JURNAL KARAT # 38, 15 OKTOBER 2010, PASAR SENI ITB XXX DAN MEMBEDAH LIRIK GIRI KERENCENG

Posted: October 22, 2010 in Uncategorized
Tags:

JURNAL KARAT # 38, 15 OKTOBER 2010, PASAR SENI ITB XXX DAN MEMBEDAH LIRIK GIRI KERENCENG

Oleh Jon 666

9 Okt, Sabtu

Sehari sebelum Pasar Seni ITB XXX ITB dan Jalan Ganesha sangat ramai. Panitia dan pihak-pihak yang ikut berpartisipasi sibuk mempersiapkan diri untu esok hari. tak ketinggalan warga Bandung ayng ingin melihat persiapan Pasar Seni sedari awal. Karat tak datang bersamaan hari itu namun semua janjian jam enam sore harus sudah ada di panggung utama untuk melakukan soundcheck. Okid sudah ada di TKP sejak pagi karena dia harus mengeset barang-barang di stand yang ia sewa, tak ketinggalan hendra juga di sana bersama Okid. Jimbot juga sudah di ITB sejak siang karena akan mengeset alat gamelan yang ia mainkan dalam konser pembukaan reunion bersama Gigi, Kimung, dan anak-anak didiknya di SMKI. Kimung muncul jam setengah tiga siang dan segera menuju stand Okid. Ia kemudian bergabung dengan Jimbot untuk gladi resik pembacaan narasi pusisi yang ia tulis beberapa jam sebelumnya dengan judul “Puisi-puisi Rumah Pohon di Tengah Kota”. Belakangan judulnyaia revisi menjadi “Redemption Tree”.

Jam soundcheck sendiri ternyata dinyatakan diundur dua jam, dari jam empat ke jam enam. Hmmm banyak waktu untuk mengeksplor segala hal di Pasar seni ini. Kimung akhirnya sepenuhnya bergabung dengan Jimbot mempersiapkan diri membaca narasi “Redemption Tree”. Alhirnya setelah Magrib tiba, Aula Barat ITB mulai dipenuhi para alumni ITB angkatan 1990. Sebentar lagi acara akan dimulai. di tengah persiapan mulainya acara, Mang jawis, Yuki, Princess Wilda, dan kawannya, Ines datang.

Narasi Kimung untuk kolaborasi dengan Jimbot di reunian ITB Angkatan 1990 itu bisa dibuka di link https://jurnalkarat.wordpress.com/2010/10/09/rumah-pohon/

Seberes manggung bersama Jimbot, Kimung langsung menuju tempat soundcheck, sementara Jimbot masih terus menangani pertunjukan rampak kendang dan rangkaian musik tradisional lain dalam acara itu. di panggung utama, soundcheck ternyata belum juga dimulai. Para kru mikser panggung yang mengatur monitor dan sound control bahkan tak ada di tempat hehehe…

Namun demikian, kru segera menyiapkan panggung, Zemo dan Ghera dengan cekatan segera memasang keperluan panggung sementara Addy Gembel berada di belakang meja mikser. Mereka menandai kabel mikrofon dengan solatip dan menandai dengan angka sehingga Addy gembel yang kini bertugas di meja mikser tak kesulitan mengaransemen tata suara Karat agar keluar dengan baik. Satu-satu Addy gembel mengeset tata suara instrumen yang dimainkan semua personil yang kolaborasi agar bisa dimiks dengan baik. Dan akhirnya prung!! “Sai Sia Asa Aing” akhirnya digeber ketika semua suata dari instrumen sudah tertata dengan baik

Kendala utama dari soundcheck kali ini adalah adalah monitor yang tak jalan. Seperti yang sudah saya ceritakan di atas, bahkan orang di belakang mikser panggung yang bertugas menjaga sound control pun tak ada, ga tau ke mana hehehe. Namun demikian, sound check bisa dilakukan dengan baik dan sedikitnya ada gambaran mengenai tata suara yang akan dihadapi kolaborasi

Sesudah soundcheck, semua brifing dulu di halaman ITB untuk teknis esok hari. hmmm semoga semua lancar… amiin!!!

10 Okt, Minggu, Pasar Seni ITB XXX atau 101010 atau 10 Oktober 2010.

Pasar Seni ITB XXX atau 101010 atau 10 Oktober 2010. Matahari bersinar sangat terik. Bandung hari itu terlihat gegap gempita. Berbagai acara digelar untuk mendapat momen 101010. Sebelum ke panggung Pasar Seni, para personil Karat & kru berkumpul di Commonroom untuk menghadiri pernikahan Cuky. Jam setengan dua belas mereka beramai-ramai menuju panggung utama Pasar Seni ITB tepat di depan Monumen Kubus Gerbang ITB. Tampak para personil Kelas Ajag, Donor Darah, dan LSS ITB sudah hadir dan siap menghajar panggung siang itu. Karat sendiri belum hadir semua siang itu. Kimung, Ki Amenk, dan Jimbot belum menampakkan batang hidung mereka. Sebelumnya, JImbot sudah bilang jika waktu panggung Pasar Seni bentrok dengan panggung dia di acara pernikahan saudaranya di Kopo di mana ia harus hadir untuk nabeuh di sana.

Sebetulnya sejak awal Jimbot diplot untuk maen jam tiga di nikahan itu, namun ketika tahu Karat maen jam tiga juga di Pasar Seni, Jimbot segera meminta agar jam tampilnya dipajukan jadi jam satu. Belakangan ternyata panitia Pasar Seni mengubah jadwal tampil Karat jadi jam satu. Jimbot tentu saja tak bisa merubah jadwal maennya di nikahan. Namun demikian, Jimbot berjanji akan segera datang jika ia sudah beres manggung di Kopo. Namun hingga jam satu lebih dan sebentar lagi Karat tampil Jimbot belum juga dating. Mengantisipasi berbagai kemungkinan, Okid segera saja meminta Yuki Karmila yang hadir bersama Karat siang itu untuk naik ke panggung menggantikan Jimbot di sesi tiup. And here we go now! Kelas Ajag Vs LSS ITB Vs Donor darah Vs Karat!

Kelas Ajag tampil pertama membuka gig siang yang mentrang itu. Memakai topeng dan seragam karung goni yang super tebal di panas yang terik itu tak menyurutkan Kelas Ajag untuk secara atraktif meneriakkan lagu-lagu kritik sosial yang pedas. Satu lagu yang mantap saya dengarkan adalah “Shalawat Setan”. Fukkin cool mangs!!! Giliran LSS ITB kini yang tampil menghajar panggung dengan beat-beat tradisional yang rancak dan bersemangat. Berseragam hitam-hitam mereka meningkahi aksi Kelas Ajag di gig sebelumnya. Mantaps!! Bertepatan dengan penampilan LSS ITB, Kimung dan Ki Amenk akhirnya tiba. Hendra yang sudah sangat tegang sedari tadi karena Kimung tak juga tiba akhirnya bisa bernapas dengan lega. Yuki yang di kemudian hari bercerita kepada Kimung bagaimana tegangnya Hendra selalu tak bisa menahan tawa mengingat bagaimana wajah Hendra saat itu. Here we go now!!!

Donor Darah kini maju ke depan menghajar audiens dengan “Donor Bagong”, sementara Karat bersiap-siap menjawab Donor Bagong dengan “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol”. Sejenak setelah “Donor Bagong” usai digeber, Karat langsung masuk ke intro “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol “ hajar mangs!!! Sehabis “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol” Donor darah segera menggeber “Pemberontakan Rangkuti”. Lagu ini lebih dinamis dengan riff dan beat yang lebih ragam dan rancak dari lagu sebelumnya. Sementara itu Karat bersiap menjawab “Pemberontakan Rakuti” dengan “Maap kami Tidak Tertarik dengan Politik Kekuasaan”. Dan dua lagu ini memang sangat cocok disandingkan. Selain memiliki tempo dan pola beat yang mirip, secara tematis, lagu ini juga memiliki napas yang sama : politik kekuasaan. Dan di sana mereka dihajar oleh Donor Darah dan Karat. Menyisakan para penonton yang terbengong-bengong di bawah sana.

Tanpa menunggu lama Donor Darah segera menyambung dialog dua lagu sebelumnya dengan “ Tranfusi Darah Paksa”. Lagu ini secara beat lebih pelan, namun secara bobot lebih berat dan kelam. Hmmm entahlah, namun tak banyak band metal yang bisa bermain di riff dan beat sedang tanpa kehilangan sumthin heavy in it. Untuk “Tranfusi Darah Paksa”, Karat menjawabnya dengan “Burial Buncelik”. Sama dengan dua dialog di empat lagu sebelumnya, dialog kali ini juga memiliki sinkronisasi yang pas baik secara ritme maupun emosi. Baik dalam riff dan beat maupun lirik. “Tranfusi Darah Paksa” tentu saja mengacu pada sesuatu hal yang menyakitkan, dan “Burial Buncelik” adalah suatu ekspresi yang menunjukkan kesakitan luar biasa tanpa bisa melakukan apa-apa demi meminimalisir rasa sakit itu. Uhhh I, hurt myself today to see if I still feel…

Seusai “Tranfusi darah Paksa Vs Burial Buncelik” udara dibiarkan hampa menyapu panas yang membakar siang itu. Parapenonton yang terpana di bawah sana semakin banyak saja penasaran dengan dua kolaborasi tadi. Dan inilah saatnya kolaborasi terakhir : “Sia Sia Asa Aing”, lagu Karat yang diaransemen untuk dimainkan oleh empat band kolaborator di panggung Pasar Seni ITB. Kacapi suling LSS ITB masuk memainkan pakem “Catrik” pelan mengalun, mengentaskan di siang yang garang itu. Tak mau berlama-lama tenggelam dalam “Catrik”, Hendra segera masuk di intro “Sia Sia Asa Aing”. Celempung pelan namun pasti bertalu-talu dimainkan di tempo dan kekuatan pukulan. Sementara itu, celempung Kimung yang awalnya mengawal kacapi, segera saja berpindah ke pirigan celempung Hendra, bersiap mengawal intro masuk “Sia Sia Asa Aing”. Bertalu-talu suara celempung Kimung memberikan dasar ketukan kepada Hendra. Konsep ini terinspirasi dari lagu Metallica, “To Live is To Die” di mana petikan gitar akustik Hetfield pelan-pelan dirangsak oleh dentuman drum dan distorsi gitar dan bass sebelum akhirnya masuk ke pola lagu yang utuh.

Karinding dan vocal Man segera masuk dilatari gumaman Kimung sepanjang lagu. Growling dan screaming yang dikombinasikan bertingkah antara pirigan karinding, suling, dan kacapi yang mengalun dengan celempung yang bermain stagnan namun beraura progresif. Hingga akhirnya sesi reff tiba, distorsi gitar, bass, dan drum Donor darah dan Kelas Ajag ikut membakar “Sia Sia Asa Aing”. Di jeda sebelum masuk ke pola viokal berikutnya, Kelas Ajag mengisi pola musik yang kosong dengan puisi dengan gaya teatrikal yang luar biasa.

Masuk ke pola vocal ke dua, musik semakin mantap dengan hadirnya distrosi gitar dan bass, juga drum yang melatari permainan empat band tersebut. Kelas Ajag kembali melantunkan bait-bait puisi yang sangat kentara kekuatannya menajamkan lirik “Sia Sia Asa Aing” yang memang dibuat seabsurd mungkin. Gitar saling bereksperimen hingga akhirnya masuk ke pola vocal ketiga yang kini semakin mantap mengalun menemukan diri setiap instrumen sendiri. Hingga di jembatan meunju reff, musik tiba-tiba berhenti dan tempo berubah cepat.

Diawali dengan kocokan gitar dengan perubahan tempo menjadi cepat, musik tiba-tiba semakin dinamis.  Kendang yang sedari tadi melatari, kini maju ke depan bersahutan dengan drum. Empat bar kini disediakan untuk solo drum Tama dan kendang Baw. Diawali dengan kendang baw bertalu-talu dijawab oleh dentuman dan rentetan drum Tama. Sementara itu celempung Kimung dan Hendra terus memberikan nuansa dan pagar atas dialog dua instrumen pukul tadi. Dan ketika semua usai, semua vokal dan instrumen kembali bersatu dalam satu irama refrain yang diteriakkan oleh semua vokalis di atas panggung. Uhhh mantaps mangs!!! “Sia Sia Asa Aing” berakhir dengan alunan kacapi suling Catrik, haleuang neng sinden, serta peluit silit uncuing yang ditiup Kimung sebelum lagu berakhir.

Uhhh benar-benar kolaborasi yang sangat menguras energi dan emosi!

Terima kasih kepada para kolaborator : Donor darah, Kelas Ajag, dan LSS ITB. Ye guys and gals muttafukkin rule!!!

Oww yaa di Pasar seni ITB ini juga Ucok mengutarakan kesediaannya menggarap lagu “Anti Karat” battle bersama Reggi. Konsepnya berubah, nanti ada yang berperan sebagai antagonis dan protagonist. Hmmm bagaimana kelanjutannya? Ikuti saja Jurnal Karat terus oks!! HIdup seniman ITB!! Semoga mereka bisa semakin aplikatif dengan masyarakat di masa yang akan dating!! Hellfukkinyeah!!!

12 Okt, Slasa Criawww

Berkumpul di Commonroom untuk membicarakan kelanjutan rekaman. Hingga saat itu Karat belum bisa masuk lagu studio untuk melanjutkan rekaman karena tak ada dana. Sabar sabar sabar… Dalam kesempatan itu, mereka juga membicarakan tentang rencana Festival Karinding yang rencananya akan mementaskan dua puluh dua band karinding dari berbagai wilayah di Priangan.

Di kesempatan itu juga Karat membahas masalah internal mengenai indisipliner berkaitan dengan aktivitas politik local yang bersinggungan dengan Karat. Dirasakan tindak indisipliner ini semakin kuat menggenggu independensi karat sebagai penjaga seni dan sepertinya harus segera diputuskan. Untuk itu, Karat sepakat bersilaturahmi ke Bah Olot untuk curhat masalah ini dan meminta pendapat bagaimana baiknya menurut Bah Olot sebagai guru dari Karat. Kunjungan ke Bah Olot rencananya hari Jumat, tidur di sana hingga hari Sabtu.

15 Okt, Jumat Kramats

Kimung datang pertama kali, jam empat sore sudah nongkrong di Villa Karinding Bah Olot besama mang Iwan yang memang tidur di sanggar sejak malam sebelumnya. Bah Olot menyambut kimung dan mengabari bahwa akan ada awak Trans 7 untuk program “Ayo Menyanyi” akan datang untuk shoot Giri Kerenceng hari Selasa. Tak lama Kika, Reffy & cs2 datang. Uhhh guys ye know how Kimung misses ye all. Kimung dan Mang Iwan nyebur berenang di bendungan Sungai Cimanggung yang airnya semakin deras sore hari itu.

Sehabis berenang, Mang Dedi menyetel lagu-lagu Giri Kerenceng yang direkam DJ Luna sementara yang lain mendengarkan sambil duduk-duduk santai di sanggar Bah Olot. Merasa penasaran dengan pola ketukan celempung renteng Mang Fery Giri Kerenceng di rekaman itu, Kimung segera duduk di belakang waditra celempung renteng dan belajar pola celempung lagu-lagu Giri Kerenceng. Kimung bilang, secara dasar ketukan ia sudah mampu menguasai celempung renteng, namun secara pirigan yang variatif seperti halnya Mang Fery, ia masih sangat jauh dan harus terus menerus berlatih secara instens dengan  disertai proses pemahaman waditra tabuh tradisonal terutama kendang.

Di sesi itu, Kimung juga mencoba mengaransemen lagu-lagu Bob Marley dan The Beatles melalui beat celempung renteng bersama Reffy dan kawan-kawannya. Lagu-lagu Bob Marley yang dimainkan antara lain Redemption Song, Waiting in Vain, Is This Love, Buffallo Sildier, sementara The Beatles yang dimainkan adalah She Loves You dan back in the USSR. Di tengah segala keramaian itu, ada kontak dari Kang Rahmat Giri Kerenceng. Beliau ada di Tasikmalaya dan akan menuju Villa Karinding bersama rengrengan dari Panjalu dan Bogor untuk bersilaturahmi dengan Bah Olot.

Rengrengan Karat akhirnya tiba sekitar jam sepuluh malam bersama Kapten Jek, Kimo, Micky dari Jepang, dan dua mahasiswa UPI yang berencana meriset pembelajaran Karinding Attack. Suasana semakin ramai dengan kehadiran rengrengan dan berbagai obrolan saling bertukar. Man juga mengabari bahwa awak Trans 7 untuk program “Ayo Bernyanyi” menghubungi Karat untuk shooting hari Rabu. Keramaian semakin bertambah ketika para personil Giri Kerenceng berdatangan untuk nabeuh malam itu. Kang Fery dan Mang Wawan segera bergabung untuk memainkan nomor-nomor dari Giri Kerenceng. Mang Dedi segera menyiapkan tata suara untuk mendukung konser kecil Giri Kerenceng malam itu. Malam yang dingin itu segera semarak dengan alunan Giri Kerenceng. Kimung kembali bergabung bermain kecrek dalam konser kecil itu.

Tak seberapa lama, Kang Rahmat beserta rengrengan Panjalu dan Bogor akhirnya tiba. Bah Olot menemui mereka di villa sementara yang lain mengobrol dengan akrab di halaman sanggar Bah Olot. Kimung, Hendr, dan mahasiswa UPI berlatih Karat di dalam dan akhirnya, nasi liwet segera ditabeuh mangs hahaha… Tak lama kemudian bah Olot dan kawan-kawan dari Panjalu dan Bogor ikut bergabung.

Masuk pergantian hari, wawancara Kimung kepada bah Olot tentang lirik-lirik Giri Kerenceng dimulai… Apa sajakah yang diungkapkan bah Olot mengenai sejarah proses kreatif lagu-lagu Giri Kerenceng?

Ikuti di Jurnal Karat edisi berikutnyaaaa..!!!

JON 10 PLAYLISTS : Tarawangsa, Giri Kerenceng, Karinding Attack, The Beatles, Bob Marley, Norah Jones, Imel Rosalyn, Janis Joplin, Jimi Hendrix, Chopin

BOOKS : Five Against One

MOVIES : Godfather 1, 2, 3

QUOTES :

Do you don’t you make me to love you? Helter Skelter, The Beatles

Life is very short and there’s no time for fussing and fighting, my friend We Can Work It Out, The Beatles

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s