KARINDING MENGHAJAR JALANAN!!!

Posted: July 4, 2010 in Uncategorized
Tags:

KARINDING MENGHAJAR JALANAN!!!

Oleh Kimung

Karinding konon alat musik yang telah digunakan karuhun Sunda sejak dahulu kala. Alat musik ini terbuat dari pelepah kawung atau bambu berukuran 20 x 1 cm yang dipotong menjadi tiga bagian yaitu bagian jarum tempat keluarnya nada (disebut cecet ucing atau ekor kucing), pembatas jarum, dan bagian ujung yang disebut panenggeul (pemukul). Jika bagian panenggeul dipukul, maka bagian jarum akan bergetar dan ketika dirapatkan ke rongga mulut, maka akan menghasilkan bunyi yang khas. Bunyi tersebut bisa diatur tergantung bentuk rongga mulut, kedalaman resonansi, tutup buka kerongkongan, atau hembusan dan tarikan napas.

Jenis bahan dan jenis disain karinding menunjukan perbedaan usia, tempat, jenis kelamin pemakai. Karinding yang menyerupai susuk sanggul dibuat untuk perempuan, sedang yang laki-laki menggunakan pelapah kawung dengan ukuran lebih pendek, agar bisa disimpan di tempat tembakau. Bahan juga menunjukkan tempat pembuatan karinding. Di Priangan Timur, misalnya, karinding menggunakan bahan bambu. Di kawasan lain di Indonesia, karinding disebut juga rinding (Yogyakarta), genggong (Bali), atau alat sejenis dengan bahan baja bernama Zeusharp di kawasan Nepal dan Eropa.  Selain ditabuh, karinding juga ada yang dimainkan dengan cara dicolek atau disintir.

Biasanya karinding itu dimainkan pada malam hari oleh orang-orang sambil menunggui ladangnya di hutan atau di bukit-bukit, saling bersautan antara bukit yang satu dan bukit lainnya. Alat ini ternyata bukan cuma menjadi pengusir sepi tapi juga ternyata berfungsi mengusir hama. Suara yang dihasilkan oleh karinding ternyata menghasilkan gelombang low decibel yang menyakitkan hama sehingga mereka menjauhi ladang pertanian.

Di kalangan para pemuda Tatar Sunda, karinding juga popoler sebagai alat musik pergaulan. Dahulu, jika sang jejaka bertandang ke rumah sang gadis, ia akan mendemonstrasikan permainan karinding untuk memikat sang gadis. Dalam hal percintaan, karinding juga  berkembang dengan kisah-kisah romantis—dan juga tragis—di belakangnya.

KARINDING KALAMANDA, KI SELENTING, DAN SEKAR SUNDA KOMARA TASIKMALAYA

Tasikmalaya sering menyebut dirinya sebagai daerah pertama kali karinding dibuat. Ini diperkuat oleh kisah Jajaka Kalamanda sebagai pencipta karinding di Tasikmalaya. Dalam syairnya “Karinding ti Citamiang” penyair Nazaruddjin Azhar mengisahkan kembali cerita ayng dituturkan Oyon Noraharjo tentang Kalamanda. Nun dahulu kala, lembur Citamiang, Pasir Mukti, ada dalam kekuasaan Kerajaan Galuh. Di kampung ini tersebutlah seorang jejaka gagah bernama Kalamanda yang masih keturunan menak Galuh. Suatu waktu, Kalamanda bertemu seorang mojang jelita yang seketika itu membuatnya jatuh cinta. Gadis itu bernama Sekarwati.

Kalamanda mencari cara untuk mendekati Sekarwati, yang konon telah membuat patah hati ratusan pemuda yang berniat mendekatinya. Beragam aksi berbalut ketampanan dan materi tak mampu meluluhkan sang gadis, mulai dari aksi jawara, menak, hingga santri, tidak ada yang bisa meuluhkan hati si jelita.

Akhirnya Kalamanda bertapa, memohon kepada Yang Maha Kuasa agar diberikan jalan. Setelah tirakat, akhirnya ia mendapat petunjuk untuk membuat sejenis alat musik yang suaranya mampu mencerminkan perasaan cintanya yang dalam bagi sang pujaan. Setelah membuat beragam alat musik, akhirnya ia menemukan alat yang mampu mewakili getar perasaannya kepada Sekarwati. Alat itu sangat sederhana, terbuat dari pelepah kawung (enau) kering.

Ketika hari beranjak malam, Kalamanda diam-diam mendekati jendela bilik Sekarwati dan memainkan alat itu sepenuh cinta. Suaranya yang datang dari hati berhasil menyentuh sanubari Sekarwati yang hampir terlelap tidur. Sekarwati pun terpesona dan menerima pinangan Kalamanda dan mereka pun hidup bahagia selamanya. Kalamanda menamai alat yang berhasil mencuri hati Sekarwati itu, karinding, karena bentuknya yang mirip dengan kakarindingan, sejenis binatang lucu yang biasa ada di sawah pada zaman dulu.

Karinding sebagai alat musik penawan hati wanita juga muncul dalam kisah Ki Slenting sang playboy. Kisah ini pernah dikisahkan Yoyo Dasriyo dalam artikel berjudul “Karinding Menggelinding, Mengiring Ki Selenting” (Kompas Jawa Barat, 4/7). Berbeda dengan kisah Kalamanda yang berakhir bahagia, kisah Ki Slentingan berakhir tragis. Alkisah, dengan permainan karinding yang memukau, Ki Slenting memikat banyak wanita. Karena moral yang bejat, Ki Slenting menjadikan para wanita itu sebagai pelampiasan nafsu bejat dan melakukan tindakan tidak senonoh yang mengakibatkan kemarahan warga. Akhir kisah, Ki Slenting mati dihakimi warga yang merasa marah para wanita mereka dinodai sang playboy.

Di Citamiang, Tasikmalaya, karinding terus dikembangkan oleh Oyon Naroharjo. Oyon mengenal karinding dari sang ayah sejak ia masih sangat kecil. Bersama kawan-kawan nya semasa Sekolah Rendah tahun 1940an Oyon memainkan karinding sebagai alat permainannya. Semakin lama, Oyon semakin serius memainkan alat ini. Tahun 1955, ia pernah memainkan karinding bersama grup keseniannya dalam pasanggiri seni antar Sekolah Rendah di Cikondang.

Sepuluh tahun kemudian, Oyon mendirikan grup karinding Sekar Komara Sunda. Grup inilah yang kemduians ecara serius tampil di berbagai acara seni dan budaya dalam kurun waktu tiga puluh tahun kemudian. Empat panggung terakhir yang diingat Oyon adalah panggung di Hotel Preanger tahun 2001, kolaborasi dengan grup kesenian Kabumi dari UPI pimpinan Gianjar Saribanon tahun 2002, panggung kolaborasi karinding dengan jimbe, digerindo, kendang, rebab, dan rain stick di Gedung Kesenian Tasikmalaya, serta panggung terakhir Sekar Komara Sunda di sebuah acara akbar di Lapangan Gasibu Bandung tanggal 3 Mei 2003. Setelah acara ini, Dinas Pariwisata Kabupaten Tasikmalaya menjanjikan akan menampilkan Sekar Komara Sunda di Taman Mini Indonesia Indah. Namun, entah mengapa janji ini tak juga terealisasikan. Yang menarik adalah hubungan awal Sekar Komara Sunda dengan Kabumi UPI yang sebenarnya sudah terjalin sejak 1999 ketika Kabumi datang ke Cineam untuk penelitian karinding. Hubungan inilah yang menghasilkan pendokumentasian kisah-kisah lisan tentang karinding terutama dari almarhum Oyon dan Bah Karna (Alm).

Walau kini sudah vakum, namun patut diakui jika Sekar Komara Sunda berhasil membentuk regenerasi pemain karinding dengan munculnya nama musisi karinding baru dari grup ini, yaitu Mang Sule. Sekar Komara Sunda juga mengungkapkan nilai-nilai edukasi dan harmonisasi dalam karinding. Alat musik dimainkan oleh beberapa orang, yang walau bermain dalam nada berbeda, namun tetap menjaga harmonisasi sehingga suara yang dihasilkan melaras. Harmonisasi dalam laras yang berbeda inilah inti dari kehidupan yang harus dijunjung tinggi.

GIRI KERENCENG

Seiring dengan Tasikmalaya, perkembangan karinding di Bandung juga menunjukkan gejolak, terutama di daerah-daerah pinggiran sekitar pegunungan yang budaya agrarisnya kuat. Dua daerah yang menjadi tempat perkembangan karinding adalah Parakan Muncang dan Ujungberung. Di Ujungberung masih belum tergali siapa saja tokoh-tokoh yang mengembangkan karinding, namun menurut kisah para tokoh-tokoh sepuh yang kini berusia sekitar delapan puluh tahun, karinding dan celempung adalah musik yang mengiringi mereka belajar silat ketika masih anak-anak di sekitar Gunung Manglayang, Ujungberung.

Parakan Muncang jejaknya lebih terlacak dengan keberadaan Abah Olot, master pembuat karinding sekaligus juga sbagai guru karinding yang sejak awal menyebarkan alat musik ini ke sekujur kota bandung semenjak tahun 1990an. Abah Olot, nama aslinya Endang Sugriwa, sejak kecil telah dikenalkan kepada karinding oleh Entang Sumarna, sang ayah yang juga seorang pembuat dan musisi karinding di kawasan Manabaya, Cimanggung, Parakan Muncang. Abah Olot juga mengungkapkan bahwa keluarganya secara turun temurun adalah pemangku amanat pelestari karinding dengan cara membuat, mengembangkan, serta memainkannya. Abah Olot mengenang, dahulu karinding dimainkan dalam hajat hidup masyarakat. Kesenian ini juga bahkan dimainkan ketika ada gerhana matahari.

Karinding Abah Olot juga kemudian menyebar di Cicalengka dan menginspirasi seniman-seniman muda Cicalengka untuk juga ikut mengeksplorasi karinding, tak hanya memainkan, tapi juga membuat waditra karinding.

Karinding kemudian menyebar semakin ke barat. Pertengahan tahun 2000an karinding di Bandung dikembangkan oleh beberapa seniman dan budayawan Sunda seperti Dodong Kodir, Asep Nata, Yoyo, dan Opa Felix. Para tokoh ini secara giat memperkenalkan karinding di berbagai tempat dan kesempatan, bekerja sama dengan berbagai pihak. Mahanagari, Galeri Rumah Teh, Kampus STBA, dan Ciwalk tercatat berjasa dalam pementasan karinding di Bandung. Asep Nata yang juga merupakan dosen STSI, bahkan sudahmembuat karinding kipas, merupakan sekumpulan karinding yang terdiri dari beragam nada dan dimainkan secara bergiliran sesuai nada lagu. Dengan karinding ini, tentu saja lagu-lagu dengan tangga nada diatonik juga bisa dimainkan oleh karinding.

Sementara itu, grup karinding Giri Kerenceng juga terus mengembangkan karinding ke berbagai ranah sosial. Tanggal 22 Mei 2007, Abah Olot bersama enam personil lainnya dalam Giri Kerencang mementaskan lagu-lagu karinding ciptaannya di kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Acara yang digelar oleh Lembaga Seni Lukis dan Kaligrafi (LSK) ini juga menampilkan workshop pembuatan karinding oleh Abah Olot. Workshop karinding juga sering dilakukan oleh seniman Dedi dari Komunitas Hong Bandung sepanjang tahun 2000an. Komunitas Hong dan Giri Kerenceng bahkan pernah bertemu dalam satu workshop mengenai permainan anak-anak tradisional dan kerajinan serta alat musik bambu di Commonroom akhir tahun 2008.

SUNDA UNDERGROUND DAN KARINDING ATTACK

Karinding di Ujungberung kembali menggeliat Oktober 2008, ketika komunitas metal Ujungberung Rebels dan Sunda Underground berkenalan dengan Engkus dan Hendra yang merupakan murid dari Abah Olot. Seketika itu juga karinding dengan sangat cepat menyebar di kalangan para musisi metal Ujungberung Rebels. Puncaknya adalah ketika para pemusik metal itu bersatu dalam satu grup yang bertujuan menyebarkan karinding serta nilai-nilai luhur dan kesederhanaan yang terkandung darinya.

Grup ini mereka namakan Karinding Attack, berdiri Februari 2009 di Commonroom. Dengan latar belakang musikalitas, sosial, dan budaya yang jauh berbeda dengan seniman kasundaan pada umumnya, Karinding Attack dengan garang menggebrak ranah seni karinding. Lagu-lagunya yang keluar dari pola-pola umum permainan karinding, cepat, dengan tingkat akurasi yang tinggi menyebabkan grup ini dengan cepat diterima anak muda. Segera saja virus “Karat”—begitulah mereka menyingkat nama band mereka—menyebar.

Terinspirasi dari keberadaan Karinding Attack, anak-anak muda di ranah musik metal Cicalengka yang sebenarnya sudah sejak lama memainkan karinding Abah Olot, juga berinisiatif membangkitkan dan mengembangkan kesenian karinding di Cicalengka. Untuk itu kemudian berdirilah grup Markipat Karinding yang kemudian identik dengan komunitas Sunda Metal GDN Corp. komunitas ini adalah kelompok anak muda yang secara konsisten berkomitmen mengembangkan kesenian anak-anak muda Cicalengka. Seperti di Ujungberung Rebels dan Sunda Underground, Sunda Metal berlatar belakang musik metal dan punk yang kental. Latar belakang itu semakin memeperkokoh komitmen mereka dalam mengembangkan kesenian Sunda. Sementara itu, di kawasan Kota Bandung muncul banyak sekali kelompok seni karinding yang semuanya dimainkan oleh para orang muda. Beberapa yang tercatat adalah Sakasadana, Karinding Militan, Karinding Skateboard, Karinding Merinding, dan Karinding Air Mata.

Dengan semakin ramainya karinding, gairah perekonomian di kalangan pengrajin juga semakin meningkat. Keputusanbersama para pionir muda karinding untuk mempermudah orang mendapatkan karinding mendapat respon yang sangat baik dari semua pihak. Semakin hari semakin banyak juga anak-anak mda yang ingin belajar memainkan karinding. Atas masukan dari seniman Gustaff H Iskandar, Hendra Karat lalu membuat Kekar atau Kelas Karinding. Kelas ini adalah ruang berlatih karinding bersama-sama, digelar seminggu sekali tiap Jumat sore, difasilitasi oleh dua tempat kreativitas di Bandung, Commonroom dan Gedung Indonesia Menggugat.

Pembangunan basis perekonomian yang bervisi menyejahterakan para pengrajin bambu juga adalah wacana yang sering digulirkan di kalangan kelompok Sunda Underground, terutama oleh Okid Gugat, seorang pelaku ekonomi di ranah musik metal bawahtanah Ujungberung Rebels. Okid yang mengelola distro Remains Rottrevore serta label musik metal Rottrevore Records ini senantiasa mengungkapkan bahwa maraknya percaloan di kalangan para pengrajin setidaknya adalah hal yang menyebabkan kerajinan bambu di mayoritas kawasan Jawa Barat cenderung mati suri. “Bayangkan, karinding dari pengrajin paling dibeli dengan harga sekitar sepuluh sampai tiga puluh ribu, para calo kemudian menjualnya dari harga lima puluh ribu sampai seratus ribu. Sebentulnya itu sih hak para calo atau distributor mau jual seratus ribu atau bahkan sampai dua juta juga. Masalahnya setelah mereka mendapatkan keuntungan, masihkah mereka ingat pada nasib para pengrajin?” Begitu selalu cetus Okid. Karenanya yang ia lakukan adalah meutus jalur percaloan dan membangun kebanggaan dalam diri pengrajin, sekaligus menghubungkan para pengrajin langsung dengan dunia luar sehingga kehidupan para pengrajin relatif lebih terjamin lagi sehingga ketersediaan karinding atau waditra-waditra lain senantiasa ada di pasaran, tidak menghilang seperti enam ratus tahun yang lalu.

Di Lembang, karinding juga berkembang pesat. Maman, salah satu murid Abah Olot mencatat setidaknya ada tiga kelompok yang memainkan karinding secara intens di Lembang. Mereka adalah karinding Kampung Gamblok Cikole asuhan Asep Giri Celempung Sawargi, Sasaka Barlak, dan karinding Kandaga di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP). Karinding Kampung Gamblok mempergunakan celempung Nagara Banceuy dan dalam sekali latihan, bisa satu kampung ikut berpastisipasi. Lagu-lagunya klasik, ada Bungsu Bandung, Bangbung Hideung, dan lain-lain. Sasaka Barlak—singkatan dari Sasaka Baru Laksana—beda lagi. Grup ini membawakan lagu-lagunya Darso. Sementara itu, grup Kandaga merupakan kolaborasi karinding, celempung, dengan rebab, kecapi, dan suling. Beberapa orang di BBPP yang dikirim ke luar negeri, secara intens terus memainkan dan menyebarkan karinding di Negara di mana mereka bekerja.

Karinding juga menjadi ranah penelitian yang eksotis bagi beberapa kaum muda di ranah komunitas independen Bandung. yang berhasil dicatat oleh Monir Books dan Bandung Oral History, setidaknya sudah ada beberapa anak muda yang secara intens meneliti karinding. Dua di antaranya adalah Dian AQ Maulana seorang mahasiswa sejarah Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), juga tergabung dalam kelompok belajar sejarah lisan Bandung Oral History (BOH), yang kini sedang menyusun skripsi bertema karinding di Bandung dan sekitarnya dan Iyang juga dari BOH yang meriset penulisan biografi Abah Olot dan Giri Kerenceng. Karinding juga menjadi sarana eksplorasi kelompok atau komunitas mahasiswa seperti yang dilakukan komunitas film United Record Pictures atau Under berbasis di kampus Universitas Komputer Indonesia (Unikom) yang digawangi Kapten Jeks dan Fajar Alamsyah, juga kelompok mahasiswa jurnalistik Fikom Universitas Padjadjaran dengan radio dan televisi kampusnya. Tanggal 22 Juni 2010, United dengan sutradara Kapeten Jeks marampungkan shooting video klip Hampura Ma Part 2-nya Karinding Attack. Ini bisa jadi adalah video klip musik karinding pertama yang pernah dibuat.

Akhirnya, perkembangan karinding kini menunjukkan gairah yang semakin menggebu. Nilai paling menggembirakan atas fenomena ini adalah kenyataan bahwa yang mengembangkan kesenian ini hari ini adalah anak-anak muda. Dalam pergelaran Sundanesse Metal Fest yang digelar GDN Corp dengan tajuk Besat Hinis Awi Jurit di Cicalengka tanggal 20 Juni 2010 dari empat belas kelompok yang tampil, tujuh di antaranya menggunakan karinding. Mereka adalah Babaung Maung, Kareueus, Mapah Layung, Markipat Karinding, Kelompok Kendan, Karinding Militan, Sada Awi, Karinding Attack, dan tentu saja sang master, Abah Olot dan Giri Kerenceng. Ini tentu adalah modal besar dalam membangun tatanan sosial dan budaya yang lebih sadar akan identitas dirinya sendiri di percaturan budaya global sehingga karakter dan metalitas individu yang terbangun semakin kuat dan membumi demi terbangunan tata sosial yang lebih baik, aktual, inklusif, serta integratif.

Penulis adalah pemain karinding.

Catatan Tambahan :

Di Desa Beji, Gunungkidul, sekitar 45 kilometer dari Yogyakarta, orang menyebut karinding dengan nama rinding. Berbeda dengan karinding di Jawa Barat yang umumnya dipukul atau ditoel, rinding dimainkan dengan cara disintir. Seutas tali diikatkan di ujung sebelah kanan dan kita menarik-narik tali itu untuk memainkannya. Siswanto Tukimin, pemain rinding mengungkapkan jika kekuatan hembusan napas dari mulut sangat membantu membangun suara rinding. Ini jelas berbeda dengan karinding Jawa Barat yang cenderung menggunakan bentuk dinding-dinding mulut dan bukaan kerongkongan untuk membangun suara karinding.

Muhammad Kasno, tetua Desa Beji mengatakan, rinding adalah hasil kreasi nenek moyang Beji bernama Onggoloco. Tokoh ini adalah salah satu patih Kerajaan Majapahit yang melarikan diri ke Gunungkidul. Ia beserta pengikutnya membuka hutan dan menetap di Desa Beji sebagai petani. Oleh Onggoloco, rinding dimainkan dalam pesta rakyat untuk menyambut panen padi. Setahun sekali, penduduk Beji juga punya tradisi sadranan untuk menghormati Onggoloco. Dalam pertunjukannya di Gunungkidul, rinding tampil bersama gubeng. Kombinasi permainan ini namanya Rinding Gubeng.

Artikel ini bersumber dari :

http://yoyoyogasmana.multiply.com/journal/item/1

http://rawayan.com/?p=1391

http://silokabudaya.com/?p=152

http://bandung.detik.com/read/2008/08/04/082505/982259/492/karinding-permainan-rakyat-sunda-dari-300-tahun-lalu

http://mahanagari.multiply.com/reviews/item/4

http://papathong.wordpress.com/2009/04/11/karinding-sebagai-pengusir-hama/

http://galuh-purba.com/seni-karinding-ulah-kingkin/

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/07/25/11330616/karinding.memang.pemikat.asmara

Wawancara Sakasadana oleh Kimung

Wawancara Gembok Teuas Markipat Karinding oleh Kimung

Wawancara Abah Olot oleh Jaka, Fajar, dan Under Crew

Comments
  1. Hatur nuhun kang info yg sangat edan keren pisan.
    sukses selalu mangs

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s