RUMAH POHON

Posted: October 9, 2010 in Uncategorized
Tags:

Sampurasun,

Ahung, ahung, rahayu,

Selamat dan salam kepada Dia Yang Maha Kuasa, kepada para penguasa yang kita duga dan yang tak kita duga, kepada alam semesta serta mereka yang sepanjang hayat menjaganya, menyemai kebajikan dan kebijakan, kepada para guru, kepada para seniman, kepada sahabat-sahabat yang terserak dan tak pernah berhenti menyerah, kepada sahabat-sahabat semua dinaungan ini…

Kepada pohon-pohon dan selimir angin, kepada musik dan dzikir para pohon buat kita semua…

I – PUISI RUMAH POHON DI TENGAH KOTA

1
hey,
aku di sini
di atas sini

aku tahu
kamu semua tak tahu
aku
di sini

2
ini rumah kita
home sweet home

di tengah kota
kita lupakan peradaban
di rimba ini
aku dan kamu
bersama

3

dedaunan ini rambutmu
ranting ini rabamu

dalam desir angin
di sela-sela dahan rumah pohonku
aku sentuh bibirmu
mendekapmu
memanggil namamu

4
kemari!
naiklah!

aku pegangi kamu!

hey really,
it’s beautiful up here!
dan kita lupa
kita luka

5
di barat sama
semburat senja berpendar
cahaya jingga tua
belai jemari kita
yang saling menggenggam

di atas hiruk pikuk
nyanyian sembarang
bekakak dan racau para pemabuk
peluit polisi
deru mesin-mesin
mendesing di jalanan sana
kita bercumbu
saling memagut

dan merah pelan memekat

tak pernah ada yang tahu
keringat yang kita teteskan
di atas sini

6
kamu terlelap
dalam dekap dahan
berselimut dedaunan
hangat

di wajahmu
aku lihat kota ini
lampu-lampunya membias lirih
memadu sunyi
pijarkan senyap

sementara di bawah sana
puluhan botol kosong
berserak
dan tubuh-tubuh bergeletak
diam,
api membakar mimpi
dan mereka terlelap
nyenyak

jam tiga pagi
aku berbisik bersama gemerisik ranting
berbincang bersama desir angin

di bawah sana
lampu-lampu mengedip
anggun

7
rumah pohonku
puluhan tahun umurnya
mungkin seratus lebih
kokoh memaku kota ini

rumah pohonku
besar dan rindang
berikan ruang bagi ribuan binatang
saksi sejarah kota ini

di dahan-dahannya
aku membangun gairah
untuk tetap hidup
tanpa
esok
hari

8
i will not go
prefer the feast of friends
to the giant family

jdm

9
ke sini!
ke mari!

it’s really beautiful up here,
as you!

II REDEMPTION TREE

Dan sayang, di sini aku bersimpuh mengingat kamu,

Akar yang menghujam dalam kuat dan panceg, bersatu dengan tanah, menyerap air dan hara, membentuk energy yang sinambung dengan daun—menghamparkan diri untuk mengolah air dan hara dengan cahaya matahari yang ia akrabi. Sinergi ini membuat kamu begitu kuat : batang pohon yang menjulang dengan dahan yang dirimbuni daun. Dan kemudian di rindang kita bernaung, mengembangkan dada, memenuhinya dengan udara segar demi hasrat, semangat, dan harapan yang tak pernah padam.

Di sini aku mengingat sejarah. Al syajaratun, yang memuat kisah awal hingga akhir nanti. Undak usuk dan rawayan serta silsilah yang membuat kita panceg menjadi diri sendiri. Seperti kamu. Mengajarkan kesinambungan. Ada kakek nenek, ada ayah ibu, ada anak-anak. Dari mereka, para leluhur lalu kebajikan tercipta dalm bentukmu. Sang penaung, penghampar cerita dari akar sehingga buah, dari sebab hingga akibat, dan kisah-kisah tragedy, komedi, dalam alur historisnya. Dan kita belajar di sela-sela sepoi angin yang bergemersik di dedaunan. Dan kita, bersender di dahannya, terlelap terbuai mimpi : segenap harap dan rencana-rencana kebaikan di masa depan. Dan kita bangun dengan kesegaran oksigen yang penuhi dada. Bersama relung-relung kisah sejarah yang tergurat sekujur tubuh batang dan akarmu, aku lalu bersimpuh.

Lalu hidup kita penuh dengan kerja. Menimba energy, mengolahnya, dan memberikannya kembali kepada apapun, siapapun. Seperti kamu, pohon, mahluk yang tidak pernah makan buahmu sendiri. Kamu makan dari energi yang tertanam di tanah. Semakin dalam akar kamu menyerap energi, semakin dekat kamu dengan kedalaman rasa Sang Khalik. Dan bukankah semua buah yang manis karena akar yang tertanam dalam, menyembunyikan diri dari pandangan, bekerja dengan cara misterius tanpa pamrih, tanpa harus memperlihatkan siapa diri yang berjasa karena ia bekerja dalam kesadaran bahwa ia hanyalah salah satu bagian yang tak bisa berkerja tanpa bagian lainnya : daun, dahan, buah. Akar yang tertanam semakin dalam dengan rasa buah yang semakin manis adalah kita yang terus menggali semua upaya untuk hasil yang semakin baik.

Pun, kamu tidak tersinggung ketika buahmu dipetik orang. Kadang kita protes kenapa kita yang kerja keras tapi menikmati justru orang lain? Namun pohon adalah sang pemberi, di mana kita bekerja bukan untuk hidup, tetapi untuk memberi buah. Sudah cukuplah nikmat yang pohon rasakan ketika kita merasakan begitu nikmat sang buah. Cukupkan dirimu dengan apa yang ada padamu, tapi tidak pernah ada kata cukup untuk memberkati orang lain dengan pemberian kita. Lalu, buah yang dihasilkan pohon itu menghasilkan biji, lalu biji kembali menghasilkan pohon. Dan pohon berbuah, lalu bijinya kembali menghasilkan pohon. Inilah kita kini sang mahluk multiplikasi : di mana kita senantiasa memberikan inspirasi, menumbuhkan benih-benih baru yang mewarisi kerja semua. Para penjaga baru. Para martir baru. Para pekerja baru. Para serdadu, para hasrat yang terus bekerja untuk pembaruan dan kesinambungan.

Dan bahkan ketika kelak mati, ia masih saja berguna. Daunnya yang berguguran akan menjadi humus penyubur tanah, batangnya menjadi penyangga, dan dahan bisa menjadi kayu bakar seta seni yang tak tertandingi, mereka yang tak tergunakan dan terkubur, kelak jutaan tahun kemudian akan menjadi bahan bakar untuk keturunan kita. Energy yang tak pernah mati.

Ahung ahung ahung,

Dan lalu kita mengayomi mereka yang di bawah, melindungi segala yang megancam kedaulatan mahluk dan benda, menjaga ketentraman batin, sandang, pangan, dan papan; memberikan ruang kreativitas dan kerja berdasar kearifan local untuk dunia yang global, memberikan inspirasi sehingga tak ada kata mati—jasad yang luruh terus berlanjut oleh semangat memberi yang abadi.

Semakin tinggi pohon, semakin keras angin yang menerpa. Tak apa karena kita punya akar yang dalam. Kita berdahan yang menjaga keseimbangan. Kita berdaun, menahan angin yang siap luluh lantakkan adab-adab di sana. Kita kuat, sayang…

III – AHUNG AHUNG AHUNG RAHAYU

Sembah simpuh kita kepada Dia yang hanya karena berkah dan ridhoNya kita bisa berkumpul di sini, bersama-sama membangun hasrat untuk dunia yang lebih baik, dunia yang penuh dengan pohon-pohon membuat kita panceg, naungi semua dari marabahaya; rahayu rahayu rahayu, ahung waluya semoga pohon-pohon senantiasa memegang janjinya untuk segenap kebahagaiaan, keselamatan, kesejahteraan, keberkahan, dan sejarah yang tertuliskan mengenai kebaikan langkah-langkah kita semua.

Semoga kita semua bisa menaungi dunia ini.

Ahung ahung ahung rahayu,

Sampurasun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s