JURNAL KARAT # 37, 8 OKTOBER 2010, PERSIAPAN KOLABORASI FROM HELL PASAR SENIT ITB XXX!!!

Posted: October 19, 2010 in Uncategorized
Tags:

JURNAL KARAT # 37, 8 OKTOBER 2010, PERSIAPAN KOLABORASI FROM HELL PASAR SENIT ITB XXX!!!

Oleh Jon 666

5 Okt, Slasa Criawww

Selasa sore yang cerah. Karat akan latihan sore itu bersama Donor darah, Kelas Ajag, dan LSS ITB untuk kolaborasi mereka di Pasar Seni ITB XXX. Karat bersama rombongan, Ghera, Ranti, dan Evi beramai-ramai menyambangi ITB yang hiruk pikuk sore itu. Mahasiswa-mahasiswa terlihat sibuk mempersiapkan stand-stand untuk Pasar Seni, termasuk juga kawan-kawan Donor Darah yang sibuk menyiapkan berbagai peralatan untuk berlatih bersama di sudut taman Fakultas Arsitektur ITB. Karat segera bergabung mnegeset mikrofon yang dibekal Man. Menjelang magrib, anak-anak LSS ITB datang menggotong alat-alat gamelan untuk latihan mereka. Namun, anak-anak Lises menyebutkan ternyata yang akan berkolaborasi bersama dari LSS hanya kacapi, suling, kendang, dan sinden saja. Hmmm sangat disayangkan yah gamelannya tak tergarap. Padahal gamelan akan menambahkan ruang magis dalam lagu yang nanti akan terbentuk.

Karena waktu yang terbatas, semua sepakat bahwa latihan sesi ini hanya akan sampai jam delapan malam saja.

Untuk itu Karat, Donor Darah, Kelas Ajag, dan LSS tak membuang waktu. Karat segera menawarkan lagu “Sia Sia Asa Aing” sebagai lagu yang akan dibawakan dalam kolaborasi itu. untuk itu, Karat memainkan seputaran “Sia Sia Asa Aing”. Setelah itu giliran LSS dan Donor Darah yang memainkan konsep musik kolaborasi mereka. Musiknya diawali oleh kacapi catrik yang merupakan irama pakem tradisional kacapi suling. Di tengah lagu, distorsi Donor Darah masuk dan mereka juga memberikan sesi kenaikan tempo serta dialog solo drum dan kendang. Hmmm menantang! Ki Amenk bahkan sempat nyeletuk, “Geus we nu ieu!” dari belakang mik karinding.

 

Namun, lagu ini karakternya masih sangat lemah. Selain tak ada lirik, pola musik lagu ini sangat datar, sangat pakem, dan kurang memberikan ruang yang luas bagi para musisi untuk mengeksplor kebebasan bermain instrumen. Singkatnya, pola lagu ini masih sangat aman untuk dimainkan dan minim tatangan untuk memainkan emosi. Maka Karat kemudian meminta semua untuk menjajal kemungkinan pola yang sudah dibuat oleh LSS dengan Donor Darah dikombinasikan dengan “Sia Sia Asa Aing”. Semua sepakat dan oww… hasilnya betul-betul di luar dugaan!!

 

Lagu ini menjadi lagu yang sangat kuat!! Diawali dengan petikan kacapi Catrik beriring alunan suling, tiba-tiba pola ini dihantam oleh gelombang celempung Hendra dan Kimung yang sayup-sayup sampai semakin keras dan cepat hingga ke tempo “Sia Sia Asa Aing” seperti biasa. Setelah itu man masuk vocal dan setelah sesi vocal refrain yang merupakan teriakan parau Kimung, distori Donor Darah lalu masuk. Patut diakui, permainan distorsif Donor Darah dalam lagu ini sangatlah emosional. Walau mereka bermain relative pelan, namun ini tak mengurangi bobot lagu ini yang memang heavy. Lagu kemudian ditutup oleh kacapi suling Catrik dan haleuang sang sinden dalam bahasa Bali.

 

Setelah beberapa kali putaran, Kelas Ajag memberikan narasi yang gegap gempita di setiap jembatan antar pola bar-bar vocal Man dan Kimung. Donor Darah juga mengaransemen pergantian tempo di bagian tengah dan memajang dialog solo drum Tama Donor Darah dan solo kendang Baw LSS yang sudah mereka buat sebelumnya. Dua perubahan ini semakin memberikan nuansa kompleks untuk “Sia Sia Asa Aing”. Kimung kemudian meminta sang sinden juga meberikan nuansa vocal ketika Kelas Ajag mengisi sesi narasi. Ia juga meminta LSS untuk juga memainkan gamelan utnuk emngisi sesi-sesi kososng dalam “Sia Sia Asa Aing”.

 

Latihan selesai jam setengah sembilan malam.

 

7 Okt, Kamis

Rencananya Kamis ini latihan akan dimulai jam enam sore, namun karena hujan besar yang tak kunjung berhenti, Karat hanya berkumpul di pelataran Commonroom sambil menunggu hujan reda. Dalam kesempatan itu, Jimbot meminta bantuan Kimung untuk mengisi pembacaan narasi dalam acara reuni angkatan 1990 ITB dengan sebuah narasi sastra bertema “Pohon”. Setelah mendengar pemaparan konsep dari Jimbot, Kimung akhirnya mengiyakan akan membantu Jimbot. Lagi pula siapa yang bisa menolak permintaan seorang nabi heheheh…

Akhirnya setelah hujan reda, para personil Karat berkumpul di selasar ITB pukul delapan malam. Mereka segera saja menghajar malam itu dengan “Sia Sia Asa Aing”. Kendala utama dalam latihan ini adalah kesulitan Mang hendra untuk masuk sesuai dengan irama Catrik kacapi suling. Namun demikian, Jimbot terus memberikan inspirasi kepada Hendra utnuk tidak emnyerah sambil emintanya terus focus kepada instrumen yang dimainkan. Dari empat putaran latihan, hanya satu yang mulus hehehe…

 

8 Okt, Jumat Kramats

Libur cenah cuuuu karena besok malam Karat mau soundcheck dan latihan terakhir kolaborasi bersama Donor Darah, Kelas Ajag, dan LSS ITB.

 

Jadi bagaimanakah kisah panggung kolaborasi Karat – Dinor Darah – Kelas Ajag, dan LSS ITB di Pasar SEni XXX???

 

Nantikan di edisi selanjutnya…

 

10 PLAYLISTS : Tarawangsa, Sepultura, Donor Darah, Burgerill, Kacapi Suling,  RATM, Nailbomb, Carcass, Giri Kerenceng Demo, Karinding Attack Demo

BOOKS : Pamali 1 dan Pamali 2 by Norvan Pecandu Pagi,

MOVIES : Clockwork Orange

QUOTES : Read my writing on the wall!!! Zach RATM, “Settle for Nothing”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s