JURNAL KARAT # 17, 21 MEI 2010 KOLABORASI DENGAN TISNA SANJAYA DAN LAGU SUSU—SUNDA SUOMI—BERSAMA NENG ELISA

Posted: May 24, 2010 in Uncategorized

JURNAL KARAT # 17, 21 MEI 2010 KOLABORASI DENGAN TISNA SANJAYA DAN LAGU SUSU—SUNDA SUOMI—BERSAMA NENG ELISA

Asuhan Jon 666

15 Mei 2010, Karat di Lapangan Merah dan Kolaborasi Tisna Sanjaya

Karat’s best show ever!!! Saya kira semua personil Karat mengakui jika panggung Lapangan Merah Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB ini adalah panggung terbaik Karat selama ini. dengan suasana yang hangat, juga dukungan tata suara yang mantap dan pas, ini adalah panggung terbaik Karat. Dan bukan itu saja. Ini adalah kolaborasi Karat dengan Tisna Sanjaya—selanjutnya Kang Tisna saya yess—seniman, pelukis, sekaligus tokoh yang selama ini dituakan dan menjadi salah satu pihak yang selalu mendukung scene independen Bandung, Ujungberung Rebels juga, sekaligus menjadi tempat bertanya bagi anak-anak Karat jika mengalami dilema masalah hubungan sosial, budaya, cinta, dan perjodohan (halaahh hihihi…) Di atasnya, ini adalah kolaborasi Karat dengan ranah seni lain selain musik. Yang pertama dan saya kira yang terbaik. Energi seni yang dikeluarkan Kang Tisna benar-benar membakar Karat untuk main sempurna malam itu!

Panggung Karat di Lapangan Merah dibuka dengan pengantar dari Kang Tisna tentang karinding dan Karat, juga tentang kolaborasinya di panggung itu dengan Karat. Untuk kolaborasi ini Kang Tisna sudah mempersiapkan bahan-bahan yang semua ia ambil dari Pemandian Cihampelas, situs sejarah yang baru saja dihancurkan di Cihampelas, Bandung karena akan dibangun apartemen di atasnya.keprihatinan serta keresahan yang timbul karena kesewenangan korporasi yang didukung oleh pemerintah kota Bandung itu membuat resah para warga Bandung yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kota ini, termasuk Kang Tisna. Dari reruntuhan Pemandian Cihampelas Kang Tisna memungut bonggol awi yang sudah ditebang, tanah, air, serta bahan-bahan lain yang sekira bisa mendukung lukisannya. “Tingali, ku barudak ieu mah mah awi teh dijieun kasenian, teu dituar kitu wae keur dibangun apartemen di luhurna.”

Dan dengan dibantu Agung Jek, prosesi kolaborasi dimulai seiring dengan musik Karat yang menghajar dan membius atmosfir Lapangan Merah malam minggu itu. Karat menghajar panggung dengan “Karinding Bubuka”, “Yaro Yahes”, “Wasit Kehed”, “Dadangos Bagong”, “Burial Buncelik”, “Lagu Perang”, ditutup oleh “Kawih Pati”. Sepanjang lagu api menyala-nyala dengan kuat, sementara Kang Tisna bereksperimen melukis dengan arang, dengan tanah, dengan air, palid bersama Karat dalam lukisan yang ia bangun. Dan hasilnya sangat spektakuler!! Sebuah lukisan konsep yang saya kira sangat kental dengan ikatan emosi, estetis, sosial, budaya, politis, dan tentunya sejarah kolaborasi Kang Tisna dan juga Karat. Semua berbaur menjadi satu. Entah kenapa saya selalu merinding setiap kali memandang lukisan itu dan mengingat betapa besar gejolak api yang meletup-letup dalam dada Karat dan Kang Tisna saat itu…

Kang Tisna kemudian mempersembahkan lukisan hasil kolaborasi mereka kepada Karat. Wuiihh sebuah kebanggaan yang sangat besar menerimanya… Speechless aslinyaa…

Dan tak hanya itu, mahasiswa FSRD juga ternyata sudah mempersiapkan persembahan sebagai ungkapan jalinan silaturahmi dan emosi yang terjalin bagi Karat : sebuah lukisan lagi!!! Kali ini lukisannya super besar!!! Ukurannya 3 x 1 meter!!! Kanvas bertulisan Moster of Rock sebagai tajuk acara, dengan lukisan gedung abad pertengahan dengan dua menara menjulang yang dibelit oleh akar-akar pohon purba. Sangat mencerminkan Karat banget!!! Untuk kedua kalinya speechless malam itu… Lukisan digambar denga tinta pulpen oleh kru Monster of Rock 2010 : Agung, Zusfa, Indra, Zico, Fatchy, Citra, Ayas, Karin, Tata, Sendy, Alin, Arad, Saith, Qodir, Panda, Ican, Ewik, dan Wing. Terimakasiii buat kawan-kawan semua!!!

Kedua lukisan ini adalah kado yang tak terhingga nilainya bagi Karat.

Trimaksii, trimakasii…

16 Mei 2010, Rekaman Sunda Soumi bersama Neng Elisa

Man, Jawis, Elisa, dan Okid merekam sebuah lagu di Studio Extend, Neglasari, Ujungberung. Konsep lagu yang direkam adalah lagu tradisional Finlandia dengan bahasa Soumi yang dinyanyikan oleh Elisa sambil bermain flute. Lagu ini kemudian ditimpal Man yang bernyanyi dengan bahasa Sunda. Lagu yang dinyanyikan juga sama, lagu tradisional pengantar tidur anak kecil.

Lagu yang indah really ^^

Ketika didengarkan di GIM, Kimung juga tertarik mengisi rekaman itu dengan karinding Nepal.

Simak, cerita rekaman eksperimental Elisa bersama Jawis, Man, dan Okid dalam wawancara Elisa di Jurnal Karat edisi minggu depan!!!

18 Mei 2010, GIM Session Hampura Ma Part II

Tak terasa sudah Selasa lagi dan Karat latihan hari ini. dalam gig di UPI kemarin itu, Karat sepakat jika Selasa ini akan menggodok Hampura Ma untuk persiapan rekaman agar klip yang digarap kru Unikom bisa semakin cepat beres. Tapi apa lacur. Jimbot sang toaleter ternyata tak bisa datang. Hmmm yasud.. karena sulit mengejar feel yg sama dengan Hampura Ma dulu, ditambah ketidaktersediaan toleat sejenis yang dimainkan Jimbot di Hampura Ma—toleatnya terinjak salah satu kru TV Swasta pas Karat syuting Laptop Si Unyil dulu—maka untuk mengefektifkan gerakan, Karat sepakat untuk menciptakan Hampura Ma Part II.

Ada perdebatan sebelumnya tentang apakah harus mengaransemen ulang Hampura Ma I dalam irama yang beda. Namun semua merasa dan sepakat jika Hampura Ma I yang selama ini beredar rekamannya adalah rekaman final. Jika diaransemen justru akan anh. Karenanya Karat sepakat untuk menciptakan lagu yang berbeda dengan Hampura Ma I. lagu itu adalah Hampura Ma II.

Lagu ini berbeda dengan Hampura Ma I. Selain pirigan celempung lebih cenderung ke pengaruh beat musik popular, lagu baru ini juga memakai lirik. Hingga kini liriknya masih disempurnakan, namun dalam sesi latihan ini dapat dikatakan semua pirigan celempung, karinding, hingga toleat dan suling sudah terrangkai dengan baik. Dengan sedikit penyempurnaan, Hampura Ma Part II akan segera mengudara! Hellyeah!!!

Karat janjian lagi hari Jumat untuk latihan di Commonroom, mempersiapkan panggung hari sabtu dan minggu serta menyempurnakan Hampura Ma Part II.

21 Mei 2010, Jumat Kramat Persiapan Mepende Budak Jurig Bersama Neng Elisa

Jumat Kramats yang ramai!! Selain Karat, ada juga pasukan UKM THE ILLUMINATOR, Kongsi Perserikatan Dagang Karya Tangan yg gelar forum Curhat Chating dan Workshop antar para penggambar. Mereka adalah Dinan Profanatixa, Wibowo Yudo Baskoro, Usep, Gustav Insuffer, Gencuy Brutal Art, Monmon Fuckin Art, Tomy dan dan lain-lain. Ada juga pasukan Kelas Karinding yang akan ikut bergabung jamming bersama Karat, mereka adalah Indra, Niki, dan satu lagi poho uyy hehehe. Ada Gustaff juga. Ada juga Bandung Oral History, Zia dan Arief, ada Mr Butchexnos, Boby, wah pokonya ramai nian deh!

Rencananya malam itu kawan-kawan dari Universitas Toronto akan hadir melihat Karat latihan. Pagi harinya, Kimung yang diundang utnuk hadir dalam perkenalan dengan para mahasiswa Univ Toronto yang akan ada di Indonesia selama dua minggu ini memang sempat memperkenalkan dan memainkan karinding serta dinamika scene yang semakin padu dengan identitas lokal Bandung di ranah tradisionalnya. Ya benar, Bandung memang beridentitas ragam. Tak hanya kenyataan dibangun dengan peran oleh orang asing pada awalnya kota ini berdiri, tapi juga kenyataan bahwa sebelum orang2 asing itu datang, di Bandung sebenarnya sudah tertata sebuah struktur sosial budaya bahkan keyakinan yang sudah baik. Karindinglah contohnya. Dan saya kira hal yang membuat orang-orang asing kemudian betah tinggal di Bandung adalah kenyataan bahwa orang-orang Bandung memiliki budaya persahabatan, keterbukaan, dan kehangatan warisan budaya purba mereka. Sebuah budaya yang sepertinya tak begitu muncul di budaya orang-orang asing itu.

Namun sayang, para kawan dari Toronto batal hadir. Mungkin  karena mereka lelah setelah seharian jalan-jalan di Kawah Putih. Tapi tak masalah. Jumat itu memang jadwal Karat untuk berlatih, dan latihan dimulailah! Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol tetap jadi lagu pertama sebagai pemanasan malam itu. Lalu Burial Buncelik dan Dadagos bagong, dua lagu baru yang akan dimainkan lagi di acara tanggal 22 dan 23 di Unpad dan Soreang. Katika akhirnya Elisa datang sehabis latihan nari di Dago Tea House, Karat langsung saja menggarap Lagu Susu atau Sunda Suomi. Entah kenapa saya langsung jatuh hati pada judul “Lagu SuSu”. Dalam pikiran saya langsung terbayang air susu ibu, air pertama yang diminum semua orang sebelum air-air lainnya. Ibu. Seperti Suomi, bahasa ibu yang dinyanyikan Elisa, dan Sunda, bahasa ibu yang dinyanyikan Man. Ibu.

Lagu diawali tiupan toleat Okid dan ditimpal pirigan celempung permainan bayi sebelum  Elisa masuk bermain flute di sana. Karinding Jawis dengan setia menjaga dan mengiringi semua pirigan waditra yang nabeuh malam itu. Elisa lalu menyanyikan lagu nina bobo anak kecil di Finlandia dengan bahasa Suomi diiringi celempung dan suling Mang Okid. Setelah jeda sedikit, Man kini yang bernyanyi, didukung oleh flute Elisa dan karinding Nepal Kimung. Celempung Hendra mengalun sendiri dinamis dan mistis. Kembali Elisa bernyanyi diringi suling dan duet celempung, Kimung mulai bermain bass celempung di verse 2 ini. Lalu kembali Man dengan pola yang sama, sebelum akhirnya ke refrain, solo flute Elisa bertimpal suling Okid, duet celempung dan karinding. Man kembali masuk dalam pola yang sama namun dengan penekanan karinding Nepal yang lebih kuat hingga lagu perlahan mangalun. Menyisakan oow hummings yang panjang dan dalam…

Slamat tidur semua…

Bersambung…

10 Playlists Jon 666 : Tarawangsa, Ballet Song Favour of Allah TK B Permata Ayah Bunda, Suomi Sunda, The Beatles, GNR, Pantera, Burgerkill, Red Hot Chili Peppers, Godflesh, Nine Inch Nails

Books : Salamatahari 2 karya Sundea, Pamali 1 karya Kak Norvan Pecandupagi, naskah buku Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels by Kimung

Movies : Shrek 2, Lost Subs National Geographic Series,

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s