JURNAL KARAT # 36, 24 SEPTEMBER 2010, KARAT LIVE IN APA KABAR INDONESIA TVONE DAN LIVE RECORDING SESSION KARAT VS GIRI KERENCENG

Posted: October 4, 2010 in Uncategorized
Tags:

JURNAL KARAT # 36, 24 SEPTEMBER 2010, KARAT LIVE IN APA KABAR INDONESIA TVONE DAN LIVE RECORDING SESSION KARAT VS GIRI KERENCENG

Oleh Jon 666

26 September, Sabtu, Karat di Apa Kabar Indonesia, tvOne

Malam Minggu yang sangat ramai. Seluruh ruas jalanan Kota Bandung tak biasanya semakin padat oleh kendaraan bermotor. Beberapa kawan memperingatkan saya untuk tidak keluar rumah karena empat gangster di Kota Bandung, Subang, dan Sumedang akan turun ke jalanan dan berperang, imbas sebuah acara yang digagas Ikatan Motor Indonesia seminggu sebelumnya di mana mereka saling bertengkar di kesempatan itu dan berjanji akan ‘menyelesaikan masalah’ malam Minggu ini. Hmmm hell, kata saya. Saya harus keluar rumah menuju Commonroom mala mini. Saya akan ikut Karat ke Jakarta melihat mereka live di salah satu program pagi tvOne, Apa kabar Indonesia. Jadi saya tak pedulikan perigatan kawan-kawan saya itu. Dan memang, aura yang aneh sangat terasa malam itu. Begitu banyak sekali motor yang berseliweran di jalanan. Saya haya melihat mereka ngebut dalam gerombolan melalui kaca helm saya. Gud luck boys! Pulanglah kembali ke papa mama dan para kekasih kalian dengan selamat. They luv ya a lot!

Di Commonroom, para personil Karat sudah berkumpul, tinggal Kimung dan Ki Amenk yang belum datang. Kimung datang jam Sembilan malam dan Ki Amenk akhirnya tiba pukul sepuluh. Tinggal satu lagi yang belum datang : kendaraan yang akan membawa Karat ke Jakarta masih belum juga tiba. Padahal man sudah wanti-wanti ke Bos Kudung agar mobil bisa tiba di Commonroom pukul delapan. Namun hingga pukul sepuluh mobil tak juga menunjukkan batang bempernya. Man yang terus menghubungi Bos Kudung akhirnya mendapat konfirmasi bahwa mobil baru saja meluncur dari garasi jam sepuluh dan segera menuju Commonroom. Waiting again…

Lima belas menit, setengah jam, sejam, hingga waktu menunjukkan pukul setengah dua belas, mobil tak juga datang. Karat mulai pada gelisah. Mereka mulai berburuk sangka bahwa Bos Kudung mengerjai Man. Bos Kudung emang terkenals ebagai salah satu orang terjahil di dunia ini bersama Man dan sepanjang sejarah hidup mereka kental diwarnai dengan kejahilan-kejahilan. Karat curiga Bos Kudung tak mengirimkan mobil untuk menjahili Man. Suudzon juga merebak ke sangkaan jangan-jangan undangan live Karat di tvOne juga semata-mata kejahilan-kejahilan saja, mengingat di bulan Ramadhan pernah ada yang jahil ke anak-anak Ujungberung. Sang Jahil mengaku dari media dan ingin meliput kegiatan sahur bersama anak-anak Pieces Cihampelas. Maka anak-anak Ujungberung berkumpul di Pieces Cihampelas dini hari itu. Mereka terus menunggu awak media yang akan meliput kegiatan ini. Namun ditunggu-tunggu hingga Subuh ternyata awak media tivi nasional ini tak kunjung datang dan saat itulah mereka baru sadar jika mereka kena dijahili. Nah, kekhawatiran inilah yang merebak malam itu bersama dengan mobil yang tak kunjung tiba.

Namun demikian, Bos Kudung yang dihubungi Man menyatakan bahwa ia sama sekali tidak menjahili Man dan ia benar-benar sudah mengirimkan mobil ke Commonroom. Kudung juga menyatakan bahwa mobil yang ia kirim bukan mobilnya karena mobil miliknya sudah habis dirental semua. Ia menolong Karat dengan mencarikan mobil ke kawannya dan dialah yang mengirimkan mobil itu. Man memang sempat dihubungi seseorang ibu yang mengaku baru saja meluncurkan mobilnya ke Commonroom. Sementara itu, Ackay, awak Apa Kabar Indonesia tvOne terus menerus menghubungi Karat dari hotel dan mengatakan bahwa makan untuk Karat dititip di resepsionis. Di jalanan kawan-kawan mengabari bahwa perang gangster sedang berlangsung. Jalan Cihampelas ditutup dan terdengar polisi beberapa kali melepaskan tembakan peringatan untuk mengahlau para gangster. Hmmm…

Ketika waktu hampir menunjukkan tengah malam, informasi tentang mobil akhirnya tiba. Sang sopir mobil yang dikirim ternyata tak punya hp dan ia tak tahu alamat Commonroom. Ia dipandu oleh kawannya yang naik motor, namun di tengah jalan mereka terpisah karena sang pengendara motor ditilang. Maka si sopir kemudian menunggu sang pengendara motor yang menujukkan jalan di SMA PGII, sementara sang pengendara motor berkeliling mencari si sopir mobil. Tak ada yang bisa saling berkomunikasi karena sopir mobil tak bawa telepon. Semua menunggu dalam kelam yang menggantung hehehe… si sopir baru berinisiatif meminjam hp satpam PGII setelah satu setengah jam menunggu sang pengendara motor yang tak jua tiba. Ia mengontak man dan akhirnya ia dipandu ke Commonroom oleh Man. Ia tiba menjelang tengah malam dan segera dikasih uang taksi untuk pulang. Takutnya si pengendara motor tak juga datang untuk menjemput sopir mobil. Sebuah kisah konyol yang mengawali perjalanan Karat ke Jakarta yess hahaha…

Maka dengan disopiri Mang Jawis, Karat goes to Jakarta. Mereka sempat singgah di Rottrevore Remains untuk membawa dunga, karinding, dan DVD untuk cinderamata kepada tvOne sebelum akhirnya menghajar jalanan. Jam tiga pagi Karat tiba di Jakarta setelah lumayan keliling-keliling mencari jalan Proklamasi. Jakarta dingin sekali malam itu… Brrrr… Di Hotel Mega, Karat langsung beristirahat untuk bersiap syuting esok paginya. Mereka menempati dua kamar, kamar 401 ditempati Ki Amenk, Mang Utun, dan Mang Cabul, sementara kamar 403 ditempati Mang Man, Okid, Kimung, Jawis, dan Jimbot. Sirna sudah kecurigaan undangan ini merupakan sebuah tipuan atau kejahilan kawan-kawan.

Jam enam pagi Karat segera meluncur ke lokasi syuting, sebuah wisma di Bundaran Hotel Indonesia. Awak tvOne sudah bersiap dan segera mengeset sound & visual system buat Karat. Karat menempati sayap kiri tempat bincang-bincang Apa Kabar Indonesia, sementara sayap kanan ditempati komunitas juggling yang juga diundang untuk mengisi sesi ini bersama Karat. Komunitas juggling ini juga berasal dari Bandung. Karat sempat berdiskusi lagu-lagu yang akan dimainkan dan disepakati “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol”, “Maap Kami Tidak Tertarik Pada Politik Kekuasaan”, ditutup dengan paket “Lagu Perang” dan “Kawih Pati”. Namun demikian di detik-detik menjelang syuting, Ki Amenk meminta agar “Burial Buncelik” yang dimainkan.

Maka ketika semua sudah siap, Ackay dan kru meminta Karat untuk segera bersiap memainkan lagu dalam sesi pertama Karat. Maka “Burial Buncelik” dimainkan. Sebelum syuting betulan, kru meminta Karat untuk latihan dulu dan dan Karat pun berlatih “Burial Buncelik” setelah berlatih dua putaran, Karat diminta mengulang lagu. Hingga saat itu Karat sama sekali tak tahu jika saat itu sudah syuting betulan. Untunglah sesi shoot pertama yang disangka latihan ini berjalan mulus rahayu hehehe… Sesi Apa Kabar Indonesia kemudian diteruskan dengan perbincangan yang membahas topik hot saat itu menampilkan para politisi dan ahli politik serta hokum yang memang sudah biasa nongkrong di layar koco pemirso.

Lalu sesi kedua dimulai. Kru mempersilahkan Karat untuk latihan. Setelah satu putaran ia kembali memberikan aba-aba untuk latihan. Maka Karat mulai memainkan “Maap Kami Tidak Tertarik Pada Politik Kekuasaan”. Setelah beres ia kembali memberikan aba-aba untuk latihan dan Karat segera menghajar kembali lagu yang sama. Dan ternyata, ‘latihan’ yang kedua ini sudah dishoot betulan juga hehehe… Untunglah keduanya dihajar kembali dengan mulus rahayu. Setelah lagu presenter Apa Kabar Indonesia berbincang dengan Karat tentang karinding dan juga tentang Karinding Attack. Uhh cool conversation, namun banyak yang seharusnya diungkapkan namun tak terkatakan di sesi ini hehehe…

Di sesi ketiga kru kembali meinta karat untuk berlatih dan segera memainkan lagu selanjutnya. Maka tak buang waktu, Karat memainkan “Lagu Perang” dan “Kawih Pati”, namun ternyata kru belum shoot Karat saat itu. Shoot mulai mengarah ke Karat ketika “Kawih pati mencapai tengah lagu” hehehe… but it’s good shoot you know, mengingat ketika shoot sudah focus ke Karat saat itulah Karat sedang mendaki variasi pirigan dan rasa dalam Kawih Pati. Uhh mantaps!!!

Terima kasih Ackay dan kru tvOne yang lain. Terima kasih Tina Thalisa atas kecantikan, kepintaran, dan inspirasinya hehehe…

Karat segera kembali ke Bandung setelah packing barang di Hotel. Jam sepuluh pagi mereka meluncur dan tiba kembali dengan selamat di Bandung pukul setengah dua siang. Alhamdulillah…

27 September, Senin, Pra Produksi Live Recording Karat vs Giri Kerenceng

Siang itu, Okid dan Hendra juga sudah mempersiapkan berbagai alat yang akan dibawa selama live recording di Kawe Gunung Kareumbi, Cicalengka. Mereka sudah loading barang ke mobil Carry Okid dan siap berangkat ke sanggar Bah Olot di Cimanggung, Parakan Muncang. Menjelang sore, mereka berdua plus Wija, kekasih Okid, segera berangkat ke bah Olot untuk meitip barang-barang.

Okid juga berkoordinasi dengan Andri Extend untuk menyiapkan barang-barang yang mendukung proses rekaman. Rencananya semua barang studio akan diangkut ke kawe langsung hari selasa pagi.

Hajar mangs! Prung!!

28 September, Selasa, Giri Kerenceng Live Recording Session # 1

Pagi itu, Okid, Andri Extend, dan kru sudah bersiap berangkat ke Cimanggung utnuk mengambil alat-alat yang lain. Dengan pickup Colt ST 120 1974 warna biru mereka segera meluncur ke Cimanggung. Jam delapan rombongan tiba dan segera loading barang-barang yang sejak hari kemarin dititip di sanggar Bah Olot. Setelah beres loading barang, rombongan segera berangkat ke lokasi. Beberapa motor mengiringi pickup, mereka adalah Jimbot, Okid, Jawis, Wandi, Fery dan Ogi yang saling berboncengan, Bah Olot dan Kang Rahmat juga berboncengan, serta Andri dan Casper berboncengan. Di atas colt mereka yang menjaga barang di dalam pickup adalah Mang Maman, Mang Dedi, Mang Wawan, dan Mang Iwan.

Tiba di Kawe, semua segera loading alat-alat musik dan rekaman ke dalam aula di sayap kiri, di dalam sebuah bangunan yang diberi nama Wisma Iis Djuhana Partakusuma Wanadri 078 Lawang Angin. Sementara itu, barang-barang pribadi personil dan kru disimpan di aula Ronny Nurzaman Wanadri 002 Pendiri. Setelah semua sip, kru segera mengeset ruang untuk take dan ruang mikser. Namun, cobaan pertama mulai datang. Genset yang dibawa Andri ternyata tak mau nyala.

Hingga jam tujuh malam, genset tak mau nyala. Berbagai upaya dilakukan agar genset bisa jalan lagi. Jimbot di sini yang sangat mendendam pada genset hahaha… Tak kuat dipaksa, genset pun ngebul! Merasa tak bisa dipergunakan lagi, Andri dan Casper memutuskan untuk turun gunung dan mencari genset di Cicalengka. Namun, mereka tak bisa menemukan penyewaan genset malam-malam apalagi dalam kondisi mendadak seperti itu, ditambah lagi mereka berdua tak tahu medan penyewaan alat-alat seperti itu di Cicalengka. Maka mereka kembali dengan tangan hampa. Opsinya adalah mereka akan membongkar genset dan motor Andri untuk dijadikan rangkaian mesin penunjang genset agar berjalan.

Mendung kelabu sempat menggelayut, hingga akhirnya seorang pencaga basecamp Kawe berkata jika mereka juga punya genset, namun kondisinya rusak, tak bisa nyala. Andri segera melihat genset kawe. Memang rusak dan tak bisa jalan, ditambah alat pemicunya tak ada. Namun Andri ta menyerah. Ia segera membongkar genset itu, mengotak-atik beberapa komponen dan mengganti alat pemicu gensetnya dengan tambang. Dan akhirnya setelah beberapa kali trial and error, genset itu nyala!! Itupun setelah Jimbot melakukan sumpah serapah dulu kepada karuhun hehehe… Kaleum mangs hahaha…

Menjelang tengah malam, sesi rekaman Giri Kerenceng dimulai. Lima lagu beres malam itu denga lancer dan semua segera beristirahat. Lima lagu yang direkam antara lain adalah “Campaka Bodas”, “Era”, “Saeran”, “Kaca Piring”, dan “Kumeulit”. Giri Kerenceng kembali menunjukkan sebagai para musisi handal yang memang sudah benar-benar siap untuk rekaman dalam sesi itu. Walau malam telah tiba, rata-rata lagu yang dimainkan hanya diulang dua sampai tiga kali sebelum Bah Olot merasa fiks.

29 September, Rabu, Giri Kerenceng Live Recording Session # 2 feat Kimung & Hendra Attack

Pagi yang cerah. Jam setengah delapan Kimung tiba di Kawe. Semua semangat pagi itu untuk melakukan sesi kedua rekaman Giri Kerenceng. Karena setting pertama kurang mengena untuk Giri Kerenceng, setting rekaman sepakat dipindahkan ke area Flying Fox di area pertigaan batas wilayah Bandung – Sumedang – Garut. Kru dan perso nil sarapan dulu sebelum mulai menyetting ruang rekaman, sementara Kimung, Hendra, jawis, dan jaka jalan-jalan ke Rumah Pohon. Di sana mereka kembali merasakan aura yang pas untuk merekam lagu-lagu Karat. Tak lama mereka kembali dan membantu setting rekaman untuk Giri Kerenceng.

Bah Olot meminta Kimung mengisi karinding untuk Giri Kerenceng di sesi rekaman ini, karena Kang Rahmat, pemain karinding kedua Giri Kerenceng, harus pulang untuk menghadiri acara tumpek kampung adat esok harinya. Lagu-lagu yang akan direkam siang itu adalah “Sampai di Sini”, “Yanti”, “Bulan Sapasi”, “Hibar Layung”, “Sadar”, “Bulan Nu Moncorong”, “Lembur Matuh”, “Sagara”, “Sumedang”, “Giri Kerenceng”, “Rajah – Karinding”, dan akhirnya “Lagu Sisindiran”.

Kembali Giri Kerenceng memperlihatkan performa yang mantaps! Rata-rata lagu hanya diulang hingga dua kali dan Bah Olot menyebutkan lagu-lagu sudah siap dibungkus. Hanya “Yanti” yang memerlukan enam kali take, itupun bukan karena kesalahan para pemain Giri Kerenceng, namun karena setiap kali “Yanti” dimainkan, selalu saja ada motor yang lewat dan suaranya terekam. Bahkan sampai akhirnya Giri Kerenceng menyerah dan memasrahkan “Yanti” di proses miksing, setiap Andri memutar Yanti dari file komputernya, selalu saja ada motor yang lewat. Dengan bercanda Jimbot berkata, “Si Yanti na hayangeun motor sigana Bah, mata motoreun hahahaha…”

Untuk lagu “Rajah – Karinding” Hendra kini bergabung yang mengisi karinding bersama Mang Dedi dan Kimung. Permainannya yang mantap menambah aura magis lagu ini. Kimung sendiri hanya bermain menebalkan pola tonggeret di “Rajah” ia tak ikut main ketika “Rajah” usai dan Giri Kerenceng menyambung lagu ini langsung ke “Karinding”. Uhhh lagu lagu yang sangat mantap! Rancage!! Alhamdulillah, selesai sudah sesi rekaman Giri Kerenceng. Semua menarik napas lega dan duduk-duduk di kawasan flying fox Kawe sambil mendengarkan semua lagu yang sudah direkam diputar kencang-kencang dari komputer operator. Suasana sejuk membuat betah.

Karena proses rekaman sudah selesai, para personil Giri Kerenceng akhirnya berpamitan pulang. Waditra-waditra segera dibereskan dan diangkut kembali ke sanggar Giri Kerenceng di Bah Olot dengan angkot yang dibuking dari Parakan Muncang. Andri, Casper, dan Wandi juga berpamitan pulang untuk kembali esok paginya. Jimbot dan Mang Iwan memutuskan untuk turun dulu dan belanja kebutuhan dua hari ke depan.

Sementara itu, mengisi waktu luang, Okid, Kimung, Hendra, Jawis, dan Jaka jalan-jalan ke Cimulu. Kabarnya Cimulu adalah sebuah kampung yang jumlah rumahnya dari dulu hingga kini hanya sembilan rumah saja, tak bertambah maupun berkurang. Karena penasaran, merekapun memutuskan untuk melihat langsung Cimulu. Dari Kawe ke Cimulu kita harus berjalan melewati jalanan koral yang bisa ditempuh dalam waktu setengah sampai tiga perempat jam. Kampung ini ada di lembah dan jika malam tiba dinginnya minta ampun. Mang Iwan yang lumayan sering ke Cimulu berkisah, dinginnya bisa mencapai hingga lima derajat selsius di sana. Tak jarang kampung ini juga bagaikan hilang tanpa jejak jika sedang terselimuti halimun.

Jalanan koral menuju Cimulu melewati tiga titik batas Bandung – Garut – Sumedang, dan melewati melewati makam Eyang Pameget yang seluruh badan makamnya diselimuti lumut lembut yang menyejukkan mata, makam Eyang Sakti yang sepanjang perjalanan masuk ke dalam makamnya juga diselimuti lumut, hingga akhirnya tiba di Cimulu dan bertemu Ma Nyai, kuncen Cimulu. Kami berbincang, mendengarkan Ma Nyai bercerita tentang Cimulu, tentang karuhun yang sudah membuka kampung ini, mempersilahkan para petani untuk tinggal di Cimulu dan bertanam kopi di jaman penjajahan Belanda, pertanian tahun 1970an, hingga akhirnya masa kini. Ia juga mengisahkan berbagai karakter karuhun serta kesaktian mereka sehingga Cimulu terkenal di luaran dan banyak yang ziarah menujju makam para Karuhun. Kimung memotret makam Eyang pameget, Eyang Sakti, Aki Omo, dan seluruh landscape Cimulu dari berbagai sudut.

Dalam perjalanan pulang Mang Okid, mencetuskan ide untuk merekam tawasul Ma Nyai dalam album Karat. Well, what a brilliant idea!!!

Malam akhirnya tiba dan semua awak tidur dengan nyenyak di aula Kawe.

30 September, Kamis, Karat Live Recording Session # 1

Baru juga awak tidur, masuk jam satu dini hari rombongan Karat berikutnya tiba. Man, Mang Utun, Ghera, dan Ranti datang setelah perjalanan dua jam dari Commonroom. Mereka juga segera beristirahat untuk bersiap pagi nanti.

Dan pagi yang cerah Kamis itu! Sejak pagi kru dan personil mengeset alat di Rumah Pohon Kawe. Sementara itu, Okid, Kimung, Ranti, dan Ghera berangkat ke Cimulu untuk bertemu Ma Nyai dan menanyakan kesediaannya dalam memberikan tawasul untuk si Karat. Namun di tengah perjalanan, rombongan bertemu dengan Ma Nyai yang akan berangkat untuk memenuhi sebuah undangan. Namun demikian, Ma Nyai berjanji akan singgah di aula Kawe dalam perjalanan pulangnya nanti. Rombongan pun meneruskan perjalanan menuju, dua makam dan kemudian memutar ke rumah pohon untuk bergabung dengan yang lain mempersiapkan rekaman di Rumah Pohon. Sampai di Rumah Pohon terlihat beberapa alat sudah siap, tinggal diset, namun yang lain ternyata belum kembali ke Rumah Pohon, karena itu rombongan segera menuju aula untuk membantu persiapan lainnya.

Di aula, semua personil dan kru bersiap-siap. Tampak Ki Amenk sudah datang di aula Kawe dan terlihat siap untuk merekam hari itu. Lengkap sudah Karat semua!! Setelah mandi dan sarapan semua berduyun-duyun ke Rumah Pohon untuk mengeset alat. Kimung, Okid, Man, dan Addy Gembel berangkat belakangan karena akan menunggu dulu Ma Nyai. Di tengah persiapan, Mang Gembok dan dua kawan dari Sunda Metal datang berkunjung. Welcome mangs!!

Terdapat perdebatan mengenai lokasi take. Kimung, Jimbot, Hendra, dan Jawis cenderung ingin di lapangan tengah di mana rumah pohon mengelilingi area. Ini merupakan tempat rekaman yang ideal karena semua energy kawasan itu berpadu di sana. Suasana yang tercipta juga lebih kena. Namun demikian suara genset terdengar lumayan jelas dari area itu. Kimung sempat meminta area mikser dipindahkan ke tengah-tengah arena, di kolong salah satu rumah pohon agar genset bisa dipindahkan lebih jauh lagi.

Sementara itu, Man dan Okid memilih mencari aman, merekam di halaman salah satu rumah pohon menjauh dari area lingkaran lapang. Jimbot menegaskan, “Rekaman di tempat eta mah sarua weh jeung rekaman di aula!” cetusnya. Namun karena Man, Okid, dan yang lainnya sudah mengeset, akhirnya rekaman sesi pertama dilakukan di sana. Semua bersiap-siap untuk segera merekam. di tengah persiapan Kika dan kawan sekolahnya datang dan meilhat proses rekaman dari posisi mikser. Welcome Kika!!  Setelah Karat berdoa bersama-sama, sesi rekaman dimulai!

“Burial Buncelik” adalah lagu pertama. Setelah empat kali take, Karat memutuskan untuk merekam lagu selanjutnya. “Wasit Kehed” digeber kemudian. Di lagu ini Kimung kehabisan napas dan bernyanyi sampai serak. “Washed” memang lumayan menyedot tenaga, dan ketika harus diulang-ulang lima sampai enam kali, ini tentu saja sangat menguras tenaga. Karat akhirnya, memutuskan untuk merekam lagu selanjutnya, “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol”. Lagu ini juga tak kalah menguras tenaga, namun tak separah “Washed”. Setelah “Nu Ngora”, Karat langsung mengeber “Lagu Perang”. Lagu ini relatif lancar, hanya diulang empat sampai lima kali setelah akhirnya diputuskan untuk break dulu karena hujan.

Sambil menunggu hujan, Karat mendengarkan hasil rekaman. Hasilnya jelek banget! Banyak suara yang tidak seimbang karena kurangnya control antara personil dengan engineer. Andri mungkin engineer metal jempolan dan dia juga sudah pernah merekam Karat dalam hampura Ma II, tapi Andri sama sekali belum mengenal karakter instrument secara mendalam dan perlu didampingi oleh Karat sepanjang control dilakukan. Dalam jarak yang saling jauh antara Andri dan Karat, sulit melakukan koordinasi, terutama koordinasi kualitas suara. Karena itu, suara gong celempung Kimung tak tertangkap dengan jelas. Tepakan dan hantaman celempungpun demikian. Pun, celempung Hendra tak begitu jelas.

Ini jelas menjadi bahan evaluasi bahwa karat dan engineer harus berkumpul di satu area agar bisa mudah berkoordinasi. Kimung segera saja ngotot memindahkan lokasi rekaman ke tengah lapangan Rumah Pohon. Sereda hujan, semua segera mengeset ulang posisi rekaman. Di sini suasana memang terasa lain. Lebih enjoy, lebih fokus. Jimbot, Wisnu, Andri, dan Gembel memindahkan genset lebih jauh dan membendung air sungai agar bersuara lebih besar meredam suara genset. Gembel bahkan membuatkan rumah-rumahan buat genset agar terlindung dari air, embun, atau hujan jika hujan turun.

Setting personil juga lebih sejajar karena ada di tanah lapang, membentuk satu lingkaran. Di sisi timur, berjajar sesi karinding—Mang Iwan, Mang Utun, Ki Amenk, dan Jawis. Di sisi selatan diisi sesi celempung Hendra dan Kimung. Di sisi barat diisi sesi waditra tiup Okid, sementara di utara diisi sesi tiup Jimbot. Operator miksing ada di sisi utara dan berada lumayan dekat dengan rekaman sehingga bisa berkoordinasi dan evaluasi secara langsung mengenai proses take. Dalam posisi saling berhadapan, salng berdekatan, tata suara lebih bisa saling memperhatikan sehingga tercipta suasana rekaman yang lebih efektif. Di tengah persiapan Apuy datang.

Jam empat sore rekaman kembali dilanjutkan. Di setting ini, rekaman dimulai dengan “Maap kami Tidak Tertarik Pada Politik Kekuasaan”. Untuk lagu ini Ranti, gembok, dan Apuy diminta bernyanyi bersama. “Maap” tak banyak diulang. Hanya tiga atau empat kali take  karat sudah puas dan sepakat mengulang “Burial Buncelik”. Lagu ini juga tak memiliki kendala berarti dan berhasil direkam dengan baik. “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol”, “Wasit Kehed”, “Dadangos Bagong”, “Lagu Perang”, “Sia Sia Asa Aing”, berhasil direkam. Di tengah sesi rekaman, Abah Olot dan Mang Dedi datang dan ini menambah semangat untuk Karat. Sementara itu, Mang Jaka dan Ghera diminta secara khusus oleh Okid dan kimung untuk menemui Ma Nyai dan menanyakan kesediaannya untuk melakukan tawasul.

Senja semakin tiba, dans etelah beristirahats ebentar. Karat kembali melakukan sesi rekaman berikutnya. Sementara suara hutan kareumbi area Rumah pohon semakin ramai saja. Burung kaak, tonggeret, turaes, dan binatang-binatang hutan lain mulai reang menyambut matahari yang terbenam. Suasana mistis peralihan siang ke malam semakin terasa sementara matahari senja terbias butiran hujan di pinus yang merobek-robek senja memerah itu dengan silhuetnya. Karat kembali memulai sesi rekaman dengan “Kawih Pati”. Mereka hanya melakukan dua sesi take dan memutuskan tidak akan emngulang lagi. Di sesi kedua Kimung bermain peluit jatiwangi yang terbuat dari tanah menirukan suara sirit uncuing, manuk jurig penanda kematian.

Selepas magrib senja makin turun dan malam semakin gelap. Beruntung pertomaks gas segera tiba dan membantu penerangan rekaman. Namun sedikit insiden terbakarnya kaos petromaks dan kehawatiran takut api membakar gas sedikit mengganggu konsentrasi Karat. Namun dmeikian dalam lampu yang diset remang, Karat melanjutkan rekaman ke “Bubuka”. Di lagu ini, Mang Budi Dalton seharusnya mengisi sesi rajah. Namun demikian, sampai keberangkatan man dkk ke Kawe, Mang Budi tak juga bisa dihubungi. Akhirnya Man memutuskan untuk membawakan sendiri rajah dari teks rajah yang ia dapatkan dari buku rajah. Semua bermain karinding dalam “Bubuka” dan tentu saja ini hanya dilakukan satu kali saja.

Malam semakin larut ketika Karat akhirnya merekam “Yaro”. Lagu ini masih saja susah dicerna untuk dimainkan, bahkan hingga saat-saat terkahir rekaman. Akhirnya disepakati saja bahwa dalams esi rekaman saat itu, hanya rampak celempung Kimung – Hendra – Jimbot yang akan direkam. Maka mereka bertiga memulai take. Tiga kali take sepertinya tak memuaskan dan akhirnya take kembali terpotong oleh hujan. Sambil menunggu hujan reda, semua mendengarkan hasil rekaman tadi. Kali ini kualitasnya jauh lebih baik. Man tampak tekun memilih take mana yang terbaik untuk dibawa ke studio sebagai bahan miksing dan ditambah fill in. ia mencatat semua di buku Kimung.

Sementara itu hujan mulai mengecil. Karat tampak asik bergabung dengan bah Olot yang sedang sidenag di api unggun kecil yang ia buat bersama mang Dedi. Tak disangka tak dinyana, Andri kembali emmbereskan setting, padahal rekaman belum juga usai malam itu. karat masih emngunggu Ghera dan Jaka yang sedang memanggil Ma Nyai. Bagaimana jika Ma Nyai datang dan tak jadi direkam? Dan benar saja, ketika setting alat selesai dibereskan, Ghera, Jaka, Ma Nyai dan salah satu putra kembarnya datang. Karat segera mengeset ulang alat. Jimbot, Kimung, dan Jawis segera menyalakan kembali genset yang kembali susah dinyalakan. Dan yang membuat merinding, rumah-rumahan genset yang dibuat Gembel ternyata sudah berantakan bagaikan diamuk sesuatu malam itu. Yang jelas bukan diamuk hewan karena tak mungkin ada hewan memporakporandakan semua tanpa mengahncurkan gensetnya. Hmmmm…

Akhirnya rekaman tawasul dimulai. Ma Nyai memulai pembacaan tawasul dengan berdoa dan bersimpuh di tanah. Setelah siap, ia memberi tanda kepada semua, dan mulai melakukan tawasul. Setelah puji dan puja kepada Allah SWT, Rasulullah SAW dan para nabi, serentetan nama yang berkaitan dengan sejarah bumi ini, sejarah keyakinan,serta leluhur-leluhur yang berkaitan dengan peradaban dunia, Sunda, serta khususnya Cimulu ia hadiahi doa dan puja-puji. Ma Nyai berdoa dalam bahasa Sudna dan kemdian ke bahasa Arab. Bahasanya lancer mengalir, mengalunkan nada-nada mistis dalam segala kata dan bunyi huruf yang dilantunkan dalam rima puja-puja yang sacral. Karat mengiringi doa-doa dengan pirigan karinding buhun dengan gong celempung yang dipukul satu-satu, konstan, berulang-ulang dan meditatif. Tawasul Ma Nyai panjangnya hamper setrngah jam setelah Ma Nyai meringkas tawasulnya. Ada aura lain yang terasa selapas tawasul ma Nyai selesai. Perasaan lega, lapang dada, dan ketenangan yang magis. Tak terdefinisikan.

Sayang, tawasul ternyata tak terekam semua. Hanya lima belas menit terkahir yang terekam karena Andri menyangka tawasulan tadi merupakan latihan. Kimung terlihat sangat kecewa dengan kenyataan ini. Sementara alat terus dibereskan dan ma Nyai serta kedua putranya yang tad tertidur sepanjang tawasul, berpamitan dan kembali di antar pulang oleh Ghera dan jaka. Kimung, Hendra, dan Jawis bermalam di Rumah Pohon untuk menjaga alat, sementara yang lain kembali dan tidur di aula Kawe.

Besoknya disepakati rekaman akan dilakukan di Rumah Adjie, tempat yang awalnya akan dijadikan lokasi rekaman Karat.

1 Oktober, Jumat Kramats, Karat Live Recording Session # 2

Paginya, Kimung, Hendra, Jawis, Kimo, Dado, dan Addy Gembel mengangkut alat ke Kantin Kawe yang kosong agar gampang mengeset alat di Rumah Adjie. Setelah tiga kali bolak-balik Rumah Pohon – Kantin Kawe, semua barang akhirnya terangkut. Setelah sarapan di warung sebelah bendungan Kawe dan mandi, kru dan personil akhirnya mulai mengeset alat-alat.

Lokasi rekaman hari terkahir adalah di halaman samping dalam Rumah Adjie.  Suasana Rumah Adjie tak kalah mistis dengan Rumah Pohon. Rumah ini diresmikan tanggal 6 Juni 1966—identik dengan number of the beast 666. Adjie di sini sepertinya adalah Ibrahim Adjie, salah satu Panglima Siliwangi yang serjasa membuka dan mengembangkan Kawe. Bangunan ini sendiri sudah lama kosong dan halaman samping antara dua rumah Adjie terbentang lapang kecil yang diselimuti lumut-lumut yang membuat kawasan itu begitu hijau.

Di sanalah Karat mengeset untuk mulai rekaman jam sepuluh. Hari ini rencananya akan mengejar rekaman “Ririwa Di mana-Mana”, “Gerbang Kerajaan Serigala”, dan mengulang “Tawasul Ma Nyai”. Maka setelah semua siap, menjelang jam dua belas “Ririwa Di Mana-Mana” segera digeber. Untuk lagu ini Karat kembali meminta bah Olot untuk bermain karinding bersama Hendra, Mang Dedi, dan Mang Utun. Kimung, Okid, dan Ranti ikut bernyanyi bersama Man, sementara Jawis bermain kecrek, dan Mang Iwan bermain suling.

Setelah beberapa kali take ulang Karat tak juga merasa puas, akhirnya mereka memutuskan untuk break. Sambil break dan Karat mengutus Ranti, Ghera, Kimo, dan Dado untuk meminta kesediaan Ma Nyai kembali merekam tawasul. Karat sendiri akhirnya memutuskan untuk mengulang “Ririwa” dua kali lagi sebelum diputuskan berlaih ke “Gerbang Kerajaan Serigala”.

Selesai “Ririwa” rombongan penjemput Ma Nyai kembali datang. Kini Ma Nyai disertai dua putra kembar dan suaminya. Suasana langsung ramai dengan kedatangan dua putra kembar  Ma Nyai yang semuanya aktif hahaha… Untunglah ma Nyai bersedia mengulang tawasul walau ia sendiri sedikit heran apakah tawasul bisa dilakukan di siang hari? Hehee tapi karena Ma Nyai sendiri sudah paham jika ini adalah rekaman model tawasul saja maka ia bersedia melakukan tawasul. Dan Ma Nyai juga kemudian menguatkan Karat jika ia bersedia melakukan apa saja untuk mendukung kebangkitan kesenian tradisional, terutama karinding.

Maka tawasul kembali dilakukan dan kali ini berjalan mulus walau sempat dua kali terekam suara motor dan sorakan para mahasiswa Unpar yang sedang hiking menuju Kawe. Namun demikian secara umum semua selesai. Alhamdulillah! Ahung rahayu Ma Nyai!!!

Sehabis rekaman tawasul, Kimung lalu mewawancara Ma Nyai berkaitan dengan tawasul dan kisah-kisah Cimulu. Sementara itu, Mang Jaka dan kru yang lain melakukan syuting permainan karinding Bah Olot untuk DVD kelas lanjutan dari karinding Mang Hendra yang rilis beberapa waktu sebelumnya. Dalam satu sesi rekaman karindingnya, Bah Olot didampingi pasukan Karat : Ki Amenk, Jawis, Hendra, Mang Iwan, dan Mang Utun.

Suasana semakin temaram dan kahirnya Karat memutuskan untuk mengakhiri sesi rekaman live di Kawe untuk kesempatan saat itu dan disambung dengan rekaman fill di studio. Lagu “Gerbang Kerajaan Serigala” dan “Yaro” disepakati direkam di studio.

Kru dan personil semua membereskan alat dan waditra. Dado dan Kimo mengantar kembali Ma Nyai ke Cimulu, Okid pergi ke bawah untuk mencari angkot yang bisa disewa untuk membawa alat-alat ke sanggar Bah Olot di Cimanggung. Ketika bersiap-siap pulang, Wija dan Trica datang. Sayang sekali kalian berdua terlambat datang say hahahaha…

Akhirnya semua kemudian pergi ke Bah Olot untuk bermalam di sana. Semua berkumpul di pelataran sanggar menunggu liwet yang sedang dibuat oleh Mang Dedi. Sambil bercanda bersenda gurau semua melepas penat rekaman dihibur oleh tembang-tembang Mang Maman tentang randa hahaha… tak terasa, liwet akhirnya masak dan semua makan bersama.

Hampir semua yang hadir berpamitan ke Bah Olot sekitar pukul sebelas malam untuk beristirahat di rumah. Hanya Kimung, Hendra, dan Mang Iwan tidur di Bah Olot. Melepas malam, semua main gitar-gitaran di pekarangan sanggar. Mang iwan bermain gitar dan Bah Olot bernyanyi, menyanyikan lagu-lagu Giri Kerenceng dalam format gitar. Ternyata bisaa!!! Hahahaha… Habis gigitaran, semua berbincang mengenai lirik-lirik Giri Kerencang yang ringan namun begitu berat berisi, bagaikan Koes Plus, atau Peterpan di masa kini, attau Bob Marley di pop dunia. Semakin malam yang bertahan hanya tinggal Kimung dan bah Olot saja. Banyak sekali yang mereka bincangkan yang tak mungkin diceritakan satu-satu di sini. Kita bahas di lain forum yess ^^

Well, jam setengah tiga pagi, Kimung dan Bah Olot tertidur di pekarangan sanggar bersama mang Dedi, mang Maman, Mang hendra, dan Mang Iwan yang sebelumnya sudah tidur duluan.

Gud nite all of you ^^

Bersambungs…

NEXT : PERSIAPAN PANGGUNG KOLABORASI KARAT – DONOR DARAH – KELAS AJAG – LINGKUNG SENI SUNDA ITB DI PASAR SENI ITB 101010.

10 Playlists : Tarawangsa, Giri Kerenceng, Karinding Attack, The Beatles, Bob Marley, John Lennon, Koes Plus, Burgerkill, Koil, Peterpan.

Book : Myself : Scumbag, Beyond Life and Death

Movie : Vampire Sucks

Quotes :

Agama mah ageman, nu ngabela urang, nu nuntun urang ngarah teu nyasab. Agama teu perlu dibela. Gusti oge teu perlu dibela. Bah Olot

Beberapa foto rekaman bisa dilihat di

http://addygembel.multiply.com/photos/album/50

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s