JURNAL KARAT # 22, 25 Juni 2010, TENTANG KARINDING PALID DAN SHOOTING HAMPURA MA II

Posted: June 28, 2010 in Uncategorized
Tags:

JURNAL KARAT # 22, 25 Juni 2010, TENTANG KARINDING PALID DAN SHOOTING HAMPURA MA II

Asuhan Jon 666

19 Juni, Reading Hampura Ma II

Sabtu siang yang cerah. Semua pihak yang terkait shooting klip Hampura Ma II berkumpul di Gedung Indonesia Menggugat. Selain personil Karat, tampak sang sutradara kapten Jaks dan Fajar Alamsyah, juga Ilva dan Andra yang dengan tekun terus berlatih koreografi ciptaan Ilva untuk klip ini. Mang hanif tampak menemani Ilva dengan setia, juga Bunda Andra serta Raffi dan Atar yang main-main di tepi kolam GIM. Proses reading berjalan dengan lancer. Koreografi sudah 90% dikuasai oleh masing-masing penari, Ilva dan Andra. Pun, proses yang mencerminkan alur shooting hari Selasa malam hingga Rabu pagi ini tuntas jam tiga pas. O iya, lokasi shooting ternyata pindah ke bukit kecil di kawasan Dago Bengkok. Puncak bukit tersebut adalah sebuah lapangan kecil dengan satu pohon rindang tumbuh di sana. Hmmm yummieee ^^

Wuihhh jadi degdegan bo hahahahaa… Tapi siap lah hajar!!!

Kepada yang penasaran mengenai proses reading serta alur waktu yang dibaca dan dibrifingkan bersama saat reading dapat menghubungi langsung FB Kapten Jaks dan Fajar Alamsyah. Merekalah otak-otak di balik klip ini. Sementara itu untuk yang penasaran koreografinya, silahkan hubungi FB Ilva Effendy. Neneng inilah yang menciptakan tarian kreatif untuk Hampura Ma II, yang menurut saya adalah gabungan antara tari tradisional, ballet, dan tentu saja drama.

It’s all good!!! Ye guys roxxx!!!

20 Juni, Minggu, Sundanesse Metal Fest, GDN Corp Cicalengka

Sejak awal Karat sepakat jika acara ini adalah acara yang luar biasa. Bagaimana tidak, acara yang mengatasnamakan Sundanesse Metal Corp ini digelar oleh anak-anak metal Cicalengka dan berkomitmen menampilkan grup-grup kesenian yang mengusung seni Sunda, khususnya permainan musik bambu. Oleh karena itulah acara ini diberi tajuk Besat Hinis Awi Jurit. Acara yang diinisiasi pionir Cicalengka, Mr. Gembok Teuas ini menampilkan empat belas grup kesenian, yaitu Angklung Pelajar, Calung LSN, Babaung Maung, Kareueus, Mapah Layung, Markipat Karinding, Punklunk, Kelompok Kendan, Sada Awi, Karinding Militan, Kendang Penca SD Permata, Karinding Attack, dan master karinding Giri Kerenceng. Acara ini juga memberikan waktu khusus untuk workshop perbambuan yang dilakukan oleh Erma dan Abah Olot dari Giri Kerenceng. Acaranya sendiri digelar di gedung GDN Cicalengka. Mayoritas grup-grup tersebut menggunakan karinding dan celempung dalam permainannya. Yang membuat haru, ternyata Ryan Scumbag, adik dari almarhum Ivan Scumbag juga ternyata memiliki grup karinding. Babaung Maung namanya. Kimung dan beberapa Karat lain sempat bertemu dengan Ryan yang kini sudah semakin besar itu. Sukses brad!!!

Rombongan Karat tiba di GDN sekitar jam tiga sore, berangkat bersama dari nikahan Friska adik Angelick dan Kimung di Cicaheum (congrat sisy ^^) menggunakan mobil dan motor. Okid yang membawa mobil memang berencana mengambil bamboo-bambu bahan karinding dan celempung yang sudah dipesan kepada Mr Gembok jauh-jauh hari sebelumnya. Bahan-bahan ini selanjutnya akan coba dibuat oleh Ki Amenk. Gedung GDN sudah ramai ketika Karat tiba. Puluhan anak-anak muda berbaju hitam-hitam tampak memadati  pelataran Gedung GDN. Rombongan Karat langsung disambut panitia dan segera digiring ke ruang musisi di lantai dua.

Adalah hal yang mengharukan sekaligus memacu gairah melihat anak-anak muda ini tampil di atas panggung dengan format music mereka masing-masing yang tentunya satu sama lain sama sekali berbeda walau tetap saja kita bisa menarik benang merah persamaan dalam permainannya. Selain hasrat yang sama dalam memainkan dan mengeksplorasi kesenian tradisional, persamaan secara musikalitas adalah belum adanya format akurasi dalam lagu yang digarap adik-adik semua. Hamper semua grup kesenian yang menggunakan karinding terjebak dalam permainan karinding yang palid. Memang sudah ada pola permainan lagu yang tersusun ditandai dengan variasi fill in instrument music yang tentunya juga sangat variatif, namun secara umum dadasar yang dibangun oleh karinding atau celempungnya tetap sama, statis, tak berubah, dan repetitif. Memang pola seperti ini mampu membangun atmosfir music yang meditatif dan jika disusun dalam pola yang baik tentu akan membuat para pendengar palid. Namun, pola permainan palid kurang memberikan alternatif bagi pengembangan music karinding, baik dalam hal penciptaan pola-pola pirigan baru bagi karinding hingga tingkat akurasi perubahan pola yang baik dan cepat. Pola palid juga cenderung menjebak musisi pada keseragaman cara permainan dan tentunya jika ini dibiarkan berlarut-larut maka akan bahaya, menjauhkan karinding dari kesegarannya, menjebak kesenian ini dalam basi di kemudian hari. permainan palid memang membuat musisi nyaman, namun hal terbaik dalam eksplorasi adalah keluar dari zona kenyamanan : menjadi nayman dalam ketidaknyamanan selamanya. Titik nol.

Karat manggung jam setengah delapan malam. Semangat anak muda yang semenjak siang menggeber panggung karinding membuat Karat juga bermain penuh semangat. Tujuh nomor digeber dari “Karinding Bubuka”, “Wasit Kehed”, “Dadangos Bagong”, “Burial Buncelik”, “Hampura Ma II”, “Lagu Perang”, hingga “Kawih Pati”. Secara umum permainan karat baik malam itu, kecuali Mang Hendra dan Mang Utun yang lupa membawa serta Guludug yang biasa dimainkan di “Kawih Pati”. Seperti ada yang kosong memang di lagu ini tanpa Guludug, namun permainan solo suling dan toleat Okid serta pola karinding Ki Amenk berhasil membangn nuansa lain dalam “Kawih Pati”.

Beberapa Karat tetap tinggal di tempat setelah main untuk menikmati permainan karinding Sada Awi yang meditatif dan juga tentunya permainan sang master karinding, Abah Olot dan Giri Kerenceng yang luar biasa!

22 Juni, Selasa, Shoot Hampura Ma II Part 1

Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu untuk shooting klip Hampura Ma II tiba juga. Waktu menunjukkan pukul 20.00 dan malam itu seluruh personil Karat berkumpul di rumah Ilva, kawasan Sangkuriang, untuk dirias oleh kakaknya Tika. Prancis vs Afsel dan makam malam dari Ilva menyemarakkan suasana malam itu. duh duh hatur nuhuns neneng hehehe… Selesai Karat, giliran Ilva yang kini dirias sesuai karakter di klip sang Dewi Bumi. Andra datang sekitar jam 21.00 dan segera dirias sesuai karakter di klip, Dewi Kejahatan yang merusak Ibu Pertiwi.  Jam 22.30 ketiksemua beres, rombongan segera berangkat ke lokasi shooting. Hanif, Bunda, dan Raffi menyertai rombongan ke lokasi shooting.

Langit malam itu cerah nian!! Bulan mencorong di antara kerlap-kerlip bintang. Walau sesekali kilatan langit di bumi selatan bagaikan memperlihatkan gumpalan-gumpalan awan yang coklat tua, naun semua cerah malam itu. justr ilatan-kilatan itu bagaikan ingin ikut yemarakkan suasana shooting malam itu. Mereka bahkan  menambah mistis suasana walau tentu saja tak menjadi horror hahaha.. Angin bertiup semilir membuai semua yang hadir malam itu. udara dngin menyergap namun tak membelenggu. Ia mentegarkan, mengiringi, memberkati karya yang akan dibuat malam itu.

Di tengah bukit kecil itu, kru Under United Color Picture sudah mempersiapkan segalanya. Empat tata lampu untuk mendukung shooting sudah disiapkan. Alat-alat lainnya ditata seputar area shooting untuk emudahkan proses. Setelah semua siap, Fajar yang memimpin shoot segera saja mengintruksikan semua untuk bersiap. Sebelumnya semua yang hadir berkumpul untuk berdoa agar semua lancar malam itu.

Malam menunjukkan pukul 00.00, waktunya take!!! Hajar mangs!!!

23 Juni, Rabu, Shoot Hampura Ma II Par 2

Take pertama tengah malam itu adalah perform Karat. Yang diambil pertama kali adalah Karat secara keseluruhan dan setelah beres, take kemudian diteuskan ke detil tiap personil. Detil pertama yang diambail adalah Kimung dan Hendra sebagai para pemain celempung. Detil selanjutnya adalah para pemain karinding, dimulai dari Ki Amenk, Jawis, dan kemduian Mang Utun. Para pemain suling diambil selanjutnya ersamaan dengan detil man sebagai vocal dan yang memainkan Awi Cai.

Take selanjutnya adalah perform dua penari, Andra dan Ilva. Yang pertama diambil tariannya adalah Ilva dan kemudian dilanjut oleh Andra. Selanjutnya, kru mengambil gambar tarian Ilva dan Andra berdua, menggambarkan duel tarian mereka, duel tarian kekuatan baik dan jahat yang saling berseteru. Take tarian lumayan memakan waktu lama karena koreografi yang sayang untuk dilewatkan tiap anglenya. Sambil menunggu take tarian, para personil Karat ada yang serius melihat tarian, ada yang mencari kayu bakar dan sempat kena shock therapy (hehehe…), ada juga yang tanding catur. Kru Under senantiasa mendokumentasikan semua momen baik dalam media foto maupun movie.

Tak selanjutnya adalah scene bersama, Karat dan dua penari serta pertempuran di antara mereka. Take awal adalah tarian Ilva dan Andra di sekitar personil karat yang memainkan waditra. Selanjutnya adalah tarian Andra yang menggoda para pemain karat untuk ikut bersamanya dalam kekuatan kegelapan. Take selanjutnya adalah kedatangan Ilva sebagai Dewi Bumi menghalau Dewi Kegelapan. Mereka berdua bertempur dengan heroic di sekeliling personil Karat yang tetap menekung, panceg pada waditra masing-masing, hingga akhirnya Dewi Kegelapan berhasil dijatuhkan.

Ada sebuah refleksi transendental dari sifat ilahiah dewa-dewi ke sifat humanitas manusia ketika Dewi Kegelapan jatuh. Sifat dewinya hilang berganti pilu, sesal. Sang dewi menangis meminta ampunan dan penyerahan diri untuk diraih oleh Karat yang berlalu begitu saja, sama sekali tak menolehnya. Sifat humanitas juga ditampilkan dalam sifat welas asih Dewi Bumi yang tetap saja meraih Dewi Kegelapan setelah segala hal terjadi. Ini mengukuhkan sebuah perenungan bahwa sifat-sifat ilahian tak demikian jauh jika manusia mau melihat jau ke dalam dirinya sendiri. Ini cerminan sifat dua kutub ilahiah dan humanitas yang seperrtinya jauh, namun sebenarnya—seperti disebutkan dalam kitab Qur’an—lebih dekat daripada urat syaraf.

Salut kepada Ilva dan Andra dalam take ini. Andra bahkan sampai jatuh beberapa kali menimpa Kimung, Mang Jimbot, dan Ki Amenk karena sulitnya adegan tarian pertempuran yang menjatuhkan Andra. Jatuh yang terakhir lumayan fatal. Pinggang Andra menimpa tuur Mang Jimbot sebelum menghantam tanah yang keras. Belum lagi busana tipis bak yang dikenakan Ilva maupun Andra. Andra memakai pakaian panjang namun dari bahan yang tipis dan terbuka bahunya, sementara Ilva mengenakan kain kebaya yang, you know kebaya yang menerawang badan. Stamina yang fit dari dua model kita ini memang sangat mengagumkan mengingat mereka terus bisa menjaga irama dengan konstan hingga akhir shooting. Salute you both nengs!!!

Setelah scene ini semua break dulu untuk scene selanjutnya yang dilakukan pagi hari sekali ketika fajar pertama kali menyingsing. Waktu menunjukkan setengah empat pagi. Dingin semakin larut di bukit itu, namun kehangatan terpancar dari semua yang hadir di sana.

Akhirnya, selepas subuh, semua kembali bersiap. Dan benarlah. Fajar menyingsing di ufuk timur pelan-pelan. Di tengah takjub dengan aura cahayanya, take berikutnya dilakukan. Tarian Ilva dan Andra ditake. Kali ini yang diambil adalah silhuet tarian dua dewi itu. Dua sosok bayangan menari saling mengisi menunjukkan dua karakter yang berbeda. Take selanjutnya adalah silhuet tarian perang dua dewi di antara Karat hingga akhirnya Dewi Kegelapan dijatuhkan. Semua dilakukan dengan latar nuansa langit peralihan dari malam menuju fajar. Damn! Mengintip tarian dua dewi melalui kamera membuat saya sangat merinding…

Secara keseluruhan gambar yang diambil sangat puitis, penuh dengan kisah-kisah bisu penyesalan mendalam atas tindakan-tindakan tak senonoh kepada ibu dan Ibu Pertiwi serta pertempuran-pertempuran menjaga mereka berdua. Sebuah epic yang apik.

24 Juni, Kamis, Panggung Karat di Seminar Internasional Kewirausahaan Sosial, Universitas Padjadjaran

Ini tentu sebuah kesempatan untuk berbicara mengenai karinding di kalangan yang lebih jauh lagi : para wirausahawan. Dan ketika Karat sampai di aula lantai 4 Gedung Rektorat Unpad, ada perasaan lega melihat para peserta mayoritas adalah anak-anak uda. Ini memberikan secercah gambaran cerah bahwa kaum muda di Indonesia sudah semakin sadar akan nilai-nilai kemandirian yang dibangun melalu usaha-usaha kewirausahaan social. Okid dari Ujungberung Rebels menjadi pembicara juga di sesi kedua siang hari ini bersama seorang dosen Fakultas Ekonomi Unpad, seorang pratisi teori-teori kewirausahaan.

Karat manggung atraktif dalam kesempatan ini. Selain menggeber line up lagu yang sama ketika di Cicalengka, ada interaksi antara Karat dengan audiens. Selepas lagu Burial Buncelik, Karat mengundang beberapa orang yang penasaran bermain karinding untuk maju ke panggung dan mencoba memainkan karinding dan celempung. Beberapa audiens maju dan belajar klat untuk bermain bersama Karat saat itu. Suasana hangat merebak.

Karat menutup panggung dengan Lagu Perang dan Kawih Pati, sebelum akhirnya Okid maju ke forum untuk sharing bagaimana kemandirian perekonomian anak-anak music bawahtanah Bandung, khususnya Ujungberung Rebels terbentuk, fenomena-fenomena yang merebak, serta beberapa usaha yang dilakukan berkaitan dengan persentuhan Ujungberung Rebels dengan kaum adat Sunda : meningkatkan penghasilan pengrajin dan memotong percaloan. Sistem perekonomian ini diharapkan bisa menggugah banyak sisi sensitif dari idealisme syiar budaya yang sudah lama tak tampak dalam gerakan-gerakan budaya yang cenderung mistis dan politis. Sisi sensitif tersebut sebut saja moral sosial, kemandirian, harga diri, dan komitmen untuk konsisten : silih asah silih asih silih asuh.

Ahung, amin.

25 Juni, Jumat

Karinding ti Citamiang

Kiriman Nazaruddin Azhar on Jan 2nd, 2010 dina Iber Salalar. Pairan tiasa dipaluruh dina RSS 2.0. Rawayan nampi kintunan seratan. Dulur-dulur nu mikahaat basa sareng budaya Sunda tiasa ngiring aub janten Kulawedet Rawayan.

Di gulampéng Pasir Mukti, karinding kapireng deui

sora nu mentang dangiang, ti landeuheun Citamiang

ditabeuh ku haté nu nyidem tineung

keur nu leuseuh balas nanjak mapay jalan kahirupan

Ngaranna Mang Oyon Noraharjo, genep puluh lima taun

di buruan imahna inyana ngadongéng

na lahunan karinding ngagolér kénéh

na rénghapna nu katangen kaguligah

Di Cinéam hujan teh geus lila raat, Jang

urut panén buah salak nu tinggal carangka nangkub

ngitung ladang bati ngésang

ngan cukup keur nutup hutang

Tapi emang mah teu hariwang

hirup diatur ku Nu Maha Welas Asih

nu kiwari jadi pikiran jeung keur ditarékahan téh

kumaha sangkan seni karinding teu ilang musnah

Karinding teh kareueus emang, Jang

ti keur emang di SR taun limapuluhan

ayeuna ukur emang sorangan nu ngagugulung

da balad emang nungtut dipundut Nu Agung

Tapi alhamdulillah tarékah téh aya tapakna

ka dieu sok daratang barudak salapan urang

murid SD aya genep, sésana ti Sanawiyah

unggal minggu latihan diajar nabeuh

Pikeun emang mah karinding téh lain ukur kaulinan

atawa waditra nu ditabeuh sabot kesel

tapi estu dijieun jimat titinggal karuhun Sunda

nu kudu salawasna diropéa tur dipibanda

Taun limapuluh lima, emang boga pangalaman

nabeuh karinding na pasanggiri seni antar SR di Cikondang

nya ku emang pisan pinunjul kahijina téh kacangking

Kagok resep jeung hayang milu miara

taun genep puluh genep emang nyieun grup karinding

dingaranan ‘Sekar Komara Sunda’

nya lumayan réa nampa pangbagéa

Tapi éta téh baheula

ayeuna mah meureun puguh geus béda jaman

teu loba nu miroséa

komo deui nu nanggap atawa méré bantuan

keur waragad ngokolakeun

Kungsi éta gé ditanggap

di Hotél Preanger sababaraha taun ka tukang

dititah ngahibur turis sakalian ngenalkeun

yén di urang aya seni anu luhung

Kungsi deuih babarengan jeung seniman ti UPI Bandung

ti Kabumi nu diluluguan ku Gianjar Saribanon

taun 2002 maén di buruan Gedung Kesenian Tasik

karinding diadumaniskeun jeung jimbé

digerindo, kendang, rebab jeung rain stick

teu wudu jadi pintonan nu matak hookeun

waas emang mah, éta ku nu arolohok terus keprok

malah réa nu terus ngajak sasalaman

horéng karinding téh, cenah

bisa surup jeung waditra naon waé

boh waditra asli Sunda, boh waditra ti mancanagara

Kungsi deuih maén di Gasibu, 3 Mei 2003

ti harita téh acan kungsi manggung deui. Kitu.

Eta gé aya nu ngajangjian, ti Dinas Pariwisata Kabupatén

cenah rék ditanggap di TMII Jakarta

tapi tepi ka ayeuna can aya deui béjana

Kahayang téh teu sabaraha da

ngan ukur miharep pangrojong

sangkan karinding bisa terus diwanohkeun

ka sakur urang Sunda, utamana ka nonoman

Keur mah emang geus kolot deuih

katambah heureut pakeun pungsat bahan

da enya gé kasebutna pangsiunan pagawé nagri

kungsi ngawulang mangtaun-taun di SMP Pasuruan

hih, da tepi ka ayeuna gé teu kungsi nampa duit pangsiunan!

Pangsiun taun 1992

sagalana geus diuruskeun

tapi lebeng teu nampa sapésér acan

Kitu, Jang

Ngeunaan asal muasal karinding

ku emang rék didongéngkeun

da mémang aya dongéngna. Kieu yeuh:

Jaman baheula Cinéam téh asup ka wewengkon Galuh

hiji karajaan nu nanjung gemah ripah répéh rapih

di dieu, persisna di kampung Cikondang

aya saurang jajaka gagah perténtang

Kalamanda nu katelah, masih kénéh réréhan ti ménak Galuh

Kalamanda pamuda hibar komara

hiji mangsa tepung rérét jeung mojang dina jandéla

nu keur anteng neuteup kembang patamanan

nu laligar na wates teuteup pingitan

Sekarwati, teureuh ménak geulis nandingan pohaci

geus ngabandang Kalamanda jadi babandan simpéna

teu beurang teu peuting kabawa gering

rérét si mojang terus napel ngalangkangan

Geus réa nu ngahelaran, cenah, anak itu anak ieu

jawara katut santrina nu mitresna Sekarwati

tapi si mojang ukur imut sabengbatan

minangka jawaban pikeun nu kapéngpéongan

Kalamanda terus néangan akal

sangkan si mojang haténa nyantél

ka manéhna. Ukur ka manéhna

Nya hiji peuting meunang ilapat

sanggeus tirakat kuru cileuh kentél peujit

manéhna kudu nyieun hiji waditra

nu sorana kudu matak ngabandang nu dipitresna

Sanggeus réa nu dijieun, itu lain ieu lain

ahirna mah geuning manggihan

waditra basajan tina palapah kawung garing

Hiji peuting Kalamanda rerencepan

dianteur gumuruh rasa na dadana teu katahan

ngadeukeutan jandéla kamar nu dipikangen

terus nabeuh éta waditra anteb pisan

Sajeungkal palapah kawung, ditabeuh ku nu keur gandrung

sorana lir miboga kasaktén

tembus ka sanubari sang putri

nu di kamer pingitan keur lelenyepan

Teu kudu dicatur lalakon nu saterusna

da ku saréréa gé tangtu kamaphum

Sekarwati lééh haténa

ku sora nu ahéng tapi matak genah rasa

Kalamanda jeung Nyi Putri Sekarwati

tepung asih diraketkeun ku wirahma éta waditra

nu saterusna jadi wawakil gerentes geter cinta rumaja

nu keur kasmaran jaman harita

Éta waditra téh ku Kalamanda

diaranan ‘karinding’

Tina ngaran sato lucu nu sok aya di sérang

nu ngaranna kakarindingan

Ayeuna mah sato kakarindingan téh geus tumpur

ukur hirup na implengan nu apal kana ngaranna

tapi ari karinding mah ulah sina ilang musnah

da éta téh waditra titinggal karuhun Sunda!

Ngaranna Oyon Noraharjo

di imahna nu dijieun sanggar “Sekar Komara Sunda”

di Kampung Citamiang, Rt 04 Rw 01

Desa Pasir Mukti, Cinéam, Kabupatén Tasikmalaya

alon nyintreukan deui karinding dina biwirna

ngawihkeun geter batinna

sabot pucuk-pucuk pasir kalingkupan ku halimun

sabot layung tinggal sagedat di langit kasorénakeun

http://rawayan.com/?p=1391

Bersambung ach…

10 Playlist : Tarawangsa, Fugazi, The Beatles, Darso, Franz Ferdinand, Dead Kennedys, Danzig, Pantera, Nining Meida A.S., Sonic Torment

Books : Chronicle of a Death Foretold by Gabriel Garcia Marquez, Milo by Michael Farr

Movies : The Insider, Fantomas vs The Melvins Live,

Quotes :

“Selain sangat mirip aslinya, anjng-anjing yang digambar Herge juga sangat mirip para pemiliknya” Michael Farr di Milo

“Dia mengingatkanku akan iblis. Tapi kau sendiri yang memberitahuku bahwa hal-hal semcam ini tidak seharusnya disampaikan lewat tulisan” Ibuku dalam Chronicle of a Death Foretold by Gabriel Garcia Marquez

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s