JURNAL KARAT # 19, 4 JUNI 2010, HAMPURA MA PART 2 RECORDING SESSION : AND NOTHING ELSE MATTER…

Posted: June 7, 2010 in Uncategorized
Tags:

JURNAL KARAT # 19, 4 JUNI 2010, HAMPURA MA PART 2 RECORDING SESSION : AND NOTHING ELSE MATTER…

Asuhan Jon 666

29 Mei, Karat Live in Bumi Sangkuriang
Acara kali ini diinisiasi oleh Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad sebagai penggalangan dana bagi klub tenis penyandang cacat (kalo ga salah hihihi). Acaraya adalah lelang lukisan dan si Karat kebagian maen di awal acara setelah tari jaipongan yang dimainkan para penari dari Lises Unpad, genknya mang jimbot. Ketika Karat masuk ke ruang artis di Bumi Sangkuriang para penari itu lagi asyik merajuk pada jimbot, “atu a jimbot atu a jimbot…” hihihihiii…

Ini adalah gig dengan audiens para agan-agan yang rata-rata paruh baya atau menjelang usia senja. Namun demikian Karat tak mau menurunkan tensi permainannya demi audiens ini. Karat akan tetap manggung dalam format biasa. Maka list pun disusun seperti biasa saja. Tujuh lagu dihajar sejak MC Brokoli dan MC Iput memanggil Karat. Akustik Bumi Sangkuriang yang baik menunjang permainan Karat, walaupun tata suara tergolong kurang untuk ukuran panggung seperti itu. Secara keseluruhan, that’s the kick ass gig!

Hajar hajar hajar perang!!!
Rahayu semoga sukses penggalangan dananya mang!!!

30 Mei, Sundanesse Metal Fest
Panggung ini jauh berbeda dari panggung sehari sebelumnya. Apa bila di Bumi sangkuriang kental dengan nuansa classy yang menunjukkan keagan-aganan sebuah strata masyarakat, maka Sundanesse Metal Fest penuh dengan gejolak anak muda dengan segala kebebasan jiwa dan keterbatasan sarananya. Sundanesse Metal Fest digelar di lapangan SMK 5 Bandung (dulu STM 5, sekolahnya Andris Burgerkill, Awey Bedebah, dan Bebi Beside), di kawasan Riung Bandung, sekitar ujung jembatan menuju Gedebage, Ujungberung. Sejak dari gerbang masuk venue, anak-anak muda berpenampilan hitam-hitam, bergaya punks dan metal memenuhi jalanan. Beberapa polisi juga tampak berjaga-jaga. Udara begitu panas sementara awal kelabu menggantung sekitar matahari yang terik.

Di sana Gugat dengan duet maut Okid – Achie tampil membakar massa yang memenuhi arena siang itu. Semakin sore arena semakin padat oleh kaos-kaos hitam dan gahar metal yang dimainkan. Kebanyakan adalah metalhead2 muda, adik-adik yang haus akan panggung metal di Bandung ini. Namun demikian, para veteran juga ternyata tak mau kalah hadir sama adik-adik. Terlihat Agung Haze, Butche the Butcher, Erick Jimbo, Dinan Profanatixa, Budi Bey, Dani Jasad, Tito Kelly, dll dll hadir di arena. Karat sendiri main jam 4 dalam jadwal.

Namun demikian, acara ternyata terancam dipotong oleh polisi. Izin dari polisi untuk acara ini ternyata hanya sampai jam tiga sore saja dan karenanya, tiga band tersisa ter ancan tak main. Dua di antara band-band yang tersisa adalah Sedusa dan Karat. Untuk itu, Man lalu mengupayakan perpanjangan waktu kepada Pak Kepala Polisi yang saat itu hadir dan ternyata memang kenal dengannya. Setelah dibujuk-bujuk, Pak Pol akhirnya berbaik hati untuk memberikan perpanjangan waktu, hanya untuk Karat saja—mengingat Karat adalah satu-satunya penampil yang memang bernuansa seni tradisional Sunda. Tapi tiba-tiba… byuuurrr… hujan turun dengan deras bagai air dikucurkan dari langit…

Namun demikian bukan Karat namanya kalau terhalang hujan. Zemo bahkan nyeletuk ketika Karat akhirnya memutuskan tetap maen walau hujan turun deras, “Tong boro hujan, kadurukan ge maen terus si Karat mah hahaha…” Dan demikianlah Karat manggung.

Melihat sosok Man dan personil2 Karat yang lain akhirnya tampil di panggung, audiens yang awalnya merapat ke tempat-tempat berteduh mulai kembali ke tengah arena tanpa menghiraukan hujan yang turun. Semua kembali berkumpul dan memadati arena yang sebelumnya dipakai pogo dan slamdancing. Dan ketika Karat membuka gig kali itu dengan Karinding Bubuka, hujan yang tadi deras, tiba-tiba berhenti perlahan-lahan. Cuaca tiba-tiba sejuk, bahkan berangsur cerah.

Karena singkatnya waktu, Karat tampil hanya empat lagu, Karinding Bubuka, Wasit Kehed, Burial Buncelik, Lagu Perang, dan ditutup oleh Kawih Pati yang fenomenal. Penampilan Karat di panggung sore itu sarat membawa aura positif bagi semua yang hadir. Selain music akustik bamboo yang mengalun dan menghentak, ucapan-ucapan Man yang bernuansa membangun dan menyemangati semua yang hadir untuk terus melestarikan dan mengembangkan budaya tradisional, membangun diri, menghormati semua orang—termasuk juga pak Dalmas, pak Pol PP, dan Pak Pol yang hadir saat itu—sangat menyejukkan semua pihak. Katika akhirnya Karat turun panggung, Pak Polisi akhirnya malah mengijinkan sisa band yangbelum manggung untuk main, walau hanya diberi jatah satu lagu saja.

Whaa trims Pak Pol!! That means a lot to us!!

Hendra malah sempat mengutarakan keterharuannya atas kondisi yang kemudian berbalik semakin kondusif, sampai akhirnya acara selesai dengan tertib dan damai. Alhamdulillah…

1 Juni, Selasa Ceria, Rekaman Hampura Ma Part II
Pagi itu para personil Karat sudah berkumpul di Studio Extend Neglasari Ujungberung. Rencananya, rekaman Hampura Ma II digeber sepanjang shift pertama Studio Extend antara jam 9 sampai 15 dengan engineer Pa Andri. Setelah berbagai pesiapan, akhirnya jam sebelas Karat masuk studio untuk merekam guide utnuk rekaman pertrack tiap personil. Setelah beberapa kali mencoba, bada dhuhur Karat berhasil merekam guide Hampura Ma II. Loading guide ini dilakukan oleh Casper.

Tanpa buang waktu, Kimung kini yang masuk untuk mulai rekaman pertama take celempung yang menjadi indung atau dadasar Hampura Ma II. Pa Andri kini sudah kembali dan berada di balik peranti rekaman Studio Extend. Kimung melakukan beberapa kali take celempung sampai akhirnya fiks. Setelah itu, giliran Hendra yang masuk take celempung untuk mengisi dialog dengan celempung Kimung di lagu ini. Beres Hendra, Mang Utun kini yang take karinding. Namun karena mang Utun menglamai kesulitan dalam mengisi sesi karinding, Aki Amenk yang kemudian maju duluan merekam pirigan dan surupan indung karinding. Setelah itu mang Utun pun dengan lancar mengisi karinding. Kimung masuk lagi untuk merekam pirigan karindng yang sama dengan indung karinding Aki Amenk. Wisnu kini yang masuk. Berbeda dengan Aki Amenk, Mang Utun, dan Kimung, Wisnu memainkan sesi karinding yang berbeda. Lebih variatif, groovy dan membangun suasana. Wisnu menutup sesi rekaman karinding sebelum berlanjut ke sesi waditra tiup oleh Okid dan Jimbot.

Konsep waditra tiup Hampura Ma II yang dibangun berdua oleh Okid & Jimbot adalah permainan nada dalam irama yang sebangun. Okid memainkan toleat nada tinggi sementara Jimbot bermain suling besar bernada rendah. Okid masuk pertama kali dan kemudian Jimbot mempertebal rasa yang dibangun Hampura Ma II. Selanjutnya take lebih mirip dialog. Secara bergerilya Okid dan Jimbot merekam semua fill irama waditra tiup. Semua dilakukan dengan spontanitas. And nothing else matter.
Dan waditra tiup berhasil membangun lagu ini lebih merasuk ke dalam.

Namun demikian, eksekusi terakhir lagu tetap ada di sesi vokal. Dengan tarap nada dan rasa yang pas, lagu ini akan memiliki kekuatan yang semakin utuh. Man member dua opsi konsep untuk lagu Hampura Ma II. Konsep pertama adalah ia ngawih ala Mamaosan, melantunkan lrik-lirik Hampura Ma II dengan langgam merdu seperti umumnya lagu Sunda. Kimung sejak awal latihan sudah jatuh hati pada langgam ini. Konsep kedua adalah mengisi vokal dengan suara yang raw&low, rendah, cenderung muram dengan suara yang ditekan, distortif, keluar dari cekungan kerongkoran yang dalam, gelisah, namun penuh keyakinan. Atmosfer lagu yang terbangun adalah perjalanan jauh ke dalam diri dan sejarah individu, melalui pengakuan akan ketakberdayaan, mahluk pendosa, kotor dan hina dina. Rasa yang hanya bisa ditebus oleh penyesalan yang dalam dan permintaan ampun kepada sosok Ibu yang paling dekat dengan satu individu. Sosok yang terlanjur disobek-sobek harkatnya selama ini.

Konsep kedua yang akhirnya dipakai Man untuk mengisi Hampura Ma II. Tata vokal Man kemudian diberi nuansa suara waditra Awi Cai yang dimainkan Okid secara sekilas di akhir sasadu Man kepada Ma.
Karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore (shift beres jam tiga sore seharusnya), Karat dan Pa Andri akhirnya break. Namun demikian, Karat rencananya nambah shift setelah magrib sampai malam untuk menyempurnakan Hampura Ma II. Rencananya Aki Amenk dan Wsinu akan kembali masuk untuk rekaman karinding pirigan lain yang lebih variatif. Awalnya untuk mempertebal tata suara karinding Wisnu, tapi berbagai variasi akhirnya ditemukan dan direkam Ki Amenk dan Wisnu. Setelah itu Hampura Ma II akan langsung dimiksing oleh Pa Andri dan Karat. Tapi ternyata rekaman hanya sampai loading suara karinding Ki Amenk dan Wisnu saja, belum sampai ke tahap miksing.

Namun demikian, hasil rekaman sudah dirasa baik dan cukup untuk memberikan dasar-dasar kepada Kapten Jek dkk untuk menggarap klip Hampura Ma II.

3 Juni, Sharing Perubahan Konsep Video Klip
Malam itu di Commonroom Kapten Jek dkk mempresentasikan konsep baru untuk lagu Hampura Ma II kepada Man. Rencananya akan ada tarian oleh dua model Andra dan Kate, dengan koreografer Ilva. Andra yang mojang bandung banget diplot untuk mengenakan gaun Eropa, sementara kate yang memang gadis Inggris akan mengenakan kebaya Sunda. Mereka berdua akan menari berhadapan, merefleksikan masing-masing identitas yang diusung. Sementara itu Karat perform dengan kondisi yang kotor, buruk, muram, koyak moyak. Syuting dilakukan di reruntuhan Pemandian Cihampelas ketika matahari terbit.

4 Juni, Karat live in Commonroom for Kawan2 Malaysia
Ini adalah acara CEN, Creative Enterpreneurship Network. Mereka ingin bertemu dengan komunitas Ujungberung Rebels. Untuk itu maka akan digelar presentasi, pemutaran film Rottrevore Death Fest, dan gigs. Karat diminta maen dalam acara itu. selain Karat awalnya acara ini akan mengedepankan The Cruels dan Undergrod. Namun sayang, karena berbagai hal gig ini tak jadi. Hanya Karat yang tampil. Margib itu Karat tampil didepan sekitar 20 seniman dan musisi Malaysia dan sekitar 30an kawan-kawan terdekat. Karat menghajar dengan “Karinding Bubuka”, “Wasit Kehed”, “Burial Buncelik”, “Dadangos Bagong”, dan “Kawih Pati”. Setelah presentasi videographer dari Malaysia, Fairuz, semua cair dan saling berbincang. Kebanyakan pada nongkrong di luar menikmati malam dan bazaar yang digelar Remains Rottrevore malam itu.

Trimakasi buat mang Acim dari Baduy yang singgah ke Commonroom dalam kesempatan ini, Princess Wilda & Aox dari Ciparay Crew yang menyempatkan hadir juga.

Bersambungs…

Jon 666 Playlists,
Musics : Tarawangsa, Favour Balet TK B Permata Ayah Bunda, Lagu Susu Karinding Attack feat Neng Elisa, Sonic Torment, Nicfit, Burgerkill, Reverb And Revolver, The Beatles, Faith No More, Sepultura

Movies : Home, Revolutionary Road

Books : Sejarah Modern Awal, Giant Molecules, Si Kabayan di Jaman Jepang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s