JURNAL KARAT # 35, 24 SEPTEMBER 2010, EXPLORING BATUJAJAR, LATIHAN BARENG KARMILA, DAN HAPPY B’DAY MANG OKIDS!! SEMOGA SEMAKIN BAIK HARI DEMI HARI SELAMANYA!! AHUNG RAHAYU!!!

Posted: September 28, 2010 in Uncategorized
Tags:

JURNAL KARAT # 35, 24 SEPTEMBER 2010, EXPLORING BATUJAJAR, LATIHAN BARENG KARMILA, DAN HAPPY B’DAY MANG OKIDS!! SEMOGA SEMAKIN BAIK HARI DEMI HARI SELAMANYA!! AHUNG RAHAYU!!!

Oleh Jon 666

19 September, Minggu, Ekploring Karinding Iwoeng Batujajar

Catatan perjalanan ditulis Kimung khusus untuk Jon 666 mengenai ranah karinding Batujajar :

Minggu sore yang cerah. Sejak pagi matahari bersinar dengan terang, menjelang sore sinarnya semakin ramah. Uhhh waktu yang sangat pas buat jalan-jalan. Saya tak berencana ke mana-mana, mau malas-malasan aja di rumah, smsan sama kawan-kawan atau tidur panjang biar malam bisa tidur larut. Sepanjang hari saya sudah smsan sama Ucaw dan menjelang siang Ucaw ngasi info kalo anak-anak karinding di Batujajar berencana akan berkumpul untuk halalbihalal sore itu di markas Iwoeng. Maka tak tunggu lama lagi, saya segera bersiap. Saya kontak Hendra untuk turut serta and he said oks! So here we go! Cimahi yg panas segera dihajar!!

Setelah lewat jalan-jalan memotong, akhirnya kami tiba di batujajar. Hendra bilang, Iwoeng sedang ngumpul di Taman Makam Pahlawan tak Dikenal di sekitar daerah aliran sungai Citarum, sebuah kompleks pemakaman pahlawan kemerdekaan yang asri, namun sayang tak terlihat diurus dengan baik. Namun demikian, suasana asri dan teduh terpancar dari kompleks pemakaman itu, ditambah pemandangan sungai Citarum yang tenang, membuat siapapun akan betah berlama-lama di sana. Dan di sanalah komunitas Karinding Iwoeng berkumpul. Di sebuah lapangan depan taman setidaknya dua puluhan musisi karinding berkumpul sedang nabeuh bareng. Begitu saya sampai segera saja Mang Boeteng dan mang Modi menyambut saya dan Hendra. Saya juga melihat kawan lama saya di scene metal, Titan, ada dalam riungan itu asyik bermain karinding. Titan adalah kakak Ucaw yang mengundang saya untuk datang.

Kami segera dipersilahkan untuk bergabung ke dalam lingkaran Iwoeng. Setelah itu satu demi satu kami akhirnya saling berkenalan. Ternyata komunitas karinding Iwoeng di Batujajar yang relatif masih muda, berumur sekitar satu tahun, kini berkembang lumayan pesat. Setidaknya ada tiga rengrengan yang tergabung dalam komunitas ini. Ada Karinding Iwoeng Jadi, Karinding Laken, dan Karinding Magang. Selain itu Karinding Kudeta juga sering bergabung dengan Karinding Iwoeng, sekedar berkunjung atau latihan bersama. Saat itu ada juga anak-anak Skuter Boy dan kawan-kawan dari Garut yang sengaja datang untuk berkunjung ke Komunitas Iwoeng. Mang Modi selaku moderator juga kemudian meminta saya untuk menceritakan maksud dan tujuan saya berkunjung ke Batujajar. Saya ceritakan bahwa saya berkunjng dalam rangka silaturahmi ingin mengenal karinding Batujajar lebih jauh dan juga kemudian saya paparkan bahwa saya sekarang sedang menyusun data-data awal mengenai karinding di Tatar Priangan dan saya utarakan jika saya sangat tertarik dengan perkembangan karinding di Batujajar.

Kawan-kawan dari Batujajar intinya sangat mendukung apa yang saya utarakan Minggu sore itu dan mereka akan mendukung sejauh yang mereka bisa. Kami kemudian nabeuh karinding bersama-sama. Setelah saling bercerita dan nabeuh lagi, kami memutuskan untuk bubar karena langit sudah semakin mendung. Kami semua lalu berangkat ke Galeri Iwoeng, sebuah galeri kecil yang memajang hasil-hasil kerajinan anak-anak batujajar.

Subhanallah, berbagai alat musik buatan pengrajin Batujajar dipajang di Galeri Iwoeng. Kami berkumpul semakin merapat dan suasana semakin hangat mencair di galeri. Kami saling bertukar kata, mengobrol ngalor ngidul, ngadu bako. Saya sempat memainkan karinding karya dua musisi karinding Batujajar, yaitu Kinkin dan Asuy Anak-anak Batujajar juga memperlihatkan casing karinding buatan mereka yang aslinya poll mangs ^^ ternyata setidaknya ada lima pengrajin karindig yang ada di Batujajar. Mereka adalah Mang Boeteng, Iwan, Indra, Asuy, dan Kinkin. Hmmm sebuah potensi yang mantap mengingat bukan Cuma karinding, celempung, serta alat-alat tiup saja yang mereka buat, tapi juga berbagai aksesoris dan kerajinan tangan yang sangat baik dari segi artistik.

Setelah seputeran bersama Mang Boeteng dan Hendra di hawu rumah Mang Boeteng, kami kembali nabeuh, menyatukan rasa kami dalam alunan karinding. Mang Boeteng sempat mengisi sesi suling dan bernyanyi yang sepertinya lagu Karinding Iwoeng. Uhhh suasana yang sudah lama sekali tidak saya rasakan dalam bermain karinding. Papalidan dengan begitu banyak orang dari berbagai komunitas memainkan bambu bersama-sama. Mantaps!!

Sayang hari semakin malam dan saya harus pergi karena janjian dengan Eben.

Well, terimakasii semua komunitas karinding Batujajar!! Ahung rahayu!! Saya akan kembali segera!! Hellyeah!!

21 September, Selasa, Latihan Bareng Karmila

Untuk saling merekatkan diri antar dua gangster yang memiliki musik berinstrumen sama, Karat dan karmila memutuskan untuk berlatih bersama Selasa ini. Bagi Karat, Selasa itu merupakan sesi latihan pertama setelah lebaran, sebelum sesi rekaman dimulai. Sebelum latihan, Karat yang berkumpul minus Jimbot dan Mang Utun, merencanakan kembali rencana rekaman. Disepakati rekaman akan digelar mulai selasa depan, tanggal 28 september sampai 1 Oktober di Gunung Kareumbi Wetan atau Kawe. Saat itu juga Pa Andri dari Extend dikontak oleh Man dan Okid dan segera dibooking. Sanggup katanyah!! Hajar!!  Okid juga segera melakukan berbagai koordinasi lain yang menunjang kelancaran rekaman di gunung.

Setelah oke semua mengenai rekaman, Karat kemudian refresh lagu-lagu yang rencananya akan direkam. Karmila sudah mulai berkumpul di dalam lingkaran ikut menikmati lagu-lagu yang digeber Karat. Beberapa lagu mulai agak remang-remang lagi setelah lumayan lama Karat ngga latihan.

Setelah karat, Karmila kini yang berlatih. Ada beberapa catatan Kimung yang menarik untuk disimak tentang lagu-lagu Karmila. Musik mereka sudah terkomposisi dengan baik, terutama dalam penempatan melodi vocal atau nyanyian. Karinding juga sudah diaransemen dengan bagus, tinggal pola-pola pirigan yang harus diuperkaya. Yang harus lebih dimantapkan adalah sesi celempung. Di lagu terbaru mereka, Sunda Nepi ka Modar, celempung sudah tergarap dengan baik, saling mengisi dalam sebuah komposisi yang menarik dan tidak biasa untuk ukuran musik tradisional, maupun pop. Di lagu Manunggaling Kawula Gusti melodi vocal tertata dengan baik dan Karat likes it, gud jowwbbb! Mang Okid kemudian memelesetkan lagu ini menjadi “Buuk galing kutukan gusti” untuk menggoda Hendra hehehe… Lagu Persib juga tak kalah garang dan lagu ini sepertinya sudah mencapai titik final walau belum klimaks. Sembah Sayati yang juga memiliki potensi yang besar jika bisa diaransemen lebih jauh dalam proses rekaman Karmila nanti. Hmmmm karmila memang dalam rangka rekaman album melakukan sharing dengan Karat malam itu. Besoknya, mereka juga berencana akan merekam secara tembak lagu-lagu mereka dengan DJ Luna Ranti. Sakses mangs!! Hajars!!!

23 September, Kamis,

Kabar karat manggung di Apa Kabar Indonesia menyebar. Man dihubungi produser Apa Kabar Indonesia agar manggung di program TV itu. Karat direncanakan berangkat malam minggu, tidur di Jakarta, untuk syuting sejak subuh.

Selain syuting Apa Kabar Indonesia tvOne, Karat juga dihubungi Discovery Channel Metro TV untuk syuting program tersebut. Hmmm menarik sekali!!

24 September, Jumat Kramats, HAPPY B’DAY MANG OKIDS!! SEMOGA SEMAKIN BAIK HARI DEMI HARI SELAMANYA!! AHUNG RAHAYU!!!

Persiapan rekaman sudah semakin matang. Karat malam itu mempersiapkan untuk maen di Apa Kabar Indonesia tvOne. Empat lagu yang digeber malam itu oleh Karat, minus Mang Utun : Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol, Burial Buncelik, Lagu Perang, dan Kawih Pati. Latihan ini juga setidaknyamemaksa Karat melakukan aransemen yang baik buat empat lagu-lagu itu untuk persiapan rekaman.

Aransemen Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol diawali dengan tiupan toleat tanduk domba oleh JImbot disusul beat utuh Nu Ngora. Di bagain lead, Jimbot masuk duluan menggantikan sesi yang biasa dimainkan Okid. Okid kemudian masuk berdialog dengan Jimbot memainkan sesi-sesio chotic toleat sepanjang teriakan-teriakan vocal yang terakhir “Hidup Budak Ngora!!!” sampai akhirnya lagu selesai.

Burial Buncelik juga akhirnya diawali dengan sesi suling sunda Jimbot disusul pola biasa Burial Buncelik. Suling dimainkan selama dua bar bersamaan dengan gong tiup, hingga akhirnya karinding masuk dan suling plus gong tiup berhenti. Di sesi lead, Jimbot kembali bermain suling Sunda, bersambungan dengan permainan gong tiup Okid.

Lagu Perang masuh dalam aransemen yang sama namun terbayang sesi suling atau toleat yang garang mengiringi lagu ini. Sementara itu Kawih Pati tak banyak dirobah. Hanya saja Karat sepakat untuk membuat ini semakin kelam, noise dengan suara-suara lembut dari alam…

Bagaimanakah jadinya nanti..???

HAPPY B’DAY MANG OKIDS!! SEMOGA SEMAKIN BAIK HARI DEMI HARI SELAMANYA!! AHUNG RAHAYU!!!

HAPPY B’DAY MANG OKIDS!! SEMOGA SEMAKIN BAIK HARI DEMI HARI SELAMANYA!! AHUNG RAHAYU!!!

HAPPY B’DAY MANG OKIDS!! SEMOGA SEMAKIN BAIK HARI DEMI HARI SELAMANYA!! AHUNG RAHAYU!!!

HAPPY B’DAY MANG OKIDS!! SEMOGA SEMAKIN BAIK HARI DEMI HARI SELAMANYA!! AHUNG RAHAYU!!!

HAPPY B’DAY MANG OKIDS!! SEMOGA SEMAKIN BAIK HARI DEMI HARI SELAMANYA!! AHUNG RAHAYU!!!

HAPPY B’DAY MANG OKIDS!! SEMOGA SEMAKIN BAIK HARI DEMI HARI SELAMANYA!! AHUNG RAHAYU!!!

HAPPY B’DAY MANG OKIDS!! SEMOGA SEMAKIN BAIK HARI DEMI HARI SELAMANYA!! AHUNG RAHAYU!!!

HAPPY B’DAY MANG OKIDS!! SEMOGA SEMAKIN BAIK HARI DEMI HARI SELAMANYA!! AHUNG RAHAYU!!!

Nantikan edisi berikutnya!!! Bagaimanakah perjalanan Karat live di tvOne dan bagaimanakah proses rekaman Karat di Gunung Kareumbi???

Bersambung!!

NEXT : KARAT LIVE DI APA KABAR INDONESIA TV ONE DAN REKAMAN KARAT!!!

10 Playlists : Tarawangsa, Giri Kerenceng, Karinding Attack, Burgerkill, Bob Marley, Peterpan, Tika and the Dissident, Homicide, Carcass, Dying Fetus

Books : Satanic Bible, Sejarah Tuhan

Movies : The Book of Eli,

Quotes :

“Iraha, atuh iraha, sasarengan jeung salira, sempal guyon gogonjakan” Abah Olot, Giri Kerenceng, “Saeran”

“Kaler, Kulon , Wetan, Ngidul, neangan kalangkang heulang” Abah Olot, Giri Kerenceng, “Kumeulit”

“Hanya bisa bicara, mereka tak beri jawaban – Tak perlu dengar kata mereka, teruslah berjalan!” Ariel, Peterpan, “Melawan Dunia”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s