JURNAL KARAT # 9, 19 Maret 2010 BCCF, Anjing Api, MTV’s Burgerkill Berkarat di “Tiga Titik Hitam”

Posted: March 20, 2010 in Uncategorized
Tags:

JURNAL KARAT # 9, 19 Maret 2010

BCCF, Anjing Api, MTV’s Burgerkill Berkarat di “Tiga Titik Hitam”

Oleh Jon 666

Minggu 14 Maret, Sunda Underground di BCCF

Dinamika kasundaan di scene independent Bandung memasuki tahun 2010 semakin bergairah saja seiring dengan semakin ramainya kemunculan kelompok-kelompok musik karinding di Bandung dan sekitarnya. Dinamika ini juga secara tidak langsung semakin mengedepankan Sunda Underground—selanjutnya SUG saja—gangster yang sejak awal berkomitmen mengedepankan kemajuan seni dan budaya Sunda ke tatanan ranah hidup yang lebih jauh. Informasi mengenai SUG silahkan klik di sini https://jurnalkarat.wordpress.com/2010/03/13/sunda-underground-part-1-the-embrio/

Dinamika ini ditangkap juga oleh Bandung Creative City Forum—selanjutnya BCCF saja—sebuah forum komunikasi komunitas kreatif di Kota Bandung. Dalam program BCCF yaitu sesi perkenalan komunitas-komunitas kreatif di Kota Bandung, SUG mendapat kehormatan pertama untuk memeprkenalkan diri. Maka minggu malam itu, bertempat di Gedung Indonesia Menggugat (GIM), beberapa perwakilan komunitas yang aktif di BCCF berkumpul.

Menjelang jam delapan, acara pun di mulai. Dalam kesempatan itu Mang Utun, Kimung, Man Jasad, dan Okid tampil menceritakan mengenai apa sih SUG itu kepada seluruh yang hadir. Mang Utun memaparkan apa latar belakang berdirinya SUG, pandangan filosofis mengenai gerakan SUG, dinamika SUG, rencana-rencana ke depan, hingga harapan-harapan. Kimung mengisahkan kisah sejarah SUG dengan pendekatan sejarah, Man mengisahkan persinggungannya degan scene metal dan dinamika yang telah terbangun di tataran praksis, sementara Okid mengisahkan potensi ekonomi serta kegiatan ekonomi mandiri yang sudah dan akan dilakukan oleh SUG.

Selain presentasi SUG, malam itu juga BCCF menampilkan perwakilan Sultan Plaza yang menawarkan penggunaan salah satu area si Sultan Plaza untuk komunitas. Belum tercapai kesepakatan apa-apa karena hingga saat itu Sultan Plaza masih dalam tahap perkenalan dengan komunitas-komunitas kreatif. Ada beberapa poin yang menggelitik saya, yaitu ketika Kang Andar ngaharewos, “Asa ngadangu Morbis nya hihihiii…” atau yang jadi ganjalan pribadi buat ketika mendengar perwakilan Sultan plaza yang dengan lantang berkata “Agar kegiatan kreativitas bisa tersentralisasi!” Hmmmm… kegamangan saya sedikit terobati ketika ternyata ada perwakilan dari Diknas hadir malam itu—kakaknya El Presidente Budi Dalton, saya lupa namanya—yang memberikan gambaran bahwa untuk memperkenalkan karinding ke sekolah-sekolah ternyata relative mudah. Karat atau SUG hanya perlu mengikuti jalur birokrasi yang telah ada dan jika bias disetujui secara umum oleh pihak Diknas maupun sekolah setelah berbagai pertimbangan, maka karinding bias direkomendasikan seagai salah satu alat penunjang pelajaran, atau minimal ekskul. Yeah, sebuah pencerahan gtuu loooohhh…!!!

Secara umum pertemuan itu memberikan aura positif dan tak ada apapun yang terpikirkan kecuali berkhusnudzon. Semoga Kota Bandung bisa semakin cerah ke depannya dan SUG bias memberikan yang terbaik buat kota ini, amiin! Man dan Okid duluan pulang dalam kesempatan itu karena mereka harus manggung bersama Rudal Rock band malam itu di Score. Dan hey satu lagi, salam ahh buat si teteh marketing Sultan Plaza yang tampil seksoy malam itu xixixiiii…

Senin 15 Maret, Aussie Audiences on Karat

Sehabis acara Rudal, man punya kenalan-kenalan baru. Mereka ada tiga orang, datang dari Australia dan ketika mendengar karinding, mereka menunjukkan antusias yang tinggi, ingin melihat penampilan ksenian ini. Maka demikian, pagi menjelang siang hari Senin, man segera mengontak Karat, apakah bisa berkumpul malam nanti untuk sebuah pertunjukan kecil karat bagi kawan-kawan Australianya itu. Semua mengangguk. Saying Mang Utun lupa dikasi tauu heuheuu… Punten Mang.. si Man taaaahhh xixixiiii… Tapi Mang Utun sendiri malam itu memang ternyata tak bisa hadir karena tak diijinkan oleh putri-putrinya wekekekkkk…

Karat yang hadir malam itu adalah Man, Hendra, Jawis, Kimung, dan dibantu oleh Mang Ismet. Selain kawan-kawan dari Australia, hadir juga kawan-kawan dari tangkringan Mordor memeriahkan suasana karena memang mereka lah yang membawa berkeliling tamu dari Australia itu. Rencananya sehabis mereka menikmati sajian musik karat, akan langsung ke Rancaekek untuk ngaliwet. Huummm yummieee…

Karat maen spontan selayaknya mereka sedang latihan. Kimung yang membawa celempung anak dari Banten Kidul mulai berani mengekplorasi nada-nada yahg ada dalam empat senar celempungnya. Suara-suara celempung ini memang masih belum terkuasai sepenuhnya oleh kimung, tapi eksplorasi itu sudah dimulai kini. Karat membawakan “New York”, “Hampura Ma”, “Wasit Kehed”, “Lagu Perang”, dan “Kawih Pati” malam itu. Semua lagu direkam oleh kawan-kawan dari Australia.

Selasa 16 Maret, Sesi Tiga Titik Hitam di studio Burgerkill

Dan inilah salah satu yang terus menjadi fokus karat sepanjang dua bulan ini : kolaborasi dengan Burgerkill. Setelah libur latihan bareng sekitar satu bulan, kini mereka get together one more time! Selasa sore itu Hendra yang datang pertama kali ke studio, disusul Kimung datang dua jam kemudian, tepat jam empat sesuai jadwal latihan, dan disusul Mang Utun, dan kemudian Dinan tak lama kemudian. Burgerkill sendiri saat itu tengah berkumpul untuk sesi pemantapan dan merekam demo lagu-lagu terbaru mereka yang kelak akan direkam untuk album ke empat Burgerkill. Beuki edaaaaannn siaaaahhhh cuuuuu lagu2naaa hhaaaa!!!! Beruntunglah mereka yang mendengar lagu-lagu ini sejak awal! Edannn pokona!!

Di tengah sesi rekaman Burgerkill, sekitar jam lima, Karat yang lain mulai berdatangan. Amenk, Jawis, Jimbot, dan adiknya Sam. Setelah saling salam dan toast semua berkumpul di beranda studioi dan ini ada berita sangat baik : Aki Amenk berhasil membuat celempung!!!!

Whaaa yaaaaa!! Celempung Aki Amenk dibuat dari awi hideung dan hasilnya benar-benar menakjubkan! Untuk ukuran pemula yang baru pertama kali membuat celempung Aki Amenk layak mendapat apresiasi sepuluh jempol. Buatannya bagus, gongnya ngentrung dengan baik, senarnya juga masih begitu segar dan melahirkan suara yang tertata dengan baik. Buatannya pun termasuk rapih! Jimbot berkali-kali takjub dengan mengatakan, “Ari sugan teh buatan Bah Olot tadi mah euy. Duh si Abah olot geus produksi deui euy ceuk urang the.. Ari pek teh lain ternyata hahahahaa!! Alus alus!!” Amenk dan Jimbot juga sepakat akan lebioh memperbaiki penataan letak batas-batas celempung agar nada yang keluar ketika ditabeuh lebih tertata dan lebih pas. Kimung jelas langsung pesan kepada Ki Amenk. “Sok weh neangan awina csku. Mun geus aya awina mah ku kami lah dieu urang garap!” amenk lebih jauh menceritakan, ia mendapatkan keasyikan sendiri dalam membat celempung. Seperti halnya bermain karinding, memproduksi waditra-waditra ini juga mengundang keasyikan tersendiri kepadanya. Ia bahkan berjanji untuk terus mengeksplorasi berbagai modifikasi celempung atas saran dan batuan dari Jimbot yang memang paham betul tata suara musik Kasundaan. Sore itu celempung buatan Ki Amenk ditabeuh di beranda studio burgerkill diiringi tarian anjing-anjing kecil punya Abah andris dan eben, Donna dan Chelsea.

Dan akhirnya setelah seputaran bada Magrib, Burgerkill Berkarat di Tiga Titik Hitam dimulai. Di sesi awal, karinding masih belum fokus di intro dan outro. Setelah memperbaiki pirigan dan menyamakan kokod, sesi kedua dimulai. Aga-aga lumayan sekarang, kini giliran celempung Kimung, Hendra, dan Abah Andris yang difikskan. Sesi-sesi selanjutnya masing-masing mulai menemukan ruhnya dalam alunan nada. Dan ketika semua sudah di sana, semua mendatangi mereka dengan sendirinya…

Latihan ini direkam beberapa kali oleh Eben, Okid, dan Kimung. Di sesi latihan terakhir untuk kesempatan malam itu, Man bergabung karena ia baru beres latihan dengan Jasad. Semakin lengkap dengan Man! Dinan semakin melengkapi Burgerkill Berkarat di Tiga Titik Hitam dengan dokumetasi foto-fotonya! Well thx brad!!!

Rabu 17 Maret, Karat dan Anjing Api

Anjing Api adalah tema pameran yang digelar oleh seniman muda Agung Jek. Saya kurang begitu paham dengan apa yang dimaksudakan Agung dengan Anjing Api tapi saya selalu dibuat takjub dengan apapunnyang dituankan agung dari dalam pikirannya ke dalam berbagai media rupa termasuk media rupa performance. Kesempatan pertama saya melihat karya Agung adalah di Commonroom ketika sedang mempersiapkan launching buku Gembel Tiga Angka Enam. Agung membawa serta beberapa lukisannya, ia bahkan menghadiahkan salah satu lukisannya kepada Addy gembel dalam kesempatan itu. Saya dibuat tercengang lagi ketika Agung jek dkk perform di launching buku Tiga Angka Enam. Performnya yang spektakuler berhasil menarik saya ke dalam pusaran seniman muda yang menurut saya memiliki kadar eksplorasi lebih di bandingkan dengan seniman lain, terutama jika kita tarik ke ranah gambar-gambar beraura kelam. Untuk lebih paham mengenai konsep seni dan pameran Anjing Api silahkan klik kurasi Addy gembel untuk Anjing Api di http://www.facebook.com/notes/addy-gembel/rantai-kekang-untuk-anjing-api-sebuah-pengantar-untuk-pameran-tunggal-seni-rupa-/396461304883.

Sebuah kehormatan bagi Karat yang diundang untuk manggung di acara pembukaan pameran Anjing Api. Pamerannya sendiri dibuka oleh Tisna sanjaya sebagai seniman senior, kemudian dilanjut oleh kata-kata dari para kurasi Hawe setiawan dan Addy Gembel. Setelah Agung Jek sendiri memberikan sambutan, perform pertama pun dimulai. Sebuah band elektronik—saya lupa nama bandnya sementara listnya ilang di jalan—membuka sesi perform malam itu. Setelah band elektronik itu, Karinding Militan didaulat untuk mengisi panggung.  Karinding Militan yang digawangi para mahasiswa UPI menampilkan kesenian karinding pakem yang menawan. Mereka membawakan lagu “Eling-eling” dan “Bubuy Bulan” sebelum akhirnya mereka mengundang kolaborator mereka kelompok musisi Taishigoto UPI. Taishigoto adalah alat musik modifikan kecapi Jepang, koto, yang dimodifikasi menjadi kecil, memiliki lima snar dan ada tuts mirip mesin ketik. Dengan sedikit canda kita bias sebutkanitu adalah perkawinan antara kota dan mesin tik wehehehehh…

Setslah penampilan Karinding Militan tibalah saatnya karat tampil. Ada lima lagu yang dihajar oleh Karat malam itu. Dibuka oleh “Karinding Bubuka”, Karat langsung merangsek dengan “Wasit Kehed”, “Hampura Ma”, dan “New York”. Setelah mengambil napas sejenak Karat langsung menghajar dengan “Lagu Perang” dan kemudian menutup gig dengan “Kawih Pati”. “Kawih Pati” yang dimainkan adalah versi hari senin ketika tampil di depan kawan-kawan dari Australia.

Sehabis manggung Karat sempat hangout dulu sebelum akhirnya bubar bersiap-siap berangkat ke Jakarta esok harinya. Sebelumnya, salamat agung Jek dengan Anjing Api-nya!!! Anjing yang semoga tak pernah menurut pada tuan siapapun!!!

Kamis 18 Maret, Burgerkill berkarat di Tiga Titik Hitam, MTV Studio Session

Jam 13.00 para personil Karat, Mang Utun, Aki manek, Kimung, Jawis, dan Okid sudah berkumpul di Studio Pieces. Studio ramai oleh para Homeless Crew siang itu, ada Casper, Adoen dan kru Neglasari, dll. Siang itu Karat dijadwalkan untuk suting di Studio MTV, sebagai kolaborator Burgerkill di lagu “Tiga Titik Hitam”. Setelah menjemput, Man dan Hendra yang menunggu di Parakan Asri Buah Batu, mereka segera saja menghajar jalanan menuju Jakarta. Setelah singgah untuk tahu sumedang dan lontong, karat akhirnya tiba di Jakarta. Sempat dua kali muter nyari Pancoran di jalur Cawang, akhirnya pukul lima sore, Karat sampai juga di Studio MTV di Gedung Global MTV, sebelah LIA Jakarta. Mereka segera diantar oleh LO MTV ke ruang yang sudah disediakan. Hingga saat itu dari tiga band yang akan suting dan dijadwalkan loading alat pukul 4 sore, baru Karat yang sampai. Burgerkill ketika dihubungi masih on the way. Sementara Koil akhirnya datang juga bada magrib. Ruang MTV yang super dingin dan ga boleh merokok pula membuat personil Karat kerap bolak balik keluar masuk untuk merasakan hawa hangat dan berbatang sigaret sampe akhirnya kegerahan dan kembali lagi ke ruangan untuk merasakan dingin ac. Jakarta banget.

Bada Isya, Burgerkill akhirnya datang juga. Ternyata lebih parah dari karat, Burgerkill harus muter-muter dulu sampai empat kali puteran sebelum akhirnya sampe di Studio MTV wekekekekkk… Tak lama setelah Burgerkill tiba, kejutan lain datang. Fadli Padi! Hhaa ternyata Eben ngasi tau Fadli sesi Burgerkill Berkarat di Tiga Titik Hitam ini dan fadli ternyata tertarik untuk bergabung dalam kolaborasi itu. Hheuu sipsip bro! seneng ketemu kamu lagi! Setelah beberapa bincang dengan Fadli—dia lagi garap buku komik sejarah Indonesia dan dengan semangat cerita-cerita tentang begitu mengasyikkannya sekolah alam yang ia garap bersama beberapa kawan—sementara kru Burgerkill Buyung dan Abang loading alat, akhirnya pukul setengah sepuluh, Burgerkill dan Karat dipersilahkan untuk sound check dan balancing. Saat sound check itulah Karat baru ngeuh kalo Koil juga ternyata suting satu scene bersama Burgerkill & Karat. Hheuu seneng sekali mendengarnya ^^ Burgerkill dan Karat dua kali sound check di lagu “Tiga Titik Hitam”—Fadli gabung di sesi kedua sound check—sebelum akhirnya sound dinyatakan aman dan balance dan giliran Koil kini yang sound check. Kendala bagi Karat di panggung ini sama dengan panggung-panggung lain : keterbatasan line di mikser untuk penambahan mikropon hheuu.. klasik sekjali untuk Karat. Tapi atas kecekatan kru MTV, kendala itu cepat diatasi. Suara yang dihasilkan bahkan sangat berkualitas!

Burgerkill dan Karat segera kembali ke ruang artis untuk di make up, sementara Eben Fadli, dan Kimung—belakangan Mang Utun bergabung—memutuskan duduk-duduk untuk menghirup udara kotor. Hingga akhirnya waktu menunjukkan pukul sebelas lebih dan stage dinyatakan clear untuk memulai suting, maka Burgerkill, Karat, dan Koil pun bersiap-siap di sekitar studio.

Sesi pertama, Burgerkill menghajar venue dengan tiga lagu mereka “Shadow of Sorrow”, “Angkuh”’ dan satu lagu baru “House of Greed”, satu lagu yang diciptakan secara khusus oleh Eben untuk Prabowo. “Aing teu beuki ka jelema eta. Geus beunghar masih keneh hayang kawasa. Sarakah!” cetusnya di km 90 ketika istirahat dalam perjalanan pulang ke Bandung ketika ditanya Kimung tentang lagu itu. Burgerkill menghajar tiga lagu dengan sempurna. Burgerkill cuma butuh dua kali take untuk memastikan semua baik-baik saja bagi stok shoot MTV. Ketika ditanya host MTV Studio tentang musik Burgerkill apakah metalcore atau bukan, Eben menjawab “Burgerkill mah aliran musiknya Rock Ugal-Ugalan hahahaha!!!”

Dan akhirnya tibalah kini giliran “Tiga Titik Hitam”. Karat segera bersiap. Barisan penabeuh karinding duduk berjajar di sebuah panggung dari kiri ke kanan : Aki Amenk, Jawis, Okid, Mang Utun, dan Man Jasad. Sementara pemaen celempung duduk berbaris di bawah : Hendra, Kimung, dan Abah Andris. Burgerkill duduk di sebuah kursi kayu menghadap Karat siap dengan akustiknya, dari kiri ke kanan : Agung, Eben, dan Ramdhan, sementara Viki dan Fadli duduk setengah berdiri di kursi kayu, sebelah para pemaen karinding. Settingnya adalah lingkaran, sementara di tengah lampu neon memendar mengiringi iramna pertama “Tiga Titik Hitam” para personil Koil yang dipersilahkan duduk di belakang setting namun tetap masuk ke dalam shooting scene tampak memperhatikan sesi ini dengan seksama.

Dan begitulah semua mengalir. Well that’s one of the best performance yang pernah dimainkan Karinding Attack sepanjang panggung-panggung mereka dari 2008 hingga kini. Take pertama lagu agak kacau karena masih gugup. Setelah balapan di intro dan akhirnya diulang, Karat seperti menemukan kemblai ruhnya. Pemain karinding bermain dengan pasti dan mantap bertimpal dengan nada-nada gitar Eben – Agung – Ramdhan. Celempung juga ditabuh dengan pasti bersahut-sahutan dengan duet vokal Viki – Fadli. Yang bikin merinding adalah suara vokal Fadli. Damn friends!!! Dari gumaman, nyanyian, hingga teriakan, Fadli sangat bersatu dengan aransemen Burgerkill + Karat. Sebelum sesi kolaborasi, ketika ia ditanya oleh host tentang “Tiga Titik Hitam” Fadli menjawab, “Ide awalnya adalah menyatukan dua konsepo musik saya dan Burgerkill yang jauh berbeda dalam satu harmonisasi” Dan harmonisasi yang terbangun bersama Karat malam itu membuat saya merinding. Aslinyaa…. Burgerkill, Karat, dan Fadli memerlukan dua kali take untuk memastikan semua aman.

“Tiga Titik Hitam” mengakhiri sesi suting Burgerkill malam itu dan giliran Koil kini yang tampil, ditonton Burgerkill dan Karat. Koil juga membawakan empat lagu, “Kenyataan Dalam Dunia Fantasi”, “Luka”, satu lagu lagi lupa karena saya lagi keluar dulu untuk sebatang rokok saat itu, dan ditutup oleh “Semoga Kau Sembuh”. Otong sempat meminjam iket Hendra ketika sasi awal “Kenyataan Dalam Dunia Fantasi” dibawakan. Otong yang berkaos jingga dan bersandal kuning tambah serasi dengan iket seragam Karat yang berwarna coklat itu hheuu…

Dan akhirnya waktu pulang pun tiba. Waktu menunjukkan pukul setengah dua pagi hari jumat ketika akhirnya semua bertepuk tangan tanda suting sudah selesai. Para personil Burgerkill dan Karat berleha-leha sejenak di beranda studio sebelum akhirnya membantu Abang dan Buyung mengepak alat-alat Burgerkill ke dalam mobil kru. Setelah berbincang sejenak dengan personil dan kru Koil yang malam itu juga bersiap pulang, Burgerkill dan Karatpun kembali ke Bandung.

Jumat, 19 Maret 2010

Libuuurrr ahhhh… Jumat Kramat skrg diisi oleh Beluk mang Ayi. Smoga Yaro tahes datang hadir dan mencatat pergelaran ini sebelum dia berangkat ke Lampung. Jon 666 sakit lagiiii hhhuuuu…. Flu, sakit tenggorokan, batuk-batuk.. uhukkk uhuukkkk…

Bersambung…

10 Playlist Jon 666 : Tarawangsa, Burgerkill, The Beatless, The Doors, Smashing Pumpkins, Sting, Godflesh, napalm Death, Koil, Daze Cortica

Books : naskah buku Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels by Kimung

Movie : Ipin dan Upin

Comments
  1. jurnalkarat says:

    Hendra Attack bilang sehabis sesi shoot BK, Karat, & Fadli, “Bener uy kaalaman ahirna session jeung penyanyi asli ‘Tiga Titik Hitam’ teh hehehe…” Pun ketika melihat langsung shooting Koil pas mereka bawain “Kenyataan Dalam Dunia Fantasi” ia berkata, “Biasana ngan ngadangukeun hungkul laguna atawa dibawakeun tatakolan, ayeuna sa panggung pisan hehehee…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s