JURNAL KARAT # 11, JUMAT KRAMAT 2 APRIL 2010 THE NEWBORN AWAKENING

Posted: April 5, 2010 in Uncategorized
Tags:

JURNAL KARAT # 11, JUMAT KRAMAT 2 APRIL 2010
THE NEWBORN AWAKENING

Asuhan Jon 666

Hheuu jumpa lagi sama sayah, Jon 666…
Karena begitu banyak protes tentang isi Jurnal Karat di internet yang panjang bejibun gila-gilaan—apalagi yg kemaren hrs discrollsampey limabelas kali scroll—maka saya memutuskan untuk memperhatikan protes itu dengan… tetap sajah menulis panjang-panjang hahahahahahaaa….

So here we go fellas,

Selasa, 30 Maret 2010, “Dadangos Bagong” dan Ruang Baru untuk Karat
Sore itu sejak magrib Hendra sudah nongkrong di depan rumah Kimung nunggu Kimung pulang. Ya, hari itu ia dan Kimung emmang janjian untuk menggarap lagu berikutnya yang diciptakan Kimung. Ada tiga lagu yang rencananya akan digarap, yaitu “Dadangos Bagong”, “Teroris Generasi”, dan “Burial Buncelik”. Karena tiga lagu ini seangkatan dengan tiga lagu sebelumnya yang digarap Kimung – Hendra (“Ririwa Di Mana-Mana”, “Sia Sia Asa Aing”, dan “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol”), napas yang terasa dari tiga lagu tadi hampir sama. Kimung masih tetap dalam titik di mana ia ingin lebih menyederhanakan pirigan celempung dan ingin lebih mengedepankan karinding dan suara-suara vokal. Celempung juga sebenarnya makin diperkaya. Bukan dalam hal variasi pirigan atau skill beat yang njelimet, tapi lebih ke eksploasi bunyi-bunyian sederhana yang terdapat atau bisa didapat dari sekujur tubuh celempung.
Malam itu, Viki, Zia, dan Arief bergabung dengan Hendra. Gangster Bandung Oral History (BOH) ini datang diundang Kimung untuk membicarakan Museum Konferensi Asia Afrika (MKAA) yang meminta BOH untuk menggarap acara obrolan santai dalam peringatan 55 Tahun KAA 1955. Mereka juga akan membicarakan pematangan rencana workshop sejarah lisan tahun 2010. Sebelum itu, Kimung dan Hendra menggarap dulu lirik-lirik lagu yang tersisa untuk Karat.

Kimung – Hendra mengawali dengan lagu “Burial Buncelik”. Lagu ini susunannya mirip dengan “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol”. Namun lebih patah-patah dan lebih aneh dalam aransemen liriknya. Jika “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol” terus geber tanpa jeda, “Burial Buncelik”pun sama. Namun pindah-pindah pirigan dan beatnya jauh lebih chaotic dan sangat tidak popular. Kimung – Hendra sempat mencoba beberapa aransemen dan menemukan beberapa pirigan yang paling cocok. Namun demikian karena begitu kental kemiripan pirigannya dengan “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol”, Kimung memutuskan untuk break dulu menggarap lagu ini sampai menemukan aransemen pirigan yang lebih pas dan variatif.

Setelah seputeran nyah nyeh nyoh, Kimung – Hendra mulai menggarap lirik selanjutnya, “Dadangos Bagong”. Berbagai pirigan dihajar malam itu, namun tak juga menemukan pola yang cocok untuk jumlah diksi kata dalam baris-baris lirik “Dadangos Bagong”. Lagu ini mulai terbayang ketika secar tidak sengaja terngiang lagu “Sabilulungan” di telinga Kimung. Ia minta kepada Hendra untuk nabeuh pirigan “Sabilulungan” buat “Dadangos Bagong”. Dan ternyata pas nian! Maka demikianlah, sejak awal lagu ini sangat terinspirasi “Sabilulungan”. Tapi tentu saja tidak nyontek lohh.. lagian kalo ntar terasa nyontek setidaknya udah say ceritakan gimana proses kreatif Kimung – Hendra dalam menggarap lagu ini yess wekekekekekkk…

Lagi, lagu ini minim celempung, dan lebih mengutamakan harmonisasi vocal. Kimung mengutarakan visinya akan lagu ini kepada Hendra, bahwa ia ingin semua Karat bernyanyi bergantian dalam lagu ini. Dalam hal ini Kimung terinspirasi dari proses belajar mengahapal Qur’an di sekolahnya dengan teknik tadarusan. Dalam tadarusan, anak-anak akan bersahut-sahutan saling sambung membacakan ayat-demi ayat Al-Qur’an. Dalam “Dadangos Bagong”, Kimung mengharapkan harmonisasi dari keragaman warna vokal Karat yang ada dan bisa dimaktubkan sebagai sebuah lagu. Dalam sekali puteran “Dadangos Bagong” beres sudah. Kimung – Hendra tidak menemukan hal yang berarti dalam memainkan lagu ini selanjutnya. Di ending lagu, Kimung meminta Hendra memainkan tempo yang bertambah cepat seperti lagu “Wasit Kehed”. Kali ini pirigan  dapat dikejar dengan mudah, kecuali sepuluh ketukan terakhir yang memang gantel abis yang sempat menyulitkan Hendra hihihihihiii…

Lagu selanjutnya yang digarap adalah “Teroris Generasi”. Dalam bayangan Hendra, lagu ini harus cepat karena lirik yang simpel dan tema yang najong. Namun Kimung berpendapat lain. Karat sudah terlalu banyak lagu kencang saat itu. Ia ingin “Teroris Generasi” dimainkan dalam tempo yang lambat, bahkan mungkin sangat lambat, atau jazzy, atau bluesy, despite the crucifying hardcore lyric yang lebih cocok dengan musik yang kencang. Kimung – Hendra sempat jam session memainkan lagu ini dalam dobel celempung. Kimung memainkan celempung Cisolok dengan dua pemukul hingga menghasilkan nada-nada melodik, tanpa memainkan tepukan dan goong. Lagu ini sudah jadi, namun tetap masih ada ganjalan dalam hal pola yang menurut Kimung terlalu rame, terlalu rancak.

Walhasil, Selasa ini haya “Dadangos Bagong” yang benar-benar fiks walau secara gambaran abstrak “Teroris Generasi” dan “Burial Buncelik” sudah terbayang juga. Menjelang tengah malam Kimung  – Hendra merekam “Dadangos Bagong” sebagai patokan buat Karat yang lain.

Di hari yang sama…

Beredar kabar Gedung Indonesia Menggugat menyediakan tempat buat latihan Karat. Karat memang semakin butuh privasi saja akhir-akhir ini. Latihan di Commonroom memang sangat nyaman, feels like home to us, dan juga memiliki sejarah yang panjang dan signifikan berkaitan dengan perkembangan Karat. Tapi Commonroom adalah ruang publik yang terbuka bagi siapapun. Jadi siapapun berhak datang dan gabung sama latihan Karat. Belum lagi jika ada pihak-pihak yang tertarik ingin  meriset tentang karinding, atau Karinding Attack, atau Sunda Underground, pasti mereka akan diundang untuk dating hari Jumat karena memang hari itulah semua aktivis dan adiktivis berkumpul dalam suasana yang akrab dan hangat. Karat sendiri tak bias menolak karena memang senang bias berbagi musik kepada mereka yang datang. Namun tetap, kebutuhan akan ruang pribadi buat Karat tetap terasa.

Beberapa tempat sempat mengemuka, seperti di Galeri Jeihan, Gedung GGM, dan Gedung Indonesia Menggugat (GIM). Sepertinya yang pertama kali membukakan pintunya untuk menampung para gelandangan Karat untuk berlatih secara tertutup adalah GIM. Dalam jurnal pribadinya, Kimung menulis, “Geus we Jumat Kramat mah jadikeun malam show musik-musik awi. Saha weh nu ngeusina mah! Geus rea kan band-band musik awi teh ayeuna!” Hingga jurnal ini diterbitkan, masih belum ada keputusan yang jelas dari Karat sendiri apakah mereka akan menggunakan fasilitias yang diberikan GIM atau tidak.

Kamis, 1 April 2010 Cracking Bamboo Inspirational Concert
Kamis itu Karat ngumpul di Commonroom. Sejak jam enam sore mereka janjian di Commonroom untuk nonton konser musik bersama. Konser yang dimaksud adalah konser pertemuan 60 musisi dari Kamboja, Indonesia, Vietnam, Mongolia, dan Eropa dan bersama-sama menggelar konser bertajuk Cracking Bamboo. Penghubungnya adalah alat musik perkusi, satu-satunya alat musik yang bisa menghubunungkan musik Eropa dan musik-musik tradisi di luar Eropa. Instrumen perkusi juga membuka banyak titik pertemuan dengan bentuk seni lainnya. Oleh sebab itu untuk Cracking Bamboo 2010, selain para seniman perkusi, diundang juga penari, penyanyi, seniman video, dan seni pertunjukan lainnya dari seluruh dunia. Mereka semua bertemu, saling berbagi, dan bekerja sama dalam workshop dan “masterclass”. Hasilnya akan dibawa ke panggung pertunukan menjadi satu betuk pertunjukan yang luar biasa. Dalam workshop ini ada juga beberapa seniman perkusi dari Bandung ikut unjuk gigi bergabung dengan musisi lainnya.

Soooo… jam 6 itu bebrapa Karat sudah menampakkan batang hidung mereka di Commonroom. Hendra terutama datang karena ia memang janjian dengan anak-anak Unikom yang lagi riset mengenai karinding. Selain Hendra, hadir juga Man, Jawis, dan Zemo. Setelah ngobrol ngalor ngidul termasuk rencana riset anak-anak Unikom dan keinginan mereka untuk membuatkan klip untuk Karat, rombongan berangkat ke Dago Tihos. Di Dago Tihos, Kimung sudah menugngu dan konser baru saja mulai.
Konser dibuka dengan penampilan musisi gamelan dari Indonesia. Sangat rancak, sangat kompak, mereka bermain diranah tempo dan kehalusan ketukan selai tentu saja eksplorasi bunyi-bunyian loagm gamelan. Setelah pemimpin program yang bajunya lucu, mengingatkan ke Mr. Gapetto bapaknya Pinokio atau Mr Pavarotti yang penyanyi tenor itu, panggung diisi trio perkusi yang jago mengolah vocal plus mukul perkusi juga pastinya. Si trio ini awalnya “bedialog” dengan bahasa suara yang sedernaha—mirip burung camar yah hihihi—lalu lanjutke main simbal kecil hingga akhirnya drums yang sangat rancak. Sepanjang permainan, ada happening art dari artis Korea yang menulis kaligrafi dengan tinta yang—entah gimana—keluar dari mulutnya. Hmmmm… kaligrafi inilah yang nanti di akhir konser diambil sesobek oleh Kimung dan kemudian dibagi ke Man.

Panggung lalu diisi oleh penampilan dari—kayaknya—India atau Kamboja atau Vietnam hehe… Pria ini hanya sendiri tampil. Dia membawa gendering besar, namun tipis dan menyanyikan lagu tradisional—mungkin Kamboja mungkin Vietnam. Kedengerannya ia bernyanyi, “Benniii… beeenn…” apaaa gituu hihihihii… Yang pol, dari gendering besar itu bias tercipta suara-suara yang snagat variatif, dari suara mirip bass, hingga suara mirip gitar. Mantaphh cuuuu maneehh euyy!!!

Setelah si akang yang hebat ini set panggung langsung berubah menampilkan adegan yang lebih surealis. Musisi yang naik mengekplorasi berbagai media dari air hingga udara yang ada di sekitar perkusi ketika dimainkan. Jadi bukan alatnya yang diekspolasi, melainkan suara udara dan suara air di celah-celah alat-alat musik itu dimainkan. What a geniuos! Pertunjukan sesi ini juga didukung oleh busana dan aksi teatrikal yahg sedikit tapi sangat menggigit. Sang pemain simbal misalnya mengenakan baju pengantin, disebelahnya memakai aksesoris penyelam, beberapa berkostum pelaut, pemain biola yang nongkrong di atas berkostum peri, dua pemain sitar yang memakai baju tradisional Asia, jas dan dasi necis pemain musik elektronik, juga kostum menarik yang dipakai pemain timpani dan perkusi lainya. Sesi ini menampilkan musik yang dingin dan mengerikan. Ketika akhirnya musisi yang mengeksplorasi vokal mirip binatang-binatang malam di rimba belantara naik ke panggung, suasama semakin terbangun. Sejak awal art happening manusia kepompong yang dilakukan sang penulis kaligrafi Korea membuat suasana ganjil dan surealis bertahan dengan sangat apik.

Giliran drum Cina kini yang dimainkan. Panggung dibagi menjdi tiga seksi, seksi brass—terdiri dari akordiaon, saksofon, tarompet Sunda, dan suling—seksi perkusi—terdiri dari drum, kendang, dan berbagai perkusi lain, serta seksi alat musik gesek. Pol, permainan konsep musik dan teatrikal terbungkus sangat rapi di sesi ini. Tarompet dan kendang Sunda bisa bersanding dengan berbagai brass section yang dimainkan serta berbagai perkusi lain yang memang pas aransemennya.

Sesi berikutnya dibalut oleh tema Mongolia. Sesi ini menampilkan musisi Mongolia, Aca dan Madwa serta dua orang lagi yang saya gag tau namanya—yang satu main gitar Jepang, yang lainnya bernyayi saja—dikombinasikan dengan berbagai perkusi, termasuk timpani dan gendang Cina yang sesi tadi dimainkan, serta si India yang membuat saya terkagum-kagum di sesi ke tiga—itu loh yang nyanyi Benniii bennii… gituu…Sesi ini mirip pertunjukan pantun di ana para musisi membetuk lingkaran dan berbagi tembang, termasuk Aca yang menembang dengan cara throath singing dan bikin man Jasad terbengong-bengong. Mantap! Aslinya, tak pernah membayangkan jika pertunjukan musik tradisional Mongolia yang biasayan mendayu-dayu, dengan sentuhan aransemen yang apik jadi sedemikian keren! Hmmmm…

Dan akhirnya, program untuk malam itu mencpaai akhir. Ditutup dengan penampilan luar biasa dari musisi yang mengedepankan media dan alat musik air dari Italia, Vietnam, dan Malaysia dikombinasikan dengan berbagai perkusi dan saksofon menyemarakkan suasana malam itu yang disambut dengan standing ovation dari audsiens yang hadir, termasuk personil Karat dan kawan-kawan yang hadir malam itu. Poll poll!!! Di akhir konser, Kimung meminta kaligrafi bahasa Korea yang dibuat oleh seniman perempuan Korea di awal resital ensambel perkusi, sementara Karat yang lain, terutama Man, mengerubungi dua orang dari Mongolia yang bernyanyi dengan suara guttural throath gituu hihihii… Kimung, Man, dan beberapa kawan sempat berose bersama dua musisi dari Mongolia itu. Pose diabadikan oleh Mang Utun.
Dan konser itu memang digelar sangat mantap dan inspiratif. Man langsung sms Kimung malam itu, “Edan pisan bieu acara…Speechless..” Ia juga nulis di status Facebooknya, “Last nyt was a great show ever ! thanx for GOETHE INSTITUTE for bringing CRACKING BAMBOO to Bandung…..”

Jumat, 2 April 2010 Jumits Kramits
Zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz….. Jon ta’ hadir karena kencan sama Asmirandah…
Yang jelas Kekar—Kelas Karinding—asuhan Hendra sore itu dihadiri tiga orang, trus ada Kimung dan anak-anak BOH yang rapat workshop sejarah lisan sore itu. Menjelang malam Mang Utun, Jawis, dan Zemo hadir, dan Jon pun berangkitsss…. Kabarnya aka nada anak-anak Unikom dating untuk melanjutkan riset malam itu…

Yuuuuu…

10 Playlists Jon 666 : Tarawangsa, Jimi Hendrix, The Beatles, John Lennon, The Doors, Carcass, Dying Fetus, Scorn, Jesu, Atari Teenage Riots

Movies : Film Dokumenter Konferensi Asia Afrika 1955

Books : Atls Perjalanan Hidup Nabi Muhammad oleh Sami bin Abdullah al-Maghuts

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s