JURNAL KARAT # 24, 9 Juli 2010 PAPASAKAN KOKI KIKA & KARAT LIVE RECORD SESSION NU SUBSTANCE FEST 2010

Posted: July 14, 2010 in Uncategorized
Tags:

JURNAL KARAT # 24, 9 Juli 2010 PAPASAKAN KOKI KIKA & KARAT LIVE RECORD SESSION NU SUBSTANCE FEST 2010

Asuhan Jon 666

6 Juli, Selasa Ceria, Papasakan dengan Koki Kika dkk & Session#1 Rampak Celempung New York

Karena hari Jumat kemarin Karat tak menghasilkan rampak celempung maka Kimung, JImbot, Hendra berkomitmen menggarap ramapk celelmpung hari Selasa. Selain itu, Karat juga berencana berlatih persipan manggung di pembukaan Nu Substance tanggal 9 Juli nanti. Oww yaa dan ini yang special, rencananya Karat akan dikunjungi Kika dan kawan-kawan lain dari Cicalengka untuk papasakan di Commonroom sore itu hihihi. Kika yang akan masak untuk papasakan itu.

Dan ketika waktu menunjukkan pukul lima sore, Karat yang hanya Kimung, hendra, dan Jimbot, sudah berkumpul di Commonroom. Beberapa anak BOH dan kru Commonroom juga hadir memeriahkan sore itu. Juga Bob Nicfit dan Alan Veskill dari Purnawarman Crew juga tak ketinggalan hadir. Tak lama kemudian Kika, Reffy, Sintya, dan dua kawan lainnya dari Cicalengka akhirnya datang. Tak seberapa lama, Princess Wilda dan Ilham juga tiba. Tanpa tunggu lama, Kika cs segera saja menggelar papasakan di dapur Commonroom, menu Koki Kika : tumis kangkung, kiciwis, karedok, jengkol, dan sambal tentunya. Hummm yummie…

Sambil menunggu masakan diolah, Kimung, Hendra, danJimbot segera ambil ancang-ancang menyusun aransemen buat rampak celempung. Berbagai pirigan mereka jajal hingga akhirnya sepakatlah pirigan New York atau Yaro yang akan dipakai untuk rampak hari Jumat nanti. Karena sudah sering dilatihkan, Karat tak harus menunggu lama untuk fiks rampak. Apalagi Jimbot yang memang sudah begitu hapal pola lagu New York melalui fill-fill melodi suling dengan mudah mengaransemen fill-fill celempung. Skill dan jam trerbang memang tak pernah boong Mang Jim hahahahaaa…

Jam tujuh akhirnya masakan selesai. Semua berkumpul ngampar di arena Commonroom dan setelah dibuka oleh doa mang Jimbot, kami semua makan bersama. Hummmm yummieee masakan yang enak, kawan-kawan sehati, dan adik-adik yang tak segan mengunjungi kakak-kakaknya. Terima kasih ya Allah…

8 Juli, Kamis, Session#2 Rampak Celempung New York & Shooting Karinding by Under

Di sesi latihan ini, Kimung, Jimbot, Hendra mencoba menambah dua personil rampak yaitu Okid dan Jawis. Gigi yang akan menjadi produser rekaman rampak terlihat mengamati kelima Karat yang belatih serius itu. Penambahan dua personil membuat Kimung – Jimbot – Hendra harus kembali memutar otak mengaransemen ulang rampak New York yang sudah mereka susun dalam latihan sebelumnya. Ini tentu saja menimblkan sedikit kesulitan mengingat baik Okid—bisaa memainkan waditra tiup dan karinding, kini memainkan kohkol, maupun Jawis—bisaa memainkan waditra tiup dan karinding juga, kini memainkan celempung—belum benar-benar mengenal pola kedua waditra dengan utuh walaupun jelas sehari-hari mereka tentu berhubungan erat dengan dua waditra tersebut. Beberapa ragam dan pola sudah dicoba dan difikskan namun belum benar-benar ada yang pas.

Malamnya, Karat dan Under kembali melakukan shooting. Kini shooting yang dilakukan adalah untuk kepentingan tutorial permainan karinding khusus dibuat untuk para pemula. Shooting tersebut meliputi pemaparan dari Hendra tentang apa itu karinding, nilai-nilai permainan karinding, filosofi yang ada di balik karinding, hingga cara memainkan karinding dan beberapa pirigan karinding. Rencananya hasil shooting ini akan diperbanyak ke dalam cd dan disertakan dalam setiap karinding yang dijual di Remains atau jaringan Remains.

9 Juli, Jumat Kramat, Karat Opens Nu Substance Festival IV 2010

Sore jam tiga hari jumat personil Karat sudah mulai tampak di Commonroom. Terlihat Mang Utun, Hendra, Kimung, dan Jimbot sudah kongkow-kongkow di pelataran Commonroom yang sudah diset untuk tempat duduk-duduk dan merokok, sementara bagian dalam sudah diset untuk menjadi venue non-smoking. Terlihat Gigi dari Trah sibuk mempersiapkan tata suara untuk gig dan rekaman. Di sisi kanan panggung Gustaff terlihat tekun mengeset streaming siaran langsung Karat & Pantun Buhun melalui radio on line Commonroom.

Waktu menunjukkan pukul empat dan akhirnya Kimung, Jimbot, dan Hendra mulai cek tata suara untuk rampak celempung. Seterlah beberapa kali mencoba trial and error akhirnya Gigi sudah bisa menentukan posisi miking untuk rampak celempung. Giliran Karat kini yang cek tata suara. Hendra, Jimbot, Kimung, Okid,Mang Utun, dan  Jawis pun pasang posisi. Selain menentukan fiks tata suara, juga disusun posisi duduk karinding, celempung, dan waditra tiup agar suara yang keluar nanti mengalir dengan baik, tak saling bertabrakan. Ketika sedang cek tata suara inilah Karat menemukan bentuk baru untuk bubuka. Hendra yang membawa alat musik baru dari tanduk domba memainkan alat itu dengan spontan. Dengan spontanitas juga Okid memainkan sulingnya menimpali tanduk domba Mang Hendra. Merasa lagu yang tercipta oke, Jawis dan Kimung lalu memainkan karinding pirigan bubuka. Tak terasa segalanya tiba-tiba mengalir begitu saja dan akhirnya sepakat jika format tadi akan dijadikan format lagu Bubuka Karat.  Akhirnya setelah mengecek dan mengukur suara karinding, celempung, alat-alat tiup, sekaligus mencampurkan padanan suara mereka dalam satu susunan yang bagus, Karat break dan venue diclearkan.

Karat sendiri di kesempatan itu rencananya akan mengajak main Bejo Bleeding Corpse yang rencananya memang akan diproyeksikan menjadi personil karinding ke sepuluh, setelah Elisa. Dengan adanya Bejo, diharapkan surupan rampak karinding dalam lagu-lagu karat akan semakin mantap, mengingat Man kini semakin konsentrasi ke vokal sementara Okid konsentrasi ke waditra tiup. Oleh karena itu, di tengah persiapan venue, Karat akhirnya memutuskan untuk berlatih dulu sebelum maen di kamar Ismet. Tanpa Kimung—ia pulang dulu bersiap-siap—Karat berlatih lagu-lagu yang akan mereka mainkan malam itu.

Waktu menunjukkan jam enam sore dan akhirnya Mang Ayi dan Wa Iyok berserta kru serta tiga pemari yang usianya spektakuler—satu usianya 127 tahun, satu lagi 100an tahun, satu lagi sekitaran lah—datang sudah. Audiens juga terlihat mulai berdatangan. Semakin malam mereka yang berkumpul di pelataran Commonroom terlihat semakin banyak dan suasana semakin ramai. Kru dari Cicalengka juga terlihat hadir, Gembok Teuas dkk, pun Abah Olot sang maestro karinding.

Pukul delapan pas, acara dibuka oleh MC Luna Ranti. Setelah sambutan dari Gustaff sebagai direktur Commonroom sekaligus juga membuka Nu Substance Festival, maka acarapun dimulai. Hendra, Jimbot, Kimung yang sudah bersdiap segera menghajar malam itu dengan pirigan-pirigan New York. Saying pola permainan Kimung nggak bener! Dia grogi ditonton oleh sesepuh-sesepuh dari Subang hingga mendadak blank setengah lagu awal. Sudah blank, ditambah lagi pangganjel nada di celempungnya lepas-lepas terus. Ini membuat ia tak bisa konsentrasi menghajar celempungnya. Namun ketika akhirnya ia bisa mengatasi groginya, setengah akhir lagu sukses dihajar dengan mantaps.

Beres rampak celempung New York—kini dijuduli Yaro Tahes—giliran personil Karat lainnya mulai memasuki venue. Satu-satu mereka hadir di panggung dan setelah perkenalan kembali oleh Man, Karat segera saja menghajar venue. Lagu-lagu “Bubuka Karat”, “Wasit Kehed”, “Dadangos Bagong”, “Burial Buncelik”, “Hampura Ma II”, “Lagu Perang”, dan akhirnya “Kawih Pati” dibawakan satu demi satu dengan konsentrasi penuh.

Ada dua hal yang membuat Karat begitu fokus malam itu. Yang pertama adalah karena lagu-lagu yang dimainkan sekalgus juga direkam dan rekaman ini nantinya akan menjadi pegangan untuk tiap personil Karat dalam mengaransemen dan mengeksplorasi musik dan waditra masing-masing demi kepentingan rekaman album si Karat. Karenanya maka rekaman difokuskan untuk meminimalisir kesalahan. Alasan ke dua adalah karena Karat maen di depan sesepuh-sesepuh. Ini—terutama bagi Kimung—adalah beban tersendiri. Setelah maen ia bahkan sampai termenung di luar masih tak percaya ia bisa main fiks total malam itu. Rasa tegang Kimung bisa tersalurkan ketika bah Olot keluar dan mengajaknya berbincang-bincang di pelataran Commonroom malam itu.

Akhirnya malam memang semakin larut, mencairkan semua rasa. Di dalam man Jasad berkolaborasi dengan pantun buhun berkisah gugurnya berbagai berhala dari masa lamapau hingga sekarang. Di luar bincang-bincang terbangun dari berbagai ranah kesenian tradisional dan musik modern berbagai hasrat. Terima kasih Trah Gigi & Jenggot, Abah Olot, Mang Gembok & crew GDN Corp Sunda Metal Cicalengka, Mang Iwan, Mang Pulung dan kawan-kawan dari Baduy, Ujungberung Rebels, Sunda Underground, Bandung Oral History, Komunitas Kamera Lubang Jarum, dll-dll yang telah hadir malam mini.

You all rule!!!!

Bersambungs….

EDISI DEPAN : CICALENGKA MAGICAL MYSTERY TOUR PART 2 : KAWE EXPLORING FOR KARAT’S RECORDING

10 Playlists Jon 666 : Tarawangsa, The Beatles, Pearl Jam, The Doors, Godflesh, Sting, Oasis, Fugazi, Koil, Jasad

Books : Senjakala Berhala by Friedrich W Nietzsche, Keraskan Kepala by Ogifran

Movies : Eclipse, Wild Things, Spawn, The Runaway

Quotes :

“Dancing with invisible one” Sting, When We Dance

“Petualangan-petualangan manusia bukan pada waktunya” by Friedrich W Nietzsche dalam Senjakala Berhala

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s