JURNAL KARAT # 18, 28 Mei 2010, Mantapkan Rekaman dan Komitmen Menggarap Lagu Bahasa Indonesia “MAAP KAMI TIDAK TERTARIK PADA POLITIK KEKUASAAN” dan “KELAS RAKYAT”

Posted: May 31, 2010 in Uncategorized
Tags:

JURNAL KARAT # 18, 28 Mei 2010, Mantapkan Rekaman dan Komitmen Menggarap Lagu Bahasa Indonesia “MAAP KAMI TIDAK TERTARIK PADA POLITIK KEKUASAAN” dan “KELAS RAKYAT”

Asuhan Jon 666

22 Mei, Lagu Susu Live Featuring Neng Elisa

Panggung ini secara khusus dipersembahkan kepada Neng Elisa sebagai kenangan sebelum ia berangkat ke Finlandia hari selasa. Karat manggung jam setengah tujuh malam, Sabtu itu, dan ini adalah panggung istimewa. Selain karena menampilkan Neng Elisa, Karat juga kedatangan tamu-tamu dari Toronto, Kanada yang ingin melihat dan mendengar musik karinding dimainkan setelah sehari sebelumnya dibuat penasaran oleh Kimung yang memainkan waditra ini di forum perkenalan mereka. Kawan-kawan dari Toronto yang hadir sore itu adalah Niki, Eva, Rami, dan Anna. Sehabis adzan Magrib, Karat dan kawan-kawan dari Toronto berjalan kaki menuju kampus Unpad Dipati Ukur untuk menghajar panggung.

Gig kali ini dilibas habis oleh Karat. Arena yang awalnya kosong, tiba-tiba penuh oleh para audiens. Tak hanya mahasiswa dan panitia serta kawan-kawan karat, ibu-ibu, anak-anak, dan masyarakat sekitar juga dating menghadiri pertunjukan ini. Terbatas oleh waktu, setelah “Karinding Bubuka”, Karat hanya menampilkan lima lagu saja, yaitu “Yaro tahes”, “Wasit Kehed”, “Burial Buncelik”, “Dadangos Bagong”, dan akhirnya “Lagu Susu”. Neng Elisa dengan sangat baik berbaur dengan Karat. Permainan flutenya nakal membuai, namun membius bersahutan dengan suling Jimbot dan Okid. Vokalnyapun poll neng!!! Bersahut-sahutan dengan Man dalam derajat irama yang sama sekali jauh berbeda tapi menghasilkan dialog yang bukan main. Lagu Susu memang mempesona malam itu!!

Rahayu Neng Elisa! Semoga kita bisa bersatu dalam satu panggung lagi, satu irama lagi kelak!!

23 Mei, Karat Live in Soreang, Milangkala Vespa Antique Club Bandung Kulon

Hari Minggu yang cerah! Karat akan manggung di ulang tahun Vespa Antique Club Bandung Kulon siang itu. Mereka rencananya akan dijemput di Commonroom jam satu untuk menghajar panggung jam dua siang itu. Setelah perjalanan yang lumayan lancar ke Soreang, Karat akhirnya tiba di Terminal Teu Jadi Soreang, di mana ratusan motor vespa sudah berkumpul di sekeliling arena. Dua buah panggung besar berdiri di sana. Satu panggung khusus untuk musik tradisional, satu lagi panggung khusus untuk musik modern. Hmmm manstavv mangs!!! Salut untuk VAC Bandung Kulon yang ternyata menaruh perhatian yang begitu besar terhadap perkembangan musik tradisional!! Rahayu mangs!! Smoga sakses slalu!! Sepanggung dengan Karat, kesenian tradisional lainnya adalah Lodong Koclak dan Debus pimpinan Apih Sinar Banten. Nama ini tentu tak asing bagi Karat karena nama kelompok debus inilah yang selalu dikontak anak-anak Ujungberung Rebels, Bandung Death Metal Syndicate, ketika mereka menampilkan aksi debus di Bandung Death Fest sejak tahun 2007.

Seperti biasa, Karat bermain total siang itu. Lapangan yang asalnya kosong karena udara yang sangat panas, perlahan mulai dipadati audiens yang penasaran dengan panampilan Karat. Kawan-kawan dari lodong koclak dan juga dari VAC maju dan mulai berkumpul di depan panggung. Hellyeah, tak ingin mengecewakan para audiens Karat menghajar atmosfer panas siang itu dengan tekanan tinggi.

Setelah “Karinding Bubuka”, Karat menghajar dengan “Yaro Tahes”, kemudian berturut-turut “Wasit Kehed”, “Burial Buncelik”, “Dadangos Bagong”, “Lagu Perang”, dan akhirnya “Kawih Pati”. Sebuah gig yang poll dengan energi panas yang tak olah-olah!!

Trimakasii VAC Bandung Kulon, wilujeng milangkala, rahayu slalu slamanyaaa!!!

24 Mei, wawancara Neng Elisa tentang Karat dan Lagu Susu

Wawancara dilakukan hari Senin sore di Remains. Wawancara ini sebenarnya untuk kepentingan penulisan buku Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels. Namun di dalamnya jelas dibahas mengenai anak-anak Ujungberung Rebels terutama Karat di mata Neng Elisa sebagai tamu—dan kini menjadi keluarga besar Karinding Attack. Wawancara juga membahas projek Lagu Susu yang direkam Neng Elisa bersama Jawis, Man, dan Okid. Jawis dan Okid hadir juga dalam wawancara ini.

Ini hari Senin. Besok Neng terbang ke Finlandia. Slamat jalan Neng Elisa adikku, slamat bertemu kembali bulan September, dan slamat bersabar Jawis cskuuu… ^^

O iyah, wawancara sm neng elisa segera diposting yaaahhh… map, file transkripnya ngilang hihihi…

25 Mei, Karat Session Gedung Indonesia Menggugat

Selasa ceria!! Karat latihan selasa ini. Agendanya seperti biasa, memantapkan lagu2 yg sudah terpola. Dan ternyata selasa itu GIM ramai!! Setidaknya ada lima komunitas ngantri ingin mengunjungi si Karat. Hihihi Man sebagai humas dengan setia melayani adik-adik yg dating malam itu.

Hmmm satu hal yang disepakati dari dinamika komunitas selama ini : Karat mendukung udunan untuk mendapatkan ruang berekspresi komunitas!!

27 Mei, Karat Live in SMAN 4 Bandung

Gig yg mantaaapp!!! Walau panas, hajar terus!!! Mengingatkan pada gig VAC Soreang, panggung sebelum Karat cenderung kosong. Ketika Karat naik dan Man menantang audiens untuk melawan panas, serentak para audiens yang didominasi anak-anak muda menyeruak ke depan panggung. Laki-laki, perempuan tampak menikmati sajian Karat siang yang panas itu. Format lagu persis ketika Karat di Soreang dan yang mengharukan adalah sambutan dari audiens di arena sana yang tampak begitu antusias dengan Karat. Walau masih Nampak begitu asing, mereka benar-benar mengapresiasi musik yang dimainkan! All hail all hail!!

Di hari yang sama, Kimung mendeklarasikan penggarapan lagu “MAAP KAMI TIDAK TERTARIK PADA POLITIK KEKUASAAN” sebagai manifestasi pernyataan politik Karat kepada publik berkaitan dengan dinamika politik lokal yang semakin santer sajah dan mulai terasa kental menyentuh Karat. Bukannya ingin terpetakan oleh para om dan agan-agan dalam konstelasi politik Bandung, namun malas saja jika nama Karat harus ada di sana walau dalam geraan moral seperti apapun. Lagu ini juga diharapkan bisa menjadi rambu-rambu bagi si Karat agar tak terperangkap jebakan betmen yg secara hijau diset oleh para om-om dan agan-agan di atas sanah. Hmmm mungkin lagu selanjutnya yang akan digarap Kimung adalah “Yang Paling Enak dari Hijau adalah Saat Dibakar” hihihihiii…

Lagu “MAAP KAMI TIDAK TERTARIK PADA POLITIK KEKUASAAN” adalah lagu Karat berbahasa Indonesia ke dua setelah “Kelas Rakyat”. Dua-duanya belum fiks benar, sehingga belum sempat dibawa ke forum Selasa maupun Jumat.

Sorenya, Karat masih kongkow-kongkow di Commonroom. Hari itu memang aana ada diskusi yang digelar oleh Bandung Oral History (BOH) bertema Sonic Torment. Pembicaranya bahayiks : Dinan, Sule, Ayi, Opik, Yayat, Eben, Man, Ari Rusack, dengan moderator Kimung. Yayat ternyata sudah datang sejak jam 4 dan langsung duduk di antara anak-anak Karat. Ia langsung membuka perbincangan mengenai kabar Karat dan rencana rekaman. Yayat yang memang sejak bertemu Karat di nikahan Buyung sudah mengungkapkan keinginannya untuk menggarap rekaman Karat memang selalu terlihat antusias.

Yayat bahkan menyodorkan contoh riders yang bisa dijadikan sebagai referensi bagi si Karat. Yayat bahkan menyamnggupi untuk membuatkan riders, termausk juga layout posisi Karat dalam setiap panggungnya. Namun untuk itu, Yayat harus bersession dengan si Karat di panggung. Jika tak ada aral melintang, panggung selanjutnya, hari Sabtu di Bumi Sangkuriang, rencananya menjadi tonggak penting kebersamaan Yayat dengan si Karat.

28 Mei, Jumat Kramat

Man & Kimung diwawancara Niki, Eva & Casey dari Universitas Toronto, Kanada, tentang ranah musik metal bawahtanah, di kawasan Pemandian Cihampelas yang dihancurkan Pemerintah Kota Bandung tahun 2010. Eka dan Mang Utun ikut bergabung dalam sesi wawancara itu. Setidaknya pembahasan mengenai kolaborasi musik tradisional di scene metal Ujungberung Rebels ikut dibahas.

Karat berkumpul sebentar saja Jumat malam itu..

Bersambungs!!

Musics : Tarawangsa, Favour Balet TK B Permata Ayah Bunda, Lagu Susu Karinding Attack feat Neng Elisa, Burgerkill, The Beatles, Nat King Cole, Pearl Jam, Faith No More, White Zombie, Pantera

Movies : Boogeyman, Boogeyman II, Ipin dan Upin, Lost Submarine National Geographic Series

Books : Bush & Hitler by RH Widada, Discover by Katherine Grier

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s