JURNAL KARAT # 10, 26 Maret 2010, THE SPIRIT OF YOUTH!!!

Posted: March 27, 2010 in Uncategorized
Tags:

JURNAL KARAT # 10, 26 Maret 2010, THE SPIRIT OF YOUTH!!!

Asuhan Jon 666

“Urang yakin kolaborasi si BK jeung si Karat pasti bakal
terus jadi picaritaeun da. Urang ge yakin pisan
si Karat bakal piedaneun. Asal terus beda ti nu lain weh si Karat mah!”

Eben Burgerkill

Begitulah apa yang dicetuskan Eben dini hari itu sepulang Burgerkill dan Karat dari suting MTV Studio, Jumat, 19 Maret 2010 kemarin. Setidaknya bagi Kimung, Eben adalah salah satu musisi besar pendukung Karat yang paling gigih dalam hal membangun musikalitas. Sejak awal Kimung cerita ke Eben—sekitar Maret 2009—bahwa ia dan beberapa kawan di Ujungberung Rebels akan membangun sebuah band dengan alat musik tradisional yang sama sekali tak terkenal, karinding dan celempung, Eben lah yang dengan sengit mengingatkan agar Kimung dkk tidak terjebak ke dalam pakem-pakem tradisionalitas seni tersebut serta mengingatkan kembali bagaimana cara pandang yang bijak kepada alat musik dan seniman yang memainkan alat musik. Bahwa karinding dan celempung adalah alat, bahwa senimanlah yang paling penting dalam membangun sebuah lagu. Pisau bisa menjadi alat masak atau menjadi alat pembunuhan tergantung siapa yang pegang. “Pasti Benk! Ku aing siah hahaha!!” jawab Kimung setiap kali Eben memberikan masukan atas curhat-curhatnya.

Namun hingga hari itu di tahun 2009, Kimung dan kawan-kawan lain di Karat masih belum bisa mengeksplorasi karinding dan celempung melebihi pakem yang sudah ada. Mereka masih saja terus menyempurnakan suara resonansi karinding, pirigan pun masih bisa dua “Tonggeret” dan “Leumpa Leumpi Leumpong” saja. Karinding yang kerap dimainkan dalam setiap latihan, termasuk latihan rutin di Jumat Kramat, masihlah karinding pakem yang memiliki pola berulang terus menerus, meditatif, sama sekali tidak membentuk lagu. Istilah anak-anak Karat saat itu adalah ‘palid’. Mang Engkus, Hendra, Aki Amenk, dan Man Jasad yang sudah bisa duluan dengan sabar mengajarkan pirigan dan seni surupan karinding ke Karat yang lain.
Sebenarnya kesadaran Karat akan pentingnya pola lagu dalam Karat sudah terbangun sejak mereka mulai berekplorasi pirigan dan seni surupan baru dalam karinding masing-masing. Namun kemampuan untuk membuat aransemen lagu masih jauh panggang dari api. Walau demikian, eksplorasi yang menggebu-gebu mengantarkan Karat untuk bereksperimen merekam lagu-lagu palid yang kerap mereka mainkan. Tercatat, rekaman pertama Karat dilakukan di Commonroom sekitar bulan Maret atau April 2009, oleh Ate Europe In De Troppen untuk kepentingan sampling musik elektronik yang dikembangkan oleh komunitasnya, Openlabs. Sesi rekaman serius kedua dilakukan sekitar bulan April atau Mei 2009, ditandai dengan lahirnya lagu “Hampura Ma”, sebuah lagu yang secara khusus dipersembahkan Karat bagi Ibu Pertiwi yang tengah sengsara. Lagu ini memang diciptakan Kang Utun untuk menyambut Hari Bumi Sedunia yang jatuh setiap tanggal 22 April. Kita belum akan membahas eksperimen rekaman Karat sepanjang 2009 karena masih perlu studi yang lebih komnprehensif—cieeeeeeee gaya siahhh bahasanyaa hihihihiiii…!!

Untuk kesempatan sekarang, Jon akan cerita-cerita tentang orang-orang yang ada di balik Karat. Here we go…

Mang Utun
Ini dia, tokoh muda Sunda kita. Mang Utun melihat gerakan Kasundaan hari ini didominasi arus politis dan mistis dan menjauhkan hakikat Sunda dari Kasundaannya yang sajajar sapajajaran. Dalam dua terminologi gerakan tadi memang Sunda bagai terpisah dari alam nyata. Sunda menjadi alat bagi segelintir elit saja dan jauh dari rakyat kebanyakan. Padahal Sunda milik semua, bukan cuma elit tapi juga rakyat. Untuk mengembalikan Sunda kepada rakyat Mang Utun giat menggelar acara-acara yang akrab dengan rakyat, terutama kaum muda. Meng Utun  mahfum banget jika kaum tua di Kasundaan sudah sedemikian mengerak pola pikirnya di jurang dan palung terdalam dan tergelap dalam gerakan Kasundsan politis dan mistis sehingga tak bisa diharapkan lagi. Mang Utun kemudian memelihara harapan perbaikan Kasundaan di pundak anak-anak muda. Mang Utun kemudian mendirikan Gerakan Pemuda Sunda Pajajaran (GPSP) yang terkenal dengan programnya “Kendang Penca On The Street”, digelar sejak tahun 2003 di jalanan Kota Bandung—biasanya Cikapayang—bertujuan untuk mengembalikan pencak silat kepada rakyat setelah sebelumnya lebih sering hadir di ruang-ruang sosiologis dan selebrasi kaum-kaum elit nan wangi sana.

Tahun 2007 ia bersekutu dengan Ujungberung Rebels dalam menggarap pintonan debus dan kendang penca di Bandung Death Fest II. Mang Utun juga memperkenalkan banyak hal tentang Kasundaan kepada Ujungberung Rebels, membuka gerbang anak-anak metal ini kepada kelompok-kelompok kampung adat Sunda serta sesepuh-sesepuh Sunda yang mengajarkan banyak sekali nilai-nilai Kasundaan, memberi julukan Sunda Underground buat Ujungberung Rebels, sekaligus memperkenalkan karinding pertama kali kepada anak-anak metal ini. Mang Utun juga yang terus mengawal pergerakan anak-anak Sunda Underground agar terus peduli terhadap lingkungan dan senantiasa mencintai pohon serta kehidupan lainnya.

Secara konsisten Mang Utun menggarap Karat dari awal. Ia, bersama Kimung, Mang Engkus, dan Hendra yang manggung ketika nama Karinding Attack pertama kali diperkenalkan secara luas melalui Secret Garden II Karinding Attack garapan Edi Brokoli di Commonroom tanggal 21 Februari 2009. Kini di Karat Mang Utun dipercaya memegang manajemen, buking, dll.

Man Jasad
Siapa yang tak kenal tokoh kita ini? Hhaa yaaa wajah Man Jasad hampir selalu setiap saat nongol di media. Entah itu sebagai vokalis band detah metal tertua dan terkuat Jasad, entah sebagai penggiat komunitas pecinta ular, sebagai perwakilan komunitas independen atau scene kreatif, sebagai vokalis dan pemain karinding di Karat, bahkan sebagai individu. Man emang sangat terkenal. Keterkenalannya ini memang imbas dari komitmen Man dalam memajukan scene yang ia usung juga hasrat individunya untuk senantiasa belajar dan memajukan hasrat dirinya sendiri. Dan yang paling penting menurut saya, karena ketulusan Man dalam bersahabat dengan siapapun, ketulusannya dalam membantu, ketulusannya dalam bersahabat, juga ketulusannya dalam menjahili kawan-kawannya hingga kisah-kisah jahil Man kemudian menyebar bagai mitos di scene menjadi daya tarik tersendiri buat Man.

Man Jasad adalah pemuda asal Garut, pemimpin Partai Pria Idaman, pecinta wanita berpaspor dan bervisa, dan juga pemimpin sekte penyembah pohon. Dialah penggagas berdirinya Bandung Death Metal Syndicate, Bandung Death Fest, sekaligus sosok dibalik penggubah semboyan BDF menjadi Panceg Dina Galur dengan lambang dua kujang saling bersilang, identik dengan lambang GPSPnya Mang Utun yang juga memakai simbol dua kujang berdempet membentuk simbol cinta. di scene, selain Ki Amenk, Man adalah salah satu di scene yang pertama kali mengenal dan memiliki karinding, juga mengenakan iket. Gaya ini segera ditiru adik-adik dan menyebar di scene death metal Ujungberung Rebels.

Di Karat, Man segera mengeksekusi posisi vokalis. Man mendengarkan banyak sekali literasi musik purba dari berbagai kawasan di dunia untuk mengembangkan kemampuan vokalnya. Ia juga memperkenalkan musik yang ia dengar ke Karat yang lain sebagai referensi dalam mengubah lagu-lagu. Man juga semakin memantapkan permainan karindingnya dengan berlatih meniru riff-riff gitar band-band favoritnya. Satu lagu yang diciptakan Man untuk Karat terinspirasi dari kocokan gitar Dying Fetus. Tak cukup dengan inspirasi metal-metal favoritnya, Man, Okid, dan Jawis kerap berlatih bersama mengembangkan berbagai pirigan karinding yang lebih variatif lagi. Daya eksplorasi Man juga merambah vocal. Sebagai vokalis ia punya bayanga lirik yang pas untuk Karat. “Kawih Pati” adalah lirik yang ditulis Man, selain ia juga menggubah lirik “Lagu Perang” yang ditulis Kimung, dicampurkan dengan bahasa Inggris. Mengeksplor bahasa juga ia lakukan di “Blues Kinanti” di mana ia mempersiapkan lirik kinanti “Budak Leutik” dalam beberapa bahasa seperti bahasa Inggris, Jepang, Jerman, Prancis, dan harapannya bahasa Uganda serta Aljazair.

Aki Amenk
Siapa pula yang tak kenal Aki Amenk? Vokalis band death metal legendaris Disinfected ini tentu saja salah satu pionir yang selalu ada di barisan terdepan gerakan death metal Ujungberung Rebels. Bersama Man dan Okid, Ki Amenk lah yang mengeksekusi keberhasilan pergelaran Bandung Death Fest. Ki Amenk juga yang selalu dipasang sebagai panglima lapangan setiap BDF digelar dari tahun 2006 sampai 2009. kita pasti paham kenapa Ki Amenk selalu menjadi panglima atau komandan lapangan. Ya, karena dialah salah satu sosok yang paling dilihat dan dituruti oleh kawan-kawan, terutama adik-adik di scene death metal, di manapun berada. Ki Amenk begitu disegani bahkan hingga ke Makassar. Di panggung Disinfected Makassar Januari 2009 ketika band ini vakum, scene death metal Makassar tetap mengundang Ki Amenk sebagai Disinfected. Mereka dengan bangga kemduian pasang badan menjadi musisi pendukung Ki Amenk membawakan lagu-lagu Disinfected di gig itu.

Bersama Man dan Okid pula Ki Amenk adalah orang pertama di scene yang melebur dengan Kasundaan. Dialah orang yang sangat mendukung Man merubah imej BDF menjadi lebih teduh dan ramah. Ia juga yang pertama kali memakai iket di scene metal dan segera menular ke kawan-kawan dan adik-adik. Aki Amenk juga yang pertama kali menguasai karinding dan Maret 2010 ia berhasil membuat celempung pertamanya sekali jadi!

Daya eksplorasi musik Ki Amenk yang tinggi merambah juga ke seni karinding. Ia dengan cepat mempelajari alat musik terkecil di dunia ini dan mengembangkan berbagai pirigan. Ki Amenklah yang menerbitkan optimisme Kimung bahwa karinding dan celempung bisa ngawin dalam berbagai ketukan, bahkan ketukan hypercan sekalipun. Di era penciptaan “Lagu Perang”, Ki Amenk lah satu-satunya yang bisa mengejar ketukan hypercan Kimung dengan luwes, sementara yang lain kewalahan mengejarnya. Ia juga yang berhasil mengisi lagu “Kawih Pati” bermain karinding sambil ngaguar vokal yang growling panjang. Selain semakin menghaluskan celempung buatannya, Ki Amenk juga lagi belajar meraut karinding, serta alat-alat musik lain yang ia kembangkan bersama Jimbot Musisi Serba Bisa.

Kimung

Kimung belajar karinding dari Aki Amenk sekitar bulan Oktober 2008. Kimung baru memiliki karinding beberapa minggu setelah penampilan Giri Kerenceng di loncing Morbid Nixcotine 12 Desember 2008. Sejak itulah secara konsisten Kimung berguru pada Ki Amenk dan Mang Utun dalam bermain karinding. Kimung termasuk lambat bisa menguasai karinding. Dibandingkan Ari Bleeding Corpse yang langsung bunyi karindingnya, Kimung membutuhkan waktu sekitar dua atau tiga minggu untuk mendapat hasil bunyi resonansi yang pas. Namun demikian, Kimung memiliki hasrat yang besar dalam bermain dan mengembangkan karinding. Kecintaannya pada alat musik ini juga mengantarkannya pada alat musik lain pasangan karinding, yaitu celempung.

Kimung pertama kali belajar celempung sekitar Mei 2009 dari Mang Engkus dan Hendra. Saat itu rata-rata kemampuan bermain karinding para personil Karat sudah semakin baik. Kimung pelan-pelan memahami bahwa irama utama dari seni karinding adalah di pasangannya, celempung. Kimung melihat higga saat itu Cuma Hendra yang memainkan celempung. Ia membayangkan jika banyak juga yang bermain celempung, maka akan semakin banyak irama yang bisa dimainkan, semakin eksploratif juga permainan karinding. Maka ia belajar celempung. Celempung pertama Kimung adalah anak celempung Mang Engkus. Jadi dalam celempung ada istilah celempung anak dan celempung indung. Keduanya berasal dari awi saleunjeur. Jika dibuat dua celempung maka suaranya akan sajodo dan ngawin. Nah, celempung anak yang kemudian diperoleh Kimung dari Mang Engkus.

Kimung memperoleh dua celempung lagi beberapa bulan kemudian, tepatnya Agustus 2009 ketika ia berangkat ke Kasepuhan Cipta Mulya, Cisolok, Banten Kidul, ketika melakukan riset tentang angklung. Dari seniman angklung Cipta Mulya, Pa Ardi, Kimung membeli dua celempung sajodo anak jeung indung, plus bonus karinding kawung yang umurnya lebih dari 50 tahun. Celempung ini bentuknya lebih buhun dari buatan Abah Olot. Gongnya juga tidak seekspresif gong celempung Abah Olot. Tapi menurut Mang Engkus, celempung Cisolok, suaranya lebih ahung, cocok untuk kabuyutan dan menjadi media meditatif yang individual. Dengan tiga celempung ini serta bantuan tanpa akhir dari duet mautnya, Mang Hendra, Kimung menciptakan lagu “New York, New York!”, “Kawih Pati”, “Lagu Perang”, dan sekarang menggarap lagu terbaru “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol!”. Kimung setidaknya sudah emmesan tiga celempung lagi dari tiga kawannya, Komunitas Gembok Civalengka, Eumo Rinding bandung, dan tentu saja dari Ki Ameng Karat.

Hendra
Pertama kali bertemu Hendra, sosok ini begitu pendiam. Dia hanya diam di sudut memperhatikan hiruk pikuk di sekitarnya, asyik ngelepus udud tembakau lintingan daun kawung. Ia berpangsi dengan rambut disanggul, susuk kujang di rambut, serta iket mengikat kepala dan gelungan rambutnya dengan sangat rapi. Tak banyak yang ia katakana pertama kali kenal, selain senyumnya yang ramah dan tutr katanya yang halus. Ya itulah Hendra, sangat rendah hati. Dialah yang kemudian banyak mengajarkan karinding kepada Karat dan celempung kepada Kimung. Hendra pertama kali diajak masuk ke dalam lingkaran scene oleh Mang Engkus, Sang Dewa Karinding Swasta. Hendra yang rumahnya satu wilayah di kawasan Cimahi dengan Mang Engkus bagaikan duet maut dengan sang master pada masa awal perkenalannya dengan scene.

Lalu Hendra pelan mulai melepaskan diri dari sosok Mang Engkus. Ia menampilkan dirinya yang someah dan bisa mengikuti gairah scene Ujungberung Rebels untuk pelan-pelan keluar dari pakem karinding celempung dan membangun aransemen lagu-lagu. Hendra bahkan memberikan kontribusi yang sangat besar dalam mengembangkan musikalitas Karat baik di ranah waditra karinding, celempung, bangkong reang, maupun toleat. Hendra pula yang bermain karinding dan celempung di rekaman Karat yang beredar di scene “Hampura Ma” walau hingga saat itu permainanKarat masih dalam bentuk pakem standar yang ‘palid’. Hendralah yang menciptakan pirigan provokatif “Wasit Kehed!” yang inspirasinya ia tangkap secara sederhana dari teriakan maki penonton pada wasit dan kemudian diterjemahkan dengan sempurna dalam pirigan yang mantap buat lagu Karat, “Washed!”.

Bersama Kimung, Hendra menjadi duet maut celempung Karat. Tanpa Hendra, Kimung jelas tak akan pernah bisa menyelesaikan lagu “Kawih Pati”, “Lagu Perang”, dan “New York, New York!”. Kimung juga sering mengungkapkan jika ia tak akan bisa bermain celempung dengan sempurna tanpa Hendra. Apa yang dilakukan dua celempungers ini memang saling mengisi. Hendra mengisi kekosongan pirigan Kimung, dan begitu sebaliknya, sehingga pirigan yang terbangun menjadi rekonstruksi tetabuhan yang mantap dan harmonis.

Jawis

Dulunya, Jawis adalah vokalis band crustcore Disaster. Sayang bandnya tidak aktif lagi dan Jawis akhirnya berkelana di banyak scene. Tiga scene yang diakrabi adalah Purnawarman, PI Punks, dan Ujungberung Rebels. Di Ujunngberung, tokoh kita ini dikenal sangat dekat dengan Ivan Scumbag. Dialah orang yang benar-benar dekat dengan Ivan Scumbag di masa-masa akhir hidup Sang Rockstar. Selain dekat dengan Ivan Scumbag, Jawis juga snagat dekat dengan Ki Amenk. Dapat dikatakan, Jawis adalah salah satu orang yang paling dipercaya oleh Ki Amenk. Jawis juga tokoh sentral di balik Morbid Nixcotine yang mengatur flow distribusi, marketing, hingga branding rokok ini hingga mencapai kestabilan pasar di bulan ke tiga—bulan di mana rokok ini dimatikan dengan sengaja oleh Ki Amenk dan Jawis dkk.

Jawis salah satu orang pertama di scene yang menunjukkan minat yang tinggi dalam bermain karinding. Walau termasuk yang susah bunyi, Jawis tak pernah menyerah. Hampir satu tahun ia terus menghajar karindingnya bersama Karat, tak pernah menyerah ikut manggung walau masih berstatus magang. Dialah kru sejati Karat yang tak pernah putus mendukung genster ini ke manapun mereka pergi, dan akhirnya atas segala dukungan, perjuangan, serta kesungguhannya, Jawis akhirnya diangkat menjadi personil tetap Karat. Semenjak itu, permainankarinding Jawis meningkat dengan pesat. Dialah yang pertama kali menemukan pirigan karinding untuk Karat ketika awal Karat berkolaborasi dengan Burgerkill di “Tiga Titik Hitam”. Jawis juga yang menyarankan agar Karat mengganti kata “Hajar!” di baris terakhir “Lagu Perang” dengan kata “Perang!” sebagai penanda habisnya tiap bar, untuk memudahkan Kimung dan Hendra membackingi vokal Man.

Gairah Jawis untuk mempelajari Kasundaan juga terus terpelihara. Ia juga termasuk tokoh yang pertama memakai iket di scene dan terus bertahan memakai pangsi, apalagi ketika ia sudah mendapatkan pangsi Baduy Panamping ketika ia bersama Kimung, Gustaff, Reina, dan Indra Jenggot menyambagi Kasepuhan Sinar Resmi, Cisolok, Banten Kidul, dua minggu setelah kunjungan pertama Kimung ke sana.

Okid
Okid, bersama Man dan Ki Amenk adlah penggagas BDMS dan BDF yang legendaries itu. Ia adalah eksekutor lapangan yang tanguh dan tahan banting. Agaknya kemampuannya ini tertempa sendirinya sejak ia mulai yterjun ke jalanan dan akhirnya tergabung ke dalam kru legendaries band death metal Forgotten, Terlaknat Crew, dan tentu saja Baby Riots War Machine Squad pimpinan panglima perang Butchex The Cruels. Kita pasti tak asing dengan kisah-kisah heroik perkelahian jalanan dan perkelahian di berbagai gigs antara Terlaknat Crew dan para penantangnya. Kita juga pasti mahfum akan keberadaan Ae Sang Petarung dan pengaruhnya kepada Okid dalam bertindak. Satu tahun sebelum BDF, Okid sukses menggarap acara metal Rottrevore Death Fest dan merancang gig full brutal ini menjadi produksi DVD Metal Pertama di Indonesia, Rottrevore Death Fest DVD dengan produser Rio dan Rottrevore Records. Jauh sebelumnya, Okid memang bergerilya bersama Rio di ranah bisnis distribusi rekaman band-band scene metal bersama label terlaknat yang disebutkan tadi. Kini Okid tetap setia bergerilya bersam Rottrevore dan ia meluaskan sayap bisnis label ini dengan beraliansi dengan gangster hiphop sayap bisnis milik Ucok Trigger Mortis, Remains Distro di kawasan Cihampelas, Bandung. Okid juga aktif sebagai off roader bersama Yulli Jasad. Dia bersama Yulli dan Kelly yang menyebarkan pamflet BDF 1 hingga ke luar kota dalam satu malam saja.

Okid mengenal karinding dalam masa yang bersamaan dengan Karat lainnya. berbeda dengan Karat yang lain, Okid ternyata lebih kesengsem kepada toleat, selain karinding. Maka Okid yang kemudian mendapatkan toleat dari Mang Engkus terus mempelajari saluang Sunda itu. Okid mengaransemen toleat dengan sangat baik dan pas ketika Karat bermain live dalam acara Ziggie Wiggie di STV featuring Eyefeelsix dlam lagu “Eyefeelsix”. Aransemen toleatnya tidak maruk, sedikit tapi nyubit dengan tepat dan pas, mengaun tanpa terasa, tiba-tiba sudah diawang. Dalam berbagai kesempatan, Okid juga sering menodong belajar berbagai waditra tiup lainnya kepada musisi serba bisa, Mang Jimbot.

Okid sang vokalis Gugat sebetulnya sudah sedari awal mendukung Karat. Namun berbagai kesibukan membuat Okid baru benar-benar fokus ke Karat belakangan. Namun demikian, kontribusi Okid tak dipertanyakan. Sebagai vokalis, ia sudah menulis lirik yang diberikan pada Man untuk mengisi lagu “New York, New York” yang ngga beres-beres. Okid juga menjadi sharing partner yang hebat bagi Man dan Jawis dalam menciptakan berbagai pirigan aneh yang kelak memperkaya variasi pirigan Karat.

Jimbot

Jimbot adalah musisi serba bisa! Ini bukan main-main! Ia bisa memainkan kendang—ia adalah kolaborator Tcukimay di lagu “Diktator” dan “Biru Ti Bandung”—rebab, tarawangsa, kacapi, suling, toleat, taleot, bedug, celempung, dan masih banyak lagi waditra Sunda lain yang bisa dimainkan Jimbot dengan sangat baik. Jimbot juga memiliki latar musikalitas yang panjang. Ia adalah musisi Lingkung Seni Sunda (Lises) Fakultas Sastra Unpad Jatinangor, sempat berkeliling negara-negara di Asia dan Eropa dalam misi kesenian tradisional Sunda, berkolaborasi dengan banyak band, antara lain : membuat lagu bersama Gustaff Ganjoles, penabuh kendang di Gohgor bersama Kimung, pemain suling, kacapi, rebab, kendang, dan bedug di band Trah, menggarap soundtack game on line kerajaan-kerajaan di Nusantara yang digagas website Wacana Nusantara, dan tentu saja mengaransemen pola perkusi dan waditra tiup untuk Karat. Siapapun yang mendengar intro toleat “Hampura Ma” pasti setuju jika nada-nada yang dengan dingin mengalun menciptakan aura merinding itu pasti keluar dari tiupan seorang ahli.Ya, dan sang ahli itu adalah Jimbot. Jimbot juga yang mengisi sesi percakapan, jeritan, dan tangisan di “Hampura Ma”. Kabarnya ia benar-benar menangis ketika mengisi sesi ini.

Jimbot yang sangat ahli perkusi banyak memberikan masukan mengenia pirigan-pirigan variatif kepada Kimung dan hendra agar kedua celempungers Karat ini berani bermain out of the box—lepas dari pakem, walau kadang motif pirigan yang diajari Jimbot terasa terlalu rumit dan jazzy banget bagi Kimung dan Hendra yang tentu saja masih hijau bagi pirigan-pirigan Jimbot yang kental dengan kendang, semetara kedua celempungers ini lebih cenderung lerlatar belakang drums.

Jimbot juga banyak sekali memberikan kontribusi dalam fill in lagu-lagu Karat walau hingga kini belum ada satupun yang benar-benar fiks. Bukan karena jelek mengisinya, tapi justru karena terlalu bagus dan bingung memilihnya wekekekkk… Pola waditra tiup yang paling pas dibuat Jimbot kini adalah suling besar dalam “Kawih Pati” dan alat kaulinan budak mamanukan dalam “Washed!”. Kimung sendiri ada bayangan Jimbot bermian terompet bernada mangprang di “lagu Perang” untuk membangun suasana. Jimbot juga sepertinya cocok mengisi perkusi di “New York, New York”.

Mang Engkus
Inilah dia Dewa Karinding Swasta! Dialah guru dari Karat. Orang boleh bilang jika Abah Olot adalah master karinding, tapi tetap saja, guru karinding, celempung, dan toleat Karat adalah mang Engkus. Tokoh inilah yang pertama kali membawa waditra-waditra bambu ini ke anak-anak metal Ujungberung Rebels dan membat mereka semua jatuh cinta pada sentuhan pertama. Mang Engkus pula yang mengajarkan waditra-waditra ini dengan sabar di setiap kesempatan, disertai berbagai kisah menggugah mengenai karinding, baik kisah-kisah yang berasal dari folklor ataupun juga kisah-kisah yang ia alami sendiri. Kisah mengenai karinding sebagai alat musik pengusir hama,a alt usik ritual pertanain, hingga alat musik para playboy buhun pemikat perempuan juga didapatkan dari Mang Engkus.

Mang Engkus adalah murid langsung dari Abah Olot. Awalnya ia tergabung dengan Giri Kerenceng, kelompok karinding Abah Olot sebelum akhirnya berkelana membentuk kelompok musik karinding baru seperti Maman Dago (singkatan dari Mamantes Maneh Dasar Goblog!) hingga rengrengan karinding yang dimainkan oleh kelomokKasundaan di jalan Dr Curie. Namun tetap, menurut pengakuan Mang Engkus dari begitu bayak rengrengan yang ia santroni, rengrengan yang palingmurni berdekatan dengan seni musik karinding itu sendiri adalah si Karat. Mang Engkus pula yang mengawal Karat di masa-masa awal band ini berdiri, ketika tak ada kejelasan personil, ketika semua datang dan pergi. Mang Engkus tetap di sana.

Sayang ketika Karat semakin menemukan bentuknya, ketika Karat sudah semkain jelas pemainnya, pola music dan kemudian semakin berkembang, Mang Engkus tetap diam di titik awal. Ia sempat menghilang dari Karat dan dalam banyak kesempatan ketika Karat bermain kacau karena bentuknya masih begitu mentah, ketika Karat mencoba melepaskan diri dari pakem dan menjadi diri sendiri. Mang Engkus sempat kembali di sesi-sesi latihan kolaborasi Burgerkill dan Karat, namun apa daya, saat itu bentuk Karat sudah semakin kuat sementara Mang Engkus tetap saja berada di titik awal karat berangkat. Sosok ini memang terus menjadi pengiring Karat, pegawal, penasihat, sekaligus guru besar spiritual Karat yang terus dijunjung dan dihormati sepanjang napas Karat menghasilkan nada, lagu, dan pesan bagi jutaan anak muda Sunda di sana…

Sabtu 20 Maret, Kunjungan Tim Komunitas Trans TV
Sabtu itu sisa-sisa sakit tenggorokan, demam, dan batuk-batuk Kimung imbas dari perjalan ke Jakarta untuk suting MTV Studio masih berasa. Tapi ia harus bersiap-siap menyambut tamu dari Trans TV Jakarta malam itu. Hari Jumat dini hari sesaat sebelum suting MTV Studio brakhir, man mengabari Kimung jika akan ada wartawan-wartawan program Komunitas dari Trans TV akan datang menemui karat Sabtu ini. Awalnya, Man yang dihubungi. Namun, berhubung Man sedang di Lampung untuk panggung Jasad, maka Man meminta Kimung menemui wartawan tersebut. Dan pukul setengah delapan malam para warawan itu ahirnya datang setelah mereka suting dulu bersama Punklung di kawasan Rancaekek. Bertepatan dengan kedatangan para wartawan, datang juga gangster Bandung Oral History, Zia, Ngef, Dian AQ, dan Alan untuk membahas rencana diskusi dua bulanan “Sejarah GMR FM” 25 Maret nanti. Suasana semakin ramai. Kimung yang asalnya merasa aga-aga demam langsung terlihat sumringah dengan keramaian itu.

Banyak yang digali oleh para wartawan Trans 7 untu persiapan suting mereka nanti. Dari muai Karat, karinding, hingga komunitas Sunda Underground dan metal Ujungberung, Bandung, Indonesia, dan Asia dibahas di beranda rumah Kimung malam itu. Sebuah bahasan yang ternyata saling sambung menyambung menjadi satu pembahasan besar yang masing-masing memiliki muara nilainya sendiri-sendiri jika akan difokuskan. Para wartawan mohon pamit kemudian ketika mereka merasa informasi yang diberikan Kimung sudah mencukupi bahan riset awal mereka.

Senin 22 Maret

SMSan Kimung – Mang Utun – Jawis – Man Jasad – Hendra Attack saling SMSan bertukar kabar. Kimung mengabari penggarapan lagu baru Nu Ngora Nu yekel Kontrol yang ia singkat N4K atau ENFORC3. Groovy ah hancas!!!

Selasa 23 Maret, Menggarap lagu-lagu “Sia-sia Asa Aing”, “Ririwa Di Mana-Mana”, dan “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol!”
Selasa malam, gerimis sangat rapat. Kimung yang baru saja sampai rumah, menemukan Hendra yang tengah menunggunya pulang. Segera saja mereka merapat ke beranda Kimung dan setelah snak snik snuk dan nyah nyeh nyoh, sesi menggarap lagu dimulai.
Awalnya Kimung mengundang Hendra untuk menggarap calon lagu baru Karat, “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol” atau kita singkat “ENFORC3” saja. Namun belakangan Kimung berubah pikiran. Sejak Juni 2008 ia memang menulis banyak sekali lirik berbahasa Sunda yang awalnya ia tuliskan untuk Sonic Torment, band death metalnya. Namun karena semua lagu itu tak terpakai di Sonic Torment, maka mereka mengendap begitu saja. Bagai arwah bayi yang tak jadi lahir, lagu-lagu itu bagai terus menghantui Kimung, meminta agar segera dilahirkan. Kimung sempat merilis lirik-lirik itu di Facebook. Namun lirik-tetaplah lirik. Mereka senantiasa merindukan musik untuk menjadi utuh. Maka demikianlah, ketika Karat mulai bosan dengan lagu-lagu yahng sudah ada, sementara begitu banyak lirik tak terpakai di bindernya, Kimung memutuskan untuk menggarap beberapa lagu saja sekalian malam itu.
Konsep yang dibayangkan Kimung adalah Karat kembali ke pirigan-pirigan sederhana dalam lagu-lagu baru ini, namun tetap dalam konteks attacking—dalam arti jika pirigan lebih sederhana, berarti ada yang harus dieksplorasi, dan bayangan Kimung, yang akan dieksplorasi kini adalah vokal. Visi ini tak spontan dating. Sudah sejak lama, Kimung melihat kesungguhan Man, Okid, Amenk, dan Jawis dalam mengeksplorasi berbagai teknik vokal yang ada di kesenian buhun. Namun demikian, hingga Karat kini sudah memiliki tuuh lagu, sepertinya tak ada satu lagu pun yang menyediakan ruang khusus tempat mereka mengeksplor teknik-teknik vokal yang ingin mereka coba. Maka dalam visi Kimung, tiga lagu ini bisa memberikan ruang bagi vokal. Kimung juga berharap, dalam lagu-lagu ini semua Karat bisa ikut bernyanyi.

Lagu pertama yang coba dimainkan adalah “Ririwa Di Mana-mana”. Lagu ini mengalir dengan sangat spontan, sakali jadi! Awalnya Hendra menggombel karindingnya dalam pirigan yang sangat groovy. Tadinya, Kimung mau masukin lirik “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol”, namun ternyata tak pas. Setelah beraih ke lirik lagu di halaman sebelah, ternyata lirik yang ini mah pirigan dan gongnya sangat pas! Maka dipakailah lirik tersebut. Judulnya “Ririwa Di Mana-mana”. Antara nyanyian dan pirigan karinding saling mengisi dan bersahut-sahutan. Ada irama juga yang kemudian perlahan-lahan terbangun. Iramanya bodor, seperti irama cara bernyanyi calung. Humor sarkas seperti realita yang dipaparkan dalam lirik. Kimung dan Hendra jatuh cinta pada pendengaran pertama lagu “Ririwa”. Hendra mengetes semua karinding miliknya untuk lagu ini dan akhirnya ia merasa sangat pas dengan karinding surupan galimer. Semua surupan karinding Hendra dan nyanyian Kimung di “Ririwa” terekam dengan baik di Mp3 player Kimung.

Lagu berikutnya juga diawali oleh pirigan karinding Hendra. Ia ngagombel karindingnya dalam pirigan aneh dua nada yang konstan rendah dan tinggi, terkadang bervariasi, namun tetap ada di dalam satu gong. Pirigan itu langsung klik dengan visi Kimung tentang eksplorasi vokal. Ia lalu merencanakan mengisi baris pertama oleh vokal Man dengan teknik vokal Man yang aneh (bebas we lah kumaha Man wekekekkk), baris ke dua oleh vokal Okid yang screaming treble ala black metal, dan di bait reff diisi oleh teknik vokal biasa, berteriak lantang ala hardcore. Kimung mengisi pirigan karinding Hendra dengan lirik “Sia-sia Asa Aing”.

Celempungnya ditemukan dengan tidak sengaja. Jadi selama lagu ini digarap, anak Kimung Avatar lagi main-main di halaman malam itu. Biar tak main sendirian, Kimung lalu mengajak Avatar untuk bermain celempung. Avatar mengisi celempung dengan pirigan standar ia kalau bermain celempung dengan Kimung. Sangat sederhana, namun ternyata bisa mengisi lagu ini. Lagi pula, lagu ini tidak butuh pirigan celempung yang mewah dan rancah. Eksplorasi vokal saja sudah cukup meramaikan lagu ini. Kesederhanaan pirigan celempung lagu ini justru menambah kekuatannya.

Lagu berikutnya, baru Kimung dan Hendra beralih secara serius ke celempung. “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol” atau “ENFORC3” yang sekarang akan digarap. Lagu ini diawali dengan intro beat punk dari celempung Cisolok Kimung yang diisi secara sederhana oleh beat cepat celempung Giri Kerenceng oleh Hendra. Lagu ini terdiri dari dua pirigan celempung, pirigan punk dan pirigan beat metal yang rapat. Pirigan diset berpindah-pindah tanpa ada aba-aba dan di beberapa sisi lagu ini terasa lebih berat dari “Lagu Perang”. Namun, dibandingkan “Lagu Perang”, pirigan “ENFORC3” jauh lebih sederhana. Lagilagi, lagu ini diproyeksikan untuk jang olah vocal para penyanyi di Karat.

Kamis 25 Maret, Kimung & Man Join Session w Karmila Live in Ngabandungan III
Sore itu, Bandung Oral History menggelar Ngabandungan 3, diskusi dua bulanan yang untuk edisi Maret ini bertema sejarah GMR Rock Station, sebuah stasiun radio metal yang pernah menjadi salah satu titik perkembangan scene music independen di Kota bandung era 1990an. Sebagai pembuka, BOH mengundang Karinding Militan Anarki, disingkat Karmila untuk tampil.
Karmila tampil sore itu dengan hebat! Meraka membawa salah satu pemain Taishogoto—kecapi Jepang modisifasi yang hanya ada 10 buah saja di Indonesia—untuk mendukung penampilan Karmila. Kimung dan man jasad join session dengan karmila sore itu hheuu.. Kimungmenulis di jurnalnya, ia serasa di bawa lagi ke masa-masa Karat menghajar karindingan wekekekkk…

Jumat 26 Maret, Bersuka Ria dengan Anak-anak di Sekolah Cendekia Muda dan Jumat Kramat
Pagi yang cerah. Sekolah Cendekia Muda di Puri Ayu Arcamink terlihat sangat ceria pagi itu. Mereka bersenda gurau di lapang sekolah, memakai baju warna-wani, kebaya, pangsi, batik, dan baju-baju lain yang bernuansa Sunda. Yaa hari ini Sundanesse Week Sekolah Cendekia Muda dan semua anak sangat antusias menyambut hari ini karena berbagai perlombaan sudah disiapkan, dari membaca carpon, cerdas cermat bahasa Sunda, hingga permainan-permainan seperti perepet jengkol, balapan egrang, sampai bambu gila sudah siap sedia.

Untuk mendukung kemeriahan warna-warna ceria semangat anak, Sekolah Cendekia Muda mengundang Karat untuk tampil di sesi pergelaran musik Sunda. Kimung, yang juga guru Sekolah Cendekia Muda juga lalu menyarankan sekolah untuk mengundang Jimbot & Mang Ayi untuk nabeuh mengiringi keriaan lomba. Maka jam delapan kurang lima belas menit, Jimbot, Mang Ayi, dan Deni sduah hadir di Sekolah Cendekia Muda. Tepat jam delapan mereka mulai nabeuh. Jimbot dengan energik nabeuh kendang pencak silatnya bertimpal ditimpal kecrek Deni yang mengundang ria. Mang Ayi lalu membangun aura Kasundaan dengan tiupan tarompetnya membuat pagi semakin semarak saja. Tak seberapa lama, Kimung bergabung memainkan bonang mengiringi alunan rancak Jimbot-Mang Ayi-Deni. Semua bersuka ria pagi itu. Tak henti-henti Jimbot, Mang Ayi, Deni, dan Kimung tertawa-tawa melihat tingkah polah anak-anak Sekolah Cendekia Muda yang sangat bersemangat ikut lomba-lomba kaulinan budak. Dari perepet jengkol hingga egrang dijajal semua anak dengan antusias dan semangat tinggi. Saking semangatnya tingkah mereka akhirnya sering mengundang tawa ngakak. Tawa tambah berderai-derai ketika anak TK datang berkunjung. Hahahahahaaa… lucuuuuunyyaaaaa hahahahahaaaa… Mereka begitu kecil, begitu innocent hahahahahahaaaa… Anak TK juga tak mau ketinggalan dari kakak-kakaknya di SD dan SMP. Mereka ikut bermain perepet jengkol dan memberikan dukungan kepada kawan-kawan serta kakak-kakaknya yang berlomba. Saat itu Okid dan nenengnya tiba, disusul Man yang pergi langsung dari Garut tiba tak lama kemudian.

Tak terasa waktu berlalu cepat. Tiba-tiba jam munjukkan sudah jam setengahs epuluh dan waktunya snack time di Sekolah Cendekia Muda. Jimbot, Mang Ayi, Deni, dan Kimung pun beristirahat nabeuh sejenak. Mereka ke warung Oma untuk segelas dua kopi dan the. Saat itulah Mang Utun dan Jawis tiba. Hendra yang dihubungi jam Sembilan ternyata mengaku tidak tahu acara ini sehingga tak siap-siap. Ki Amenk juga berhalangan hadir pagi itu. Namun pasukan sudah cukup dan sangat siap. Karat siap menggoyang!!!
Dan benar saja! Anak-anak kelas 4, 5, 7, 8, beberapa anak kelas 9, dan guru-guru berkumpul memadati di ruang aula kelas Hexagon – Axis. Semangat anak-anak yang begitu meluap-luap menular seketika kepada Karat. Dengan semangat Jimbot, Mang Utun, dan Man bergantian bercerita memperkenalkan waditra yang dimainkan Karat pagi itu mulai dari karinding, suling, toleat, celempung, bangkong reang, hingga tarompet Mang Ayi. Wuiiihhh tak akan terlupakan wajah-wajah cilik yangbegitu antusias ituuuu hahahahaaa…

Karat membuka gig ini dengan “Karinding Sampurasun” yang merupakan permainan karinding pakem dasar bagi Karat yaitu tonggeret dan leumpa leumpi leumpong. Setelah hening dan tepuk tangan, Karat lanjut dengan “Rajah Bubuka”. Mang Ayi yang ngarajah pagi itu… duuhh Mang Ayi halimpuuu pisaaann Mang!!! Rahayu!!! Permainan sedikit dinaikkan dengan “Ayun Ambing” dan akhirnya karena begitu banyak rikues dari anak-anak SMP yang ingin Karat memainkan musik yang more hardcore, maka Karat menaikkan tempo dengan “Lagu Perang”. Anak-anak yang terbengong-bengong segera dibuai lagi dengan “Kinanti Blues” Hapal dengan lagu pupuh kinanti “Budak Leutik”, anak-anak menyanyi bersama. Lagu yang dibuka oleh Mang Ayi dan kemudian dieksekusi Man ketika Karat membelokkan pirigan ke blues ceria itu, membuat anak-anak tercengang. Tapi seluruh anak-anak di kelas bernyanyi bersama. Mereka menyahut bersama-sama ketika Man bernyanyi dari bait per bait. Hahaha ceriaaa teruusss!!

Karat akhirnya menutup gig dengan lagu kaulinan murangkalih, “Oray-Orayan”. Namun ternyata ada rikues Karat membawakan “Manuk Dadali” Hajar teruuusss hahahahaaa. “Ibu Regina… Ibu Regina… Ibu Regina… Ibu Regina…” Rikues dari anak-anak agar Bu Regina yang rikues lagu ini untuk bernyanyi. Namun ternyata Bu Regina malu-malu hingga Karat menghajar lagu ini kembali diisi koor anak-anak yang bernyanyi “Manuk Dadali” Hahahahahaaa.. The best unforgettable gig ever hahahahaha… Terima kasih Sekolah Cendekia Muda ^^

Setelah beres gig ini karat segera berangkat ke kelas Sekolah Cendikia Muda Arcamanik Endah atau Aren. Bangunannya terpisah sekitar satu kilometer dari Sekolah Cendekia Muda Puri Ayu dan di sini hanya kelas 1, 2, dan 3. Anak-anak kecil ini dua kali lebih antusias!!! Mereka dengan semangat menyimak Man dan Jimbot yang bercerita tentang karinding. Karat segera saja menghajar dengan “Karinding Sampurasun” dan ketika Jimbot bertanya, “Hayoo karinding suaranya kaya apaaa..?” salah seorang anak menjawab “Kaya per di film kartun Kak!!” Hahahahahaaa.. iya juga sih yaaa hahahahaaa…

Sayang di kesempatan ini Karat tak maksimal. Karena hujan turun dengan deras dan anak-anak harus pindah ke panggung maka situasi menjadi tidak terkendalikan. Anak-anak itu masih tetap sangat antusias hingga akhirnya Karat menutup gig dengan lagu palid karinding toleat. Karena hujan semakin lebat semua segera masuk. Lagi pula sudah jam setengah dua belas dan sebentar lagi Jumatan. Maka semua masuk ke kelas masing-masing, sementara Karat ke ruang guru untuk makan siang bersama dulu. Hmmmm yuummmiiieee… ^^  Ayam bakar, tahu, cabe, sambel, lalab hantaaamm!! Alhamdulillah Ya Allah…

Pas lagi nunggu makan, tiba-tiba beberapa anak berseragam tim bola SD Cemdekia Muda masuk ruang guru dan nyamperin Man. “Kak minta tanda tangannya donk…” Man tercengang dengan permintaan anak-anak itu, namun tak urung ia membubuhkan tanda tangannya ujuga. Asalnya si anak minta tanda tangan di tangannya, tapi Man minta si anak membawa bukunya untuk ditandatangani. “Untuk Faris, Sekolah yangRajin dan Rajin Shalat yaa..” Tingkah satu anak ini segera disusul dengan  yang lain yang juga minta tanda tangan dari Man. Whaaa man di mana-mana pasti punya fans uuuyyy hahahahahahaaa… Bahkan di SD Cendekia Muda hahahaaa…
Sehabis gig, Karat kembali ke Sekolah Cendekia Muda Puri Ayu. Mereka sempat berteduh sambil ngopi-ngopi di Warung Oma sambil ngobrol ngalor ngidul menunggu hujan reda. Benar Mang, banyak yang harus kita kerjakan. Menggarap kawih-kawih kaulinan murangkalih     dalam aransemen karindingan itu snagat utama!!

Malamnyah…

Latihan Karat malam ini banyak ayng absen. Jimbot sedari siang sudah bilang nggak akan hadir karena mau nganter Mang Ayi ke Subang. Ki Amenk kabarnya sakit. Man berlatih dengan Jasad tapi ia bilang mau dateng kalo latihan udah beres. Jadi Karat yang hadir hanya Hendra, Mang Utun, Kimung, Okid, dan Jawis yang datang bersama Gustavo dan Zemo. Ada Fiki dan Ugun dari Bandung Oral History yang mau riset tentang Karat demi keikutsertaannya dalam Eagle Award Metro TV yang rencananya akan mendokumentasikan Karat. Malam itu juga dimeriahkan dengan kedatangan kawan-kawan dari Unikom yang sedang penelitian mengenai karinding. Hmm ada sekitar tujuh orang, cewe dua, cowo lima. Ada juga Kang Abay dkk yang sebentar singgah tapi kemudian pergi lagi dan janji akan kembali.

Latihan malam ini lebih fokus ke lagu baru. Diawali dengan mendengarkan hasil rekaman hari selasa malam ketiga lagu baru dan pemaparan sederhana Kimung ke Karat yang hadir mengenai konsep lagu yang ada dalam bayangan Kimung untuk lebih menyederhanakan pola musik dan mengeksplorasi warna-warna vokal di dalam Karat. Malam itu, Kimung dan Hendra mencatatkan pola baku buat “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol” dan memainkan “Ririwa Di Mana-Mana”. Rekaman lagu-lagu yang adadikopi dilaptop Okid dan dikopi oleh Karat untuk dipelajari. Okid juga mengetik lirik-lirik baru, termasuk “Sia Sia Asa Aing” yang tak keburu dimainkan malam itu.

Bersambung cuuuu aahhh hheuuu…

10 Playlists Jon 666 : Tarawangsa, Burgerkill, Jimi Hendrix, John Lennon, Jim Morrison, Janis Joplin, Koil, Godflesh,

Books : Salamatahari # 2 by Sundea, Portrait of Bad Religion by Ojel

Movies : 3 Idiots, Ipin & Upin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s