Antara Asep Sunandar, Darso, dan Karinding Attack oleh Jatnika Wibiksana

Posted: June 22, 2010 in Uncategorized
Tags:

Antara Asep Sunandar, Darso, dan Karinding Attack
oleh Jatnika Wibiksana

Ketiganya sukses membawa seni tradisional Sunda ke domain lebih luas, cair, dan populer.

Dalam tulisan Perubahan Kode Visual Raut Golek Asep Sunandar Sunarya (Jurnal Rekacipta Volume II No. 2 Tahun 2008), Yasraf Irfansyah menggambarkan bagaimana dalam satu fase karinya Asep Sunandar Sunarya sempat dianggap menyimpang dari pakem pewayangan yang selama bertahun-tahun dianut para dalang wayang golek. Asep Sunandar dituding ngarempak kaidah filosofis dan estetis, salah satunya dengan mengubah bentuk mata wayang golek dari peureum menjadi beunta. Asep Sunandar juga sempat dianggap ‘berdosa’ karena meyisipkan tari jaipongan dalam gerak wayang serta berimprovisasi dengan menampilkan wayang raksasa yang bisa muntah. Yasraf mengistilahkan kondisi yang dihadapi Asep Sunandar pada masa itu sebagai abberant decoding, yakni sebuah kondisi ketika tatanan nilai yang sedang berlaku memiliki penafsiran berlawanan arah dengan pesan yang hendak disampaikan penyebar pesan.

Akan tetapi, sekarang semua tudingan itu telah tersimpan sebagai cerita masa silam yang mengisi berkas salah satu bab sejarah karir Asep Sunandar. Seperti halnya kisah ketika Institut International De La Marionnete, Charleville, Perancis, mengundangnya selaku dosen luar biasa.

Siapa hendak merajuk bila Asep Sunandar ditahbiskan jadi ikon kesuksesan ketika seni tradisional harus mengalami komodifikasi sebagai sebuah upaya positif — bukan permisif — agar lebih diterima jaman. Dan meski era keemasannya sudah berlalu, saat ini ia masih berhak atas gelar dalang wayang golek paling tenar. Sampai saat ini Asep Sunandar menjadi satu-satunya dalang golek yang masih memiliki kesempatan tampil di stasiun televisi swasta nasional. Sebuah prestasi yang tidak bisa dilakukan oleh dalang golek mana pun, termasuk Dede Amung Sutarya yang secara kualitas ngadalang tidak kalah dengan Asep Sunandar.

Namun, makna paling esensial dari kasus Asep Sunandar ialah dengan sentuhan kekinian wayang golek ternyata bisa menerobos wilayah lain di luar tatar Pasundan, walaupun ia tetap dipentaskan dalam Bahasa Sunda. Ini jelas sebuah kemajuan sekaligus pengakuan, sebab tidak banyak seni Sunda yang bisa merambah dan diterima warga nasional. Maka segenap warga Sunda sudah sepantasnya mengucap terima kasih atas jasanya tersebut, termasuk mereka yang selama ini menggugat gaya berkesenian ki dalang.

Darso

Apa yang dilakukan dan dialami Asep Sunandar serupa dengan Hendarso atau yang lebih populer dengan nama Darso. Darso juga pernah menghadapi situasi abberant decoding ketika menyanyikan Kembang Tanjung Panineungan karya Mang Koko dengan sentuhan calung. Ini jelas sebuah langkah tak lajim sebab Kembang Tanjung Panineungan merupakan resital cianjuran yang biasanya dilantunkan sinden dalam resam melankolis. Situasi abberant decoding makin menjadi kala Darso mengemas calung dengan sentuhan pop. Tak hanya itu, ia juga menampilkan performa counter culture dengan mengenakan jas saat manggung dan bukannya memakai baju pangsi serta celana komprang dengan kepala dibebat iket.

Darso memutuskan jalan terus di hadapan prejudisme kaum kolot yang menganggapnya telah menelikung pakem. Dalam beberapa kesempatan, Darso berulang kali mengatakan apa yang dilakukannya hanya untuk memberi aksesori terhadap calung agar kesannya tidak terlalu kampungan. Dan keputusannya itu terbukti jadi resep mujarab yang mengantarkan calung ke area lebih luas. Salah satu hasilnya, calung versi Darso sekarang jadi komoditas industri musik, meski hanya dalam skala lokal.

Yang tidak kalah mencengangkan, secara personal Darso menjelma jadi sosok reputatif, bukan lagi figur eksentrik yang dianggap pembangkang atau perusak pakem baku calung. Saat ini membicarakan calung adalah membicarakan Darso. Bahkan kemudian ia jadi role model bagi musisi calung generasi setelahnya. Darso juga dinobatkan sebagai pahlawan lokal sehingga pada akhir tahun kemarin sebuah entitas mahasiswa di Bandung membuat konser persembahan yang diberi tajuk Darso The Phenomenon.

Karinding Attack

Dalam skala berbeda, spirit Asep Sunandar dan Darso bisa kita temui dalam sebelas anak muda yang menamakan diri Karinding Attack. Walaupun namanya berbau asing, jangan salah, ini adalah grup musik yang memainkan karinding — sebuah instrumen unik warisan karuhun Sunda yang dimainkan dengan cara ditiup dan ditepuk. Di tangan mereka, instrumen berbahan dasar bambu atau pelepah aren yang nyaris punah ini ditampilkan dengan sentuhan kekinian yang boleh dibilang ‘gila’.

Kegilaan mereka bukan di wilayah musikalitas, karena musik yang mereka mainkan tetaplah seperti karinding yang selama ini kita kenal. Tapi, mereka berani membawa seni ini ke domain yang sama sekali tidak terduga. Karinding Attack menjadikan karinding bukan lagi seni buhun dengan kesan ketinggalan jaman, lantaran disandingkan dengan musik metal ekstra bising tanpa ada kesan dipaksakan. Bayangkan saja, Karinding Attack pernah berkolaborasi dengan Tcukimay, sebuah band pengusung aliran trash-punk. Mereka juga sempat tampil sebagai pertunjukan ekstra dalam festival musik metal Deathfest 2009 yang digagas komunitas pemusik underground dari wilayah Ujungberung, Bandung. Semua upaya tersebut lantas melahirkan apa yang mereka namakan sebagai Sunda Underground.

Kegilaan makin terasa bila melirik judul lagu-lagu mereka. Sebut saja Hampura Ema¬ ¬— yang kemudian mereka terjemahkan secara jenaka menjadi I’m Sorry Mom!, Lagu Perang, Wasit Kehed, atau New York Death Metal. Harap dicatat, sebelumnya sulit menemukan referensi mengenai komposisi karinding.

Kolaborasi dengan band punk, didaulat tampil dalam festival musik metal, lalu meretas sebuah komunitas bernama Sunda Underground, memang tidak lepas dari latar belakang personel Karinding Attack yang mayoritas pemusik metal. Tetapi, di balik itu harus kita akui mereka telah menempuh langkah yang terbukti memiliki efek positif bagi popularitas seni dan instrumen karinding. Belakangan karinding bukan lagi makhluk terlalu asing di telinga anak muda. Tengok saja akun Facebook mereka yang sampai akhir Januari kemarin sudah memiliki penggemar dua ribu lebih. Bahkan saking tingginya antusiasme anak muda terhadap karinding, alat musik ini mulai dijual di Common Room, Jalan Kiayi Gede Utama Utama No. 18, Bandung, yang menjadi markas mereka.

Padahal sebelumnya seni maupun instrumen karinding nyaris hilang ditelan kemajuan jaman. Dinas Pariwisata Kabupaten Tasikmalaya yang membawahi Kampung Citamiang — sebagai salah satu daerah yang diklaim jadi tempat kelahiran karinding (Kompas Jabar, Senin 14 Mei 2007) — tidak bisa berbuat banyak menghadapi kehendak alam tersebut.

Beruntung Karinding Attack tak sempat dihadapkan pada situasi abberant decoding, mengingat sebelum mereka berkiprah tidak banyak yang peduli dengan kesenian ini. Dan jika suatu saat Anda melihat banyak anak muda mengenakan iket kepala khas Sunda di pentas musik underground, itulah salah satu jasa (kecil) Karinding Attack.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s