KABAYAN SABA KOTA LIVE IN KONFERENSI OSLO TENTANG LINGKUNGAN HIDUP

Posted: October 30, 2010 in Uncategorized
Tags:

JURNAL KARAT # 39, 22 OKTOBER 2010, ROAD TO JAZZY KARAT WITH SONY AKBAR, SHOOTING “AYO MENYANYI” TRANS 7 & SI KABAYAN SABA KOTA LIVE IN KONFERENSI OSLO TENTANG LINGKUNGAN HIDUP

 

Oleh Jon 666

 

16 Okt, Sabtu, KEARIFAN DALAM LIRIK-LIRIK BAH OLOT GIRI KERENCENG

Wawancara dimulai jam setengah satu malam membedah lirik-lirik Giri Kerenceng yang sedikit banyak mencerminkan sejarah karinding dan juga kehidupan pribadi Bah Olot, pandangan-pandangan, serta ide-ide pribadi mengenai kehidupan sosial, budaya, dan humaniora dalam pandangan Bah Olot. Banyak sekali hal yang diutarakan bah Olot berkaitan dengan pemahamannya akan karinding yang ia cerminkan melalui tata titi music Giri Kerenceng. Saya kira, Kimung yang lebih berhak untuk menuliskannya nanti di buku sejarah karinding yang sedang ia garap kini.

 

Yang jelas, apa yang termaktub dalam lirik-lirik dan sejarah penciptaan lagu-lagu Giri Kerenceng adalah sebuah proses historis yang bukan saja mewarnai sejrah karinding seara khusus, namun juga sejarah nilai dan norma kasundaan yang realistis dan merakyat secara umum. Pandangan-pandangan dan ajaran bah Oot sama sekali tak rumit. Sangat sederhana dan mudah dicerna dengan dikemas leh bahasa yang tak kalah sederhana namun begitu memikat. Saya berani menyamakanya dengan John Lennon atau Bob Marley di luaran sana, atau Ariel Peterpan di maktub pop yang lebih mutakhir. Di atas segalanya, yang bah Olot tuliskan adalah ajaran kebaikan yang mengajak dan menghimbau manusia untuk menjadi mahluk yang lebih baik tanpa harus meninggalkan rasa kemanusiaannya. Di sana juga terkandung pentingnya mengolah rasa melalui seni yang pada kelanjutannya akan menerbitkan kepekaan sosial yang baik di antara sesama. Silih wangian, silih sajajar sapajajaran. Bahkan di lagu-lagu cintanya yang paling menggoda sekalipun.

 

Lebih jauh, seni akan melahirkan tata cara yang kemudian menjadi adat kebiasaan dan budaya. Ini juga mencerminkan bagaimana posisi manusia dalam percaturannya dalam sejarah dan tata humaniora serta tata sosial. Uhhh pemaparan-pemaparan ini membuat saya sedikit banyak begitu merinding. Dan hmmm saya rasa betapa semakin tak tahu saya ketika saya merasa semakin mengenal karinding lebih dalam lagi…

 

Wawancara berakhir dan akhirnya kini giliran curhat Karat kepada Bah Olot mengenai masalah internal yang melandanya. Saya lagi-lagi tak bisa memaparkan secara detil apa yang terjadi di dalam tubuh Karat sekarang ini. Namun saya bisa cerita jika ada aktivitas politis yang mewarnai perjalanan karat. Politis di sini adalah enar-benar politik kekuasaan dan itu tentu saja sangat bertentangan dengan komitmen bersama yang bahkan sudah diteriakkan Karat dari panggung ke panggung melalui lagu “MAAP KAMI TIDAK TERTARIK PADA POLITIK KEKUASAAN”. Yang lalu patut disayangkan adalah bahwa praktek itu dilakukan oleh salah seorang personil Karat. Inilah yang menjadi ganjalan Karat untuk tetap independen sebagai penjaga dan pengembang seni.

 

Bah Olot tentu saja ikut prihatin dengan dinamika yang terjadi. Namun satu hal yang patut menjadi focus Karat adalah ucapan Bah Olot, “Seni mah miheulaan budaya. Seni heula, karek budaya. Euweuh budaya seni. Mun kitu teu murni, geus dijieun-jieun.” Terjemahan bebasnya kira-kira seperti ini, “Seni itu selalu mendahului budaya. Seni dulu, baru budaya. Tak ada budaya seni, kalau ada yang seperti itu berarti sudah tak murni, dibikin-bikin.”Jadi seni di sini yang harus dikedepankan. “Bejakeun weh era kitu ki Si Abah!” dukung Bah Olot sembari tertawa khas, menyudahi tanggapannya atas keluh kesah si Karat janari itu. That’s all enogh Bah. Hatur nuhun pisan Guru…

 

Akhirnya karena kelelahan, semua memutuskan untuk beristirahat. Adzan awal mulai berkumandang ketika akhirnya satu demi satu semua terlelap. Bah Olot, Hendra, Kimung, dan Okid tidur di luar. Mang Dedi di dalam sanggar. Man, Jawis, dan Mang Iwan di dalam bersama Kang Rahmat, dan rengrengan Panjalu.

 

Sweet dreams anyone ^^

 

Paginya, sejak jam enam pagi Bah Olot sudah bangun, diikuti yang lainnya juga segera bangun. Sambil nongkrong menikmati kopi, rokok, dan alunan Giri Kerenceng melalui tape yang distel Mang Dedi, semua menikmati pagi yang selembut sarsaparila itu. Tak seberapa lama,semua sepakat untuk berenang bersama di air terjun bendungan Sungai Cimanggung yang pagi itu sangat deras airnya akibat hujan besar tadi malam. Hahaha it’s fukkin fun man!! Semua nyebur ke air yang dingin pagi itu. Semua berenang-renang bersuka ria.

 

Beres mandi bersama, semua kembali ke sanggar dan menunggu nasi liwet matang. Sambil nongkrong, mengobrol, dan masak bersama semua menikmati pagi itu. Tampak di sisi kiri sanggar Mang iwan menyiapkan liwet, di dekatnya Kang Rahmat serta kawan-kawan dari Panjalu menggoreng tempe, tahu, jengkol, dan ikan asin, sementara dekat kolam Abah Olot beserta Karat saling mengobrol ketawa ketiwi. Sayang sebelum liwet masak, Kimung harus pulang duluan. Bye mangs!! Titi DJ!!

 

Akhirnya liwet pun masak sudah dan semua makan balakecrakan. Uhh yeaaahhh nikmatnyaaa makan bersama saudara-saudara sesame seniman yang memiliki hasrat yang sama dalam melestarikan dan mengembangkan music karinding. Semngat kita tak lekang oleh jaman dan ranah serta wilayah mangs!! Semoga rahayu dan waluya selamanya semua!!! Ahung!!!

 

Setelah liwet tandas, Ki Amenk tiba dan suasana kembali ramai. Namun tak lama, akhirnya semua emutuskan untuk membubarkan diri. Terima kasih Bah Olot dan Giri Kerenceng! Terima kasih Kang Rahmat dan rengrengan Panjalu! See ya all around!!

 

Sorenya Hendra dan Kimung bertemu di Commonroom. Hendra berkata Kelas Karinding ternyata sudah dicantumkan dalam program rutin Commonroom. Untuk itu, Kimung kemudian menegaskan pentingnya pembuatan program pembelajaran karinding yang progresif namun tetap asik untuk diikuti. Kimung lalu berkomitmen untuk menyusun program pembelajaran karinding untuk Kekar.

 

17 Okt, Minggu

Sepanjang hari, sambil beristirahat, Kimung membuat rancangan program pembelajaran karinding untuk Kekar. Rancangan program tersebut selesai malamnya, terdiri dari silabus utuk satu tahun, silabus empat bulan pertama kelas NEW, silabus empat bulan kedua untuk kelas ROOTS, dan silabus empat bulan terkahir untuk kelas OPEN.

 

18 Okt, Senin

Senin siang akhirnya konfirmasi dari Mang Jae selaku panitia Bandung World Jazz bahwa Karat jadi maen di BWJ datang juga. Namun demikian, jadinya karat berkolaborasi dengan Sony Akbar yang juga sama-sama pianis. Mang jae juga menyebutkan Sony relatif dekat markasnya denga karat karena ia adalah pengakar di Rumah Musik Harry Roesli (RMHR). Hmmm can’t wait to roll the jazzy piano with rockin Karat hehehe…

 

 

Malamnya, Kimung dan Hendra sharing tentang program Kelas Karinding (Kekar). Beberapa masukan dari Hendra berdasarkan pengalaman pengajaran karinding di Kekar setahun yang lalu kemudian semakin melengkapi program yang disusun Kimung.

 

19 Okt, Slasa Criawww, ROAD TO RAWKIN’KARINDING VS JAZZY PIANO : KARAT VS SONY AKBAR

Setelah kahirnya mendapatkan kontak Sony dari Mang Jae, Karat diwakili Man dan Kimung akhirnya menemui Sony Akbar di Rumah Musik Harry Roesli (RMHR). Awalnya belum ada gambaran sama sekali mengenai bentuk kolaborasi mereka sampai akhirnya Sony, Man, dan Kimung mendengarkan bersama lagu-lagu Karat yang ada di flashdisc Kimung. Sony sangat tertarik pada lagu “Bubuku” entah apa yang ada dalam pikirannya ketika mendengarkan lagu ini, namun ia menyatakan snagat tertarik dengan lagu ini. Lain halnya dengan man. Ketika melihat antusiasme yang tinggi Sony terhadap lagu “Bubuka” ia mengutarakan idenya untuk membawakan “Bubuka” dengan juga menampilkan Sujiwo Tejo mengisi bagian-bagian kosong dari “Bubuka” dengan lirik apapun, terserah Sujiwo Tejo. Kimung dan Sony tentu saja sangat mendukung hal ini dan mendesak man untuk merealisasikan idenya. Man bahkan berjanji jika ia dan Sujiwo Tejo jadi berada dalam satu panggung akan mencukur habis kumisnya agar mirip dengan Sujiwo Tejo. Hihihi cup siah mangs hihihi…

 

Kimung sendiri merekomendasikan “Burial Buncelik” dan “Kawih Pati” yang sepertinya enak diisi pola piano, selain lagu yang memiliki dinamika tinggi seperti “Maap kami Tidak Tertarik pada Politik Kekuasaan” untuk dibawakan bersama piano. Ketika Sony juga mengutarakan jika ia juga akan membawa serta pemain bass dan drum, ide mengaransemen lagu “map” jadi semakin liar. Dalam lagu ini memang sangat dinamis, rapat dengan pukulan celempung. Namun demikian, lagu ini tetap menyisakan ruang yang snagat luas untuk diintervensi berbagai instrument lain yang sekiranya bisa mendukung lagu ini menjadi semakin kompleks, rancak, tanpa mengurangi nilai pesan yang terkandung di dalamnya.

 

Secara umum, Sony mengungkapkan bahwa ia sangat tertarik dengan lagu-lagu Karat dan bahkan mengungkapkan jika nanti di Bandung World Jazz, sudah saja mebawakan lagu-lagunya Karat. Hmmm sebuah rikues yang menantang, tapi sepertinya jika Karat juga berkesempatan membawakan lagu-lagunya Sony, maka ini akan sangat baik untuk si Karat sendiri. Disepakati, karat dan Sony akan latihan hari minggu bada ashar di RMHR. Kita lihat saja nanti bagaimana jadinya, namun di atas segalanya angin optimisme yang ditularkan keterbukaan dan keendahan hati Sony, menyebar dengan cepat di relung-relung man dan Kimung.

 

Malam itu dalam sesi latiha Selasa Ceria, Karat juga sepakat akan memenuhi undangan Metro Tv manggung di aara tertutup Konferensi Oslo yang membahas mengenai lingkungan hidup. Awalnya undagan ini tak akan dipenuhi mengingat panitia tak menyediakan hotel, hanya menyediakan uang transport saja. Namun demikian, karena uangnya lumayan dan Karat memang sedang butuh uang untuk melanjutkan rekaman, maka Karat sepakat untuk pergi. Namun, tak semua bisa berangkat. Okid dan Kimung menyatakan tak bisa berangkat. Ki Amenk dan mang Utun juga tak ada kabar. Jadi yang rencananya pergi adalah Man, Hendra, Jawis, Iwan, dan Jimbot.

 

Karat direncanakan manggung dua kali, yaitu Kamis malam, dan Jumat pagi. Semoga semua lancar, amiin!

 

20 Okt, Rabu, SHOOTING TRANS 7 PROGRAM “Ayo Bernyanyi” BERSAMA ANAK-ANAK KECIL

Siang yang mendung. Sejak jam sebelas siang Okid, Jimbot, Kimung, Iwan, sudah berkumpul bersama kawan-kawan Homeless Dawg di Commonroom, berbincang mengenai berbagai hal sambil menunggu personil Karat yang lain. Hari itu mereka akan shooting untuk program acara “Ayo Menyanyi” Trans 7 di Gedung Indonesia Menggugat (GIM) dan beberapa personil akan datang ke Commonroom duli sebelum ke GIM. Namun setelah waktu menunjukkan hamper jam dua belas dan langit semakin pekat mendung tak datang juga, keemapt Karat akhirnya memutuskan untuk berangkat langsung ke GIM dan menunggu yang lain di sana. Ternyata Ki Amenk sudah tiba di GIM dan asik ngobrol denga pematung handal Abah Ghopal sambil ngelepus sebatang dua batang kretek. Tinggal menunggu Jawis, Hendra, Man, dan Mang Utun, maka komplitlah semua. Namun tak lama rombongan tiba hujan turun dengan derasnya. Di tengah hujan yang deras terlihat istri Mang Utun datang bersama saudaranya membawa Ceuceu, Dinda, dan dua saudaranya, Tiara dan siapa gitu, yang memang akan ikut shooting hari itu. berpayung, mereka segera bergabung dengan yang lain di kafe GIM.

 

Tak lama kemudian, Man dan Ferly tiba bersama ponakan Man dan Ola putrinya Ferly. Suasana tamabah ramai dengan hadirnya mang Utun dan kemduian Hendra serta Fahad sang adik yang juga akan ikut shooting saat itu. Menjelang pukul satu Jawis yang tiba di GIM dan maka lengkaplah Karat. Mang Jeks, Yuki Karmla, dan Princess Wilda datang untuk bergabung beberapa saat kemudian. Kru Trans 7 sendiri masih di jalan. Mereka sempat nyasar dan sedang menuju GIM. Tak lama mereka juga datang, terdiri dari produser, dua kameramen, satu piñata suara, satu presenter, Deni yang pinter, dan satu lagi asisten atau mungkin keluarga Deni. Setelah beristirahat sejenak, segera saja mereka mengeset ruangan dan bersiap-siap shooting. Patung-patung Abah Ghiopal yang memang sangat artistic dijadikan latar shoot mereka siang itu. Mantaps!!

 

And here we shoot now!!

 

Scene 1 : Karat membawakan lagu “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol”. Awalnya mau “Burial Buncelik” dan “Maap Kami Tidak Tertarik pada Politik Kekuasaan”. Namun “Nu Ngora” yang meghentak dinilai sangat pas untuk tema acara anak-anak ini. Karat melakukan lima kali take untuk stok shoot kru tivi.

 

Scene 2 : Karat beserta sema anak-anak dan juga Abah Ghopal membawakan lagu “Maju Tak Gentar” karya C. Simanjuntak. Di sesi lagu ini Karat dan keluarga besar melakukan tiga kali take untuk stok shoot tivi.

Break duyuuu… makan duyuuu ^^ hummm yummieeee…. Setelah makan shooting dilanjutkan.

 

Scene 3 : Anak anak diset sedang duduk-dudk di tangga GIM dan bersorak ketika Karat selesai membawakan lagu “Nu Ngora”. Mereka lantas nyamperin karat dan minta diajari karinding. Karat pun mengajari anak-anak ini karinding. Sesi ini memerlukan banyak take ulang, namun anak-anak tetap semngat ikutan shooting hehehe…

 

Scene 4 : Di tengah anak-anak yang ceritanya belajar karinding sama Karat, Deni sang presenter datang dan ikut bergabung. Setelah berkenalan, ia mulai sesi pertanyaan santai. Pertanyaannya seputar karindiding, Karinding Attack dan instrumen-instrumen yang dimainkan seperti karinding, celempung, toleat, gong tiup, dan suling Jatiwangi, serta demo Karat memainkan lagu jazz dan dangdut. Sesi ini juga memerlukan banyak sekali take ulang karena Deni yang terlalu excited hingga beberapa kali kekurangan kontrol hehehe… Tapi mantap Den! Kami pintar sekali untuk anak seusiamu hehehehh…

 

Scene 5 : Karat ceritanya latihan lagu “Burial Buncelik”. Di tengah latihan, ceritanya ada yang salah dan Karat mengulangi latihan sekali lagi.

 

Sesi ini menjadi sesi terkahir dan shooting akhirnya beres sekitar jam setengah lima sore. Setelah beres-beres, kru akhirnya berpamitan. Pun anak-anak juga berpamitan karena mereka terlihat lelah denga shooting tadi. Namun dua puluh menit kemudian, Ima sang produser tiba-tiba menelpon Okid dan menyatakan ada satu sesi shoot yang kurang dan dalam perjalanan menuju GIM kembali. Setelah tiba, shoot sesi yang kurang segera dilakukan. Scene terkahir tersebut adalah sesi Deni bertanya mengenai pembuatan karinding kepada Karat, dijawab dan ditunjukkan oleh Man ke Abah Olot di Parakan Muncang. Setelah itu, shooting selesai dengan sakses!!! Terima kasih kepada semua yang hadir, semoga program ini bisa memperluas pengenalan karinding ke kalangan anak-anak usia sekolah dasar, amiin!! Rahayu!!!

 

21 Okt, Kamis, KE JAKARTA AKU KAN KEMBALIIIII…

Karat berkumpul di Commonroom,bersiap berangkat ke Jakarta untuk menunaikan panggung Konferensi Oslo.

 

22 Okt, Jumat Kramats, SI KABAYAN SABA KOTA : KARAT LIVE DI KONFERENSI LANJUTAN OSLO CLIMATE AND FOREST CONFERENCE, METRO TV, JAKARTA

Konferensi Oslo (Oslo Climate and Forest Conference/OCFC) sebetulnya sudah diselenggarakan tanggal 27 Mei 2010, dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Perdana Menteri Norwegia Jens Stoltenberg, di Holmenkollen, Park Hotel Rica. Konferensi Oslo resminya dikenal dengan nama Konferensi Iklim dan Kehutanan dan di kesempatan kali ini dihadiri oleh tujuh kepala pemerintahan, terdiri dari Presiden Yudhoyono, Presiden Republik Kongo Denis Sassou Nguesso, Presiden Republik Gabon Ali Bongo Ondimba, Perdana Menteri Denmark Lars Lokke Rasmussen, Perdana Menteri Kenya Raila Odinga, Perdana Menteri Papua Nugini Michael T Somare dan Perdana Menteri Norwegia Jens Stoltenberg. Selain ketujuh kepala negara, konferensi juga dihadiri oleh perwakilan lebih dari 50 negara dan akan membahas upaya mengatasi perubahan iklim melalui sektor kehutanan.

 

Konferensi Oslo merupakan tindak lanjut dari konferensi serupa di Paris awal 2010 itu akan mengambil tema “Kemitraan Global Iklim dan Kehutanan: Di Masa Depan”, dan lebih jauh juga merupakan kelanjutan dari  COP 15 yang dilaksanakan di Kopenhagen, Denmark, akhir 2009, di mana terdapat salah satu pasal mengenai pengelolaan hutan yang mewajibkan negara-negara yang memiliki hutan hujan tropis untuk melakukan pengelolaan, serta insentif yang diberikan kepada negara-negara yang melakukan pengelolaan hutan lestari tersebut (klik berita tentang COP 15 di http://politik.kompasiana.com/2009/12/19/cop-15-obama-berjuang-kongres-menentang/).

 

Dalam hal ini, Konferensi Oslo kemudian bertujuan memfasilitasi kemitraan sukarela antara negara maju dan negara berkembang yang memiliki hutan tropis untuk pelaksanaan mekanisme pengurangan emisi dari penggundulan dan perusakan hutan di negara berkembang (REDD+). Pertemuan di Oslo diharapkan dapat menghasilkan kesepakatan rinci mengenai mekanisme REDD+. Untuk sementara ini telah tercapai kesepakatan untuk sesegera mungkin mengurangi emisi akibat penggundulan dan pengrusakan hutan dan penyiapan dana sebesar 25 miliar Kroner Norwegia (NOK) selama dua tahun, mulai 2010 hingga 2012 mendatang. Dengan komitmen itu semua Negara Konferensi Oslo sepakat untuk mengurangi emisi efek rumah kaca dari deforestrasi dan degradasi hutan.

 

Nah dalam rangkaian program Konferensi Oslo itulah Metro Tv memfasilitasi pertemuan antara Menteri Kehutanan dan Menteri Sumber Daya dan Energi untuk bertemu dengan sekitar lima puluh pengusaha tambang dan sumber daya energy lainnya serta kehutanan di Indonesia utnuk berkumpul dan membicarakan berbagai permasalahan yang berkaitan dengan komitmen Konferensi Oslo. Dan di acara itulah Karat diminta untuk tampil. Awalnya Karat akan tampil dua hari berturut-turut, hari Kamis dan Jumat, namun karena berbagai hal Karat akhirnya hanya tampil hari Jumat saja.

 

Dan Jumat dini hari itu, karat, terdiri dari lima orang saja : Man, Okid, Hendra, Jimbot, dan Jawis, terguncang-guncang di mobil pinjaman menuju Jakarta yang dikendarai Mang Tahu. Yang lainnya, Kimung, Iwan, dan Mang Utun tak bisa berangkat karena informasi tentang ini begitu mendadak. Sampai Jakarta sekitar jam empat subuh, rombongan segera parker di sebuah kios di sebelah hotel bintang lima di mana pergelaran digalakan. Awalnya rombongan mau parker di dalam, namun karena takut bayar tiket mahal, mereka memutuskan untuk menunggu sejam lagi agar bayar parkirnya tak terlalu mahal. Hingga akhirnya jam lima subuh masuk halaman hotel, ternyata Karat diberi parker VIP yang bebas dari bayaran hehehehe. Rombongans egera merebahkan diri di mushola sekitar, yang lain mencari udara segar pagi itu hingga kemudian pihak Metro Tv menemui Karat dan mempersilahkan rombongan untuk masuk, beristirahat, dan setting alat. Dan di sinilah Insiden Karpet Putih terjadi hehehe…

 

Syahdan ruang tempat Karat nabeuh adalah ruang VVIP di mana kalau kita mau masuk ke dalamnya kita harus melewati karpet putih yang super tebal, super empuk, dan sangat bersih. Karpet ini memang dipersiapkan untuk menyambut tamu-tamu termasuk dua mentri yang akan hadir sebagai pembicara. Dan melewati karpet itulah Karat untuk masuk ke ruangan. Maka satu demi satu Karat masuk melewati karpet tersebut. Man, Jimbot, Okid, Jawis, mang Tahu, dan terakhir Hendra. Baru juga Man, Jimbot, dan Okid yang masuk melalui karpet, tiba-tiba keamanan mengehtikan mereka. “Stop!! Kakinya kotor!!!” serunya. Kontak Man, Jimbot, dan Okid meloncat dan misuh-misuh saling memeriksa alas kaki masing-masing. Setelah sebelumnya salig tuduh antara Man dan Jimbot, ketahuanlah jika ternyata alas kaki yang kotor adalah punya Jimbot dan dia akhirnya disuruh cucik kaki kaki dulu di toilet sebelum masuk hehehe…

 

Karat sendiri akhirnya setting alat satu jam kemudian dan manggung dalam dua sesi. Sesi awal mereka manggung papalidan belaka, memainkan pirigan-pirigan karinding freestyle untuk membuka konferensi tersebut kemudian langsung menggeber ”Yaro”, dan terkahir “Kawih Pati”.  Sesi kedua Karat kembali maen mengiringi makan siang. Mereka menggeber papalidan, kini dengan suling Jimbot yang bahaya dan mematikan, kemudian menghajar lagi dengan “Yaro” dan akhirnya ditutup dengan “Maap Kami Tidak Tertarik Dengan Politik Kekuasaan”. Di lagu terkahir Jimbot meledek Man karena tak mau teriak kencang-kencang. Namun memang lagu itu dimainkan juga secara incidental saja. Awalnya produser acara sudah wanti-wanti untuk tidak menyinggung-nyinggung masalah politik di acara itu.

 

Karat selesai amnggung jam empat sore dan kahirnya pulang ke Bandung. Setelah berkeliling selama dua jam mencari hotel untuk nganter Jimbot yang manggung dalam rangka sebuah hajatan, Karat kembali ke bandung. Sempat terjadi “Insiden Kaca Spion” di tempat makan yang biasa disinggahi Karat.

 

Mereka kembali ke Bandung jam sepuluh malam. Huraaa…!!!

 

BERSAMBUNGS…

 

Next : Latihan bersama Sony Akbar & Band di Rumah Musik Harry Roesli

 

10 PLAYLISTS : Tarawangsa, Giri Kerenceng, The Beatles, The Doors, Jimi Hendrix, Carcass, Dying Fetus, Soundgarden, Pearl Jam, Stone Temple Pilots

BOOKS : Komik serial Tintin dan Lucky Luke

MOVIES : The Lost Subs

QUOTES :

The smallest ocean still gets big, big waves, Pearl Jam, “Tremor Christ”, Vitalogy

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s