JURNAL KARAT # 25, 16 Juli 2010, ROAD TO RECORDING : CICALENGKA MAGICAL MYSTERY TOUR PART 2 : KAWE EXPLORING FOR KARAT’S RECORD & VILLA KARINDING BAH OLOT DI CIMANGGUNG.

Posted: July 20, 2010 in Uncategorized
Tags:

JURNAL KARAT # 25, 16 Juli 2010, ROAD TO RECORDING : CICALENGKA MAGICAL MYSTERY TOUR PART 2 : KAWE EXPLORING FOR KARAT’S RECORD & VILLA KARINDING BAH OLOT DI CIMANGGUNG.

Asuhan Jon 666

11 Juli, PANGGUNG KARAT DI FINAL PIALA DUNIA, CIKAPUNDUNG, BANDUNG CITY CREATIVE FORUM

Piala Dunia 2010 akhirnya mencapai klimaks. Tak hanya belanda dan Spanyol sebagai Negara-negara yang bertarung di final, Indoensia dan bandung juga menyambut momen ini dengan gegap gempita. BCCF, forum komunitas kreatif Bandung lalu berinisiatif menggelar nonton bareng final piala dunia 2010. Untuk itu mereka lalu mengundang Karat yang dijadwalkan manggung pukul 11 malam. Malam itu tampak kawan-kawan yang taka sing dengan Karat dari para petinggi BCCF hingga kawan kongkow Omuniuum Mas Trie dan Boit. Karat naik panggung pukul 12 malam setelah Gubernur Jawa Barat memberikan sambutan di tengah acara.

Karat menggeber audiens malam itu dengan nomor-nomor biasa. Di tengah permainan tenryata Pak Gubernur harus meninggalkan venue yang segera saja diamanati salam perpisahan oleh Man dengan menggunakan bahasa A yang tentu saja mengundang tawa audiens yang hadir malam itu.

13 Juli, CICALENGKA MAGICAL MYSTERY TOUR PART 2, KAWE EXPLORING FOR KARAT’S RECORDING

Jam 8 pagi, Kimung dan Hendra sudah hadir di rumah Okid bersiap perjalanan ke Kawe Cicalengka untuk survey lahan kemping karinding. Setelah sarapan di rumah Okid (oww like any old times…) jam 10 mereka siap brangkats. Addy Gembel yang baru saja tiba juga memutuskan untuk ikut serta ke Cicalengka. Sementara itu Iyank BOH yang sudah confirm ikut sudah menunggu sejak jam 8 pagi di kampus UIN Sunan Gunung Jati. Mang Iwan berkata kepada Okid, pasukan GDN sudah siap menyambut rombongan pagi menuju siang itu. Rencananya setelah dari Kawe, rombongan juga akan menyambangi Bah Olot sang maestro karinding di Parakan Muncang. Dan juga mungkin mengunjungi Bu Kepsek SD Permata untuk menyenangkan Mang Hendra? Hihihihi…

Perjalanan yang menyenangkan menuju Cicalengka. Jalanan lancar tak macet walau pembangunan jalan sedang dilakukan di ruas sebelah kiri jalan Cipacing, jalan yang menyambungkan Cileunyi ke Cicalengka. Dan benar saja, sampai di GDN, pasukan Mang Iwan sudah siap-siap. Ada kru dan personil Markipat Karindig, ada juga Reffy pacarnya Kika dan tiga kawannya. Tak lama kemudian Kika juga tiba di GDN untuk bertemu Karat. Kika yang sejak hari Jumat berkata  menemukan alat musik dari bambu untuk Aki Kimung, tiba tak lama kemudian. Ia segera mengeluarkan alat-alat bambu yangia ceritakan. Oww ternyata alat musik tiup yang biasa digunakan anak-anak kecil di sekitar pedesaan. Alat bunyi yang bisa menirukan beberapa suara burung dengan berbagai frekwensi yang berbeda. Alat ini sebenarnya tak aneh karena dapat ditemukan juga di berbagai tempat. Yang aneh adalah alat sejenis yang memiliki dua tabung dan jika ditiup dan dimainkan bisa menghasilkan suara yang stereo. Hahahaha mantap Kika!!! Trima kasii yaaahhh Kika ^^ Apuy juga tiba tak lama kemudian.

Setelah lumayan beristirahat, pukul setengah dua belas rombongan berangkat ke Kawe diiringi rombongan kru GDN dan Mang Iwan. Rombongan sempat rehat sejenak di Bukit Candi untk menunggu Apuy yang singgah dulu ke rumahnya sebentar sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan. Duhh bersyukur sekali singgah di Candi. Dari belakang bukitnya kita bsia memandang hamparan sawah yang luas… Addy gembel bercerita, ia pernah mengajak Hani Sacrilegious tahun 1999 ke tempat itu juga dan hani sampai menangis saking terharu melihat keindahan seperti itu…

And we hit the road again…

Jalanan menanjak dan bekelok-kelok tajam. Tahun 1998 jalanan ini adalah track yang dihajar anak-anak Ujungberung Rebels ketika mereka sedang gemar-gemarnya bersepeda. Dari Ujungberung, Yayat, Addy Gembel, Ki Amenk, Mbie, Okid dan anak-anak lainnya sering meluangkan waktu bersepeda menelusuri jalanan bandung, bahkan kota-kota kecil di sekitar Bandung, termasuk Cicalengka. Dan Kawe kemudian menjadi tujuan favorit mereka ketika bersepeda. Masa itu semua anak-anak sepeda Ujungberung Rebels bersepeda dengan BMX, kecuali Gembel yg sudah pake mountain bike (MTB), si merah burahay. BMX Mbie paling gress di antara BMX-BMX lainnya karena sudah pake rem cakram dan elemen2 yang belualitas oke. Mbie beli sepeda ini 500 ribu dan pernah ditawar oleh Yuki Pas band seharga 1,5 juta. Tapi Mbie tak bergeming. He luvs his bike so much! Beda lagi ceritanya dengan Yayat. Dalam perjalanan pulang, yang asalnya tanjakan panjang kemudian akan menjadi turunan curam. Dan Yayat merasakan betul ini. Ia empat kali menabrak dinding di depannya ketika belokan-belokan tajam seakan tiba-tiba muncul di depannya dan ia telat memainkan rem sepedanya hahahahaaa… Hajar Yat hahahahaa..!!!

Jarak jalanan dari GDN sampai ke Kawe sekitar 10 km. Setelah melewati kawasan wisata terkenal Curug Cindulang, kami akhirnya tiba di Kawe. Jlanan yang asalnya rata menjadi sedikit berbatu sebelum akhirnya kami masuk gerbang Kawasan Wisata Gunung Masigit – Kareumbi, penduduk setempat menyebutnya Kawe. Kawasan ini dibuka oleh Ibrahim Adjie salah satu prajurit terbaik  dari Kopasus sekaligus inohong Jawa barat tahun 1970an atau 1980an, bersama kakek Addy gembel dan Okid. Karena keterikatan emosional inilah, adik kakak Gembel – Okid senantiasa memperhatikan Kawe. Addy Gemebel bahkan termasuk sering ke Kawe. Tahun 1998 ketika ia asyik kemping sendiri di kawasan Kawe dan nyoba akan menjelajah Hutan Batara Guru, ia sempat ‘dinasihati’ orang satu warung gara-gara bilang mau pergi ke sana sendiri. Ini ceritanya :

Addy gembel yg baru tuba naik angkutan pedesaan Colt bunting, segera singgah ke warung untuk belanja melengkapi perbekalan. Ketika samapi di sebuah warung, sambil duduk sang ibu penjaga warung bertanya,

Elderly Wowan behind the Counter in Kawe : Bade kamana Cep?

Addy Gembel : Bade ka leuweung atara Guru, Bu

Elderly Wowan behind the Counter in Kawe : Walaaahh sareng sahaa..??

Addy Gembel : Ah nyalira weh Bu (mulai sedikit jengah…)

Elderly Wowan behind the Counter in Kawe : Waduhh Cep, teu kenging nyalira ka leuweung eta maaahhh, aduh aduuhh nya si Ncep maahhh…. (Si Ibu mulai memanggil orang-orang yang ada di sekitar warungnya, bahkan orang yang kebetulan lewat depan warungnya juga.) Ieuuuww geura si Ncep rek ka Batara Guru nyoranganan waee yeuuuww… (Dan orang-orangpun akhirnya merapat sambil memandangi Gembel dengan ehran atau takjub atau aneh. Gembel mulai salah tingkah. Si Ibu dan ditimpal warga yang merapat mulai mendongeng bahwa sangat berbahaya ke Batara Guru sendirian sajah. Gembel felt trapped! Wakakakk.. Tapi si Ibu kemudian member solusi) “Tos weh ka puncank bukit itu. di dinya aya batu Ncep tapa weh opat dinteneun didinya, ngke sok aya ilham”

Addy Gembel : (Dengan misuh-misuh..) Ohh muhun atuh Ibu. Abdi mah permios we bade uih deui ahh hheuuuw… (Gembel akhirnya berjalan kembali kea rah semula. Di tengah pudunan ketika warga yg mrapat semakin jauh, ia menyelinap masuk jalanan naik dan terus menghajar jalanan ke Hutan batara Guru. Ia kemping sendirian di sana selama tiga hari and nothing’s happened hehehehee…

Tapi Kawe juga memang identik dengan berbagai pemujaan. Saya belum tau juga tapi secepatnya saya akan mencari tau untuk kamu-kamu semua. Aura ini memang sangat terasa dengan begitu terjalnya barisan puncak-puncak bukit yang diselimuti berbagai pepohonan di sekeliling Kawe. Kabut tipis yang seperti menggantung di celah lereng-lereng antar bukit menjaga udara dingin, menguatkan tulang-tulang pohon di sini untuk ratusan tahun ke depan. Daerah ini memang eksotis. Penebangan hutan secara besar-besaran di Kawe tahun 1990an pernah menjadi isu nasional sebelum akhirnya Kawe di tetapkan sebagai hutan lindung dan kawasan waisata. Kini kondisinya relative lebih terjaga. Hutan-hutan adat yang dikeramatkan di Kawe juga semakin terjaga kualitas lingkungan seta biotanya. Lingkungan hutan yang asri terus mengantar perjalanan ke Rumah Pohon, tempat yang direkomendasikan anak-anak Cicalengka kepada Karat. Sepanjang perjalanan Kimung bercakap-cakap dengan aneka burung hutan melalui suara pluit yang diberi Kika tadi. Oww ramainya hutan ^^

Rumah Pohon adalah salah satu kawasan wisata utana Kawe. Di sana ada enam rumah pohon yang disewakan kepada pengunjung dengan harga antara 150 rb – 350 rb. Enam rumah pohon ini mengelilingi areal lapang yang di tengahnya dipasangi spot api unggun. Sekitar rumah pohon di pasang kursi-kursi untuk duduk-duduk dan menikmati alam. Sekelilingnya pohon pinus menaungi, namun kita bisa melihat langit yang jernih begitu dekat dengan kepala kita. Angin bersemilir bercakap dengan pepohonan, serangga-serangga, dan kicauan burung-burung hutan. Di malam hari suara binatang hutan lainnya semakin meramaikan choir yang indah ini. Kami langsung jatuh cinta dengan Rumah Pohon. Segera disepakati rekaman akan dilakukan di sini. Suara-suara alam yang sempurna akan menambah kekayaan ambience dalam rekaman Karat nanti. Its great!

Karat & Sundanesse Metal GDN Corp meluangkan waktu sepanajng siang dan sore itu di Kawe. Ngadu bako bertukar kisah bertukar pengalaman. Salah satu kisah yang pol hari itu datang dari Mang Iwan, dicuplik dari salah satu adegan wayang yang dimainkan oleh sang dalang. Judulnya si Cepot Nyabok Jin. Semua ngakak mendengar cerita itu kakakakkkkk…  Kimung dan hendra sempat session berlatih pirigan-pirigan celempung lagu-;agu Karat denga instrumen bambu, kayu, tanah, batu, dan potongan batang pisang. Hajar mangs!!!

Tak terasa sore semakin turun. Karat melanjutkan perjalanan ke base camp—tempat yang rencananya akan dijadikan tempat kemping karinding. Sebuah areal yang lebih luas dari Rumah pohon dan bisa menampung sekitar 30 orang. Setelah jalanan memutar turun kahirnya Karat kembali lagi ke pos 1 gerbang Kawe untuk melanjutkan pulang ke Bandung. Info yang tak klah menarik, lebih jauh lagi berjalan kaki ke atas akan kita jumpai dua dusun adat bernama … dan … . Di dusun … jumlah rumah dibatasi hanya Sembilan rumah saja. Dulu di dusun … juga demikian. Namun hingga hari ini, jumlah dusun di … semakin berkembang menajdi belasan rumah. Kunjungan ke dua dusun itu pasti akan menjadi program wajib karat sebelum rekaman. Kalo Kimung dan hendra akan berolahraga pagi dengan bermain musik kayu seperti session mereka tadi.

Poll poll semua…!!! Great tour, great places, great people, many many thangs to you all my friends in Cicalengka…

In my life, I love you more…

15 Juli, PARAKAN MUNCANG MAGICAL MYSTERY TOUR

Karena hari selasa kesorean di kawe, rombongan karat akhirnya memutuskan untuk menunda kunjungan ke Bah Olot dan sepakat akan berkunjung hari ini. Kini yang pergi cuma berempat : Okid, Widya, Hendra, dan Kimung. Mereka berangkat jam 11 dari rumah Okid. Sampai di Cicalengka sekitar jam 12 ternyata sudah ada Mang Utun di sana sedang mengantar Elise, seorang mahasiswi asal Florida, Amerika Serikat yang sedang belajar lingkungan hidup di Indonesia. Ia tertarik belajar karinding dan kemudian diajak Mang Utun ke sanggar Bah Olot. Karat segera ngedeuheus ke Bah Olot sebagai guru karinding si Karat.

Vila Karinding Bah Olot ada di daerah Manabaya, Parakan Muncang. Ketika kita masuk gerbangnya terhampar luas halaman rumput yang asri dan tanaman-tanaman buah yang menambah kesejukan lingkungannya. Di halaman itu kita bias memarkir kendaraan. Di ujung halaman rumput, beridri Villa Karinding yang bias disewakan. Bangunannya khas bangunan Sunda. Besar dan nyaman untuk ditempati. Sanggar Bah Olot ada di bawah halaman. Kita harus meuruni tangga dan menyebrangi selokan kecil yang dibangun sebagai irigasi dari Sungai Cimanggung yang berada tepat di belakang sanggar Bah Olot.

Tak lama kemudian Mang Iwan dari Cicalengka juga datang membawa sekeresek bambu pesanan Bah Olot untuk dibuat gelas dan segera bergabung dengan Karat. Saat itu, Okid sudah memesan dua karinding surupan Karat yang dengan cepat dikerjakan oleh Bah Olot. Ia juga langsung mendapat celempung dari bambu hitam dengan tandatangan Bah Olot di badannya. Kimung lain lagi, melihat begitu banyak bambu gombong yang berukuran raksasa untuk bahan celempung, ia segera saja memesan celempung indung yang berukuran raksasa untuk mengejar suara low celempung Karat. Bah Olot dengan bersemangat mengiyakan. Ia mempersilahkan Kimung untuk memilih sendiri bambu yang akan dijadikan celempung. Bergiliran, semua mencoba memainkan celempung bambu hitam milik Okid siang itu. Sanggar Bah Olot semakin semarak ketika Gola sang musisi ahli suara mulut dari suku Dayak Sagandu datang beserta temannya. Gola sangat mengesankan. Sebagai seorang Dayak Sagandu ia kemana-mana telajang dada dengan kulitnya yang coklat terbakar, wajah khas Dayak Sagandu, iket batik di kepala, pangsi hitam dan sinjang batik senada dengan iket. Sepanjang di sanggar Bah Olot, Gola tak henti-hentinya memainkan alat-alat musik yang ada di sana.

Sementara itu Bah Olot tak sedikitpun terganggu dengan kedatangan tamu-tamunya ini. Ia tetap saja ekun mengerjakan kerajinan karinding sambil sesekali menyapa dan menghampiri tamu-tamunya, termasuk kami. Ketekunan itu tanpa disadari seperti menular. Melihat begitu banyak bambu dan alat-alat pertukangan serta melihat bah Olot begitu asyik dengan pekerjaannya kamipun masing-masing asyik membuat berbagai kerajinan dari cincin bambu, gelang bambu, tempat karinding, hingga tempat pemukul celempung. Mang Hendra yang terlihat sangat bersemangat berkreasi. Bah Olot sempat nabeuh celempung rentengnya yang segera saja ditimpali oleh Kimung, Hendra, Okid, dan Gola. Wow berbeda benar memang bermain bersama sang maestro! Bah Olot lalu meminta beberapa kawannya di sanggar menyiapkan liliwetan untuk bersantap bersama nanti.

Tak lama kemudian, Koki Kika datang menemui rombongan Karat, disusul pacarnya Reffy serta sang adik Rexy. Kedatangan mereka menambah semarak hari yang semakin beranjak sore itu. bah Olot sendiri saat itu tampaknya mulai berbenah membereskan sanggarnya dan bersiap-siap untuk mandi. Melihat Bah Olot mau mandi, kami tentu saja semakin bersemangat untuk nyebur guying di Sungai Cimanggung tepat di belakang Villa karinding. Setelah bah Olot mengijinkan, semua rombongan langsung saja menuju belakang sanggar dan guying bersama-sama. Semua penat dan lelah pupus seketika dimanjakan dingin aliran Cimanggung. Huuummmm…

Ketika semua kembali naik ke sanggar, liwet Bah Olot ternyata sudah masak. Di halaman sanggarnya yang asri Bah Olot sudah menanti semua orang dengan nasi kastrol serta lauk pauknya : jambal, peda, tamu, telur, sambal, dan kerupuk. Hummm yummieee… Kami semua makan dengan lahap soe itu disertai bincang-bincang ringan yang menambah keakraban kami. Hummm lezat bah Olot!!! Poll!! Trimakasih katampi pisan liwetna Abah…

Selesai makan, Okid dan Kimung secara pribadi menemui bah Olot yang sedang berdoa untuk menyampaikan amanat dari Karat serta menceritakan berbagai hal kepada sang guru yang disambut dengan baik oleh Bah Olot. Dan ketika malam benar-benar turun, kami semua pamit kepada Bah Olot. Kami pasti akan kembali bah Olot!!! Hatur nuhun atas semuanya!!!

16 Juli, Jumat Kramat

Kabar gembira datang Jumat ini! DVD modul belajar karinding oleh Hendra yang digarap Kapten Jek dan Under beres! Mantaps mangs!!! Sebentar lagi akan rilis karinding-karinding kualitas terbaik diserta dengan DVD modul belajar ini. Nantikan saja!!! Salut Mang Hendra Salut Kapten Jek!! Ye guys hot!!

Jumat Kramat ini tak latihan, Karat hanya berkumpul dan sharing info berkaitan dua perjalanan yang dilakukan Kimung, Okid, dan Hendra dari Karat dalam rangka rekaman dan kemping karinding. Beberapa opsi tempat juga digulirkan mang Utun seperti di Cibodas dan saya lupa tempat mana lagi, tapi entah kenapa chemistry Kawe begitu kuat. Untuk itu, rekaman kemudian disepakati akan dilakukan tanggal 16, 17, dan 18 September 2010. Ini tentu saja tinggal menunggu konfirmasi Boyat apakah ia bisa join dalam proses rekaman ini ataukah tidak. Karat kemudian membahas persiapan manggung tanggal 24 atau 25 Juli di ulang tahun Viking Persib serta tanggal 31 Juli si SMAN 1 bandung yang rencananya akan berkolaborasi dengan angklung Smansa.

Namun tetap pertanyaan yang menggantung malam itu adalah apakah Boyat bisa bergabung dalam rekaman Karat nanti? Hmmmm……

Bersambungs….

EDISI DEPAN : EDISI DEPAN : KARAT ON SONIC TORMENT SHOW, KOLABORASI DENGAN MUSISI NOISE ASAL PRANCIS BENJAMIN AMMAN SELASAR SUNARYO, BERLATIH DENGAN ANGKLUNG SMANSA

10 Playlists Jon 666 : Tarawangsa, The Beatles, Pearl Jam, The Doors, Godflesh, Dinosaur Jr., Oasis, Fugazi, Koil, Jasad

Books : Senjakala Berhala by Friedrich W Nietzsche, Keraskan Kepala by Ogifran

Movies : Eclipse, Wild Things, Spawn, The Runaway

Quotes :

“Dancing with invisible one” Sting, When We Dance

“Petualangan-petualangan manusia bukan pada waktunya” by Friedrich W Nietzsche dalam Senjakala Berhala

“A Day in Life” The Beatles

“All the lonely people, where they all come from? All the lonely people, where they all belong?” Eleanor Rigby, The Beatles

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s